27 C
Medan
Friday, January 2, 2026
Home Blog Page 15333

15 Ribu Warga Ancam Tutup Polonia

Konflik Tanah Sari Rejo

MEDAN-Kesabaran puluhan ribu warga Kelurahan Sari Rejo, Medan Polonia, sudah habis. Jika upaya mereka untuk memperoleh legalitas soal tanah yang telah mereka diami selama puluhan tahun tetap dihambat oleh pihak-pihak tertentu, aksi ‘pamungkas’ pun bakal mereka lakukan. Bukan sekadar ancaman, tapi aksi itu bakal benar-benar dilakukan.

“Kami akan pertaruhkan hidup mati kami hingga tetes darah terakhir untuk mempertahankan tanah ini. Tidak ada lagi kompromi. Kami harus mendapatkan sertifikat. Karena secara de facto dan de jure kami adalah pemilik tanah ini. Kalau tidak ada jalan keluar dalam jangka waktu dekat ini, maka kami akan turunkan massa sebesar 15 ribu orang untuk menutup akses Bandara Polonia, jika perlu ke landasan pacunya. Kami akan unjuk rasa ke Polonia dan CBD (Central Bussines District),” ujar Pieter Naiborhu, Kordinator Lapangan Forum Masyarakat Sari Rejo (Korlap Formas) kepada wartawan koran ini, Minggu (8/5).

Penegasan itu disampaikan Pieter di depan Ketua Formas, Riwayat Pakpahan, dan tokoh masyarakat lainnya dalam acara peresmian Kuil Shri Sitthi Vinayagar di Jalan Mawar Gang Buntu. “Selama ini, dan dari dulu masyarakat Sari Rejo sudah rukun dan hidup harmonis dalam tatanan sosial, agama dan sejarah serta bidang lainnya. Dengan berdirinya kuil ini juga, telah menguatkan bukti bahwa ini (tanah, red) adalah aset stabilitas keamanan nasional. Dengan ini pula, menandakan Sari Rejo merupakan miniatur Kota Medan,” katanya.

Riwayat Pakpahan menambahkan, dengan berdirinya kuil tersebut seharusnya bisa membuat pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk tidak lagi berpikir terlalu jauh. Yang terpenting, masyarakat Sari Rejo bisa mendapatkan sertifikat tanah. “Ini bukti kemajemukan yang ada. Jadi, bukan hanya secara de facto dan de jure saja masyarakat Sari Rejo memiliki bukti. Tapi, dengan realita seperti ini sudah menunjukkan bahwa benar adanya masyarakat Sari Rejo adalah benar orang-orang yang berhak atas tanah ini,” tandasnya.

Sementara itu, Kuil seluas lebih kurang sekitar 1.600 meter persegi tersebut diresmikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu (Dirjen Bimas) Kementerian Agama RI, Prof Dr IBG Yuda Triguna MS. (ari)

Horas Medan, Salam Damai untuk Indonesia

Melihat Konser GIGI di Lapangan Benteng

Penampilan grup band papan atas Indonesia, GIGI, menghanyutkan ribuan anak muda Kota Medan, Sabtu (7/5), di Lapangan Benteng. Apalagi saat Armand Maulana sang vokalis menyapa ‘Horas Medan’. Selanjutnya?

Bagus Syahputra, Medan

Hentakan dan lantunan tem bang-tembang gigi memang menghipnotis. Wajar saja, sudah lama grup band satu ini tak pernah menggeber pencintanya di Medan.

Tak heran bila akhir pekan kemarin Lapangan Benteng penuh sesak pengunjung.
Konser diawali dengan nyala kembang api di suluruh sisi stage. Di tengah keriuhan pengunjung, performance Gigi yang bertajuk Experience akhirnya dibuka dengan hits bertajuk Jomblo.

Armand selalu menyapa pengunjung dengan ‘Horas Medan’ dalam beberapa kali jedah. Salam khas Medan ini disambut fans ‘GIGI Kita’ dengan tepukkan tangan dan nyanyi bersama.

