Home Blog Page 1381

Jalan ke Desa Parbuluan 2 Rusak Parah

TERGENANG: Badan jalan yang menghubungkan Desa Parbuluan 3 dengan Desa Parbuluan 2, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, mengalami rusak parah. Saat hujan deras turun, ruas jalan akan seperti kubangan karena tergenang air, sehingga menyulitkan pengendara melintasi kawasan tersebut.Rudy Sitanggang/Sumut Pos.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Jalan penghubung dari Desa Parbuluan 3 ke Desa Parbuluan 2, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, kini dalam kondisi rusak parah. Akibatnya, pengendara sepeda motor serta mobil kesulitan jika melintasi ruas jalan dimaksud.

Amatan wartawan, Sabtu (1/7) lalu, saat melintasi kawasan itu, sepanjang jalan mulai dari perbatasan Desa Parbuluan 3 hingga menuju Desa Parbuluan 2, banyak ruas jalan yang berlubang. Saat hujan, jalan dipenuhi air mirip kubangan kerbau. Akibatnya, pengendara kewalahan saat melintas.

Seorang warga Desa Parbuluan 3, Patar Nainggolan (56), menyebutkan, jalan penghubung antardesa itu, memang sudah lama rusak. Dia menjelaskan, kerusakan jalan telah menyulitkan warga 2 desa.

“Ini menyebabkan harga jual komoditas pertanian ditawar rendah, ketika ditampung agen pengumpul komoditas. Mereka beralasan jalan rusak,” ungkap Patar.

Warga di 2 desa itu, pun berharap kepada Pemkab Dairi, agar segera memperbaiki ruas jalan tersebut. Kedua daerah itu, diketahui memiliki komoditas potensial di sektor pertanian, khususnya sayur mayur atau tanaman lainnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Dairi Masaraya Berutu, melalui Sekretaris Frianto Naibaho, mengatakan, untuk perbaikan jalan belum dialokasikan pada APBD Tahun Anggaran (TA) 2023.

“Tapi akan kami lihat dulu urgensinya. Jika itu memang prioritas, anggaran untuk perbaikan akan dialokasikan pada P-APBD 2023 ini,” pungkasnya. (rud/saz)

MUI Langkat Polisikan Video Viral Pesantren Al-Khafiyah

BERSAMA: Unsur MUI Kabupaten Langkat, Polres Langkat, dan kejaksaan, diabadikan bersama pada pertemuan yang dilakukan terkait video viral di media sosial tentang Pesantren Al-Khafiyah.

STABAT, SUMUTPOS.CO – Viralnya video seorang wanita yang menjadi imam dengan makmumnya pria terjadi di Kabupaten Langkat, menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat. Agar hal ini tidak berkembang hingga menimbulkan perspektif negatif, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Langkat menggelar pertemuan di Kantor MUI Kabupaten Langkat, Jalan Diponegoro, Kelurahan Kwala Bingai, Kecamatan Stabat. Pertemuan tersebut diikuti pihak terkait, mulai dari MUI, Polres, Kejari Langkat, hingga Pimpinan Padepokan Sendang Sejagat, Sunaryo alias Mas Karyo.

Setelah pertemuan, Ketua MUI Kabupaten Langkat Zulkifli Ahmad Dian, melaporkan video Pesantren Al-Khafiyah yang viral tersebut. Alasannya, video itu diduga mengandung ajaran yang menyimpang dari agama Islam. Hal tersebut tertuang dalam laporan bernomor: LP/B/344/VII/2023/SPKT/POLRES LANGKAT/POLDA SUMUT, pada Senin (3/7) lalu, dengan pasal yang dilaporkan tentang penistaan agama, dan terlapor dalam penyelidikan.

