Home Blog Page 13543

Kelompok Tabagsel Gelindingkan Nama AY Nasution

Konflik di Tubuh Golkar Sumut

MEDAN-Konflik di tubuh DPD Partai Golkar Sumut kian meruncing. Plt Ketua DPD Andi Achmad Dara kabarnya sengaja dipertahankan DPP untuk menunggu sosok yang tepat memimpin Golkar Sumut. Informasi yang berkembang, Mantan Pangkostrad Letjen (Purn) TNI AY Nasution adalah sosok yang dimaksud.

“Nama ini muncul berkat manuver  yang dilakukan oleh kelompok Tabagsel alias Tapanuli Bagian Selatan, dengan memanfaatkan isu Musdalub yang digelindingkan Kelompok 55 yang dimotori mantan Sekretaris DPD Golkar Sumut Hardi Mulyono,” ujar sumber Sumut Pos di partai berlambang pohon beringin itu, kemarin.
Sumber menyebutkan, sosok yang akan memimpin Golkar Sumut adalah yang memenuhi kriteria seperti keinginan Aburizal Bakrie. Bahkan Ical – panggilan Aburizal Bakrie – menginginkan ke depannya calon ketua DPD Partai Golkar Sumut dari militer nonaktif.

“Munculnya nama mantan Pangkostrad ini diperkirakan akan dapat meredam atau mendamaikan antara Ical dengan Akbar Tanjung. Juga, dapat mendongkrak perolehan suara di Sumatera Utara dalam Pilpres yang akan datang. AY Nasution juga mempunyai hubungan kerabat dekat dengan keluarga Aburizal Bakrie,” terang sumber lagi.

Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut Amru Daulay mengakui kalau dirinya melakukan pertemuan dengan AY Nasution. “Saya pernah bertemu dengannya dan saya secara pribadi mendukung beliau itu (AY Nasution) dalam pencalonan Gubernur Sumatera Utara. Golkar kan membuka semua bagi siapa saja yang akan menginginkan diri mencalonkan diri dari Partai Golkar untuk maju sebagai Cagubsu,” ujar Amru Daulay, Rabu (9/5).

Ketika disinggung adanya keinginan DPP Partai Golkar, untuk merekrut militer nonaktif untuk didudukan sebagai ketua DPD Partai Golkar Sumut, Amru Daulay mengaku bahwa dia setuju dan sudah melakukan lobi dengan AY Nasution.

“Saya setuju. Siapapun berhak untuk maju menjadi ketua DPD Partai Golkar Sumut.Tapi Golkar juga akan melihat kriteria calon itu. Kita sudah pasti mendukung. Dan saya secara pribadi mendukungnya,” ujar Amru Daulay.

Amru Daulay bersama dengan Chaidir Ritonga bertemu dengan mantan Pangkostrad Letjen AY Nasution di Jakarta, belum lama ini. Pertemuan itu diduga untuk memajukan AY Nasution untuk maju sebagai calon Gubsu dari Partai Golkar. Selain itu, untuk memplot AY Nasution untuk menjadi calon ketua Partai Golkar Sumut.

Aday: Jangan Anggap Ini Pemecatan

Kemarin, DPD I Partai Golkar Sumut, khususnya kepengurusan pascarevitalisasi Golkar Sumut, menggelar konfrensi pers. Acara yang digelar di Kantor DPD I Partai Golkar Sumut, Jalan KH Wahid Khasyim Medan itu langsung dihadiri (Plt) Ketua DPD I Partai Golkar Sumut Andi Achmad Dara alias Aday.

Pada kesempatan itu, Aday, mengisyaratkan akan ada pergantian antar waktu (PAW) bagi kadernya di dewan yang dinilai tidak mengindahkan seluruh keputusan partai. Meski demikian langkah untuk melakukan PAW tersebut tetap dilakukan sesuai dengan mekanisme internal partai.
“Kita punya mekanisme partai untuk melakukan evalusi terhadap merek, PAW nanti kita pikirkan,” ujarnya.

