Home Blog Page 13484

Pasar Kaget Buka, Toko Modern Harus Tutup

Kiat Pemerintah Swiss Berdayakan Petani untuk Menjual Hasil Panen

Pemerintah Swiss memberikan fasilitas khusus kepada para petaninya. Dua hari dalam seminggu, petani di sana bebas menjual hasil panen di pusat-pusat keramaian kota. Pada hari yang sama, pusat perbelanjaan modern dilarang menjual hasil pertanian.

SAMSUDIN ADLAWI, Bern

Pada Jumat (18/5), saya tiba di Bern, ibu kota Swiss, setelah sejak 11 Mei lalu mengunjungi beberapa negara Eropa bersama pimpinan media di Jawa Pos Group. Sabtunya saya ‘beruntung’ karena bisa mengunjungi pasar kaget yang hanya buka pada Sabtu dan Selasa.

Tidak seperti di Indonesia, pasar kaget di Swiss cukup istimewa. Pasar itu khusus untuk petani. Dagangan yang dijual juga khusus. Hanya hasil ladang dan kebun. Mulai sayur-mayur, buah-buahan, bunga, sampai rempah-rempah.

Tempat pasar kagetnya tidak kalah khusus. Di jantung kota. Taman kota dan emperan-emperan pusat perbelanjaan. Pasar kaget itu buka pagi sampai tengah hari. Namun, para petani sudah berdatangan ke kota sejak dini hari. Misalnya, Sabtu kemarin.  Saat itu jarum jam baru menunjuk angka 04.00 waktu setempat. Suara gaduh di luar menembus kamar Briston Hotel, tempat saya dan rombongan menginap.

Penasaran ingin tahu asal suara gaduh, saya langsung beranjak dari tempat tidur,  lalu membuka jendela dan melongok ke luar. Tampak pemandangan yang tidak lazim. Setidaknya untuk ukuran negara setenar Swiss.

Tambah penasaran, saya segera turun menuju seberang Jalan Schauplasgasse, depan hotel. Tampak sejumlah petani sedang sibuk menurunkan hasil panennya dari mobil van dan mobil boks. Mobil itu didesain khusus untuk mengangkut hasil panen. Di dalamnya ada rak bertingkat untuk meletakkan hasil panen yang sudah ditaruh dalam kotak terbuka ukuran 50×50 cm. Dengan kemasan seperti itu, buah-buahan, sayur, dan bunga yang diangkut ke kota pun tidak rusak.

Selain hasil panen, petani juga menurunkan papan-papan untuk lapak. Dengan cepat, lapak-lapak itu sudah siap ditempati. Sebab, bentuknya knock down. Dalam sekejap, sayur-sayuran seperti brokoli, kol, kentang, wortel, bawang merah, bawang putih, bawang bombai, sawi, tomat, bawang pre, cabai,  sudah tersaji di lapak yang dipasang memanjang, sepanjang lorong depan jajaran puluhan supermarket.

Pemandangan serupa juga saya jumpai di kawasan elite tengah kota. Tepatnya di lapangan mini yang dikepung gedung Schweizerizche-National, Curi Confoederationis Helveticae, BEKB-BCBE, Credit Swisse, dan Banque Nasionale Suisse. Lapangan yang juga bisa difungsikan sebagai taman air muncrat itu dipenuhi hasil kebun dan ladang. Semua ditata rapi lengkap dengan harganya yang ditulis di kertas kecil. Misalnya, bunga clematis dijual seharga CHF (Swiss Franch) 2 atau begonia yang dibandrol CHF 1.30.

Para petani yang membuka pasar kaget di Bern kebanyakan berasal dari desa-desa sekitar. Di antaranya dari kawasan Uetligen dan Kirchlindah yang dikenal sebagai penghasil buah dan sayuran.

Pasar kaget bagi masyarakat Bern memang selalu dinanti. Tidak heran bila begitu pedagang selesai memajang dagangannya, masyarakat langsung menyerbu. Selain sayur dan buahnya masih fresh, harganya juga relatif  miring jika dibandingkan dengan harga di toko modern.

