30.7 C
Medan
Thursday, May 16, 2024

Rutan Wanita Medan Berdiri

Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara (Kemenkuham Sumut), menambah Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Wanita Tanjung Gusta Medan.

Namun, penambahan UPT baru ini tidak didukung dengan fasilitas memadai. Untuk Rutan Wanita Tanjung Gusta Medan, sementara ini masih satu gedung dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas IA Tanjung Gusta Medan.

“Ini bagian evaluasi kita dengan Pak Kakanwil. Tujuannya mengurangi over kapasitas hunian di Lapas Wanita Tanjung Gusta Medan,” ungkap Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadiv Pas) Kemenkuham Sumut, Hermawan Yunianto kepada wartawan di Medan, Kamis (24/8).

Hermawan mengatakan, Lapas Wanita Klas IA Tanjung Gusta Medan memiliki kapasitas hunian 150 orang. Namun, sekarang sudah dihuni 700 orang lebih wargabinaan di Lapas tersebut. Oleh sebab itu, diambil langkah mengurangi hunian over kapasitas tersebut.

“Dimensi hunian tidak memadai lagi. Namun, disisi lain sudah terbentuk Rutan Wanita Medan. Untuk operasional tetap menjadi satu di Lapas Wanita,” kata Hermawan.

Dijelaskannya, untuk mengurai overkapasitas itu, warga binaan di Lapas Wanita berstatus tahanan dipindakan ke Rutan Wanita yang berada di LPKA Tanjung Gusta Medan.

“Dari keseluruhan, kami melihat ada satu UPT di LPKA mendapatkan tambahan hunian. Jadinya, dilakukan pemindahan berstatus tahan dari Lapas Wanita ke LPKA,” tutur Hermawan.

Pemindahan tahanan itu, dilakukan pada Senin (21/8) kemarin. Hermawan mengungkapkan, tahanan yang dipindahkan sebanyak 184 orang wanita.

“Ini dilakukan demi perawatan dan pelayanan kita berikan dari Kementerian Hukum dan HAM. Kemudian, sudah menjadi perintah Pak Menteri untuk dilakukan retribusi tahanan ke tempat hunian yang memungkinkan untuk dipindahkan,” katanya.

Untuk secara fisik pelayanannya, di LPKA yang dijadikan Rutan Wanita menggunakan satu blok sel. Kemudian, diberikan batasan. Sehingga, tidak akan terjadi interaksi antara tahanan wanita dan tahanan anak.

“Kita beri sekat untuk satu blok. Jadinya tidak berhubungan dengan penghuni lain, yang bukan penghuni Rutan Wanita itu,” tukasnya.

“Untuk pelayanan dan perawatan, sementara dilakukan operasional di LPKA dulu. Karena, di Medan ini tidak ada rutan wanita yang bisa ditunjuk untuk penempatannya,” sambungnya sembari mengakhiri.(gus/ala)

 

 

Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara (Kemenkuham Sumut), menambah Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Wanita Tanjung Gusta Medan.

Namun, penambahan UPT baru ini tidak didukung dengan fasilitas memadai. Untuk Rutan Wanita Tanjung Gusta Medan, sementara ini masih satu gedung dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas IA Tanjung Gusta Medan.

“Ini bagian evaluasi kita dengan Pak Kakanwil. Tujuannya mengurangi over kapasitas hunian di Lapas Wanita Tanjung Gusta Medan,” ungkap Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadiv Pas) Kemenkuham Sumut, Hermawan Yunianto kepada wartawan di Medan, Kamis (24/8).

Hermawan mengatakan, Lapas Wanita Klas IA Tanjung Gusta Medan memiliki kapasitas hunian 150 orang. Namun, sekarang sudah dihuni 700 orang lebih wargabinaan di Lapas tersebut. Oleh sebab itu, diambil langkah mengurangi hunian over kapasitas tersebut.

“Dimensi hunian tidak memadai lagi. Namun, disisi lain sudah terbentuk Rutan Wanita Medan. Untuk operasional tetap menjadi satu di Lapas Wanita,” kata Hermawan.

Dijelaskannya, untuk mengurai overkapasitas itu, warga binaan di Lapas Wanita berstatus tahanan dipindakan ke Rutan Wanita yang berada di LPKA Tanjung Gusta Medan.

“Dari keseluruhan, kami melihat ada satu UPT di LPKA mendapatkan tambahan hunian. Jadinya, dilakukan pemindahan berstatus tahan dari Lapas Wanita ke LPKA,” tutur Hermawan.

Pemindahan tahanan itu, dilakukan pada Senin (21/8) kemarin. Hermawan mengungkapkan, tahanan yang dipindahkan sebanyak 184 orang wanita.

“Ini dilakukan demi perawatan dan pelayanan kita berikan dari Kementerian Hukum dan HAM. Kemudian, sudah menjadi perintah Pak Menteri untuk dilakukan retribusi tahanan ke tempat hunian yang memungkinkan untuk dipindahkan,” katanya.

Untuk secara fisik pelayanannya, di LPKA yang dijadikan Rutan Wanita menggunakan satu blok sel. Kemudian, diberikan batasan. Sehingga, tidak akan terjadi interaksi antara tahanan wanita dan tahanan anak.

“Kita beri sekat untuk satu blok. Jadinya tidak berhubungan dengan penghuni lain, yang bukan penghuni Rutan Wanita itu,” tukasnya.

“Untuk pelayanan dan perawatan, sementara dilakukan operasional di LPKA dulu. Karena, di Medan ini tidak ada rutan wanita yang bisa ditunjuk untuk penempatannya,” sambungnya sembari mengakhiri.(gus/ala)

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/