Home Blog Page 14839

Pemko Medan tak Akan Mutasi PNS

MEDAN-Sesuai SK bersama tiga menteri yang memberlakukan moratorium perekrutan CPNS, maka, pemerintah provinsi harus melakukan penghitungan jumlah PNS di daerahnya. Nantinya, sejumlah PNS dari daerah yang jumlahnya dianggap kebanyakan akan dipindah ke daerah yang keurangan tenaga. Kebijakan ini diprediksi akan menyebabkan perpindahan PNS dalam jumlah besar.

Untuk mengakomodir kebijakan ini, badan kepegawaian (BKD) pemerintah provinsi akan melakukan penghitungan bersama badan kepegawaian nasional (BKN).

“Memang pada akhir 2012 ini mutasi PNS antar pemkab/pemko harus sudah selesai. Ini sesuai dengan Kepmen No 26 2011,” tutur Kabid Pengadaan dan Pembinaan BKD Setda Provsu Kaiman Turnip, Rabu (14/9).

Bukan perkara mudah menghitung kebutuhan 33 PNS pemkab/pemko di Sumatera Utara. BKD Sumut juga sudah menyurati sejumlah SKPD di kabupaten/kota. “Kita masih menggodoknya, dan akan sesegera mungkin menyosialisasikannya ke pemkab/pemko dalam melakukan penghitungan dengan BKN. Diharapkan, SKPD sudah menyediakan data akurat dan valid dari masing-masing instansinya,” kata Kaiman lagi.

Sementara itu, berkembang informasi, banyak PNS di Pemprovsu yang tak memiliki desk kerja akibat berlebih jumlah pegawai. “Saya saja belum tau, karena belum dilakukan penghitungan. Nah, jika nanti data tersebut di dapat maka akan segera dilakukan redistribusi PNS ke satuan organisasi yang membutuhkan,” jelas Kaiman.

Tak Ada Dimutasi

Pemerintah Kota Medan berjanji tidak akan mengajukan mutasi besar PNS ke daerah lain. Pemko Medan malah membuka peluang menerima CPNS. “Tak ada PNS yang dimutasi, tetapi yang datang ada,” ujar Wali Kota Medan Rahudman Harahap di Balai Kota, kemarin.

Rahudman menyatakan tidak setuju kebijakan moratorium penerimaan CPNS. “Tetapi dengan yang ada sudah kita berdayakan dan diopotimalkan,” ungkapnya.

Di Deliserdang, pergeseran PNS diperkirakan akan minim, terutama untuk tenaga guru. Di beberapa daerah di kabupaten ini, banyak sekolah yang kekurangan tenaga pengajar. Sedangkan kelebihan guru di beberapa sekolah, kemunkinan tidak berlangsung lama. Pasalnya, banyak guru yang akan segera memasuki masa pensiun.
Menurut Sekretaris BKD Pemkab Deliserdang, Joni Ritawan, PNS yang akan memasuki masa pensiun tahun ini di kabupaten itu mencapai 300-an orang. Sekitar 70 persen diantaranya merupakan tenaga pengajar. Joni yang didampingi Kabid Pengadaan dan Mutasi Pegawai Drs Syahrul MPd menegaskan, bila dilakukan rotasi PNS saat ini, bakal ada kekosongan tenaga guru di sekolah.

Hingga saat ini, jumlah PNS dilingkungan Pemkab Deliserdang mencapai 17.062 orang, dengan perhitungan sekitar 11 ribu orang tenaga pendidik sedangkan sisanya dibagi antara tenaga medis serta teknis. Joni mengakui, pihaknya sudah mengikuti sosialisasi terhadap peraturan penyebaran jumlah PNS di lingkungan Pemkab dan Kota se Sumut yang digelar di Hotel Madani Medan, 22 Juli silam. Saat ini, Pemkab Deli Serdang masih menunggu peraturan dari pemerintah pusat terhadap hasil sosialisasi itu.