Apalagi, saat pasar kaget beroperasi, pusat perbelanjaan yang menjual semua hasil kebun dan ladang dilarang buka. “Satu-satunya tempat belanja buah, sayur, dan bunga ya hanya di pasar kaget,” kata Suresh, warga keturunan Srilanka yang tinggal di Swiss, sambil memilih sayuran yang akan dibelinya.
Larangan mal buka saat pasar kaget buka itu memang aturan yang ditetapkan pemerintah Swiss. “Kebijakan itu dimaksudkan untuk melindungi petani,” ujar Dubes RI untuk Swiss Djoko Susilo.

Sama seperti di Indonesia, kata Djoko, di Swiss juga berlaku aturan bahwa pusat perbelanjaan modern harus menampung 25 persen produk lokal. Terutama hasil pertanian dan ladang. Tapi, itu dinilai belum cukup efektif membantu petani dan peladang. Maka, dibuatlah aturan baru: pasar kaget produk pertanian buka setiap Sabtu dan Selasa. Agar program itu berjalan optimal, semua toko modern yang menjual hasil sawah dan ladang tidak boleh buka selama ada pasar kaget sampai pukul 13.00.

“Hasilnya, semua barang dagangan yang dijual di pasar kaget ludes diborong penduduk Swiss untuk perbekalan untuk lima hari ke depan,” kata Dubes yang mantan wartawan Jawa Pos itu.

Kiat pemerintah Swiss dalam memberdayakan petani itu menarik untuk dicontoh di Indonesia. Paling tidak untuk memberikan kemudahan kepada para petani memasarkan dagangannya setelah toko-toko modern bertebaran hingga ke pelosok-pelosok kampung. Kalau kebijakan tersebut diberlakukan, barangkali petani masih bisa menikmati hasil jerih payahnya. (*)

Jamu Palsu Beromzet Rp10 Miliar Dibongkar

JAKARTA—Hati hati mengkonsumsi jamu. Mabes Polri berhasil membongkar sindikat jamu palsu yang sudah beroperasi selama lebih dari satu tahun dan beromzet Rp10 miliar . “Tidak ada zat yang bermanfaat di produknya, juga belum ada sertifikasi dari Badan POM,” ujar Kadivhumas Polri Irjen Saud Usman Nasution di Jakarta kemarin (22/05).

Operasi penggerebegan itu dilakukan oleh tim Direktorat narkoba Mabes Polri di jalan Sukarela, Penjaringan, Jakarta Utara.
Polisi berhasil mengamankan ratusan karung dan puluhan karton bahan  jadi jamu dan obat berbahaya.

Obat dan jamu palsu yang diproduksi tersangka di antaranya bermerek Xianling, Tawon Liar, Ular Sakti, Ocema, Kwantong, Slim Plus, Asam Urat Pegal Linu, Asam Urat Flu Tulang, Sulami, Serasi, Lasmi, dan Wan Tong Sehat Pria

Selain itu, polisi juga menyita belasan unit mesin pembuat jamu ilegal tersebut. “Tersangka yang berhasil ditangkap berinisial AA, seorang WNI beralamat di Bogor. Dia pimpinan produksi pabrik,”katanya. (jpnn)

Banjir Air Mata Iringi Kepergian Korban Sukhoi

JAKARTA- Suasana rumah sakit Polri diselimuti duka. Kemarin (22/5), sejumlah keluarga korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) memadati rumah sakit yang berlokasi di kawasan Kramat Jati tersebut. Mereka diberi kesempatan melihat jenazah korban untuk terakhir kalinya, sebelum dimakamkan. Tangis histeris dan duka pun mewarnai ruang forensik RS Polri.

Polisi menyediakan sebuah tenda khusus untuk keluarga yang antri melihat jenazah. Rata-rata, mereka datang sambil membawa foto semasa hidup almarhum. Ada yang menggunakan pakaian kerja, pose modeling, hingga foto keluarga. Raut muka sedih tidak bisa disembunyikan dari pihak keluarga yang antri tersebut.

Untuk bisa melihat, keluarga korban harus bertemu dulu dengan para psikolog untuk menguji kesiapan mental mereka dalam melihat jenazah. Maklum, kondisi jenazah yang tidak utuh membuat keluarga rawan shock, pingsan, hingga depresi. “Karena itu dibatasi 10-15 menit, meski sudah tergolong sangat lama,” ujar psikolog Mira Rumemser.

