28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 5227

PLTA Batangtoru Kurangi Emisi Karbon 1,6 Juta Metric Ton

CENDERAMATA: Senior Adviser on Environmentand Sustainability PLTA Batangtoru, Agus Djoko Ismanto menyerahkan cendramata kepada Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Harris.
CENDERAMATA: Senior Adviser on Environmentand Sustainability PLTA Batangtoru, Agus Djoko Ismanto menyerahkan cendramata kepada Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Harris.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebagai salah satu upaya pengurangan emisi karbon untuk mewujudkan Indonesia rendah emisi, Indonesia menghadirkan energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Setiap tahunnya, PLTA Batangtoru dapat mengurangi emisi karbondioksida minimal 1,6 juta metric ton atau setara dengan penyerapan karbon dari hutan seluas 120.000 hektar.

PENYERAPAN karbon ini menjadi hal krusial dalam hal pencegahan terhadap dampak perubahan iklim yang setiap hari semakin mengancam kehidupan seluruh makhluk hidup di Bumi. Dampak perubahan iklim yang paling nyata adalah kenaikan suhu global dan naiknya permukaan laut sehingga mengancam wilayah-wilayah pesisir.

Pembahasan upaya mewujudkan Indonesia rendah emisi dari sisi energi dibahas dalam sesi Talkshow Indonesia Green Growth 2019 & Jejaring Indonesia Rendah Emisi (JIRE) yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim, dan Pemerintah Kota Malang di Malang, Jawa Timur, Kamis (27/6).

Hadir sebagai pembicara adalah Anggota Dewan Energi Nasional Ir Abadi Poernomo Dipl Geoth En Tech, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harris ST MT, dan Senior Adviser on Environment and Sustainability PLTA Batangtoru Agus Djoko Ismanto PhD. Talkshow ini dimoderatori Dicky Edwin Hindarto selaku Koordinator Jejaring Indonesia Rendah Emisi.

Agus Djoko Ismanto mengatakan, PLTA Batangtoru merupakan energi bersih karena sumber energinya adalah air. “Kami sangat menyadari PLTA memerlukan lingkungan yang mendukung sebagai penyimpan air secara alamiah, PLTA Batangtoru tidak mempunyai reservoir, sehingga stok air tersimpan di dalam hutan. Karena itu PLTA Batangtoru secara fundamental akan mempertahankan dan selalu ikut program kelestarian kawasan yang menghasilkan air sebagai bahan baku operasinya,” kata Agus Djoko Ismanto yang akrab dipanggil Adji.

Menurut Adji, pembangunannya sudah melalui kajian-kajian mendalam sesuai persyaratan nasional dan internasional. “Tidak hanya melakukan AMDAL, kami juga telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA), yang menjadikan kami PLTA pertama di Indonesia yang melaksanakan Equatorial Principle,” tambah Adji.

Harris dari Kementerian ESDM mengatakan, pembangunan PLTA Batangtoru untuk menggantikan peran pembangkit listrik tenaga diesel yang berbahan bakar fosil pada saat beban puncak di Sumatera Utara. Penggunaan Energi Terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan seperti PLTA akan menurunkan kadar emisi karbon sekaligus meningkatkan kualitas kelestarian lingkungan guna memitigasi dampak perubahan iklim.

“Pembangunan PLTA Batangtoru merupakan bagian dari program strategis pembangunan pembangkit listrik nasional 35.000 MW. PLTA Batangtoru mampu menghasilkan listrik sebesar 510 MW dan dapat menghemat devisa sebesar USD 400 juta/tahun, yang didapat dari tidak membeli bahan bakar fosil untuk tenaga diesel,” lanjut Harris.

Abadi Poernomo mengatakan Energi Bersih adalah masa depan Indonesia. Penggunaan Energi Bersih yang rendah emisi dapat mereduksi emisi gas karbondioksida yang selama ini dihasilkan oleh energi fosil. Dalam prakteknya, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) hadir sebagai sumber energi bersih yang ramah lingkungan, karena pada prinsipnya PLTA harus menjaga kualitas Ekosistem Air sebagai sumber energi.

Abadi juga mengatakan, mahasiswa dapat berkontribusi langsung terhadap penggunaan Energi Bersih serta turut mempromosikan penggunaannya dalam teknologi.