Di Langkat, mutasi PNS antar kabupaten/kota diperkirakan berlangsung lancar. Kabag Humas Pemkab Langkat, H Syahrizal menegaskan, pihaknya berprinsip akan mengikuti ketentuan yang didengungkan Mendagri Gamawan Fauzi ini.
“Jika memang demikian, ketentuan yang diluncurkan Mendagri kepada Gubsu maka Pemkab Langkat pada prinsipnya siap mematuhinya. Apalagi, PP No 38/2009 tentang pembagian urusan pemerintah, pemprov dan pemkab/kota mengatur tentang kewenangan itu,” kata Syahrizal, kemarin.
Terkait detail kebutuhan ataupun kekurangan serta kelebihan PNS,  pihaknya belum dapat menjabarkannya secara gamblang. (saz/adl/btr/mag-4)

Daerah Dapat Royalti 64 Persen

Sumut Produksi 6 Ton Emas per Tahun

MEDAN- Perusahaan tambang swasta nasional yang beroperasi di Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), PT Agincourt Resources menargetkan produksi sekitar 6 ton emas per tahun di Sumut.

Rencananya, perusahaan tersebut akan memulai tahapan eksploitasi dan akan berproduksi awal 2012 mendatang. Selain emas, perusahaan ini juga akan memproduksi logam mineral lainnya seperti perak.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Kadistamben) Sumut, Untungta Kaban, Rabu (14/9)n
“Informasi yang disampaikan kepada kami, eksploitasi akan dilakukan akhir tahun 2011 atau awal tahun 2012 mendatang,” katanya.

Hadirnya perusahaan tersebut, membuka pencerahan bagi Sumut dan daerah di sekitarnya. Produksi emas di Sumut memberi keuntungan royalti sebesar 3,75 persen kepada negara. 64 persennya akan diberikan kepada daerah penghasil yakni, Tapanuli Selatan (Tapsel) dan daerah di sekitar penghasil tersebut. Sedangkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mendapat jatah sebesar 16 persen, sisanya akan disetorkan kepada pemerintah pusat.
Keuntungan lainnya akan diterima negara berbentuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), pajak-pajak terkait dan program Coorporate Social Responsibility (CSR). “Untuk CSR ini, kami sudah menyampaikan agar diprioritaskan kepada pengembangan Sumber Daya Manusia di daerah penghasil dan daerah sekitarnya. Bentuknya antara lain pemberian beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang berasal dari daerah tersebut,” ungkap Untungta yang didampingi Kabid Pertambangan Umum Zubaidi, Kabid Geologi Henry Hutapea dan Inspektur Pertambangan Helapela.

Distamben Sumut mewakili Pemprovsu sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah terus melakukan pengawasan terhadap perusahaan tambang tersebut. Pengawasan dilakukan untuk memastikan perusahaan tersebut melaksanakan kegiatannya sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, termasuk keuntungan yang diperoleh.
“Pengawasan terus kami lakukan, untuk pengawasan rutin tetap kami lakukan sebulan sekali dan juga melakukan kroscek terhadap setiap laporan progres yang mereka sampaikan. Hal ini tentu, untuk meminimalisir kemungkinan terjadi pelanggaran terhadap izin yang dikeluarkan pemerintah pusat,” sebutnya.(ari)

Berhasil Budidayakan Daun Ajaib Beromzet Rp1 M

Yudi Kurniawan, Petani Indonesia yang Melatih Pertanian di Gambia

Yudi Kurniawan terpilih mewakili Indonesia berkat kesuksesannya berinovasi dalam bercocok tanam. Sedih melihat banyak anak muda yang malu menjadi petani.

Moh Hilmi Setiawan-Jakarta

KENANGAN indah di Fiji enam tahun silam itu masih terekam kuat di benak Yudi Kurniawan. Petani asal Lawang, Malang, tersebut begitu terharu ketika warga negeri di Pasifik tersebut melepas kepergiannya dengan tangis.
Hal itu tak lepas dari kerja keras Yudi di salah satu wilayah di Fiji yang berbuah sangat positif. Ayah tiga anak tersebut berhasil melatih petani setempat meningkatkan hasil cocok tanam sayuran. Dari awalnya dua ton per tahun menjadi enam ton per tahun.

