DITANGKAP: DPO, Serpin (tengah) yang ditangkap jaksa.
LABUHANBATU, SUMUTPOS.CO – Tim intelijen gabungan Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri Rantauprapat menangkap Serpin (48) pelarian daftar pencarian orang (DPO), Senin (23/11) malam. Serpin diburon dalam kasus korupsi pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) pada Desa Bulungihit, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara tahun anggaran 2017-2019.
DITANGKAP: DPO, Serpin (tengah) yang ditangkap jaksa.
Tim menangkap Sarpin (48) dari persembunyiannya di tengah perkebunan sawit di Dusun Blimbingan Desa Batang Gangsal Kabupaten Indragiri Hilir, Tembilahan, provinsi Riau yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari jalan lintas Timur Jambi-Pekanbaru.
DPO merupakan mantan Kepala Desa Bulungihit, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Kasi Intelijen Kejari Labuhanbatu, Syahron Hasibuan, Selasa (24/11) dalam rilis persnya mengatakan Sarpin merupakan tersangka kasus korupsi pengelolaan APBDesa pada Desa Bulungihit, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara tahun anggaran 2017-2019.
“DPO bersembunyi di rumah kenalannya di areal perkebunan sawit dan mengaku sudah sebulan tinggal bersama dan bekerja membantu di kebun sawit,” kata Syahron.
Lanjut Syahron, DPO mengaku melarikan diri karena menghindari panggilan sebagai tersangka Kejaksaan Negeri Labuhanbatu.
“Setelah dilakukan pengepungan tersangka langsung diamankan oleh tim dan langsung dibawa ke Pekanbaru dan rencana akan dibawa ke Kejari Labuhanbatu untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut,” tandasnya.
Berdasarkan informasi, tersangka kabur usai ditetapkan sebagai tersangka pada Juli 2020 silam. Penetapan status Sarpin sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kejaksaan Negeri Labuhan Batu Nomor: Print-01/L.2.18/F.2/07/2020 tanggal 14 Juli 2020. (fdh/azw)
TERDAKWA: Sulaiman Ibrahim, terdakwa kasus penipuan sewaktu masih menjalani persidangan di PN Medan, beberapa waktu lalu.gusman/sumut pos.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Terdakwa kasus penipuan miliaran rupiah, Sulaiman Ibrahim sudah 6 minggu mangkir bersidang. Hal inipun membuat Ketua Majelis Hakim, Hendra Utama Sutardodo geram dan menegaskan pekan depan pembacaan putusan tetap dibacakan walau tanpa kehadiran terdakwa.
TERDAKWA: Sulaiman Ibrahim, terdakwa kasus penipuan sewaktu masih menjalani persidangan di PN Medan, beberapa waktu lalu.gusman/sumut pos.
Majelis hakim juga memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan untuk mencari tahu keberadaan Sulaiman. Randi mengatakan majelis hakim tampaknya sudah geram dengan ketidakhadiran Sulaiman selama 6 minggu berturut-turut menjelang pembacaan putusan.
“Iya, saya disuruh majelis hakim untuk mencari tahu keberadaan Sulaiman. Dia sakit apa dan dirawat dimana. Majelis hakim juga menyuruh saya mendatangi rumah Sulaiman untuk melihat kondisinya kalau dia memang dirawat di rumah,” kata Randi Tambunan, di PN Medan, Selasa (24/11).
Randi Tambunan menambahkan, majelis hakim juga menegaskan, apabila pekan depan Sulaiman juga tak hadir ke persidangan, maka putusan terhadap dirinya tetap dibacakan. “Hadir tak hadir Sulaiman pekan depan, putusannya tetap dibacakan bang. Gitu kata majelis hakimnya,” tutur Randi Tambunan.
Randi Tambunan menjelaskan, saat ini dirinya sedang mencari alamat rumah Sulaiman. “Karena perintah hakim, saya harus mendatangi rumah Sulaiman. Alamatnya sesuai dengan surat dakwaan itu bang,” beber Randi Tambunan.
Sebelumnya, JPU menuntut Sulaiman selama 3 tahun penjara karena dinilai terbukti melanggar Pasal 378 KUHPidana.
Untuk diketahui, sesuai jadwal, pembacaan putusan terhadap Sulaiman dibacakan majelis hakim pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 2020. Namun dengan alasan sakit, sidang ditunda sampai 2 minggu.
Tepat pada hari Selasa tanggal 3 November 2020, sidang kembali dibuka. Lagi-lagi masih dengan alasan sakit, sidang pembacaan putusan Sulaiman kembali ditunda.
Ketua Majelis Hakim, Hendra Utama Sutardodo didampingi dua hakim anggota masing-masing Syafril Batubara dan Sri Wahyuni Batubara kembali menunda sidang hingga 2 minggu tepatnya pada hari Selasa tanggal 17 November 2020.
Namun anehnya, sidang kembali ditunda selama 2 minggu. Sulaiman kembali tidak hadir dengan alasan sakit.
Sebelumnya Syafril Batubara, salah satu hakim anggota yang juga menjabat sebagai Humas PN Medan, ketika dikonfirmasi wartawan mengatakan sidang pembacaan putusan ditunda karena Sulaiman sakit.
Ketika ditanya mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) apakah dibenarkan menunda sidang hingga berminggu-minggu menjelang pembacaan putusan, hakim Syafril menjawab hal itu sebenarnya tidak dibenarkan.
“Kalau SOP-nya memang sudah terlalu lama berminggu-minggu ditunda untuk putusan. Tapi kan begini, surat sakit itu ditandatangani oleh dokter yang sudah disumpah jabatan. Tetapi kalau hakim nanti merasa itu ada rekayasa tentang itulah kita bilang. Kita dapat bocoran atau apa bahwa sebenarnya dia (Sulaiman) nggak sakit atau sebenarnya nggak ada diperiksa dokter atau surat itu sebenarnya bukan dikeluarkan oleh dokter berkompeten kita akan panggil,” kata hakim Syafril.
Sementara itu, kuasa hukum saksi korban HTM Razali, Mhd Erwin SH, MHum sangat menyayangkan sikap majelis hakim yang mengadili perkara ini.
“Peradilan sehat sudah tak nampak lagi dalam perkara penipuan uang miliaran rupiah dengan terdakwa Sulaiman Ibrahim. Korban sangat kecewa dengan sikap majelis hakim. Sudah tidak benar sidang ditunda sampai 6 minggu menjelang pembacaan putusan,” tandasnya. (man/azw)
JASAD: Rajin Ginting (50) ditemukan tewas di Rumah Makan Serit Jalan Setia Budi Ujung, Selasa (24/11).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rajin Ginting (50), pria mengidap gangguan jiwa ditemukan tewas di depan Rumah Makan (RM) Serit Jalan Setia Budi Ujung Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan, Selasa (24/11), sekira pukul 12.00 WIB. Korban merupakan warga Kota Medan dan orang pertama yang menemukannya meninggal dunia, Titis (58) warga Jalan Setia Budi Ujung Gang Seroja Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan.