Sepanjang konser ada 12 lagu yang membuat rindu akan GIGI terobati. Dibuka dengan Jomblo, Basa-basi, Amnesia, Perdamaian, My Facebook, Setia Bersama, Janji-Nirwana, Sang Pemimpi, Nakal, 11 Januari, Ya..ya..ya..dan diakhiri Bye bye. “Senang banget, ada Armand, Dewa Budjana, Thomas, dan Hendi,” ujar seorang pengunjung sambil berjingkrak.

Dalam beberapa kali jedah, Armand menyisipkan kampanye Indonsia Damai, juga pesan damai untuk dunia. Armand menilai di Indonesia banyak teror bom dari orang tidak bertanggung jawab dengan mengataskannamakan agama. “Untuk Indonesia kita doakan selalu aman, tidak dibenarkan meneror orang dengan bom dengan mengatasnamakan agama,” teriaknya.

Armand mengatakan, saat ini usia GIGI telah 17 tahun pada 22 Maret lalu. Dia berharap GIGI bisa panjang umur dan bertahan dengan personel yang ada sekarang ini dan tetap eksis mengisi warna-warni musik Indonesia. “Tanggal 26 Mei nanti kita akan menggelar konser Akbar ulang tahun Gigi di Istora Senayan Jakarta,” katanya.

Meski berlangsung meriah, namun konser tersebut sempat tercoreng. Sejumlah pengunjung terlibat keributan karena saling dorong. Polisi pun terpaksa turun ke tengah lapangan untuk mengamankan perusuh. Pengunjung yang terlibat kekisruhan langsung diamankan dan dibawa ke back stage dan dikeluarkan dari areal konser.

Melihat itu, Armand sempat turun tangan menenangkan fansnya. “Di sini kita mau menikmati lagu GIGI, bukan mencari kerusuhan. Siapa yang membuat rusuh sama kita, kita bilang kampungan,” ujar Armand. Imbauan itu agaknya didengar, pasalnya setelah itu kerusuhan tak berulang.
Di akhir performance, GIGI menutup dengan single barunya berjudul Bye-bye diiringi nyala kembang api.(*)

1.500 Peserta Ikuti Pentas Seni

MEDAN- Sedikitnya 1.500 peserta yang terdiri dari pelajar TK hingga mahasiswa meriahkan gebyar pentas seni di MTS Al Ittihadiyah Jalan Karya Jaya Gang Karya VIII Pangkalan Mashur.

Tingginya jumlah peserta dalam memeriahkan acara tahunan yang rutin dilaksanakan Al Ittihadiyah tersebut memperlihatkan akan tingginya animo peserta yang hadir dalam mensukseskan acara.
Hal ini disampaikan Kepala Sekolah MTS Al Itihadiyah, Pamonoran Siregar saat ditemui di ruang kerjanya Minggu sore (8/5).

Adapun tujuan kegiatan itu sendiri lanjut Pamonoran tak lain sebagai bentuk motivasi terhadap siswa didik baik dari tingkat taman kanak-kanak hingga mahasiswa agar dapat berkarya secara positif.

“Setidaknya dengan acara seperti ini pengaruh lingkungan yang lebih cenderung mengarah ke tindakan negatif bisa dinetralisir dengan kegiatan-kegiatan positif yang membangun,” sebutnya.

Masih menurut Pamonoran, selain untuk memotivasi siswa didik, acara gebyar pentas seni  yang memperlombakan berbagai kegiatan seperti pembacaan ayat pendek, busana muslim dan peragaan busana daerah itu sekaligus memasyarakatkan kegiatan-kegiatan yang semakin pudar dimakan waktu.

Dalam kesempatan yang sama, ketua panitia kegiatan, Hamdan Yazid menerangkan, keseluruhan peserta yang mengikuti perlombaan dibagi ke dalam sebelas kategori perlombaan.

