KORBAN: Juwita korban pembacokan perampok di rumahnya.
KORBAN: Juwita korban pembacokan perampok di rumahnya.
BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Juwita Nasution (22) menjadi korban pembacokan perampok di rumahnya Jalan RPH, Pasar I, Gang Kantor Camat, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Senin (24/2) sore. Akibatnya, korban mengalami luka bacok di kepala dan tangan menjalani perawatan serius di RS Mitra Medika.
Peristiwa itu terjadi saat korban berada di rumah seorang diri. Pelaku diketahui bernama Wahyu tetangga korban dan masuk ke rumah korban melalui jendela.
Belum diketahui secara percis kronologi pembacokan yang dilakukan oleh pelaku, pada saat kejadian itu tetangga mendengar suara teriakan dari dalam rumah korban. Lantas, tetangga menuju ke rumah korban, melihat pelaku kabur dengan menentang parang.
Kejadian itu membuat suasana di lokasi heboh, korban terkapar bersimbah darah dengan kondisi sekarat langsung dilarikan ke RSU Mitra Medika. Kejadian itu langsung dilaporkan tetangga ke Mapolsek Medan Labuhan.
Polisi yang datang ke lokasi melakukan olah TKP, dari hasil penyelidikan polisi jendela rumah korban dalam keadaan terbuka. Menurut keterangan tetangga, selama ini pelaku sudah sering melakukan pencurian dan meresahkan masyarakat sekitar.
“Kami sempat lihat si Wahyu itu kabur dari rumah si Juwita. Setelah kami cek ternyata tetangga saya sudah terkapar dibacok. Kami langsung bawa dia (Juwita) ke rumah sakit,” cerita Tuti tetangga korban.
Korban yang menjalani perawatan serius di rumah sakit dengan luka bacokan di bagian kepala mengalami luka robek dan di bagian tangan kanan dan jari telunjuk, manis, kelingking putus.
Kanit Reskrim Polsek Medan Labuhan, Ipty Deny Lubis dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah mengetahui identitas pelaku. Pihaknyan kini masih melakukan pengejaran terhadap pelaku.
“Kita masih terus melakukan pengejaran, dari hasil olah TKP belum ada diketahui barang milik korban yang hilang. Yang jelas, kita fokus mengejar pelaku,” tegas Deny Lubis. (fac/btr)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penggunaan gas bumi untuk rumah tangga sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di Kota Medan, terutama di Kecamatan Medan Denai dan Medan Area. Tidak heran, bila kini masyarakat di kota ketiga terbesar di Indonesia ini mulai mempertanyakan kembali kapan program ini akan dijalankan kembali.
Warga Jalan Srikandi Kecamatan Medan Denai, Safrin Octora sangat merasakan manfaat yang dirasakannya karena program pemerintah ini. Setidaknya, kini koleksi bukunya terus bertambah.
“Saya staf pengajar. Jadi, kalau ada uang berlebih, saya pasti akan membeli buku,” ujar pria yang bekerja di Universitas Sumatera Utara ini, Minggu (23/2).
Safrin menjelaskan, dirinya membaca diberbagai media tentang kelebihan menggunakan gas bumi. Ketika di daerahnya sedang ada pembangunan untuk jaringan pipa Jarga (Jaringan Gas), Safrin segera mendaftarkan diri. Bahkan, dirinya ke kantor Perusahaan Gas Negara (PGN) Medan yang terletak di Jalan Imam Bonjol Medan.
“Saat survei saya dan istri tidak ada di rumah, karena kami berdua bekerja. Dan survei itu ternyata dilakukan pada pagi hari. Karena takut kehilangan momen, saya putuskan untuk mendaftarkan diri. Alhamdulillah berhasil, karena survei masih berjalan,” lanjutnya.
Safrin mengatakan ada berbagai manfaat yang dirasakannya, seperti pengeluaran untuk bahan bakar berkurang hingga 50 persen. Dan tentu saja, efisiensi waktu yang membuat dirinya tidak terlalu was-was karena gas habis.
“Dan yang paling saya senangi, apinya normal, tidak terlalu besar dan kecil,” lanjutnya.
Kini, beberapa warga tepatnya tetangga Safrin mulai bertanya, akankah program ini akan datang lagi? Karena pada umumnya yang menolak kemarin menyesal, apalagi warga yang sudah eksisting tidak perlu kerepotan lagi harus mencari gas melon.
Rasa senang Safrin pun semakin terlihat saat PGN memutuskan memberikan cicilan kepada pelanggan Jargas. Seperti diketahui, selama empat bulan, pelanggan rumah tangga di Medan belum mendapatkan struk pembayaran.
Rasa senang Safrin pada PGN pun ditunjukkannya dengan menuliskan dalam media sosialnya. Bukan hanya memuji, Safrin mengatakan PGN memberikan kemudahan pada masyarakat.
“Masuknya jaringan gas ke rumah-rumah warga pada dasarnya sangat memberi berkah. Ada tetangga yang cerita jarang mandi pakai air panas, namun ketika jaringan gas PGN telah masuk ke rumah mandi air panas di pagi hari adalah suatu kebiasaan baru. Sehingga ketika sholat subuh yang selama ini belum mandi, saat ini telah segar karena selalu mandi pagi sebelum pergi ke mesjid,” lanjutnya.