Adji juga mengatakan, bahwa PLTA Batangtoru berkomitmen untuk senantiasa memberikan manfaat nyata bagi lingkungan hidup dan masyarakat sekitar kawasan Batang Toru. Selain melakukan revegetasi terhadap tanaman-tanaman langka yang hampir punah, PLTA Batangtoru juga turut membangun ekonomi masyarakat dengan memberikan pendampingan dan pembinaan masyarakat dalam hal pengembangan tanaman Kopi Sipirok sebagai specialty coffee, budidaya spesies Ikan Jurung, pengolahan potensi gula aren, serta usaha skala kecil lainnya. Hal ini dilakukan PLTA Batangtoru sebagai wujud nyata mitigasi dampak perubahan iklim yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat. (rel/adz)

Lakukan Penanaman Pohon Macadamia, Tirta Sibayakindo Raih Penghargaan Konservasi Air Danau Toba

ist
RAIH PENGHARGAAN: Stakeholder Relations Manager PT Tirta Sibayakindo Sahat Esron Siringoringo (kiri) menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI atas upaya konservasi yang dilakukan PT TSI di Kawasan Danau Toba dari Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Ir. Hudoyo, MM (kanan).

TAPUT, SUMUTPOS.CO – PT Tirta Sibayakindo (Pabrik AQUA Berastagi) meraih penghargaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada 27 Juni 2019 atas upaya konservasi di kawasan daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba, melalui penanaman pohon Macadamia.

Penghargaan tersebut diserahkan Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Ir Hudoyo MM dan diterima oleh Sahat Esron Siringoringo, Stakeholder Relations Manager PT Tirta Sibayakindo.

Penyerahan penghargaan dilaksanakan bertepatan dengan peluncuran program Pengembangan Tanaman Macadamia bertempat di Persemaian Permanen Huta Ginjang, Kabupaten Tapanuli Utara oleh Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan Sedunia (World Day to Combat Desertification).

Acara dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian RI Darmin Nasution, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Gubernur Sumatera Utara Eddy Rachmayadi, semua bupati di Kawasan Danau Toba, tokoh-tokoh masyarakat, para pemerhati lingkungan hidup, dan masyarakat Tapanuli.

Danone-AQUA melalui Pabrik AQUA Berastagi (PT Tirta Sibayakindo) berpartisipasi untuk mengembangkan tanaman Macadamia di daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba guna mendukung program pemerintah dalam hal rehabilitasi hutan dan lahan di kawasan tersebut.

“Kami bekerja sama dengan Cipta Fondasi Komunitas telah melakukan konservasi di kawasan Danau Toba sejak tahun 2017 dengan menanam 31.500 pohon di atas lahan seluas 15 hektar. Kebanyakan yang ditanam adalah pohon kopi, sedangkan Macadamia itu merupakan tanaman pelindung untuk kopi. Setiap pohon yang kami tanam diberi identitas, sehingga memudahkan dalam pemantauan terhadap pertumbuhan dan perawatan pohon-pohon itu,” ujar Esron.

Program Konservasi Danau Toba yang dilakukan Danone-AQUA ini disesuaikan dengan kondisi alam sekitar Danau Toba dan berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Budidaya tanaman kopi ini sangat cocok untuk memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat. Untuk mendukung hal itu para petani yang terlibat dalam program konservasi Danone-AQUA ini juga beternak lebah madu untuk meningkatkan penghasilan mereka,” tambah Esron penuh semangat.

Budidaya kopi dan ternak lebah madu itu dilakukan secara terintegrasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pertanian dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Ditambah lagi dengan manfaat ekonomis yang dapat diperoleh dari pohon Macadamia.

Danone-AQUA yang memiliki visi One Planet One Health sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan. Berbagai upaya dijalankan untuk menjaga agar bumi sehat dan lestari. Untuk

Konservasi Danone-AQUA hingga saat ini telah melakukan penanaman lebih dari 3 juta pohon dengan sistem pemantauan pertumbuhan menggunakan MRV (monitoring – reporting – validation) system dan database online system, membuat 1351 buah sumur resapan air, membuat 57.749 biopori resapan air, membuat 53 buah fasilitas Panen Air Hujan,, membangun 25 buah waterpond untuk menampung dan meresapkan air ke dalam tanah, membangun 13.870 buah rorak kebun masyarakat untuk konservasi air dan tanah, pengembangan 325.150 pohon di persemaian sekolah bersama sama anak-anak sekolah sebagai sarana pendidikan lingkungan, membangun 4 sumur imbuhan dalam, dan 2 buah DAM Penahan air.