JASAD: Rajin Ginting (50) ditemukan tewas di Rumah Makan Serit Jalan Setia Budi Ujung, Selasa (24/11).
Kapolsek Delitua AKP Zulkifli Harahap SH melalui Kanit Reskrim Iptu Martua Manik SH mengatakan, bahwa korban masih memiliki keluarganya, yakni Donal Sinulingga (40) warga Jalan Jamin Ginting Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan dan Serieluanta Beru Gurusinga (30) warga Jalan Setia Budi Ujung Gang Seroja Kelurahan Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan. “Kedua orang tersebut merupakan keponakan kandung dari korban,” kata Martua Manik kepada sejumlah wartawan di Medan.
Menurutnya, Unit Lantas Polsek Delitua, Bripka Rusdin Sinulingga mendapat info ada nya temuan mayat di depan RM Serit melihat korban tewas dalam kondisi telungkup. Kemudian, lanjutnya, setelah diperiksa kondisi mayat dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
“Menurut keterangan para saksi dan warga bahwa korban sudah lama tidur di emperan rumah warga di sekitar Simpang Selayang,” terang Martua Manik.
Dikatakannya, pihak keluarga korban bermohon agar jenazah korban tidak dilakukan otopsi karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
“Setelah pihak keluarga membuat surat permohonan dan pernyataan, selanjutnya membawa jenazah korban untuk dikebumikan,” pungkasnya. (mag-1/azw)
CEO Global Tanoto Foundation, Satrijo Tanudjojo, menekankan bahwa masa pandemi menjadi momentum bagi tenaga pendidik untuk mengubah paradigma dalam pembelajaran.
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Peningkatan kualitas pendidikan menjadi fokus kegiatan Tanoto Foundation, organisasi filantropi yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto. Berbagai inisiatif yang dijalankan Tanoto Foundation sejak 1981 adalah untuk menangani berbagai masalah pendidikan di Indonesia, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan , skor siswa Indonesia di urutan ke-74 dari 79 negara yang disurvei dalam kemampuan matematika, sains, dan membaca. Untuk itu, Tanoto Foundation menjalankan Program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran) dengan target meningkatkan peringkat global Indonesia di sektor pendidikan,” kata Belinda Tanoto, anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation, dalam sambutannya di Tanoto Facilitator Gathering 2020 yang digelar virtual, Selasa (24/11).
Untuk mencapai target tersebut, Tanoto Foundation bermitra dengan 21 kabupaten/kota dan 10 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di lima provinsi, yaitu Sumatera Utara, Jambi, Riau, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Melalui program PINTAR, kemitraan ini bertujuan membangun model pembelajaran aktif dan kreatif yang sesuai dengan ekosistem pendidikan di Indonesia, sekaligus menyebarkan model tersebut ke sekolah-sekolah non-mitra.
“Untuk itu, peran fasilitator sebagai ‘penggerak’ Program PINTAR sangat penting, dan peran tersebut semakin krusial saat pendidikan mengalami tantangan dengan adanya pandemi Covid-19,” kata Belinda.
Tanoto Foundation bekerja berdasarkan tiga prinsip, yaitu fokus pada dampak, berbasis pada data, dan kemitraan. Pertama, Program PINTAR ini dirancang untuk menghasilkan dampak yang berkelanjutan bagi penerimanya. “Hingga November 2020, kami telah memberi manfaat lebih dari 17.500 guru dan dosen di 21 kabupaten atau kota di Indonesia,” lanjutnya.
Kedua, Tanoto Foundation menggunakan pendekatan berbasis data dan bukti agar Program PINTAR lebih terarah dan efektif. Misalnya, bersama Asia Philanthropy Circle dan Djarum Foundation pada tahun 2017, mereka menunjuk McKinsey & Company untuk melakukan studi tentang area-area intervensi yang paling berdampak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
“Prinsip ketiga yaitu kemitraan karena kami menyadari, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, kami tidak bisa bekerja sendiri. Untuk itu, kami menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga pemerintah dan swasta, dari tingkat lokal, regional hingga internasional,” tambah Belinda Tanoto.
TFG 2020 yang digelar pada 19, 24, dan 25 November adalah penyelenggaraan yang pertama, dengan menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem, Mantan CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan, Psikolog dan Humanitarian Alissa Wahid, Menteri Pendidikan Nasional 2009-2014 Mohammad Nuh, Ketua Dewan TIK Nasional Ilham Akbar Habibie, dan pembicara inspiratif lainnya.
Tanoto Facilitator Gathering (TFG) adalah acara tahunan untuk memberi apresiasi kepada fasilitator Program PINTAR yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas di daerah mitra, serta dosen di LPTK mitra Tanoto Foundation. Dalam acara tersebut, para fasilitator juga diberi pelatihan untuk mengembangkan kapasitas dalam pembelajaran, saling belajar dan membangun jejaring antar fasilitator, juga mendengarkan inspirasi dari berbagai pembicara dan pengisi acara.
TFG 2020 yang digelar pada 19, 24, dan 25 November adalah penyelenggaraan yang pertama, dengan menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem, Mantan CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan, Psikolog dan Humanitarian Alissa Wahid, Menteri Pendidikan Nasional 2009-2014 Mohammad Nuh, Ketua Dewan TIK Nasional Ilham Akbar Habibie, dan pembicara inspiratif lainnya.
Sementara itu CEO Global Tanoto Foundation, Satrijo Tanudjojo, menekankan bahwa masa pandemi menjadi momentum bagi tenaga pendidik untuk mengubah paradigma dalam pembelajaran. Jika sebelum pandemi, guru mengajar di kelas sesuai dengan kurikulum dan murid mendengarkan dan belajar, maka dibutuhkan pendekatan berbeda agar murid bisa mengikuti pembelajaran dengan baik saat disampaikan secara daring.
“Kita kembali ke hakikat awal dari pembelajaran dengan memberikan arahan kepada murid dan murid lah yang menjadi aktor di dalam pembelajaran. Mereka akan belajar dari konten digital, dari sumber yang sudah ada Dan tugas Guru adalah untuk memandu konten apa yang perlu dipelajari tanpa membatasi wawasan yang murid bisa belajar dari konten digital itu. Dalam situasi ini, kita diajak untuk merenungi arti dan inti pendidikan, yaitu menempatkan siswa pada pusat pembelajaran. Student at the center of the learning,” kata Satrijo Tanudjojo. (rel)
Beragam cara perempuan-perempuan dari kelas ekonomi bawah menutupi biaya hidup sehari-hari. Ada yang menjadi pembantu rumah tangga, buruh cuci pakaian tetangga, dan sebagainya. Hantaman pandemi Covid-19 memaksa sebagian di antaranya nyambi menjadi pemulung.