Kepala Rumah Sakit Polri, Brigjen Pol Agus Prayitno menegaskan kalau itu sudah jadi aturan sebelum melihat jenazah. Keluarga wajib diberi penjelasan singkat soal kondisi korban. Bahwa sudah lebih dari seminggu, maka sudah membusuk. Juga tidak ada jasad yang kondisinya di atas 50 persen. “Agar tidak menimbulkan efek psikologis yang tidak kita inginkan,” kata Agus.

Sebenarnya, kemarin tim psikolog mewanti-wanti kepada keluarga agar tidak membawa anak kecil untuk melihat jenazah. Alasannya, pengaruh depresi tersebut bisa lebih cepat terjadi pada anak dibawah umur.

Nanit (12) misalnya. Dia kehilangan ibunya, Maisyarah, yang menjadi kru maskapai Sky Aviation. Kemarin, dia datang bersama pamannya. Tim psikolog termasuk Ustad Jefry Al Buchori yang mendoakan jenazah dari unsur rohaniwan juga sempat melarang. Namun, Nanit mengelak dan tetap ingin melihat ibunya untuk terakhir kali.

Ternyata benar, siswa kelas VI SD itu tidak kuasa melihat jenazah ibunya yang tak lagi utuh. Air mata pun terus keluar membasahi wajahnya. Ustad Jefry yang ternyata mengenal dekat Masiyarah langsung menguatkan Nanit dan pamannya. “Saya bilang ke pamannya, dia tidak boleh goyah. Nanit butuh tempat bersandar,” katanya.

Kesedihan serupa juga datang dari Efrina, ibunda pramugari Sky Aviation Anggraeni Fitria. Dia menangis usai keluar dari ruang forensik. Kesedihan membuatnya tidak kuat menggerakkan sendi-sendi kakinya. (jpnn)

Schapelle Corby Dapat Grasi dari SBY

DUA hari lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  menandatangani grasi  kepada terdakwa kasus narkoba Schapelle Corby, Si Ratu Mariyuana asal Australia.

“Ya, presiden sudah menandatangani pengurangan hukumannya 5 tahun dan sudah kita kirim ke pengadilan Denpasar untuk dilanjutkan atau diteruskan kepada yang bersangkutan,” kata Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (22/5). Sudi mengatakan, pertimbangan grasi tersebut diberitakan karena setelah meminta pertimbangan dari Mahkamah Agung (MA) dan Kementrian Hukum dan HAM. “Kita juga minta pertimbangan dari ketua MA, juga dari menteri-menteri terkait,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, pertimbangan lain adalah melihat banyak warga negara Indonesia (WNI) di Australia yang juga mendapatkan hak yang sama seperti Corby. “Termasuk bagaimana banyak warga kita di Australia yang mendapat hal yang sama,” terangnya.

Ditanya apakah pemerintah Australia juga menjanjikan pembebasan terhadap WNI? “Bukan hanya menjanjikan, bahkan sudah kita terima,” jawabnya. (net)
Lebih lanjut, Sudi menambahkan bahwa grasi yang diberikan yaitu lima tahun sudah diperhitungkan. “Kira-kira seperti itu. Ya dihitung, dia divonis berapa tahun, dikurangi sekian, jadi berapa,” tukasnya.(net)

Sudah Bangun tapi Belum Bangkit

Kebangkitan nasional yang seyogianya kita peringati setiap tanggal 20 Mei mestinya menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan bangsa ini. Lebih dari satu abad sudah, sejak semangat itu dihembuskan pertama kali oleh tiga serangkai Dr Sutomo, Wahidin Sudirohusodo dan Deuwes Dekker. Dengan mendirikan Budi Utomo sebagai lembaga perjuangan untuk melawan penjajah Belanda, ketiganya telah memekikkan semangat kemerdekaan
bagi bangsa ini.

