SOLIDEO/SUMUT POS
TINJAU: Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama Staf Kepresidenan Abed Nego Tarigan, Tim Monev BNPB Kolonel Inf Yufti Senjaya, dan sejumlah OPD meninjau lokasi yang akan dibangun Huntap II bagi pengungsi Sinabung.
TINJAU: Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama Staf Kepresidenan Abed Nego Tarigan, Tim Monev BNPB Kolonel Inf Yufti Senjaya, dan sejumlah OPD meninjau lokasi yang akan dibangun Huntap II bagi pengungsi Sinabung. SOLIDEO/SUMUT POS
KARO, SUMUTPOS.CO – Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama Staf Kepresidenan Abed Nego Tarigan, Tim Monev BNPB Kolonel Inf Yufti Senjaya, Asisten I Pemerintahan Kabupaten Karo, Suang Karo-karo, Kalak BPBD Karo Martin Sitepu, Kabid RR BPBD Subur Tambun, Kabid Logistik BPBD Natanail Perangin-angin, meninjau lokasi pembangunan hunian tetap (Huntap) III. Pembangunan huntap tahap III dilakukan di tiga desa dan satu dusun.
Peninjauan ini dilakukan Bupati Karo guna memastikan kesiapan pemenang tender, telah memasukkan bahan-bahan material untuk pembangunan rumah warga relokasi Gunung Sinabung, sekaligus sebagai bahan masukan kepada Presiden Jokowi melalui Staf Kepresidenan, Abed Nego Tarigan, dan BNPB.
Kalak BPBD Karo Martin membenarkan peninjauan lokasi tempat pembangunan huntap tahap III oleh Bupati Karo bersama Staf Kepresidenan, Senin (5/8). “Peninjauan ini untuk mengecek kesiapan di lapangan terkait material yang sudah masuk. Sebab dalam minggu ini pembangunan huntap tahap III akan segera dimulai sambil menunggu proses pemenang tender akan ditayangkan,” ujar Martin.
“Kita sudah lihat, pasir, kerikil, batubata dan kayu semuanya bahan ini sudah masuk, artinya pembangunan minggu ini akan start,” tegasnya. Hal senada disampaikan Kepala Bidang Rekonstruksi dan Rehabilitasi BPBD Karo Subur Tambun menjelaskan, pembangunan huntap tahap III dalam waktu dekat memang sudah dimulai dibangun. “Bangunan huntap bertipe 36 (6 x 6 meter), dengan fasilitas kamar mandi, dapur dan ruangan keluarga. Sedangkan kamar tidur tidak ada,” tutur Subur.
Huntap III dibangun di tiga desa dan satu dusun. Di Sigarang-Garang dibangun 368 unit, Desa Sukanalu 248 unit huntap, Desa Mardingding 258 unit huntap, sedangkan di Dusun Lau Kawar sebanyak 18 unit. “Huntap tahap III ini dibangun di lahan seluas 200 hektare yang mengandalkan APL (areal penggunaan lain),” ujar Subur. Staf Kepresidenan Abed Nego Tarigan mengapresiasi langkah BPBD Karo, dalam waktu dekat ini pembangunan huntap tahap III dimulai. (deo/han)
DITERTIBKAN: Petugas Satpol PP Deliserdang didampingi muspika setempat menertibkan papan reklame yang tidak berizin di Jalan Sutomo, Lubukpakam.
DITERTIBKAN: Petugas Satpol PP Deliserdang didampingi muspika setempat menertibkan papan reklame yang tidak berizin di Jalan Sutomo, Lubukpakam.
LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Pemkab Deliserdang terus melakukan pembenahan terhadap Kota Lubukpakam yang akan dinilai pada penilaian Wahana Tata Nugraha (WTN) dan Adipura. Bagian dari penataan yang dilakukan adalah penertiban papan reklame.
Kasat Pol PP Deliserdang, Suryadi Aritonang mengatakan, papan reklame yang ditertibkan adalah papan reklame yang tidak mempunyai izin, dan tidak membayar pajak. “Termasuk papan reklame yang dibangun tidak pada tempatnya. Ada papan reklame yang punya izin, tapi dibangun di trotoar,” ujar Suryadi Aritonang, Selasa, (6/8).
Sebelum ditertibkan, lanjut Suryadi pihaknya terlebih dahulu melakukan pendataan dan penyelidikan, mana-mana saja papan reklame yang bermasalah. Setelah didata, selanjutnya mereka beri tanda silang pada tiang papan reklame yang akan dieksekusi. “Jumlahnya ada seratus juga itu di Lubukpakam. Seminggu ini kita upayakan bisa selesai lah,”kata Suryadi.
Dalam dua hari terakhir, papan reklame yang ditertibkan oleh Satpol PP masih di kawasan Jalan Sutomo Lubukpakam. (btr/han)
kunjungi:
Bupati Langkat Terbit Rencana PA saat mengunjungi PN Stabat, Senin (5/8).
kunjungi:
Bupati Langkat Terbit Rencana PA saat mengunjungi PN Stabat, Senin (5/8).
LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Bupati Langkat Terbit Rencana PA membuka kegiatan Fasilitasi Tim Pelaksana Forum PPA (Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak / Satgas PPA), di Aula Kantor Pengadilan Negeri Stabat, Senin (5/8).