Semua itu diwujudkan melalui kemitraan dengan pemerintah, LSM, masyarakat, dan pihak-pihak terkait, serta dilaksanakan secara berkelanjutan. (rel)

Desa Manduamas Baru Laksanakan Pembangunan Infrastruktur

Ilustrasi .
Ilustrasi Pembangunan Infrastruktur

TAPTENG, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Desa Manduamas Baru, Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah, melaksanakan pembangunan infrastruktur program dana desa tahun anggaran 2019.

Kades Manduamas Baru, Kamoni Mendofa mengatakan, pembangunan jembatan plat beton satu unit di Dusun II dan pembangunan rabat beton di Dusun III di monitoring Dinas PMD Kabupaten Tapanuli Tengah.

“Kemarin tim gabungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Tapanuli Tengah melalui tim dari Kabid Ekonomi dan Pembangunan melakukan monitoring dan evaluasi program dana desa yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2018 dan 2019,”katanya di hadapan Sumut Pos, Kamis (27/06)

Kadis PMD Kabupaten Tapanuli Tengah, melalui Kabid Ekonomi dan Pembangunan Sarana Dinas PMD Tapteng, Hendri Haluka Sitinjak, STP menjelaskan, pelaksanaan pembangunan masih tahap 60 persen.

Untuk pekerjaan fisik tahun anggaran memang belum selesai, namun kami mengupayakan kegiatan ini harus segera selesai sebelum tahun anggaran berakhir,”kata Hendri.

Dikatakan Hendri, pihaknya diinstruksikan untuk segera menyelesaikan semua rangkaian program dana desa tahun anggaran 2019 pada bulan Oktober.”Karena bulan Juli 2020 sudah melaksanakan RKP desa dan APBDes,”sebutnya.

Selain mengecek kegiatan fisik, Dinas PMD Tapteng juga melaksanakan monitoring kegiatan lainnya bersama Pendamping Desa Teknik Infrastruktur (PDTI) Kecamatan, Marsion Sihotang ST, Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID) Kabupaten Tapanuli Tengah, Untung Sihotang,ST , Babinsa koramil 01 Barus, Kopda Ruswandi dan Ketua TPK Manduamas Baru. (mag-12)

MoU Status Lahan PT KAI & Bangunan PT ACK Diteken, HPL 20 Tahun

KAI

KAI

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Setelah bertahun-tahun ‘saling baku hantam’ melalui jalur hukum, perseteruan antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Agra Citra harisma (ACK) atas masalah lahan di Jalan Jawa, Kelurahan Gang Buntu, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, menemukan titik damai. Kemarin, PT KAI dengan PT ACK, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), yang saling menguntungkan.

Penandatanganan MoU antarkedua belah pihak, difasilitasi Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumatera Utara dKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Acara dihadiri Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, Kakanwil BPN Sumut, Bambang Priono, dan perwakilan kedua belah pihak yang bertikai, di Kantor BPN Sumut Jl. Brigjend Katamso Medan, Kamis (27/6). KPK, Kanwil BPN Sumut, dan Pemko Medan ikut menandatangani.

Kakanwil BPN Sumut, Bambang Priono mengatakan, esensi MoU adalah mencari solusi terbaik dari permasalahan yang terjadi selama ini antara pemerintah dan PT ACK. “Intinya, tidak ada pihak yang dirugikan atas berdirinya Centre Point di Kota Medan,” katanya.

Bambang tak mengungkap detil isi kesepakatan yang sudah terjalin. Garis besarnya, sudah ada perjanjian kerja sama hak guna bangunan (HGB) di atas hak pengelolaan lahan (HPL) selama 20 tahun, dari tanah milik PT KAI tersebut.

“HGB di atas HPL tersebut lah menjadi kontribusi ke ACK. Mengingat mereka sudah memindahkan 300-an KK dari lokasi tersebut. Melalui perjanjian kerja sama selama 20 tahun yang dapat diperpanjang setelah mendapat izin pemerintah, semua pihak sama-sama untung,” terangnya.

Pada prinsipnya, kata dia, BPN Sumut dalam hal ini hanya men-trigger permasalahan yang ada, di samping dibantu penuh oleh KPK. “Ini tentu menjadi titik terang dimana selama ini menemui jalan buntu, yang terjadi di Kelurahan Gang Buntu antara PT KAI dan PT ACK,” katanya.

Di samping itu, Kota Medan sebagai lokasi Center Point beroperasi mendapat manfaat dari investasi tersebut dan perekonomian masyarakat diharap ikut terdongkrak.