“Saya ingin sepulang dari Gambia nanti juga dilepas warga sana dengan tangis rindu dan sedih. Sebab, itu berarti saya berhasil membantu mereka,” kata pria yang bersama keluarga berdomisili di Perumahan Bukit Lawang Indah, Lawang, Malang, itu ketika ditemui di Jakarta akhir pekan lalu.

Gambia? Ya, ke negeri di Afrika Barat itulah Yudi akan berangkat pada pekan ini ditemani dua staf Kementerian Pertanian. Tujuannya, sama dengan ke Fiji pada 2005 dulu memberikan pelatihan bercocok tanam. Hanya, bedanya, kalau di Fiji berfokus pada sayuran, fokus di Gambia nanti adalah beras.

Keberangkatan pria kelahiran Situbondo, 26 September 1965, itu merupakan hasil kerja sama dua negara, dalam hal ini Kementerian Pertanian dan Kementerian Luar Negeri. Dijadwalkan, Yudi bakal berada di negeri bekas jajahan Inggris itu hingga akhir November mendatang.

“Terpaksa meninggalkan rumah cukup lama. Tapi, tidak apa-apa, kan tugas negara,” ujar suami Surini itu.
Terpilihnya Yudi mewakili Indonesia tersebut tentu tak lepas dari jejak kesuksesannya menjadi petani. Memulai dari lahan milik orang tua seluas 1 hektare di Situbondo dengan menanam padi dan semangka, kini dia memiliki lahan sendiri seluas 40 hektare di Lawang.

Di lahan seluas itulah kini dirinya bercocok tanam ashitaba, sayuran yang dia kenal kala belajar pertanian organik secara swadaya di Jepang pada akhir 1980-an.

Pengolahan sayur ashitaba itu mirip teh. Diambil daunnya, lalu diseduh menjadi minuman. Daun ashitaba atau yang dikenal dengan sebutan “daun ajaib” tersebut konon bisa mencegah kanker kulit dan diabetes serta menurunkan timbunan kolesterol.

Dari lahan seluas 40 hektare itu, saat ini Yudi bisa memanen “daun ajaib” tersebut hingga 1.000 ton per tahun. Per kilogram, sayuran Jepang itu berharga Rp1.000. Artinya, dalam setahun, omzet Yudi dari si “daun ajaib” tersebut mencapai Rp1 miliar, hampir setara dengan nilai korupsi di Kemenakertrans yang menghebohkan itu yang mencapai Rp1,5 miliar.

Keberanian berinovasi menjadi salah satu pilar kesuksesan Yudi sebagai petani. Misalnya, dalam hal pola tanam. Dia memperkenalkan apa yang disebut pola legawa. Resep itu pula yang akan dia ajarkan di Gambia.
Sesuai dengan namanya, bertanam padi dengan pola itu harus legawa. “Legawa itu kan artinya longgar,” timpal Yudi.
Yang dimaksud longgar tersebut adalah menanam padi dengan jarak barisan tertentu. Misalnya, baris setelah baris kedua tanaman padi harus dikosongkan. Lalu, padi mulai ditanam lagi pada baris keempat. Begitu seterusnya. “Harus ada beberapa baris yang dikosongkan,” jelas ayah Firman Hanafi, 12; Risnaldi Al Maragi, 10; dan Filisa Kirena, 8, tersebut.

Dengan pola penanaman padi seperti itu, jelas Yudi, pertumbuhan akar padi bisa maksimal. Akar bisa menjulur panjang dan ke mana-mana. Tanpa harus bersenggolan bahkan sampai semrawut dengan akar-akar padi lainnya.
Sementara itu, jarak tanam antarpadi masih menggunakan pola 25 x 25 cm. Maksudnya, jarak antara padi di depan, belakang, samping kiri, dan kanan adalah 25 cm.

