Home Blog Page 13270

Sumut Pos Raih Empat Nomine

Rida Award 2012

MEDAN- Harian Sumut Pos berhasil meraih empat nomine dalam pelaksanaan Rida Award 2012 yang diumumkan di Pekanbaru, Riau, Sabtu (7/8). Rida Award adalah ajang pemberian reward tahunan bagi pelaku industri persuratkabaran di lingkup Riau Pos Group (RPG) itu, termasuk Sumut Pos dan Dalam pengumuman dewan juri yang diketuai Chairman RPG Rida K Liamsi, dengan anggota Darmawi Kahar dan Kazaini KS ini nomine diraih melalui karya dua forografer Sumut Pos, Andre Ginting dengan foto berjudul Protes Kartu Merah dan Triadi Wibowo lewat foto berjudul Jaksa Dijotos.

Dua nomine lain dari kategori perwajahan koran umum melalui tampilan koran edisi 7 Maret 2012 dengan head line berjudul “Sepuluh Ledakan Guncang Polonia” serta Karya Tulis Jurnalistik kategori Features karya Kesuma Ramadhan dengan judul “Pengabdian Sarjana Sumut di Kepulauan Simeulue” yang terbit 9-11 Mei 2012.

Posmetro Medan turut menraih dua nomine lewat Perwajahan Koran Metro edisi Minggu, 24 Juni 2012 dengan judul head line “Motif Bisnis Dunia Lesbi” dan karya jurnalistik investigasi berjudul “Menyusuri Rute Ekstrim Kurir Ganja”, oleh Faisal Matondang (4-8 Januari 2012). (tms)

Budaya Melayu Jangan Terkikis Globalisasi

Tuanku Mahmud Luman Jiji Perkasa Alam di dampingi Walikota Medan,Rahudman Harahap acara pembukaan Festival Budaya Melayu di lapanagan Merdeka Medan,sabtu (6/7)//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
Tuanku Mahmud Luman Jiji Perkasa Alam di dampingi Walikota Medan,Rahudman Harahap acara pembukaan Festival Budaya Melayu di lapanagan Merdeka Medan,sabtu (6/7)//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
MEDAN- Budaya Melayu sebagai salah satu aset budaya nasional harus dilestarikan agar tidak terkikis dampak pengaruh negatif globalisasi. Upaya pelestarian budaya Melayu di daerah itu selama ini sudah direalisasikan Pemko Medan melalui penyediaan fasilitas bagi kelompok kesenian dan menggelar beragam kegiatan khas budaya tersebut secara periodik.

“Saya yakin pelestarian adat dan budaya tak harus bertabrakan dengan kemajuan. Budaya dan kemajuan jangan meniadakan satu sama lain. Keduanya justru saling memperkuat jati diri bangsa,” kata Wali Kota Medan Rahudman Harahap saat membuka ‘Silaturahmi dan Seminar Nasional Raja dan Sultan se-Nusantara III’ di Balairung Istana Maimun Jalan Brigjen Katamso Medan, Sabtu (7/7).

Dijelaskan Wali Kota, bangsa Indonesia memiliki keluhuran, keunggulan, kekhasan sejarah, peradaban dan kebudayaan. Hal inilah yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Karenanya menjadi tugas dan kewajiban semua untuk melestarikan dan mengembangkan semua yang telah dimiliki saat ini. Untuk itu dia menyampaikan tiga pesan kepada para pewaris dan penerus kerajaan dan kesultanan. Pertaman
terus secara aktif melestarikan dan mengembangkan peradaban yang mengakar kepada nilai-nilai luhur sejarah dan budaya bangsa.

Kedua, lanjutnya, semua harus aktif melestarikan dan mengembangkan peradaban yang mengakar kepada nilai-nilai luhur sejarah dan buadaya bangsa. Sedangkan yang ketiga, ikut aktif mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, sejarah, dan peradaban.

Menurut Rahudman, jika ekonomi berbasis sejarah, budaya dan warisan bisa dikembangkan di Indonesia, pembangunan ekonomi akan mempercepat pembangunan daerah, memperluas lapangan kerja, dan menjadi sumber baru bagi perekonomian daerah.

“Hampir dua tahun saya bersama seluruh jajaran Pemko Medan dan banyak pihak gigih mengembangkan ekonomi kreatif. Pengembangannya disenergikan dengan program Visit Medan Year 2012 dan potensi kota sebagai salah satu tujuan MICE (Meeting, Insentif, Exibition & Convention). Oleh karenanya Wali Kota menilai Silaturahmi dan Seminar Raja dan Sultan se-Nusantara ini begitu penting dan strategis. Salah satunya adalah wahana pelestarian dan penghormatan budaya bangsa,” ujarnya.

Selain itu, even ini sekaligus diharapkan dapat meningkatkan kembali pemahaman masyarakat terhadap sejarah bangsa yang memiliki keunggulan, sejarah, peradaban dan kebudayaan yang tiada ternilai.
“Raja dan sultan yang hadir dalam silaturahmi dan musyawarah ini adalah pewaris dan penjaga adat. Forum silaturahmi seperti ini saya harapkan dapat semakin memperkuat persaudaraan antara raja dan sultan maupun diantara kota semua. Ini tentunya semakin memperkuat kesadaran sebagai bagian dari bangsa yang besar ini,” ungkapnya.

Silaturahmi dan seminar ini turut dihadiri Wakil Walikota Dzulmi Eldin, Sultan Hamengkubuwono X yang juga Gubernur DI Yogyakarta, Sultan Deli XIV Tuanku Mahmujd Lamanjiji Perkasa Alam, serta 80 Raja dan Sultan se-Nusantara, di antaranya Raja Samu Samu VI dari Maluku Upulatu ML Benny Ahmad Samu Samu, Sultan Serdang Ahmad Tala’a, Sultan Sepuh XIV Kraton Kesepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat, Kesultanan Banten TB Ismetullah Al-Abbas, Keraton Kanoman Cirebon Sultan M uhammad Saladin, Kesultanan Palembang Sultan Iskandar, Kesultanan Buton Sulawesi Tenggara Laode Rasyid Manarfa, Kesultanan Bulungan Kalimantan Timur Datu Abdul Hamid, Keratonan Sujrakarta GRAY Kusmurtiah Wandasari, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kota Medan, unsur pimpinan SKPD di lingkungan Pemko Medan, Camat, dan Lurah serta undangan lainnya.

Sekjen Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) Gusti Kanjeng Ratu Kusmutiah Wandasari mengungkapkan, sejak FKIKN terbentuk 1995 di Keraton Surakartahardiningrat, hingga kini masih banyak Raja dan Sultan atau pemangku adat di nusantara yang belum tergabung di FKIKN. “Akibatnya posisi tawar forum ini masih lemah. Kebetulan saya juga bertugas di Komisi II DPR RI. Saya sering berkomunikasi dengan  Kementrian Dalam Negeri. Mereka menginginkan ada satu wadah yang membuat  kebijakan pemerintah tepat sasaran,” ujar Wandasari.

