Home Blog Page 13571

Anas Berupaya Bungkam Angie

JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum masih belum menyerah menghadapi dugaan keterlibatan dalam penyelidikan proyek pembangunan sport center di Hambalang Bogor.

Menurut seorang petinggi KPK yang ikut menangani penyelidikan Hambalang, kini Anas berusaha melindungi Angie agar jangan sampai “bernyanyi” dalam kasus tersebut.

“Ada kelompok (Anas) yang melindungi Angie. Dia tidak dilepas seperti Nazaruddin. Pokoknya ada tekanan agar Angie tidak berkoar-koar seperti Nazaruddin,” kata sumber terpercaya yang enggan namanya dikorankan itu. Namun, dia benar-benar yakin bahwa tak lama lagi Anas akan ditetapkan sebagai tersangka. “Bagaimanapun juga Anas adalah sasaran pimpinan KPK,” imbuhnya.

Kasus yang dihadapi Angie memang terpisah dari penyelidikan Hambalang. Sebab, Angie adalah tersangka kasus suap wisma atlet dan proyek Kemendikbud. Meski begitu istri mendiang Adjie Massaid yang juga kader Partai Demokrat itu memiliki kedekatan dengan Anas.
Angie dan Anas sama-sama duduk di Komisi X DPR. Setelah terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pertengahan 2010, Anas meninggalkan komisi yang membawahi olah raga dan pendidikan itu. Tapi sebelum meninggalkan komisi X, Anas berupaya mengumpulkan modal agar bisa menang di pertarungan pemilihan Ketum.

Salah satu mainan Anas adalah proyek Hambalang. Dia membantu PT Adhi Karya dan Wijaya Karya dengan konpensasi uang sekitar Rp50 miliar. Anas berperan mendesak Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk segera menerbitkan sertifikat Hambalang yang sejak beberapa tahun bermasalah. Dia juga dituding membantu memenangkan dua perusahaan konstruksi pelat merah itu menjadi pemenang proyek.
“Kami sekarang memang sedang mencari bukti aliran dana dari perusahaan itu ke Anas,” katanya dengan nada tegas. Tak menutup kemungkinan informasi yang dibutuhkan KPK bisa berasal dari Angie.

Pasalnya, Angie merupakan sekretaris pemenangan Anas menjadi Ketua Umum PD di Bandung. (kuh/dyn/jpnn)

Bentrok Berdarah di Solo

Warga Kesal Polisi Terkesan Membiarkan

SOLO – Suasana di salah satu sudut Kota Solo seharian kemarin (4/5) mencekam. Bentrokan antara warga dan aktivis salah satu organisasi massa (ormas), yang terjadi sehari sebelumnya Kamis (3/5), kemarin kembali pecah dengan skala lebih besar. Lokasinya sama, di sekitar Jalan R.E. Martadinata.

Ketegangan dimulai saat sekitar seribu aktivis ormas kembali mendatangi lokasi setempat. Mereka membawa batu, ketapel, pentungan, dan senjata tajam. Rombongan berangkat dari Masjid Muhajirin Semanggi sekitar pukul 14.30. Mereka tidak hanya datang dari Solo, tapi juga daerah lain di sekitar Kota Bengawan itu.

Massa ormas datang dengan jalan kaki melalui Sangkrah, pintu air Demangan, terus menuju R.E. Martadinata. Tiga satuan setingkat kompi (SSK) Brimob Polda Jateng yang dibantu Dalmas Polresta Surakarta berjaga di persimpangan jalan. Warga yang dilewati rombongan itu menutup mulut-mulut gang di sepanjang Jalan R.E. Martadinata dengan bambu.

Saat ribuan aktivis ormas melintas di depan Gang Bangunharjo, RW IX Gandekan, Jebres, bentrokan dengan warga kembali meledak sekitar pukul 15.00. Warga dan aktivis ormas saling lempar batu di mulut gang. Puluhan aktivis ormas masuk di gang yang tak dijaga polisi, mendatangi warga yang berkumpul di gedung pertemuan Pancasila yang ada di gang itu. Warga yang kalah jumlah lari berhamburan ke perkampungan.