Yang mana dalam tiap katagorinya membedakan jenis usia dan tingkatan yang dilombakan. “Setiap katagori lomba kita bedakan dengan usia umur agar para peserta nantinya bisa bersaing secara sehat,” sebut Yazid.(uma)
Acara yang berlangsung selama empat hari, tepatnya Kamis (5/5)  tersebut berakhir Minggu (8/5) sore dengan mengumumkan para pemenang sekaligus penyerahan hadiah kepada para pemenang.(uma)

Polisi Kesulitan Kejar Pembunuh A Hok

BELAWAN-Hingga kemarin, Minggu (8/5), pengungkapan kasus pembunuhan A Hok (30), warga Karya Dame, Kecamatan Medan Barat, terus dilakukan Polres Pelabuhan Belawan. Namun belum ada satu orang pun yang bisa dijadikan tersangka. Padahal sejak Jumat lalu sudah ada delapan orang yang menjalani pemeriksaan.
Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Hamam mengaku, pihaknya masih kesulitan mengejar pelaku.
“Kami masih terus upayakan untuk mengungkap pelaku dan saksi mata akan ditambah untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sebelumnya pihaknya telah memeriksa tujuh orang saksi terkait kejadian tersebut. “Sampai saat ini saksi yang kami periksa sudah 8 orang. Sebelumnya tujuh orang saksi diperiksa dan satu lagi tambahan saksi, kami periksa kemarin. Kami belum bisa memastikan motifnya, apakah dendam karena sakit hati ataupun perampokan. Dari sejumlah saksi yang kami periksa, tidak ada yang mengarahkan ke dendam, karena menurut keterangan saksi, korban merupakan orang yang baik dan ramah kepada orang. Namun, apabila ada suatu masalah korban tidak pernah cerita,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku. Upaya pengejaran pelaku, pihaknya menelusuri tempat dimana bekerja dan teman-temannya. “Saya yakin pelakunya masih berada di Medan karena dia tahu betul daerah Medan ini,” tambahnya. Sampai kemarin Polres Pelabuhan Belawan belum bersedia menyebutkan identitas saksi yang telah diperiksa.

“Masih kami rahasiakan nama-nama saksinya, karena pelakunya belum tertangkap, kalau ada perkembangan sekecil apapun akan saya beritahukan,” tandasnya. (mag-11)

Mayat Mr X Hebohkan Labuhan

LABUHAN-Warga Dusun VI Desa Pematang Johar, Labuhan Deli, dihebohkan oleh penemuan sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki yang tidak dikenal (Mr X, Red).

Mayat tersebut ditemukan oleh seorang pemulung dalam keadaan tersangkut di batu dengan kondisi telungkup dan badan sudah menggelembung di aliran sungai parit busuk di kawasan tersebut, Minggu (8/5).
Mayat Mr X tersebut diperkirakan sudah enam hari tewas. Pasalnya, kondisi mayat sudah membusuk dan sulit dikenali. Saat ditemukan, mayat tersebut mengenakan kaos warna kuning dengan celana jeans warna coklat. Sekilas, tidak ada bekas penganiayaan di tubuh korban.

Menurut keterangan di tempat kejadian perkara (TKP), seorang pemulung yang sedang mencari sampah dan cacing di sekitar parit busuk tersebut menemukan mayat itu sekitar pukul 08.00 WIB. Pemulung tersebut kemudian memberitahukan kepada warga. Dalam hitungan menit, tempat itupun menjadi ramai.

“Kemarin parit ini banjir, mayat tersebut diperkirakan berasal dari Medan karenakan aliran parit tersebut berasal dari parit busuk di kawasan Cemara Asri,” ujar seorang warga, Adi (23).

Tidak seorang pun warga mengenali mayat tersebut. Sekitar pukul 11.00 WIB mobil patroli Polsek Medan Labuhan terlihat datang ke lokasi dan menunggu jasad itu diangkat ke ambulan. Sementara itu, Kapolsek Medan Labuhan, Kompol Sugeng Riyadi, tidak bisa dihubungi dan Kanit Reskrim AKP, M Oktavianus, tidak mengangkat ponselnya. (mag-11)

Kurikulum tak Sesuai Penamaan

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di tanah air akrab dengan istilah ‘KTSP’. Akronim ini aslinya merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Namun di lapangan kadang-kadang justru diplesetkan.