Aday mengatakan, revitalisasi kepengurusan di DPD Golkar Sumut merupakan instruksi dari pengurus di DPP. Dan itu bukan hanya di Sumatera Utara. “Revitalisasi ini tidak hanya terjadi di Sumut. Jadi jangan dianggap ini sebagai pemecatan. Di seluruh provinsi juga akan dilaksanakan hingga ke kabupaten dan kecamatan,” tambahnya. (rud/ari)

Negarawan

Oleh: Valdesz J Nainggolan
Kepala Koordinator Liputan Sumut Pos

EPISODE pernyataan kontroversial Ketua DPR RI Marzuki Alie berujung anti-klimaks seiiring kabar jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, Rabu (9/5) petang. Satu lagi tragedi penerbangan menghampiri kita. Akal pikiran mungkin tak paham kenapa Sukhoi berakhir tragis di sini, bukan di dua negara tempat demo flight sebelumnya.

Bagi saya sama tak habis pikirnya kenapa ribet menyoal cara berpikir seorang Marzuki Alie yang mengkritisi gaya mendidik perguruan tinggi kita Kalau resah artinya ada yang nggak beres dong? Saya mencermati berita. Saat diundang sebagai pimpinan lembaga tinggi negara, hemat saya, Marzuki adalah ‘’negarawan’’, termasuk sudut pandang yang melekat dalam pendapatnya.

Simaklah ucapan Marzuki yang kontroversial itu: ‘’Koruptor adalah orang-orang pintar. Mereka bisa dari anggota ICMI, anggota HMI, lulusan UI, UGM, dan lainnya. Penyebab kelahiran koruptor di tempat cendekiawan ini adalah para pengajar PTN yang hanya memikirkan proyek. Inilah yang menyebabkan pikiran kritis para dosen jadi tumpul. Karena sering memikirkan proyek, lama-lama otaknya tumpul.’’

Ucapan yang dianggap tanpa dasar ilmiah ini memicu kemarahan lulusan PTN yang   disebutnya secara telanjang di seminar “Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia” di kampus UI pada Senin (7/5). Apa yang disampaikan Marzuki bagi sebagian orang adalah sesuatu yang ‘’tak ilmiah’’. Tanpa statistik, tanpa survei yang menjadi landasan berbicara di forum ilmiah. Marzuki mengelak menyebutnya sebagai ‘pernyataan’ (statement), melainkan ‘ucapan’ (speech). Jujur saya tak paham beda dua kata tersebut. Apakah yang pertama adalah sesuatu yang disampaikan dengan dipikirkan lebih dulu, dan yang terakhir sesuatu yang diucapkan tanpa mikir dulu alias asal njeplak?

Bahwa Marzuki panik dengan serangan para alumni yang menyebut PTN yang disindirnya sebagai ‘sarang koruptor’ justru membuat dia terlihat ‘tidak ilmiah’. Apa yang diucapkan Marzuki sejatinya dikenal sebagai metode penalaran induktif. Cara berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Generalisasi adalah contohnya. Marzuki melihat kasus korupsi justru dilakukan orang-orang pintar. Tapi tak semua orang ‘pintar korupsi’ duduk di PTN kan? Marzuki menyisipkan kata ‘’bisa dari …’’ di dalam kalimatnya. Namun kata ‘’bisa dari …’’ ini buru-buru menisbikan logika berpikir mereka yang telanjur emosional.

Saya cermati sebetulnya tak ada yang salah dengan ucapan Marzuki. Dia mengkritik dengan nalar induktif, bagian dari logika berpikir ilmiah yang dipelajari di perguruan tinggi manapun.

Saya justru tergelitik menyimak kalimat lanjutan dari speech Marzuki: ‘’Penyebab kelahiran koruptor di tempat cendekiawan ini adalah para pengajar PTN yang hanya memikirkan proyek. Inilah yang menyebabkan pikiran kritis para dosen jadi tumpul. Karena sering memikirkan proyek, lama-lama otaknya tumpul’’.

Kalimat inilah yang membuat peserta seminar yang mayoritas dosen itu meradang. Marzuki tak lagi dilihat sebagai ‘’negarawan’’, melainkan ‘’politisi’’ yang menyindir ‘sampingan’ para dosen yang mencari penghasilan tambahan lewat proyek-proyek penelitian.

Gugatan atas speech Marzuki bahwa PTN sebagai ‘sarang koruptor’ juga terlalu dangkal untuk diperdebatkan. Saldi Isra (2009) dalam bukunya ‘’Kekuasaan dan Perilaku Korupsi’’ menyebutkan akar penyebab korupsi di Indonesia adalah sistem yang compang-camping dalam tiga kaki pemerintahan yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sistem inilah yang melahirkan orang-orang yang disebut oleh Lord Acton: power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely. Kekuasaan berlebihan dan tanpa pengawasan akan memantik orang-orang berbuat korupsi. Jelas tak ada hubungannya dengan latar pendidikan seseorang.