Foto: Dame/Sumut Pos BURUH CUCI: Masriani Tanjung, seorang buruh cuci, di rumah petaknya yang berukuran 3 x 3 meter, di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan. Nenek dua cucu ini setiap hari mencuci dan menyeterika pakaian tetangga untuk upah.
Masriani Tanjung, seorang buruh cuci, sedang sibuk menyortir pakaian kotor dari sebuah goni plastik, saat dikunjungi di rumah petaknya yang berukuran 3 x 3 meter, di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan, Minggu (22/11) malam lalu.
“Eh, masuklah. Ini lagi menyortir pakaian tetangga yang mau dicuci besok. Baru kami jemput tadi,” tutur nenek usia 60 tahun ini tersipu, sembari membenahi jilbabnya yang kedodoran.
Di ruangan yang terasa pengap itu, cucunya FS alias Dila, sedang tiduran di atas tilam 4 kaki bertutup sprei lusuh yang digelar di atas lantai. Anak perempuan 10 tahun itu sedang melihat-lihat hape Android–pemberian tetangga kepada abangnya, AHH alias Arif (13), murid kelas 2 SMP. Buku pelajaran terbuka di sebelahnya.
“Dila lagi belajar online,” terang Masriani yang lebih dikenal dengan sebutan Nek Arif itu, sembari menggeser-geser sejumlah barang agar ada ruang lapang.
Tak banyak tempat untuk tamu. Setelah tilam di sisi kiri kamar, kamar dipenuhi dengan sebuah meja reyot di dekat pintu, tumpukan barang-barang dan goni-goni di sisi depan dan kanan pintu. Ruang lapang tersisa sekira 1×1 meter. Di sanalah perempuan yang kerab disapa Nek Arif sedang menyortir baju kotor yang akan dicucinya demi upah.
“Di sinilah kami tidur, makan, belajar, menyetrika baju, serta menerima tamu,” ungkap nenek dua cucu itu, sembari mengembangkan senyum di wajahnya yang legam dan penuh kerut.
Saban malam, ia dan dua cucunya tidur bersempit-sempitan di ruangan itu. Cucu laki-lakinya tidur di lantai. Ia dan Dila tidur di atas tilam.
Sebenarnya ada ruangan lain di sebelah kanan kamar itu. Yakni dapur dan kamar mandi. Disebut dapur karena di sanalah ia memasak. Tetapi sebenarnya lebih cocok disebut gudang barang-barang bekas. Di sebelah ruangan berdinding seng itu, ada kamar mandi.
Di belakang ruang tidur mereka, ada ruangan seluas 1×3 meter yang mirip kamar kecil karena dikelilingi dinding tetangga. Penuh tumpukan barang juga. “Kalau cucu laki-laki saya nanti sudah lajang, ia bisa tidur di sana,” katanya dengan raut wajah yang menunjukkan ekspresi: ‘ya begitulah’.
Masriani bukan janda. Tapi juga bukan perempuan bersuami. “Saya ditinggal suami tahun 1993 lalu. Alasan suami, mau cari anak laki-laki,” tutur ibu satu anak perempuan itu pelan. Saat ditinggal suami, putri satu-satunya masih berusia 5 tahun.
Ia mengaku tidak dicerai dan juga tidak menuntut cerai. Alasannya: “Kakek orang ini (sambil menunjuk cucunya) saat itu masih mau mengirimkan biaya untuk putrinya. Jadi buat apa cerai? Nanti malah dihentikan pula bantuannya,” katanya malu-malu.
Untuk biaya hidup, mantan guru honor tamatan PGSLTP ini menerima jasa permak pakaian. Seperti memperbaiki baju robek, memotong baju/celana, pasang kancing, bahkan menjahit jilbab sederhana. Sayang, hasilnya tidak terlalu memadai untuk menopang hidup. Paling banter dapat Rp 200 ribu -300 ribu sebulan.
Karena itu, sambil menjaga putri kecilnya, ia menerima penitipan 2-3 anak tetangga di rumah.
Kenapa tidak mengajar lagi?
“Saat itu tak ada yang jaga anak di rumah. Lagipula waktu itu saya agak stres karena ditinggal ayah anak saya. Daripada marah-marah ke murid, lebih baik saya berhenti mengajar,” ungkapnya.
Setelah putrinya dewasa dan menikah, ia berhenti momong anak tetangga. Namun tak berapa lama, rumah tangga putrinya bermasalah. Ia bercerai dan kedua anaknya –Arif dan Dila—ditinggalkan pada Masriani. “Mau bagaimana lagi… ya sayalah yang rawat,” katanya pasrah.
Beban bertambah dengan dua cucu, sementara penghasilan ‘begitu-begitu saja’, Masriani pun putar otak. Sejak 2015 lalu, ia mulai menawarkan tenaga untuk mencuci pakaian ke beberapa tetangga. Pakaian dicuci-setrika di rumahnya. “Cuci seterika baju kotor dihargai Rp7.000 per kg. Kadang dapat 5 kg per hari. Kadang lebih, kadang kurang,” cetusnya.
Mengapa memilih jadi buruh cuci? “Jam kerjanya fleksibel. Bisa dikerjakan di rumah sembari jaga cucu,” ungkapnya seraya tersenyum manis.
Langganannya ada 3-4 keluarga. Ia menjemput sendiri baju-baju itu. Sebulan ia bisa mendapat penghasilan kurang lebih Rp 2 jutaan. Upah itu masih kotor, karena masih terpotong untuk membeli deterjen (mencuci) dan biaya listrik (menyetrika). Air diperoleh dari sumur kecil yang digali di depan kamar tidurnya.
Maret 2020, pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Beban wanita tua ini pun makin besar. Maklum, kedua cucunya terpaksa tinggal 24 jam di rumah. Sementara dirinya tetap harus mencuci-seterika pakaian, memasak, dan pekerjaan domestik lainnya.
“Selama pandemi ini, saya mesti mendampingi cucu belajar online. Biasanya mereka ke sekolah… kini banyak di rumah. Saya jadi terhalang kerja. Hape yang bisa internet tak punya. Untung Lebaran kemarin, ada tetangga yang ngasih hape bekasnya untuk cucu saya. Itulah yang mereka pakai belajar online. Kadang saya terkantuk-kantuk mendampingi mereka belajar,” tuturnya mulai sedikit menaikkan nada suara.