Berikut tulisan Safrin di Media Sosial
“Kebahagian warga dengan masuknya jaringan gas ditambah lagi sampai beberapa bulan ke depan setelah jaringan gas masuk, tidak ada tagihan rekening yang datang. Katanya PGN akan mengirimkan tagihan melalui SMS, namun setelah 3-4 bulan hal itu urung terjadi. Sehingga dianggap banyak warga, PGN sedang melakukan promosi pemakaian gas untuk beberapa bulan, meski meter gas tetap berjalan sesuai dengan banyaknya gas yang terpakai.
Namun belum adanya tagihan dan dianggap sebagian warga sebagai promosi ternyata hanya mimpi di siang bolong. Seperti kata pepatah “tidak ada makan siang yang gratis”. Begitu juga dengan gas yang telah dipakai. Tiba-tiba masuk sebuah SMS dari PGN di hp ku. Isinya pemakaian gas Anda untuk bulan Oktober 2019 sebanyak 48 meter dengan tagihan Rp. 306.250 (plus cicilan)ii. Duch, mahal sekali, gumam ku dalam hati, sambil terus membaca SMS tersebut, yang lanjutan isinya tertulis, “pembayaran paling lambat tanggal 20 Nov 2019”.
Sebelum 20 November, sebagai warga negara yang baik aku telah pergi ke gerai pusat belanja dengan membawa uang sebanyak Rp.310.000,-. Lalu aku menyebutkan nomor pelanggan PGN yang tertera pada SMS di hp. Si kasir lalu menyebutkan sejumlah uang yang harus ku bayar. “91.500”, kata si kasir.
Mendengar itu aku terkejut. Ku baca lagi SMS dari PGN itu. Jelas disitu tertulis Rp. 306.250,-. Tapi seperti prilaku pelanggan di negara kita, aku cepat-cepat mem bayar sejumlah yang yang disebut si kasir. Biasanya pelanggan akan protes ketika jumlah yang harus dibayar lebih besar dari yang tertera di SMS. Kalau lebih kecil, kebanyakan pelanggan diam. Termasuk aku. Lumayan kan masih tersisa Rp.200.000 lebih dari apa yang harus dibayar. Hari itu aku pulang dengan bersenandung. Bukan bersenandung rindu, tetapi bersenandung gembira.
Bulan Desember datang lagi. Pada tanggal 6 Desember, SMS dari PGN masuk lagi. Isinya “pemakaian gas Anda untuk bulan Nov 2019 sebanyak 5 meter dengan jumlah tagihan sebesar Rp 32.250,-“. Hm semakin kecil, kata ku.
Pada hari yang telah kutentukan, aku berangkat ke gerai yang telah di tentukan PGN untuk membayar tagihan yang ada. Kali ini aku tidak membawa uang hanya sebesar tagihan, melainkan membawa lebih banyak. Ini ku lakukan, karena perasaan ku tidak mungkin lah aku membayar cuma Rp.32.250 seperti yang tertera di SMS PGN. Bagaimana dengan tagihan yang pernah di SMS PGN sebesar Rp.306.250,- sementara aku membayar baru Rp..91.500,- ?
Gratis ? Rasanya nggak mungkin. Meski PGN itu perusahaan milik negara, namun keberadaan perusahaannya sebagai BUMN, pasti juga mencari keuntungan. Lagi pula tidak zaman lagi rakyat diberi kemudahan. Artinya rakyat diajarkan untuk bertanggung jawab melalui pembayaran, sedangkan perusahaan memberikan pelayanan yang prima. Simbiose mutualistis, yang tepat ku rasa.
Aku lalu menyebutkan nomor pelanggan PGN kepada si kasir. Setelah sedikit mengutak-atik kpmputernya si kasir menyebutkan sejumlah uang yang harus ku bayar. “85.250”, kata si kasir. Aku lalu membayar sejumlah uang yang telah disebut si kasir, tanpa perlu untuk memprotes. Cuma hati kecil terus bertanya-tanya. Di SMS tagihan sebesar Rp.32.350 yang dibayar Rp.85.250.
Sesampainya di rumah, aku langsung menghubungi nomor pelanggan PGN yang bisa dihubungi selama 24 jam. Tidak sampai 2 menit, aku telepon ku langsung mendapat sambungan dari customer service PGN. Aku langsung, bertanya perihal yang ku alami beberapa bulan ini.
Si customer service seorang pria, menjawab semua pertanyaan ku dengan santun. Jumlah Rp.306.250 yang tertera pada SMS pertama adalah total tagihan yang harus ku bayar selama beberapa bulan jaringan gas telah aktif. Namun PGN membuat kebijakan, tagihan sebesar itu tidak diminta sekaligus, tetapi di pecah untuk beberapa bulan. Sehingga meskipun pada bulan berjalan pemakaian gas pelanggan kecil, namun tagihan yang diajukan tidak sebesar pemakaian saja, melainkan ditambahkan dengan sejumlah cicilan. Dengan demikian setelah beberap ketika cicilan ini habis, barulah tagihan disesuaikan dengan besarnya pemakaian, kata si customer service menutup pembicaraan kami.
Mendengar penjelasan si customer service tersebut, aku menjadi terkagum-kagum dengan solusi tagihan yang dilakukan oleh PGN tersebut. Solusi yang tepat dan tidak memberatkan pelanggan. PGN dapat pemasukan, namun rakyat tidak terasa berat.
Jadi kalau disuruh untuk memilih perusahaan publik yang tidak semata mementingkan bisnis ataupun pendapatan semata, aku akan mengusulkan PGN, Perusahaan Gas Negara.