Prof Dr Nazaruddin Sjamsuddin dan Mulyana W. Kusumah, dua dosen UI yang terjerat kasus korupsi di KPU, justru masih kalah dengan Nazaruddin, yang menggelincirkan uang negara hingga Rp4,6 miliar. Nazaruddin terakhir ini cuma politisi lulusan PT tak terkenal di Jakarta yang ‘licin’ bermain anggaran proyek.

Simaklah ucapan Bonie Hargens, dosen UI, yang meminta koleganya di PTN menerima kritik seorang Ketua DPR yang peduli pada sistem pendidikan dan hasil pendidikan saat ini. Ini kritik yang baik agar universitas kembali mendalami moral sebagai tujuan pendidikan yang beberapa dekade diabaikan. Pendidikan saat ini sudah berorientasi kognitif dimana anak didik dituntut untuk sekadar menjadi cerdas dan pintar saja. ‘’Sejatinya pendidikan bukan soal orientasi kognitif. Pendidikan harus bisa mendorong humanitas,’’ katanya.

Saya teringat sepotong artikel di media beberapa tahun silam. Saat mantan Wakil Ketua KPK jilid I Erry Riyana Hardjapamekas membuka kuliah perdana 2.000 mahasiswa ITB berbagai jurusan di kampus Ganesha ITB. Sebuah pembuka kuliah yang patut dipuji: intelektualitas yang diperciki oleh spiritualitas dan humanitas. Bravo PTN! (*)

Terserang Penyakit Kulit, Beli Air Bersih Rp10 Ribu per Galon

Pengabdian Sarjana Sumut di Kepulauan Simeulue (2)

Kendala yang dihadapi para guru SM-3T belum selesai sampai di SMAN 3 Kecamatan Simeulue Tengah saja. Beberapa hambatan lainnya juga dialami para guru yang mengabdi di Kecamatan Alafan.

Kesuma Ramadhan, Kepulauan Simeulue

Sebagai wilayah terluar bagian barat kawasan Pulau Simeuleu, ketiadaan akses penerangan, transportasi, hingga air bersih menjadi momok bagi para pengabdi SM-3T lainnya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.

Erni Susanti, selaku guru SM-3T yang mengisi mata pelajaran Bahasa Inggris di SMPN 2 Alafan Desa Serafon, dan beberapa teman lainnya menceritakan kisah pengabdian mereka yang telah berjalan empat bulan lamanya.

Selain harus beradaptasi dengan kondisi cuaca alam yang tak menentu, para guru SM-3T ini juga harus mampu bertahan dengan keterbatasan bahan makanan di balik mahalnya biaya hidup di daerah tersebut.

Untuk bisa bertahan di daerah pengabdian mereka, Erni bersama ketiga temannya yang lain, harus menyewa sebuah rumah dengan kondisi seadanya. Ini termasuk wajar,  karena mereka hanya membayar Rp900 ribu per tahunnya.

“Untuk makan, kita sulit mencari bahan pokoknya. Biasanya kita selalu memanfaatkan mie instan dan telur. Kalau tiap hari beli nasi, harganya cukup mahal. Kalau mau mencari bahan sayuran, kita harus turun ke kota. Itupun bisa dilakukan seminggu sekali jika ada angkutan yang masuk kemari,” ujar Erni.

Namun, masalah yang sebenarnya menghantui Erni dan kawan-kawan yakni ketiadaan air bersih dan bahan makanan yang memadai. Untuk konsumsi air minum, mereka memanfaatkan jasa pengantar air isi ulang yang datang setiap seminggu sekali, dengan harga per galon Rp10 ribu.

Sementara untuk mandi, Erni dan temannya mengaku harus rela menggunakan air keruh dan berwarna coklat, yang sering mereka analogikan sebagai air kopi susu. Alhasil dengan rutinitas menggunakan air yang kurang bersih dan keruh itu, menyebabkan timbulnya penyakit yang menghiasi hari-hari mereka.

Ini dirasakan langsung oleh Erni. Dia merasakan gatal-gatal pada seluruh tangan dan sebahagian wajahnya sejak bulan pertama kehadirannya di  Desa Serafon. Setelah empat bulan bertugas, penyakit itu bukannya hilang tapi malah menimbulkan bekas luka.

Walaupun upaya pengobatan telah dilakukan di puskesmas pembantu (Pustu) daerah itu, namun kulit telah dipenuhi luka, tak mudah untuk menyembuhkannnya.