Bupati Langkat pada arahan dan bimbingannya, menerangkan, kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2019, yang bertujuan untuk mempererat koordinasi dari seluruh Stakeholder, dalam penanganan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Langkat.
Bupati berharap, dengan adanya sinergisitas dari seluruh Stakeholder yang ada di Kabupaten Langkat, baik unsur pemerintah, penegak hukum, lembaga dan organisasi-organisasi lainnya. Ke depan, perempuan dan anak yang ada di Kabupaten Langkat, menjadi terlindungi dan terpenuhi hak-haknya. “Kiranya pertemuan ini melahirkan komitmen, bagi kebaikan, perhatian terhadap perempuan dan anak, khususnya di Langkat,” pintanya.
Perlu dilindunginya kaum perempuan dan anak, sambung Bupati, sebab meraka adalah pilar yang sangat berperan penting dalam proses pembangunan. Perempuan merupakan tiang negara yang menjadi penyangga kekuatan bangsa, karena padanyalah terletak keberhasilan dalam membina dan mendidik anak-anak, sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Sedangkan anak, adalah potensi masa depan, sehingga jaminan rasa aman dan nyaman, harus di dapat dari orang tua, lingkungan masyarakat sekitar, lingkungan sekolah, penegak hukum dan pemerintah.
“Oleh sebab itu, kita perlu memberikan perhatian dan perlindungan kepada perempuan dan anak, agar terhindar dari segala bentuk tindak kekerasan,” pungkasnya. Disampaikan Terbit Rencana, Pemerintah Kabupaten Langkat terus berupaya untuk mewujudkan Langkat menjadi Kabupaten Layak Anak (KLA). Dimana upaya tersebut, membuahkan hasil dengan memperoleh penghargaan, Langkat sebagai KLA Tingkat Pratama, pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2019 di Makasar.
Ketua Pengadilan Negeri Stabat, Efendi, dikesempatan sama, mengucapkan terima kasih kepada Bupati Langkat, atas kepercayaannya melaksanakan kegiatan ini di Pengadilan Negeri Stabat. Pihaknya berharap, kegiatan ini dapat motivasi dan meningkatkan semangat seluruh pihak terkait, untuk lebih bekerja keras dalam mengayomi perempuan dan anak.”Semoga dengan semangat itu, kedepan seluruh bentuk kekerasan kepada perempuan dan anak, tidak terjadi lagi di bumi bertuah ini,” ujarnya.
Kadis PPKB dan PPA Langkat, Hj. Purnama Dewi Tarigan, pada laporannya, pelaksanaan ini berdasarkan keputusan Bupati Langkat No: 463-19/K/2019 tanggal 16 april 2019 tentang Satgas PPA Kabupaten Langkat 2019. Untuk peserta berjumlah 39 orang, terdiri dari unsur penegak hukum, unsur lembaga dan istansi terkait. “Sedangkan nara sumbernya dari hakim pengadilan tinggi yang juga selaku anggota Pokja perempuan dan anak Mahkaman Agung RI Albertina,” sebutnya.
Usai kegiatan, Bupati beserta rombongan dan pihak terkait, bersama-sama meninjau ruang sidang dan tahanan sementara Pengadilan Negri Stabat, untuk anak dibawah umur. (bam/han)
Kasus dugaan malapraktik yang diduga dilakukan oknum dokter RSU Muhammadiyah kepada pasien bernama Fathir Arif Siahaan, bocah berusia 2,7 tahun yang meninggal dunia, akhirnya berujung damai. Pihak rumah sakit mengajak persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan atau berdamai.
Ajakan berdamai itu diutarakan ibu Fathir, Putri Rahayu (31) saat ditemui Sumut Pos di RSU Muhammadiyah usai melakukan pertemuan dengan pihak rumah sakit yang dilakukan secara tertutup, Selasa (6/8) sore Putri didampingi ibunya dan abang iparnya.
“Dari pertemuan tadi (kemarin, red), mereka (pihak RSU Muhammadiyah) meminta secara kekeluargaan, berdamai. Kita pun meminta bagaimana baiknya aja, yang penting ada tanggung jawab mereka dan jangan sampai terulang lagi,” ujarnya.
Disinggung bentuk perdamaian seperti apa yang disampaikan RSU Muhammadiyah, Putri menyatakan baru sebatas kesepakatan saja. Kongkritnya, belum ada dibahas. “Nanti mereka akan datang untuk meminta maaf kepada kami. Untuk bagaimana selanjutnya, itu juga akan disampaikan nanti,” sebut Putri.
Ditanya kapan waktunya, Putri mengatakan belum bisa dipastikan karena tidak ada disampaikan pihak rumah sakit. “Kemungkinan dalam waktu dekat ini, kita tunggulah itikad baik mereka,” cetusnya.
Sementara, paman Fathir, Jamil Zeb Tumori mengatakan, RSU Muhammadiyah jangan mengulur-ulur waktu untuk bertanggung jawab. Sebab, pihak keluarga sudah membuka diri. “Kalau hanya itu disampaikan pihak rumah sakit, seperti mengulur waktu dan terkesan menghindar,” ujarnya saat dihubungi via seluler.