Foto: Dame/Sumut Pos MEMULUNG: Masriani Tanjung, berdiri di gang sempit di depan pintu rumah petaknya di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan. Barang-barang bekas yang belum disortir sebagian diletakkan di gang.
Untuk menambah penghasilan, ia memutuskan nyambi jadi pemulung. Sambil berjalan kaki menjemput baju kotor, ia membawa goni. Di jalanan, warkop, cafe, atau kedai ia memulung barang-barang bekas yang masih dapat dijual. Besi, tembaga, botol-botol plastik, karton-karton, dan sebagainya.
Hasil memulung, ia bisa memperoleh rata-rata Rp50 ribu per minggu. Lumayan sebagai tambahan untuk membayar token listrik Rp25 ribu per minggu, membeli lauk pauk, minyak goreng, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Agar pembagian waktunya efektif, ia biasa mencuci pakaian kotor mulai pukul 7 pagi hingga 11 siang. Usai menjemur pakaian, ia istirahat sembari mendampingi cucu belajar. Sore, ia pergi memulung sekaligus menjemput pakaian kotor. Kadang ia dibantu cucunya Dila.
Malam kerjakan pekerjaan domestik sembari dampingi cucu belajar, lalu tidur. Pukul 3 pagi, ia bangun lagi untuk menyeterika pakaian sampai subuh. Salat, lalu memasak untuk mereka bertiga.
Masriani mengaku, terkadang merasa kelelahan di usianya yang sudah 60 tahun. Tenaganya habis untuk memulung, menjemput cucian, mencuci, menyetrika, dan mengantar kembali cucian itu. Rasa lelah membuat emosinya kadang meledak saat cucunya melakukan kesalahan. Tak jarang terdengar teriakan-teriakan marah dari rumah mereka.
“Abis cemmana? Kadang cucu melawan saat disuruh. Sementara saya capek. Uang tak ada,” katanya tanpa terselip nada membela diri.
Selama pandemi Covid-19, Masriani mengaku belum pernah memperoleh bantuan sosial dari pemerintah. Pasalnya, KTP-nya sudah lama hilang. Tinggal fotokopinya. Itupun masa berlakunya sudah mati.
Pernah ia bertanya soal bantuan pada Lurah Medan Selayang. Ia diarahkan untuk mengurus surat pindah dari alamat rumahnya yang lama di Kelurahan Beringin. Namun setiap kali dia ke kantor lurah, petugas beralasan blangko KTP kosong. Ia disuruh ke kantor polisi mengurus KTP hilang.
Di kantor polisi, ia diminta uang administrasi Rp30 ribu. Masriani merasa berat karena baginya nilai uang itu cukup besar.
Untunglah, beberapa bulan belakangan ini, ada bantuan beras umat dari masjid tempat cucunya bersekolah. “Cucu saya Arif dianggap berprestasi di sekolah (dikelola masjid). Ia bertugas baca azan dua kali sehari. Jadi kami dapat jatah 10 kg beras per bulan,” katanya.
Setiap hari, ia menjemur beras itu karena berkutu. Begitupun, ia tetap bersyukur karena tidak perlu lagi beli beras. “Untuk lauk, kemarin baru saja ada teman yang ngasih ikan asin. Itulah lauk kami,” katanya polos.
Foto: Dame/Sumut Pos DAPUR PLUS GUDANG: Masriani Tanjung, di dapur berdinding sekaligus gudang di sebelah kamarnya di Jalan Pasar 7 Gang Kantil 5A, Padang Bulan, Kota Medan. Nenek buruh cuci ini menyimpan sebagian barang-barang bekas di dapur ini.
Bantuan lain datang dari ‘suaminya’, yang kembali mengontak Masriani setelah sadar tidak punya anak dari istri kedua maupun istri ketiga. “Sejak beberapa waktu lalu, kakek mereka memberi jajan Rp 5.000 per hari. Trus, uang sekolah Rp 100 ribu per bulan per cucu,” kisahnya.
Masriani sendiri tetap tidak dinafkahi. Pernah coba diminta, tapi jawab si ‘suami’: “Masih mending kukasih untuk cucumu! Atau mau kuhentikan?” ancamnya.
Masriani hanya diam tak berani melawan.
Meski hidupnya keras, keluhan Masriani sederhana saja. Sudah dua minggu terakhir ia tidak dapat mengambil isi tabungannya di BRI. Masalahnya ya KTP tadi. Padahal saban ada upah dari cuci bajunya, ia tabungkan ke BRI agar tidak hilang. Uang tabungannya di BRI ada Rp1,5 juta. “Gimanalah menarik uang saya? Bank nggak mau kasih tanpa KTP,” katanya memelas.
Tentang bantuan pemerintah, ia juga tidak ngotot. Meski tetap berharap dapat bansos jika memungkinkan. “Pernah ngadu ke Kepling, dijanjikan akan diurus. Tapi tak ada sampai sekarang,” ungkapnya.
Gaji PRT Dipotong, Nyambi Pemulung
Selain Masriani Tanjung, seorang perempuan ekonomi bawah lainnya, juga memilih nyambi jadi pemulung selama pandemi Covid-19. Mariani Nasution namanya. Usianya saat ini 42 tahun. Suaminya mencari nafkah sebagai tukang becak mesin.
“Sebelum pandemi, penghasilan suami dari menarik becak mesin bisa Rp 150 ribu per hari. Tetapi sebagian besar habis untuk membeli bensin, biaya makan di warung, bengkel, uang rokok, dan uang minum,” katanya mengawali, saat ditemui di rumah sewa milik majikannya, di Jalan Pasar 7, Gang Kantil 5 A, Padang Bulan, Kota Medan.
Sebagai istri, ia hanya mendapat Rp20 ribu per hari untuk uang belanja. “Cobalah bayangkan… cemmana belanja rumah tangga dengan uang itu,” keluhnya muram.
Untuk membantu menutupi biaya rumah tangga, ibu 3 anak ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Gajinya Rp 1,2 juta per bulan. Jumlah itu untuk pekerjaan memasak, mencuci, membersihkan rumah, sekaligus menjaga anak majikan.
Namun sejak pandemi Covid-19 melanda, pendapatan suaminya menurun drastis. Dari rata-rata Rp 150 ribu per hari, turun menjadi Rp 50 ribu. Itupun kadang tidak tercapai.
“Habislah untuk biaya bensin dan biaya bengkel motornya yang sudah tua. Suami mengurangi uang belanja. Kadang dikasihnya Rp5.000 beli sayur. Tapi ia yang bertugas membeli beras. Cuma… berapalah yang bisa dibelinya? Paling 1-2 kg beras,” ucapnya makin murung.
