NAPI ANAK: Sejumlah napi anak di di Lapas Tanjung Gusta Medan, mengikuti ujian Paket C. Sejumlah napi anak di Sumut diusulkan bebas, terkait pencegahan Covid-19.
NAPI ANAK: Sejumlah napi anak di di Lapas Tanjung Gusta Medan, mengikuti ujian Paket C. Sejumlah napi anak di Sumut diusulkan bebas, terkait pencegahan Covid-19.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hingga kemarin, Kemenkumham telah membebaskan 5.556 warga binaan. Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly menyebut, keputusan tersebut dilandasi Permenkumham dan Keputusan Menkumham.
“Ini exercise kami per hari ini pukul 11.00 WIB, Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) kami melaporkan sudah mengeluarkan 5.556 warga binaan,” kata Yasonna Laoly dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III DPR yang berlangsung secara virtual, Rabu (1/4).
Untuk atasi lapas yang kelebihan kapasitas, Kemenkumham dibatasi aturan perundang-undangan. Maka secara bertahap setelah dilakukan kajian intens dan pandangan masyarakat, pihaknya mengeluarkan Permenkumham tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi. Dengan Permenkumham tersebut, pihaknya bisa mengeluarkan 30.000 warga binaan.
Kebijakan tersebut sudah dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo dan telah mendapatkan persetujuan.
Kriteria pembebasan warga binaan, pertama, narapidana kasus narkotika dengan masa pidana 5-10 tahun dan telah menjalani 2/3 masa pidananya, akan diberikan asimilasi di rumah. Jumlahnya yang diperkirakan mencapai 15.442 orang.
Kedua, napi tindak pidana korupsi berusia 60 tahun ke atas yang telah menjalani 2/3 masa pidana sebanyak 300 orang.
Ketiga, napi tindak pidana khusus dengan sakit kronis yang dinyatakan oleh rumah sakit pemerintah dan telah menjalani 2/3 masa pidana tercatat 1.457 orang, dan napi warga asing sebanyak 53 orang.
Yasonna juga telah menyurati Mahkamah Agung (MA) dan telah disetujui lembaga itu, untuk tidak mengirimkan napi baru ke rutan. Dengan berbagai langkah itu, menurut dia, pengurangan warga binaan bisa mencapai sekitar 50.000 orang. (man/ant/jpnn)
TUTUP: Mall Centre Point Medan menutup sementara jam operasional mulai 1-14 April 2020. Penutupan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.
TUTUP: Mall Centre Point Medan menutup sementara jam operasional mulai 1-14 April 2020. Penutupan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bersamaan dengan penutupan sementara sejumlah plaza, mal, dan hotel di Medan, manajemen mall Centre Point Medan juga menutup sementara jam operasional mereka, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah menekan penyebaran Covid-19 di tempat-tempat keramaian. Penutupan berlaku mulai 1 hingga 14 April 2020.
“Penutupan sementara mengikuti imbauan atau maklumat Kapolri, surat edaran Gubernur Sumut, dan surat edaran Walikota Medan. Saat ini yang terpenting adalah bersama melawan penyebaran Covid-19 yang sedang mewabah,” sebut General Manager Mall Centre Point, Liany Simatupang kepada wartawan di Medan, Rabu (1/4).
Salahsatu upaya pemerintah mencegah penyebaran virus corona yakni dengan meminta masyarakat agar tidak melakukan mobilisasi massa dalam jumlah besar. Salahsatunya dalam aktivitas masyarakat di pusat perbelanjaan atau mall. “Kami sebagai fasilitas publik juga harus melakukan tindakan maksimal mendukung gerakan dan tindakan pemerintah,” tutur Liany.
Liany mengatakan, pihaknya mengutamakan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Untuk itu, ia berharap masyarakat tetap bersabar, dan selalu menjaga kesehatan serta perlindungan diri. “Selama operational tutup sementara, kami terus berbenah dengan melakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan, agar mal tetap aman dan higienis,” jelas Liany.
Meski mal ditutup sementara, manajemen tidak ada melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan. Setelah dua pekan libur, para pegawai akan kembali bekerja dengan normal dan mengikuti protokol kesehatan.