Jamil mengaku kecewa karena sudah beberapa kali rencana pertemuan batal dilakukan. Terlebih, dengan keputusan berdamai ini tetapi belum jelas bentuk damai yang disampaikan seperti apa. “Kita minta tanggung jawab mereka, kalau berdamai tentu harus disampaikan seperti apa. Selain itu, jangan pula nanti janji-janji palsu saja. Jadi, saja lihat saja tanggung jawab mereka seperti apa nantinya,” tandas dia.
Terpisah, Humas RSU Muhammadiyah, Ibrahim Nainggolan mengaku dari pertemuan yang dilakukan dengan keluarga pasien baru sebatas mediasi untuk berdamai. Mengenai langkah selanjutnya setelah berdamai, belum bisa disampaikan. Termasuk, bentuk perdamaian seperti apa yang akan dilakukan pihak rumah sakit.
“Secara substansi kita belum bisa menyampaikan, karena masih dalam tahapan atau proses pembicaraan. Akan tetapi, komunikasi antara pihak rumah sakit dengan keluarga pasien sudah terjalin,” akunya.
Terkait oknum dokter yang diduga melakukan malapraktik, Ibrahim tak bisa menjawab secara pasti. “Soal itu, kami belum sampai ke sana. Kami sedang proses mediasi kepada keluarga pasien. Jadi, belum sampai pada keputusan final, akan apa dan berbuat apa,” pungkasnya.
Sementara itu, Anggota komisi II DPRD Medan, Rajuddin Sagala mengatakan, pihak komisi B telah menunggu agar keluarga korban segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihaknya untuk segera ditindaklanjuti.
“Sampai sekarang mereka belum ada memberikan laporan ke kami, padahal kami sudah lama menunggu laporan itu berikut bukti yang ada, setidaknya mereka datang dan melaporkan dan turut menceritakan kronologi kejadian kasus tersebut,” ujar Rajuddin Sagala kepada Sumut Pos, Selasa (6/8).
Seperti diketahui, bocah yang bernama Fathir Arif Siahaan ini mengalami luka bakar sekitar 60 persen di tubuhnya, tetapi hanya diberi resep obat oleh oknum dokter rumah sakit Muhammadiyah yang berada di Jalan Mandala By Pass.
Arifin Siahaan (36), orang tua korban menceritakan, awalnya ia mendapat kabar bahwa Fathir mengalami luka bakar di bagian leher, dada, perut, punggung, tangan dan paha kanan pada Kamis (25/7) siang sekitar pukul 11.00 WIB. Luka bakar itu akibat terkena kuah panas gulai sayur daun ubi dan labu sewaktu bermain di rumah neneknya, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Mendapat kabar tersebut, Arifin kemudian bergegas pulang ke rumahnya. Namun, sesampai di rumah ternyata anaknya sudah dibawa ke puskesmas. “Pas sampai di rumah, tetangga bilang anak saya dibawa ke puskemas. Itulah saya mau menyusul ke sana, tapi enggak lama datang istri saya sama keluarga dan tetangga bawa si fathir lantaran puskemas menolak.
Puskesmas menyarankan agar anak saya dibawa ke RSU Muhammadiyah karena paling dekat. Lantas, dibawa lah Fathir ke rumah sakit tersebut dengan status pasien umum,” ungkap Arifin bersama istrinya, Putri Rahayu, saat ditemui Sumut Pos di rumahnya, Minggu (28/7) siang.
Setibanya di RSU Muhammadiyah, sebut Arifin, anaknya langsung dibawa ke salah satu ruangan UGD dan diberikan pertolongan oleh dokter yang menanganinya yaitu dokter perempuan berinisial F dan satu lagi dokter laki-laki. Selanjutnya, dia meminta kepada dokter tersebut agar diopname karena melihat kondisi luka bakarnya lumayan parah. Akan tetapi, dokter malah menyarankan untuk pulang atau dirawat di rumah.
“Saya sempat minta agar anak saya ini diopname saja, tetapi dokter bilang sudah dikasih obat/salep dan dirawat di rumah. Namun, dibilangnya juga kalau ada apa-apa bawa aja lagi ke rumah sakit ini,” jelas Arifin.
Karena merasa yakin dengan perkataan dokter, dia kemudian membawa anaknya pulang ke rumah. Namun demikian, tetap resah dan khawatir karena anaknya terus-terusan menangis sembari teriak merintih kesakitan. “Saya dan istri begadang semalaman suntuk, karena anak saya nangis terus dan teriak kepanasan. Padahal, sudah dikasih obat dan salep dari resep dokter tersebut. Itulah, menjelang pagi (Jumat, 26/7) kondisi si Fathir memburuk,” terang Arifin.(ris/map/ila)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Badan Kepegawaian Negara (BKN) Regional VI Medan tidak memiliki data pemerintah daerah mana saja di Sumatera Utara yang sudah mengajukan formasi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) 2019 ke pusatn
“Kami tidak ada informasinya,” ungkap Kepala BKN Regional VI Medan, English Nainggolan menjawab Sumut Pos via layanan WhatsApp, Selasa (6/8).