Foto: Dame/Sumut Pos MEMULUNG: Mariani Nasution bersama kedua putrinya, menunjukkan barang-barang hasil memulung di rumah sewa milik majikannya di Jalan Pasar 7, Padang Bulan, Kota Medan. Ia terpaksa memulung karena penghasilan suami menurun drastis sejak pandemi. Gajinya sebagai PRT juga dipotong majikan.
Kesulitan ekonomi kerap memicu pertikaian di tengah keluarga kecil mereka. Sang suami kerap menuduh dirinya tidak menghormati suami. Sementara Mariani tak terima dicurigai suaminya soal alokasi uang. “Sejak menikah hanya ngasih uang Rp20 per hari. Turun menjadi Rp15 ribu. Belakangan malah tidak pernah lagi dikasih uang belanja. Tapi masih dicurigai. Cemmana nggak ribut?” katanya dengan wajah ketat.
Tekanan ekonomi keluarganya makin terasa berat, setelah majikannya mengurangi gajinya dari Rp 1,2 juta menjadi Rp 800 ribu, awal Oktober lalu. “Majikan bilang, gaji saya dipotong tapi saya tidak usai lagi memasak dan membersihkan rumah,” ungkapnya.
Merasa gaji PRT semakin tidak cukup, sejak pertengahan Oktober kemarin, Mariani terpaksa nyambi menjadi pemulung barang-barang bekas. Maklum, pendidikannya hanya sampai kelas 3 SD. Ia tidak punya keterampilan lain selain pekerjaan rumah tangga.
Setiap malam, usai kerja di rumah majikan, ia membawa goni dan mengajak kedua putrinya (seorang gadis remaja penyandang disabilitas dan seorang gadis kecil usia 5 tahun) berjalan kaki menelusuri jalanan di Padang Bulan. Sepanjang jalan, ketiganya memunguti barang-barang bekas yang masih bisa dijual.
Keesokan harinya, sang suami yang menyortir barang-barang itu untuk dijual kembali.
Sebagai keluarga yang rentan secara ekonomi, Mariani mengaku belum pernah mendapat bantuan sosial dari manapun, baik pemerintah maupun swasta. Pasalnya mereka belum terdaftar di kelurahan setempat. “KTP saya masih beralamat di rumah mama saya di Tembung,” katanya singkat. Sementara KTP suaminya, masih beralamat di rumah mantan istri.
Tak terlalu berharap bakal dapat perhatian dari pemerintah, hanya satu harapan Mariani. Majikan mau mengembalikan gajinya ke angka semula, yakni Rp1,2 juta per bulan. “Berapalah hasil memulung ini? Paling banyak Rp200 ribu sebulan. Padahal udah ngos-ngosan mencari,” katanya.
Apalagi belakangan, ia melihat jumlah kaum ibu bahkan kaum bapak yang ikut memulung, makin banyak saja. “Mungkin efek pandemi. Biar hasilnya agak banyak, kami memulung makin lama. Kadang pulang jam 1 atau 2 malam. Bahkan pernah hingga jam 3 pagi,” ucapnya.
Ia bersyukur bebannya mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi Covid-19, tidak ada. Putri sulungnya yang disabilitas tidak pernah bersekolah di Sekolah Luar Biasa karena ketiadaan biaya. Sementara putri bungsunya masih kecil. Belum masuk sekolah.
Penurunan Penghasilan Picu Ketegangan
Masriani dan Mariani hanyalah dua dari ratusan atau bahkan mungkin ribuan wanita di Indonesia –termasuk Kota Medan– yang terdampak pandemi Covid-19.
Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), pihaknya menerima 892 pengaduan langsung hingga Mei 2020. Angka ini setara dengan 63% dari total pengaduan sepanjang 2019. Mayoritas laporan masuk pada April atau bulan kedua kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berjalan di sejumlah daerah Indonesia. Angkanya mencapai 232 laporan. Lebih banyak dari bulan sebelumnya yang 181 laporan.
Sedangkan, pada Mei sebanyak 207 laporan. Ranah kasus kekerasan paling banyak dilaporkan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)/ranah personal (RP). Persentasenya mencapai 69% dari total kasus sepanjang Januari-Mei 2020. Disusul kekerasan di ranah komunitas (30%) dan negara (1%).
Bentuk KDRT/RP yang paling banyak berupa kekerasan psikis, yakni 398 laporan. Lalu, jenis paling banyak adalah kekerasan terhadap istri, yakni 170 laporan. Hal ini terjadi lantaran PSBB dan penurunan tingkat ekonomi atau penghasilan memicu ketegangan dalam hubungan suami-istri meningkat.
Selain itu, selama pandemi ada 36 persen perempuan pekerja informal yang harus mengalami pengurangan waktu kerja berbayar mereka. Angka itu lebih banyak ketimbang laki-laki pekerja informal yang mengalami persoalan serupa (30 persen).
Pembatasan sosial yang diterapkan selama pandemi membuat 69 persen perempuan dan 61 persen laki-laki menghabiskan lebih banyak waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi perempuan memikul beban lebih berat karena 61 persen di antara mereka juga harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengasuh dan mendampingi anak. Sedangkan di antara para lelaki hanya 48 persen yang melakukannya.
Pandemi Covid-19 juga telah memengaruhi kesehatan mental dan emosional perempuan.
Sebanyak 57 persen perempuan menurut hasil survei mengalami peningkatan stres dan kecemasan karena menanggung lebih banyak beban dalam mengurus pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Mereka juga kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta menghadapi kekerasan berbasis gender. Masalah itu hanya dihadapi oleh 48 persen laki-laki.
Maria Holtsberg, Penasihat Risiko Bidang Kemanusiaan dan Bencana di UN Women Asia dan Pasifik mengatakan, “krisis selalu memperburuk ketimpangan gender.”
Banyak tindak kekerasan terhadap perempuan akibat lemahnya tingkat ekonomi, pendidikan, ataupun kondisi psikis mereka yang terguncang akibat berbagai masalah di tengah pandemi saat ini. “Maka diperlukan langkah-langkah khusus dan konkret untuk menjaga perempuan khususnya dalam memerangi Covid-19 saat ini,” kata Holtsberg.
Untuk mencegah terjadinya KDRT, diperlukan kebijakan yang benar-benar memperhatikan kepentingan dan kondisi masyarakat, khususnya perempuan sebagai kelompok rentan. Baik dalam hal pemenuhan kebutuhan spesifik, pelayanan kesehatan jiwa, penanganan dan pendampingan bagi korban kekerasan, serta peningkatan ekonomi pemberdayaan perempuan.
Cek Ulang DTKS
Komisi II DPRD Medan mengakui bansos kepada warga miskin sering tidak tepat sasaran. Pasalnya, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) tidak lagi valid dan tidak update.