Dalam musyawarah ini, dia berharap, Raja dan Sultan tidak sendiri-sendiri lagi. Dengan sendiri-sendiri justru sakan menimbulkan rasa ketidakpercayaan pemerintah. Dia mengajak seluruh Raja dan Sultan di Indonesia untuk bersatu.
“Dengan bersatu kami ingin memperlihatkan kepada pemerintah bahwa kami masih eksis. Dengan demikian kami tak akan terabaikan seperti dialami selama ini,” ujarnya.

Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam silaturahmi dan musyawarah ini mengingatkan, keanekaragaman etnis yang menghiasi persada nusantara betapa begitu indah dan mempesona.
“Sebelum Indonesia merdeka sebetulnya nusantara berasal dari berbagai kerajaan, etnik, dan masyarakat adat. Setelah proklamasi kemerdekaan, baju etnik ditanggalkan sehingga menjadi satu bangsa yakni Indonesia. Meski begitu mozaik budaya lokal dengan adatnya adalah kekayaan tanah air yang tak ternailai harganya,’’ tukasnya.

Sultan Deli XIV Tuanku Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Raja dan Sultan yang datang menghadiri acara silaturahmi dan seminar nasional Raja dan Sultan se-Nusantara yang dibuka kemarin.

“Saya mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada seluruh Raja  dan Sultan se-Nusantara,” ucap sang Sultan yang berusia 13 tahun tersebut.
Sultan Deli XIV menyerahkan cenderamata berupa dua bilah keris  kepada Wali Kota Medan dan Wakil Wali Kota. Sebagai gantinya, Wali Kota menyerahkan cendera hati kepada Sultan Deli XIV yang diteruskan dengan pemberian cendera mata kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X. (gus)

Ramai-ramai Beralih ke Buah Lokal

Dari Benih Kanker hinga Demaskulinisasi

Ilustrasi: Anak makan buah apel //net
Ilustrasi: Anak makan buah apel //net
Buah-buahan impor dari China sampai hari ini masih menguasai  pasar di Kota Medan.  Masyarakat kini lebih menyukai buah impor ketimbah buah lokal karena harganya jauh lebih murah dan mudah ditemui di pasar tradisional maupun pasar swalayan. “Tampilan buah impor lebih bagus dan rasanya lebih manis. Harganya pun jauh lebih murah ketimbang buah lokal,” ujar Amru, pedagang buah Pasar Halat Medan.

MENURUT Amru, dulunya buah impor jauh lebih mahal dibandingkan dengan buah lokal. Tetapi sekarang berbalik. “Buah-buah impor tersebut antara lain jeruk sunkist, apel, anggur, dan pear. Sebagian besar dari China,” ujarnya.
Perbedaan harga antara buah impor dan buah lokal bisa mencapai Rp2 ribu hingga Rp3 ribu sampai per kilogram (kg) untuk setiap jenis buah. Pedagang pun senang menjual buah impor karena pasokannya lebih lancar dibandingkan dengan pasokan buah lokal yang selalu terkendala dengan musim.

Namun masalah kualitas, dia menyampaikan sebenarnya buah lokal jauh lebih segar dan padat gizi dibandingkan dengan buah impor. “Buah lokal kalah tampilan saja. Masalah rasa jauh lebih enak buah lokal,’’ ujarnya.
Fakta ini pula yang menyadarkan para produsen benih hortikultura menyatakan kesiapannya mendukung petani dalam bentuk pengadaan benih unggul pascakebijakan pemerintah untuk membatasi impor hortikultura. Ketersediaan benih unggul akan membuat petani tidak kesulitan menjamin ketersediaan produk hortikultura, menggantikan produk impor yang di beberapa daerah sudah dihentikan pemerintah.

“Kami menyambut positif kebijakan pemerintah dengan menjamin ketersediaan benih unggul yang dibutuhkan petani,” kata Ketua Asosiasi Produsen Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo) Afrizal Gindow di Jakarta kemarin.
Pemerintah mulai 29 Juni 2012 menutup Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pin tu masuk impor hortikultura, didasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian No 42/2012 tentang Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan,Buah-buahan, dan Sayuran Segar. Pembatasan impor hortikultura juga disampaikan melalui Peraturan Menteri Perdagangan No 30/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura yang akan diterbitkan September 2012 tentang rekomendasi impor produk hortikultura.

Afrizal mengatakan, sebenarnya selama ini kebutuhan hortikultura untuk sayuran dapat dipenuhi dari petani di dalam negeri, sehingga pembatasan ini disambut baik untuk terus meningkatkan pasokan dan keragaman produk. Saat ini produsen benih hortikultura nasional terus mengembangkan lahan pertanian tidak hanya di pedesaan, tetapi juga memanfaatkan lahan terbatas di perkotaan sehing ga tetap terjamin ketersediaan pasokan di pasar.

Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo) Glenn Pardede menerangkan, perusahaannya sebagai salah satu anggota Hortindo selama ini menargetkan pertumbuhan 15 persen setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun dengan adanya kebijakan pemerintah, pihaknya siap meningkatkan target menjadi 30 persen.

Pada tahun ini Kementerian Perdagangan akan memberlakukan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 30 Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura. Itu artinya, Indonesia akan memberikan pembatasan pintu masuk buah dan sayuran impor. Selain demi memproteksi komoditas produk hortikultura lokal, buah-buah impor berpenampilan ‘cantik’ terbukti mengandung sedikitnya 19 penyakit dan unsur berbahaya.

Wow, ternyata penampilan menarik belum tentu berkualitas. Itulah sebabnya mengapa kadang Anda menemui apel yang tampak segar di kulitnya, namun begitu dibuka dagingnya berwarna cokelat bahkan sudah tak mengandung air lagi.
Menurut Kepala Badan Karantina, Banun Harpini, sebagian besar kandungan penyakit ini ditemukan pada buah jeruk dan apel. Bahkan tidak hanya penyakit, pihaknya juga menemukan kandungan residu logam berat dan formalin pada sampel buah impor yang diperiksa selama 2 tahun terakhir.

Sebelum dipajang di rak-rak toko buah atau supermarket, buah impor ini mendapatkan perlakuan panjang dari negeri asalnya. Begitu selesai dipanen, buah akan dimasukkan ke dalam gudang. Agar tidak membusuk, buah-buah tersebut diawetkan terlebih dahulu dengan menggunakan lapisan sejenis parafin. Lapisan lilin ini selain akan menghambat penguapan saat proses pembusukan buah berlangsung, juga bisa membuat penampilan buah menjadi lebih mengkilat sehingga terlihat lebih segar.

Selain penggunaan lilin, pestisida yang menempel pada buah juga bisa mengancam kesehatan. Biasanya, di perkebunan buah non organik, penyemprotan pestisida lazim dipergunakan beberapa saat sebelum buah dipetik. Tidak heran, ketika dipetik, pestisida masih menempel di kulit buah. Perlu diwaspadai, buah impor yang rawan kandungan pestisida adalah anggur.

Fenomena yang terjadi saat ini, produk hortikultura impor tidak hanya membanjiri konsumen di perkotaan, namun hingga ke pedesaaan. Sebab itulah diperlukan kebijakan dan langkah-langkah strategis untuk memposisikan produk-produk hortikultura Indonesia agar dapat bersaing dengan komoditas hortikultura impor.