“Pada Senin (3/7) sekira pukul 14.15 WIB, saya didampingi Ustad Mansyur selaku Bendahara MUI Langkat, tiba di ruang SPKT Polres Langkat untuk melaksanakan konseling. Serta membuat laporan pengaduan terkait viralnya video Pesantren Al-Khafiyah yang diduga mengajarkan ajaran menyimpang dari ajaran agama Islam,” ungkap Zulkifli, Selasa (4/7).

Zulkifli mengatakan, keinginan pihaknya untuk melaporkan masalah video viral ini, karena isinya diduga sudah mengandung ajaran yang menyimpang dari agama Islam.

“Kami awalnya sudah memerintahkan Ketua MUI Kecamatan Secanggang untuk melakukan peninjauan langsung terkait video viral tersebut. Dan setelah mendapat hasil laporan, pada Minggu kemarin, kami sudah melaksanakan pertemuan di Kantor MUI Langkat, dengan menghadirkan pihak dari Padepokan Sendang Sejagat untuk melaksanakan klarifikasi,” jelasnya.

Dia pun menyayangkan Padepokan Sendang Sejagat yang membuat video menarasikan agama, tapi tidak melakukan koordinasi lebih dulu dengan MUI Kabupaten Langkat. Dengan adanya laporan ini, MUI Kabupaten Langkat berharap, aparat kepolisian dapat mengungkap kasus tersebut hingga ke akar-akarnya. Juga hal ini menjadi pembelajaran kepada para YouTuber lainnya yang akan membuat konten berkaitan dengan agama.

Terpisah, Kapolres Langkat, AKBP Faisal Rahmat Husein Simatupang, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Kami akan menangani secara profesional terkait laporan Ketua MUI Langkat maupun laporan dari pihak Mas Karyo, selaku Pimpinan Padepokan Sendang Sejagat, soal pelaku pemotongan video,” ujarnya saat menggelar press release di Kantor MUI Kabupaten Langkat.

Setelah mendengar penjelasan dari Ketua MUI Kabupaten Langkat hingga klarifikasi dari pembuat konten dan dilakukan penelusuran di lapangan, menurut Faisal, dapat disimpulkan Pesantren Al-Khafiyah itu tidak ada. Bahkan, ini hanya sekadar ilustrasi dari konten yang dibuat oleh Padepokan Sendang Sejagat.

“Pesantren Al-Khafiyah hanya ilustrasi untuk kepentingan pembuatan konten, dan kegiatan dalam film tersebut hanya akting belaka,” bebernya, seraya berharap, masyarakat tidak terprovokasi terkait masalah ini, dan pihak kepolisian akan terus mendalami permasalahan ini.

Sementara, Pimpinan Padepokan Sendang Sejagat, Sunaryo alias Mas Karyo, kembali menegaskan, video viral tersebut hanya sebuah konten, hiburan, dan tidak nyata.

“Alur dari video yang kami buat adalah film sebagai edukasi ke masyarakat, agar jangan gampang percaya dengan pondok pesantren yang ajarannya sesat,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, dalam video yang dipotong ini, sebenarnya pihaknya membuat konsep film yang menceritakan sekolompok orang yang terkena ilmu gendam. Karena ingin membubarkan pondok pesantren yang ajarannya sesat, namun karena pihak lawan sakti, maka Sunaryo kena gendam.

“Kemudian tanpa kami sadari, kami melaksanakan salat dengan imam perempuan, sampai kami sadar dari gendam tersebut. Jadi Pesantren Al-Khafiyah tidak ada, hanya ilustrasi dari video konten kami,” jelas Su­naryo.

“Video kami tersebut diedit oleh akun lain, satu di antaranya akun MAULANA 11 di SnackVideo masuk ke TikTok,” imbuhnya.

Dia pun memohon maaf atas kericuhan yang sudah terjadi.

“Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran atas keteledoran kami. Kami mohon bimbingan dari MUI Langkat agar kami bisa mendapat ilmu agama yang lebih baik lagi,” pungkas Sunaryo. (ted/saz)

Jembatan Namu Ukur ‘Makan’ Korban, Ibu dan Anak Terjatuh ke Bawah

EVAKUASI: Korban kecelakaan saat dievakuasi dari lokasi kejadian.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) seakan tutup mata terhadap kondisi Jembatan Namu Ukur di Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, yang kondisinya kian memprihatinkan. Sebelum ada memakan korban, keberadaan jembatan yang menghubungkan Kabupaten Langkat dengan Kota Binjai ini, dibiarkan saja dengan kondisi tak layak.

Pantauan wartawan belum lama ini, kondisi jalan pada jembatan besi tersebut, tampak memprihatinkan. Lubang besar yang menganga ha­nya ditutup menggunakan batu dengan penahan besi pada bagian bawahnya.

Meski kondisinya rusak parah dan butuh perbaikan, instansi terkait yang mengurusi hal tersebut, seakan tak peduli. Tak ayal, ibu dan anak yang tengah melintas pada jembatan terebut, terjatuh pada lubang yang menganga, Selasa (4/7).

Korban pun terjun bebas ke bawah yang terlihat banyak sekali beba­tuan. Adapun korban, yakni Anggi Puspa Sari (40) selaku ibu, dan anak­nya berinisial AP (9), warga Kampung Kolam, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat.

“Saya kebetulan lagi ada mengi­kuti kegiatan reses anggota DPR RI. Sementara pak camat ada rapat di Stabat,” ungkap Sekretaris Kecamatan Sei Bingai, Tuahta Gurusinga, ketika dikonfirmasi.

Tuahta pun membenarkan, ada­nya peristiwa pengendara sepeda motor yang merupakan ibu dan anak, terjun ke bawah dari lubang yang menga­nga pada jembatan tersebut. “Memang benar ada peristiwa itu, pas lagi ma­cet. Mungkin ibu itu gugup,” katanya.

Dia juga mengatakan, pihaknya sudah berulang kali menyampaikan usulan perbaikan untuk Jembatan Namu Ukur tersebut. Bahkan, perbaikan sudah masuk dalam Mu­syawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang).

“Perbaikan itu tanggung jawab provinsi, bukan Pemkab Langkat. Kami sudah usulkan berulang kali untuk diperbaiki,” ujar Tuahta.

Setelah perangkat kecamatan mengusulkan, menurut Tuahta, Pemkab Langkat yang harus menyampaikan ke Pemprov Sumut agar segera diperbaiki.

Terpisah, Kapolsek Sei Bingai, AKP Japaris Perangin-angin menjelaskan, pihaknya sudah melakukan evakuasi terhadap korban ke Puskesmas Namu Ukur, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Djoelham Binjai. “Korban merupakan ibu dan anak yang mengendarai sepeda motor. Ibunya yang mengalami luka parah, sementara anaknya tidak begitu (parah),” sebutnya.

Anggi mengalami luka pada rahang bagian bawah patah, tangan kiri terkilir, hidung mengeluarkan da­rah, dan luka gores pada bagian wa­jah. Sementara si anak, mengalami luka ri­ngan.

“Sebelum kejadian memang ada dilakukan pengaturan lalu lintas, karena jalan di jembatan itu sudah dalam keadaan berlubang. Namun korban memaksakan diri untuk masuk ke arah yang tidak semesti­nya, sehingga ban depan sepeda mo­tornya masuk ke lubang dan kor­ban jatuh ke sungai,” beber Japaris.

Jembatan Namu Ukur sudah dalam keadaan rusak berat dan parah sejak 2020 lalu. Sejak saat itu, perbaikan tak dilakukan hingga akhirnya memakan korban. (ted/saz)

Program Bapak Asuh ala Bobby Nasution Berhasil Tekan Angka Stunting

PANTAU: Wali Kota Medan Bobby Nasution memantau gizi anak untuk menekan angka stunting.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) yang dicanangkan Wali Kota Medan Bobby Nasution berhasil menekan angka stunting di ibukota Sumatra Utara ini. Terbukti, Februari 2022 jumlah anak penderita stunting di Medan sebanyak 550, lalu pada Agustus di tahun yang sama turun menjadi 364 dan pada Februari 2023 turun lagi menjadi 298.