Karena itu Komisi II DPRD Medan mendorong Dinas Sosial (Dinsos) Kota Medan agar benar-benar melakukan verifikasi data seluruh warga miskin di Kota Medan.
“Tahun 2021, seluruh warga miskin di Kota Medan harus dapat terakomodir untuk mendapatkan segala jenis bantuan sosial yang ada, baik yang bersumber dari pemerintah pusat maupun daerah,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Medan, Sudari ST.
Mereka yang sebelumnya termasuk golongan warga miskin, tetapi sekarang tidak lagi miskin, agar dicoret dari DTKS. Sebaliknya, warga miskin baru agar dimasukkan agar mendapat bantuan.
Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Endar Sutan Lubis, berjanji akan melakukan verifikasi dan validasi terhadap data warga miskin di Kota Medan. Pendataan akan dilakukan dengan metode door to door di 17 kecamatan, dengan sasaran sekitar 120.870 KK.
“Ada 14 kriteria untuk dinyatakan sebagai warga miskin. Jika telah memenuhi 9 kriteria saja, sudah layak masuk kategori warga miskin,” katanya.
Ke-14 kriteria tersebut, yakni luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 M2 per orang, jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan, jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
Kemudian, tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah, hanya mengonsumsi daging/susu/ayam dalam satu kali seminggu.
Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari, tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan.
Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/tamat SD, tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp500.000, seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, mengatakan isu-isu perempuan dan anak sifatnya selalu lintas sektoral. Karena itu, intervensi yang tepat sasaran dan efektif hanya dapat dilakukan debgan kerja sama berbagai pihak. Yakni pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat.
Kemen PPPA sendiri terus melakukan upaya pencegahan kekerasan berbasis gender. Salahsatu solusi Kemen PPPA, yakni membangun rumah perlindungan perempuan dan anak serta membuka layanan konsultasi dan edukasi psikologi. Dengan demikian, perempuan dan anak dapat mengadukan masalah yang mereka alami di tengah merebaknya pandemi corona Covid-19.
“Setiap perempuan adalah advokat bagi dirinya sendiri dan bagi hak-hak perempuan secara umum,” katanya. (dame ambarita)
MEDAN,SUMUTPOS.CO – Guna meningkatkan disiplin masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan, saat ini Pemprovsu dan DPRD Sumut tengah menggodok Ranperda Penegakan Disiplin Pencegahan Penularan Covid-19. Perda itu akan menjadi payung hukum bagi pemerintah untuk memberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggar protokol kesehatan.
Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut, Ustad Syahrul Effendi Siregar menilai, perda tersebut akan efektif bila ada sanksi yang tegas dan jelas. Namun begitu, kata anggota DPRD Sumut dari daerah pemilihan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) ini, sebelum ranperda itu disetujui dan diberlakukan, sebaiknya Pemprovsu memperhatikan temuan dan rekomendasi dari Pansus Covid-19 terutama dalam hal mempersiapakan berbagai kebutuhan kesehatan dan benar-benar mempertimbangkan secara matang tentang pemberlakuan New Normal.
“Sebelum diberlakukan Perda Covid itu, persiapkan dulu fasilitas kesehatan yang maksimal sehingga siap menerima berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Pansus Covid sudah banyak memberikan rekomendasi dari hasil temua-temuan dan kami mengapresiasinya,” kata Ketua Bamusi Sumut ini di sela sidang paripurna DPRD Sumut dengan agenda pembacaan pemandangan umum fraksi-fraksi tentang Ranperda Penegakan Disiplin Pencegahan Penularan Covid-19 di Kantor DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa (24/11/2020).
“New Normal di tengah kedisiplinan masyatakat terhadap protokol kesehatan yang rendah harus menjadi pertimbangan yang matang dan Perda penegakkan Disiplin Covid harus memberikan sanksi yang tegas dan jelas agar Perda menjadi sangat efektif dalam menghentikan penyebaran Covid-19,” tandas Ustad Syahrul.(adz)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut menyambut positif Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Tata Cara Pengakuan, Perlindungan Hak Dan Penetapan Masyarakat Adat di Provinsi Sumatera Utara. Diharapkan, ranperda ini nantinya mampu menjadi jembatan dan pintu masuk untuk memperkokoh keberagaman yang penuh toleransi dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Fraksi PDI Perjuangan memandang keberadaan Perda tentang masyarakat adat ini sangat penting di tengah hiruk pikuk politik identitas dan semangat intoleran yang sedang menjangkiti jiwa dan pikiran sebagian kecil masyarakat Indonesia dan Sumatera Utara khususnya,” kata Ustad Syahrul Efendi Siregar saat membacakan pemandangan umum Fraksi PDI Perjuangan, Senin (23/11). Disebutnya, keberadaan masyarakat adat adalah fakta sosial sejak lama ada di nusantara dan hingga saat ini keberadaannya masih eksis. Untuk itu Fraksi PDI Perjuangan berpendapat; Pertama, proses penetapan/pendaftaran yang mudah bagi masyarakat adat Sumatera Utara, murah bagi pemerintah daerah, dan hasilnya legitimate. Kedua, perlu menambahkan klausul mengenai hak masyarakat adat atas ‘rehabilitasi dan restitusi’. “Ketiga, perlu mendorong panitia masyarakat adat untuk mendorong pengakuan komunitas pertama sekali melalui rancangan peraturan daerah tata cara pengakuan, perlindungan hak dan penetapan masyarakat adat di Provinsi Sumatera Utara,” ungkapnya lagi. Selain itu, lanjutnya, perlunya membentuk satu lembaga di tingkat daerah yang mengurusi masyarakat adat dan perlunya pengaturan mengenai penyelesaian konflik/sengketa. “Kami mengusulkan memasukkan kata konflik di dalam naskah,” tegasnya.(adz)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut), Musa Rajekshah atau Ijeck menekankan kepada seluruh pengurus Golkar Kabupaten Simalungun baik itu kader partai, Hastakarya dan juga simpatisan untuk memenangkan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Simalungun nomor urut 1, Radiapoh Hasiholan Sinaga dan Zonny Waldi pada Pilkada serentak 9 Desember mendatang.
BERSAMA: Ketua Golkar Sumut, Musa Rajekshah foto bersama paslon Rasa-Ziwa, usai konsolidasi pemenangan di Pilkada Simalungun 2020, Minggu (22/11).
Hal itu diungkapkan Ijeck saat bersilaturahmi sekaligus konsolidasi dengan Partai Golkar Simalungun di Prima Jaya Hotel Jalan Rajamin Purba SH, Perdagangan Simalungun, Minggu (22/11). Hadir Anggota DPRD Sumut Irham Buana, Dodi Thaher, Iskandar Sinaga, Ketua DPD Golkar Simalungun Timbul Jaya Sibarani, calon Bupati dan Wakil Bupati Radiapoh Hasiholan Sinaga dan Zonny Waldi (Rasa-Ziwa) serta seluruh pengurus Golkar kecamatan/kelurahan se Kabupaten Simalungun.
