28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 5228

Soal Sumatera Tenggara, Ini Cerita Ongku P Hasibuan

Salah satu penggagas dan Deklarator pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara Ongku P Hasibuan.
Salah satu penggagas dan Deklarator pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara Ongku P Hasibuan.

SIDIMPUAN, SUMUTPOS.CO – Desakan untuk pemekaran Tabagsel (Tapanuli Bagian Selatan) yang meliputi Lima Kabupaten/Kota yaitu Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas Utara dan Padang Lawas untuk menjadi sebuah Provinsi terus bergulir.

Ongku P Hasibuan, salah satu tokoh deklarator yang menggagas pembentukan ini, angkat bicara. Mantan Bupati Tapanuli Selatan ini menceritakan, gagasan wilayah Tabagsel untuk dijadikan sebuah provinsi tidak datang dari beberapa orang, tapi banyak pihak.

“Memang nama Sumatera Tenggara kami ajukan bersama Pak Amru Daulay (Bupati Madina kala itu), dan mengajak teman-teman (Kepala Daerah) dari kabupaten dan kota lainnya, dan dilakukanlah rapat-rapat bersama,” ujar Ongku kepada Metro Tabagsel (Grup SumutPos.co), Selasa (25/6/19).

Dia mengatakan, nama Sumatera Tenggara pertama kali disampaikan ke publik oleh Irham Buana (Mantan Ketua KPU Sumut). Meski selanjutnya Irham Buana tidak aktif, namun Ongku mendorong nama tersebut dan mengajukannya kepada para Kepala Daerah dan Para Pimpinan DPRD di Tabagsel. Dan selanjutnya disampaikan ke DPRD Sumut.

Tak sampai di situ, untuk menunjukkan keseriusan mereka soal rencana pembentukan provinsi tersebut, Ongku bersama kepala daerah dan tokoh-tokoh nasional mendeklarasikannya di Sipirok, Tapanuli Selatan pada tahun 2008.

“Jadi bukan saya bukan satu-satunya penggagas tapi itu hasil rembukan bersama. Dan kita deklarasikan di Sipirok pada Tahun 2008, ada Pak Chairuman Harahap, Bomer Pasaribu dan tokoh nasional lainnya,” ujarnya mulai dari mengumpulkan dukungan masyarakat, lakukan kajian akademis hingga mengantarkan usulan ke parlemen.

Dia juga menanggapi respon Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman soal pemekaran tersebut dan dinilainya sangat pas.

“Apa yang disampaikan Gubsu dan Ketua DPRD Sumut sudah sangat tepat. Dan dari awal kita sudah mengusulkan via DPRD Sumut juga. Saat itu Almarhum Pak Azis Angkat dan Pemprovsu saat itu Pak Rudolf Pardede. Mulai dari tingkat kabupaten dan kota hingga provinsi sudah sama-sama setuju, tidak ada masalah,” katanya dan di tingkat pusat ketika proses sedang berjalan, pemerintah mengeluarkan ketentuan moratorium.

Ongku yakin, bagi masyarakat Tabagsel, pemekaran wilayah ini (Pembentukan Propinsi Sumatera Tenggara) sudah sangat mendesak. Apalagi daerah ini termasuk yang sulit utk dimonitor langsung dari Ibukota Provinsi Sumut di Medan.

“Sehingga relatif ‘terabaikan’ dan ‘terisolir’, dan wilayah ini menjadi daerah yang tertinggal dari daerah lainnya yang ada di Provinsi Sumut,” ucapnya.

Padahal, kata Ongku, melihat potensi wilayah yang ada di Tabagsel sudah sangat cukup memadai, dan bisa diklaim daerah yang memiliki potensi terbaik di Sumut, seperti di sektor Sumber Daya Alam (SDA) Tabagsel sedikitnya sudah memiliki Dua perusahaan tambang emas saat ini. Juga potensi pengembangan sumber energi yang ada seperti PLTP Sorik Marapi, PLTP Sipirok, PLTA Batangtoru, dan lain-lain.

Begitu pula untuk sektor perkebunan, baik dari sawit dan karet merupakan salah satu yang terluas di Sumut. Tabagsel pun mempunyai garis pantai yang cukup panjang, dari Sungai Garoga yang menjadi tapal batas antara Tapteng dan Tapsel hingga ke Natal (Madina) yang berbatasan dengan Sumatera Barat.

“Dan daerah itu sangat potensial dijadikan wilayah ekonomi maritim,” ungkapnya.

Di wilayah Pantai Barat, kata Ongku, dapat dijadikan sebagai terminal CPO serta pelabuhan samudra. Dan itu akan diikuti dengan adanya industri hilir. Sehingga dapat langsung membuka akses pasar ke sejumlah negara.

“Dan dapat memotong jalur distribusi yang biasanya dari wilayah timur seperti Belawan dan Dumai, namun lewat Pantai Barat akses ke pasar luar negeri seperti Afrika, Timur Tengah dan Eropa dapat dijangkau langsung,” ujarnya.