“Center Point sudah menjadi salah satu ikon di Kota Medan. Kita tidak perlu lagi bicara bangunan itu dirubuhkan, karena tempat tersebut mampu menjadi investasi menjanjikan bagi Kota Medan. Apalagi sudah ada ribuan pelaku usaha yang berinvestasi di sana,” katanya.

KPK: Demi Kepastian Hukum

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, menegaskan KPK hadir untuk menyelamatkan aset negara. Salah satunya persoalan mal Centre Point dengan PT KAI. “Itu uang ‘kan berada di wilayah hukum Indonesia. Jadi semua penegakan hukum harus dilakukan untuk kepastian berusaha. Kamu bisa bayangkan enggak, berusaha tapi enggak pasti? Enggak boleh. Itu berita enggak baik. Makanya pak wali (Eldin) hadir dan kami hadir,” katanya menjawab wartawan usai pertemuan.

Menurut dia iklim berusaha harus pasti, adil, transparan dan berguna bagi masyarakat. Karenanya dari hasil MoU tersebut, antara PT KAI dan PT ACK dapat menindaklanjutinya. “Ada beberapa detil-detil yang mereka harus buat. Bagaimana mereka bisnis to bisnis PT KAI dan PT ACK. Kalau berbicara bisnis harus saling untung. Enggak boleh ada yang rugi. Negara juga enggak boleh rugi. Makanya hadirlah KPK di sini,” ujarnya.

Guna menciptakan suasana saling untung, KPK sudah mendatangkan auditor seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Saut tidak memungkiri penyelesaian antara PT KAI dan PT ACK menjadi prioritas KPK. Meski tidak menutup kemungkinan juga memprioritaskan penyelesaian aset negara di daerah lain.

“Jadi Indonesia kami bagi sembilan, masing-masing koordinator wilayah membawahi lima provinsi dan mereka menata banyak hal baik, pencegahan sekaligus membantu pemerintah daerah menata kota dan ruang,” ujarnya.

Hal yang paling menarik dari hasil pertemuan tadi, sambung dia, adalah munculnya kepastian bagi masyarakat Kota Medan serta lebih percaya diri untuk datang ke Centre Point. “Saya memang belum pernah ke tempat itu (Centre Point), tapi beberapa orang mengatakan jadi tempat yang menarik buat pak wali melayani rakyatnya. Di mana-mana kan harus ada tempat belanja, kalau enggak uang juga enggak mutar. Makanya KPK datang menyelamatkan aset negara,” ujarnya.

Setelah hasil pertemuan ini, KPK berharap adanya kepastian berbisnis di Kota Medan yang transparan, kompetitif dan menciptakan daya saing yang baik.

Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengucapkan syukur setelah adanya titik terang atas keberadaan Centre Point. “Karena kami sebetulnya sudah tahu porsi kami dan menyentuhnya saja belum berani. Pasti nanti ada kiri kanan, kiri kanan,” katanya.

Atas hadirnya Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Pemko Medan berharap persoalan antara PT KAI dengan PT ACK lebih transparan lagi. “Kami juga melangkah lebih percaya diri menyelesaikan karena di sini hadirnya pemerintah di tengah-tengah masyarakat untuk melindungi investasi,” pungkasnya. (prn)

Air Sisa Proses Tambang Emas Martabe Penuhi Baku Mutu

SAMPEL: Pengambilan sampel air di Sungai Batangtoru. Pemantauan rutin terus dilakukan sebagai bentuk transparansi dan komitmen PT Agincourt Resources terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

SAMPEL: Pengambilan sampel air di Sungai Batangtoru. Pemantauan rutin terus dilakukan sebagai bentuk transparansi dan komitmen PT Agincourt Resources terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

BATANGTORU, SUMUTPOS.CO – PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe terus berkomitmen untuk konsisten dan transparan terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan, salah satunya dengan menggelar pengumuman hasil uji Laboratorium air sisa proses yang dialirkan ke Sungai Batangtoru. Hasilnya, seluruh indikator menunjukkan kualitas air sisa proses Tambang Emas Martabe telah memenuhi baku mutu.

Pengumuman hasil uji laboratorium ini berdasarkan sampel air sisa proses yang diambil pada Januari-Maret 2019. Kualitas air sisa proses Tambang Emas Martabe telah memenuhi baku mutu sesuai yang tercantum dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.202/2004. Tak hanya itu, dari hasil uji yang sama juga didapatkan bahwa kualitas air Sungai Batangtoru memenuhi baku mutu yang ada dalam Peraturan Pemerintah No.82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II.