Tak hanya itu, BKN Regional VI Medan juga tidak mengetahui atau belum memiliki data pemda di Sumut untuk perekrutan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). “Iya, tidak ada juga,” kata English.
Namun menurut dia, kemungkinan mengenai pengajuan formasi CASN dan PPPK tahun ini bisa saja dilakukan pemda melalui sistem online ke Kemenpan RB. Selanjutnya sembari menunggu jawaban Kemenpan RB tersebut, pemda bersangkutan belum membuka pendaftaran CASN dan PPPK. “Bisa saja seperti itu, mereka belum tembuskan ke kita karena masih menunggu respon dari pusat,” pungkasnya.
Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu sebelumnya mengungkapkan sampai kini masih menunggu arahan pemerintah pusat sekaitan formasi CASN dan PPPK untuk dilakukan rekrutmen tahun ini.
“Usulannya sudah kita sampaikan secara online ke Menpan RB. Sampai sekarang kita masih menunggu respon dari mereka,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKD Setdaprovsu, Abdullah Khair Harahap, Selasa (23/7).
Mekanisme pendaftaran rekrutmen CASN dan PPPK ini, sebutnya dilakukan secara online. Disamping itu, belum semua daerah juga yang membuka pendaftaran karena masih menunggu instruksi Kemenpan RB.
“Kalau menurut informasi (pendaftaran CASN) pada Oktober 2019. Namun gak mungkin kita buka sebelum terima formasi dari Kemenpan,” katanya. (prn/ila)
IST/SUMUT POS
DIAMANKAN: Nova Fida Wati diamankan petugas Percut Seituan karena kedapatan menyimpan sabu.
POS DIAMANKAN: Nova Fida Wati diamankan petugas Percut Seituan karena kedapatan menyimpan sabu.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Nova Fida Wati (31), warga Jalan Denai Gang Kapok, Kecamatan Medan Denai tak bisa berkutik lagi saat diboyong petugas kepolisian ke Mapolsek Percut Seituan. Pasalnya, wanita berambut pirang ini kedapatan menyembunyikan narkoba jenis sabu di telapak tangannya yang digenggam saat polisi melakukan patroli di Jalan Denai Gang Sehat.
Informasi diperoleh Selasa (6/8), wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini diamankan polisi sekira pukul 15.30 WIB, Sabtu (3/8). Awalnya, polisi mendapat laporan dari informan bahwa ada seorang wanita baru keluar dari salah satu kawasan jual beli narkoba di wilayah hukum Polsek Percut Seituan.
Mendapat informasi itu, Polsek Percut Seituan menurunkan langsung petugas untuk menuju lokasi yang disebutkan dan melakukan pengintaian. Tiba di lokasi, petugas melihat seorang wanita sesuai ciri-ciri yang disebutkan dari informan. Polisi kemudian membuntutinya hingga ke Jalan Denai Gang Sehat.
Di situ, petugas melihat tersangka duduk dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Melihat itu, petugas langsung melakukan penyergapan dan penggeledahan. Benar saja, ketika digeledah ditemukan barang haram tersebut yang digenggam di telapak tangannya.
Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, Iptu MK Daulay mengatakan, dari tangan tersangka disita barang bukti 1 paket sabu dengan berat bruto 0,60 gram. Sabu tersebut baru saja dibelinya dari seseorang yang diduga bandar dan saat ini sedang ditelusuri.
“Ketika digeledah, wanita ini sempat menolak. Namun, karena gelagatnya mencurigakan dan tangan kanannya seperti menggenggam sesuatu, maka diminta untuk membukanya sendiri. Dia kemudian akhir membuka genggaman tangannya dan ternyata didapati 1 paket kecil sabu,” ujar Iptu MK Daulay.
Diutarakannya, wanita tersebut berencana menggunakan sabu yang baru dibelinya. Namun gagal, karena keburu ditangkap petugas.
“Saat ini kita masih mencari tahu asal barang (narkoba) yang didapatnya, untuk meringkus bandarnya,” tandasnya.(ris/ala)
BARANG BUKTI: Kanit Reskrim Polsek Tanah Pinem, Aiptu Fery Sitanggang menunjukkan barangbukti sepedamotor yang ditinggalkan pelaku
di lokasi kejadian.
BARANG BUKTI: Kanit Reskrim Polsek Tanah Pinem, Aiptu Fery Sitanggang menunjukkan barangbukti sepedamotor yang ditinggalkan pelaku
di lokasi kejadian.
DAIRI, SUMUTPOS.CO – Dua warga Desa Harapan, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi sekarat setelah dibacoki Janiar Ginting (42) yang juga teman sekampung korban. Peristiwa terjadi di warung kopi milik Andreas Sembiring, Minggu (4/8) malam.
KEDUA korban masing-masing, Perhatian Sembiring (37) dan Julkarnaen Pinem (29). Terkait kejadian ini, pihak Polsek Tanah Pinem sudah memeriksa Riston Pinem (37) dan Abdul Saragih (55) sebagai saksi mata.
Kepada penyidik, Riston Pinem mengaku malam itu dia sedang duduk bersama kedua korban di warung kopi milik Andreas Sembiring. Posisi kedua korban membelakangi jalan raya.