“Udah diobati kok, walaupun belum sembuh sepenuhnya. Mudah-mudahan saja alerginya tidak menjalar ke seluruh badan,”ujar Erni sembari tersenyum simpul menutup kesedihannya.
Meskipun begitu, Erni tetap merasa yakin akan mampu bertahan untuk bisa mengabdi di daerah tertinggal dan terluar selama satu tahun, sesuai kontrak yang telah disepakati para guru SM-3T ini.

Nasib serupa juga dialami Grace Hesty Napitupulu. Sebagai guru SM-3T bidang biologi, Grace juga menghadapi beberapa kesulitan dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungannya.

Dari penuturan Grace, kendala penerangan di daerah yang mereka tempati turut menghambat produktivitas mereka dalam melakukan pengabdian. Grace dan kawan-kawannya mengaku hanya bisa menikmati penerangan sejak pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB saja. Selebihnya mereka harus menyiasati dengan memasang lampu teplok untuk membantu penerangan di tempat tinggal mereka.

Itu disebabkan Desa Serafon tak memiliki pembangkit tenaga listrik dan hanya  memanfaatkan penerangan dengan  tenaga surya. Kondisi ini tentu saja berbanding jauh dengan kehidupan yang dilalui Grace di tempat kelahirannya, Tebingtinggi. Selain listrik, hambatan akses komunikasi dan keterbatasan sinyal juga menjadi kendala.

“Kalau mau mengabarkan sesuatu kepada keluarga dan kawan-kawan lewat handphone, biasanya kami mencari sinyal ke daerah bebatuan yang berdekatan dengan pantai di belakang rumah. Inipun belum tentu bisa dilakukan setiap setiap hari,” ujar wanita yang baru saja menamatkan pendidikan guru di Unimed itu.

Di balik kondisi tersebut, keprihatinan juga hadir dari minimnya kemauan penduduk  yang berusia sekolah untuk mendapatkan kesempatan pendidikan. Bahkan, keadaan tersebut ini diakui Sadaruddin, seorang warga yang juga petugas kantor Kecamatan Alafan. “Budaya masyarakat di sini memang kurang kemauan untuk belajar. Salah satunya karena masalah ekonomi. Para orangtua lebih memilih anaknya membantu mereka kerja di ladang atau ikut mencari ikan yang dianggap lebih menghasilkan ketimbang harus bersekolah,” ucapnya.

Dari data yang disebutkan Sadaruddin, dengan jumlah penduduk berkisar 10 ribu jiwa, rata-rata warga Alafan memiliki penghasilan yang beragam baik sebagai nelayan, bertani, berdagang, maupun beternak.

Lemahnya kesadaran masyarakat tentang pendidikan ini jugalah, menurut Sadaruddin menjadi salah satu alasan kecamatan Alafan sulit berkembang. Ditambah lagi, keadaan miris di mana sebagai sebuah kabupaten, Simeulue tidak memiliki lembaga pendidikan tinggi.

“Seandainya pun anak-anak kita sudah menamatkan SMA, setelah itu mereka tak punya pilihan untuk kuliah di daerahnya. Karena kalau mau kuliah mereka harus ke Aceh atau Kota Medan. Dan, ini pastinya membutuhkan biaya yang sangat besar. Secara otomatis keinginan untuk melanjutkan kuliah pun tak bisa dilakukan karena alasan ekonomi. Wajar saja akhirnya mereka memilih bekerja membantu orangtuanya,”sebutnya.

Secara geografis, letak Alafan, bilang Sadaruddin kurang menguntungkan untuk bisa cepat berkembang. Sebagaimana pengalaman perjalanan Sumut Pos, untuk bisa tiba di Kecamatan Alafan, harus ditempuh dengan perjalanan panjang yang penuh tanjakan dan tikungan tajam.
Jika dirunut dari titik keberangkatan awal dari Desa Sinabang Kecamatan Simeuleu Timur, untuk mencapai lokasi Alafan, setidaknya harus melewati tiga kecamatan terlebih dahulu. Yakni Kecamatan Teupah Barat, Simeuleu Tengah, Salang dan terakhir Alafan.