Satu di antaranya yakni seperti tertera pada judul tulisan. (Biasalah, orang Indonesia adalah jagonya kalau soal pleset-memlesetkan).

Tak jelas siapa pencetus plesetan di atas. Tapi setidaknya hal tersebut memang menarik untuk kembali dilirik. Masih pantas menjadi sesuatu yang perlu dibahas.

Jika dipikir-pikir, sesuai namanya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan semestinya menyerupai sistem kredit semester (SKS) di perguruan tinggi. Artinya, para peserta didik pada tiap satuan pendidikan (SMP & SMA) seharusnya tidak lagi dikelompokkan berdasarkan tingkatan-tingkatan kelas, semisal: kelas VII, VIII, IX dan seterusnya.
Otomatis, tak ada pula kategori naik atau tinggal kelas yang biasanya dicantumkan untuk menutup tahun pelajaran (tahun akademik bagi mahasiswa). Sebagai gantinya ialah meraih predikat ‘lulus’ atau ‘tidak lulus’ per mata pelajaran, semester demi semester.

Sekadar ilustrasi, kira-kira begini. Misalkan pada semester pertama seorang siswa mengikuti mata pelajaran Matematika I, Bahasa Inggris I, IPA I dan sebagainya. Dari sejumlah mata pelajaran itu barangkali ia akan lulus semua.

Tetapi tidak tertutup kemungkinan ada pula beberapa mata pelajaran yang tidak lulus. Demikian juga untuk semester-semester berikutnya.

Nah, jika setelah tiga tahun (6 semester) ternyata masih ada mata pelajaran yang belum lulus maka siswa tadi harus mengulang atau mengikuti kembali mata pelajaran-mata pelajaran yang dimaksud sampai ia dinyatakan lulus seluruhnya. Dengan kata lain, seharusnya dalam KTSP tidak mengenal adanya Ulangan Umum (apalagi Ujian Nasional), kecuali untuk keperluan ‘pemetaan mutu’ semata.

Karena KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) telah dipatok sejak awal dengan berbagai perhitungan dan pertimbangan.
Jadi, siswa-siswa yang masuk SMP atau SMA pada tahun yang sama belum tentu tamat pada tahun atau bahkan semester yangsama pula. Tetapi tergantung kepada prestasi yang mereka peroleh.

Namun tentu saja hal semacam itu sangat sulit dijalankan. Kita masih memerlukan sejumlah tahapan untuk mengarah ke sana. Sementara kurikulum yang dulu acapkali bergonta-ganti wajah dan penampilan sudah cukup merepotkan dan memberatkan banyak kalangan, terutama para guru selaku ujung tombak dunia pendidikan.
Umumnya para praktisi pendidikan kita (terutama bapak dan ibu guru) masih salah dalam mengartikan kurikulum yang diluncurkan sejak tahun 2006 lalu itu.

Sebagian besar terkesan kurang mampu memahaminya secara utuh, terlebih untuk menyusun dan mengimplementasikannya dalam proses belajar-mengajar yang dilakukan.

Singkat kata, belum dapat beradaptasi dengan format asli KTSP tadi. Padahal KTSP diberlakukan adalah dalam rangka melimpahkan wewenang yang cukup besar bagi setiap satuan pendidikan (sekolah) dan para guru untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa-siswi mereka.

Artinya, jika sebelumnya aktivitas para guru hanyalah sebatas melaksanakan apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah (depdiknas) maka sekarang fungsi dan peran para pendidik itu meluas menjadi penyusun dan   pengembang kurikulum, sekaligus sebagai pelaksananya.