Hal yang mengejutkan mengenai dampak pestisida dipaparkan oleh Pakar Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Prof Ahmad Sulaeman. Dari berbagai penelitian, menurutnya orang yang mengonsumsi pangan beresidu pestisida, tenyata mampu menyebabkan demaskulinisasi. Hal ini bisa mengganggu perkembangan organ reproduksinya.

Karenanya, kata dia, tidak mengherankan jika sekarang banyak banci atau kaum ‘alay’. Padahal bila menengok tahun 1960-an, yang disebut banci itu adalah mereka yang punya kelamin ganda. Sementara pada zaman sekarang, para banci ini berawal dari laki-laki tulen, tapi lambat-laun sifatnya kemayu dan kecenderungan sosialnya ke sesama laki-laki.

Menurut dia, harus diakui bahwa banyaknya kaum ‘alay’ sekarang ini adalah dampak dari revolusi hijau pertama, dan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di sejumlah negara. Kemudian beberapa risiko penyakit juga dimungkinkan berkembang pada anak yang dilahirkan dari ibunya yang terpapar pestisida, seperti penyakit leukemia dan termasuk autis.

Dia mengimbau agar masyarakat kembali beralih ke buah lokal yang lebih penuh khasiat. Ini karena belakangan ditemukan pula 19 jenis penyakit pada buah dan sayur impor dalam dua tahun terakhir, demikian kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini.

“Pengendalian impor produk hortikultura tersebut dilakukan dengan mengurangi pintu masuk impor buah dan sayur dari delapan menjadi empat pintu masuk, yakni Surabaya, Belawan, Makassar, dan Bandara Soekarno-Hatta,” katanya usai pembukaan Gelar Promosi Produk Hortikultura Jateng 2012 di Soropadan, Temanggung, Kamis.

Ia mengatakan, mulai 19 Juni 2012 impor buah dan sayuran hanya bisa melalui empat pintu masuk tersebut.

“Sebanyak 19 jenis penyakit itu belum sampai masuk ke konsumen karena sudah ketahuan saat di pintu masuk. Produk impor tersebut kemudian dimusnahkan karena mengandung penyakit golongan satu,” katanya.
Banun mengatakan pengendalian impor tersebut, bukan untuk membatasi volume impor melainkan untuk mencegah masuknya penyakit bersamaan dengan produk impor. Selain itu, pemerintah berkeinginan bisa meningkatkan daya saing produk hortikultura lokal dari sisi harga dan kualitas melalui kebijakan tersebut.

Untuk melindungi konsumen dalam negeri, katanya, pemerintah juga akan memperketat pengawasan keamanan pangan yang masuk. “Sebelumnya hanya 38 jenis yang diatur, nanti ada 100 jenis yang harus lulus uji keamanan pangan, seperti batas ambang residu, kandungan logam berat, dan formalin,” katanya.

Ia mengatakan, produk yang masuk ke dalam negeri aman karena melalui telah melalui pengujian yang ketat saat di karantina.
“Kalau masih ada cemaran untuk buah dan sayuran yang ada di pasaran mungkin terjadi saat di gudang penyimpanan,” katanya. Disebutkan pula, volume impor buah dan sayur pada 2011 mencapai 1,6 juta ton, sedangkan pada 2010 sebanyak 1,1 juta ton.

Ketergantungan Indonesia terhadap buah impor seperti jeruk Mandarin, anggur, apel, dan lain-lain sudah diambang batas. Karena itu sudah saatnya pemerintah mengkampanyekan cinta buah lokal.
“Memangnya kita akan mati tanpa jeruk Mandarin? Gara-gara pemerintah getol mengimpor jeruk Mandarin, jeruk Pontianak kita malah anjlok harganya,” kata Siswono Yudohusodo, anggota Komisi IV DPR RI dalam rapat kerja dengan Menteri Pertanian, Suswono, Senin (25/6), di gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Politisi Golkar ini menambahkan, lebih baik meningkatkan produksi jeruk Pontianak yang sudah hampir mati ketimbang mengimpor jeruk Mandarin. “Kenapa pemerintah masih beralasan impor hanya untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan saja? Kenapa tidak memikirkan bagaimana meningkatkan kemandirian pangan? Sekarang bukan zamannya lagi ketahanan pangan oke tapi kita tetap tergantung ke impor,” cetus Suswono.

Hal yang sama diungkapkan Mindo Sianipar. Anggota Komisi IV ini juga mengaku prihatin dengan cara berpikir pemerintah yang menurutnya mengajarkan masyarakat mencintai produk luar negeri.
“Pemerintah harus melakukan kampanye serta sosialisasi bahwa buah impor itu kelihatan cantik karena telah melewati chemical treatment. Beda dengan buah lokal, tampilannya memang kurang menarik tapi benar-benar fresh dan belum kesentuh bahan kimia sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi,” terang Mindo. (jpnn)

Buah Kita Kalah Bersaing

Produsen atau pengusaha benih buah-buahan, sayuran, dan produk hortikultura lainnya menyatakan kesiapan mendukung petani dalam pengadaan benih unggul pascakebijakan pemerintah membatasi impor hortikultura.
“Kami menyambut positif kebijakan pemerintah yang mendorong terjaminnya ketersediaan benih unggul yang dibutuhkan petani,” ungkap Ketua Asosiasi Produsen Perbenihan Hortikultura Indonesia (Hortindo), Afrizal Gindow, di Jakarta, Selasa (26/6).

Menurut dia, ketersediaan benih unggul akan membuat petani tidak menemui kesulitan dalam menjamin ketersediaan produk hortikultura menggantikan produk impor yang di beberapa daerah sudah dihentikan pemerintah.
Afrizal mengungkapkan bahwa salah satu penyebab sulit bersaingnya produk buah-buahan maupun sayuran Indonesia dibandingkan produk impor adalah ketersediaan benih unggul yang memengaruhi kuantitas dan kualitas hasil panen petani.

Produsen benih, ujarnya, masih kewalahan memenuhi tingkat permintaan benih industri hortikultura yang terus meningkat setiap tahun. Permintaan benih diproyeksi akan mencapai 13 ribu ton, sedangkan produsen benih hanya mampu menyuplai 6.000-7.000 ton.

Afrizal mengaku bahwa masalah investasi untuk mengembangkan industri benih unggul cukup besar. Di samping itu, kegagalan dalam riset dan pengembangan juga masih sangat tinggi sehingga diperlukan modal yang sangat besar dan memerlukan waktu pengembalian modal panjang.

“Salah satu jalan keluar yang perlu dipertimbangkan adalah membuat industri benih menarik buat investor agar mau membangun nursery (lahan benih) di Indonesia, ujarnya. Menurut dia, Indonesia masih memiliki banyak varietas lokal yang jika dikembangkan mampu bersaing dengan produk hortikultura dari negara lain.

Selain itu, kata Afrizal, sebenarnya selama ini kebutuhan hortikultura untuk sayuran dapat dipenuhi dari petani di dalam negeri, sehingga pembatasan impor ini sangat baik untuk terus meningkatkan pasokan dan keragaman produk. Saat ini, tambahnya, produsen benih hortikultura nasional terus mengembangkan lahan pertanian, tidak hanya di perdesaan tapi juga memanfaatkan lahan terbatas di perkotaan sehingga tetap terjamin ketersediaan pasokan di pasar.
Untuk itu, Afrizal menegaskan bahwa pihaknya siap menyediakan benih unggul agar memberi nilai tambah meliputi produksi lebih maksimal dan tahan terhadap penyakit serta memberikan pelatihan bagi petani.
“Saat ini, benih hibrida hortikultura sebagian besar sudah tersedia di Indonesia, hanya tinggal produk hortikultura untuk item tertentu saja yang masih impor. Itu pun, untuk pasar ekslusif dan memang benihnya tidak bisa diproduksi di sini terkait iklim,” ujar dia.