Dua warga menjadi korban dalam bentrokan yang berlangsung sekitar sepuluh menit tersebut. Ngatiman (63) warga RT 1 RW VIII Gandekan, Jebres, mengalami luka bacok di kepala. Kedua lengannya hampir putus dan dua jemarinya putus. Ironisnya, Ngatiman hanya seorang anggota linmas yang sedang tidur di bengkel tempat sambilan kerjanya.

Satu lagi korban dari warga bernama Haris (44) warga RT 2 RW IX Gandekan. Lengan kirinya terkena bacok dan kepalanya terluka karena kena lemparan batu. Korban dilarikan polisi ke RSUD Moewardi. Selain korban fisik, kerugian material juga menimpa warga. Puluhan kaca rumah warga pecah akibat lemparan batu. “Pak Ngatiman nggak tahu apa-apa. Dia cuma mau menutup bengkelnya. Melihat ada bentrokan, dia teriak-teriak menyuruh masuk anaknya, sambil lari, terus kena bacok itu,” ungkap Suwanto, warga setempat.

Bentrokan mulai reda setelah ribuan aktivis ormas melanjutkan konvoi jalan kaki ke arah barat Martadinata, simpang tiga Jalan Kapten Mulyadi ke selatan, kemudian kembali ke tempat berkumpulnya massa aktivis ormas tersebut.

Selang lima menit setelah aktivis ormas pergi, aksi saling lempar kembali terjadi. Namun, kali ini antara warga dan polisi. Warga melempari polisi yang baru akan berjaga di mulut gang. Warga kesal melihat polisi yang seolah-olah membiarkan aktivis ormas itu mengacak-acak kampungnya. “Kowe ngopo” Kok malah dinengke, warga dadi korbane (Kamu bertindak apa” Kok malah dibiarkan, warga menjadi korban, Red),” teriak warga sambil melempar batu.
Lemparan batu terhadap polisi baru berhenti setelah salah seorang anggota Polsek Jebres mengimbau masyarakat berhenti. Sekitar pukul 16.00 jalan kembali dibuka untuk umum. Warga kemudian duduk-duduk di pinggir jalan. Hingga tadi malam ratusan personel kepolisian masih berjaga-jaga di pinggir jalan.

Kapolresta Surakarta Kombespol Asjimain mengatakan, pasca kejadian bentrokan Kamis lalu (3/5), pihaknya langsung melakukan pertemuan antara pemkot Solo, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan perwakilan antara kedua kubu. Saat itu diambil kesepakatan untuk menghindari risiko yang lebih besar. Tapi, polresta mengizinkan mereka kembali melakukan konvoi jalan kaki.

“Permintaan dari kelompok itu hanya melakukan show of  force. Jika tidak ada pancingan dari masyarakat, mereka tak akan melakukan perlawanan. Tindakan yang harus kita lakukan, risiko terkecil, fokus membiarkan dia lewat. Tapi, kami tekankan, polisi tidak mengizinkan menggunakan senjata tajam,” papar Asjimain.

Pada saat rombongan lewat, ada provokasi dari orang tak dikenal yang disusul dengan lemparan batu. Itu yang memicu bentrokan kembali terjadi. Belum ada pelaku yang ditangkap atas bentrokan kemarin.(nw/jpnn)

MK Sahkan Kemenangan Zaini-Muzakir

Pilkada Aceh

JAKARTA – Pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf sudah bisa bernapas lega. Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang pembacaan putusan sengketa hasil pemungutan suara Pilkada Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Jumat (4/5) menyatakan menolak gugatan pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan.  “Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya,” ujar Ketua Majelis Hakim MK Mahfud M.D. saat membacakan putusan. Dalam sidang, Mahfud didampingi delapan hakim konstitusi.