Begitu juga dengan mengembangkan bandara yang ada, jarak tempuh ke pulau dan daerah lain juga dapat terpotong dan tidak harus melalui Medan lagi.

Untuk jaringan kereta api, baik barang maupun penumpang bisa diteruskan mulai dari Labuhan Batu, masuk ke Padang Lawas Utara, terus ke Padang Lawas dan menyambung ke Provinsi Riau. Sehingga akses, pengangkutan barang dari Tabagsel ke wilayah dan pelabuhan besar di wilayah timur juga akan lebih efisien.

“Itu semua bisa terwujud bila perhatian ke arah itu cukup besar. Perhatian akan lebih besar bila span of controlnya tidak terlalu lebar. Kalau seperti sekarang, dari Medan harus kordinasi ke 33 Kabupaten/Kota yang ada, maka span of controlnya terlalu lebar,” ucap Ongku sehingga sulit mengharapkan perhatian yang besar ke daerah-daerah yang jauh dari Medan.

Untuk mewujudkan itu, Ongku berharap, agar para tokoh Tabagsel di parlemen DPR RI menyambut usulan tersebut dan mendorong Pemerintah Pusat untuk segera merealisasikannya.

“Pemekaran ini perlu sesegera mungkin dan perlu disiapkan segala sesuatunya. Saya yakin, dengan besarnya dukungan masyarakat baik di daerah maupun di perantauan. Persiapan tersebut bukanlah hal yang sulit untuk dilaksanakan.” Pungkasnya. (yza/mtb/ms/sp)

Bonaran Situmeang: Jaksa Mempertontonkan Kebodohannya

Raja Bonaran Situmeang saat diwawancarai awak media usai persidangan, Senin (24/6) lalu. (ZATAM/NEW TAPANULI)

SUMUTPOS.CO, TAPTENG – Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan CPNS dan pencucian uang yang didakwakan kepada mantan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Raja Bonaran Situmeang (RBS) kembali digelar di PN Sibolga, Senin (24/6), dengan agenda pembacaan duplik.

Pembacaan tanggapan (duplik) tersebut atas tanggapan replik Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait pledoi terdakwa yang dibacakan pada persidangan sebelumnya.

Dalam tanggapan tersebut, penasehat hukum terdakwa Mahmuddin Harahap SH menyebutkan jika tuntutan dan tanggapan JPU tidak sesuai fakta persidangan. Dari fakta persidangan, JPU tidak mencantumkan keterangan-keterangan saksi yang disidangkan, termasuk saksi a de charge atau saksi meringankan.

Sementara Raja Bonaran Situmeang yang dikonfirmasi awak media usai persidangan menyebutkan jika JPU sepertinya mempertontonkan kekurangpahaman dalam menyampaikan tuntutan. Jaksa yang ngotot agar terdakwa membuktikan asal uang untuk membeli tanah di depan SPBU Pandan dan Pulau Ungge dinilai bertentangan dengan pasal 75 Undang-undang TPPU.

“Jaksa kan tidak menyatakan saya terbukti melanggar pasal 378 dan 372, untuk apa saya melakukan pencucian uang? Jaksa hanya mengutip pasal 69 Undang-undang TPPU,” ujar Bonaran.

Dia mengatakan, sesuai dengan azas konpering bewijs (pembuktian berkeadilan), Jaksa dan terdakwa harus bersama-sama membuktikan di mana dalam hal ini Jaksa diwajibkan terlebih dahulu membuktikannya. Siapa yang mendalilkan dia yang membuktikan.

Lebih dari itu sambung Bonaran, Jaksa juga terlalu ngotot menyebut dirinya seorang PNS. Padahal jabatan bupati yang disandang Bonaran merupakan jabatan politik yang dihasilkan oleh proses politik. Jika berasumsi pendapat Jaksa timpal Bonaran, Presiden RI yang dihasilkan oleh proses politik seharusnya menjabat sebagai PNS.

“Jaksa mempertontonkan kebodohannya. Seharusnya Jaksa Agung mengevaluasi pengetahuan jaksa tersebut,” imbuhnya.

Terkait dengan hasil keputusan sidang yang akan dibacakan dua minggu kedepan, mantan pengacara Anggodo ini menyakini jika hakim yang menyidangkan perkaranya masih takut kepada Tuhan. Menurutnya, dalam perkara pidana bukti lebih terang dari cahaya.

Dari fakta-fakta persidangan, ia menegaskan tidak pernah dan tidak terbukti menerima uang dari Efendi Marpaung yang mentransfer uang ke Farida Hutagalung. Sementara Farida menyerahkan uang hanya kepada Mardi Gunawan yang notabenenya merupakan anak buah Efendi di PT WIS.