PGN, gas dari bumi tanah air, untuk kesejateraan masyarakat.” (ram)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Komunitas Rider Max Community (RMC) menyatakan siap sedia bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk membuat cantik Kota Medan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Hendro Kartika ST didampingi Sekjend Khairul Ilham Siregar, Bendahara H Raja, dan Kabid touring Sujayanto kepada PLT Walikota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi di rumahnya di Jalan Intertip, Medan Timur, Senin (24/2).
Hendro Kartika mengatakan, Ir H Akhyar Nasution MSi adalah Pembina RMC. Sehingga, kami merasa semakin terpanggil untuk bersama-sama mewujudkan Kota Medan menjadi kota yang nyaman, aman dan pastinya cantik.
Selama ini, paparnya RMC memiliki agenda rutin silaturahim kopi darat (kopdar) sesama bikers setiap Jumat malam, kemudian bakti sosial, touring pendek, kegiatan tahunan ramadhan sahur on the rooad dan pemberian santunan kepada anak yatim, dan touring antar propinsi.
Selanjutnya, sebutnya RMC juga merupakan bikers peduli pariwisata, bikers anti narkoba, dan bikers tertib lalulintas.
Hendro berharap, jargon Medan Cantik yang disosialisasikan PLT Walikota Medan perlu banyak yang mendukung, kami di RMC sangat mendukung jargon ini dan siap membantu kerja-kerja sosial menjadikan kota Medan cantik. Karena dengan Medan Cantik ini kami yang sebagian besar warga Kota Medan juga merasakannya.
“Kami melihat ruang-ruang komunitas Bikers juga sudah banyak diberikan oleh Pemko Medan di bawah kepemimpinan Pak Akhyar Nasution, selanjutnya kami juga bersedia terlibat dalam penanaman pohon dan penanaman bunga-bunga di Kota Medan ini,” katanya.
Di tempat yang sama, Akhyar Nasution mengatakan, seluruh komunitas kami akan libatkan dalam menata dan mempercantik Kota Medan, karena dengan gerakan komunitas ini bisa membawa kota Medan tertata dengan cantik dan rapi. (*)
PROTES: Ratusan massa yang tergabung dalam Serikat Pegawai Perusahaan Pasar (SP3M) dan seluruh pegawai dan Pekerja Harian Lepas (PHL) Kebersihan PD Pasar Kota Medan, datangi ke kantor Bank Mandiri Cabang Pulau Pinang, Senin (24/2).
markus pasaribu/sumut pos
PROTES: Ratusan massa yang tergabung dalam Serikat Pegawai Perusahaan Pasar (SP3M) dan seluruh pegawai dan Pekerja Harian Lepas (PHL) Kebersihan PD Pasar Kota Medan, datangi ke kantor Bank Mandiri Cabang Pulau Pinang, Senin (24/2). Markus pasaribu/sumut pos
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Aksi yang dilakukan di depan Menara Mandiri yang baru dibangun tersebut dilakukan karena para pegawai menuding Bank Mandiri telah menahan gaji dan tidak membayarkan iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan mereka.
Wanasbah, salah satu pegawai PD Pasar, dalam orasinya memprotes kebijakan Bank Mandiri tersebut. Ia menyebutkan, para pegawai jadi kesulitan membiayai hidup keluarga mereka.
Setelah berorasi, salah satu manager di Bank Mandiri bernama Hendrik Tampubolon datang menemui para pegawai PD Pasar. Hendrik Tampubolon menawarkan dialog namun dengan syarat tertentu. “Silakan sampaikan aspirasi, kirim utusan lima orang untuk berdialog dengan pimpinam kami,” ujar Hendrik Tampubolon. Namun para pendemo menolak usulan pihak Bank Mandiri.
Para pendemo menyebutkan telah melakukan dialog sebelumnya dengan pimpinan Bank Mandiri di Jalan Pulau Pinang bernama Margono dan Desi. Saat itu, kata salah satu pendemo, Margono menyebutkan ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi pihak PD Pasar agar seluruh gaji dan iuran BPJS Kesehatan para pegawai PD Pasar dicairkan.
“Semua syarat sudah kami penuhi, namun gaji kami tak cair juga. Kami ingin Margono jumpai kami langsung di sini,” ujar beberapa pegawai PD Pasar ke Hendrik Tampubolon.
Namun dengan tenang dan sambil bersidekap dada, Hendrik Tampubolon meladeni para pendemo. Bahkan Hendrik Tampubolon tetap kukuh menegaskan hanya sejumlah utusan pegawai PD Pasar yang bisa diterima untuk dialog.
Karena tidak ada titik temu, Hendrik Tampubolon memilih kembali ke kantornya. Sementara para pegawai akan mengancam akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke Bank Mandiri.
“Kami akan mengadukan hal ini ke Erick Tohir (Menteri Negara BUMN). OJK sudah tegaskan tidak ada masalah dengan pencairan gaji kami, kenapa tidak juga dicairkan,” tegas sejumlah pendemo saat bergiliran berorasi.
Kepada Sumut Pos, Kuasa Hukum PD Pasar Kota Medan, Zulhairi SH mengatakan, hal itu tidak terlepas dari sikap Pemko Medan yang tidak menaati hasil putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Medan dengan nomor penetapan : 11/G/2020/PTUN.MDN tentang penundaan 3 Direksi PD Pasar Kota Medan.