Dengan putusan itu, keputusan Komite Independen Pemilihan (KIP) Aceh yang menetapkan pasangan Zaini-Muzakir sebagai pemenang pilkada Aceh sudah sah.

Menurut Mahfud, pokok permohonan yang diajukan pasangan incumbent Irwandi-Muhyan tidak beralasan dan tidak terbukti menurut hukum.
Fakta yang terungkap di persidangan MK, pelanggaran terjadi secara sporadis, tidak melalui suatu perencanaan yang matang. Pasalnya, termohon (Zaini-Muzakir) bukanlah pejabat pemerintahan yang dapat menggerakkan struktur untuk mepengaruhi pemilih supaya memilih pihak terkait. (sam)
“Kejadian yang sifatnya pidana seperti yang didalilkan pemohon tersebut tidak terbukti dapat berpengaruh terhadap hasil pilihan pemilih dan tidak terbukti dilakukan secara kerja sama sistematis antara pelaku kekerasan dan termohon (KIP Aceh), pihak terkait, maupun aparat, baik dalam bentuk aktif maupun pasif (pembiaran),” kata Hamdan Zoelva, salah seorang hakim anggota.

Hamdan juga mengatakan, seandainya yang dimaksud pemohon adalah pihak terkait menggunakan struktur Partai Aceh untuk memengaruhi supaya pemilih memilih pihak terkait, pemohon dalam persidangan sama sekali tidak dapat membuktikan bahwa Partai Aceh menggerakkan atau memerintah strukturnya memengaruhi pemilih dengan tindakan intimidasi ataupun teror untuk memilih pihak terkait.

Selain itu, kalaupun ada aksi intimidasi dan teror yang dilakukan kader Partai Aceh, MK berpendapat, hal tersebut merupakan ranah hukum pidana. “Maka, mahkamah tidak dapat menilai atas pelanggaran pidana dimaksud,” ujar Hamdan.

Pasangan Irwandi-Muhyan menggugat hasil pilkada karena menganggap telah terjadi praktik intimidasi, teror, dan pelanggaran yang dilakukan KIP saat pemungutan suara.

Kuasa hukum pemohon, Sayudi Abubakar, mengatakan bahwa praktik intimidasi dan teror tersebut berasal dari orang-orang tertentu dengan tujuan memengaruhi pilihan pemilih.

Pilkada NAD yang diadakan pada 9 April 2012 diikuti lima pasang calon gubernur dan wakil gubernur. Yakni, Ahmad Tajuddin-H Tengku Suriansyah, Irwandi-Muhyan, Darni M. Daud-Ahmad Fauzi, M. Nazar-Nova Iriansyah, dan Zaini-Muzakir. Pada 17 April KIP mengumumkan pemenang pilkada adalah pasangan Zaini-Muzakir dengan memperoleh 1.327.695 suara.

Dalam sidang pembacaan putusan itu, Irwandi-Muhyan maupun Zaini-Muzakir tidak hadir. Mereka diwakili kuasa hukum masing-masing. (sam/jpnn/c10/agm)

Sutan Bhatoegana Adu Mulut dengan Petugas KPK

WAKIL Ketua Fraksi Demokrat, Sutan Bhatoegana, bikin ulah saat menjenguk tersangka suap Wisma Atlet, Angelina Sondakh, di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia meradang ketika keinginnya membesuk Angelina Sondakh melalui lift Gedung KPK langsung menuju ruang tahanan ditolak petugas tahanan.