“Jangan berbuat curang dalam pengadilan. Janganlah membela orang kecil dengan tidak sewajarnya. Adililah dengan kebenaran,” pungkas Bonaran, mengutip Imamat 19 ayat 15. (ztm/nt/sp)

PGN dan Pelindo III Sinergi Bangun Terminal LNG di Tanjung Perak

SALAMAN: Direktur Utama PGN, Gigih Prakosi (kiri) salaman bersama Direktur Utama Pelindo III, Doso Agung salaman usai tanda tangan kerja sama di Jakarta, Rabu (26/6).
SALAMAN: Direktur Utama PGN, Gigih Prakosi (kiri) salaman bersama Direktur Utama Pelindo III, Doso Agung salaman usai tanda tangan kerja sama di Jakarta, Rabu (26/6).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melakukan sinergi BUMN dengan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III, melalui anak perusahaan masing-masing, untuk membangun terminal LNG (liquified natural gas) di Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Acara penandatanganan perjanjian tentang sinergi pembangunan, pengoperasian, dan pengelolaan fasilitas tersebut disaksikan oleh Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (26/6).
Edwin Hidayat Abdullah mengatakan bahwa sinergi antara Pelindo III dan PGN tersebut merupakan bentuk nyata dari kesepakatan sebelumnya antara Pelindo III Group dan Pertamina Group (sebagai induk perusahaan PGN) yang gencar mengeksplorasi kerja sama di sektor logistik energi.
“Ini merupakan breakthrough (terobosan). Dengan sinergi ini diharapkan adanya pasokan availabilitas dan reliabilitas atas pasokan energi (yang ke depannya) hingga ke timur Indonesia. Sehingga nantinya menuju kondisi pasokan gas yang sustain (memadai). Kerja sama ini tidak hanya baik untuk BUMN, tetapi juga untuk semua, karena lebih ramah lingkungan,” katanya.
Direktur Utama PGN Gigih Prakoso, menambahkan, anak usaha PGN, yakni PT PGN LNG Indonesia (PLI) bekerjasama dengan PT Pelindo Energi Logistik (PEL) selaku lini usaha Pelindo III di bisnis logistik energi, akan menggarap tiga fase pembangunan. “Dalam skema distribusi dan transmisi gas, pasokan LNG dapat dikapalkan dari sumur di Bontang/Tangguh bahkan LNG impor, apabila pasokan LNG domestik tidak mampu lagi memasok kebutuhan LNG untuk domestik,” ujarnya.
Gigih Prakoso melanjutkan, kemudian LNG ditampung di terminal LNG yang mempunyai fasilitas storage sementara dan dan di-breakbulk dengan filling unit untuk penjualan ritel. Dengan begitu, LNG bisa langsung mengalir ke konsumen melalui jaringan pipa. Selain itu, LNG juga dimungkinkan untuk dilakukan pendistribusian melalui truk kepada konsumen ritel (LNG trucking).
Pada fase pertama, pembangunan akan fokus kepada fasilitas regasifikasi di kawasan lepas pantai dan menggunakan storage sementara, dengan utilisasi kapal LNG ukuran sedang yang sesuai ukuran jetty(dermaga) eksisting di Terminal Teluk Lamong. “Perpipaan dari jetty menuju onshore regasification unitakan sangat efisien karena bisa ditempatkan di atas pilecap conveyor yang sudah ada untuk melayani bongkar curah kering di Terminal Teluk Lamong. Sedangkan luasan area yang disiapkan Pelindo III untuk fasilitas regasifikasi mencapai 2,5 hektar, sehingga sangat memadai,” katanya.
Fase kedua yaitu pembangunan terminal pengisian LNG skala kecil (Iso Tank 20 feet – 40 feet container) untuk distribusi LNG di luar sistem pipa PGN dan ship to truck LNG bunkering.
Fase paling akhir mencakup pembangunan tangki LNG permanen. Dimulai dengan dengan ukuran 50.000 cbm, sebagai pengganti floating storage untuk memenuhi kebutuhan suplai gas sistem pipa PGN di Jawa Timur.
Fasilitas tersebut dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan sampai dengan 180 MMSCFD. Pengoperasian penuh pada 2023, dan dapat berkembang untuk pemenuhan semua kebutuhan gas di Jawa Timur sebesar 600 MMSCFD dalam jangka panjang.
Gigih Prakoso mengungkapkan pembangunan permanen yang bertahap ini akan mengurangi biaya Capex dan Opex secara signifikan bila dibandingkan dengan fase-fase awal sebagai solusi sementara.
“Karena adanya pengurangan Opex dari hilangnya pembiayaan sewa harian FSU dan berkurangnya biaya marine operation. Untuk Capex sendiri akan berkurang dengan signifikan karena menggunakan terminal eksisting. Salah satu biaya terbesar dalam pembangunan small scale LNG terminal adalah pembangunan jetty dan fasilitas pelabuhan,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Doso Agung, Direktur Utama Pelindo III mengatakan “Terminal LNG ini menjadi langkah sinergi BUMN untuk menopang kebutuhan gas di Jawa Timur, karena bisa memasok hingga 30 MMSCFD. Adanya fasilitas ini akan meningkatkan reliability (kehandalan) dan sustainability (keberlanjutan) pasokan gas ke para pelanggan seperti industri, ritel, dan kelistrikan,” kata Doso Agung, pada acara tersebut.
Doso Agung menjelaskan, berdasarkan proyeksi kebutuhan pasokan gas yang tinggi di Jawa Timur. Pelindo III sebagai pengelola Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menyiapkan Terminal Teluk Lamong dan lini bisnis logistik energinya, PT PE Logistik, untuk membangun fasilitas terminal LNG. Sehingga dapat menjadi gerbang masuk distribusi gas PGN untuk pasar Jawa Timur mengingat lokasi Pelabuhan Tanjung Perak yang strategis.
“Pasokan LNG akan semakin lancar sehingga biaya logistik dapat ditekan. Selain itu diharapkan juga ada dampak ikutan berupa peningkatan daya saing industri di Jawa Timur, karena kepastian pasokan yang membuat penghematan biaya belanja energi dan peningkatan produksi,” ungkapnya.
Doso Agung mengungkapkan, kehandalan penyediaan bahan bakar gas oleh Pemerintah melalui BUMN-nya akan meningkatkan kepercayaan para pelanggan. Sehingga juga akan mengakselerasi program konversi bahan bakar domestik dari minyak bumi ke gas bumi yang relatif lebih ramah lingkungan dan efisien. (rel/ram)

