Home Blog Page 15507

Orangtua Anak Hilang Datangi Poldasu

MEDAN-Sebelas orang tua yang kehilangan anaknya, Kamis (28/4), mendatangi Polda Sumut. Mereka meminta Kapoldasu, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, untuk mengusut kasus yang sudah lama mengendap di Polda Sumut. Pasalnya, kasus itu sudah sejak lama mereka laporkan ke Poldasu, namun hingga kini tak jelas pengusutannya.

Para orang tua itu mengatakan, kasus itu mereka laporkan pada 5 April 2010. Dalam laporan itu mereka menyatakan, anak mereka pergi meninggalkan rumah dan tak kembali hingga kini. “Kami minta agar Kapoldasu membantu untuk mengusut kasus hilangnya anak kami untuk segera diungkap. Agar kedepannya kasus seperti ini tidak terulang lagi,” ujar Khudri Ahmad, perwakilan orang tua di ruangan Dir Binmas Poldasu, Kamis siang (28/4).

Berdasarkan data para orangtua, anak-anak yang hilang itu adalah Deyulanti (25), warga Jalan Salak S-12-17 Tanjung Gading, Batubara, Alumni D3 USU Medan dan Mahasiswi Semester 1 UMN Medan dan hilang sejak 26 Maret 2009, Nurhidayah (23), warga Jalan Pelita IV Gang Madrasah No 5 Medan, Alumni IAIN Medan, hilang sejak 24 Desember 2008. Kemudian, Mawaddah (23), warga Teluk Nibung, Tanjung Balai, Asahan, Alumni IAIN Medan dan hilang sejak 2 Januari 2009, Kiki Amalia (18), penduduk Jalan Datuk Kabu Gang Mushalah, Medan, pelajar SMU Negeri 10 Medan, hilang sejak 11 Agustus 2008, Gusti Khairani Simatupang (22) penduduk Jalan Garu IV Gang Ikhlas No 128 Medan, Mahasiswa UMSU Semester VIII, hilang sejak 25 Januari 2009. Selanjutnya, Dori Israwani Siregar (23), warga Perumnas Mandala Medan, Alumni Polmed, Medan dan hilang sejak 14 Oktober 2009, Harni Purnama Ningsih (23), warga Sei Sikambing, Medan, Alumni USU dan hilang sejak Maret 2009, Yuli Mayasari (24), warga Tanjung Mulia.(adl/jon)

Empat Rumah Disambar Petir

LABUHAN- Warga yang berada di Lingkungan IV, Gang Tanjung, Medan Deli terkejut. Pasalnya, empat rumah warga disambar petir, Kamis (28/4). Keempat rumah masing-masing milik Letti (37), Sri Wahyuni (36), Mando (50) dan Nilawati (28). Akibat perisitiwa itu, peralatan elektronik warga rusak.

Seorang warga, Andi (26) mengatakan, suara ledakan keras seperti bom datang tiba-tiba. Setelah dilihat ternyata petir menyambar rumah, pohon dan tiang jemuran. (mag-11)

Dua Bandar Togel Diringkus

MEDAN-Petugas dari Satuan Unit Vice Control (VC) Dit Reskrim Poldasu berhasil meringkus dua bandar judi jenis toto gelap (togel, red) di dua tempat terpisah, Kamis (28/4) sekitar pukul 16.00 WIB. Keterangan yang diperoleh, kedua tersangka bernama Asiong alias joni (38) Warga Jalan Ternak, Medan Polonia dan Simin Sony (50) Warga Jalan Danau Batur No. 47A Medan.

Saat dilakukan penggerebekan di rumah Asiong, polisi berhasil mengamankan barang bukti tiga buah HP, 3 buku tabungan, dua buah rekap togel dengan omzet per hari Rp10 juta. Kemudian, dari rumah Simin polisi berhasil menemukan barang bukti berupa 2 HP, dua lembar catatan omset togel dan uang senilai Rp2 juta. Bisnis haram tersebut sudah dilakoni pelaku selama delapan bulan. Selanjutnya tersangka bersama barang bukti diboyong ke Poldasu untuk proses lebih lanjut.

Kanit VC Poldasu Kompol Saptono saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih melakukan pengembangan dalam kasus tersebut untuk memburu bandar-bandar yang lainnya yang masuk dalam jaringan mereka. “ Tersangka masih diperiksa penyidik dan kasusnya akan kita kembangkan,” ujarnya. (adl)

Mou: Kenapa?