Oleh:
Jones Gultom

Sayang meski sudah 104 tahun sejak didirikan Budi Utomo itu, negeri ini masih belum mampu bangkit dari keterpurukan. Di hampir semua lini, bangsa ini tertinggal jauh dari bangsa-bangsa yang lain. Satu-satunya yang bangkit dari negeri ini adalah para koruptor. Miris rasanya, negeri yang dianugerahi ragam kekayaan alamnya, tapi tak juga bangkit dari keterpurukan.

Mengutip Cak Nur, bangsa ini memang sudah bangun tetapi masih belum bangkit. Ibarat seorang yang baru bangun tidur, bangsa ini masih terlena oleh mimpi tadi malam, sehingga tak lekas beranjak dari tempat tidur. Kita pun bermalas-malasan untuk melakukan aktivitas meski banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kita pun cenderung menunggu ada orang lain yang mengurusi pekerjaan itu. Sementara kita bersantai-santai di tempat tidur, untuk kemudian tidur lagi.

Begitulah, bangsa ini memang sudah bangun, tapi tak juga beringsut dari tempat tidurnya. Kita tahu, persoalan korupsilah yang merusak dimensi hidup negeri ini, tapi kita tak melakukan apa-apa. Bahkan dengan sengaja menyembunyikannya pula. Kita tak ingin kasus-kasus itu dibuka secara gamblang, karena berbahaya bagi kita. Kita tak ingin bangkit dari ranjang, karena udara terlalu dingin. Kita menarik kembali selimut, padahal siang sudah menjelang.

Celakanya kita melakukan itu secara pasif. Ramai-ramai, sampai akhirnya menjadi kultus kebenaran. Dengan begitu, kita lebih gampang menyerang jika ada orang lain yang mencoba mengusik ketenangan kita.

Bukankah kita akan reaksional bila tidur kita diganggu orang. Lantas, terhadap semua itu kita menyalahkan cuaca yang merangsang kita untuk kembali tidur. Kita membuat pertahanan dengan mengkambinghitamkan rasa kantuk kita; bahwa kita harus lebih banyak istirahat? Ironisnya kita pun paham dengan perbuatan itu, namun sungkan berubah. Justru kita mencaci kegagalan masa lalu dengan perbuatan yang tak kurang celanya. Kita menghujat korupsi dengan prilaku yang korup. Kita mendakwa setan dengan cara iblis. Kita sudah bangun tetapi belum bangkit.

Beranjaklah

Kita tahu sejarah Jepang, khususnya pada Perang Dunia ke- II, ketika Amerika Serikat membombardir negara tersebut. Jepang luluhlantak. Tapi Jepang tak berlama-lama berduka. Jepang menyadari satu-satunya cara mengalahkan musuh adalah dengan bersekutu.

Maka selama puluhan tahun Jepang mengirim pelajarnya ke negeri adidaya itu dan kembali dengan kreasi-inovasi. Tak sampai enam puluh tahun, Jepang mampu mengalahkan Amerika Serikat. Kebangkitan Jepang merupakan sejarah dunia. Dengan Malaysia kita juga bisa belajar. Periode kebangkitan Malaysia sudah terasa sejak akhir tahun 70- an dengan memokuskan diri pada pembangunan kesehatan dan pendidikan. Mereka mendatangkan tenaga pengajar berkualitas dari negara tetangga (termasuk Indonesia ) sembari mengirim tenaga pengajarnya ke Eropa dan Amerika. Sepulangnya, kader-kader itu mengembangkan ilmunya. Kini giliran sarjana-sarjana kita yang belajar di sana.

Begitu juga dengan India. Negara ini kini bangkit dengan mengusung produk dalam negerinya. Mereka pun tumbuh menjadi negara yang kuat dan otonom. Termasuk pula Jerman, negara yang kalah di perang dunia ke-2. Negara ini tetap memosisikan diri sebagai pengekspor mesin-mesin perang dan teknologi mutakhir.

Kemandirian yang sama juga diperlihatkan banyak negara berkembang lain Iran, Thailand, bahkan Vietnam. Salah satu kiatnya, dengan memokuskan diri kepada potensi serta produk unggulan yang dimiliki. Sebaliknya Indonesia justru gamang. Ingin tampil sebagai negara agraria, tetapi pembangunan di bidang itu diabaikan.