Prosedur standar memang mewajibkan tamu yang menjenguk tahanan harus terlebih dulu keluar dari pintu utama dan melewati teras gedung KPK dengan berjalan kaki. Namun, Sutan menolak aturan tersebut. Sempat terjadi adu mulut antara petugas KPK dengan Sutan. Akhirnya anggota DPR itu memilih mengalah. Namun Sutan membantah insiden itu terjadi. (net)

Stewart jadi Sarjana di Usia 97 Tahun

SYDNEY – Semangat Allan Stewart dalam menuntut ilmu patut diacungi jempol. Meski usianya sudah 97 tahun, pria yang berprofesi sebagai dokter gigi itu masih sempat menuntaskan studi masternya di bidang ilmu pengetahuan klinis. Kemarin (4/5) kakek 12 cucu dan 6 cicit itu menjadi sarjana tertua di dunia.

“Saya rasa, setelah ini saya bisa menggantung topi dan jubah akademis ini,” kata lelaki kelahiran 7 Maret 1915 tersebut. Predikat sarjana tertua kemarin merupakan gelar kedua yang dia raih dari Guinness World Records. Pada 2006 Stewart tercatat sebagai sarjana tertua setelah menuntaskan studinya di bidang hukum di University of New England. Saat itu usianya masih sekitar 91 tahun.

Sekitar enam tahun lalu, setelah dikukuhkan sebagai sarjana hukum, Stewart juga bertekad menggantungkan toganya sebagai kenang-kenangan. “Tapi, saya kemudian merasa bosan dan kembali ke bangku kuliah,” papar penduduk Port Stephens, sekitar 160 kilometer di sebelah timur laut Kota Sydney, tersebut. Dia lantas melanjutkan studi pascasarjana di Southern Cross University.

Stewart butuh waktu tiga tahun untuk memutuskan kelanjutan studinya. Setelah menjadi sarjana tertua pada 2006, dia baru terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana pada 2009. Sebenarnya, sebelum aktif menuntut ilmu di usia senja, bapak enam anak itu juga sudah mengantongi dua predikat sarjana pada era 1930-an. Yakni, sarjana kedokteran gigi dan ilmu spesialis bedah mulut.

“Saya punya banyak waktu luang akhir-akhir ini dan saya ingin tetap aktif secara mental,” papar Stewart yang total sudah menyandang dua predikat sarjana dan dua predikat pascasarjana tersebut. Bagi dokter gigi (spesialis bedah mulut) yang praktik di Australia dan Inggris itu, menuntut ilmu di usia tua tidak gampang. Tapi, dia menganggap semua itu sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.

“Mendekati usia 90 tahun, saya sadar bahwa waktulah yang menjadi penentu segalanya. Karena itu, saya harus bergegas jika tidak ingin gagal,” ungkap dia. Karena itu, Stewart tak menyia-nyiakan waktu yang dia miliki. Salah satu caranya adalah mengikuti perkuliahan tambahan dan semester pendek. Hasilnya, dia bisa menuntaskan studi ilmu hukum yang seharusnya enam tahun menjadi hanya 4,5 tahun.

Setelah berhasil meraih gelar sarjana hukum dari University of New England, Stewart justru ketagihan. (ami/jpnn)

Diskusi Warung Bersama Medan, Seni tanpa Penonton?

Jones Gultom

Ketika bertandang ke Pattaya, Thailand, beberapa waktu lalu dan menyaksikan pertunjukan Kabaret Alcazar, saya langsung teringat dengan salah satu karya yang pernah dipentaskan  tim teater dari Bandung, berjudul Sangkuriang.

Sangkuriang ikut mengisi festival teater bertajuk eksperimental yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta 2003 silam. Sangkuriang yang konsepnya kabaret itu, berhasil memborong beberapa nominasi.

Saya sempat tak sepakat waktu itu. Mengingat kabaret bukan sesuatu yang asing dalam dunia berkesenian tanah air. Namun keputusan juri yang di antaranya, Afrizal Malna dan Benny Yohannes, tetap harus dihargai.

Barangkali ada sisi berbeda yang mereka lihat dari karya itu. Apalagi fakta membuktikan, ketika “Sangkuriang” dipentaskan, penonton cukup apresiatif. Riuh-rendah tepuk tangan penonton membahana dari awal sampai akhir.

