29 C
Medan
Friday, July 12, 2024

Pemerataan Fasilitas di Daerah Perlu Dilakukan

jakabaring

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Rencana pemerintah membangun kawasan Olympic Center mendapat dukungan dari kalangan dunia olahraga di tanah air. Namun, fasilitas serupa di daerah juga tak kalah penting.

Demikian dikatakan atlet lompat jauh terbaik Indonesia saat ini, Maria Natalia Londa, merespons segera terbangunnya Olympic Center di kawasan Cibubur, Jakarta, oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Olympic Center diharapkan dapat mengoptimalkan setiap program pelatihan kepada atlet-atlet Indonesia, terutama pada cabang-cabang prioritas yang berpotensi mendatangkan prestasi, lebih-lebih di ajang Olimpiade. “Wacana ini bagus, khususnya untuk memotivasi atlet-atlet baru karena di nomor lompat jauh belum ada regenerasi yang cukup baik,” ujar Maria saat dihubungi wartawan, Senin (14/11). “Namun secara pribadi saya seakan lebih nyaman latihan di Bali. Selain tempat latihan di sana yang lebih banyak, saya juga lebih harus banyak latihan di pantai karena punya riwayat cedera yang demikian ekstrim,” tambahnya.

Selain itu, lanjut dia, dengan riwayat masa latihan yang lama yakni 15 tahun, maka kejenuhan akan selalu muncul saat seorang atlet hanya berlatih di satu tempat.

Kendati begitu Maria juga tak menutup kemungkinan jika sewaktu-waktu diminta pindah latihan untuk sementara. “Tidak masalah. Tetapi tidak untuk jangka waktu panjang di Cibubur. Sebab, satu hal yang harus saya pikir adalah orang tua. Saya cuma bersama ibu. Bapak sudah meninggal. Saya jadi tidak tenang kalau meninggalkannya.”
Peraih medali empat emas SEA Games 2013 dan 2015 ini pun berharap keberadaan Olympic Center bisa menyebar ke semua daerah, dan tidak di kawasan Jakarta. Baginya, daerah adalah lumbungnya atlet-atlet potensi.

“Di pusat mendapatkan atlet ‘kan tidak langsung muncul begitu saja. Pasti melalui daerah-daerah juga. Kalau di daerahnya tidak meratakan fasilitasnya, kapan dong muncul atlet-atlet baru yang bakal jadi pelapis seniornya.

“Kalau di Jakarta sudah banyak tempatnya. Kenapa itu tidak diperbaiki dan diperbaharui. Agar lebih merata juga,” tambahnya.

Dibangun sejak Mei-Juni oleh kontraktor PT Pilar Cadas Putra dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, gedung Olympic Center ditargetkan rampung akhir Desember 2016. Adapun pengembangan kawasan pembangunannya akan dilanjutkan pada Januari hingga Desember 2017, dengan menggunakan anggaran Kemenpora sebesar Rp390 miliar.

Tak hanya pemerataan fasilitas olahraga, Maria juga mengharapkan peningkatan event-event di berbagai daerah. “Harus keliling, jangan di Jakarta terus. Minimal, di Indonesia ada grand prix sendiri. India saja punya, kenapa Indonesia tidak bisa?
“Jadi jangan PON saja untuk mempertemukan provinsi yang satu dengan provinsi lainnya. Tapi dengan grand prix juga. Minimal tiga daerah, setelah itu kita keliling,
“Orang-orang daerah pun jadi tahu kalau ada olahraga seperti ini yang sudah berprestasi di internasional. Orang tua juga bakal mendukung anak-anaknya. Atletik, misalnya, banyak yang tidak tahu lho, kalau atletik di Indonesia juga bagus, tidak cuma bulutangkis terus,” simpul Maria. (net/azw)

jakabaring

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Rencana pemerintah membangun kawasan Olympic Center mendapat dukungan dari kalangan dunia olahraga di tanah air. Namun, fasilitas serupa di daerah juga tak kalah penting.

Demikian dikatakan atlet lompat jauh terbaik Indonesia saat ini, Maria Natalia Londa, merespons segera terbangunnya Olympic Center di kawasan Cibubur, Jakarta, oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Olympic Center diharapkan dapat mengoptimalkan setiap program pelatihan kepada atlet-atlet Indonesia, terutama pada cabang-cabang prioritas yang berpotensi mendatangkan prestasi, lebih-lebih di ajang Olimpiade. “Wacana ini bagus, khususnya untuk memotivasi atlet-atlet baru karena di nomor lompat jauh belum ada regenerasi yang cukup baik,” ujar Maria saat dihubungi wartawan, Senin (14/11). “Namun secara pribadi saya seakan lebih nyaman latihan di Bali. Selain tempat latihan di sana yang lebih banyak, saya juga lebih harus banyak latihan di pantai karena punya riwayat cedera yang demikian ekstrim,” tambahnya.

Selain itu, lanjut dia, dengan riwayat masa latihan yang lama yakni 15 tahun, maka kejenuhan akan selalu muncul saat seorang atlet hanya berlatih di satu tempat.

Kendati begitu Maria juga tak menutup kemungkinan jika sewaktu-waktu diminta pindah latihan untuk sementara. “Tidak masalah. Tetapi tidak untuk jangka waktu panjang di Cibubur. Sebab, satu hal yang harus saya pikir adalah orang tua. Saya cuma bersama ibu. Bapak sudah meninggal. Saya jadi tidak tenang kalau meninggalkannya.”
Peraih medali empat emas SEA Games 2013 dan 2015 ini pun berharap keberadaan Olympic Center bisa menyebar ke semua daerah, dan tidak di kawasan Jakarta. Baginya, daerah adalah lumbungnya atlet-atlet potensi.

“Di pusat mendapatkan atlet ‘kan tidak langsung muncul begitu saja. Pasti melalui daerah-daerah juga. Kalau di daerahnya tidak meratakan fasilitasnya, kapan dong muncul atlet-atlet baru yang bakal jadi pelapis seniornya.

“Kalau di Jakarta sudah banyak tempatnya. Kenapa itu tidak diperbaiki dan diperbaharui. Agar lebih merata juga,” tambahnya.

Dibangun sejak Mei-Juni oleh kontraktor PT Pilar Cadas Putra dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, gedung Olympic Center ditargetkan rampung akhir Desember 2016. Adapun pengembangan kawasan pembangunannya akan dilanjutkan pada Januari hingga Desember 2017, dengan menggunakan anggaran Kemenpora sebesar Rp390 miliar.

Tak hanya pemerataan fasilitas olahraga, Maria juga mengharapkan peningkatan event-event di berbagai daerah. “Harus keliling, jangan di Jakarta terus. Minimal, di Indonesia ada grand prix sendiri. India saja punya, kenapa Indonesia tidak bisa?
“Jadi jangan PON saja untuk mempertemukan provinsi yang satu dengan provinsi lainnya. Tapi dengan grand prix juga. Minimal tiga daerah, setelah itu kita keliling,
“Orang-orang daerah pun jadi tahu kalau ada olahraga seperti ini yang sudah berprestasi di internasional. Orang tua juga bakal mendukung anak-anaknya. Atletik, misalnya, banyak yang tidak tahu lho, kalau atletik di Indonesia juga bagus, tidak cuma bulutangkis terus,” simpul Maria. (net/azw)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/