Pria yang terpilih sebagai Pemuda Pelopor 1990 tersebut menjamin, berkurangnya tanaman padi itu tidak bakal membuat kualitas panen menyusut. Sebab, jika pergerakan akar padi semakin luas dan tidak sesak, otomatis bulir-bulir padi bakal semakin gemuk.

Akibatnya, jika ditimbang, hasil panen tetap tinggi walaupun tanaman dikurangi. Bulir-bulir padi itu menjadi lebih gemuk karena dipicu daya serap oksigen serta kandungan lainnya oleh akar yang maksimal. “Kesuksesan bertani padi kan dihitung dari beratnya padi saat panen, bukan banyaknya tanaman padi,” terang alumnus SMAN 1 Situbondo tersebut lantas tersenyum.

Yudi yakin, pola legawa itu bakal mampu menggenjot hasil panen padi di Gambia. Dia juga membantah tanah di Gambia bakal menjadi hambatan. Sebab, dari yang dia ketahui, tanah di negeri terkecil di daratan Afrika tersebut potensial untuk menanam padi.

Berdasar data yang tersaji di World Factbook CIA, tanah di negeri yang berbatasan dengan Senegal dan Samudera Atlantik tersebut memang tergolong subur. Karena itulah, mayoritas penduduk di sana menggantungkan hidup pada sektor pertanian, disusul perikanan dan turisme.

Gambia juga dikenal sebagai satu di antara sedikit saja negeri di Afrika yang pemerintahannya stabil. Seperti Indonesia, mayoritas warga negeri persemakmuran tersebut memeluk Islam. Faktor-faktor itu sedikit banyak tentu juga akan mendukung kiprah Yudi di Gambia.

Tapi, keberhasilan Yudi di Gambia sudah pasti bergantung pada keberhasilannya meyakinkan petani di sana. Pengalaman di Fiji akan sangat membantu. Juga, kesuksesannya berjuang membuka mata banyak orang bahwa bercocok tanam, asalkan dikerjakan secara ulet dan sungguh-sungguh, merupakan profesi yang bisa menghadirkan prestasi.

Yudi terus terang merasa heran atas sikap kebanyakan anak muda zaman sekarang yang merasa malu menjadi petani. Akibatnya, kendati orang tuanya memiliki lahan memadai, mereka lebih memilih pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Atau, lebih berharap menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
“Padahal, jika digeluti dengan serius, penghasilan seorang petani bisa melebihi seorang PNS,” tegasnya.
Untungnya, jelas Yudi, anak-anaknya tidak ikut gerbong generasi muda yang malu dengan dunia pertanian. “Anak pertama saya tidak canggung ngomong kepada temannya bahwa ayahnya seorang petani,” paparnya.
Dalam rangka menyebarkan semangat bercocok tanam itu, setiba dari Gambia nanti, dirinya bakal bercerita kepada rekan-rekannya di kampung. Dia berharap cerita seorang petani yang bisa terbang lintas benua itu dapat memompa calon-calon petani lainnya. Dia tidak ingin masa depan daerah-daerah kantong pertanian menjadi kosong karena ditinggal penduduknya ke kota. (*/c5/jpnn)

Yudi Kurniawan, Petani Indonesia yang Melatih Pertanian di Gambia
//Omzet “Daun Ajaib” Capai Rp 1 M, Bakal Perkenalkan Pola Legawa

Hamil Anak Markus

Kiki Amalia

Pasangan Kiki Amalia dan Markus Haris Maulana patut berbahagia dengan kehadiran sang calon jabang bayi di rahim sang bintang sinetron yang juga presenter itu.

Namun mereka masih belum bisa banyak bicara karena, lantaran usia kehamilan yang masih belum dapat dipastikann
“Doain saja ya. Doain saja, belum ya nanti kalau sudah benar-benar pasti ya. Doain saja,” ungkap Kiki Amalia saat ditemui di Jakarta.