Akibatnya, pihak Bank Mandiri pun dikabarkan enggan mengeluarkan kembali gaji para pegawai tersebut dengan alasan 3 Direksi yang lama masih menjadi direksi yang sah dan sebagai pihak yang berhak menandatangani dokumen pembayaran gaji.
Menurutnya, di mata hukum kewenangan Dirut PD Pasar Kota Medan tetap berada pada Drs Rusdi Sinuraya. Namun, hak kewenangannya dirampas sehingga ia tidak dapat menjalankan tugasnya seperti biasanya, termasuk menandatangani dokumen pembayaran gaji.
“Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan sudah mengeluarkan penetapan yang menunda objek sengketa pemecatan 3 Direksi PD Pasar Kota Medan. Sehingga, seharusnya secara hukum para penggugat (3 Direksi) dapat kembali menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai Perda No.10 Tahun 2014 tentang PD Pasar Kota Medan,” ucap Zulhairi SH kepada Sumut Pos, Senin (22/2).
Zulhairi menambahkan, sehingga dari hasil penetapan PTUN Medan tersebut, yang berhak mengeluarkan atau membayarkan gaji karyawan adalah Dirut PD Pasar Kota Medan, Rusdi Sinuraya yang diangkat oleh Wali Kota Medan.
“Tidak ada niat para penggugat (3 Direksi PD Pasar) untuk menghambat dan atau menghalang- halangi penggajian, apalagi tidak mau membayar gaji pekerja dan atau karyawan. Namun kewenangan beliau sebagai Dirut PD Pasar Kota Medan dihalangi. Jika beliau diberikan kewenangan sebagai Dirut PD Pasar Kota Medan, maka beliau pasti akan menandatangi dokumen untuk pembayaran gaji dimaksud. Jadi jangan diputar balikkan faktanya,” tegasnya.
Lalu, Zulhairy menegaskan bahwa saat ini Dirut PD Pasar Kota Medan, Drs Rusdi Sinuraya selalu bersedia menunggu kedatangan Direktur Keuangan dan Kabag Keuangan untuk menandatangani amprah gaji karyawan dan PHL PD Pasar Kota Medan.
“Rusdi Sinuraya kapan saja siap menerima dan menandatangi amprah gaji dan cek dari Direktur Keuangan Osman Manalu dan Kabag Keuangan, Zikriah agar gaji pegawai dan PHL dapat segera di cairkan,” bebernya.
Untuk itu, Zulhairi mengimbau kepada kedua belah pihak untuk legowo dan mentaati putusan sela PTUN Medan. “Mari taat sama hukum dan lakukan tugas dan kewenangan sesuai dgn tupoksinya,” pungkasnya. (map/ila)
KETERANGAN: Regional Operation Head Sumatera I, Sri Hargono saat memberikan keterangan kepada wartawan.
istimewa/sumut pos
KETERANGAN: Regional Operation Head Sumatera I, Sri Hargono saat memberikan keterangan kepada wartawan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pihak Bank Mandiri menyebutkan penundaan pembayaran gaji pegawai dan karyawan harian lepas (PHL), iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan milik karyawan PD Pasar Kota Medan karena adanya pergantian pengurus di perusahaan milik Pemko Medan tersebut. Hal itu dikatakan untuk menjelaskan terkait aksi demo yang dilakukan ratusan pegawai PD Pasar, di Bank Mandiri Kantor Cabang Pulau Pinang Medan, Senin (24/2).
Pergantian pengurus yang dimaksudkan Bank Mandiri, di mana sebelumnya Pemko Medan mencopot Rusdi Sinuraya dari jabatannyan
sebagai Direktur Utama (Dirut) PD Pasar dan menunjuk Nasib sebagai Plt Dirut. Tapi kemudian Rusdi menggugat ke PTUN Medan. Dan dalam putusan sela PTUN Medan, menunda keputusan Plt Wali Kota Medan Nomor 821.2/43.K/2020 atas pencopotan sejumlah direksi PD Pasar termasuk Rusdi Sinuraya.
Itu artinya, Dirut PD Pasar Kota Medan masih dijabat Rusdi Sinuraya. Tapi karena Pemko Medan sudah mengangkat Plt Dirut, maka ini mengganggu pencairan dari Bank Mandiri.
“Jadi ada dua direksi/Dirut. Menurut PTUN, Dirut lama masih menjabat. Sementara Pemko Medan sudah mengangkat Plt. Biasanya, pencairan ditandatangani dirut lama. Tapi karena Pemko Medan tidak mengakuinya lagi, maka kondisinya tidak jelas. Posisi Bank Mandiri di tengah sulit. Jika yang tanda tangan yang baru, akan bermasalah. Karena di PTUN pencopotan masih ditangguhkan,” kata Regional Operation Head Sumatra I, Sri Hargono.
Ia mengatakan, pihak Bank Mandiri menghormati hukum. Memang, dari pihak Plt Dirut terus mendesak agar Bank Mandiri segera membayarkan gaji dan pihaknya pun secara hati nurani meradlsa kasihan dan berempati. Tapi Bank Mandiri tidak bisa menghilangkan legal dari sisi hukum.
Karena legalitas yang ada sekarang PTUN melakukan penangguhan terhadap keputusan pencopotan yang dilakukan Pemko Medan. Dari Bank Mandiri sendiri, sudah berupaya kedua belah pihak yang bersengketa ini untuk menempuh jalur damai agar pembayaran gaji karyawan dilakukan dan operasional mereka tidak terganggu.