Dengan demikian berarti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sejatinya merupakan penerapan otonomi sekolah. Jadi, setiap satuan pendidikan (sekolah) sesungguhnya berhak dan bahkan dituntut untuk membuat dan memiliki kurikulum sendiri (khusus) sesuai situasi dan kondisi di lokasi masing-masing. Sedangkan pemerintah hanyalah berperan memberikan acuan, yakni berupa ‘Standar Isi’ yang terdiri dari beberapa ‘Standar Kompetensi’ dan ‘Kompetensi Dasar’saja. Selebihnya adalah terserah kepada pihak sekolah untuk menyusun, mengembangkan dan melaksanakannya di lapangan.

Akan tetapi apa yang terjadi selama ini? Benarkah bapak dan ibu guru bisa berkreasi, berinovasi dan berimprovisasi? Jauh panggang dari api. Malah semakin banyak  intervensi yang datang dari sana-sini. Biasanya berasal dari oknum-oknum yang menjadikan bisnis sebagai orientasi. Akibatnya, kebanyakan guru justru terpaku (dipaksa mengacu) kepada LKS dan buku-buku yang sebetulnya tergolong tak bermutu.

Sangat boleh jadi merupakan hasil kerja yang dicetak/diterbitkan dengan sistem ‘kejar tayang’ alias terburu-buru.
Apabila hal itu masih terus berlangsung maka sesungguhnya para guru malah semakin bingung. KTSP takkan  dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Nyaris serupa saja dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Hanya sekadar bertukar nama. Hegemoni pemerintah (terutama dinas-dinas pendidikan di daerah) tetap mendominasi wajah dunia pendidikan kita. Maka tak perlu heran kalau sebenarnya KTSP hingga saat ini belum dapat menyumbangkan nilai tambah apa-apa kepada para lulusan SMP maupun SMA, disebabkan tidak ada relevansinya terhadap lingkungan sekitar mereka.

Oleh karena itu, tiada cara lain kecuali kembali ke konsep asli. Memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada setiap sekolah (terutama para guru) untuk aktif berkreasi dan berinovasi merancang kurikulum dan perangkat-perangkat pembelajaran yang diperlukan.

Singkirkan intevensi, enyahkan campurtangan. Dari siapapun, dari pihak manapun. Kecuali sebatas memberi acuan sebagaimana telah disebutkan. Dengan begini barulah
KTSP benar-benar menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bukan Kurikulum yang Tak Sesuai Penamaan.(*)

Oleh : Drs Halim Mansyur Siregar
Guru SMPN-2 Pegajahan Serdang Bedagai

Amuk Ronaldo

MADRID-Tim peringkat kedua klasemen sementara La Liga Real Madrid mengamuk saat bertandang ke markas Sevilla. Empat gol Cristiano Ronaldo dan masing-masing satu gol Sergio Ramos dan Kaka membawa Los Blancos menggasak Sevilla 6-2.

Bertandang ke Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Minggu (8/5) dinihari WIB, Madrid membuka skor pada menit 21 lewat gol Ramos yang dengan sundulannya menjebol gawang Sevilla.
Di menit 31, Madrid menggandakan skor jadi 2-0 lewat tendangan Ronaldo dari dalam kotak penalti meneruskan umpan sundulan Karim Benzema.

Tiga menit menjelang turun minum, Madrid mencetak gol ketiga atas nama Kaka. Pemain asal Brasil itu merobek jala Sevilla dengan tendangan kaki kanan tepat dari luar kotak penalti.

Sevilla sempat memberi sinyal bisa melawan ketika mereka memperkecil ketertinggalan jadi 1-3 di menit 61. Alvaro Negredo menyarangkan bola ke gawang Madrid dengan sepakan keras kaki kiri.

Tapi selang empat menit kemudian, Madrid menjauh lagi jadi 4-1 lewat aksi  Ronaldo.
Pada menit 70, Ronaldo membukukan hat-trick guna membawa Madrid memimpin 5-1.
Madrid mencetak gol keenam pada menit 75, kembali lewat Ronaldo. Benzema lolos di kotak penalti Sevilla dan dari dekat garis gawang ia mengirim umpan tarik kepada Ronaldo yang dengan satu sepakan ringan menceploskan bola ke jala Sevilla.