Sebagai sebuah Kecamatan, Alafan memiliki delapan desa yakni Lafakha, Teluk Dalam, Lubuk Baek, Langi, Serafon, Lohok Pau, Lamerem, dan Lewak. Alafan dianggap sebagai Kecamatan terpencil dan terluar karena kondisinya yang begitu jauh dari pusat kota. (Bersambung)

Faktor Lingkungan dan Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja kerap jadi masalah. Bagaimana mencegahnya? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Tomi Sanjaya Lubis dengan Ketua DPD KNPI Medan, Zulham Effendi Siregar ST.
Apa faktor penyebab kenalakan remaja?
Menurut  saya kenakalan remaja itu bisa terjadi karena faktor lingkungann
di sekitarnya, sehingga dia kerap kali mengikutinya.

Bagaimana dengan kurangnya perhatian orangtua?
Jarang sekali faktor dari kurangnya perhatian dari kedua orangtuanya menyebabakan kenalan remaja. Tapi, kalau faktor dari permasalah kedua orangtua seperti orangtuanya berpisah mungkin saja bisa terjadi. Karena, anak tersebut kurang kasih sayang.

Apa langkah untuk mencegah kenakalan remaja?
Langkah mencengah kenakalan remaja itu ada beberapa cara yakni pertama orangtua harus mengawasi setiap hari-hari anak-anaknya dengan cara mengontrol anak-anaknya ataupun menayakan anaknya tentang aktifitas apa yang dilakukannya pada hari ini. Kedua, orangtua harus memberi kasih sayang kepada anaknya. Sehingga, anak yang diberikan kasih sayang itu cenderung melakukan kenakalan remaja. Kalau mau melakukan kenakalan, paling si anak akan berpikir panjang untuk melakukannya.

Selanjutnya, ketiga orangtua harus memberikan pencapaian pendidikan yang setinggi-tingginya pada si anak. Sehingga, bila pendidikan anak tinggi akan menjadi seorang intelektual. Keempat, orangtua harus memberikan nilai-nilai dan norma yang baik pada anak.

Seperti apa nilai-nilai dan norma yang baik diberikan pada anak?   
Nilai-nilai dan norma yang baik diberikan kepada si anak itu bisa saja memberikan pengarah kepada tentang menyuruh anak-anak mengikuti pengajian, atau bergabung menjadi anggota remaja masjid serta memperdalam aqidah Islam. Sehingga, bila itu dilakukan, anak-anak akan saling menghormati orangtuanya, bersikap santun dan menghargai orangtua dan yang lainnya seperti masyarakat yang ada di sekitarnya serta temannya sendiri.

Apakah ada langkah lain?
Menurut saya langkah lainya itu tidak ada, hanya yang harus diterapkan orangtua adalah bagaimana orangtua bersikap baik pada anak-anak. Sehingga, anak juga akan bersikap baik pada orangtuanya. (*)

USU Terima 3.117 Jalur SNMPTN

MEDAN-Universitas Sumatera Utara (USU) menyiapkan kuota sebanyak 3.117 bagi calon mahasiswa untuk mengikuti SNMPTN jalur tulis tahun akademik 2012/2013.
Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 untuk ujian tertulis secara online di USU nantinya, akan dibuka Kamis (10/5) hingga Kamis (31/5) mendatang.

“Kuota sebanyak 3.117 yang disiapkan USU bagi mahasiswa baru ini nantinya akan menempati kursi di 47 program studi S-1 reguler,” ungkap Ketua Panitia Lokal USU, Prof Ir Zulkifli Nasution, didampingi sekretaris Panitia Lokal Ir Saipul Bahri Daulay, di Kantor Panlok Kampus USU Medan, Rabu (9/5).
Jadwal pelaksanaan ujian tertulis, sambung Zulkifli, akan dimulai pada Selasa 12 Juni, dengan materi ujian tes potensi akademik, dan tes bidang studi dasar Sedangkan pada hari kedua, Rabu 13 Juni, dengan materi tes bidang studi IPA dan tes bidang studi IPS.

“Sedangkan hasil ujian tertulis tersebut akan diumumkan pada 7Juli 2012 yang dapat diakses pada laman http://www.snmptn.ac.id,”jelasnya.

Untuk tahapan pendaftaran SNMPTN jalur ujian tertulis bilang Zulkifli, dilakukan dengan pembayaran di Bank Mandiri atau kantor pos dengan menggunakan tanggal lahir sebagai identitas dan selanjutnya akan mendapatkan PIN dan KAP.

“Selanjutnya dengan menggunakan PIN dan KAP, siswa atau peserta melakukan login ke laman http://www.ujian.snmptn.ac.id untuk mengisi borang. Setelah mengisi borang peserta dapat mencetak kartu ujian sembari menunggu waktu mengikuti seleksi ujian tertulis sesuai jadwal,”ucapnya.