“Sejumlah tenant tetap melayani kebutuhan masyarakat sehari-hari, seperti Lottemart dan restoran. Namun dengan layanan delivery dan take away,” pungkasnya. (gus)
keterangan: Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan, memberi keterangan pers melalui video streaming, Senin (30/3) sore.
keterangan: Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan, memberi keterangan pers melalui video streaming, Senin (30/3) sore.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Medan secara resmi meningkatkan status Siaga Darurat Bencana Non Alam yang ditetapkan sejak 17 Maret lalu, menjadi ‘Tanggap Darurat Bencana Wabah Penyakit’. Peningkatan status itu dalam rangka mengintensifkan upaya penyebaran dan dampak pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Kota Medan. Peningkatan status tersebut tertuang dalam surat keputusan yang ditandatangani Wali Kota Medan.
“Mulai hari ini statusnya memang ditingkatkan dari siaga daruratn menjadi tanggap darurat.
Secara umum tidak terlalu banyak perbedaan dari peningkatan status tersebut. Semua prosedur tetap sama, termasuk langkah-langkah yang dilakukan seperti penyemprotan disinfektan, pembagian masker, dan lainnya. Bedanya, ada penanganan kepada dampak sosial akibat masalah tersebut,” ujar Ketua Gugus percepatan penanganan Covid-19 Kota Medan, Arjuna Sembiring, Rabu (1/4).
Salahsatu contoh penanganan dampak sosial yakni pembagian beras kepada masyarakat miskin yang terdampak Covid-19. “Sekarang rencana itu sedang dikaji oleh Dinas Sosial, apakah butuh 1.000 ton, 2.000 ton, atau berapapun itu. Mereka juga nantinya yang akan mengkaji skema pendataan dan pembagian bantuannya,” sebutnya.
Selain pemberian bantuan, kata Kepala BPBD Kota Medan itu, dengan peningkatan status, gugus tugas juga akan meningkatkan pengawasan terhadap social distancing serta physical distancing di lingkungan masyarakat. Pihaknya berkoordinasi dengan Kepolisian, TNI, Satpol PP, dan pihak-pihak terkait dalam mengawasi dan menindak warga yang masih berada di luar rumah atau berkerumun untuk hal yang tidak penting.
“Kita akan intenskan pengawasan terhadap masyarakat yang masih berada di luar rumah, masih nongkrong-nongkrong ataupun berkumpul. Karena semua itu membuka peluang kontak fisik satu sama lain,” katanya.
Arjuna juga mengimbau masyarakat agar secara sadar dan sukarela membantu pemerintah memerangi Covid-19, dengan tetap di rumah. “Jangan nanti saat petugas patroli meminta mereka pulang atau bubar, tapi begitu kita pergi mereka kumpul lagi. Harus sama-sama tertib. Dibutuhkan kesadaran masyarakat sebagai kunci utama memutus rantai Covid-19 ini,” tandasnya.
PEDAGANG: Salah satu pedagang beras yang ada di Jalan Imam Bonjol Kota Tebingtinggi.
sopian/sumut pos
ilustrasi
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Endar Lubis mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Medan dan pihak terkait, untuk pengadaan dan penyaluran bantuan beras kepada masyarakat terdampak Covid-19.
“Statusnya kan baru diumumkan. Saat ini kita sedang berkoordinasi dengan Bulog dan pihak-pihak terkait dalam proses pengadaan beras. Untuk total beras yang akan disalurkan, jumlahnya belum pasti. Bisa 1.000 ton, bisa lebih bisa kurang, tergantung kemampuan dana,” jawab Endar, Rabu (1/4).
Mengenai proses pendataan masyarakat yang berhak mendapatkan bantuan beras, kata Endar, masih berproses. “Proses pendataan ini yang butuh waktu. Tapi kita harapkan pendataan dapat kita rekap dalam 1-2 hari ini, sehingga beras dapat disalurkan minggu ini. Nanti proses penyaluran akan melibatkan pihak kecamatan dan kelurahan,” katanya.
Selain bantuan beras, belum ada bantuan lain yang akan disalurkan kepada masyarakat terdampak. “Ke depannya belum tahu. Tergantung situasi dan kemampuan anggaran,” tutupnya.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sementara itu, Pemko Medan melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, telah menyediakan lahan alternatif sebagai kawasan pemakaman bagi pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Kota Medan.
“Lokasinya di Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan,” ucap kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Medan, Muhammad Husni SE, Rabu (1/4).
Dikatakan Husni, lahan yang disiapkan itu merupakan sebagian kecil dari lahan pekuburan muslim di pekuburan Simalingkar B, dengan total luas 18 hektare. “Yang dipakai ini sebagian kecil dari 18 hektar, tapi letaknya dibuat terpisah dan jauh dari lokasi pemakaman umum yang sudah dipakai,” kata Husni.