MADRID – Real Madrid harus menerima nasib yang nyaris sama dengan kontestan semifinal Liga Champions 2010-2011 lainnya, Schalke 04. Sama-sama harus takluk di kandang sendiri, juga dengan skor sama-sama menyolok 0-2, di mana kedua gol pun terjadi di paruh akhir babak kedua, serta sama-sama berat sebelah dalam hal ball possession. Well, mungkin, hanya ada beberapa perbedaan tipis saja.

Jika di laga Schalke v Manchester United, pencetak dua gol adalah Ryan Giggs dan Wayne Rooney, maka di laga kemarin (atau Kamis dinihari WIB) kedua gol diborong oleh bintang utama Barcelona, Lionel Messi. Yang pertama dicetak pada menit ke-74, hasil umpan crossing Ibrahim Afellay yang baru saja masuk, sementara gol kedua dicetak beberapa menit jelang bubaran dengan skill khasnya mendribbling bola beberapa meter memasuki kotak penalti.
Yang berbeda dari laga Schalke-United dan Real-Barca, yang pertama tentu saja adalah selisih kelas kedua tim yang saling berhadapan. Secara reputasi dan kekuatan di atas kertas, Schalke dengan United jelas beda, sementara Real dan Barca bisa disebut seimbang – tanpa perlu menyebut sebagai seteru abadi. Lalu, ada faktor kartu merah langsung (direct red card) terhadap gelandang Real, Pepe, dan pengusiran sang pelatih pada laga di Madrid semalam, sementara di Gelsenkirchen (kandang Schalke) tidak. Lantas perbedaan yang mungkin paling menyolok, komentar seusai laga.

Sehari sebelumnya, Schalke relatif bisa menerima kekalahan, setidaknya dengan kapten Manuel Neuer yang mengaku performa timnya memang tak sebaik di perempat final. Namun mereka juga tidak putus asa begitu saja, minimal lewat ungkapan pelatih Ralf Rangnick yang optimis menyebut segala sesuatu masih bisa terjadi di leg kedua (laga tandang) di mana mereka akan bermain tanpa beban. Sementara dari kubu Real, menerima kekalahan (dengan lapang dada) tampaknya tidak termasuk sesuatu yang mereka tunjukkan.

Adalah pelatih penuh kontroversi juga prestasi, Jose Mourinho, yang paling menunjukkan ketidakpuasannya terhadap laga itu, langsung dalam jumpa pers seusai laga. Bukan ketidakpuasan pada penampilan timnya, namun lebih pada kepemimpinan wasit dan official lainnya, serta lebih jauh, terhadap UEFA. Mou – sapaan Mourinho – bahkan mengungkapkan tudingan adanya konspirasi, terutama terkait perjalanan dan sukses Barca.
“Jika saya sebutkan (pada) UEFA apa yang benar-benar saya pikirkan dan rasakan (saat ini), karir saya akan berakhir sekarang,” ujar pelatih berjulukan The Special One itu, seusai pertandingan, seperti dikutip The New York Times, Kamis (28/4).

Pernyataan itu bukan berarti Mourinho akan bermain ‘rahasia-rahasiaan’. Malah sebaliknya, sejumlah kalimat bernada tudingan pun segera dibeberkannya di depan media. Antara lain yang intinya bahwa ada konspirasi selama ini antara Barcelona dengan UEFA. “Saya tak tahu apakah ini karena (sponsorship) dari Unicef yang mereka miliki, atau karena mereka adalah ‘orang-orang baik’. Saya tak mengerti. Selamat kepada Barcelona karena menjadi tim yang hebat, dan selamat atas ‘hal-hal lain’ yang mereka miliki,” ujarnya sarkastis.

Lebih jauh, Mourinho pun berkomentar soal faktor wasit yang ia sebut sebagai salah satu kebaikan UEFA pada Barcelona. “Saya hanya akan menanyakan satu pertanyaan yang saya harap suatu hari mendapatkan penjelasan: Kenapa? Kenapa Ovrebo? Kenapa Busacca? Kenapa De Bleeckere? Kenapa Stark? Kenapa?” ujar Mou lagi. (ito/jpnn)

Lima Kartu Kuning, Tiga Langsung Diusir

SETIAP laga El Clasico dilangsungkan, wasit dipaksa bekerja keras. Itu juga terjadi pada first leg semifinal Liga Champions antara Real Madrid bersus Barcelona, kemarin dini hari. Terjadi banyak insiden yang membuat wasit Wolfgang Stark harus mengeluarkan banyak kartu.

Ya, dua kartu merah langsung, lima kartu kuning, plus diusirnya Jose Mourinho dari bench pemain menunjukkan betapa panasnya tensi sepanjang laga kemarin dini hari. Sempat terjadi beberapa bentrokan yang melibatnya banyak anggota kedua tim.