Adapun untuk biaya pendaftaran seleksi SNMPTN jalur ujian tertulis sebesar Rp150 ribu per-peserta bagi peserta IPA/IPS dan Rp175ribu per-peserta untuk IPC.

Sementara untuk ujian keterampilan dikenakan Rp 150 ribu bagi peserta yang memilih program studi yang mempersyaratkan ujian keterampilan.
Sebelumnya, Seleksi SNMPTN 2012 dilaksanakan melalui dua jalur, yakni jalur undangan yang pendaftarannya telah berlangsung pada 1 hingga 8 Maret lalu.

Dimana pengumuman seleksi SNMPTN jalur undangan itu dijadwalkan pada 28 Mei 2012 dan saat ini baru dimulai pendaftaran bagi seleksi ujian tertulis.
Sementara untuk pelaksanaan UN di Universitas Negeri Medan (UNIMED) juga dimulai Kamis 10 Mei 2012 pukul 08.00 WIB sampai 31 Mei 2012 pukul 22.00 WIB.

Dengan jumlah kuota yang disediakan untuk jalur tulis sebanyak 2000 calon mahasiswa.
Adapun untuk ujian tulis SNMPTN 2012 akan dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 12-13 Juni 2012 mendatang. (uma)

Temukan Obat Diabetes

LUBUK PAKAM- Peneliti muda Fialdy Josua Pattiradja Wane yang merupakan pelajar kelas II SMP Yayasan Chandra Kesuma School Kecamatan Percut Sei Tuan menemukan obat luka bagi penderita diabetes.

Melalui penelitianya itu putra pertama dari dua bersaudara pasangan Egi Pattiradja Wane dengan drg Annita ini memperoleh perunggu pada even International Conference of Young  Scientist ke-19 bidang Biologi di Nijmegen Belanda, awal tahun 2012.

Bahkan hasil karya Fialdy itu pernah diikutsertakan pada even Intrenational Conference Of Young Scientists ke-18 di Moskow, bidang ekologi bahkan berhasil meraih prestasi Special Award For The Best Presentation Skill. Penelitian ini menciptakan obat luka bagi penderita diabetes melletus.

Judul penelitian yang disampaikanya saat itu “Chitosan Defies Death” yang bila diartikan judul tersebut berarti “Penangkal Kematian”. Fialdy panggilan akrab Fialdy Josua Pattiradja Wane melakukan penilitian terhadap cangkang (kulit) belangkas setelah melalui proses demirulralisasi, deprotemisasi dan diasetilasi ternyata cangkang belangkas dapat dipergunakan untuk penyembuhan luka kering pada penderita diabetes.

Hasil penelitian yang menggunakan fasilitas laboratorium F-MIPA USU serta mendapat bimbingan  dari Prof Harri Agusnar itu, dilakukan ujicoba kepada 7 orang relawan penderita luka kering. Bahkan hasilnya mengembirakan, pasien yang menggunakan salep yang terbuat dari bahan dasar cangkang belangkas itu, sembuh lukanya. Bahkan terbuka kemungkinan salep belangkas itu dapat penyembuhan luka basah dan luka gas (akibat bakteri- Red).

Karena keberhasialnya itu, Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan, mengundang Fialdy Josua Pattiradja Wane bersama Ketua Yayasan Chandra Kesuma School Mala Holland serta ditemani sejumlah guru lain. Bahkan pelajar SMA Chandra Kesuma, Steven Sinatra yang berencana akan mengikuti Asia Pacific Conference Of Young Scienetist pada September 2012 di Plangkaraya, turut ikut.

Drs H Amri Tambunan memberikan motivasi kepada Fialdy Josua Pattiradja Wane, serta peneliti muda yang lain agar terus berinovasi serta berkarya.(btr)

Pengalaman Tumor Bikin Waspada

Andien

Penyanyi solo Andien ternyata punya pengalaman dengan tumor payudara. Ketika masih berusia 16 tahun, pelantun lagu Pulang itu terdeteksi terkena penyakit tersebut. Meski sekarang sudah terbebas, bukan berarti dia tidak peduli lagi dengan kesehatannya.