Cabor Sepak Bola di Porprovsu 2019, Asahan Raih Emas Perdana

ist PERDANA: Tim Asahan merayakan raihan medali emas pertama kalinya pada cabang olahraga sepak bola pada Porprovsu 2019.
ist
PERDANA: Tim Asahan merayakan raihan medali emas pertama kalinya pada cabang olahraga sepak bola pada Porprovsu 2019.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tim Asahan untuk pertama kalinya sukses meraih emas cabang olahraga sepak bola pada Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara (Porprovsu) 2019. Kemenangan 2-0 atas Dairi di Stadion Mini USU, Rabu (26/6), cukup untuk memboyong medali emas.

Pada laga itu, Asahan tampil full team. Mengandalkan Andriansyah, Rama Setiawan, dan Faisal di depan, mereka langsung menggempur pertahanan Dairi. Hasilnya menit ke-24, Asahan membuka keunggulan lewat Rama.

Rama kembali menjadi momok bagi pertahanan Dairi. Berselang 7 menit, Rama kembali membobol gawang Dairi. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, Dairi coba memberi perlawanan. Beberapa peluang mereka ciptakan, namun belum mampu menggetarkan jala Asahan, yang dikawal Raja Khatulistiwa. Asahan juga masih berupaya mencetak gol tambahan. Namun berbagai peluang emas gagal berbuah gol. Skor 2-0 pun menjadi hasil akhir laga.

Dengan kemenangan ini, Asahan mengoleksi 10 poin, hasil dari 3 kemenangan dan satu hasil imbang. Sebelumnya, mereka menumbangkan Medan (2-1), Labura (4-0), dan ditahan imbang Binjai (0-0).

Sementara Medan berada di urutan kedua, dengan koleksi 6 poin. Mereka akan berebut perak dengan Labura di tempat ketiga, dengan koleksi 4 poin. Labura meraih kemenangan 5-2 atas Binjai di Stadion Mini USU, Rabu (26/6). Keduanya akan bentrok Jumat (28/6) mendatang.

Seperti diketahui, Porprovsu cabang sepak bola ini, diikuti 5 tim dengan sistem kompetisi.

Kemenangan ini sangat disyukuri seluruh awak tim Asahan. Pelatih Asahan, Abdul Rahman Marasebessy mengatakan, anak asuhnya bermain sesuai instruksi.

“Anak-anak main maksimal dan menjalankan strategi dengan baik. Sangat puas dengan capaian ini, karena memang kami menargetkan emas,” tutur Marasebessy.

Sementara itu, Ketua KONI Asahan Nur Karim Nehe, mengapresiasi capaian positif tim sepak bola Asahan. “Ini sejarah bagi Asahan. Untuk pertama kalinya kami meraih emas di sepak bola. Mudah-mudahan kami juga bisa mendulang emas dari cabor-cabor lain,” harapnya. (dek/saz)

SBSI Minta DPRD Sibolga Usut Pencurian BBM di TBBM

SBSI melakukan unjuk rasa di kantor DPRD Sibolga.
SBSI melakukan unjuk rasa di kantor DPRD Sibolga.

SUMUTPOS.CO, SIBOLGA – Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) menggelar unjuk rasa di depan kantor DPRD Sibolga, Selasa (25/6). Dalam orasinya, mereka mendesak agar kasus pencurian BBM di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) PT Pertamina (Persero) Sibolga pada tahun 2017 yang lalu diusut kembali.