Kartu merah pertama dijatuhkan kepada kiper cadangan Barca Jose Manuel Pinto. Dia menjadi penyebab pertengkaran sejumlah pemain sesaat setelah peluit tanda jeda pertandingan ditiup. Pinto sempat menampar wajah bek Real Alvaro Arbeloa.

Kemudian, disusul kartu merah langsung kepada Pepe setelah dinilai melanggar bek kanan Barca Danil Alves pada menit ke-61. Mourinho pun menyusul satu menit kemudian lantaran memprotes keras keputusan tersebut kepada ofisial keempat.

“Saya tidak mengerti, mengapa setiap tim yang bermain melawan mereka (Barcelona) di Liga Champions selalu berakhir dengan sepuluh pemain. Lihat saja Arsenal, Chelsea, dan lainnya,”ketus Cristiano Ronaldo, seperti dilansir Telegraph.

Dia menambahkan, bukannya mencari alasan, tapi dengan sepuluh orang di lapangan, situasinya lebih sulit. “Saya yakin kalau kami bermain dengan 11 orang, situasi dan hasilnya akan berbeda,” bilang mantan winger Manchester United itu.

Sindiran yang sama juga disampaikan striker Real Emmanuel Adebayor. “Kami selalu saja mendapat kartu merah melawan mereka. Sepak bola itu olahraga untuk lelaki. Tapi, kalau bermain melawan Barca, mereka baru disentuh sudah jatuh. Mereka terlalu cengeng,” kata Adebayor.
Dari kubu Barca, gelandang kreatif Xavi Hernandez menyatakan bahwa kartu merah untuk Pepe memang layak.  (ham/jpnn)

Lazio Pinang Adebayor

ROMA- Lazio mulai merencanakan skuadnya untuk musim depan, mereka dikabarkan akan segera menambah amunisi di lini depan, Emmanuel Adebayor menjadi target utama Il Biancocelesti. Pemain Internasional Togo tersebut saat ini sedang menjalani masa peminjamannya dari Manchester City di Real Madrid, namun, meski bermain cukup cemerlang, tampaknya klub raksasa Spanyol tersebut enggan untuk mengubah status kepemilikan Adebayor.

Celah tersebut coba dimanfaatkan oleh Lazio, akrena Adebayor sendiri juga sudah tidak ingin kembali ke Inggris untuk membela City. Harga Adebayor yang dipatok oleh City sebesar 15 juta Euro tampaknya juga tak akan menjadi masalah bagi klub asal ibukota Italia tersebut, karena Lazio memiliki beberapa cara agar Adebayor dapat berlabuh ke Italia tanpa biaya yang mahal.

Hal ini tak terlepas dari masih adanya tanggungan City kepada Lazio atas pembelian Aleksandar Kolarov sebesar 17.5 juta Euro di awal musim ini. Lazio berharap tanggungan City tersebut dapat digunakan untuk menutupi biaya transfer yang diminta City. Namun, Lazio tak akan dengan mudah memboyong Adebayor, karena gaji Adebayor di City maupun di Real Madrid sama-sama cukup besar, sehingga lazio harus mampu menawar kepada Adebayor agar mau mengurangi besarnya gaji yang diminta Adebayor.  “Kita akan lihat situasinya pada akhir musim nanti. Bila Emmanuel (Adebayor) ingin tetap di sini (Manchester City), tak masalah,” kata Pelatih Roberto Mancini. (net/jpnn)

Syamsul Dicopot dari Ketua Golkar

  • Dibayangi Konflik Internal
  • Digantikan Andi Ahmad Dara

MEDAN-Kewenangan yang melekat pada diri Syamsul Arifin dilepas satu per satu. Setelah berstatus non aktif sebagai gubernur Sumut, Syamsul juga telah dilengserkan dari jabatannya sebagai Ketua DPD Golkar Sumut. Pencopotan sementara itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) DPP Nomor : Kep/115/DPP/Golkar/IV/2011 tanggal 26 April 2011 yang ditandatangi Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie dan Sekjen Idrus Marham.

Syamsul Arifin sengaja dibebastugaskan dari kursi ketua Golkar Sumut karena sedang menghadapi persoalan hukum terkait penyalahgunaan APBD Kabupaten Langkat 2000-2007. Pencopotan dimaksudkan agar Syamsul Arifin lebih fokus. Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Agung Laksono, Rabu (27/4) di Hotel Swiss Bell Jalan S Parman Medan.

“Saya diminta Bapak Ketua Umum DPP menyampaikan pemberhentian ini kepada masyarakat Sumut melalui media,” jelas Agung Laksono didampingi Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Leo Nababan, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut Zaman Gomo Mendrofa, Sekretaris Hardi Mulyono dan sejumlah pengurus lainnya.