Pengalaman itu justru membuat Andien lebih waspada. Malah, dia mengajak para perempuan untuk mulai menjaga kesehatan payudara. Andien sekarang bergabung di gerakan Delapan, yaitu deteksi berkala payudara Anda. Kemarin saat ditemui di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, perempuan berusia 26 tahun itu menceritakan pengalamannya. “Dulu saya enggak kepikiran kalau ada tumor. Usia saya juga masih 16 tahun waktu itu. Gaya hidup saya sehat. Saya juga enggak ada keturunan. Saya pikir itu hanya masalah hormon,” curhatnya.

Kalau saja saat itu tidak terkena usus buntu, mungkin dia juga tidak akan bilang ke dokter bahwa di payudaranya ada benjolan. Setelah diperiksa, ternyata itu merupakan tumor dan segera diangkat. “Saya sih enggak takut sama sekali ya. Justru orang tua saya yang khawatir. Sekali operasi, dua penyakit sekaligus,” lanjutnya.

Andien menginap di rumah sakit memang karena penyakit usus buntu. Orang tuanya pun tidak tahu bahwa di payudaranya ada benjolan.

Sejak itu Andien mengaku sangat concern dengan kesehatan payudara.
Dia juga sering ikut acara yang berkenaan dengan kanker payudara.  “Saya mau bergabung dengan gerakan ini karena ingin mengajak masyarakat waspada dan peduli dengan kesehatan payudara sendiri,” ujarnya.

Penyanyi yang sudah membuat empat album itu mengakui bahwa dulu pengetahuannya tentang penyakit tersebut minim. Apalagi, saat itu masih remaja.  (jan/c2/tia/jpnn)

Satgas Joko Tingkir Perekat Nusantara

Jenderal TNI Purn H Endriartono Sutarto Hadiri Apel Akbar Bakti Sambut Harkitnas

DALAM rangka menyambut Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2012, satuan tugas (Satgas) Joko Tingkir Sumut membentuk panitia pelaksana ‘Apel Akbar dan Pekan Bakti’ di Lapangan Benteng Medan, Minggu (13/5) pukul 09.00 WIB sampai selesai. Kegiatan ini juga dirangkai pemberian 10 ribu butir telur rebus kepada warga Medan.

‘’Rangkaian kegiatan meliputi apel akbar, pekan bakti sosial, pekan olahraga, pekan budaya dan karya bhakti (gotong royong),” kata Ketua PW Satgas Joko Tingkir Sumut Sukirmanto SH didampingi Ketua Panitia Surya Dharma Sanjaya BBA, Sekretaris Panitia Drs Suyono SH dan Bendahara Panitia Suparman ST.

Ditemui saat rapat panitia di Sekretariat PW Satgas Joko Tingkir Sumut Jalan Ringroad Nomor 14-I Tanjung Sari Medan, Rabu (9/5), Sukirmanto mengatakan, apel akbar akan diikuti lima ribu pengurus dan anggota dari 24 Pengurus Daerah (PD) Satgas Joko Tingkir kabupaten/kota se-Sumut dan Satma dari IAIN Sumut akan menegaskan peran Satgas Joko Tingkir sebagai barometer perekat nusantara.

Dalam apel akbar, lanjut Sukirmanto, juga akan dilaksanakan penyerahan kartu anggota berasuransi gratis oleh mantan Panglima TNI Jenderal TNI Purn H Endriartono Sutarto selaku Ketua Dewan Pembina PB Satgas Joko Tingkir Indonesia dan mantan Kasdam Jaya Brigjen TNI Purn HM Lintang Waluyo SIP.

‘’Sebelumnya akan dilaksanakan penandatanganan MoU antara PW Satgas Joko Tingkir Sumut dengan Asuransi Bumi Putra Muda. Kerjasama ini sebagai bagian dari gerakan satu juta kartu anggota berasuransi gratis kepada seluruh pengurus dan anggota Satgas Joko Tingkir secara bertahap,” katanya.

Ketua PW Satgas Joko Tingkir Sumut juga menjelaskan Satgas Joko Tingkir adalah satgasnya masyarakat bukan satgasnya DPP Pujakesuma.
Sedangkan Sekjen PB Satgas Joko Tingkir Indonesia Ir Setyo Purwadi Mangun Sastro MM menambahkan, Jenderal TNI Purn H Endriartono Sutarto akan menyerahkan mandat kepada 16 PW Satgas Joko Tingkir yakni H Supano SE (Aceh), Kol Inf Agus Pramono (Riau), H Haryono SE (Sumbar), H Nursyamsuddin SH (Jambi).