Sevilla mendapat gol hiburan kedua kembali berkat upaya Negredo di menit 84. Kali ini, Negredo menaklukkan kiper Iker Casillas dengan tandukan terukur menyambut tendangan sudut. Hingga pertandingan berakhir, skor 6-2 buat Madrid bertahan.

Bagi Ronaldo, keberhasilannya mencetak empat gol tidak lepas dari peran rekan setimnya.
“Untuk bisa mencetak empat gol bukan perkara mudah. Dan saya harus memberikan kredit khusus buat rekan setim yang terus membantu saya,” ujar Ronaldo selepas laga sebagaimana dikutip Goal, Minggu (8/5).
Kesuksesan ini pun sukses mengantarnya mengungguli Lionel Messi dalam perburuan trofi El Pichichi (top skor La Liga) musim ini.

Dengan koleksi 33 gol, Ronaldo unggul dua gol atas bocah ajaib Barcelona yang baru mengoleksi 31 gol. Namun, Ronaldo membantah anggapan yang menyebutnya mengincar trofi El Phichi karena tidak ingin menunjukkan diri masih lebih hebat dari Messi. “Saya tidak ingin memikirkan menyabet gelar top skor,” sambungnya.
Dengan kemenangan ini, Madrid pun berhasil berhasil mengikis selisih poin dengan Barcelona menjadi lima angka. Secara matematis, dengan tiga laga tersisa di musim ini, peluang Madrid untuk bisa menyalip Barca  masih tetap terbuka. (bbs/jpnn)

Kenapa Tidak dari Dulu Saja

Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Resmi ASEAN

Langkah bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi di kawasan komunitas negara-negara Asia Tenggara sedikit demi sedikit mulai terealisasi. Setidaknya, Lembaga ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) Majelis Antarparlemen ASEAN atau sudah menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di lembaga tersebut.

Ya, pada September tahun ini para delegasi AIPA akan menggelar pertemuan kedua di Kamboja. Pada pertemuan tersebut, para anggota delegasi dari negara-negara di Asia Tenggara, di antaranya, akan memutuskan bahasa resmi yang digunakan AIPA. Delegasi Indonesia untuk AIPA, Marzuki Alie, yang juga Ketua DPR RI, mengatakan, pada pertemuan AIPA pada 2010 di Hanoi, Vietnam, para delegasi mendukung penggunaan bahasa Indonesia.

“Baru dari AIPA, tapi belum dari anggota ASEAN,” kata Marzuki di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ke-18 ASEAN di Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu (7/5).

Menurut Marzuki, penggunaan Bahasa Indonesia di tingkat AIPA itu disepakati dalam pertemuan AIPA tahun lalu di Vietnam. Usulan tersebut diterima sebab Bahasa Indonesia dimengerti oleh hampir sebagian besar masyarakat di Asia Tenggara.  Selain itu, bahasa Indonesia juga termasuk dituturkan oleh  banyak orang (lihat grafis). “Jadi begitu kita sampaikan langsung, (bahasa) Indonesia, hampir sama dengan Melayu saling mengerti saling memahami. Begitu kita sampaikan dalam forum itu, semuanya menerima dan akan dimasukkan dalam statuta AIPA,” jelasnya.
Marzuki juga menambahkan Usulan ini sudah diterima seluruh delegasi. Pasalnya bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu dipahami hampir semua anggota ASEAN yang berjumlah 10 negara. “Thailand salah satunya menggunakan bahasa Indonesia, Filipina Selatan menggunakan bahasa Indonesia, Malaysia bahasa Indonesia, Singapura bahasa Indonesia, Brunei juga. Jadi hampir sebagian anggota berbahasa Indonesia,” jelas Marzuki.