Agung yang juga Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) ini mengatakan, selama Syamsul berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), roda organisasi tetap berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Tapi, pencopotan ini hanya bertujuan memberikan waktu yang lebih leluasa kepada Syamsul yang menghadapi persidangan dalam kasus dugaan korupsi APBD Langkat 2000-2007 sewaktu dia menjabat bupati.

Alasan lainnya untuk menjamin tetap efektif dan efisiennya roda kepemimpinan DPD Partai Golkar Sumut.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Syamsul tadi malam (kemarin, Red), beliau sudah mengetahui pemberhentian ini. Bahkan menurut beliau, sudah ada komunikasi dengan Bapak Aburizal Bakrie dan dapat diterima dan dipahami demi kepentingan koordinasi dan konsolidasi yang lebih kuat ke depannya,” jelasnya.

Melalui SK tersebut, DPP Partai Golkar menunjuk Andi Acmad Dara sebagai Plt Ketua DPD Partai Golkar Sumut. Dengan ditunjukkan Plt ini, mandat yang diberikan sama dengan Ketua DPD yang dipilih melalui Musda. Kewenangan Andi adalah untuk menjalankan fungsi, tugas dan wewenang Ketua DPD Partai Golkar Sumut, termasuk melakukan langkah-langkah konsolidasi organisasi yang dianggap perlu demi menjamin efektifitas kepemimpinan Partai Golkar Sumut.

“Perannya hampir sama tapi bukan berarti bisa seenaknya mengganti-ganti orang,” tegas Agung.
Agung tak menyebutkan apakah tugas Andi Achmad Dara termasuk mempersiapkan musyawarah daerah luar biasa (Musdalub). Menurutnya, kebijakan soal hal tersebut akan diatur kemudian oleh DPP. “Soal hal ini saya tidak berani mengungkapkannya, namun sepenuhnya di DPP,” sebutnya.

Merujuk kasus yang sama di DPD Partai Golkar Sulawesi Utara, Plt yang ditunjuk akhirnya termasuk mempersiapkan Musdalub dan menghasilkan ketua DPD definitif. Kemungkinan bisa saja sama, untuk persoalan tersebut tetap saja menjadi wewenang DPP.

Andi Achmad Dara yang akrab disapa Adey dianggap tepat melanjutkan kepemimpinan Golkar di Sumut. Sebab beliau merupakan salah satu unsur pengurus harian yang bertanggung jawab terhadap pemenangan pemilu untuk wilayah Sumatera.

Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut, Hardi Mulyono berharap informasi pengangkatan Plt dapat segera tersebar ke seluruh kabupaten/kota agar tidak muncul kesimpangsiuran terkait kepemimpinan di Sumut. Kemudian, seluruh unsur pengurus dan kader dapat lebih memperkuat konsolidasi jelang Pemilihan Gubernur Sumut (Pigubsu) 2013 dan Pemilu 2014 mendatang.

“Ini pemberhentian sementara. Kalau misalnya besok bebas, ya dikembalikan lagi (jabatan ketua Golkar Sumut),” kata Hardi.

Wakil Ketua DPD 1 Golkar Sumut Ajib Shah mengungkapkan, proses pemberhentian Syamsul Arifin sebagai Ketua DPD 1 Sumut telah melalui proses dan mekanisme yang sesuai, terlebih dahulu melakukan konsolidasi dan komunikasi ddengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

“Ini adalah satu hal yang biasa. Dan ini sebelumnya telah dikonsolidasi dan dikomunikasikan dengan Bang Syamsul oleh DPP. Dan keputusan ini demi masa depan Golkar yang lebih baik,” katanya.

Pria yang juga Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD Sumut ini juga menegaskan, dengan dinonaktifkannya Syamsul Arifin dari jabatan Ketua DPD 1 Golkar, tidak dan bukan menunjukkan adanya  perpecahan di tubuh Golkar, khususnya Golkar Sumut.

Terkait target di Pemilu 2014, mantan calon Wali Kota Medan ini menerangkan, Golkar Sumut tetap optimis untuk menjadi partai yang meraih suara yang signifikan pada pemilu nantinya. “Insya Allah, kita tetap eksis di Pemilu 2014 mendatang. Dan ini dalam rangka perbaikan rakyat Sumut,” ungkapnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut lainnya, Chaidir Ritonga menyambut keputusan DPP tersebut adalah hal yang terbaik, selanjutnya DPD Sumut sendiri tetap satu sikap demi suksesnya pembangunan yang sejahtera berdasarkan kerakyatan, konsolidasi partai yang dimulai sejak 2010 sampai saat ini. Hal ini juga terkait kaderisasi 10 juta kader yang difokuskan tahun 2011 dan suksesi pemilu mulai dari pemilu kepala daerah, legislatif hingga presiden.