“Tiba-tiba Janiar datang menenteng parang. Dia (pelaku) langsung membacok punggung Perhatian Sembiring sebanyak dua kali,” tutur Riston Pinem kepada penyidik.
Perhatian Sembiring langsung berusaha menghindar. Dia lari ke samping warung.
“Tapi Janiar terus mengejar. Perhatian Sembiring akhirnya menyelamatkan diri ke seberang jalan raya,” sebut Riston Pinem.
Belum puas, pelaku kemudian naik sepedamotor untuk mengejar Perhatian Sembiring. Di tepi jalan raya, langkah pelaku ditahan Julkarnaen Pinem yang coba melerai.
“Tapi Janiar malah membacok kepala dan tangan Julkarnaen,” tutur Riston Pinem.
Kapolsek Tanah Pinem, AKP Benterman Silalahi membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, kedua korban mengalami luka berat.
“Korban dilarikan ke RSU Sidikalang guna penanganan medis,” kata Silalahi, Selasa (6/8).
Teranyar, Perhatian Sembiring terpaksa dirujuk ke Medan karena pendarahan dan luka serius. Sedangkan pelaku kabur dan meninggalkan sepedamotornya di lokasi kejadian.
“Saat ini pelaku sedang kita buru. Kita imbau JG segera menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas Silalahi.(mag-10/ala)
ist
TEWAS: Feri Jonathan Simanjuntak ditemukan tewas di tempat tumpukan sampah usai pamit pergi ke sekolah.
TEWAS: Feri Jonathan Simanjuntak ditemukan tewas di tempat tumpukan sampah usai pamit pergi ke sekolah.
SUNGGAL, SUMUTPOS.CO – Warga di seputaran kawasan Jalan Pardede, Desa Mulyo Rejo, Deliserdang mendadak heboh, Selasa (6/8) sekira pukul 05.30 WIB. Pasalnya, sesosok mayat remaja berpakaian seragam sekolah ditemukan di tumpukan sampah. Tepat di depan perumahan Villa Mulya Mas.
Belakangan, remaja tersebut diketahui bernama Feri Jonathan Simanjuntak (16) warga Jalan Gereja GKPI, Lumban Bagasan, Dusun X, Desa Purwodadi, Sunggal, Deliserdang.
Jasad Feri ditemukan warga dalam kondisi telentang dan masih mengenakan seragam sekolah pelayaran. Dari hidungnya terlihat mengeluarkan darah.
Informasi yang beredar di lokasi pun simpang siur. Beberapa warga menduga bahwa Feri merupakan korban pembunuhan.
Namun tidak satu pun warga yang mengaku mendengar suara gaduh di lokasi sebelum menemukan jenazah remaja itu.
Dugaan lain mengatakan, bahwa pemuda itu adalah korban tabrak lari. Pasalnya, tak satupun barang berharga milik Feri yang hilang.
Beberapa tetangga yang ditemui di rumah duka, membenarkan bahwa remaja itu adalah siswa sekolah pelayaran. Sulung dari 3 bersaudara itu sehari-hari diantar orang tuanya ke sekolah. Namun subuh tadi, Feri diketahui berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.
“Biasanya diantar bapaknya, kadang mamaknya. Tapi ini tadi ban kereta kempes, jadi dia jalan kaki perginya. Dia jam 5 pagi udah berangkat dari rumah,” ujar pria bermarga Lubis, tetangga keluarga korban.
Hingga saat ini, menurut Lubis, pihak keluarga belum mengetahui pasti penyebab kematian Feri. Namun dugaan sementara, remaja itu tewas akibat kecelakaan lalu lintas.
“Kalau ada yang bilang dibunuh, kami nggak tau. Biar lah polisi yang menjelaskan. Yang kami dengar sampai saat ini karena kecelakaan,” tegas Lubis diamini beberapa tetangga lainnya. Apalagi, menurut para tetangganya, Feri dikenal mereka sebagai anak yang baik.
“Nggak pernah yang aneh-aneh anak ini. Nyari kangkung di sawahnya ini bantu orangtuanya. Kalau musuh, nggak ada lah,” sebut beberapa warga di rumahnya.
Saat ini, jenazah Feri sudah dievakuasi ke rumah sakit Bhayangkara. Sementara pihak keluarga tengah menunggu kedatangan jenazah di di rumah.
“Ini sekarang bapaknya di rumah sakit Bhayangkara,” tutup warga di rumah duka.
Kanit Reskrim Polsek Sunggal, Iptu M Syarif Ginting mengatakan, tewasnya korban diduga akibat kecelakaan lalu lintas.
“Laka lantas itu. Selengkapnya konfirmasi ke Kanit Lantas aja,” jawabnya.
Kanit Lantas Iptu Syahri Ramadhan ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa remaja itu diduga tewas akibat tabrak lari.
“Menurut ibu korban, dia pergi sekolah jam 05.00 WIB berjalan kaki. Setibanya di lokasi, diduga korban ditabrak dan mengalami luka kaki kiri patah, kepala bagian belakang luka dan hidung mengeluarkan darah,” jelas Syahri.
Selain itu, lanjut Syahri, hasil penyelidikan sementara tidak ada barang milik Feri yang hilang.