Ingin tampil sebagai negara bahari, namun potensi kelautannya tak dimaksimalkan. Ingin tampil sebagai negara pariwisita, namun infrastukturnya tak memadai. Sementara eksploitasi sumber daya alam yang selama ini dikeruk habis-habisan telah di sampai pada ambang batas, yang hasilnya justru dinikmati oleh orang asing. Kita pun gamang menentukan pilihan. Mau dibawa kemana negara ini?

Tidak mudah membangkitkan semangat kebangkitan pada diri setiap orang.  Hanya orang-orang berjiwa setia dan loyalitas tinggi yang memiliki kesadaran itu. Tentu, sikap ini tidak lahir dengan sendirinya. Seorang yang setia dan loyal kepada bangsanya pasti didasari karena kecintaannya. Dan hal itu akan semakin kuat, bila yang dicintai itu juga memberikan yang terbaik baginya sehingga dengan sendirinya akan muncul semangat bela rasa pada diri orang tersebut.  Saya khawatir banyak di antara kita yang apatis untuk mencari hikma di balik Hari Kebangkitan ini. Mungkin karena sudah putus asa yang tak lagi berharap banyak dari bangsanya.

Pintu Selalu Terbuka

Terhadap perubahan, pintu tak pernah tertutup. Kita tengah diuji, apakah keyakinan masih menggerakkan hati kita untuk bangkit dan berubah. Maka sepantasnya kita bersyukur untuk semua persoalan yang telah dialami. Ini membuktikan betapa Tuhan masih setia menunggu pembuktian seperti yang diteladankanNya sendiri. Inilah saatnya kita menunjukkan keistimewaan makhluk yang bebas sekaligus berpekerti.

Carut-marut bangsa ini menunjukkan sejauh mana pemahaman diri kita sendiri dalam hubungannya yang lebih luas dan kompleks. Karenanya kebangkitan harus ditumbuhkan secara integral dengan kesadaran kolektif dari semua pihak yang merindukan kehidupan yang harmonis.

Pemimpin sudah saatnya menunjukkan diri sebagai teladan bagi yang dipimpinnya. Sebaliknya masyarakat juga harus pro aktif menjemput perubahan itu dengan dasar untu kepentingan bersama, bukan pribadi maupun kelompoknya. Membangkitkan kesadaran kolektif untuk bersama-sama bangkit tidak akan terjadi bila kita masih cerai-berai yang tak berdasarkan visi bersama. Kita berharap moment Hari Kebangkitan Nasional tahun ini dapat dimaknai secara reflektif-rekolektif oleh semua orang. Dan masing-masing kita merenungkan hidup untuk kemudian bangkit bersama-sama menuju bangsa yang lebih baik dan beradab. (*)

(penulis adalah pemerhati budaya)

Kadis Pertanian Tebingtinggi Ditangkap

Dituding sebagai Penadah Barang Curanmor Antardaerah

ASAHAN-Dua tersangka pencuri kendaraan bermotor (curanmor) Jekson Purba alias Purba Togel (42) warga Jalan Mariendal Gang Coklat Kelurahan Mariendal Medan Amplas dan Tiopan Sihombing (30) warga Jalan Seksama Gang Perdamaian Medan Amplas dibekuk Satuan Reskrim Polres Asahan dan Polsek Medan Labuhan. Keduanya ditangkap saat akan menjual truk Colt Disel No Pol BK 8067 VQ bermutan ribuan batu bata yang baru mereka curi, Selasa pagi (15/5 ) sekitar pukul 06.00 WIB. Dalam kasus ini kedua tersangka membawa nama Kepala Dinas Pertanian Tebingtinggi, Leo Lopulisa Haloho (45) yang disebut-sebut sebagai penadah.

Kapolres Asahan AKBP Yustan Alpiani di Mapolres Asahan, Selasa (22/5) mengatakan pengungkapan kasus curanmor antarkabupten dan kota ini kurang dari 24 jam.”Ini berkat kerjasama dengan Polsek Medan Labuhan,” aku Yustan di damping perwira polisi lainnya.