Seperti diketahui, selang sepekan setelah berstatus terdakwa perkara dugaan korupsi APBD Langkat tahun 2000-2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keppres penonaktifan Syamsul. Syamsul sendiri saat ini masih menjalani penahanan di Rutan Salemba dan kasusnya masih dalam tahap persidangan di pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor), Jakarta. (ril/sam)

Kajatisu: Kasus Alkes USU Prioritas Utama

Janji Lunasi Utang Penanganan Korupsi

MEDAN-Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kajatisu), AK Basuni Masyarif, memastikan bakal ada pejabat atau mantan pejabat di Universitas Sumatera Utara (USU) yang dijadikan tersangka dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan (Alkes) di Fakultas Kedokteran USU senilai Rp39 miliar.

Pernyataan tersebut dilontarkan kajatisu pengganti Sution Usman Adjie ini Rabu (27/8) di kantornya di Jalan AH Nasution. “Saya sudah dengar kasus itu (korupsi alkes FK USU) secara gamblang, namun belum mendapatkan laporan mendetail,” tegas kajati yang baru sepekan lebih bertugas di Kejaksaan Tinggi tersebut. Sepengetahuannya, kasus tersebut masih terus diusut di Pidsus. “Yang jelas dari semua saksi yang diperiksa bakal ada yang akan dijadikan tersangka,” tegasnya.

Basuni masih enggan membeber siapa calon tersangka dan jumlah kerugian negara dari kasus tersebut. “Belum..belum bisa kita jabarkan siapa saja yang diperiksa dan berapa kerugian negera. Kita tidak mau mengeluarkan statemen yang membuat si terperiksa menjadi ketakutan,” tegas Basuni.

Basuni berjanji menjadikan kasus dugaan korupsi Alkes di FK USU sebagai prioritas utama bagi dirinya selama bertugas di Sumut. “Kasus ini menjadi prioritas utama, karena ini bagian utang Kejatisu yang masih tertinggal dan masih belum terselesaikan. Kasus itu akan kita usut,” tegas Basuni.

Dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) terjadi pada 2010 dengan nilai Rp39 miliar. Sejauh ini sejumlah pejabat dan mantan pejabat USU telah diperiksa untuk dimintai keterangan, termasuk sejumlah profesor. Di antaranya, SYP, DM, KHY dan GLN.

Selain kasus Alkes USU, kasus mengendap di Kejatisu yang diakui Basuni sebagai utangnya antara lain dugaan korupsi APBD Dinkes Sergai: Pembangunan Rumah Sultan Sulaiman, alkes dan obat 2007-2008. Dugaan korupsi Dinas Pendidikan Medan: soal pembangunan kelas internasional SMA senilai Rp1,2 ,iliar tahun 2008 (lihat grafis).
Semua pejabat yang bertanggung jawab sudah dipanggil penyidik dengan alasan klarifikasi di bidang Pidsus. Namun sejauh ini belum ada keterangan, apakah kasusnya dilanjutkan atau dihentikan. (rud)

DPR Perjuangkan Protap dan Sumtra

Anggap Grand Design Bukan Hal Mutlak

JAKARTA-Bola panas pemekaran sejumlah daerah di provinsi Sumatera Utara (Sumut), sepertinya masih berada di tangan legislatif dan eksekutif di Sumut. Alasan menyerahkan keputusan pemekaran kepada pemerintah pusat menjadi tidak relevan karena saat ini DPR RI sedang menunggu rekomendasi dari DPRD Sumut dan gubernur.

Komisi II DPR RI bahkan sudah menyetujui pemekaran Provinsi Tapanuli (Protap) dan Provinsi Sumatera Tenggara (Sumtra) serta empat kabupaten/kota di Sumut. Komisi II DPR beranggapan, desain besar (grand design) penataan daerah tahun 2010-2025 yang disusun kemendagri dan menetapkan Sumut hanya layak tambah satu provinsi lagi, bukanlah desain kaku. Terlebih, grand design tersebut belum pernah dibahas dengan Komisi II DPR guna mendapat persetujuan.

Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap mengakui, usulan pembentukan Protap dan Provinsi Sumtra, dan juga pemekaran Simalungun (Simalungun Hataran), Langkat (Kabupaten Aru dan Kabupaten Langkat Hulu), dan Karo (Kota Berastagi), sudah pernah dibahas dan tinggal melanjutkan. “Sudah tercatat dan tinggal perlu rekomendasi dari DPRD Sumut dan gubernur Sumut,” terang Chairuman Harahap kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin (27/4).