“Dari lokasi kita amankan barang bukti satu unit handphone merk Samsung, sebuah tas warna hitam logo PM dan uang sebanyak Rp12 ribu,” bebernya. (adi/ala)
NAIK KELAS
Pesawat mendarat di Bandara Sibisa, Kabupaten Toba Samosir, belum lama ini. Tahun depan, bandara ini akan naik kelas menjadi bandara kelas menengah.
NAIK KELAS
Pesawat mendarat di Bandara Sibisa, Kabupaten Toba Samosir, belum lama ini. Tahun depan, bandara ini akan naik kelas menjadi bandara kelas menengah.
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Sebagai destinasi pariwisata prioritas, Danau Toba, Sumatera Utara, mendapat perhatian yang cukup besar dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Untuk memperlancar aksesibilitas serta mempermudah wisatawan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara akan mengoptimalkan Bandara Sibisa di Kabupaten Toba Samosirn
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti menjelaskan, pihaknya siap mendukung terciptanya akses yang mudah bagi wisatawan ke destinasi pariwisata. Dan untuk meningkatkan konektivitas transportasi di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, Kemenhub akan memperpanjang landasan pacu Bandara Sibisa dari 1.200 m menjadi 1.900 m. Diharapkan perpanjangan landas pacu dapat selesai pada tahun 2020.
“Tahun 2020 ditargetkan selesai, sehingga pesawat komersil yang lebih besar seperti ATR 72 yang membawa wisatawan dapat mendarat langsung ke sini. Karena bandara ini dekat dengan Parapat yang merupakan pintu masuk kawasan Danau Toba,” kata Polana dalam keterangannya, Selasa (6/8).
Dia mengatakan, pengembangan Bandara Sibisa diperlukan strategi untuk membagi penerbangan Bandara Silangit. Saat ini antara Bandara Silangit bagian selatan dengan Sibisa, ada jarak kira-kira hampir 200 Km. Dengan jarak itu memang sudah selayaknya ada satu bandara yaitu Bandara Sibisa.
“Nantinya Bandara Silangit akan melayani pesawat komersil yang besar, sedangkan di Sibisa melayani pesawat yang lebih kecil seperti ATR 72,” kata Polana.
Seperti diketahui, Bandara Sibisa merupakan bandara perintis yang telah dibangun sejak era Presiden Soeharto pada Tahun 1977. Dioperasikan pertama kali pada 15 November 2006, yang ditandai dengan penerbangan perdana maskapai Susi Air rute Medan-Sibisa. Layanan penerbangan hanya bertahan Ferbuari 2007, setelah itu ditutup. Setelah 12 tahun berlalu, pada 12 April 2019 penerbangan di bandara ini dibuka kembali.
Polana juga mengatakan, saat ini Bandara Sibisa beroperasi sebagai bandara perintis. Namun ke depannya, dapat dikembangkan menjadi bandara kelas menengah untuk penerbangan short dan medium haul. Misalnya, penerbangan pesawat kecil dan menengah ke Medan, Banda Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, serta daerah lain di Sumatera Utara.
“Kami berharap dengan memperpanjang landasan pacu Bandara dari 1.200 m menjadi 1.900 m akan menarik maskapai untuk lebih melayani penerbangan dari dan ke Sibisa. Dan hal ini tentunya akan makin banyak menarik minat wisatawan yang menggunakan layanan penerbangan di Bandara tersebut untuk menuju Danau Toba, “ katanya.
Sementara itu, Pengamat Penerbangan, Gerry Soejatman mengatakan, dukungan Kemenhub terkait perkembangan pariwisata melalui rencana memperpanjang landasan pacu di Bandara Sibisa merupakan hal positif yang merupakan kolaborasi dua lembaga negara untuk dapat medatangkan wisatawan.
“Sebab tanpa ada sarana transportasi yang layak dan mudah akan membuat wisatawan memikir dua kali berkunjung ke destinasi wisatawan, walaupun objek wisata tersebut memiliki keunggulan yang dicari oleh para pelancong,” katanya.
Gerry juga berharap apabila sudah ada bandara atau ada rencana pengembangan bandara maka yang harus mengoptimalkan adalah Pemerintah Daerah (Pemda) dan instansi untuk dapat membuat rencana pengembangan pariwisata disana, sehingga wisatawan tertarik untuk berkunjung ke destinasi. “Kan sayang jika bandara sudah bagus dan layak tapi suguhan pariwisatanya untuk para wisatawan tidak maksimal,” katanya.
PHRI Minta Tiket Pesawat Murah
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyambut baik keseriusan Pemerintah Pusat membangun dan mempromosikan besar-besaran Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba. Namun, semua itu harus diikuti dengan normalnya kembali harga tiket pesawat domestik.
Ketua PHRI Sumut, Denny S Wardhana mengatakan, indikator untuk mengembangkan pariwisata selain infrastruktur harus didukung dengan terjangkaunya biaya transportasi menuju objek wisata tersebut, seperti di Danau Toba. Jika tidak, akan berdampak pada tidak maksimal capaian target dalam mendatangkan wisatawan dengan jumlah besar. “Kalau diperbaiki Danau Toba dan dipromosikan besar-besaran, namun harga tiket pesawat tidak turun, sama saja itu,” ucap Denny kepada Sumut Pos, Selasa (6/8) siang.