“Ini yang sedang diminta untuk mencari solusi. Jangan saya memaksakan bayar tapi nanti dituntut dari sebelah. Nanti teman-teman kami di lapangan yang kena pidana,” kata Hargono.
Ditambahkannya, dari Bank Mandiri diupayakan lagi dengan menyurati Pemko Medan untuk mencari jalan tengah. Dengan mempertimbangkan karyawan PD Pasar. Jika ada kata sepakat damai dan legal, maka pembayaran bisa dilakukan pada tanggal 27 Februari 2020.
“Karena kami (Bank Mandiri,Red) sama sekali tidak berkepentingan dengan dana PD Pasar. Tapi Kami tidak mau dituntut salah satu pihak. Jadi peluang pembayaran ada jika kedua belah pihak duduk dan menemukan kata sepakat,” katanya, tanpa menjelaskan berapa nominal pembayaran yang ditunda oleh Bank Mandiri.
Tapi yang jelas, kata Hargono, Bank Mandiri tidak ada kepentingan dengan dana PD Pasar sehingga itu bisa dicairkan segera kalau sudah ada kata damai yang legal dari kedua belah pihak. (bbs/ila)
INDAH: Seorang pengunjung menikmati suasana di Taman Wisata Danau Siombak (TWDS),di Jalan Nippon, Medan Marelan yang tampak indah.
Tampilkan Spot Foto Kekinian
INDAH: Seorang pengunjung menikmati suasana di Taman Wisata Danau Siombak (TWDS),di Jalan Nippon, Medan Marelan yang tampak indah.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Taman Wisata Danau Siombak (TWDS) menampilkan panorama spot foto kekinian di sekitar danau tersebut. Hal ini untuk meningkatkan daya tarik pengunjung.
Para pengunjung yang ingin menikmati objek wisata yang terletak di Jalan Nippon, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, nantinya tidak hanya bisa menikmati pemandangan danau dan sunset, namun bisa berswafoto ala milenial. Pengelola TWDS, Erlianto, mengatakan, dengan adaya spot foto yang telah ditampilkan akan membuat pengunjung dapat menikmati berswafoto bergaya generasi millenial.
“Spot foto-fotonya sangat menarik, dan kekinian serta instagramable. Paslah untuk sepasang kasih mengabadikan momennya untuk berswafoto di sini (Wisata Danau Siombak),” kata Erlianto, Senin (24/2).
Erlianto menyebut, ada sepuluh spot foto kekinian yang disediakan di tempat Wisata Danau Siombak tersebut. Seluruh tempatn
spot fotonya memang sangat menarik, dan indah. Jadi, bukan menjadi hambatan bagi kaum milenial yang berdomisili jauh untuk berkunjung ke Wisata Danau Siombak.
“Dari pada menghabiskan waktu wekeend (libur akhir pekan) di rumah dan tidak tahu tujuan, mendingan ke objek wisata ini. Dengan biaya murah, sudah bisa menikmati pemandangan danau dan sunset serta berswafoto,” ajaknya.
Erlianto menambahkan, untuk menarik wisataawan lokal dan mancanegara, Danau Siombak terus berbenah dan memberikan ide-ide baru kepada pengunjung mulai untuk dapat dinikmati dari kalangan anak – anak, dewasa hingga kaum milenial.
“Dulunya pada tahun 1980, tempat ini adalah lahan bekas proyek galian yang tanahnya diambil untuk penimbunan tol Belmera. Sekarang, kawasannya sudah cukup indah, asri dan cantik. Oleh karena itu, ke depannya Danau Siombak diyakini jadi destinasi Pariwisata Kota Medan,” papar Erlianto.
Salah seorang pengunjung, Sigit Irwanda Saputra mengaku, dirinya mengunjungi objek Wisata Danau Siombak untuk mengabdikan berswafoto selfie.
“Tempat spot foto-fotonya kekinian, sehingga saya tertarik untuk berswafoto. Nah, bagi kaum milenial jangan sampai ketinggalan untuk mengabadikan momen bersama keluarga maupun kekasih untuk selfie di Wisata Danau Siombak ini,” ujar pria berusia 23 Tahun ini. (fac/ila)
RUMAH DUKA: Jenazah Dr M Gade disemayamkan di rumah duka, Senin (24/2).
RUMAH DUKA: Jenazah Dr M Gade disemayamkan di rumah duka, Senin (24/2).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Seorang wisudawan Universitas Sumatera Utara (USU) bernama Dr M Gade meninggal dunia saat akan mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung di Auditorium USU, Senin (24/2) pagi, sekitar pukul 07.56 WIB.
Almarhum yang merupakan warga Jalan Padi Raya Pasar V Tembung, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deli Serdang itu, rencana akan mengikuti wisuda bersama 2.509 lulusan pada Periode II Tahun Akademik 2019/2020 ini.
“Saat 15 menit sebelum wisuda dimulai, beliau (Gade) mendadak pingsan di tempat duduknya, sehingga wisudawan lain terkejut. Lalu dihubungi pihak rumah sakit dan beliau diistirahatkan di ruangan lobby auditorium. Setelah ambulans tiba, beliau dibawa ke UGD RS USU,” kata Kepala Humas USU, Elvi Sumanti kepada wartawan, kemarin pagi.
Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh tim dokter RS USU, mahasiswa S3 Fakulitas MIPA USU dinyatakan meninggal dunia. Namun, Elvin enggan membeberkan apa penyakit diderita almarhum.