Karena hingga kini, kasus yang ditangani oleh Satgas Pertamina tersebut belum pernah dilaporkan ke pihak kepolisian. Sementara ada 8 Satpam dan beberapa orang karyawan dari posisi lainnya, yang sama-sama menyandang status sebagai buruh outsourching yang sudah di-PHK atas kasus pencurian BBM tersebut.

Ironisnya, karyawan PT Pertamina yang diduga terlibat dalam pencurian BBM tersebut, hanya dimutasi ke daerah lain. Bahkan, mereka dianugerahi dengan kenaikan pangkat dan jabatan.

“Tidak terbukti, karena tidak ada tersangka sampai hari ini. Kalau benar ada pencurian minyak, pihak Pertamina diminta untuk melapor ke polisi. Kami minta polisi mengusut kembali pencurian minyak tahun 2017 yang lalu, siapa sebenarnya pelakunya,” seru Doglas, salah seorang orator aksi.

Dalam kasus pencurian BBM tersebut, kedelapan Satpam dan pegawai lainnya terkesan dikambinghitamkan untuk menyelamatkan pegawai tetap PT Pertamina yang ikut terlibat. Untuk itu mereka meminta keadilan melalui DPRD, agar memediasi pertemuan dengan pihak PT Pertamina.

“Kami minta keadilan. Kami minta satpam yang di-PHK agar dipekerjakan kembali dan membersihkan nama baik mereka. Mereka seolah-olah dijadikan kambing hitam dalam masalah ini. Sudah beberapa tahun tidak ada kepastian dari pihak Pertamina. Ada penzaliman terhadap kawan-kawan kami di Pertamina,” pungkasnya.

Ditimpali Ketua SBSI Sibolga-Tapteng Binsar Tambunan dalam orasinya, yang mengatakan bahwa sesuai informasi yang mereka peroleh, Satgas Pertamina saat itu menemukan kerugian PT Pertamina yang cukup besar. Mereka menaksir bahwa pencurian BBM telah berlangsung hingga 10 tahun.

“Temuan Satgas Pertamina pada tahun 2017 menemukan adanya kehilangan minyak selama sepuluh tahun. Artinya, kalau sudah 10 tahun terjadi pencurian, berarti ada kerugian negara yang cukup besar,” seru Binsar.

Usai menyampaikan tuntutan, DPRD Sibolga akhirnya menerima perwakilan buruh. Rapat Dengar Pendapat (RDP) sempat tertunda beberapa saat karena hanya ada dua anggota DPRD yang hadir pada saat itu, yakni Manahan Dalimunthe dan Rivorman Saleh Manalu. Rapat RDP kemudian dilanjutkan setelah seorang anggota DPRD lainnya yakni Lo’osokhi Gulo hadir.

Dalam RDP tersebut, ketiga anggota dewan tersebut mengaku hanya mampu menampung aspirasi buruh, yang selanjutnya akan disampaikan ke pimpinan DPRD untuk menghasilkan solusi.

Tak hanya pernyataan anggota DPRD tersebut, sejumlah buruh yang hadir juga kecewa dengan RDP tersebut. Karena, DPRD tidak mampu menghadirkan pihak PT Pertamina.

Begitu juga dengan pihak Dinas Ketenagakerjaan yang hanya menghadirkan dua pegawai yang tidak memiliki kewenangan untuk memberikan solusi terhadap tuntutan para pendemo. “Kami kecewa dengan DPRD, karena kami tidak bertemu dengan pihak Pertamina di sini,” kata Binsar menanggapi kondisi RDP.

Untuk itu, dia mengaku bahwa harapan buruh terhadap DPRD sudah pupus dan akan melanjutkan perjuangan mereka ke tingkat yang lebih tinggi lagi. “Tidak ada lagi harapan dengan DPRD Sibolga. Kami akan lanjutkan ini ke provinsi,” pungkasnya.(nt/sp)

Masih Dilingkupi Dualisme Kepengurusan, PSMS Ditinggal Sponsor

LEWATI: Pemain PSMS Medan berusaha melewati pemain lawan pada laga ujicoba beberapa waktu lalu di Stadion Mini Kebun Bunga Medan.
LEWATI: Pemain PSMS Medan berusaha melewati pemain lawan pada laga ujicoba beberapa waktu lalu di Stadion Mini Kebun Bunga Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kembali dilingkupi masalah dualisme pengurus, kini PSMS Medan mengarungi Liga 2 2019 tanpa didukung sponsor.

Kendala finansial bakal kembali menjadi masalah besar bagi Ayam Kinantan melanjutkan musim. Hal ini diketahui setelah pengunduran diri Indofood sebagai sponsor PSMS, karena harus berurusan dengan hukum akibat ada gugatan dari PT Pesemes.

Sekretaris Umum PSMS Medan, Julius Raja mengungkapkan, PT Pesemes mengklaim sebagai pemilik sah logo PSMS, dan terdaftar di Kemenkumham sebagai pihak pelapor. Sementara PT Kinantan Medan Indonesia, yang menaungi PSMS sejak 2015, masih diakui PSSI.