Truk yang hendak dijual Purba dan Tiopan merupakan hasil rampokan di kawasan Pulo Rakyat Asahan. Dalam aksi ini kedua pelaku menodongkan senjata api kepada sopir truk pengangkut batu batu, Adi Pranata (29) warga Lingkungan VI Kelurahan Sidodadi Kecamatan Kota Kisaran Barat Kabupaten Asahan. Setelah itu pelaku membawa kabur truk lalu meninggalkan korban di lokasi. Setelah itu korban membuat laporan pengaduan di Polsek Pulo Raja. “Kami langsung berkordinasi dengan jajaran Poldasu. Hasilnya, sekitar pukul 22.00 WIB, dua anggota komplotan yang akan menjual truk tersebut berhasil dibekuk, sementara lima orang rekannya masih dalam pengejaran,” terangnya matan Kapolres Dairi ini sembari menuturkan keterangan itu berdasarkan pengakuan tersangka Jekson Purba dan Tiopan bahwa mereka berjumlah tujuh orang.

Selain itu Jakson dan Tiopan mengaku pernah mencuri truk Mitsubishi di kawasan Jalinsum di Desa Petatal Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara.
Truk saat itu sedang diparkir dipinggir jalan, lalu menyekap sopirnya Surya Ali (41) warga Dusun VI Desa Pulau Tegur Kecamatan Serba Jadi Kabupaten Serdangbadagai dan Tika Rahmayani boru Sinaga (22) pelayan warung tempat sopir beristrahat. Kemudian keduanya dibuang kawanan pelaku dikawasan Kecamatan Kerasaan Kabupaten Simalungun, sementara Junaidi (31) kernet truk yang lolos dalam aksi kejahatan itu langsung membuat laporan ke Polsek Labuhan Ruku.

“Pengakuan kedua tersangka truk jenis Mitsubishi BK 8612 LO yang dicuri di kawasan Desa Petatal itu dijual kepada Leo Lopulisa Haloho warga Jalan Kavaleri No.4 Kelurahan Bukit Sofa Kecamatan Sitalasari Kota Pematang Siantar dengan harga Rp60 juta “beber Yustan sembari mengungkapkan Leo Lopusila Haloho perna membeli satu unit mobil Pick Up jenis L 300 yang dicuri kawana itu dari Kabupaten Tanahkaro.

Berdasarkan pengakuan kedua tersangka, pada Sabtu ( 19/5 ) tersangka Leo Lopulisa Haloho PNS Pemko Tebingtinggi yang menjabat sebagai Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dibekuk dari kediamannya. Tersangka dijerat dengan pasal pidana 480 KUHP yang ancamam hukumannya maksimal 6 tahun penjarah.

Usai tertangkapnaya Leo, kantor Dinas Petanian Tebingtinggi yang terletak di Jalan Gunung Lauser Kota Tebingtinggi, Selasa siang (22/5) terlihat sepi.
Wakil Wali Kota Tebingtinggi, Irham Taufik bahwa Pemerintah Kota Tebingtinggi telah menurunkan bagian Hukum dan Organisasi serta pengacara untuk langsung mencari tahu tentang informasi tersebut ke Polres Asahan.

“ Memang informasinya ditangkap, selaku anak buah kami, kami langsung menurunkan Kabag Hukum dan Organisasi bersama pengacara untuk mencari dan menelusuri kasus pidana apa yang menimpa Kadis Pertanian itu,” jelas Irham.(mag-3/smg)

Kapolsek Padang Tualang Dicopot

LANGKAT- Kasat Binmas Polres Langkat, AKP Zulkifli Lubis, ditetapkan menjadi Kapolsek Padang Tualang menggantikan AKP Azhari.
Beredar kabar pergantian AKP Azhari terkait kurang tanggap dalam menangani kasus, terutama tewasnya pencuri ayam di daerah tersebut.
“Tadi malam (Senin)Kapolsek yang bersangkutan diganti oleh AKP Zulkifli Lubis yang pernah menjadi Kanit Binmas di Polsek setempat beberapa waktu lalu. Diharapkan, nantinya Kapolsek yang baru agar lebih tanggap dalam menangangi setiap masalah yang timbul di lapangan,” kata Waka Polres Langkat Kompol Drs Safwan Khayat MHum kepada wartawan, Selasa (22/5).