Sebagai sungai Kelas II, sesuai dengan pasal 8 ayat (b) PP No.82/2001 disebutkan, “Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.”

Adapun, parameter air yang dianalisis diantaranya tingkat keasaman air (pH), Total Suspended Solids (TSS), kadmium (Cd), kromium (Cr), merkuri (Hg), nikel (Ni), sianida (CN), arsen (As), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn).

Lokasi pengambilan sampel air dimulai pada titik ujung masuk pipa air sisa proses (inlet) dan ujung keluar pipa air sisa proses (outlet), Sungai Batangtoru pada 500 meter sebelum titik pelepasan air, titik percampuran air sisa proses dan air Sungai Batangtoru (outfall), serta 500 meter, 1.000 meter, 2.000 meter, dan 3.000 meter setelah pelepasan air.

Kegiatan pengumuman hasil uji Laboratorium ini rutin dilakukan 3 bulan sekali sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No.188.44/717/KPTS/2017 mengenai Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air Limbah Tambang Emas Martabe PT Agincourt Resources ke Sungai Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan. Selain pengumuman, paling tidak 6 bulan sekali juga digelar diseminasi dan sosialisasi kualitas air sisa proses Tambang Emas Martabe.

Foto 1: Corcomm Martabe
BERITA ACARA: Manager Project Compliance Government Relations & Permitting PT Agincourt Resources Irwanto Situmorang dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan sekaligus Ketua Tim Terpadu Pemantau Kualitas Kualitas Air Limbah Tambang Emas Martabe Ir. H. Aswin Effendi Siregar, MM, MH, menandatangani berita acara pengumuman hasil uji Laboratorium air sisa proses Tambang Emas Martabe.

Pengumuman yang digelar pada Senin, 24 Juni 2019 tersebut dihadiri oleh puluhan perwakilan masyarakat khususnya dari desa lingkar tambang, Lembaga Konsultasi Masyarakat Martabe (LKMM), Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Batangtoru dan Muara Batangtoru, Kapolsek Batangtoru, Danramil Batangtoru, serta berbagai perwakilan SKPD Pemkab Tapanuli Selatan.

Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources Katarina Siburian Hardono menyebutkan, pengelolaan lingkungan berkelanjutan merupakan salah satu komitmen utama Tambang Emas Martabe. Adapun melalui sosialisasi, masyarakat dapat mengetahui pemantauan dan pengawasan yang dilakukan oleh Tim Terpadu.

“Terutama pada kualitas air sisa proses ke Sungai Batangtoru. Kegiatan sosialisasi hasil uji Laboratorium ini sangat penting bagi kami sebagai bentuk transparansi terhadap komitmen pengelolaan lingkungan. Tambang Emas Martabe dikelola dengan standar berkelas dunia, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan menjadi salah satu aspek penting. Hasil uji ini dapat menjadi barometer kepercayaan masyarakat terhadap komitmen kami,” jelas Katarina.

PENGUMUMAN: Foto bersama usai pengumuman hasil uji Laboratorium air sisa proses Tambang Emas Martabe.

Lebih lanjut, Katarina mengemukakan, sejak pertama kali kegiatan pengumuman, diseminasi dan sosialisasi hasil uji Laboratorium pada 2013, didapatkan bahwa air sisa proses Tambang Emas Martabe ke Sungai Batangtoru secara konsisten telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

“Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat dan pemerintah setempat serta daerah yang selalu mendukung, ikut mengawasi operasional Tambang Emas Martabe. Kegiatan seperti ini akan terus kami selenggarakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, terutama di desa-desa lingkar tambang,” ujar Katarina.

Wakil Bupati Tapanuli Selatan yang juga Ketua Tim Terpadu Pemantau Kualitas Kualitas Air Limbah Tambang Emas Martabe Ir. H. Aswin Effendi Siregar, MM, MH, menuturkan rangkaian kegiatan pengambilan sampel oleh Tim Terpadu, pengujian, hingga sosialisasi hasil uji Laboratorium air sisa proses Tambang Emas Martabe, merupakan contoh baik bagi pengawasan operasional pertambangan di Indonesia.