Denny mengungkapkan, dampak tiket pesawat masih tergolong mahal ini, sangat dikeluhkan Association Of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) karena terjadi penurunan jumlah kunjungan. Tidak itu saja, PHRI pun mengalami penurunan jumlah hunian hotel. “Sangat berdampak dengan harga tiket pesawat domestik. Jadi gini, tahun lalu PHRI, Asita dan Kementerian Pariwisata mengadakan roadshow 6 titik ke Indonesia ‘Ayo ke Toba’. Tahun lalu, kita buatkan paket wisata dengan harga spesial. Paketnya sangat-sangat murah. Kita ingin mendatangkan orang ke Danau Toba. Tidak mau mengambil keuntungan yang besar. Cukup berhasil,” jelas Denny.
Kemudian, paket wisata murah terganjal dengan kondisi harga tiket pesawat domestik yang mahal. Bila hotel diberikan harga dengan murah, namun harga tiket pesawat tidak bisa diberikan dengan harga murah, kunjungan wisatawan langsung turun drastis atau ngedrop. “Sekarang tinggal ke Danau Toba kunjungan orang bekerja. Sudah ada dibiayai. Untuk liburan terasa turunnya. Lebaran saja, kurang berhasil juga,” tutur Denny.
Dampak tiket pesawat mahal, menurutnya bukan hanya hotel atau penginapan yang kena imbas, tapi, suplayer sayur, daging, buah-buahan dan penjual souvenir juga merasakan. “Jadi, dampaknya luas terhadap industri pariwisata. Kita harapkan normal kembali lah. Tidak sejor-joran tahun lalu. Kalau pergi harga tiket pesawat Rp1,6 juta masih mahal itu. Harus bisa dimenej, saat liburan lebaran naik, di luar itu turun, saat liburan anak sekolah naik. Kemudian turun lagi. Kalau ini kan nggak, rata semua. Dan tidak ada turun-turunnya,” ungkap Denny.
Namun begitu, Denny mengungkapkan, PHRI bersama pemerintah tetap bersinergi dan siap bekerjasama untuk membantu mengembangkan Danau Toba menjadi objek wisata kelas dunia yang wajib untuk dikunjungi wisatawan mancanegara (Wisman). “Kehadiran pemerintah di Danau Toba membuat Danau Toba lebih baik lagi. Ditambah lagi, pembenahan SDM (Sumber Daya Manusia). Menurut saya sedang pertumbuhan hotel dan restoran di Danau Toba. Apalagi, masih dalam pembangunan ya,” jelas Denny.
Makanya menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah membangun untuk di Danau Toba sudah betul. Sekarang Kementerian Pariwisata tengah menjalani program pelatihan SDM.”Ada melibatkan kita juga dari PHRI,” ucap Denny.
Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Danau terbesar di Asian Tenggara itu, menurut Denny disertai aktrasi. Karena, wisatawan tertarik dengan hiburan yang disajikan. “Yang pasti daerah wisata itu, harus ada aktrasi. Kemudian, terintegrasi semuanya. Karena, wisatawa itu dia itu mau liburan. Sudah mempersiapkan dana untuk liburan tersebut,” sebut Denny.
Denny menjelaskan, Danau Toba mempunyai potensial pariwisata yang besar. Karena, biaya berkunjung ke Danau Toba lebih murah ketimbang ke Bali. Secara ekonomi, poin itu menjadi keunggulan bagi Danau Toba sendiri. “Rata-rata satu turis itu minial menghabiskan per hari 100 Dolar AS. Kalau dikalikan Rp14 ribu kurang lebih Rp1,4 juta. Di luar penginapan, itu biaya untuk makan, untuk oleh-oleh. Kalau ke Danau Toba Rp1,4 juta pasti lebih kan. Coba ke Bali, sehari Rp 1,4 juta kurang. Bagaimana kita orang atau wisatawan bisa mengeluarkan uang itu,” kata Denny.
Dengan kondisi itu, Denny optimisi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mampu menarik kunjungan wisman ke Danau Toba dengan target 1 juta wisman. Pastinya, wisatawan juga memperhitungkan biaya perjalanan. “Kalau dikalikan 100 US dolar dengan wisman berkunjung 1 juta orang sudah berapa uang berputar disitu. Berarti daerah disitu maju, tapi mengarahkan kesitu tidak semua membalikan telapak tangan. Harus ada proses,” tandasnya.(bbs/gus)
istimewa
KONSULTASI: Panitia Kerja Pembntukan Provinsi Sumatera Tenggara usai konsultasi dengan Bappenas di Jakarta, Senin (5/8) lalu.
KONSULTASI: Panitia Kerja Pembntukan Provinsi Sumatera Tenggara usai konsultasi dengan Bappenas di Jakarta, Senin (5/8) lalu.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Panitia Kerja (Panja) Pemekaran Provinsi Sumatera Tenggara (Sumteng) terus berkonsultasi memperjuangkan pemekaran Sumteng ke berbagai instansi pemerintah pusat. Pada Senin (5/8) lalu, Panja Pemekaran Sumteng yang terdiri dari anggota DPRD Sumut Dapil Tabagsel (Sumut 7), melakukan konsultasi ke Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI di Jakarta.