“Sampai di UGD sudah D. O. A dan pupil sudah diatasi maksimal, di biro sudah dilaksanakan RJP, dilakukan RJP oleh staf IGD dr Fairuz dan PPDS anastesi dan dinyatakan meninggal 07.56 WIB di RS. USU,” jelas Elvi.
Elvi mengungkapkan, selama berada di USU, Gade didampingi oleh istrinya dan seorang anak. Setelah itu, jenazah almarhum dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan dan dikebumikan.
Sedangkan suasana rumah duka dipenuhi oleh rekan-rekan sejawat almarhum M.Gade mulai dari mahasiswa dan dosen. Almarhum juga merupakan Ketua Program Studi Pendidikan Fisika di Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Wasliyah Medan.
Sementara istri almarhum tampak berada tepat di samping jenazah M.Gade sambil sesekali menyeka air matanya. Sambil terisak ia membuka kain putih yang menutupi bagian atas tubuh almarhum M.Gade dan mengelus-elus dada jenazah suaminya sembari mengucapkan kalimat dzikir.(gus/ila)
HOTEL:Suasana hotel Soechi di Jalan Cirebon Medan. Kerja sama BOT Hotel Soechi dan Pemko Medan berakhir 30 Juli 2020 mendatang.
HOTEL:Suasana hotel Soechi di Jalan Cirebon Medan. Kerja sama BOT Hotel Soechi dan Pemko Medan berakhir 30 Juli 2020 mendatang.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dua aset Pemerintah Kota (Pemko) Medan, yakni Hotel Novotel Soechi di Jalan Cirebon dan Me-dan Mall di Jalan MT Haryono Kota Medan akan habis masa kerja sama Build Operate Transfer (BOT)-nya pada tahun 2020 ini.
“Untuk dua kerja sama kita, tahun ini berakhir ada dua, (Hotel) Soechi di tanggal 30 Juli 2020 dan Medan Mall di November. Kami sudah menyurati Hotel Soechi, mereka juga sudah melaporkan ke kita barang-barang yang mereka kelola. Kita akan menurunkan inspektorat untuk melakukan audit, apakah gedung masih layak atau tidak,” ucap Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Medan, T Ahmad Syofyan saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Medan, Senin (24/2).
Dikatakan Syofyan, inspektorat nantinya juga akan melihat langsung bagian-bagian aset yang terdapat dan melekat pada gedung hotel yang nantinya juga merupakan bagian dari aset Kota Medan. Bila kedua aset telah habis masa BOT-nya, kata Syofyan, maka proses BOT selanjutnya akan dilakukan dalam proses lelang.”Peraturannya sekarang, BOT itu harus dilelang. Maka nanti kita akan lelang BOT keduanya,” ujarnya.
Menanggapi hal itu Wakil Ketua Komisi III DPRD Medan yang hadir serta memimpin RDP itu, Abdul Rahman mengatakan, agar BPKAD Kota Medan tidak main-main dengan kedua aset yang akan habis masa BOT nya tersebut.
“Kami mau ini transparan, agar PAD bisa maksimal. Kalau memang BOT-nya telah selesai, pastikan proses lelangnya itu harus transparan. Kami mau PAD dari kedua aset itu harus jauh lebih besar dengan pihak pengelola yang baru. Logikanya, kalau ada pengelolanya yang baru yang bisa memberikan PAD yang jauh lebih besar, kenapa tidak,” kata Abdul Rahman.
Dikatakan Abdul Rahman, harusnya Hotel Soechi bisa menjadi sumber PAD yang besar. Namun, selama ini Pemko Medan salah memilih pihak untuk bekerja sama.
“Banyak PAD di situ yang tidak kita dapatkan, kita harus luangkan waktu bersama untuk berdiskusi lebih jauh agar hal ini tidak terjadi lagi,” katanya.
Anggota Komisi III, Hendri Duin meminta agar Komisi III dapat dilibatkan dalam proses penyaringan lelang BOT-nya. Katanya, mereka juga ingin mengetahui seberapa besar kemampuan calon pengelola Hotel Soechi itu nantinya.
“Kalau ada mau BOT, supaya lapor dulu ke Komisi III, mana yang bisa lebih banyak memberikan PAD ke Kota Medan, tentu itu yang akan kita prioritaskan. Tolong, selama ini Pemko sudah terlalu banyak kecolongan PAD, kami tidak mau ini terulang lagi. BPKAD harus serius dalam melakukan proses lelang BOT keduanya, harus terbuka dan jangan ada permainan disitu,” tegas Hendra Duin.
Kabid Aset BPKAD Medan, Sumiadi mengatakan, hingga saat ini memang belum ada rencana perubahan peruntukan aset tersebut. “Belum ada rencana. Hotel Soechi masih tetap untuk hotel dan Medan Mall masih tetap untuk Mall. Makanya nanti akan di lelang untuk BOT nya,” tandasnya.
Aset Kota Medan Amburadul
Para anggota dewan di Komisi III DPRD Medan tidak menyiakan kesempatan RDP untuk mengkritisi kinerja dari BPKAD Kota Medan yang dinilai tidak becus dalam mengurus aset di Kota Medan. Banyaknya aset Kota Medan yang melimpah hampir di setiap penjuru Kota Medan menjadi salah satu bentuk ketidakseriusan BPKAD dalam mengurus aset-asetnya.