Berbeda dengan pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Mungkin entah karena karyanya yang terlalu serius atau penonton yang tidak mengerti, tak terdengar satu aplaus pun dari penonton, bahkan sampai pertunjukan usai.

Pertunjukan Kabaret Alcazar dan Sangkuriang bisa jadi pengalaman. Untuk menyaksikan Kabaret Alcazar misalnya, penonton mesti membayar sebesar 600 baht, sekitar Rp180.000 (kurs 1 baht = Rp300) dan 700 baht untuk satu kursi kelas VIP. Walau ditampilkan 3 kali sehari, dengan cerita dan konsep yang sama, penonton tetap membludak memenuhi 1500 seat kursi yang tersedia.

Begitu juga dengan kelompok teater Bandung yang mementaskan Sangkuriang itu. Dengan memanajemen penontonnya sendiri (seperti yang pernah dilakukan Bengkel Teater Rendra) konon panggung mereka tak pernah sepi.

Menurut penulis, manajemen penonton inilah yang gagal dilakukan oleh para pelaku seni di kota ini. Tak heran, jika beberapa kali event seni di Medan, kehadiran penonton terbilang minim. Padahal peluang itu cukup besar, mengingat sebagian besar pelaku seni di Medan juga merangkap dosen maupun guru yang memiliki basis penonton yang jelas. Tapi tak cukup bermain “sendiri”.

Seniman tari, misalnya boleh jadi meminta seniman teater untuk mengerahkan basis-basis penontonnya. Dengan komunikasi yang baik, toh karya itu bisa dijadikan bahan rujukan kuliah bersama.

Kerja Kolektif Tari

Harus diakui dalam sebuah lomba, apresiasi penonton sedikit-banyaknya akan memengaruhi subjektivitas penjurian. Jangankan seni yang penilaiannya kadang tak “lazim”, dalam dunia olahraga sekalipun, kehadiran supporter sangat berpengaruh.

Itu sebabnya, tim yang bermain di kandang sendiri, dianggap sudah unggul lebih dulu dari lawannya. Kesenjangan inilah yang menjadi persoalan kesenian di tanah air, khususnya di Medan. Kian lebarnya jarak antara penonton dengan karya itu sendiri, termasuk faktor utama yang membuat seni di Medan terus terpuruk. Kesan ini terungkap lewat diskusi yang digelar “Warung Diskusi Bersama” pimpinan Ojak Manalu di Taman Budaya Sumatera Utara, 28 April 2012 lalu.

Diskusi yang mengambil tema “Melirik Event tari di Kota Medan” sebagai evaluasi dari pagelaran “Inovasi 3” (20-21 April, sebagai bagian dari Pekarya Sumut Bicara 2012) karya Suwarsono yang dianggap gagal menghadirkan penonton.

Selain Suwarsono, sejumlah koreografer dan seniman tari Medan hadir dalam diskusi itu antara lain, Drs Dillinar Adlin MPd, Martozet, Iwan Tarok, Ijal, Haris. Selain itu beberapa pekerja seni lain, seperti Agus Susilo (teater) dan Jones Gultom (sastra) turut memberikan masukan. Seperti dijelaskan di atas, minimnya penonton bukan hanya dialami oleh dunia tari, tapi juga nyaris semua genre seni.

Keadaan ini disinyalir yang menyebabkan pelaku seni, khususnya tari di Medan, jadi sungkan menggelar event. Namun menurut Suwarsono, tak ada yang bisa disalahkan. “Medan memang bukan kota seni serius, seperti Solo, Yogya, Padang, Lampung ataupun Pekanbaru. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena tak ada institusi formal seni di kota ini. Maka sangat wajar jika kerja-kerja kebudayaan yang standart merupakan sesuatu yang asing bagi pelaku seni di Medan.”