Sama seperti Kiki, Markus pun menolak bicara soal kehamilan istrinya. Kiper timnas sepak bola Indonesia ini mengaku janin istrinya itu belum bisa dipastikan, meski kondisinya cukup sehat dan baik-baik saja.

“Belum pasti ya, doain saja ya. Alhamdulillah baik, doain saja doa dari teman-temen barokah buat saya,” ungkap Markus.
Para wartawan yang berusaha mendapatkan jawaban dari mereka, akhirnya pasrah. Kiki dan Markus merasa belum saatnya menyebarkan informasi yang belum pasti.

“Pokoknya doain saja. Senang karena suami lagi di sini teminin. Iya, pokoknya di doain saja. Doain aja ya,” pungkas Kiki yang tetap menolak bicara.(rm/jpnn)

Tanker Tabrak Lari, Dua Nelayan Hilang

MEDAN- Dua nelayan asal Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Abdul Jalil (25) dan Atan (55) dinyatakan hilang di perairan Belawan. Hal itu terjadi setelah kapal mereka, Kapal KM Mandiri jenis pukat Rawe Pancing tenggelam karena ditabrak kapal tanker MV Lampin, Rabu (14/9)  sekitar pukul 04.00 WIB.

Peristiwa itu terjadi, ketika kapal yang dinakhodai Sabri (36) dengan anak buah kapal (ABK) Nober (34), Abdul Rahman (23), Abdul Jalil dan Atan yang berangkat dari Kualatanjung, Batubara, ditabrak tanker .

Direktur Polisi Perairan (Polair) Polda Sumut, Kombes Ario Gatot yang dikonfirmasi mengenai insiden tersebut menjelaskan, kapal nelayan yang ditumpangi ke lima nelayan tersebut, langsung karam. Sementara, Abdul Jalil dan Atan hilang. Sedangkan tiga nelayan lainnya, Sabri, Nober, dan Abdurrahman berhasil diselamatkan. “Kapal nelayan itu sudah berhasil dievakuasi, sekarang diamankan di Syahbandar,” kata Ario.

Sejauh ini, Polair Polda Sumut belum bisa mengidentifikasi kapal tanker yang menabrak kapal nelayan tersebut. Hal itu disebabkan karena pasca kejadian, kapal tanker tersebut langsung kabur. Maka untuk itu, pihaknya terus melakukan pengejaran dengan melibatkan pihak Syahbandar.

Sementara itu, proses pencarian juga terus dilakukan Tim Gabungan kepolisian bersama Badan SAR Nasional (Basarnas). Hingga Rabu (14/9) petang, dua nelayan yang tenggelam belum juga berhasil ditemukan.

Sedangkan menurut Nahkoda KM Mandiri, Sabri, kelima nelayan asal Kuala Tanjung tersebut, berangkat melaut ke Perairan Pulau Berhala untuk mencari ikan, Senin (12/9). Sampai di tempat tujuan untuk mencari ikan di Perairan Pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai. Mereka menebarkan jaring jenis pukat rawe pancing yang merupakan jenis pukat yang di jaringnya ada sekitar 2 ribu hingga 3 ribu mata pancing.

Setelah menebar jaring, mereka beristirahat di Perairan Pulau Berhala dengan memberikan lampu tanda menggunakan dua lampu signal. Saat tidur, tiba-tiba kapal mereka ditabrak kapal tanker. Mereka langsung tenggelam bersama kapal, “Kami tenggelam dengan kapal hingga kedalaman 5 meter. Selanjutnya, kami langsung mencoba naik ke atas untuk meminta pertolongan”jelasnya.

Ternyata Abdul Jalil dan Atan tidak ikut naik ke permukaan. Tujuh jam terombang-ambing di lautan, mereka ditolong sebuah Kapal Kargo MT Malvin berbendera Thailand, Selasa (13/9) pukul 11.30 WIB dan membawa mereka ke Belawan.
“7 Jam kami terombang-ambong di laut dengan gelombang tinggi dengan menggunakan jerigen minyak dan papan-papan untuk mengapung demi bertaham hidup,” tambahnya.