“Kami sendiri yang ada di Komisi III, sampai saat ini tidak tahu mana-mana saja aset Kota Medan ini, tak pernah sekalipun bapak di BPKAD memberikan data kepada kami aset mana saja yang dimiliki oleh Pemko Medan. Ini kacau sekali. Kalaupun ada yang saya tahu, yang mana saja itu aset Pemko Medan, pasti karena aset itu bermasalah, mulai dari Lapangan Gajah Mada yang di Krakatau dan Jalan Gajah Mada sendiri, Gedung Warenhuis yang sempat di klaim orang lain dan sempat tak terurus dan masih banyak lagi,” kata Hendri Duin kepada Kepala T Ahmad Syofyan.
Selain itu, Komisi III juga sangat menyayangkan adanya aset-aset Pemko Medan yang terlepas dan menjadi milik orang lain karena kalah di meja pengadilan, salah satunya Medan Plaza.
“Maka kami minta ke depannya, 2 minggu lagi saya beri waktu untuk BPKAD agar memberikan semua data aset itu kepada kami, baik aset bergerak maupun tidak bergerak. Kita akan bedah satu per satu,” tegasnya.
Terkait keberadaan aset Gedung Heritage, Syofyan juga membenarkan akan adanya revitalisasi gedung heritage di Kota Medan, terkhusus di Kawasan Kesawan. Namun, ia juga membenarkan bahwa masih ada masalah terkait hal itu.
Hal ini diakuinya saat anggota Komisi III lainnya, yakni T Edriansyah Rendy angkat bicara soal rencana penataan gedung heritage di kawasan Kesawan.
“Sejujurnya, saya sangat mendukung kawasan gedung heritage itu, tapi saya minta BPKAD juga harus menyelesaikan dulu masalah-masalah aset yang ada di Kota Medan. Khususnya di kawasan Kesawan dan sekitarnya, Kalau kawasan itu masih terkendala terkait asetnya, bagaimana mungkin program gedung Heritage di Kesawan bisa berjalan? Bagaimana mungkin rencana wisata malam termasuk kuliner bisa terealisasi,” kata Rendy dalam RDP.
Oleh karena itu, lanjut Rendy, agar program kawasan gedung Heritage ini bisa berjalan dengan baik, BPKAD diminta untuk menuntaskan persoalan yang ada, termasuk soal Arcade di sepanjang jalan Kesawan yang belum bisa ditertibkan oleh Dinas PKPPR karena pemilik gedung disekitar tersebut mengklaim Arcade tersebut masih merupakan bagian dari gedung miliknya.
“Sampai saat ini arcade di Jalan Kesawan, seperti restoran Tip-Top, toko-toko sport dan sekitarnya masih bermasalah. BPKAD harus bisa memastikan masalah arcade itu clear, arcade itu harus bisa dibuktikan secepatnya sebagai aset milik Pemko, supaya cepat dilakukan penertiban arcade agar program kawasan heritage disana bisa segera terealisasi,” pungkasnya. (map/ila)
CENDERAMATA: Wakapolda Sumut, Brigjen Mardiaz (kiri) menerima cenderamata dari Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Edwin Soeharto Inkiriwang saat bersilaturahim ke Mapoldasu, Senin (24/2).
Pegadaian Siap Bekerja Sama dengan Polri
CENDERAMATA: Wakapolda Sumut, Brigjen Mardiaz (kiri) menerima cenderamata dari Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Edwin Soeharto Inkiriwang saat bersilaturahim ke Mapoldasu, Senin (24/2).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dengan rasa kekeluargaan, Kapolda Sumatera Utara yang diwakili oleh Wakapolda Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto, SIK, M.Hum menerima kunjungan silaturahim manajemen PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Senin (24/2), di Mapolda Sumut.
Wakapolda Brigjen Mardiaz menyambut hangat lawatan Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Edwin Soeharto Inkiriwang beserta jajaran diantaranya Anhar Nasution (Deputy Bisnis Medan 2), Agung Wicaksono (Kasi Penjualan Medan 1), Gopher Manurung (Humas) dan Tim Merketing Executive Kanwil Medan.
Wakapolda Sumut Brigjen Mardiaz mengapresiasi kunjungan silaturahmi Pimpinan PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan. “Saya ucapkan terimakasih atas kunjungan silaturahmi PT Pegadaian (Persero),” katanya.
Wakapolda Sumut mengakui, Pegadaian saat ini sudah membumi. “Dimana-mana outletnya ada untuk melayani masyarakat,” katanya.
Ia berharap, sebagai perusahaan BUMN, PT Pegadaian (Persero) ikut berperan mengatasi ketimpangan ekonomi masyarakat melalui bantuan Corporate Social Responsibility (CSR).
“Saya berharap Pegadaian ikut berperan untuk mengatasi ketimpangan di tengah masyarakat. Kita (Polri) siap mendukung program Pegadaian di masa datang,” kata Kapolda.
Sementara itu, Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kanwil I Medan, Edwin Soeharto Inkiriwang mengucapkan terimakasih telah diterima kunjungannya ke Mapolda Sumut.
“Kami (Pegadaian) datang untuk bersilaturahmi sekaligus memperkenalkan diri sebagai Pimpinan PT Pegadaian (Persero) yang baru ditugaskan sejak 2 Januari 2020 di Kanwil I Medan,” ujar Edwin Soeharto Inkiriwang
Tambah Edwin, core bisnis utama Pegadaian adalah Gadai akan tetapi sudah berkembang luas seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. “Pegadaian juga melayani para UKM atau pelaku usaha yang membutuhkan pinjaman. Dengan jaminan BPKB kendaraan bermotor sebagai syaratnya,” katanya.