Tentang luas lahan yang akan digunakan khusus untuk Covid-19 ini, menurut Husni, sifatnya situasional disesuaikan dengan kebutuhan. Lahan tersebut bersifat alternatif atau bukan lahan yang diwajibkan sebagai lahan pekuburan bagi korban Covid-19.
Lahan tersebut sudah mulai digunakan pada Selasa (31/3) yang lalu. Hingga kemarin, 2 jenazah kasus Covid-19 telah dimakamkan di lokasi dimaksud.
“Bila jenazah kasus Covid-19 bisa diterima masyarakat di pekuburan lingkungannya, tentu lebih baik. Tapi kalau ditolak, ya akan dimakamkan di Simalingkar B,” terang Husni.
Untuk biaya dan prosedur pemakaman, semua ditanggung dan diatur oleh Pemko Medan melalui Gugus Tugas. “Tenaga dan peralatan penguburannya secara khusus juga sudah disiapkan sesuai mekanisme,” tutupnya.
Sebelumnya, Pemko melalui Kadis Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi, mengatakan telah menyiapkan lahan kuburan khusus bagi para pasien kasus corona yang meninggal, terkhusus jika ada penolakan masyarakat.
Siapkan Akses Jalan Pekuburan
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Medan turut mengambil bagian dari proses pembentukan dan pembangunan jalan yang merupakan akses menuju lahan pekuburan khusus Covid-19 di Simalingkar B.
Plt Kepala Dinas PU Kota Medan, Zulfansyah, mengatakan pihaknya turut membantu Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Medan dalam mempermudah masuknya mobil pengantar jenazah menuju lokasi pemakaman dimaksud.
“Kita lakukan pembentukan dan pengerasan jalan. Sementara kita gunakan batu pecah ukuran medium, supaya mobil tidak tergelincir karena medannya licin,” ucap Zulfansyah, Rabu (1/4).
Proses pengerjaan jalan dilakukan sejak Selasa (31/3) lalu, dan ditargetkan rampung dalam satu atau dua hari ke depan. “Kita instruksikan kepada anggota di lapangan agar segera menyelesaikan pekerjaan ini, mengingat kebutuhannya mendesak,” jelasnya.
Mengenai anggaran, kata Zul, tidak ada anggaran khusus. Pihaknya menggunakan anggaran swakelola.
Camat Medan Tuntungan, Topan Ginting, saat ini tidak ada lagi penolakan dari warga setempat mengenai lahan pekuburan Simalingkar B menjadi lahan pekuburan khusus Covid-19 di Kota Medan.
“Awalnya hari Minggu kemarin memang sempat ada penolakan dari warga. Tapi saat ini tidak ada masalah lagi dengan masyarakat, sudah clear. Lokasinya juga cukup jauh dari pekuburan umum, dan jauh dari rumah-rumah warga,” tandasnya. (map)
keterangan: Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan, memberi keterangan pers melalui video streaming, Senin (30/3) sore.
JUBIR: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, Mayor Kes dr Whiko Irwan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jumlah kasus positif Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 di Sumut terus bertambah. Dari sebelumnya masih 26 orang, menjadi 30 orang, Rabu (1/4). Artinya terjadi kenaikan 4 orang dari hari sebelumnya, Selasa (31/3). Dari penambahan itu, di antaranya termasuk pasangan suami istri pegawai Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara, dan seorang perawat.
“Jumlah orang yang positif naik 13,2 persen (4 orang) dari sebelumnya,” ujar Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut lainnya, Mayor Kes dr Whiko Irwan, dalam keterangan pers melalui video streaming, Rabu (1/4) sore.
Peningkatan juga terjadi pada jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) menjadi 88 orang, dari sebelumnya 70 orang. Begitu juga terhadap Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang kini berjumlah 2.970 orang dari 2.934 orang. “PDP meningkat sebanyak 20,4 persen (18 orang), sedangkan PDP naik 1,2 persen (36 orang),” sebut Whiko.
Standar penanganan para pasien, kata Whiko, PDP harus mendapatkan perawatan isolasi di rumah sakit. Sedangkan ODP akan didata, mendapatkan obat-obatan, dan menjalani isolasi mandiri di rumah. Begitu juga dengan Orang Tanpa Gejala (OTG) akan didata dan menjalani isolasi di rumah secara mandiri.