Di Gudang 105 Pelabuhan Belawan sekitar Pukul 21.00 WIB, ketiganya nelayan diserahkan kepada agen pelayaran kapal tersebut yakni PT Taruna Cipta Kencana (TCK) dan selanjutnya, diinapkan di BPPL PT Pelabuhan Belawan (Pelindo) untuk beristirahat.

Kemudian, Rabu (14/9) siang, ketiganya dibawa pihak PT TCK untuk diserahkan kepada pohak Syabandar untuk dilakukan pemeriksaan. “ Kapten kapal MT Lapin memberikan informasi melalui email bahwsanya ada 3 nelayan yang ditolong saat kapalnya tengggelam ditabrak kapal tanker,”kata Rinaldo, Agen pelayaran PT TCK dikantornya.
Selanjutnya, ketiganya yang didampingi oleh pihak PT TCK dan juga Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Zulfahri Siagian mengantarkan ketiga nelayan tersebut ke Syahbandar untuk di periksa oleh pihak Syabandar terkait kecelakaan kapal tersebut.(ari/mag-11)

Restoran Dibom, 13 Tewas

BAGHDAD- Sebuah bom mobil meledak, Rabu (14/9) pagi waktu Irak. Bom yang menerjang sebuah restoran tersebut menewaskan 13 orang. Mobil yang dipenuhi dengan bom tersebut diparkir di luar restoran yang biasa dipenuhi oleh polisi. Ledakan terjadi disaat para petugas polisi yang sedang sarapan.

Selain menewaskan 13 orang, ledakan bom juga menyebabkan 42 orang lainnya terluka. Rumah sakit Hillah di Kota al-Shumali saat ini dipenuhi oleh korban terluka akibat bom tersebut. Demikian diberitakan Associated Press, Rabu (14/9).

Hingga saat ini belum diketahui siapa pelaku dari pengeboman tersebut. Insiden serupa yang terjadi di Irak ini biasanya dilakukan oleh pihak militan yang tidak menginginkan Irak dalam kondisi damai.

Mereka juga menguji pihak keamanan Irak yang nantinya akan memegang keamanan usai diserahkan dari pihak keamanan Amerika Serikat (AS).

Ledakan yang terjadi ini mengikuti sebuah ledakan pinggir jalan yang menargetkan pihak patroli keamanan Irak. Insiden yang terjadi di dekat Kota Habbaniyah ini menyebabkan dua orang prajurit Irak tewas dan melukai sembilan lainnya. (net/bbs)

260 Orang Tewas Tertimpa Bangunan

Banjir Lumpuhkan Pakistan

PAKISTAN-Hujan deras sejak beberapa hari lalu tak kunjung reda di di Provinsi Sindh, Pakistan. Alhasil, banjir pun melanda provinsi di kawasan selatan Pakistan tersebut. Ironisnya, banjir tahun ini justru lebih parah ketimbang pada 2010. Kota Karachi pun lumpuh. Genangan air di mana-mana.

Sampai dengan Selasa (13/9), data terkumpul menunjukkan total 260 orang tewas lantaran bencana tersebut. Sebagian besar korban meninggal dunia gara-gara tertimpa atap dan dinding bangunan.

Sekolah dan pasar tutup sedangkan warga yang berangkat ke tempat kerja meninggalkan begitu saja kendaraan mereka di jalan-jalan yang tergenang air. Di kawasan pedesaan banyak warga yang mengungsi ke pinggir-pinggir jalan tanpa makanan.

Malapetaka bahkan seperti enggan berakhir. Soalnya, sebagaimana warta AP dan AFP pada Rabu, fasilitas penampungan untuk pengungsi jumlahnya minim. Lebih dari lima juta orang terkena dampak banjir yang menghancurkan tak kurang dari satu juta rumah tersebut. “Yang kita ketahui adalah 22 dari 23 distrik yang ada dilanda banjir,” kata Andro Shilakadze, petugas bantuan yang bekerja untuk Dana Anak-Anak PBB (Unicef).