Mantan Deputy Kantor Menkopolhukam Bidang Hukum itu memastikan, DPR akan punya sikap tersendiri, yang bisa saja berbeda dengan sikap pemerintah. “Ini semua (usulan pemekaran dari Sumut, Red), pasti kita bahas. Kita akan lihat persyaratan-persyaratannya,” ujarnya.

Bagaimana dengan grand design yang sudah dibuat kemendagri dan Sumut dinyatakan hanya layak tambah satu provinsi? Chairuman menjelaskan, penyusunan grand design itu dulunya atas permintaan Komisi II DPR. Hasilnya, meski oleh kemendagri sudah dirilis pekan lalu, hingga kini belum pernah bicarakan dengan Komisi II DPR yang membidangi masalah pemerintahan dalam negeri itu.

Kalau toh nanti DPR menyetujui, lanjutnya, grand design itu bukanlah acuan kaku dalam pembahasan aspirasi pemekaran. Bagi DPR, grand design tetap tidak bisa menghambat aspirasi rakyat yang menghendaki pemekaran.
“Grand design itu kan sifatnya hanya rancangan, bukan mutlak, tapi tergantung aspirasi masyarakat dan kebutuhan pertumbuhan wilayah. Jadi tidak kaku,” terang politisi dari Partai Golkar itu.

Begitu pun mengenai gagasan kemendagri mengenai perlunya waktu tiga tahun sebagai daerah persiapan sebelum menjadi daerah otonom, Komisi II DPR juga belum menyatakan sikap. Sebagai ketua Komisi II DPR, Chairuman berpendapat, konsep daerah persiapan itu tidak ada bedanya dengan model Kota Administratif sebagaimana pernah diterapkan di era Orde Baru.

Menurut Chairuman, model Kota Administratif dulunya malah menyulitkan pemerintahan. Dan sekarang, lanjutnya, eranya sudah beda, tidak lagi kekuasaan menguat di eksekutif (executive heavy). Sekarang, posisi DPR dan pemerintah sejajar. Karenanya, DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat, kata Chairuman, harus memperjuangan aspirasi rakyat. “Dan supaya ada aspirasi politik yang ditampung oleh DPR,” terang Chairuman.

Sementara itu, anggota DPR RI asal Sumut Iskan Qolba Lubis melihat Provinsi Sumatera Tenggara (Sumtra) paling layak menjadi provinsi baru di Sumut. “Secara administratif tidak ada masalah karena sudah mendapat dukungan penuh dan solid dari 5 kabupaten/kota dan bahkan kabarnya sejumlah daerah tingkat 2 lainnya akan bergabung, seperti pecahan Labuhan Batu,” paparnya.

Kata dia, begitu juga dari aspek prospek pengembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, posisinya yang cukup jauh dari Kota Medan dan berbatasan langsung dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat. Itu artinya berpotensi besar menjadi pusat dan motor pengembangan ekonomi baru bagi wilayah di sekitarnya.
Demikian juga dari segi fisik, lanjutnya, lahan untuk calon ibukota provinsi juga tak bermasalah karena ada sejumlah wilayah yang cocok dijadikan pusat ibukota, bandar udara dan pelabuhan,” papar wakil rakyat asal Daerah Pemilihan 3 Sumut itu.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kemendagri, Djohermansyah Djohan menjelaskan, grand design akan memberikan prioritas pemekaran provinsi yang memiliki dua karakteristik. Pertama, provinsi yang punya wilayah perbatasan dengan negara tetangga. Kedua, provinsi yang memiliki jumlah kabupaten/kota di atas 30. Dengan dua kriteria ini, Sumut paling memenuhi kriteria untuk mendapat prioritas pemekaran.
Dijelaskan Djohermansyah, provinsi yang memiliki jumlah kabupaten/kota lebih dari 30 biasanya memiliki problem rentang kendali pemerintahan. “Rentang kendalinya tergolong besar jika lebih dari 30 kabupaten/kota,” terang Djohermansyah akhir pekan lalu.

Dari 33 provinsi yang ada saat ini, Sumut merupakan satu-satunya provinsi di Pulau Sumatera yang jumlah kabupaten/kotanya lebih dari 30, yakni 33 kabupaten/kota. Untuk provinsi yang ada di pulau Jawa, yang jumlah kabupaten/kotanya di atas 30 hanya ada dua provinsi, yakni Jawa Tengah dengan 35 kabupaten/kota dan Jawa Timur dengan 38 kabupaten/kota. Sedang untuk Kalimantan, Sulawesi dan wilayah timur Indonesia, tak satu pun provinsi yang punya kabupaten/kota lebih dari 30.

Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho berpandangan, Provinsi Sumatera Utara akan lebih baik jika tidak dimekarkan menjadi beberapa  provinsi. “Kita menunggu evaluasi dari Pansus pemekaran. Mimpi saya, untuk provinsi tidak ada pemekaran,” ungkap Gatot, Jumat (22/4) malam.

Gatot beralasan, Sumut memiliki keberagaman agama, etnis dan sebagainya sebagai sebuah keunikan. “Kalau dimakerkan, maka keunikan itu akan terbagi,” kata Gatot memberi alasan.
Dijelaskannya, substansi pemekaran adalah pelayanan publik, pemerataan infrastruktur dan ekonomi. Namun, saat ini dalam koridor ekonomi baik pusat dan daerah telah berupaya untuk mengintegrasi hal tersebut. (sam/ila)

Dua Panser Siaga, Lokasi Tunangan Jadi Ring Satu

Ketika SBY Resmi Lamar Putri Hatta Rajasa untuk Ibas

Selangkah lagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa besanan. Tadi malam, SBY resmi melamar Siti Ruby Aliya, putri sulung Hatta, untuk Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), putra bungsunya. Bagaimana suasana pertunangan ala Palembang itu? Lantas, kapan pernikahan tersebut bakal dihelat?

Naufal Widi Asmoro, Jakarta

SBY dan rombongan tiba di kediaman Hatta Rajasa di kompleks Fatmawati Golf Mansion pukul 20.15. Meski dikabarkan hanya membawa keluarga inti, rangkaian kendaraan rombongan presiden itu tergolong panjang. Tidak kurang dari 25 kendaraan masuk dalam iring-iringan yang bergerak dari istana tersebut. Termasuk dua bus berukuran sedang dan dua minibus.

SBY dan Ani Yudhoyono menumpang Mercy hitam bernomor polisi B 1909 RFS. SBY tampak mengenakan kemeja batik lengan panjang cokelat, sedangkan Ani memakai kebaya cokelat keemasan.

Di belakangnya, setelah mobil walpri (pengawal pribadi) presiden, menyusul minibus yang ditumpangi Ibas. Anggota DPR itu tampak duduk di kursi bagian tengah sebelah kiri, berseberangan dengan kakaknya, Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara itu, istri Agus, Annisa Pohan, duduk persis di belakang suaminya. Ibas terlihat mengenakan baju batik hitam.

Beberapa pejabat yang dikenal dekat dengan SBY juga ikut dalam rombongan. Di antaranya, Menko Polhukam Djoko Suyanto dan istri serta Mensesneg Sudi Silalahi. Ipar SBY, Hadi Utomo yang juga mantan ketua umum Partai Demokrat, juga tampak dalam rombongan.

Begitu berhenti persis di depan rumah Hatta, SBY dan Ani disambut Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang ditunjuk untuk mewakili Hatta menyambut calon besannya tersebut.

Sementara itu, pengamanan di kompleks Fatmawati Golf Mansion tampak diperketat dengan adanya hajatan tersebut. Hampir semua pihak yang terlibat menggunakan tanda pengenal. Mulai panitia, anggota keamanan kompleks, hingga petugas kebersihan. Bahkan seluruh penghuni perumahan elite di dekat Rumah Sakit Fatmawati itu diberi tanda khusus.

Karena dinyatakan ring satu untuk presiden, semua yang akan masuk ke kompleks harus menjalani pemeriksaan. Dua panser milik TNI juga diparkir di kompleks perumahan. Wartawan yang hendak meliput hanya diperbolehkan menunggu di pos jaga kompleks yang berjarak lima rumah atau sekitar 40 meter dari tempat acara.
Di kediaman Hatta itu telah terpasang tenda besar berwarna putih di halaman depan dan belakang. Tenda berukuran sekitar 6 meter x 15 meter tersebut dihiasi aneka bunga dan tirai warna emas. Pesta pertunangan itu digelar dengan adat Palembang dan dikemas tidak terlalu resmi.

“Suasananya mirip pesta kebun, dekorasinya seperti berada di taman, karena banyak bunga dan warna dominan kuning keemasan, khas Palembang,” ujar seorang petugas pe!” dekorasi dari Stupa Caspea, dekorator pesta langganan Hatta.

Di dalam rumah dan di halaman belakang disediakan 100 kursi rotan dan 14 meja dengan karpet warna hijau. Tuan rumah juga menghidangkan sekitar 500 porsi masakan khas Palembang untuk menjamu keluarga besar SBY dan keluarga besar Hatta. Bukan hanya makanan besar, kue-kue yang disajikan juga khas Palembang.
Sesuai dengan adat Palembang, Aliya tidak dihadirkan dalam acara silaturahmi dan pengajian tersebut. Didampingi keluarga dan teman-teman dekatnya, Aliya berada di ruang yang terpisah dengan ruang yang digunakan keluarganya untuk menerima rombongan keluarga SBY.