“Covid-19 ini tidak hanya menjadi wabah yang mengancam Sumut, tetapi juga mengancam Indonesia bahkan dunia. Untuk itu, setiap dari kita memiliki tanggung jawab dalam menjaga diri sendiri dan keluarga dari penularan virus ini,” tandasnya.
Terpisah, Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik, Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak (Rosa) mengatakan, jumlah orang yang positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit itu menjadi 10 orang, dari sebelumnya 9 orang. Dari jumlah yang positif ini, yang meninggal dunia hanya satu orang.
“Untuk PDP yang dirawat saat ini berjumlah 5 orang. Jumlah ini menurun dibandingkan hari sebelumnya sebanyak 6 orang. Sementara, PDP negatif bertambah menjadi 14 orang dari sebelumnya 12 orang,” ujarnya singkat.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Selain pasutri pegawai BNNP Sumut, penambahan positif pasien corona di Sumut adalah seorang perawat di Rumah Sakit Bunda Thamrin, Medan. Ia dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil rapid test. Diduga tertular dari pegawai honorer BNNP Sumut berinisial MHC (35), yang sempat dirawat di rumah sakit tersebut sebagai PDP, sebelum meninggal Selasa (31/3).
“Dari hasil rapid test, perawat berjenis kelamin perempuan itu positif Covid-19. Bisa jadi terpapar dari pasien PDP kemarin,” kata Aris.
Saat ini, pihaknya sedang melakukan tracing terhadap orang yang kontak erat dengan perawat tersebut. “Daftarnya sudah masuk ke kita. Untuk kondisi kesehatan perawat, sejauh ini masih dalam keadaan baik,” tukasnya.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Setelah sebelumnya seorang pegawai honorer BNNP Sumut positif terjangkit virus corona, kini dua pegawai BNNP lainnya juga positif terjangkit.
Jujur Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah membenarkan hal itu. “Benar ada dua lagi positif, pasangan suami istri (pasutri). Status positif itu berdasarkan hasil pemeriksaan melalui alat tes cepat atau rapid test, Selasa (31/3),” ujar Aris via pesan whatsapp, Rabu (1/4).
Meski positif dari hasil rapid test, kata Aris, kepastiannya tetap harus menunggu hasil pemeriksaan swab tenggorokan di laboratorium Balitbangkes Jakarta. “Biasanya bila hasil pemeriksaan tes cepat Covid-19 dinyatakan positif, akan diperoleh hasil yang sama dari pemeriksaan swab laboratorium. Namun saat ini hasilnya belum keluar,” tuturnya.
Disebutkan dia, pasutri dimaskud sudah diisolasi di Rumah Sakit GL Tobing, Tanjungmorawa, Deliserdang menjalani perawatan intensif. “Kondisinya saat ini baik,” aku Aris.
Saat ini, pihaknya sedang melakukan penelusuran atau tracing terhadap kontak erat terhadap pasutri. Ditanya mengenai riwayat perjalanan pasutri ke luar kota atau provinsi bahkan keluar negeri, Aris tak memberikan jawaban.
TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Kabar dari Kota Tebingtinggi, hingga kemarin pukul 16.30 WIB, Tebingtinggi masih negatif kasus Covid 19.
“Tetapi ODP naik menjadi 266 orang, dan PDP naik menjadi 3 orang. Dari tiga orang tersebut, 1 PDP warga Kabupaten Sergai yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kumpulan Pane Tebingtinggi,” jelas juru bicara Gugus Tugas Covid 19 Kota Tebingtinggi, dr Nanang Fitra Aulia, Rabu (1/4).
Untuk 266 ODP, masih isolasi mandiri dirumah. Sedangkan 2 PDP dirawat di Rumah Sakit GL Tobing Tanjungmorawa, sambil menunggu hasil pemeriksaan dari Batlibankes Pusat Jakarta.
Adapun orang yang dinyatakan selesai masa isolasi mandiri dan dinyatakan sehat sebanyak 43 orang. “Mari kita perangi Covid 19 di Kota Tebingtinggi,” jelasnya. (ris/ian)
SUKABUMI, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 300 dari 1.550 siswa Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) di Sukabumi, Jawa Barat, dinyatakan terpapar virus corona sesuai hasil rapid test, Rabu (1/4). Ratusan siswa diperiksa menyusul adanya 7 siswa –satu orang berasal dari Polda Sumut— yang mengalami demam tinggi dan diduga terjangkit Covid-19. Buntutnya, ke-300 siswa dikarantina dan proses belajar-mengajar dihentikan.