Pada kesempatan itu, Marzuki juga mengungkapkan AIPA dan ASEAN sepakat untuk saling memberikan pendapat sehingga bisa memperkuat tujuan bersama, yaitu terciptanya Komunitas ASEAN pada 2015. “Oleh karenanya ini adalah momentum yang baik, artinya sudah ada kesepakatan kita bahwa setiap ada ASEAN Summit dimintakan pendapat dari AIPA dalam berbagai aspek. Apa yang dihasilkan dalam forum AIPA itu diteruskan ke dalam ASEAN Summit,” jelasnya.

Kabar ini langsung mendapat respon positif dari masyarakat. Seorang warga , Arisman Muhammad (24), membaca usul menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi ASEAN sebagai upaya menawarkan kesatuan identitas untuk organisasi kawasan Asia Tenggara ini. Bagi mahasiswa S2 salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung ini, ASEAN memang tidak memiliki satu identitas bersama yang dapat menunjang integritas, termasuk satu bahasa tunggal. Itu terjadi karena budaya negara anggota ASEAN berkaraktistik unik. “Sehingga identitas tunggal akan sulit tercapai,” kata Arisman.

Indonesia menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional guna mempersatukan beragam suku bangsa di Tanah Air yang bahasanya pun beraneka. Hal ini menjadi poin yang disampaikan seorang karyawati perusahaan swasta di Jakarta, Dinda Saraswati (29). Bagi Dinda, aspirasi menaikkan status bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi ASEAN akan menambah kebanggaan rakyat Indonesia.

“Mungkin dengan bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN, warga negaranya bisa lebih menghargai bahasa Indonesia dan kita jadi bangga menggunakan bahasa yang dipakai di ASEAN,” katanya.

Dari Medan, Yuni Batubara (35), menganggap hal ini sejatinya sudah seharusnya. Lulusan Sastra Jepang USU ini menguraikan sudah seharusnya Indonesia menjadi kiblat ASEAN. “Sudah harus itu. Kalau dilihat ke belakang, kita punya sejarah cemerlang. Sebut saja Sriwijaya, hingga Aceh. Pada masa itu, bahasa apa yang dipakai? Bahasa Melayu kan? Bahasa Indonesia kan bahasa Melayu, jadi kenapa tidak dari dulu saja, ” katanya. (bbs/jpnn)

 

IM2 Mengajak Berbisnis di Internet

MEDAN- Sumatera Utara, selain sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, tetapi juga merupakan salah satu kota yang masyarakatnya akrab dengan teknologi. Hal inilah yang menjadi alasan terpilihnya kota Medan sebagai ibukota provinsi Sumut sebagai ajang roadshow untuk Kompetisi Berbasis Android dengan tema IM2 Mengajak Berbisnis di Internet.

Hal ini diungkapkan oleh Sri Priyo Hutomo, General manager Sumatera Area IM2 disela-sela seminar yang dilaksanakan di Aula USU (28/4). Karena itu, untuk mengajak generasi muda Indonesia dalam memanfaatkan kesempatan menjadi yang terbaik dalam aplikasi Android yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan para pengguna.
Bagi para peminat kompetisi dapat mendaftarkan diri secara online melalui http://istore.indosatm2.com. setelah terdaftar, peserta diminta untuk meng-upload aplikasi yang ingin dilombakan. Pendaftaran dan pengiriman aplikasi dibuka sejak 15 Desember 2010 hingga 15 Juni 2011, dan kompetisi ini terbuka untuk siswa, perguruan tinggi dan kalangan umum.

Untuk penjurian, dari aplikasi yang terdaftar secara online, juri yang terdiri dari manjemen IM2, Google Admob (unit bisnis Inc yang menyediakan layanan mobile Advertising) dan IMO (pengembang handset lokal) akan melakukan seleksi secara online.

Dibabak penyisihan ini, juri akan memilih finalis per kategori yaitu kategori Aplikasi dan kategori Game, dan dibabak selanjutnya juri akan bertemu untuk merundingkan pemenang dari finalis yang terpilih pada 30 Juni mendatang.
Sedangkan untuk kriteria dalam kompetisi ini, akan ditentukan poada orisinalitas yang merupakan syarat mutlak, kemudian kreativitas, kemudahan dan entertainmnet. Untuk orisinalitas, juri akan membuka secara umum aplikai yang terdaftar, sehingga masyarakat dapat mengetahui aplikasi tersebut. Untuk para pemenang dengan masing-masing kategori akan endapatkan hadiah, dengan total hadiah ratusan juta rupiah.