“Hampir semua sponsor PSMS sudah menarik diri. Mereka dipanggil Polda Sumut, untuk dimintai keterangan terkait nama dan logo PSMS yang diklaim pihak sebelah (PT Pesemes). Tadi mereka minta (logo sponsor) dicabut dan dibatalkan, karena mereka tidak mau berurusan dengan pihak kepolisian,” ungkap King, sapaan karib Julius Raja.

“Ini rumit, karena liga sudah berjalan. Laga home 2 Juli nanti, jersey yang sudah dicetak harus sudah dicabut logo sponsornya. Padahal keputusan sidang (perdata) di pengadilan negeri adalah NO (niet ontvankelijke verklaard). Artinya tidak satu pihak pun yang menang,” beber King lagi.

Kondisi ini membuat PSMS terancam tidak mempunyai sponsor di musim 2019. King mengaku tak habis pikir dengan sikap Syukri Wardi dkk. Dan mempersilakan untuk mengelola PSMS jika merasa mampu dan punya dana, serta mendapat izin Penasihat PSMS, sekaligus Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi.

“Kalau dia mampu dan bisa urus, ya silakan saja. Baik-baik bilang ke Pak Edy. Biar kami mundur. Jangan PSMS dirusak dan diganggu. Ini kan sedang kompetisi, dengan adanya masalah ini, pastinya jadi terganggu. Kasihan pemain,” pungkasnya. (glc/saz)

Polsek Patumbak Tangkap 2 Pemadat di Percut Seituan

DIVA/SUMUT POS DIAMANKAN: Syafijal Irfandi dan Maulana Ibrahim diamankan Polsek Patumbak.
DIVA/SUMUT POS
DIAMANKAN: Syafijal Irfandi dan Maulana Ibrahim diamankan Polsek Patumbak.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Meski berlokasi cukup jauh dari wilayah hukumnya, Polsek Patumbak sukses menangkap dua pemadat (pelaku penyalahgunaan narkotika jenis sabu) di kawasan Percut Seituan. Keduanya teridentifikasi adalah remaja.

Kanit Reskrim Polsek Patumbak Iptu Budiman Simanjuntak mengatakan, kedua tersangka itu ditangkap di Jalan Beringin Pasar VII Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Selasa (25/6) sekitar pukul 17.00 WIB.

Kedua pelaku masing-masing, Syafijal Irfandi (21) dan Maulana Ibrahim (19). Keduanya warga Jalan Sederhana, Gang Cempaka VI, Percut Seituan.

“Informasi yang kita dapat ada dua remaja yang hendak mengkonsumsi narkoba, ditangkap di Percut Seituan setelah sebelumnya mendapat informasi dari kawasan Patumbak. Jadi memang di kawasan Jalan Beringin sering dijadikan lokasi transaksi narkoba,” sebut Budiman kepada Sumut Pos, Rabu (26/7).

Berbekal informasi tersebut, kedua pelaku yang ciri-cirinya sudah teridentifikasi polisi langsung disergap. Kecurigaan petugas terbukti, keduanya sedang mengantongi sabu.

“Kemudian, tim melakukan pengejaran dan melakukan penangkapan terhadap keduanya di Jalan Amal Pasar VII Tembung. Saat dilakukan pemeriksaan, dari salah satu pelaku terlihat membuang sebuah bungkusan dari tangan sebelah kanannya,” jelasnya.

Melihat itu, petugas pun mengamankan barang yang dibuang tersebut. Setelah di cek, bungkusan yang dibuang ternyata narkoba jenis sabu seberat 0,21 gram.

“Keduanya pun lalu dibawa ke Polsek Patumbak untuk dilakukan pemeriksaan lanjut. Sementara itu, selain barang bukti narkoba, tim juga mengamankan sepeda motor Yamaha Vega Hitam BK 2803 AIA,” pungkasnya.(dvs/ala)

Bongkar Rumah Polisi, Maling Mengaku Panik, Senpi Anggota BNNK Dikubur, Cek Videonya

TEDDY/SUMUT POS PERLIHATKAN: Kapolres Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto (kanan) didampingi Kanit Pidum Ipda Hotdiatur Purba (kiri) memperlihatkan tersangka dan barang bukti senpi milik Anggota BNNK Binjai yang dicuri.
TEDDY/SUMUT POS
PERLIHATKAN: Kapolres Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto (kanan) didampingi Kanit Pidum Ipda Hotdiatur Purba (kiri) memperlihatkan tersangka dan barang bukti senpi milik Anggota BNNK Binjai yang dicuri.

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Dua maling dan satu penadah barang curian ditangkap tim gabungan Ditreskrimum Polda Sumut dan Polres Binjai, Senin (25/6) malam. Dua pelaku merupakan pencuri senjata api (senpi) milik Aiptu Pangihutan Hutasuhut (45), petugas Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Binjai.