“Semuanya terbuka. Laboratorium penguji juga independen dan akurat. Saya melihat langsung seluruh prosesnya. Masyarakat juga bisa mengetahui.  Saya berharap masyarakat dan pemerintah terus memantau kualitas air sisa proses Tambang Emas Martabe. Ini penting karena Sungai Batangtoru banyak manfaatnya,” ucap Aswin. (rel)

Universitas Simalungun (USI) Wisuda 443 Mahasiswa S1 dan S2

Rektor USI Dr Cory Purba

Rektor USI Dr Cory Purba

SIANTAR, SUMUTPOS.CO – Hari ini, Kamis (27/6) Universitas Simalungun (USI) akan melaksanakan wisuda gelombang pertama tahun 2019. Mahasiswa yang akan diwisuda sebanyak 443 orang yang terdiri dari Strata I (SI) sebanyak 393 orang dan Strata 2 (S2) sebanyak 50 orang.

Rektor USI Dr Cory Purba kepada wartawan menjelaskan, adapun yang akan diwisuda perincianya yakni S1 Fakultas Ekonomi sebanyak 124 orang, Fakultas Pertanian sebanyak 63 orang, Fakultas Hukum sebanyak 145 orang dan FKIP sebanyak 61 orang.

Acara dimulai sekira pukul 08.00 WIB pagi yang akan diawali prosesi dari biro rektor bersama Kopertis Wilayah Sumatra Utara dan Dosen serta tamu lainnya.

Dr Cory Purba berharap, seluruh wisudawan nantinya mampu bersaing di dunia pekerjaan yang digeluti. Serta mampu memberikan ide-ide perubahan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kesuksesan akan membanggakan diri sendiri, orangtua dan tentunya kampus USI sebagai tempat menuntut ilmu,” katanya.

“Kita jangan malu menjadi mahasiswa USI. Sebab sudah banyak alumni dari sini menjadi pejabat tinggi, mulai dari Wali Kota, Bupati, Ketua DPRD, bahkan menjadi Komisioner KPU Sumatra Utara. Tunjukan kita mampu bersaing,” ujarnya.

Corry juga mengundang calon mahasiswa baru, lulusan SMA sederajat yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Termasuk Sarjana yang ingin melanjutkan ke pasca sarjana. (ros/sp)

Tirta Sibayakindo Raih Penghargaan Konservasi Air Danau Toba

RAIH PENGHARGAAN: Stakeholder Relations Manager PT Tirta Sibayakindo Sahat Esron Siringoringo (kiri) menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hdup dan Kehutanan RI atas upaya konservasi yang dilakukan PT TSI di Kawasan Danau Toba dari Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Ir. Hudoyo, MM (kanan).

RAIH PENGHARGAAN: Stakeholder Relations Manager PT Tirta Sibayakindo Sahat Esron Siringoringo (kiri) menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hdup dan Kehutanan RI atas upaya konservasi yang dilakukan PT TSI di Kawasan Danau Toba dari Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Ir. Hudoyo, MM (kanan).

 

TAPUT, SUMUTPOS.CO – PT Tirta Sibayakindo (Pabrik AQUA Berastagi) meraih penghargaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada 27 Juni 2019 atas upaya konservasi di kawasan daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba, melalui penanaman pohon Macadamia.

Penghargaan tersebut diserahkan Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Ir. Hudoyo, MM dan diterima oleh Sahat Esron Siringoringo, Stakeholder Relations Manager PT Tirta Sibayakindo.

Penyerahan penghargaan dilaksanakan bertepatan dengan peluncuran program Pengembangan Tanaman Macadamia bertempat di Persemaian Permanen Huta Ginjang, Kabupaten Tapanuli Utara oleh Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan Sedunia (World Day to Combat Desertification).

Acara dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian RI Darmin Nasution, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Gubernur Sumatera Utara Eddy Rachmayadi, semua bupati di Kawasan Danau Toba, tokoh-tokoh masyarakat, para pemerhati lingkungan hidup, dan masyarakat Tapanuli.

“Program yang diluncurkan ini merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi lahan kritis. Permasalahan dalam penanganan lahan kritis adalah pilihan tanaman yang cocok untuk rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Pilihan terhadap Macadamia adalah pilihan tepat untuk kawasan Tapanuli Utara. Macadamia merupakan tanaman lokal yang sudah dikenal masyarakat di kawasan Danau Toba dan sesuai untuk suhu rendah dan dataran tinggi, sehingga cocok untuk penanganan hulu DAS. Hasilnya pun berupa kacang Macadamia, dapat menjadi produk unggulan kuliner kawasan Danau Toba. Dengan demikian masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi lebih dari lahan mereka yang ditanami Macadamia.