Ijeck mengatakan ini kali pertamanya ia berkunjung ke daerah membawa nama Partai Golkar. Menurutnya ini bentuk keseriusan Golkar mendukung paslon Rasa-Ziwa untuk menang di Pilkada Simalungun.
“Saya tekankan seluruh kader Golkar baik di kabupaten, kecamatan hingga nagori atau kelurahan/desa memenangkan pasangan calon bupati dan wakil bupati yang kita usung, yakni Radiapoh Hasiholan Sinaga dan Zonny Waldi,” tegasnya.
DPD Golkar Kabupaten Simalungun juga diminta selektif memilih pengurus partai Golkar mulai tingkat kecamatan hingga desa.
“Pilih pengurus yang bisa membesarkan partai, yang bisa menarik simpatik dan bermanfaat bagi masyarakat. Begitu juga Hastakarya dan ormas dibawah Partai Golkar, bentuk hingga tingkat desa atau kelurahan,” tambahnya.
Partai Golkar menargetkan minimal 60 persen kemenangan pada Pilkada 2020 dapat tercapai atau sekitar 15 kepala daerah harus duduk sebagai bupati atau wali kota. “Ini harus dimaksimalkan menuju Pilpres, Pileg, Pilgub dan Pilkada serentak 2024,” ungkapnya.
Ijeck pun berharap Partai Golkar kembali mengulangi kejayaan seperti masa lampau, yang bisa menguasai kepala daerah, pimpinan parlemen tingkat provinsi dan kabupaten/kota serta menjadikan partai terbesar di Sumut.
“Golkar hadir membantu pemerintah, pemerintah hadir menyejahterakan rakyat. Itu yang saya inginkan dan Insya Allah akan tercapai,” pungkasnya.
Timbul Jaya Sibarani sebelumnya melaporkan bahwa Kabupaten Simalungun terdiri dari 32 kecamatan dan 413 nagori (desa). Jumlah DPT Simalungun sekitar 360 ribu pemilih yang tersebar di 1.992 TPS.
“Hingga kini, konsolidasi Partai Golkar sudah menyelesaikan musyawarah tingkat kecamatan dan hampir setengah dari jumlah nagori yang ada sudah selesai dibentuk. Dan sisanya masih dalam proses dan ditargetkan selesai sebelum Pilkada berlangsung,” ungkapnya.
Ketua DPRD Kabupaten Simalungun ini juga mengungkapkan Partai Golkar dan partai koalisasi lainnya telah aktif mendukung paslon Rasa-Ziwa menjadi bupati dan wakil bupati Simalungun. Begitu juga organisasi lain seperti Pemuda Pancasila, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia dan lainnya.
“Dalam sehari, 3 atau 4 titik desa dikunjungi dalam bentuk konsolidasi pemenangan RHS-ZW, dan berdasarkan survey, elektabilitas kita sudah diatas 7,2 persen dari kompetitor. Apalagi dengan kehadiran ketua DPD Golkar Sumut, membuat kita semakin yakin menjadi pemenang di Simalungun,” ungkapnya.
Sementara Radiapoh Hasiholan Sinaga berterimakasih kepada Partai Golkar karena sudah mendukungnya maju bersama Zonny Waldi di Pilkada Simalungun. Dengan kunjungan Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah membuatkan mereka semakin yakin memimpin Simalungun periode 2021-2024.
“Seluruh kader partai sudah bergerak aktif memenangkan RHS-ZW. Mesin partai sudah bergerak langsung, dan harus saya ungkapkan bahwa mesin Partai Golkar-lah yang paling aktif bergerak dan sangat dominan di lapangan. Termasuk ormas PP, AMPI dan lainnya kompak dan solid mendukung,” pungkasnya. (prn/azw)
SAMBUTAN: Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono memberi kata sambutan saat media gathering bersama Akhyar-Salman di Hotel Adimulia Medan, Senin (23/11).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menginstruksikan seluruh pimpinan, pengurus, dan kader Partai Demokrat di Kota Medan untuk memenangkan paslon nomor satu Akhyar Nasution-Salman Alfarisi. AHY pun berharap, institusi negara dapat bertindak netral dan adil di Pilkada Medan.
SAMBUTAN: Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono memberi kata sambutan saat media gathering bersama Akhyar-Salman di Hotel Adimulia Medan, Senin (23/11).
“Kita selalu berharap pada siapa pun, pilkada digelar secara adil, fair dan netral. Artinya, jangan sampai ada elemen-elemen tertentu yang seharusnya berlaku, bersikap dan bertindak netral dan imparsial sesuai amanah konstitusi dan juga UU yang mengaturnya, kemudian ikut-ikutin terlibat dalam proses politik praktis,” kata AHY dalam acara media gathering bersama Akhyar-Salman di Hotel Adimulia Medan, Senin (23/11).
Acara temu media ini berlangsung dengan protokol kesehatan yang ketat. Peserta dibatasi hanya 50 orang dan dengan tetap menjaga jarak.
Bukan itu saja, semua peserta wajib rapid test sebelum masuk ke ruangan, dengan masker selalu terpasang. Hadir dalam acara itu, Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain Hutajulu beserta unsur pengurus lainnya, Ketua DPC Partai Demokrat Kota Medan Burhanuddin Sitepu beserta unsur pengurus DPC lainya, anggota DPR RI Abdul Wahab Dalimunthe serta unsur pengurus DPP.
AHY menyebut, institusi yang harusnya netral tak boleh ikut campur dalam Pilkada.
“Kalau yang punya hak suara, ya silakan, mereka punya hak suara. Tetapi institusi- institusi yang memang harusnya netral dan imparsial, itu semua kita harapkan bisa menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Sehingga jika itu bisa kita jamin bersama, jika negara bisa jamin itu semua, maka tidak perlu harus meng khawatirkan siapapun kontestan, siapapun kompetitor kita,” ucapnya.
Ia mengatakan, kalau negara bisa adil, maka koneksi kandidat dengan pihak yang punya kekuasaan politik jadi tak terlalu berarti. Dia berharap Pilkada Medan berjalan dengan adil.
“Jadi apapun koneksi yang dimiliki oleh seorang kandidat, baik terhadap koneksi kekuasaan politik maupun koneksi kekuasaan logistik tidak terlalu berarti kalau yakinkan benar bahwa negara adil, negara fair, open, transparan dan juga aparat-aparat, institusi-institusi yang netral dan imparsial tadi benar-benar berfungsi dengan baik, maka tentunya ada kompetisi yang fair,” ujar AHY.