Kedua pencuri masing-masing, Andi Daging alias Andi Mail (37) dan Marolop Sipahutar (37) warga Jalan Kemuning I, Kelurahan Jatimakmur, Binjai Utara.

Sedangkan Susanto Sipahutar (37) warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Gang Jaya Wijaya, Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara merupakan penadah.

Para tersangka kemudian membeberkan kronologis pencurian senpi milik Aiptu Pangihutan saat paparan kasus dan tersangka di Mapolres Binjai.

Ceritanya, Andi Daging alias Andi Mail dan Marolop Sipahutar berboncengan mengendarai sepeda motor, Minggu (16/6) subuh.

Saat melintas di depan rumah Aiptu Pangihutan, Jalan Bhakti, Dusun VII, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Langkat, keduanya melihat jendela terbuka.

Laju sepeda motor Andi pun diperlambat. Setelah memastikan kondisi aman, Marolop coba masuk.

Usaha Marolop membuka pintu dengan gagang sapu berhasil. Tas yang biasa dipakai korban berisi sepucuk senjata api pabrikan Rusia jenis Glock seri CZ P-07 Caliber 22 MM beserta 10 peluru amunisi digondolnya.

Bahkan, Marolop juga diduga melarikan cincin emas seberat tiga gram dan uang tunai Rp400 ribu serta satu telepon genggam jenis andorid.

“Cincin emasnya enggak ada aku bawa. Aku tinggal di bawah jendela,” aku Marolop, Rabu (26/6).

Saat dibuka isi tas, Marolop panik melihat sepucuk senpi tersebut. Marolop mengaku, tak tahu kalau yang disantroninya rumah polisi.

Sangkin paniknya, pelaku memilih mengubur senpi tersebut di belakang rumahnya. Marolop kemudian berniat menjual telepon genggam hasil curian. Marolop kemudian menyuruh Andi Daging menjualnya kepada Susanto Sipahutar (37) warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Gang Jaya Wijaya, Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara.

Pengungkapan yang dilakukan petugas gabungan bermula dari penangkapan Susanto di Binjai Utara, Selasa (25/6) petang. Dari tangannya, disita hasil curian berupa satu telepon genggam jenis android merek Huawei.

“Kita apresiasi kinerja Satreskrim Polres Binjai yang bergabung dengan Subdit III/Jatanras Ditreskrimum Poldasu atas pengungkapan kasus ini. Aiptu PH kehilangan senjata api setelah salat subuh. Pulang dari masjid, sampai rumah tahu-tahu jendelanya terbuka,” jelas Kapolres Binjai, AKBP Nugroho Tri Nuryanto didampingi Kanit Pidum Ipda Hotdiatur Purba. Hasil interogasi kepada Susanto, telepon genggam didapatnya dari Andi Daging. Menurut Kapolres, Susanto membelinya dari Andi senilai Rp600 ribu.

“Dari Andi Daging diperoleh keterangan bahwa tau masalah senjata. Andi digrebek di rumahnya,” tambah mantan Danyon A Pelopor Satbrimobdasu ini.

Uniknya, saat mau mengejar Marolop, diketahui buronan kasus pencurian itu sudah menginap di sel tahanan Mapolsek Binjai Utara sejak dua hari lalu.

Pasalnya, Marolop ditangkap warga ketika mencuri di Jalan Kemuning I, Binjai Utara, Minggu (23/6).

“Pelaku (Marolop) inipun dimassa warga. Beruntung anggota Polsek Binjai Utara cepat mengamankannya. Kalau tidak, sudah mati dia,” kata perwira menengah yang akrab disapa Nugie ini.

Kepada petugas, Marolop mengakui perbuatannya. Barang bukti senpi itu dikuburnya di belakang rumah. Nugroho menambahkan, senpi itu sengaja dikubur Marolop.

“Biar dingin dulu suasananya. Setelah itu, ada rencana tersangka (Marolop) untuk menggunakan senjata api itu melakukan kejahatan,” tandasnya.(ted/ala)

Aplikasi Video Streaming Telkomsel, MAXstream Luncurkan TechStorm, Saluran TV Pertama di Indonesia yang Menghadirkan Kisah Startup Asia

Sebagai portal video yang lengkap dan telah diunduh sebanyak 16 juta kali, MAXstream menawarkan MAXstream Original content dan beberapa content lainnya seperti film, acara televisi, siaran langsung dan kartun dari berbagai saluran video-on-demand dan saluran televisi internasional.
Sebagai portal video yang lengkap dan telah diunduh sebanyak 16 juta kali, MAXstream menawarkan MAXstream Original content dan beberapa content lainnya seperti film, acara televisi, siaran langsung dan kartun dari berbagai saluran video-on-demand dan saluran televisi internasional.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Telkomsel meluncurkan saluran televisi TechStorm HD yang menghadirkan tayangan-tayangan populer seputar gadget yang sedang diminati, kewirausahaan dan eSports Asia.