Meski tidak bertemu Ibas dan keluarga besar SBY, tadi malam Aliya tampil cantik dengan kebaya brokat warna hijau dan sanggul modern. Make up-nya tipis dengan sapuan warna cokelat muda. “Dia excited, tapi sekaligus grogi,” ujar Marlen Hariman, penata rias Aliya dan keluarganya.

Lamaran tadi malam adalah kelanjutan hubungan pribadi Ibas dan Aliya yang ternyata sudah berjalan lebih dari empat tahun. “Mereka memang sudah lama pacaran, sekitar empat tahun,” ujar mantan Staf Khusus Ani Yudhoyono, Nurhayati Ali Assegaf.

Nurhayati yang kini menjadi anggota DPR dari Partai Demokrat itu menilai pertunangan Ibas dan Aliya hanya pertunangan dua orang biasa, meski diakuinya memiliki dampak politik yang besar bagi kedua keluarga besarnya. “Mungkin, ini memang sudah takdir Aliya dan Ibas. Kalau dibilang ini nanti jadi pernikahan atas nama politik, saya kira tidak,” katanya.

Nurhayati juga menampik bahwa Aliya dan Ibas adalah hasil penjodohan keluarga SBY dan keluarga Hatta. Dia menilai perkenalan keduanya mungkin terjadi karena hubungan dekat SBY dan Hatta sebagai atasan dan bawahan sehingga memungkinkan Ibas dan Aliya kerap bertemu.

Namun, dia yakin tidak ada niat dari kedua orang tua masing-masing untuk menjodohkan mereka. “Kalau jejaka ketemu gadis, lalu saling suka, kan wajar” Nggak mungkin dijodohkan, anak sekarang mana mau dijodohkan,” katanya.

Sebelumnya, di Istana Negara, kader Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan, Ibas dan Aliya merupakan pasangan yang pas. Dia tidak menampik bahwa hubungan keduanya akan semakin mempererat hubungan Partai Demokrat dengan PAN. “Saya rasa begitu. Kalau perlu, karena sudah sama-sama biru, gabung saja dengan Demokrat,” katanya lantas tersenyum.

Sementara itu, Menkum-HAM Patrialis Akbar yang juga kader PAN mengatakan, hubungan Ibas dan Aliya tidak terkait dengan politik. “Jangan semua dikait-dikaitkan dengan politik,” katanya. Namun, dia mengatakan, hubungan Partai Demokrat dan PAN berjalan dengan baik. “Ada saatnya kita bertanding, ada saatnya kita bersanding,” candanya.

Aliya yang lahir pada 26 April 1986 adalah alumnus Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB angkatan 2004. Setelah lulus ITB, Aliya meneruskan pendidikan ke Inggris. Selain aktif di Yayasan Satoe Indonesia, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat pedesaan, putri sulung Hatta itu aktif di Yayasan Tunggadewi. Yayasan ini mengelola Rumah Pintar atas kerja sama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB).

Setelah keluarga SBY pulang pada pukul 22.35, Hatta tak kuasa menyembunyikan wajah semringahnya. Pria yang terkenal dengan rambut peraknya itu mengawali keterangan dengan memohon maaf kepada wartawan karena terkesan menutup-nutupi rencana pertunangan Aliya dan Ibas. “Tidak elok kalau menyampaikan sesuatu, padahal hal tersebut belum terlaksana,” tuturnya.

Kedatangan SBY ke rumahnya, kata Hatta, memang untuk meminang Aliya bagi Ibas. Keluarga Hatta pun menyatakan menerima. Sebagaimana lazimnya pinangan keluarga Palembang, acara dibuka dengan pembacaan pantun. Namun, Hatta mengaku tidak bisa menirukan lagi karena dirinya membaca teks yang disiapkan sebelumnya.
“Acara berlangsung sebagaimana lazimnya dan penuh keakraban. Kita berdoa bersama memohon ridha Allah, agar niat baik tersebut berjalan tanpa halangan,” tuturnya. Untuk waktu pernikahan, kedua keluarga sudah menemui kata sepakat. “Ancer-ancernya setelah Aliya menyelesaikan studi master dulu Juli mendatang,” tuturnya. Beredar kabar, Ibas akan menikahi Aliya pada perayaan ulang tahunnya yang ke-31 pada 24 November.

Ketika wartawan bertanya tentang implikasi politik pernikahan Ibas-Aliya yang akan berlanjut ke koalisi Demokrat-PAN di Pilpres 2014, Hatta hanya tertawa. “Apa pun yang terbaik untuk bangsa,” elaknya. (*)