Safwan berharap pergantian jabatan tersebut bisa mendongkrak kinerja Mapolsek lebih baik, sehingga mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Selain itu bisa menciptakan rasa keamanan dan ketertiban masyarakat sesuai paradigma Polri saat ini. Sedangkan, AKP Azhari yang diganti akan didudukkan sebagai perwira pertama (Pama) di Mapolres Langkat.

Disinggung pencopotan AKP Azhari terkait sejumlah masalah pengaduan warga selama ini kurang ditanggapi, termasuk tewasnya maling ayam yang dihakimi massa, mantan Waka Polres Tebing Tinggi itu mengatakan, “alasannya, wartawan kan lebih tahu,” urainya sembari tersenyum kepada sejumlah wartawan. (mag-4)

RSU Dr Djasamen Saragih tak Layak Pakai

Pembangunan Gedung Baru Telan Biaya Rp26,8 Miliar

PEMATANGSIANTAR-Pembangunan gedung baru RSU Dr Djasamen Saragih Pematangsiantar menelan biaya Rp26,8 miliar yang diambil dari APBN tahun 2010. Sayangnya, hingga saat ini gedung tersebut tak juga difungsikan, karena dianggap tidak layak huni.

Hal itu disampaikan Direktur RSU Dr Djasamen Saragih, dr Ria Nopida Telaumbanua MKes, menjawab pertanyaan anggota DPRD Pematangsiantar, pada rapat yang digelar Pansus LKPJ Walikota tahun anggaran 2011.

Pada rapat itu, dr Ria terkesan blak-blakan, terhadap proyek yang dikerjakan PT Leo Tunggal Mandiri, dengan nilai kontrak Rp 26,8 miliar. “Gedung baru (RSU Dr Djasamen Saragih), tidak layak pakai,” tegasnya.

Dijelaskan, bangunan yang terdiri dari empat lantai itu dikerjakan tidak sesuai standar kelayakan rumah sakit. Seperti bangunan di lantai dua ruang operasi. Karpet yang digunakan di ruang itu digunakan karpet rumah tangga, seharusnya karpet untuk ruangan operasi. “Standar operasi ini termasuk yang tidak dipikirkan,” ucapnya.

Kemudian, ruangan untuk computed tomogram scanner (CT scan) seharusnya terbuat dari kaca, malah dibangun dengan dinding beton. Serta penempatan AC (Air Conditioner), juga tidak tepat.

Ketidaklayakan bangunan gedung baru itu diketahui, setelah pihak RSU Dr Djasamen Saragih, dua kali melakukan evaluasi terhadap bangunan. Sehingga diketahui, lantai dua dan lantai tiga gedung tidak layak digunakan.

Menurut dr Ria, pembangunan gedung baru RSU Dr Djasamen Saragih tidak direncanakan dengan matang. Malah dokter yang ada tidak pernah diajak untuk berkonsultasi dalam pelaksanaan pembangunan, sehingga hasilnya tidak memenuhi standar bangunan rumah sakit. “Seharusnya, saat mau membuat sesuatu, dipikirkan dengan matang,” ujarnya.

Selain bangunan yang tidak sesuai standar, dalam pemikiran dr Ria, seharusnya RSU Dr Djasamen Saragih tidak membutuhkan gedung bertingkat, seperti gedung baru yang diadakan diakhir tahun 2010 lalu. Karena RSU Dr Djasamen memiliki lahan yang sangat luas.
Tidak sesuainya bangunan untuk standar rumah sakit, diharapkan dr Ria Nopida, agar pemerintah kembali membuat desain yang baru. Dengan harapan, gedung tersebut bisa difungsikan. (mag-20)

Jalan di Desa Majanggut Diperbaiki

PAKPAK BHARAT- Jalan kabupaten yang menghubungkan tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tinada, Kecamatan Kerajaan dan Kecamatan Sitellu Tali Urang (STU) Jehe persisnya di Desa Majanggut I, Kecamatan Kerajaan, Pakpak Bharat diperbaiki. Sebelumnya jalan tersebut mengalami longsor di bahu jalan, sehingga berisiko maut bagi pengguna jalan.