Managing Director PT East West Seed Indonesia, Glenn Pardede mengungkapkan, perusahaannya selama ini menargetkan pertumbuhan 15 persen setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, dengan adanya kebijakan pemerintah pihaknya akan meningkatkan target menjadi 30 persen.

“Saya kira, anggota Hortindo lainnya akan berpikiran sama terkait dengan kebijakan pemerintah menahan serbuan produk hortikultura impor. Sudah saatnya pemerintah berpihak ke petani,” ujar Glenn.
Data statistik menunjukkan, perkembangan impor buah dan sayur mengalami perkembangan yang sangat drastis. Pada 2008, nilai impor produk hortikultura baru 1,6 juta dollar AS, namun pada 2011 nilai impor produk hortikultura mencapai 1,7 miliar dollar AS.

Seperti diketahui, pemerintah mulai 29 Juni 2012 akan menutup Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu masuk impor hortikultura. Hal itu didasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 42 Tahun 2012 tentang Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan, Buah-buahan, dan Sayuran Segar.

Pemerintah juga mengatur pembatasan impor hortikultura melalui Permentan nomor 43 tahun 2012 tentang Syarat dan Tindakan Karantina Sayuran Umbi Lapis Segar.

Setelah Tanjung Priok ditutup, impor hortikultura hanya diperbolehkan melalui Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Makasar, serta Bandara Soekarno Hatta.
Kini, hanya tiga pelabuhan saja yang ditetapkan pemerintah bisa menjadi pintu masuk yakni Pelabuhan Batam, Karimun, dan Bintan, itu pun karena merupakan pelabuhan perdagangan bebas.
Pembatasan impor hortikultura juga disampaikan melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 30 tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura yang akan diterbitkan September 2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura. (net/jpnn)

Kunci Melindungi Produk Lokal

DUBES RI untuk Swiss Djoko Susilo sedih dan kecewa ketika berkunjung ke Boyolali, kota kelahirannya. Ia tak menemukan buah lokal yang dicari. Dia heran mengapa buah impor mendominasi outlet buah di mal. Padahal dulu buah yang ia cari itu banyak dijual di Boyolali (Jawa Pos, 19/5/12).

Apa yang dikeluhkan Djoko sebenarnya sudah lama berlangsung. Tidak hanya di Boyolali tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Tampaknya selera masyarakat kita sudah tergilas oleh globalisasi. Konsumen dan pedagang lebih menyukai buah impor daripada buah lokal.

Bahkan, impor buah dari China pada triwulan pertama tahun ini mencapai 140,9 juta dolar AS atau Rp1,26 triliun, meningkat Rp2 miliar lebih dibandingkan impor triwulan pertama tahun lalu. Belum lagi impor dari negara lain. Tentu hal ini sangat menyedihkan, karena mayoritas penduduk kita adalah petani. Sebagian besar lahan kita juga pertanian.

Itulah beberapa pertanyaan  yang mengusik pikiran Djoko.  Di Swiss, pemerintah dan masyarakat sangat peduli terhadap buah atau produk makanan lokal. Masyarakat akan membeli produk impor jika buatan lokal tidak ada. Mereka lebih menyukai buah lokal. Tidak hanya itu, toko swalayan yang menjajakan produk impor dibatasi waktu operasionalnya. Minggu tidak boleh buka.

Tampaknya, kecintaan masyarakat suatu negara terhadap produk lokal dan perlindungan dari pemerintah tetap merupakan kunci sukses memajukan usaha masyarakat setempat, khususnya kelas mikro. Mereka tidak bisa dibiarkan bersaing bebas menghadapi pasar global, tetapi perlu perlindungan dan pendampingan.

Contoh lain adalah industri film India. Ternyata, India tidak hanya memiliki Bollywood di Mumbai. Industri film di negeri itu juga tumbuh subur di kota-kota lain. Semua semarak dan berjaya.

Tidak hanya film berbahasa nasional India, film berbahasa daerah juga sangat laku. Sama seperti Indonesia, India juga luas dan padat penduduknya, memiliki banyak bahasa daerah.  Jumlah produksi film India tinggi dan penontonnya sangat besar.

Kunci sukses industri film India adalah kecintaan masyarakat terhadap produk nasional atau lokal. Mereka bangga dengan film  lokal. Sebaliknya, mereka tidak begitu suka  film impor. Rumah produksi tumbuh subur. Tempat-tempat pelatihan menari  disesaki anak muda yang ingin berkarya dalam film.

Bagaimana industri film di Indonesia? Produksinya bisa dihitung dengan jari per tahun. Masih sangat kecil. Walaupun film Indonesia sering menjuarai festival di luar negeri, jumlah penontonnya di dalam negeri sangat sedikit. Banyak dari kita lebih menyukai film impor.

Pada zaman Orde Baru pernah digencarkan kampanye mencintai produk nasional atau lokal. Tetapi kampanye itu lebih sering bersifat verbal, kurang menyentuh hati masyarakat, termasuk hati aparat dan pejabat. Kampanye belum mampu membangun budaya dan ideologi untuk mencintai produk lokal.

Kini, setelah beberapa tahun kampanye mencintai produk lokal hilang tertelan hiruk-pikuk reformasi, pemerintah kembali menggalakkan pengendalian buah impor melalui Permendag Nomor 30/M-Dag/Per/5/2012, yang berlaku efektif mulai 5 Juni 2012. Mampukah pemerintah membendung buah impor yang kini membanjiri pasar kita? Atau peraturan baru akan bernasib seperti regulasi sebelumnya?

Banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk melindungi buah lokal. Penanganannya harus komprehensif, mencakup semua  pemangku kepentingan, baik pedagang, importir, petani, maupun konsumen, termasuk teknologinya.
Yang jauh lebih penting adalah konsistensi pemerintah dan kecintaan masyarakat pada buah lokal. Memajukan buah ataupun produk makanan lokal lain harus terus-menerus tanpa henti. Pemerintah dan aparat harus menjadi teladan. Misalnya rapat instansi-instansi pemerintah pusat ataupun daerah, harus  menyajikan buah lokal. Di luar  acara resmi pun sama, seperti penyediaan buah-buahan
di rumah. (*)