“Masyarakat dapat memperoleh penghasilan kotor sekitar Rp200 juta–Rp 1 miliar dari tiap hektar saat tanaman Macadamia berusia lebih dari 6 tahun. Bahkan Macadamia mempunyai prospek ekspor. Hal-hal tersebut di atas merupakan hasil penelitian Balai Litbang Aek Nauli yang telah melakukan penelitian Macadamia dan mempunyai kebun percobaan sejak tahun 2009,” kata Ir. Hudoyo, MM, Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Di Indonesia degradasi lahan diakibatkan oleh banyak faktor; yaitu pertambahan jumlah populasi manusia, kemiskinan, bencana alam, penggunaan dan pengelolaan lahan yang tidak tepat, penggunaan bahan kimia yang berlebihan, proses reklamasi dan rehabilitasi pasca tambang yang tidak dilakukan dengan kaidah dan aturan yang berlaku.

Penanganan lahan kritis di Indonesia perlu dicarikan solusi dan dikerjakan secara bersama-sama. Oleh karena itu penanganan lahan kritis di kawasan Danau Toba yang dilakukan melalui pengembangan dan penanaman Macadamia dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak; yaitu pemerintah, BUMN, BUMD, BUMS, dan masyarakat.

Pemerintah RI dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki perhatian khusus tentang penanggulangan degradasi lahan. Tahun 2018, terdapat 14,01 juta hektar lahan kritis di Indonesia. Karenanya, KLHK menargetkan rehabilitasi hutan dan lahan pada tahun 2019 seluas 207.000 Hektar, yang akan difokuskan pada 15 DAS prioritas, 15 danau prioritas , dan 65 bendungan dan daerah rawan bencana.

Danone-AQUA melalui Pabrik AQUA Berastagi (PT Tirta Sibayakindo) berpartisipasi untuk mengembangkan tanaman Macadamia di daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba guna mendukung program pemerintah dalam hal rehabilitasi hutan dan lahan di kawasan tersebut.

“Kami bekerja sama dengan Cipta Fondasi Komunitas telah melakukan konservasi di kawasan Danau Toba sejak tahun 2017 dengan menanam 31.500 pohon di atas lahan seluas 15 hektar. Kebanyakan yang ditanam adalah pohon kopi, sedangkan Macadamia itu merupakan tanaman pelindung untuk kopi. Setiap pohon yang kami tanam diberi identitas, sehingga memudahkan dalam pemantauan terhadap pertumbuhan dan perawatan pohon-pohon itu,” ujar Esron.

Siantar Masih Darurat Narkoba

Pengunjung Studio 21 digeledah polisi saat razia dan 2 pengunjung positif mengonsumsi narkoba.

Pengunjung Studio 21 digeledah polisi saat razia dan 2 pengunjung positif mengonsumsi narkoba.

SIANTAR, SUMUTPOS.CO – Peredaran Narkoba di wilayah Kota Pematangsiantar memprihatikan. Meski jajaran di kepolisian gencar melakukan penangkapan, namun masih saja peredaran narkoba masih tinggi.

Hal itu dibuktikan dengan penangkapan yang dilakukan Sat Narkoba Polres Pematangsiantar, Selasa (25/6) malam di Jalan Gunung Sinabung, Kelurahan karo, Siantar Selatan, di tempat berbeda.

Informasi yang dihimpun wartawan, malam itu, polisi meringkus Faisal Candra (40), Franky Artiagen (30) dan Ramadian Praditia Putra (23) alias Dian, ketiganya warga Huta Andarasi, Nagori Parbalogan, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Awalnya polisi mengkap Ramadian Praditya Putra di Jalan Gunung Pusuk Buhit, Kelurahan Karo, Siantar Selatan.

Ketika ditangkap, Praditya sempat berupaya menghilangkan barangbukti dengan cara memasukkan narkoba jenis sabu ke dalam mulutnya.
Setelah diperiksa, ditemukan satu paket narkoba dibungkus dalam plastik klip di dalam mulutnya.

Berbekal barang bukti itu, polisi kemudian membawa Praditya ke Mapolres Pematangsiantar untuk dilakukan pengembangan.
Selanjutnya, polisi kembali melakukan penyelidikan dan meringkus Franky Artiagen (30) alias Pakjos dari Jalan Sinabung, Kelurahan Karo.