Crispin Tristram, Head of Digital Lifestyle Telkomsel mengatakan, “Sebagai sebuah perusahaan telekomunikasi digital, Telkomsel sangat berkomitmen menjadikan MAXstream sebagai layanan portal video lengkap dan berkualitas, dimana pelanggan kami dapat menikmati hiburan video digital yang sesuai dengan apapun kebutuhan dan minat pelanggan.”

“Kerjasama kami dengan TechStorm, sebuah saluran televisi tematik pertama di dunia yang menghadirkan tayangan seputar start-up, teknologi dan eSportsAsia, memungkinkan MAXstream untuk mengakomodir minat dari para tech-savvy di kalangan pelanggan dan untuk meningkatkan pengalaman digital lifestylepelanggan,” lanjut Crispin.

Sejalan dengan terobosan besar ini, MAXstream dan TechStorm juga akan meluncurkan Shark Tank, sebuah reality show tentang bisnis nomor satu di dunia yang telah memenangkan empat penghargaan Emmy serta serial drama start-up dengan rating tertinggi di Amerika Serikat berjudul Start Up pada platform ini.

Serial bertema bisnis yang diambil dari kisah nyata tersebut menampilkan multi-millionaire dan billionaire tycoons yang dikenal sebagai sharks yang akan memberikan kesempatan kepada beberapa pengusaha muda untuk memperoleh kesepakatan bisnis. Tayangan ini akan tersedia mulai tanggal 15 Juli 2019 mulai dari hari Senin-Kamis, pukul 20:00 dan akan menyelenggarakan kompetisi media sosial dan memberikan hadiah spesial bagi pelanggan MAXstream melalui akun Instagram @maxstream.tv.

Debbie Lee, Founder& CEO TechStorm menyampaikan, “Kami sangat antusias dengan peluncuran TechStorm untuk pengguna layanan MAXstream Telkomsel. Pelanggan Indonesia sangat meminati tayangan yang berhubungan dengan start-ups, kewirausahaan dan eSports Asia dan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menghadirkan TechStorm ke dalam layanan OTT Indonesia.”

Sebagai portal video yang lengkap, MAXstream menawarkan MAXstream Original content dan beberapa content lainnya seperti film, acara televisi, siaran langsung dan kartun dari berbagai saluran video-on-demand dan saluran televisi internasional. Sejak diluncurkan pada pertengahan 2018, MAXstream telah menjadi layanan video streaming terpopuler di Indonesia dan telah diunduh sebanyak 16 juta kali.(*)

PLN Gerebek Kampung Nelayan di Medan Labuhan

KAMPUNG NELAYAN: Jajaran PLN UP3 Medan Utara bersama Ikatan Muda Mudi Medan Utara, foto bersama di sela aksi peduli program PLN Gerebek di Kampung Nelayan, Kelurahan Nelayan Indah, Medan Labuhan, Senin (24/7).
KAMPUNG NELAYAN: Jajaran PLN UP3 Medan Utara bersama Ikatan Muda Mudi Medan Utara, foto bersama di sela aksi peduli program PLN Gerebek di Kampung Nelayan, Kelurahan Nelayan Indah, Medan Labuhan, Senin (24/7).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – PT PLN Persero kembali menggelar aksi peduli melalui program PLN Gerebek (Gerakan Bersih Kampung) di Kampung Nelayan, Kelurahan Nelayan Indah, Kecamatan Medan Labuhan, Senin (24/7).

Kegiatan ini digagas lewat kerja sama PT PLN UP3 Medan Utara dengan Ikatan Muda Mudi Medan Utara (IMMUT). “Sengaja kami memilih Kampung Nelayan ini. Jadi kami melihat di sini daerah aliran sungai. Semakin banyak sampah menyebabkan sungai semakin dangkal,” kata Manajer PLN UP3 Medan Utara, Riza Azhari.

Rizal menjelaskan, PLN selaku salah satu perusahaan berstatus BUMN memiliki kepentingan untuk ikut berpartisipasi terhadap kebersihan di tengah masyarakat. Hal ini karena kebersihan merupakan salah satu program yang sejalan program pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang sehat.

“Semoga dengan kegiatan ini bisa memicu kepedulian menciptakan lingkungan yang sehat. Tidak muncul berbagai penyakit di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua IMMUT Yudha Lesmana mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih atas kepedulian dari pihak PLN terhadap kebersihan di kampung mereka.

Bantuan-bantuan pembangunan bak sampah dan bantuan peralatan kebersihan merupakan hal yang sangat mereka butuhkan untuk mendukung program Gerakan Bersih Kampung (Gerebek) di Kampung Nelayan Indah.

“Kami berharap kerja sama-kerja sama seperti ini dapat terus kita jalin agar kualitas kesehatan masyarakat semakin meningkat,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut pihak PLN menyerahkan berbagai peralatan kebersihan kepada seluruh masyarakat. Mereka berharap bantuan tersebut dapat bermanfaat untuk tetap menjaga kebersihan di pemukiman warga. (ila)