Dengan berbisnis di i-store, akan lebih memudahkan bagi para pengguna internet, bahkan bagi para pemenang dalam kompetisi ini akan diberikan kesempatan untuk beriklan di google. I-store sendiri adalah layanan penyedia aplikasi dan game untuk android dari IM2, baik untuk berbayar maupun yang gratis.

Sedangkan kelebihan dari i-store ini, layanan yang diperoleh dan digunakan secara gratis, mudah digunakan dengan tampilan mirip dengan Android market, dan menyediakan konten gratis dan berbayar, serta menyediakan dan menggunakan konten lokal.

Selain kompetisi aplikasi, IM2 juga menyelenggarakan IM2 Android bootcamp untuk memicu semangat dan alih-pengetahuan aplikasi Android. Sejak diselenggarakan pada 15 Desember 2010 hingga saat ini telah aa 10 angkatan dengan jumlah total sekitar 600 peserta diseluruh Indonesia.
“IM2 merupakan penyedia jasa internet dan multimedia. Karena itu kita selalu mendukung semua yang berhubungan dengan teknologi untuk anak muda,” ujar Hermanudin, General Manager Business Planning & Development IM2. (mag-9)

Telkomsel Kelola IPv4 Terbesar di Indonesia

MEDAN- Telkomsel mendapatkan kepercayaan dari Asia Pasific Network Information Center (APNIC) untuk mengelola 4 juta alamat Internet Protocol (IP) tambahan. Dengan penambahan kapasitas blok akses internet publik ini, Telkomsel kini mengelola 5,5 juta alamat IP, menjadikan Telkomsel penyedia layanan internet dengan kepemilikan IP versi 4 (IPv4) terbesar di Indonesia.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, kepercayaan ini diraih karena Telkomsel menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi selular di Asia Pasifik yang sangat menjanjikan pertumbuhan penggunaan alamat IP dan berkomitmen besar untuk berinvestasi di teknologi yang berbasis IP.

Pada awal tahun ini APNIC dan Internet Registration Authorities and Registries (IANA) sebagai dua lembaga pengatur IP internasional mengumumkan keterbatasan alamat IP yang hanya berjumlah 80 juta. Dari jumlah tersebut, 32 juta di antaranya diperuntukkan bagi penyedia layanan internet di Asia Pasifik.
Sebelum penambahan blok baru ini, Telkomsel telah menggunakan 95 persen dari blok alamat IP yang ada. Penambahan kapasitas blok alamat IP sangat dibutuhkan untuk menjaga kontinuitas bisnis Telkomsel yang mengedepankan layanan berbasis data, mengingat ekosistem industri data komunikasi untuk IP versi 6 (IPv6) belum siap.

Dengan penambahan alamat IP ini, Telkomsel akan lebih leluasa dalam mengimplementasikan strategi pengembangan layanan new business berbasis data. Di samping itu, pengembangan layanan-layanan berbasis personal to personal (P2P) dan solusi bisnis bagi pelanggan korporat menjadi lebih mudah direalisasikan.
“Pemanfaatan semaksimal mungkin sumber daya yang telah dimiliki ini merupakan kunci untuk mendukung kesuksesan bisnis mobile broadband dengan layanan yang beragam sekaligus menjadi landasan untuk mewujudkan Telkomsel sebagai pemimpin di era beyond telecommunications,” jelas Sarwoto.

Saat ini Telkomsel melayani 100 juta pelanggan yang menunjukkan kesiapan melangkah menuju era beyond telecommunications dengan layanan yang berpusat pada data.

Kini Telkomsel siap mentransformasi 100 juta pelanggan menjadi pengguna, sehingga apa yang disediakan bukan lagi layanan dasar, tetapi layanan-layanan baru. (sih)