“SESUAI perintah Bapak Kapolri, kami cek para siswa sehubungan dengan adanya pemberitaan tentang siswa Setukpa di Sukabumi yang terjangkit corona,’’ kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono dalam siaran persnya, Rabu (1/4).
Awalnya, seorang siswa mengeluh sakit demam berdarah dengue (DBD) dan delapan lainnya juga mengeluh mengalami demam tinggi. Setelah dilakukan rapid test, tujuh di antaranya positif COVID-19, sehingga dirujuk ke RS Polri Said Sukanto, Jakarta. Sementara dua siswa lainnya menjalani perawatan di RS Bhayangkara Brimob Jakarta.
Setelah 7 siswa dinyatakan positif terjangkit Covid-19, Polri langsung menggelar test cepat terhadap seluruh siswa.
Menurut Argo, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan, 300 siswa yang terpapar virus tetap berada di Setukpa. Sedangkan 1.250 siswa lainnya yang dinyatakan negatif dari hasil rapid test telah kembali ke Sekolah Polisi Negara (SPN) di polda masing-masing. Mereka juga menjalani karantina mandiri selama 14 hari.
‘’Dari 300 siswa ini sudah saya lihat, sudah dilakukan langkah-langkah oleh Setukpa dan Pusdokkes Polri dan SDM,’’ ujar Argo.
Langkah pertama yang telah dilakukan yakni dengan menjalani isolasi mandiri. Kemudian, pemberian vitamin C melalui injeksi maupun tablet kepada 300 siswa. Selain itu, dilakukan pemeriksaan rontgen, olahraga ringan, dan rutin menjemur diri setiap pukul 10:00 WIB. Juga pemeriksaan rontgen, olahraga ringan. ‘’Semua sudah kami lakukan,’’ tutur Argo.
Pada prinsipnya, kata dia, Polri sudah melaksanakan berbagai upaya dan langkah-langkah sesuai protokol dalam penanganan dan penanggulangan Covid-19. ‘’Masyarakat di sekitar Setukpa secara khusus tidak perlu khawatir. Karena dari 300 siswa ini yang positif rapid test sudah dilakukan langkah-langkah penanganan,’’ ujar dia.
Menurut Argo, proses belajar mengajar juga dihentikan agar proses pencegahan dan penanganan 300 siswa yang diisolasi berjalan lancar. Pada prinsipnya, menurut Argo, Polri sudah melaksanakan berbagai upaya dan langkah-langkah sesuai protokol dalam penanganan dan penanggulangan Covid-19.
Kepala Pusat Kedokteran Kesehatan (Kapusdokkes) Polri Brigjen Musyafa meyakini hasil rapid test dapat membuktikan bahwa 300 siswa tersebut positif terpapar virus corona. ‘’Dari hasil rapid test memang ada yang positif sebanyak 300 siswa,’’ kata Musyafa dalam keterangan pers melalui rekaman audio.
Meski hasil pelaksanaan rapid test hanya 80 persen menjamin orang yang diperiksa positif Covid-19, ke-300 siswa tersebut tetap ditangani seperti pasien Covid-19.
Satu siswa masing-masing menempati ruangan sendiri di dormitori Setukpa. Nantinya, setelah menjalani masa karantina selama 14 hari, para siswa baru akan mengikuti tes swab virus corona untuk menguji kandungan virus corona atau Covid-19.
“Kecuali sudah ada gejala, batuk, pilek, demam, bahkan sesak napas, itu perlu tes swab. Tapi kalau belum ada gejala sebagaimana masyarakat yang kontak erat dengan pasien, enggak ada gejala, ODP, kan enggak perlu swab, yang di-swab adalah yang ada di rumah sakit, yang ada gejalanya, yang dia sesak napas, batuk, jangan sampai sia-sia,” kata Musyafak.
Untuk saat ini, Musyafak memastikan, para siswa tersebut dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan gejala Covid-19. “Kemarin foto rontgen, saya mau melihat apakah ada gangguan pada paru-parunya, atau ada tanda-tanda pneumonia atau tidak. Ternyata normal semua,” ujar dia.
Masyarakat juga diminta tidak khawatir, karena luas Setukpa mencapai 40 hektar. Apalagi, 300 siswa tersebut diisolasi di dalam asrama pendidikan. ‘’300 siswa ini diisolasi di satu tempat, kegiatannya hanya olahraga ringan dan berjemur. Setelah itu kembali ke kamar sesuai pelaksanaan isolasi,’’ kata Musyafak.