Kepala Dinas PU Kabupaten Pakpak Bharat Mahadi Simanjuntak melalui Kasi Jalan dan Jembatan Dinas PU setempat Maruli Sitanggang kepada Sumut Pos, Senin (21/5) mengatakan perbaikan jalan kabupaten yang dimaksud telah ditampung di kegiatan pemilaharaan rutin pada anggaran tahun ini.

“Disepanjang 16 kilometer pada jalan kabupaten yang dimaksud, pada anggaran tahun ini terdapat tiga kegiatan, yakni pembangunan tembok penahan di simpang Kuta Batu, pembangunan sayap pada jembatan Sigunung dan perbaikan jalan di Desa Majanggut I akibat longsor,” ungkap Maruli.

Lebih jauh Maruli menjelaskan, sesuai database yang sudah diklarifikasi Kabupaten Pakpak Bharat memiliki jalan kabupaten sepanjang 562 kilometer. Sementara itu, dana yang diplot untuk pemeliharan rutin jalan sangat minim, sehingga pemeliharaan rutin jalan yang dimaksud tidak dapat dilakukan secara menyeluruh. (mag-14)

79 Pelaku UMK Terima Bantuan Modal BAZ

TEBING TINGGI- Sebanyak 79 warga terdiri dari 6 kelompok Usaha Mikro Kecil (UMK) di Kota Tebingtinggi menerima bantuan modal usaha dana bergulir dari Badan Amil Zakat (BAZ) . Bantuan BAZ diserahkan langsung oleh Wakil Wali Kota Tebingtinggi  Irham Taufik SH yang juga Ketua BAZ  Tebingtinggi, Selasa (22/5) di Aula Kantor Bazda Jalan Gunung Leuser Kota Tebingtinggi.

Ketua Badan Amil Zakat Daerah Kota Tebingtinggi, Irham Taufik berpesan agar para penerima bantuan benar-benar memanfaatkan dana yang diterima untuk menambah modal usaha. “Jangan lupa untuk mengembalikan agar bisa digulirkan kembali. Kalau lah dana bergulir ini cepat dikembalikan nantinya oleh bapak ibu, maka akan bergulir setiap tahunnya kepada yang membutuhkan sesuai kebutuhannya,” katanya.

Dia juga mengimbau agar para pelaku usaha benar-benar memperhatikan mutu dan kualitas barang dagangan. “ Dalam usaha makanan kita sangat perlu memperhatikan rasa makanan, jumlah makanan, harga yang terjangkau (murah), bersih dalam penyajian cepat dan tempat, serta rasa yang selalu berpariasi,” pesan Irham Taufik.

Sekretaris Bazda, Muhammad Nasir Pane Sitorus menyampaikan, bantuan bergulir yang penyalurannya bekerjasama dengan PT Bank Sumut Syari’ah Cabang Tebingtinggi itu disalurkan kepada 79 warga yang masing-masing memperoleh bantuan sebesar Rp1 juta. Bantuan ini diberikan kepada kelompok usaha mikro untuk lebih mengembangkan usahanya, dan pengembaliannya nanti akan kembali digulirkan kepada warga lain yang membutuhkannya.
“ Bantuan modal usaha tanpa bunga yang khusus diberikan bagi kelompok usaha mikro kecil tersebut sifatnya bergulir dan harus dikembalikan untuk dapat digulirkan lagi kepada yang membutuhkannya. Bantuan ini sifatnya bergulir dan harus dikembalikan dengan cara dicicil agar saudara-saudara kita yang lain juga bisa memanfaatkannya untuk usaha,” ungkap Nasir.

Salah seorang penerima bantuan UMK, Anita (54) mengungkapkan apresiasinya terhadap Badan Amal Zakat Kota Tebingtinggi yang peduli dengan nasib para pelaku UMK di Kota Tebingtinggi.  Dengan bantuan ini warga akan termotivasi membuat usahanya bisa lebih berkembang dan tidak gulung tikar  (rugi). Untuk masalah pengembalian uang cicilan agar bisa dipergunakan kepada pelaku UMK yang belum menerima bantuan, warga akan tetap membayar.

” Masyarakat kecil khususnya pelaku UMK bisa terbantu kembali untuk menyambung usahanya,” ujar Anita. (mag-3)