Dia mengaku optimis Akhyar-Salman bisa menang di Pilkada Medan. AHY meminta Akhyar-Salman dan timnya tak terlena dengan hasil survei.
“Jadi, saya tetap memiliki optimisme sekali lagi, Pak Akhyar, Pak Salman bisa menghadapi segala tantangan tersebut, berbekal semoga hasil survei yang baik menambah semangat tapi tidak membuat kita jemawa,” ujar AHY.
Dia juga menginstruksikan seluruh kader Partai Demokrat Kota Medan dan Sumatera Utara untuk memanfaatkan dua minggu waktu yang tersisa, untuk semakin gencar menyosialisasikan ke masyarakat serta menggiring pemilih sebanyak-banyaknya ke TPS memilih pasangan AMAN.(adz/map/azw)
KUNJUNGAN: Guru IPS di UPTD SMPN 3 Air Putih, Batubara, Arief Mahdien, berkunjung ke rumah orangtua siswa, menyerahkan modul belajar luring, sambil tetap menerapkan prokes 3M.
BATUBARA, SUMUTPOS.CO –Kelengkapan gawai menjadi syarat efektifnya pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19. Masalahnya, tidak semua siswa beruntung memiliki gawai yang mumpuni untuk PJJ. Karena itu, guru di UPTD SMPN 3 Air Putih, Batubara, Sumatera Utara, harus bekerja ekstra keras menyiapkan dua modul belajar; modul untuk belajar daring (dalam jaringan) dan modul untuk belajar luring (luar jaringan).
KUNJUNGAN: Guru IPS di UPTD SMPN 3 Air Putih, Batubara, Arief Mahdien, berkunjung ke rumah orangtua siswa, menyerahkan modul belajar luring, sambil tetap menerapkan prokes 3M.
“Awal mula PJJ di sekolah kami, hanya sedikit murid yang bisa ikut belajar lewat aplikasi dalam pelaksanaan whatsapp, google classroom, quiziz, dan lain lain. Akibatnya, pembelajaran saat itu terasa kurang interaktif. Peserta didik tidak banyak yang menang gapi. Apalagi, sebagian yang memiliki gawai juga kebingungan membuka file berbentuk word, RAR atau PDF,” kata Arief Mahdian SPd, guru mapel IPS yang juga pembina ekskul Pramuka di UP TD SMPN 3 Air Putih, Batubara, kepada Sumut Pos, kemarin.
Memang, lambat-laun peserta didik makin memahami cara belajar daring lewat whatsapp group maupun google classroom. Namun siswa yang tidak memiliki gawai tetap tidak bisa ikut belajar.
“Mencermati kendala itu, bapak kepala sekolah meminta kami para guru agar melakukan kunjungan ke rumah peserta didik yang kurang mampu. Tentu, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak,” ujar fasilitator daerah komunikasi Batubara Program Pintar Tanoto Foundation ini menjelaskan.
Permintaan kepala sekolah (kasek) itu dituruti para guru dengan melakukan kunjungan ke rumah setiap siswa kurang mampu. Menjumpai orangtua/wali dari peserta didik, menanyakan apa kendala si anak tidak bisa ikut aktif dalam pembelajaran luring, yaitu datang ke sekolah mengambil modul dari semua mapel sekali 1 atau 2 minggu.
“Banyak pengalaman saat melakukan kunjungan ke rumah siswa, yang tidak kami peroleh semasa mengajar sebelum pandemi. Dengan kunjungan rumah, guru jadi bisa membaca keadaan siswa sebenarnya. Ada yang lokasi rumah terpencil, rumah orangtuanya kurang layak huni, atau hubungan keluarga si siswa,” cetusnya.
Sambutan orangtua siswa berbeda-beda. Ada yang ramah, bahkan menyuguhi makanan dan minuman. Ada yang menyajikan hasil kebun mereka untuk dinikmati bahkan dibawa pulang.
“Namun ada yang terkesan kurang berkenan dikunjungi. Barulah setelah kami jelaskan siapa dan maksud tujuan berkunjung ke rumah siswa, mereka bisa menerima dan melontarkan banyak pertanyaan. Salahsatu pertanyaan yang paling sering, ‘mengapa anak kami tidak bisa sekolah dan tidak mendapat pengajaran?”kata Arief sambil tertawa kecil.
Hasil wawancara para guru dengan orangtua dan peserta didik, ternyata ada sebagian orangtua yang tidak mendapat informasi bahwa siswa boleh datang ke sekolah mengambil modul belajar luring dari setiap mata pelajaran.
“Pengambilan modul boleh siswa sendiri atau orangtua/wali-nya,” lanjutnya.
Sebenarnya, kata Arief lagi, pihak sekolah telah mengumumkan informasi tentang kegiatan belajar daring dan luring lewat media sosial Facebook. Alasan pakai Facebook, karena pihak sekolah yakin setiap orang memiliki akun Facebook meski dia tidak memilih HP Android. “Ternyata ada juga yang tidak baca,” kekeh guru yang hobi membaca, traveling, dan camping ini lagi.
Keluhan lainnya datang dari orangtua siswa yang aktif belajar daring. Ortu mengeluh anak-anak mereka terlalu lama belajar dari rumah.
“Pusing, Pak. Mana kami harus bekerja mencari nafkah, eh nambah lagi kerjaan kami mengajari dan mendampingi anak anak kami belajar dari rumah. Mana kami kurang mampu mengajari anak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan bapak ibu guru. Belum lagi mikirin beli paket internet,” keluh beberapa orangtua siswa, seperti ditirukan Arief.
Merespon para orangtua, para guru umumnya mengatakan, sebenarnya pihak sekolah pun ingin sekali peserta didik belajar di sekolah. Namun karena masih pandemi Covid-19, Kepala Daerah belum memberi izin menggelar kegiatan belajar-mengajar di sekolah.
“Soal paket internet, insyaallah pihak sekolah akan mencoba membantu, Pak, Bu,” kata para guru mencoba menenangkan.
Salah satu perbedaan belajar selama pandemi ini, menurut Arief, para guru mesti kerja ekstrakeras menyiapkan dua modul. Yakni modul untuk pembelajaran daring yang mampu menciptakan suasana interaktif meski lewat handphone. Serta modul pelajaran untuk siswa yang belajar secara luring, sehingga seluruh siswa mendapat pelajaran yang sama dan tidak ada yang ketinggalan.
“Tapi tetap semangat sajalah. Kata kepala sekolah, kita semua jangan lagi bekerja biasa-biasa saja, tapi harus kerja luar biasa. Karena sekarang eranya tidak normal, melainkan sudah new normal,” pungkasnya seraya tersenyum. (mea/azw)