Ketua Umum Panja Pemekaran Provinsi Sumteng, Burhanuddin Siregar mengatakan, rencana pemekaran Provinsi Sumteng merupakan wujud jeritan masyarakat dimana jauhnya rentang kendali pusat pemerintahan melalui Pemerintah Provinsi Sumut di Kota Medan.
“Pembangunan infrastruktur kami di Tabagsel saja pun sudah ketinggalan. Dari daerah kami 20 jam melalui jalan darat bila menuju ibukota Provinsi Sumut. Oleh karena itu, sesuai dengan visi misi Presiden Jokowi, hendaknya rencana pemekarann
Provinsi Sumteng agar dimasukkan ke dalam RPJMN. Jangan sampai kondisi daerah kami teriakkan minta referendum. Apalagi permintaan pemekaran telah menyebabkan kematian ketua DPRD Sumut waktu lalu. Bila perlu, presiden memberikan diskresi juga pada wilayah Tabagsel untuk dimekarkan, apa salahnya?” ungkapnya menerangkan penyampaian pihaknya sewaktu di Bappenas, kepada Sumut Pos, Selasa (6/8).
Pihaknya juga mempertegas, dari rencana pembangunan nasional apakah rencana pemekaran mendapat perhatian Bappenas untuk dimasukkan dalam RPJMN. Sebab DPRD Sumut mendapat informasi akan diadakannya konsultasi regional pembahasan RPJMN. Untuk itu, DPRD Sumut berharap dapat diikutsertakan dalam kegiatan tersebut.
“Karena DPRD merupakan unsur penyelenggaraan daerah, kiranya DPRD dapat dilibatkan ataupun diundang, karena mungkin desain Bappeda kami tidak membahas masalah pemekaran, maka nantinya kami dapat ikut membahas dan mengusulkan di Konsultasi Regional,” katanya.
Sekretaris Panja Pemekaran Provinsi Sumteng, Sutrisno Pangaribuan menambahkan, pembangunan di wilayah Tabagsel sangat sulit berkembang bila hanya mengharapkan APBD Sumut. “APBD tahun 2020 hanya sebesar Rp20 triliun untuk 33 kabupaten/kota. Dan untuk jalan provinsi kami hanya alokasikan Rp800 miliar.
Artinya, sangat tidak mencukupi. Selain itu, daerah kami memiliki sumber daya alam yang begitu bagus tapi karena skema penarikan pajak kita berpusat ke Jakarta maka kami tidak mendapat apa-apa. Bila merujuk UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, maka daerah kami sebagai penghasil sawit terbesar di Sumut.
Tetapi karena sawit tidak dikenakan cukai maka kami tidak mendapat apapun, hanya PBB dari lahan, CPO-nya pun tidak ada. Kami juga hanya menerima sedikit saja dari dana perimbangan daerah. Itulah salah satu faktor-faktor maka kami dorong dengan pembentukan daerah otonomi baru,” ungkapnya.
Lantas bagaimana tanggapan Bappenas dalam pertemuan itu? Sutrisno memaparkan, Staf Deputi II Bidang Pengembangan Regional Bappenas, Supriyadi mengatakan, moratorium DOB belum dicabut oleh presiden dan usulan-usulan DOB banyak yang sudah masuk. Sedangkan terkait Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional (RPJMN) saat ini Bappenas masih dalam proses penyusunan.
“Dalam bulan ini ada enam tempat yang akan dipakai untuk berdiskusi terkait Konsultasi Regional yang dipakai sebagai tempat diskusi untuk mendapat masukan dari daerah untuk menyempurnakan RPJMN yakni Manado, Surabaya, Balikpapan, Labuhan Bajo, Sorong dan Medan. Sedangkan untuk RPJMN 2020-2024 baru sebatas draf, apakah pemekaran masuk didalamnya atau tidak juga belum tahu. Dalam pembahasan itu, akan diundang bupati, sekda, gubernur dan DPR,” ujarnya mengulangi jawaban pihak Bappenas.
Sementara disampaikan Staf Perencana Tingkat I Bappenas Taufiq P Putra, sambung dia, sesuai dengan UU Nomor 23/2014 sembari menunggu Peraturan Pemerintah (PP) Penataan Daerah, Kemendagri sedang menyusun Desain Besar Penataan Daerah (Desertada) atau rancangan teknokratik menyesuaikan dengan eksisting saat ini.
Pada pembahasan Desertada, Bappenas akan memasukkan visi misi Presiden terpilih, Jokowi pada poin 9.1 bagian 4 yang menyebutkan; ‘menata kembali pemekaran wilayah guna memperkuat kedaulatan dan integritas NKRI serta meningkatkan kapasitas daerah otonomi hasil pemekaran’.
“Namun mereka terus terang menyebut belum tahu istilah menata kembali ini apakah memperkuat moratorium, Desertada atau apa. Termasuk butir tersebut apakah Moratorium Tetap atau Moratorium Penyesuaian atau yang lain, mereka belum tahu,” pungkas politisi PDI Perjuangan itu. (prn)