Cermat Membeli Buah Impor

  1. Hindari membeli buah impor yang penampilannya terlalu mengkilat. Ingat, buah yang tampak segar di luar belum tentu segar dagingnya. Buah impor banyak yang dilapisi lilin, tujuannya agar tahan selama berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai dua tahun. Parahnya, dalam lilin tersebut, biasanya juga ditambahkan fungisida agar buah tidak berjamur.
  2. Pastikan tidak ada bercak-bercak putih pada buah yang hendak dibeli. Sebab, bercak putih ini menandakan tingginya kadar pestisida yang menempel pada buah. Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa fungisida yang biasa ditambahkan adalah jenis fincocillin yang bersifat anti-androgenic yang sama sifatnya seperti DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane). Anti-androgenic ini, katanya, menimbulkan efek mandul pada serangga.
  3. Jika hendak membeli buah, khususnya apel merah, sebaiknya ketahui dahulu musim apa sekarang di Amerika Serikat (AS). Apabila AS tengah masuk musim dingin, sebaiknya tunda dulu keinginan Anda untuk membeli apel. Jangan membeli bertepatan dengan awal panen di sana. Memang sedikit ribet, tetapi ini perlu. Sebab jika membeli saat musim panen, biasanya buah yang diekspor adalah apel yang sudah digudangkan beberapa waktu.
  4. Sebelum disimpan, sebaiknya cuci buah hingga bersih dengan menggunakan sabun khusus. Lilin serta pestisida yang menempel pada buah bisa benar-benar akan bersih hanya dengan menggunakan cairan sabun. Terlebih jika membeli anggur, karena buah impor yang paling rawan kandungan pestisida adalah anggur.
  5. Setelah dicuci dengan sabun khusus, sebaiknya keringkan dahulu buah tersebut. Kemudian simpan ke dalam plastik dengan porsi sesuai kebutuhan.

Nikmatilah Buah Lokal yang Sehat

1. Mangga

Mangga adalah sumber vitamin C, serat, potasium, dan antioksidan. Selain harum, rasa buahnya yang manis membuatnya banyak dicari orang. Manfaat lainnya adalah memperlancar proses buang air besar, mempercantik kulit, hingga membuat perut terasa kenyang lebih lama. Namun para penderita diabetes sebaiknya berhati-hati mengonsumsi buah musiman ini karena kandungan gulanya cukup tinggi.

2. Buah Naga

Buah naga sebenarnya berasal dari tanaman kaktus yang banyak hidup di wilayah Amerika Latin. Rasanya yang unik, seperti kombinasi antara kiwi dan buah pir, membuat buah ini naik daun. Para ahli di Taiwan menganggap buah naga sebagai obat diabetes karena kandungan seratnya yang tinggi efektif untuk menjaga kadar gula darah. Buah ini juga rendah kalori, tinggi vitamin C, serat, kalsium, vitamin B1,B2, B3, serta mengandung antioksidan.

3. Durian

Buah musliman asli Indonesia ini banyak digemari karena rasanya yang legit dan manis. Buah durian mengandung gula sederhana seperti fruktosa dan sukrosa serta sedikit lemak. Karenanya buah ini bisa menjadi pendongkrak energi. Buah yang berbau menyengat ini merupakan sumber vitamin C dan B (termasuk niacin, riboflavin, B5, B6, dan B1) yang jarang ditemukan pada buah lain. Durian juga mengandung asam amino triptophan yang punya efek menenangkan dan membuat tidur lebih nyenyak.

4. Rambutan

Rambutan termasuk dalam sumber vitamin C yang sangat baik. Hanya dalam empat ons rambutan, sudah mencukupi 40 persen kebutuhan vitamin C harian yang direkomendasikan.

5. Belimbing

Buah yang rasanya menyegarkan ini lebih sering dipakai dalam campuran rujak. Belimbing kaya akan serat, vitamin C, serta asam askorbik yang baik untuk menjaga kesehatan tulang, gigi, serta menguatkan kekebalan tubuh. (*)

Sumut Butuh Pemimpin Visioner

Akmaluddin Hasibuan, Komisaris Utama PTPN VII

JAJARAN KOMISARIS: Komisaris Utama PTPN VII, Akmaluddin Hasibuan (duduk) bersama jajaran komisaris lainnya.//istimewa
JAJARAN KOMISARIS: Komisaris Utama PTPN VII, Akmaluddin Hasibuan (duduk) bersama jajaran komisaris lainnya.//istimewa
Sumatera Utara merupakan provinsi dengan kombinasi sumber daya alam (SDA) dan manusia (SDM) yang mumpuni. Provinsi ini punya potensi besar untuk berkembang dan lebih maju lagi. Bagaimana komentar Akmaluddin Hasibuan, putra Sumatera Utara yang berkiprah di tingkat nasional terhadap perkembangan provinsi ini? Berikut petikan wawancara singkatnya dengan wartawan Sumut Pos saat Komisaris Utama PTPN VII itu berkunjung ke Medan, Jumat, 30 Juni lalu.

Anda lahir di Pekanbaru tetapi lama tinggal di Sumatera Utara dan pantas disebut orang Sumut. Pendapat Anda tentang provinsi ini?

Sumatera Utara itu gerbang utama Indonesia wilayah barat, punya peran strategis membangun Indonesia. Potensi yang dimiliki juga sangat besar. Gabungan keduanya menjadi modal kuat membangun Indonesia dari Sumatera Utara. Tetapi kalau pemimpinnya tak beres, bagaimana membangun Sumut?

Idealnya, sosok seperti apa yang pantas memimpin Sumut?

Yang punya leadership, visi dan misi yang jelas dan mampu menjalankannya. Apapun program, kalau pemimpin tak beres, percuma. Harus punya visi, yag bisa diterjemahkan. Mau dibawa kemana Sumatera Utara ke depan? Apa sektor andalan yang bisa dijual dari Provinsi Sumatera Utara, agribisnis, pertambangan atau apa? Visi itu diambil setelah mempertimbangkan kelemahan dan kelebiha serta peluang.

Bila Sumut mengambil basis sebagai provinsi yang mengandalkan agribisnis, bagaimana langkah selanjutnya. Mana yang harus dipersiapkan. Sarana dan prasarana laut atau pelabuhan udara. Itu strategi jangka panjang.

Bagaimana dengan kondisi Sumut saat ini?

Saya kira enggak jelas.

Tidak jelas seperti apa?

Sumatera Utara tidak punya visi yang jelas. Belum ada pemimpin di provinsi ini yang memikirkan ke arah sana. Coba Anda lihat sendiri lah. Sumut itu besar ya besar sendiri. Tidak ada program jelas dan yang sudah teruji.  Itu yang harus kita pikirkan bersama.

Apakah Anda menyuarakan kepemimpinan ini terkait Pilgubsu 2013?

Bicara kepemimpinan, bukan hanya satu orang, itu kompleks. Mulai dari pemimpin birokrasi terrendah di tingkat kepala desa atau lurah, camat, bupati dan walikota sampai gubernur. Kalau mau maju, para pemimpin ini harus punya pola pandang dan pola piker yang sama. Itu lah permasalahan besar di Sumatera Utara. Nah, bicara gubernur, kalau Anda sekarang memipin, mau diapain itu Tapanuli, apa yang akan Anda kembangkan di Deliserdang, dan begitu seterusnya untuk daerah lain.

Kalau sudah ada strateginya, timbul pertanyaan lain. Apakah gubernur dan bupati serta walikotanya bias seide? Jadi kita harus kesana berpikirnya.

Soal koordinasi gubernur di kabupaten/kota, Anda pasti tahu otonomi memangkas kewenangan gubernur. Pendapat Anda?

Itulah masalahnya. Otonomi membuat gubernur dan bupati/walikota tidak bisa koordinasi soal pembangunan. Beda dengan dulu, satu komando. Tetapi menurut saya, otonomi ya otonomi. Tapi komando pembangunan harus dibicarakan dan dijalankan.