“Program Bapak Asuh Anak Stunting ini dicanangkan Wali Kota Medan Bobby Nasution dan mulai dilaksanakan pada 2022,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPPAPMPPKB), Edliaty, saat ditemui di Kantor Wali Kota Medan beberapa waktu lalu.

Dia menerangkan, dalam program ini Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekda, seluruh pejabat Eselon II dan III, unsur Forkopimda, dan petinggi Pelindo menjadi Bapak Asuh Anak Stunting di Medan. Setiap bulan Bapak Asuh Anak Stunting memberikan bantuan sebesar Rp500 ribu untuk disalurkan dalam bentuk makanan bergizi kepada anak penderita stunting.

Selanjutnya, setiap minggu makanan tambahan ini disalurkan kepada anak penderita stunting melalui Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PPLKB).

“Bahan makanan tambahan itu kita antar ke rumah anak penderita stunting berupa protein hewani, sayur-sayuran, serta beras. Setiap minggu kita salurkan,” sebutnya seraya mengatakan, penyaluran makanan tidak dilakukan melalui puskesmas.

Edliaty mengatakan, PPLKB di setiap kelurahan terus memantau kebutuhan anak stunting, termasuk kondisi sosial ekonomi keluarganya. Dari pemantauan ini, lanjutnya, akan diperoleh gambaran utuh tentang kondisi keluarga anak penderita stunting.

Salah satu yang menjadi fokus adalah membantu agar perekonomian keluarga anak penderita stunting ini meningkat. Dengan meningkatnya perekonomian, maka asupan gizi yang dibutuhkan anak dapat dipenuhi keluarga.

“Kalau memang kita nilai ayah maupun ibu anak penderita stunting ini bisa membuka usaha, kita tentu akan membantunya. Kita bisa berkolaborasi dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perdagangan, dan Perindustrian,” ujarnya.

Penanganan stunting ini merupakan salah satu prioritas Bobby Nasution. Orang nomor satu di Medan tidak kerap mengingatkan perangkat daerah di lingkungan Pemko Medan berkolaborasi dan bekerja secara sistematis dan terencana.

Baru-baru ini, dalam Rembuk Stunting Kota Medan Tahun 2023, dia juga menekankan penanganan stunting harus dimulai dengan perencanaan dan pengganggaran yang tepat. “Pemanfaatan anggaran tersebut mestilah dirasakan langsung oleh balita stunting,” tegasnya.

Saat itu Bobby Nasution pun berpesan kepada Sekda Wiriya Alrahman benar-benar memperhatikan penganggaran penanganan stunting di Medan sehingga dapat dimanfaatkan dan diperuntukkan untuk kegiatan yang tepat.

Dia juga mengingatkan agar penggunaan dana kelurahan untuk penanganan stunting dilakukan secara tepat. Camat dan lurah harus dapat memastikan dan mengawasi penggunaan dana kelurahan untuk penanganan stunting itu bisa dirasakan langsung oleh balita penderita stunting.”Camat cek lagi apakah pemanfaatan anggaran itu dirasakan langsung oleh balita stunting,” pesan Bobby Nasution.

Saat itu, Bobby Nasution juga mengapresiasi Tim Percepatan Penurunan Stunting Kota Medan dan semua pemangku kepentingan yang telah bekerja menurunkan angka stunting di Kota ini. Dia mengharapkan target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo yakni 14 persen pada 2024 dapat dicapai. (rel)

Lagi, 16 Sintua HKBP Pabrik Tenun Dilarang Ikut Sermon

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 16 orang Sintua HKBP Pabrik Tenun kembali tak diperbolehkan mengikuti sermon oleh oknum polisi yang bertugas di pintu gerbang HKBP Pabrik Tenun. Bahkan St Sabar Doloksaribu yang sudah masuk ke dalam gereja, disuruh keluar oleh oknum polisi, Selasa (4/7/2023) sore.