Edwin menyampaikan, kini Pegadaian telah bertransformasi ke era digitalisasi, dengan beragam macam produk pilihan. “Dulunya Pegadaian dikenal sebagai tempat transaksi gadai. Seiring dengan transformasi, Pegadaian juga menyediakan fitur atau layanan jasa investasi masa depan,” ungkap Edwin.
Seperti halnya, Pegadaian memiliki produk Tabungan Emas, yang dapat dimanfaatkan oleh semua masyarakat baik dari golongan ekonomi bawah hingga menengah. “Investasi emas sangat cocok menjadi pilihan, di mana harga emas terus berfluktuasi naik dan tahan terhadap gelombang inflasi. Emas yang disimpan akan bernilai lebih di masa depan,” ucap Edwin.
Tak hanya itu, Pegadaian juga memiliki produk masa depan lainnya, yakni Arrum Haji yang menawarkan porsi haji hanya dengan 3,5 gram emas sebagai jaminan. “Pilihan Arrum Haji bagi umat muslim yang ingin menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah,” jelasnya.
Ia berharap, ke depan antara Polda Sumut dan Pegadaian Medan dapat terjalin kerjasama yang dituangkan dalam MoU. “Kita (Pegadaian) siap bersinergi dengan Polri, sebagai pengayom masyarakat,” mintanya. (rel/ram)
AMI MEDAN: Pelantikan perwira muda pelayaran besar ahli teknika tingkat III dan ahli nautika tingkat III serta pengukuhan kadet praktik laut teknika dan nautika lulusan AMI Medan di Machmoedin Ballroom, Sabtu (22/2).
AMI MEDAN: Pelantikan perwira muda pelayaran besar ahli teknika tingkat III dan ahli nautika tingkat III serta pengukuhan kadet praktik laut teknika dan nautika lulusan AMI Medan di Machmoedin Ballroom, Sabtu (22/2).
Akademi Maritim Indonesia (AMI) Medan yang didirikan pada 24 November 1960 sebentar lagi akan mengembangkan diri menjadi Politeknik Adiguna Maritim Indonesia (AMI) Medan. Politeknik AMI Medan akan menambah sejumlah program studi baru Diploma IV.
HAL ini disampaikan Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Maritim Medan Yuris Danilwan SE MSi PhD pada acara pelantikan perwira muda pelayaran besar ahli teknika tingkat III dan ahli nautika tingkat III serta pengukuhan kadet praktek laut teknika dan nautika.
MARITIM: Direktur AMI Medan Capt Dafid Ginting MMar MSi melantik perwira muda pelayaran besar ahli teknika tingkat III dan ahli nautika tingkat III serta mengukuhkan kadet praktik laut teknika dan nautika.
Yuris Danilwan SE MSi PhD mengemukakan bahwa perguruan tinggi yang dikelolanya dalam usia 59 tahun telah mengalami beberapa perubahan sesuai anjuran pemerintah. Saat ini menjadi akademi. Dalam tahun 2020, akademi ini akan menjadi politeknik.
Sebagai perguruan tinggi dengan pendidikan profesional, AMI Medan telah banyak mendapatkan pengakuan baik nasional dan internasional atas kualitas pendidikan terbaik berstandar internasional. Tiap lima tahun AMI Medan juga lulus kelayakan pendidikan. Saat ini akreditasi institusi dan program studi di AMI Medan adalah B.
‘’Karena sistem pendidikan dan kualitas lulusan yang dihasilkan AMI Medan yang telah dikunjungi Menteri Ristek Dikti RI dan Menteri Perhubungan RI ini memiliki standar internasional dan sama dengan lulusan luar negeri. Yayasan akan terus mendukung,’’ kata Yuris Danilwan.
Tokoh pendidikan Sumut ini juga memberi apresiasi terhadap Presiden RI Ir H Joko Widodo yang memberi perhatian yang begitu luas pada pengembangan dunia maritim Indonesia. ‘’Lulusan AMI Medan tak hanya berkarya di tanah air, juga banyak yang telah bekerja dimanca negara diantaranya Istambul, Abu Dhabi dan Malaysia,’’ jelasnya.
Direktur AMI Medan Capt Dafid Ginting MMar MSi menambahkan bahwa lulusan AMI Medan siap berkiprah di era revolusi industri 4.0 dengan dibekali kemampuan 4 C yakni communication (berkomunikasi), colaboration (berkerja sama), creativity (kratif) dan critical thinking (berpikir kritis).
Lulusan AMI Medan, lanjut direktur, juga harus disiplin, berakhlak mulia dan benar-benar melakukan kebaikan. Saat sudah bekerja maka ciptakan suasana kerja yang baik dan bersahabat serta cari pengalaman sebanyak-banyaknya. ‘’Berbaktilah pada keluarga, bangsa dan negara,’’ harapnya.
Perlu diketahui bahwa berkat keuletan yang ditunjukkan taruna AMI Medan dalam pelaksanaan ujian keahlian pelaut pra prala maupun pascaprala mendapatkan hasil yang sangat memuaskan yakni 99 persen. Sebanyak 16 Perwira Muda Pelayaran Besar Ahli Teknika Tingkat III, 34 Perwira Muda Pelayaran Besar Ahli Nautika Tingkat III dan 49 Kadet Praktek Laut Nautika. (dmp)