Kemudian Riki Susanto SPd (Bengkulu), Joko Utomo BcKN (Lampung), Hari Subagio ST (Sumsel), RM Tri Hartono SH (Jakarta), Raden Suryono SSN (Jateng), Tubagus Najiyullah (Jabar), RM Suryo Adinoto SE (DIY), H Sunaryo SH MH (Jatim), Supeno Hadibroto SH (Banten), Mendung Slamet Budiono PhD (Bali), Letkol CPM Wibisono (Kalbar) serta pengurus PW Satgas Joko Tingkir NTB dan NTT. (*)

Jari Diamputasi, Korban Tetap Memaafkan

Sidang Guru Marini Tabrak Murid

MEDAN-Sidang lanjutan perkara guru Marini yang menabrak murid TK Perguruan Buddhis Bodhicita, kembali di gelar  di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (8/5).

Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Wahidin SH dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fitri SH itu mendengarkan keterangan saksi korban. Dalam persidangan, hakim dan JPU masing-masing mengarahkan pertanyaan kepada para saksi seputar perdamaian yang dilakukan keluarga terdakwa dengan keluarga korban.

Di hadapan persidangan Cang Hong dan anaknya Gilbert yang menjadi korban mengaku, kalau anaknya Gilbert mengalami luka serius di jari manis sebelah kirinya.

“Lukanya sudah sembuh, namun jari manis sebelah kirinya terpaksa harus diamputasi. Meskipun demikian terdakwa sudah meminta maaf. Dan saya sudah memaafkannya,” ujar Cang Hong.
Sementara itu Gilbert dengan mengenakan seragam sekolah SMP mengaku, sudah sembuh dan mengaku tidak ada masalah dalam menjalankan rutinitasnya sehari-hari, karena jari tangannya diamputasi.

Dengan hanya menjawab menggeleng dan mengangguk saja Gilbert menjawab pertanyaan hakim dan JPU.
“Jadi gimana jarinya sekarang sudah sembuh ya. Sudah tidak apa-apa kan. Kamu masih bisa bermain piano kan,” tanya hakim pada Gilbert.

“Kamu sudah memaafkan terdakwa ya? Dengan tulus tidak ada unsur paksaan dari siapapun,” tanya majelis hakim pada orangtua Gilbert, Chang Hong.
“Kami sudah memaafkan Pak Hakim dengan tulus tanpa adanya unsur paksaan,” ucap orangtua korban Cang Hong.

Begitu juga pertanyaan JPU terhadap saksi, juga mengarahkan pertanyaan seputar perdamaian, karena saksi telah memberikan keterangan.
Sementara itu terdakwa Marini yang duduk di kursi pesakitan, tidak mau memberikan keterangan kepada wartawan. Namun kuasa hukum terdakwa, Sukirman bersikuh bahwa kleinnya sudah melakukan perdamaian dengan para keluarga korban.

“Kasus ini sudah damai, kami minta agar hakim melepaskan klein kami. Karena terdakwa sudah trauma jadi kami minta jangan lagi klein kami ini dihukum,” ujar Sukirman.
Ketika disnggung wartawan perdamaian boleh saja, namun hukum tetap dijalankan, Sukirman mengatakan bahwa hukum harus ditegakkan.

Sekadar mengingatkan, Marini (22) menabrak kerumunan siswanya yang sedang senam pagi di lapangan sekolah. Akibat kelalainnya 18 siswanya harus dilarikan ke rumah sakit. (rud)

Sembunyikan Identitas Penganut Yahudi

Mila Kunis

Jalan terjal harus dilalui Mila Kunis sebelum jadi artis tenar Hollywood. Kunis yang lahir di Ukraina, harus menyembunyikan identitasnya sebagai keturunan Yahudi.

Keluarganya salah satu korban Holocaust atau pembantaian massal kaum Yahudi yang dilakukan oleh Nazi pimpinan Adolf Hitler. Kakek dan nenek Kunis selamat dari tragedi itu. Namun, keluarganya yang lain terbunuh.

“Bintang film Friends With Benefits ini tak memungkiri masih banyak orang menyimpan sikap sinis kepada keturunan Yahudi. Itu makanya, Kunis hijrah ke Amerika di usia 7 tahun.
“Aku menangis setiap hari. Aku tidak mengerti budayanya. Aku tidak mengerti orang-orangnya,” kenangnya.

Sambil belajar bahasa Inggris, Kunis masuk sekolah akting. Dari situlah Kunis mulai merintis karier aktingnya hingga sekarang.  (rm/jpnn)