Sejumlah aparat kepolisian sore itu, kembali hadir di komplek Gereja HKBP Pabrik Tenun untuk melakukan pengawalan dan pengamanan kegiatan Sermon. Kemudian dua truk personel Satpol PP Kota Medan juga turun ke lokasi, satu truk Satpol PP wanita dan satu truk lagi Satpol PP laki-laki.

Para Sintua menyayangkan Pemko Medan ikut menurunkan personel Satpol PP ke Gereja HKBP Pabrik Tenun. “Ngapain kalian datang kemari? Uruslah anak-anak kalian di rumah,” kata seorang Sintua kepada personel Satpol PP yang berjaga.

Terlihat para Satpol PP dan aparat kepolisian berbaris di depan gerbang HKBP Pabrik Tenun. Aparat kepolisian melarang siapa saja masuk ke gereja, kecuali nama-nama Sintua yang sudah diserahkan Pendeta Resort ke petugas.

Salah seorang Sintua HKBP Pabrik Tenun, St Sabar Doloksaribu kepada wartawan menyebutkan, para Sintua sesuai jadwal, setiap Hari Selasa akan mengikuti Sermon Parhalado/Sintua pada pukul 18.00 WIB. Namun, mereka resah tidak diperbolehkan masuk.

Akibatnya , ke-16 orang Sintua tersebut harus berada di luar pagar gereja menyaksikan para petugas kepolisian dan Satpol PP berbaris di depan gerbang HKBP Pabrik Tenun. Situasi ini pun menjadi tonton warga sekitar dan masyarakat yang melintas di Jalan Pabrik Tenun.

Beberapa warga komplek HKBP Pabrik Tenun kepada wartawan berharap agar pihak terkait menuntaskan persoalan yang ada di HKBP Pabrik Tenun. “Kami was-was, setiap Selasa banyak berkumpul orang disini, termasuk anggota kepolisian. Kami tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar warga sekitar.

Ke-16 Sintua yang tidak diperbolehkan mengikuti Sermon juga meminta Kapolrestabes dan Kapoldasu agar arif dan bijaksana melihat keberadaan jemaat di HKBP Pabrik Tenun. Kepada Wali Kota Medan agar tidak menurunkan Satpol PP ke HKBP Pabrik Tenun karena perizinan Gereja HKBP Pabrik Tenun tidak ada masalah.

“Perda mana yang dilanggar HKBP Pabrik Tenun sehingga Satpol PP diturunkan? Satpol PP jangan menambah kekacauan di HKBP Pabrik Tenun. Tolong Pak Wali Kota Medan, jangan turunkan Satpol PP ke sini, kami tak melanggar Perda,” kata sintua.

Demikian juga kepada Ephorus HKBP agar segera turun tangan menyelesaikan persoalan di HKBP Pabrik Tenun dan tidak membiarkannya berlarut-larut. Menurut St Sabar Doloksaribu, tindakan oknum pendeta yang menjadi pimpinan HKBP Pabrik Tenun tersebut sudah sangat luar biasa dan diluar kewajaran.

Para Sintua berharap tindakan oknum pendeta tersebut harus menjadi perhatian semua pihak khususnya Praeses dan Ephorus HKBP. “Tolonglah Ephorus kami, perhatikan persoalan di HKBP Pabrik Tenun ini, Jangan Biarkan HKBP yang sudah besar ini menjadi pecah dan ribut”, katanya.

Hiingga pukul 21.00 WIB, para Sintua dan sejumlah jemaat serta aparat kepolisian dan Satpil PP masih berada di lokasi gereja. Sementara Pdt Rumondang Sitorus belum berhasil dikonfirmasi karena pintu gerbang masih dijaga polisi. (adz)