Menurut Suwarsono yang lahir dan besar di Yogyakarta dan pernah mengecap pendidikan seni di ISI di kota Gudeg itu, harapan kesenian di Medan lebih kepada mindset pemerintahnya. “Jangan disalahkan seniman ataupun penonton, karena sudah syukur mereka masih mau menghidupkan kesenian meski dalam situasi rumit seperti ini,” katanya.

Menambahi Suwarsono, Dilinar Adlin, menegaskan sebenarnya event tari di Medan pernah berjaya dengan digelarnya Medan Annual Choreografers (MACs). Sayangnya event berskala nasional ini mandek selama 2 tahun belakangan. Dillinar menawarkan agar event ini digelar kembali. Tentang pendanaan yang selama ini dianggap menjadi masalah klasik harus diatasi sendiri oleh senimannya. Salah satunya dengan menghimpun dana bersama, meski tetap membangun komunikasi dengan pemerintah dan sponsor. Pendapat Dilli dibenarkan Agus Susilo. Seniman teater ini meyakinkan seniman harus terus berkarya. Tidak mesti menunggu event yang notebene berharap pendanaan dari luar.

Menyambung ketiganya, Martozet menekankan pentingnya membangun kerjasama antar pelaku genre seni. Kerjasama itu, selain akan menciptakan tanggungjawab bersama sesama pelaku seni, lebih jauh juga merangsang kerja-kerja kebudayaan yang lebih kompleks. Berbeda dari lainnya, secara spesifik Iwan Tarok menyoroti fenomena yang terjadi dalam dunia tari di Medan. Menurut dosen Unimed ini, di banding seni lainnya, tari di Medan termasuk minim diapresiasi media massa. Jones Gultom lantas menanggapi Iwan Tarok. Menurut redaktur sastra dan seni di salah satu media ini, yang terjadi justru sebalinya.

Wartawan seni-lah yang selama ini sering diabaikan. Jika pun diundang, posisinya semata-mata dianggap sekedar peliput. Menurut Jones, yang juga sastrawan ini, wartawan seni harus sering dilibatkan, terutama dalam diskusi sebuah karya. Selain itu, mindset Jawa sebagai pusat seni harus dihapuskan dari benak para seniman Medan. “Produk kesenian tidak bisa dibanding-bandingkan, jika konsepnya memang kuat mendasar,” jelas Jones. Pada akhirnya, diskusi itu menyimpulkan tentang komitmen perunya menghidupkan kembali MACs, dengan manajemen yang lebih profesional serta membuka ruang diskusi antar pekerja seni yang ada di Medan. (*)

Penulis adalah pemerhati seni di Medan

M-Radio Terbakar

MEDAN- Si jago merah melalap ruang produksi dan pemancar Muhammadiyah Radio (M-Radio) di Jalan Ampera X Medan Keluruhan Glugur Darat Kecamatan Medan Timur, Jum at (4/5) sekitar pukul 11.45 WIB. Penyebab api diduga karena arus pendek dari ruang produksi M-Radio.
Akibat kebakaran ini peralatan produksi radio seperti tiga unit komputer, satu unit mixer dan alat pemanacar ikut terbakar.

Menurut penuturan M Natsir Isfa Direktur M Radio dirinya mengetahui kebakaran ini dari seorang staf M-Radio. Mendengar kabar itu dia sontak kalang kabut. Selanjutnya Isfa bersama pihak keamanan Kampus UMSU melakukan pemadaman sementara dengan mengunakan tabung racun api.
Melihat api semakin membesar dan tidak bisa dikendalikan, kemudian pihaknya melaporkan kejadian itu ke Dinas Pencegah dan Pemadaman Kebakaran (DP2K) Kota Medan. “Supaya api tidak menjalar kemana-kemana aku panggil petugas pemadam kebakaran,” ujarnya.

Lalu petugas DP2K Kota Medan menerjunkan enam unit armadanya untuk menjinakkan api. “Setelah petugas pemadam kebakaran datang, akhirnya api bisa dipadamkan,” ungkap Isfa.