Kalau tidak ada koordinasi, bagaimana bisa membangun?

Begini ya. Di Sumut itu ada berapa kabupaten/kota. Tiap daerah tingkat dua itu pasti dan harus bergantung dengan kabupaten/kota lainnya, tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Misalkan Taput, kalau mau mengekspor hasil bumi atau produk-produknya dari mana? Mereka kan tidak punya pelabuhan atau bandara internasional, harus dibawa ke daerah lain. Kalau mengandalkan angkutan kereta api, di sana tidak dilayani PJKA. Pakai jalur darat pakai truk, jalannya banyak yang rusak serta tidak efisien. Yang ada hight cost. Itu berlaku untuk daerah tingkat dua lain.  Nah, fasilitas jalan saja kita sudah diajak koordinasi. Untuk perbaikan jalan saja, yang bangun siapa, izin penggunaan jalan dari siapa, birokrasinya gak jelas.

Apa yang harus disiapkan membenahi itu semua?

Pembenahan kepemimpinan di Sumut. Setelah itu, baru mereka bekerja menata dan menangani kembali masalah Sumut dengan baik dan benar. Di sini DPR bermain. Karena yang atur itu DPR.
Ingat persaingan kita bukan tingkat lokal lagi, bukan antar kabupaten/kota. Persaingan sudah masuk ranah mengglobal.

Ini terkait cost. Bagaimana kita melawan Malaysia atau Singapura yang tatanannya sudah jelas? Kalau ingin siapkan Sumut bersaing dengan negara tetangga, mulai dari sekarang.
Konkritnya?

Harus ada konsolidasi total untuk pemerintah kita. Jangan hanya menunggu, nanti ditinggal ama provinsi lain. Tengok Riau, tengok provinsi lain. Infrastruktur mereka jauh lebih baik dari kita. Sementara Sumatera Utara sibuk mempersiapkan infrastruktur di kota saja, termasuk di Medan ini.

Kamu tahu tahu pembangunan hanya yang di kota saja, yang di kampung sana enggak menikmati kok. Bentar lagi, enggak ada apa-apanya Sumut ini.

Kalau ingin membangun Sumut, dari mana kita berpikir dan memulai tindakan. Bukan hanya sibuk siapkan program, lebih penting bagaimana mengimplementasikannya.

Bagaimana dengan peran para putra asal Sumut di perantauan?

Banyak tokoh nasional dari Sumut. Mereka bisa dimintai sumbangan pemikiran dan sumbangan lainnya. Saya alumni Universitas HKBP Nommensen dari Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi angkatan 1964. Banyak alumni Nommensen yang menempati posisi strategis di penjuru Indonesia ini. Demikian juga dengan alumni perguruan tinggi lain di Sumut. Libatkan mereka. (tms)

Aktif Menulis Buku

Akmaluddin Hasibuan sangat bersemangat memaparkan isi  buku barunya yang berjudul Manajemen  Perubahan: membalik arah  menuju usaha  perkebunan yang  tangguh melaui strategi optimalisasi efisiensi. Buku ini  adalah  buku pertama yang  ditulis sendiri karena sebelumnya lebih banyak terlibat  dalam pengerjaan  buku yang sifatnya kompilasi.

“Buku ini merupakan  penebusan dosa karena mencekoki orang kebun (planters) dengan teknis keuangan,” ujar Akmaluddin sambil tersenyum.
Lulusan Sarjana Akutansi UHN ini mengeluhkan rendahnya kesadaran perusahaan perkebunan terhadap kultur teknis budidaya, malah  lebih menekankan  kepada efisiensi biaya operasional.
Gejala ini mulai terjadi semenjak medio 1980-an yang sekarang berakibat kepada rendahnya produktivitas perkebunan milik perusahaan negara.
Bang Akmal, panggilan akrab Akmaluddin Hasibuan, meminta setiap planters tidak meninggalkan  norma teknis di perkebunan karena sudah menjadi  hal mutlak. Apabila norma teknis dinegosiasikan, jelas akan merusak perkebunan dalam jangka panjang.

”Tanaman ini merupakan barang hidup yang mesti dipenuhi kebutuhannya,” papar mantan Ketua Umum Gabungan Pengusaha  Kelapa Sawit  ini.
Di usia  ke-67 tahun, Akmaluddin Hasibuan berencana menerbitkan buku lagi karena masih  jarang buku mengenai manajemen perkebunan yang ditulis kalangan pelaku dan praktisi perkebunan. Motivasi ini berasal dari  keinginan  untuk berbagi pengalaman dengan pekerja perkebunan yang  masih muda. (bbs)

[table caption=”Drs Akmaluddin Hasibuan MSc” delimiter=”:”]

Lahir        : Pekanbaru, 14 Mei 1945
Pendidikan[attr colspan=”2″]
1970    :     Fakultas Ekonomi Universitas   HKBP Nomensen, Medan
2007    :     Magister  Agribisinis Universitas Gajah Mada, Jogjakarta
Karir[attr colspan=”2″]
1971    :     Staf internal auditor PT PP London Sumatera.
1975    :    PN Perkebunan VI
1996    :    Direktur Keuangan PT Perkebunan Nusantara XII
1998    :    Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XII
2003    :    Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III
2006-2008    :     Ketua GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia)
2008-sekarang    :     Komisaris Utama PTPN VII
[/table]

Bentrok di Tambang Emas Sorikmas, 1 Tertembak

MEDAN-Pertambangan emas milik PT Sorikmas Mining di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, kembali memanas. Petugas keamanan perusahaan tambang terlibat bentrok dengan massa. Empat orang terluka, satu di antaranya mengalami luka tembak saat terjadi bentrok.

Kontak fisik itu terjadi Sabtu (7/7) siang. Masa yang berjumlah ratusan mendatangi areal pertambangan yang berada di Sihayo, Desa Humbang, Mandailing Natal. Menurut informasi, warga datang untuk menuntut ganti rugi terkait pembebasan lahan milik mereka.  Kedatangan massa disambut pegugas keamanan perusahaan hingga terjadi bentrok yang mengakibatkan seorang pria bermarga Daulay terkena peluru tajam di kaki kanannya. Selain itu tiga warga lainnya menderita luka diduga terkena sabetan senjata tajam. Para korban langsung dibawa ke RSU Panyabungan.

Kapolres Mandailing Natal, AKBP Ahmad Fauzi Dalimunthe yang berkali-kali dihubungi, mengaku kesulitan berkomunikasi karena gangguan sinyal.
Sementara itu, kabar lain yang berkembang menyebutkan, Camp Sorikmas di perbukitan Sorik, dibakar ribuan oknum yang diduga penambang emas tanpa izin. Polisi sudah berjaga di lokasi namun kalah jumlah dengan massa. Belum ada komentar resmi dari pihak kepolisian maupun pihak manajemen PT Sorikmas Minig. (bbs/jpnn)

Lulus SNMPTN, Wajib Lapor 16-17 Juli

MEDAN-Pengumuman ujian tulis seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN)telah diumumkan di media massa maupun di papan pengumuman di PUMP USU dan UNIMED. Untuk itu, para calon mahasiswa yang lulus diminta melapor dengan membawa kelengkapan berkas, sesuai jadwal yang ditentukan.