“Banyak orang yang terpaksa mengungsi meski kami belum memiliki data pasti. Yang jelas, tidak semuanya berada di tenda-tenda penampungan,” imbuhnya.

“Di antara mereka menolak untuk mengungsi dan berada di pinggir-pinggir jalan agar bisa mengawasi dan menjaga ternak mereka,” kata Shilakadze menambahkan.

Fasilitas penampungan untuk para pengungsi juga dilaporkan sangat minim. Lebih dari lima juta orang terkena dampak banjir yang menghancurkan tak kurang dari satu juta rumah tersebut. (net/bbc/bbs)

Masinis Lalai, Kereta Api Tabrakan

CHENNAI– Buruknya sistem transportasi, khususnya jenis kereta api (KA), di India kembali memakan korban jiwa. Sepuluh orang tewas dan lebih dari 80 penumpang lainnya luka saat terjadi tabrakan dua KA di Arakkonam, Negara Bagian Tamil Nadu, selatan India, Selasa malam (13/9) waktu setempat atau dini hari kemarin WIB (14/9).

Berdasar investigasi sementara yang dilakukan otoritas perkeretaapian India, ditemukan adanya kesalahan masinis pada salah satu KA. Masinis tersebut diduga teledor atau lalai dengan membiarkan KA yang dikemudikannya tetap melaju kencang saat memasuki stasiun dekat Arakkonam, 90 kilometer dari Kota Chennai.

Menurut Deepak Krishnan, general manager Southern Railway, perusahaan operator KA itu, investigasi awal menunjukkan bahwa masinis kereta yang melaju kencang tersebut tak mengindahkan lampu sinyal agar mengurangi kecepatan saat memasuki stasiun.

”Secara normal lampu sinyal merah akan menyala. Itu berarti bahaya (jika melaju kencang). Namun, sepertinya masinis kereta tidak memedulikan sinyal tersebut,” terang Krishnan kepada kantor berita Press Trust of India (PTI) kemarin.

Akibat tak dipatuhinya sinyal tersebut, KA penumpang itu menabrak kereta barang yang tengah berhenti. Korban pun berjatuhan. Tetapi, sang masinis dilaporkan selamat dalam kecelakaan tersebut.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 21.30 waktu setempat. Saat itu, KA dari Chennai Beach dalam perjalanan menuju Vellore menabrak gerbong paling belakang KA barang dari Arakkonam yang hendak menuju Vellore. Kereta terakhir ketika itu sedang berhenti di Arrakonam.

Polisi langsung menuju lokasi kecelakaan untuk segera mengevakuasi para korban. Kecelakaan itu sempat menjadi tontonan karena warga lokal ramai-ramai mendekati lokasi untuk menyaksikan.

Tim penyelamat terus bekerja untuk mengeluarkan para korban tewas dari gerbong yang terbalik. Ada lima gerbong yang anjlok dan terguling akibat tabrakan tersebut. Mereka juga mengevakuasi seluruh korban luka dan melarikannya ke rumah sakit terdekat.

Para keluarga korban memenuhi rumah sakit Arakkonam untuk mengindentifikasi jasad kerabat mereka. Beberapa di antara korban tewas belum bisa diidentifikasi.

”Ini adalah kesalahan sejumlah pejabat (perkeretaapian) yang mengakibatkan kecelakaan tersebut terjadi. Saya pergi bersama dua anak dan seorang saudara saya. Mereka semua masih sangat muda,” ujar Nagaraj, seorang penumpang, yang kehilangan saudaranya, Parshuram, 35, dalam insiden tersebut.