Lanjut dia saat kejadian dirinya sempat mendengar dua kali ledakan di dalam ruangan produk M-Radio yang terbakar ini.  Akibat kejadian ini kerugian ditaksir mencapai Rp300 juta.

Selain itu dampaknya saat ini M-Radio tidak bisa bersiaran (On Air), akibat pemancar yang dimiliki M-Radio Terbakar.
Kebakaran M-Radio ini juga sempat menjadi pusat perhatian warga sekitar dan mahasiswa yang melintas di lokasi kejadian. Kini kasus kebakaran tersebut ditangani Polsekta Medan Timur. Saat kejadian personel kepolisian melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran dan memintai keterangan sejumlah saksi.(gus)

Kota Berastagi Jorok, Alasan APBD Belum Diketok

KARO- Lembaga Swadaya Masyarakat Gempita  yang menggelar aksi lempar sampah di kantor Bupati Karo kemarin (3/5), tetap bersikukuh akan mengajak berbagai elemen masyarakat Karo untuk memperbesar aksi mereka.

Hingga  Jumat (4/5) pagi, sekelompok anggota LSM Gempita sudah bergabung dengan rombongan Pemkab Karo untuk bergotong royong dan membersihkan beberapa titik di Kecamatan Berastagi dan sekitarnya. Jumat bersih yang sudah menjandi agenda Pemkab Karo tersebut dianggap bukan bentuk jaminan atas tuntutan mereka.

Robinson Purba, Ketua LSM Gempita Karo mengaku tetap akan melaksanakan demo susulan bila permasalan sampah tersebut tidak segera diselesaikan.
Robinson berharap dengan menjaga kebersihan Tanah Karo bisa mendapatkan adipura seperti yang pernah diraih sebelumnya.
“Bila Pemkab Karo dapat menyelesaikan permasalahan sampah ini, maka kita akan mendukung sepenuhnya, dan kami berharap Tanah Karo bisa meraih kembali adipura  seperti yang pernah diaraih sebelumnya,” katanya.

Dia juga mengatakan sampah-sampah tersebut bisa saja akan menambah permasalahan rakyat Karo. “Warga  sangat risau karena bisa terjangkit penyakit yang disebabkan sampah-sampah  ini. Selain itu, bau busuk juga membuat rakyat tidak nyaman, khususnya di Kecamatan Berastagi akan sangat berpengaruh sebagai daerah tempat kujungan wisata,” katanya.

Di lain pihak Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi usai mengadakan Jumat bersih kemarin (4/5) mengatakan, kebersihan sudah menjadi prioritas utama khususnya di Kecamatan Berasatagi, yang merupakan daerah tujuan wisata Sumatera Utara.

Karo Jambi menyatakan, masalah kebersihan ini dari awal kepemimpinannya sudah menjadi prioritas. Ini terbukti dengan adanya agenda Jumat bersih, di mana setiap elemen masyarakat diajak bergotong-royong  membesihkan Tanah Karo dari sampah.

Hanya saja, lanjutnya pemerintah sendiri masih tergendala dalam beberapa hal seperti kurangnya armada pengangkutan sampah, sehingga pemungutan sampah belum bisa dilaksanakan secara maksimal.

Ini terjadi, juga disebabkan belum disahkannya APBD Kabupaten Karo Tahun Anggaran 2012, sehingga anggaran untuk memaksimalkan pelayanan terhadap masyarakat belum bisa direalisasikan secara optimal. Sementara usai kegiatan Jumat bersih itu, rencananya APBD Kabupaten Karo akan disahkan.

Selain itu dukungan dari masyarakat sendiri terhadap kebersihan lingkungan juga sangat diharapkan oleh Bupati Karo, karena tanpa dukungan rakyat Karo kebersihan lingkungan akan sulit dicapai.