Humas Universitas Sumatera Utara, Bisru Hafi, meminta para calon mahasiswa yang lulus seleksi jalur tulis melalui SNMPTN, melakukan pelaporan pada 16-17 Juli 2012. “Untuk kelompok eksakta (IPA), pelaporan dilakukan pada 16 Juli 2012 dan untuk kelompok noneEksakta agar melapor pada 17 Juli 2012. Pelaporan dimulai pukul 09.00-14.00 WIB, dipusatkan di Gelanggang Mahasiswa USU di Jalan Universitas,” ujarnya.

Pantauan di PUML USU dan Unimed, para calon mahasiswa asyik melihat nama di papan pengumuman. Umumnya mereka sudah mengetahui lulus melalui pengumuman di media massa, dan dating melihat pengumuman hanya sekadar memastikan Putra (17), salah satu calon mahasiswa yang tinggal di Jalan Sisingamangaraja Medan, salah satunya. Meski sudah tahu lulus melalui internet,ia tetap datang ke PUML. “Biar lebih puas, kan lebih enak lihat langsung dan bisa lihat para calon mahasiswa yang lainnya juga,” ujarnya.

Sedangkan Mega (17), calon mahasiswa asal Balige, yang lulus di Fakultas MIPA jurusan Biologi mengaku di USU, mengaku saking senangnya sampai berulang-ulang melihat namanya tertera di Kantor PUML USU, di Jalan dr T Mansyur. “Senang bang karena lulus,” ujarnya kemarin .

Karena lulus, ia akan segera pulang kampung,  mengurus semua kelengkapan persyaratan administrasi. “Rencananya malam ini, biar tinggal daftar ulang,” sambungnya.
Hal senada diucapka Hendra (18), asal Asahan, yang lulus di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. “Senang bisa masuk ke USU karena dari sekolah saya sudah bercita-cita ingin masuk ke USU,” akunya. (jon)

Elemen Kristen Komit Berantas Korupsi

Menginginkan terjadinya pemerintah yang bersih dan bebas dari korupsi, memotivasi Koalisi Kristen Untuk Pemerintahan Bersih (KK-PB) Sumut menggelar diskusi, Senin, (25/6)  di Hotel Tiara Medan.

Diskusi menghadirkan pembicara dari Kejatisu dan Bappeda Sumut. Ramli  Damanik dari Kejatisu membeberkan Indonesia rangking ke-110 dari 178 negara terkorupsi di dunia. Melihat kenyataan ini rakyat Indonesia menderita atas tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Tindakan korupsi merupakan proses perencanaan yang telah berlangsung lama dan sengaja dibiarkan oleh pihak-pihak tertentu. Dan korupsi merupakan perbuatan melanggar hukum yang identik dengan mencuri dan mencerminkan kerakusan manusia akan harta duniawi.

Diskusi yang dihadiri para aktivis dan mahasiswa ini diwarnai pertayaan dan saran. Disarankan, masyarakat membantu pemberantasan korupsi dengan mengurangi permohonan proposal pada instansi pemerintahan. Karena proposal tersebut membuka pintu bagi pejabat yang berada di instansi pemerintahan untuk melakukan korupsi.

Selain itu karena tindakan korupsi ini merupakan tindakan yang kurang terpuji yang melanggar norma hukum dan agama di Indonesia maka disarankan pemberantasan korupsi melalui pencerahan agama yang ada di Indonesia. Dalam hal ini disarankan dibentuk Koalisi Umat Beragama Dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia termasuk Sumut.

Acara ini dihadiri Ketua Dewan Pembina KK-PB Sumut Ir Ronald Naibaho MSi didampingi Badan Pengurus Koalisi Kristen Untuk Pemerintahan Bersih (KK-PB) Sumut dengan Ketua  Bendhard Sinaga SE dan Sekretaris Desmon Silalahi ST.
Bendhard Sinaga mengatakan Koalisi Kristen Untuk Pemerintahan Bersih di Sumut komitmen dan mengajak seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan pemerintahan bersih yang bebas korupsi. (rs/tms)

HKBP Ikut Wujudkan Medan Sehat

DIABADIKAN: Sekda Medan Ir Siful Bahri, Ketua Panitia Tahi Sinambela STh diabadikan bersama panitia Pengobatan Gratis HKBP Tegal Rejo, Sabtu (7/7).//istimewa
DIABADIKAN: Sekda Medan Ir Siful Bahri, Ketua Panitia Tahi Sinambela STh diabadikan bersama panitia Pengobatan Gratis HKBP Tegal Rejo, Sabtu (7/7).//istimewa
MEDAN- Ribuan masyarakat Medan Perjuangan hadiri pengobatan gratis yang dilaksanakan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Tegal Rejo bekerjasama dengan YSKI (Yayasan Surya Kebenaran Internasional dan donor darah bekerjasasa degan PMI  dalam rangka jubileum 50 tahun HKBP Tegal Rejo Medan, Sabtu (7/7) di Kompleks  HKBP Tegal Rejo dan SMA/SMK Siloam Jalan Sehati Medan.

Acara dihadiri  Sekda Medan Ir Saiful Bahri mewakili Wali Kota Medan didampingi Camat Medan Perjuangan Rakhmat Harahap ASP ASTP, jajaran kelurahan Kecamatan Medan Perjuangan seperti  Lurah Tegal Rejo Ansari Hasibuan SSTP, St Drs Djasudin Siregar MEd, Anton Panggabean SE, MSi (Ketua I Panitia),St Sudung Marpaung SE, Sunggul Tampubolon SE, MSi, Aston Silaban SPd,St Ir RST Tambunan, masyarakat gereja dari berbagai denominasi gereja, masyarakat sekitar HKBP Tegal Rejo bahkan ada juga yang datang dari Balige.

Sekda Medan Ir Saiful Bahri sangat mengapresiasi kegiatan HKBP Tegal Rejo melaksanakan pengobatan gratis yang dilaksanakan kepada masyarakat lingkungan gereja tanpa membedakan suku, ras dan agama. Kegiatan  seperti itu membantu Pemko  Medan agar tetap kondusif  dari perbedaan suku, ras dan agama.

“Kami mewakili pemerintah Kota Medan mendukung pengobatan gratis ini, dimana  HKBP Tegal Rejo telah ikut bagian mendukung program pemerintah Kota Medan untuk mewujudkan masyarakat Medan sehat, “ kata Sekda Medan.
Sekda  juga berterimakasih kepada seluruh panitia dan seluruh personil YSKI sehingga acara dapat berjalan dengan baik. “Saya kagum kepada YSKI atas kesiapannya membantu masyarakat, dimana ada acara pengobatan gratis YSKI selalu ikut ambil bagian,” ujar Sekda.