Hingga kemarin siang, tim penyelamat masih berada di lokasi kecelakaan untuk membersihkan dan mengangkat gerbong KA. Dua tim Satuan Tugas Penanganan Bencana Nasional (NDRF) India diturunkan untuk membersihkan lokasi. (AFP/AP/cak/dwi/jpnn)

Bocah 5 Tahun Temukan Fosil 160 Juta Tahun

GLOUCESTERSHIRE – Sebuah misteri sejarah secara tidak sengaja terungkap oleh seorang bocah perempuan. Emily Baldry, saat itu berusia lima tahun, menemukan fosil yang diduga berusia 160 juta tahun tersebut ketika bermain dengan ayahnya, Jon, 40, di pantai kawasan Cotswold Water Park, Kota Gloucestershire, 150 kilometer barat laut London, Inggris.

Seperti dilaporkan Daily Mail kemarin (13/9), ketika itu Emily hanya menggunakan sekop yang sangat sederhana untuk membuat istana pasir. Hal itu jelas berbeda dengan yang dilakukan oleh para ahli saat melakukan penggalian benda-benda bersejarah (arkeologi).

Spesimen yang ditemukan Emily adalah fosil Rieneckia odysseus, hewan laut sejenis moluska yang diduga sudah punah sekitar 65 juta tahun lalu. Hewan berbentuk seperti cangkang berduri itu memiliki diameter 16 inci (40,64 cm). Warga Eropa pada abad pertengahan mengenal mahluk bercangkang tersebut sebagai snakestone.

Emily pun menyebut fosil temuannya itu dengan nama Spike. Saat ditemukan, fosil itu terbungkus lumpur yang sudah membatu. Lantas, Emily menyerahkannya kepada geolog bernama Neville Hollingworth untuk direstorasi.
Emily, yang baru saja genap enam tahun, menemukan Spike pada Maret tahun lalu. Bocah lucu itu baru bertemu kembali dengan Spike pada Minggu lalu (11/9) di Gateway Information Centre, dekat Cirencester, kota kecil di timur Gloucestershire. Di sanalah, sang pakar menempatkan dan memamerkan fosil tersebut.

Hollingworth telah menghabiskan waktu setahun untuk merestorasi fosil tersebut. ’’Ini adalah ammonite (sejenis siput) pertama yang pernah ditemukan di Inggris Raya. (Penemuan) yang lain hanya berupa fragmen,’’ jelasnya. Ayah Emily, Jon, menyatakan perasaan takjubnya soal waktu yang cukup lama untuk merestorasi fosil tersebut. (dailymail/cak/dwi/jpnn)

Mendadak, Petinggi F-PKB Pindah Komisi

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPR Marwan Jafar, mulai Rabu (14/9) bertugas di Komis III DPR. Sebelumnya Marwan berdinas di Komisi V DPR RI.

Marwan membantah kepindahannya di komisi yang membidangi masalah hukum itu adalah untuk mengamankan posisi Ketua Umum PKB yang juga Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Manakertrans) Muhaimin Iskandar yang kementeriannya digoyang kasus suap.

“Saya pindah sendiri. Tidak apa-apa. Sama sekali tidak (pindah untuk mengamankan posisi Cak Imin). Tidak ada sangkut pautnya dengan urusan itu. Ini urusan internal fraksi,” kata Marwan, kepada wartawan Rabu (14/9), di Jakarta. Seperti diketahui, selain Marwan, Hanif Dhakiri juga masuk ke Komisi III DPR. Sebelumnya, Hanif yang juga politisi PKB itu berada di Komisi X DPR.

Marwan mengatakan, kepindahannya itu bukan hal baru mengingat sebelumnya dirinya juga pernah di Komisi III DPR RI. “Sehingga kemarin, waktu pemilihan Pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), saya juga di BKO (Bawah Kendali Operasi)-kan di sini,” katanya. “Jadi ini bukan hal baru, ini hal biasa. Semua fraksi melakukan hal sama, bukan PKB saja,”  kata Marwan. Sebelumnya, fraksi PKB di Komisi III mendapat jatah tiga kursi. Tetapi baru diisi satu kursi yang saat ini diduduki oleh Bahruddin Nashori. (boy/jpnn)