“Saya sangat berharap bersama seluruh elemen masyarakat Karo  untuk bersama-sama membangun Tanah Karo. Karena tanpa dukungan rakyat, ini tidak akan terjadi,” kata pria yang kerap dipanggil KJ ini.

“Selain kinerja pemerintah kurang maksimal, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan juga sangat penting. Untuk menjawab kapan persoalan ini selesai, sampah akan segera kita bersihkan seiring APBD Kabupaten Karo disahkan. Karo akan bersih dari sampah dan pembangunan akan terlaksana seperti yang diharapakan,” pungkasnya. (mag-19)

Puting Beliung Rusak Rumah Warga

PATUMBAK- Hujan deras disertai angin puting beliung menerjang belasan rumah warga di Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang, Jumat (4/5) sore. Akibatnya, sejumlah keluarga terpaksa mengungsi ke rumah tetangga.

Salah seorang warga, Rina mengatakan hujan deras turun secara tiba-tiba sekitar pukul 17.00 WIB. Kemudian disusul angin kencang hingga menerbangkan atap rumah warga, terutama di tepi jalan utama Medan-Patumbak. Bahkan tembok rumah salah seorang warga runtuh diterjang angin.
Kerusakan rumah terparah terjadi di Lingkungan II dan IV, Desa Patumbak II, Kecamatan Patumbak. Selain merusak rumah, warung dan satu tiang listrik turut tumbang dan menimpa rumah warga.

“Memang sejak sore langit sudah gelap. Kemudian turun hujan deras.

Tetapi warga jadi panik karena angin kencang. Atap rumah beterbangan,” kata Rina
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, belasan keluarga terpaksa mengungsi di rumah tetangga karena rumahnya tidak dapat ditempati.(smg)

Renovasi Stasiun KA Selesai November 2012

MEDAN- Renovasi Stasiun Kereta Api Medan yang saat ini berlangsung diprediksi akan selesai akhir November 2012 mendatang. Renovasi ini dilakukan dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dan juga dalam melaksanakan pembangunan rel kereta api menuju Bandara Kuala Namu.

“Renovasi ini dilakukan di beberapa Stasiun KA di Sumut diantaranya di Stasiun KA Medan dan Stasiun KA Aras Kabu. Juga dilakukan pembangunan jalur rel KA untuk tujuan Bandara Kuala Namu yang akan selesai dalam waktu dekat ini,” kata Humas PT KAI Sumut, Hasri, Jumat (4/5) siang di ruang kerjanya.

Sambungnya, pihaknya sejauh ini baru merenovasi dua Stasiun KA saja karena kedua jalur tersebut sangat penting dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat dimana Bandara Kuala Namu akan selesai akhir 2012.

“Maka dari itu percepatan renovasi dan pembangunan ini akan selesai akhir November 2012 nanti,” sebutnya.
Menurutnya, untuk pembiayaan memakai dana dari PT KAI Indonesia sendiri dan tak ada melibatkan pihak luar.
“Untuk Pembangunan City Airport Terminal (CAT) Set Besar Medan dimulai 19 Maret 2012 dan selesai akhir November 2012 dengan biaya Rp32,4 M, menggunakan dana PT KAI,” ucapnya.

Tambahnya, untuk rute, menuju Bandara Kuala Namu, dari Medan-Kuala Namu sudah  hampir rampung dan tinggal pembangunan dan perbaikan beberapa rute.

“Untuk kereta apinya sendiri dipesan dari Jakarta. Dan saat pembangunan Bandara Kuala Namu sudah selesai maka kereta api yang digunakan sebelum kereta api dari Jakarta tiba maka akan dipergunakan kereta api Medan,” pungkasnya.
Hasri menuturkan, saat penumpang tiba, maka penumpang langsung diberangkatkan ke Bandara Kuala Namu. (jon)
fungsi. “Pembebasan lahan sudah selesai 2008 silam dengan biaya Rp10.7 M. (jon)