Sementara Ketua Panitia Jubileum 50 Tahun HKBP Tegal Rejo Mayor (Pur) Tahi Sinambela STh mengatakan, pengobatan gratis dan donor darah bekerjasama dengan YSKI dan PMI Deliserdang  merupakan salah satu rangkaian ucapan syukur kepada Tuhan bahwa Gereja HKBP Tegal Rejo telah berusia 50 tahun.
Adapun pengobatan yang dilakukan meliputi, pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan golongan darah, pemeriksaan kadar gula darah, pemeriksaan golongan darah, kolestrol, asam urat, hernia, papsmeer, pemeriksaan mata. Selain itu juga akan dilaksanakan operasi bibir sumbing, operasi katarak, operasi hernia setelah diperiksa, Sabtu (7/7). Bukan hanya pengobatan gratis juga diberikan alat bantu kesehatan berupa, kacamata baca, kaki pengganti, tangan pengganti dan alat bantu pendengaran, katanya.

Pendeta Resort HKBP Tegal Rejo Pdt Tungkol Tampubolon STh mengatakan,  pengobatan gratis kepada masyarakat  termasuk tri tugas gereja diakonia untuk peduli terhadap masyarakat tanpa membedakan suku, ras dan agama. Seperti ajaran Tuhan agar setiap manusia saling mengasihi sepertia Dia juga mengasihi sama.

Ketua YSKI Drg Anita mengatakan bangga atas antusias warga yang datang berbondong-bondong mengikuti pengobatan gratis dan ia juga berterimaksih kepada seluruh masyarakat yang hadir, dan semoga cepat sembuh. “Kami terharu begitu banyak masyarakat yang hadir, itu semua rencana  Tuhan dan Dia juga memberkati semuanya,” ujarnya. (jon)

Penyerapan Biaya Perumahan Belum Capai Target

Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan (BLU PPP) Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) merilis rea lisasi penyerapan Kredit Pemi likan Rumah (KPR) FLPP per akhir Juni 2012, mencapai 12.825 unit rumah dengan penyerapan pa ling tinggi dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. BTN  dengan realisasi 11.000 unit rumah.

“Target BTN per akhir Juni mendekati targetnya untuk tahun 2012 yakni 16.000 unit rumah. Kami meminta BTN untuk menambah target penyerapan rumah dengan FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan),” kata Kepala Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan (BLU PPP) Kemenpera, Dyah Tjahjani Saraswati, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/7).

Saraswati mengakui, capaian penyerapan KPR FLPP memang masih jauh dari target penyaluran FLPP pada tahun 2012 sebanyak 189.166 unit rumah. Penyebabnya adalah pasokan rumah KPR FLPP dengan tipe 36 meter persegi sedikit. Namun, menurutnya, Kemenpera tengah menggodok beragam kemudahan dengan tujuan untuk agar pasokan unit rumah semakin menggeliat.

“Menpera tengah berupaya mengurangi backlog perumahan dengan memberikan kemudahan. Saat ini, tengah digodok kredit konstruksinya serta ada kemudahan perbankan. Kredit konstruksi akan mendongkrak pasokan. Hingga Juni kemarin, ada gathering Apersi dan REI Jawa Barat. Nanti sebanyak 32.024 unit rumah akan dibangun tahun ini,” ujarnya.

Pada kesempatan yang lain, Direktur Utama PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Iqbal Latanro optimistis BTN memenuhi target penyaluran kredit perumahan rakyat dengan skema FLPP. Target BTN tahun ini menyalurkan 16.000 unit rumah. Menurutnya, dari data realisasi penyaluran kredit, BTN mencatatkan porsi 99,77 persen dari pemberian kredit yang ada.
“Kami tetap mendukung program pemerintah dan yakin target 16.000 unit rumah dapat tercapai,” kata Iqbal.

Terkait penyaluran KPR FLPP dengan skema baru, di mana porsi bank penyalur dan Kementerian Perumahan Rakyat 50:50, Iqbal mengakui ada kelambatan realisasi di lapangan. Hal ini terjadi akibat pasokan rumah tipe 36 harga Rp 70 juta sesuai syarat KPR FLPP minim. Keterbatasan pasokan rumah tipe 36 dikarenakan pengembang keberatan membangun rumah berdasar syarat baru tersebut.

Menurut Ketua Real Estate Indonesia (REI), Setyo Maharso, kendala sulitnya KPR FLPP terealisasi bukanlah pada minimnya jumlah pasokan melainkan pada regulasinya. Menurutnya, regulasi yang ada telah menyandera semua pihak.
“Sebagai contoh, PPN lewat Permenpera 7 dan 8 sudah dinaikkan tapi kenyataannya masih Rp 70 Juta, jadi tidak akan jalan juga,” ujarnya. (bbs/jpnn)

Gereja Methodist Fokus pada Misi

Para pengikut aliran Gereja Methodist sedang didorong untuk berbagi iman mereka dengan orang lain.

Dalam Konferensi Tahunan Methodist yang berlangsung di Plymouth pada akhir pekan lalu, Sekretaris Jenderal Gereja Metodhist Pendeta Dr Martyn Atkins menetapkan visi bagi sebuah “gerakan pemuridan yang dibentuk untuk misi”.
Pada laporannya di depan para peserta konferensi tahunan, Dr Atkins mendorong para pengikut aliran gereja Methodist untuk “tetap setia dan terus jalankan” visi tersebut.
“Hal yang penting adalah untuk tidak mengizinkan komitmen kita akan pemuridan dan misi terputus-putus,” ujar Dr Atkins.

“Kita sedang mencari, di dalam Allah, untuk mengubah pengaturan standar gereja lokal, circuit, distrik, dan hubungan dengan pihak-pihak luar lebih luas lagi.”

Dr Atkins mengatakan dirinya akan menjadi orang yang “kritis” dalam mendorong penginjilan untuk beberapa tahun ke depan “sehingga jemaat dan orang-orang yang terlibat di dalam gereja Methodist jumlah semakin lebih banyak lagi”.
Dia menyatakan penguatan penginjilan membutuhkan suatu kombinasi dari visi dan inisiatif lokal, kemitraan dengan orang lain, dan sumber daya baru.

Senada dengan hal ini,  pemimpin Mission Working Group (Kelompok Kerja Misi) Daleep Mukarji mengatakan bahwa misi adalah “darah kehidupan Methodisme”. Oleh sebab itu, lanjutnya, Methodist Missionary Society (Masyarakat Misi Methodist) akan dimasukkan ke dalam tim staff bagian hubungan dengan gereja-gereja seluruh dunia.

“Ini misi yang bersifat lokal dan global, di mana pun ia berada. Alih-alih memiliki misi bagi masyarakat yang terpisah, kami ingin memastikan bahwa misi dan penginjilan menjadi lebih tertanam dalam setiap aspek kehidupan dan karya Gereja Methodist, “paparnya.

“Ketika kita belajar dan bertumbuh sebagai murid Yesus, saya percaya misi akan bergerak lebih dekat ke pusat dari segala sesuatu yang kita lakukan.”

Konferensi Tahunan Methodist sudah dibuka sejak Jumat (29/6) lalu oleh Presiden  baru Gereja Methodist Rev Dr Mark Wakelin. Dalam pidato pembukaannya, Mark Wakelin mengingatkan setiap peserta konferensi tentang pentinganya menjawab kebutuhan dari jemaat-jemaat yang datang ke gereja.

“Salah satu kebutuhan saya adalah kebutuhan akan keberadaan saya; Merasakan bahwa seseorang, di suatu tempat tahu dan peduli siapa saya. Pada waktu yang berbeda di Gereja Methodist ini saya mengalami hal ini,” ujar Mark Wakelin. (jc/tms)