Di rumah tersangka, polisi melakukan penggeledahan dan ditemukan sejumlah barang bukti, yakni lima paket sabu berserta alat hisap.
Tersangka yang diduga sebagai pengedar ini selanjutnya diboyong ke kantor polisi.

Tak berhenti sampai di situ saja, sejam kemudian polisi juga menangkap Faisal Candra dengan barang bukti berupa satu unit Hp merek Vivo, satu buah plastik hitam berisi timbangan digital, satu buah plastik putih berisi narkotika diduga jenis ganja seberat 1,60 gram.

Kemudian dua paket narkotika diduga jenis sabu sebanyak 7,18 gram, satu bungkus plastik klip, satu tas pinggang yang di dalamnya berisi uang sebesar Rp800 ribu. Faisal turut dibawa ke Polres Pematangsiantar untuk diproses hukum.

Sebelum penangkapan ketiga tersangka, selama Januari hingga 14 Juni 2019, Polres Siantar telah mengungkap 61 kasus dengan 79 tersangka. Hal itu terungkap dalam temu pers minggu lalu di Mapolres Siantar.

Sementara, jajaran Polres Siantar merazia Studio 21 di Jalan Parapat, Rabu (26/6) dini hari. Sedikitnya lima perempuan dan delapan pria diamankan dan dibawa ke Mapolres Pematangsiantar. Dua di antaranya dinyatakan positif narkoba.

Polisi yang melibatkan 25 orang personel tersebut datang melakukan razia berdasarkan adanya laporan masyarakat bahwasanya di Karaoke 21 tersebut diduga terjadi tindak pidana peredaran narkoba dan tindak pidana kekerasan terhadap anak.

Adapun ruangan yang diperiksa polisi adalah ruang VIP 1 dan VIP 5 dan satu-satu per satu seluruh pengunjung diperiksa oleh polisi. Namun dari hasil pemeriksaan, tidak satupun ditemukan barangbukti narkoba.

Akan tetapi, polisi membawa seluruhnya ke Mapolres Pematangsiantar untuk dilakukan tes urin. Hasilnya, ada dua orang yang terindikasi positif narkoba.

“Ada dua orang yang positif, itupun perempuan yakni inisial CS dan DL. Sementara yang lainnya negatif,” kata Kasat Narkoba Polres Pematangsiantar AKP Eduard.

Ia mengatakan, kedua perempuan yang positif narkoba tersebut akan diserahkan ke BNN Siantar. Sementara yang negatif akan dipulangkan. Dalam razia itu, juga tidak ditemukan adanya tindak pidana kekerasan terhadap anak. (mag03/pra/des)

Jembatan Kembar Parapat Dilengkapi Tembok Pembatas

Seorang pekerja mencat tembok pembatas ruas jalan Jembatan Kembar Sidua-dua, Parapat, Simakungun.


Seorang pekerja mencat tembok pembatas ruas jalan Jembatan Kembar Sidua-dua, Parapat, Simakungun.

PARAPAT, SUMUTPOS.CO – Jembatan kembar Sidua-dua di Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, satu kilometer pintu gerbang kota wisata Parapat, Kabupaten Simalungun, ditata kembali, Rabu (26/6/19).

Tembok pembatas ruas jalan yang rusak akibat material longsor dari perbukitan pada akhir 2018 dan awal 2019 dicat dengan warna terang supaya mudah dilihat pengendara.

Di kedua ujung jembatan dipasang rambu-rambu lalu lintas dan spanduk mengingatkan pengendara untuk berhati-hati dalam berkendara. Maklum, kawasan itu rawan kecelakaan karena merupakan jalanan berbelok dengan jurang di satu sisinya.

Warga sekitar dan pengguna jalan apresiasi langkah cepat Pemerintah memperbaiki kerusakan akibat longsor di jalinsum penghubung ke berbagai daerah dan merupakan jalan kawasan wisata Danau Toba.

Di sejumlah titik, seperti di Km 15 – 16 Tiga Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, dilakukan perbaikan dan pelebaran ruas jalan.

“Terima kasih kepada Pemerintah yang peduli dengan permasalahan kami, sehingga lalulintas lancar kembali,” kata Ramli (42) warga Parapat. (ant/int)

Kondisi Jalan di Sitamiang Baru Sangat Memprihatinkan

Kondisi salah satu jalan di Sitamiang Baru, Padangsidimpuan Selatan.

Kondisi salah satu jalan di Sitamiang Baru, Padangsidimpuan Selatan.

Kondisi salah satu jalan di Sitamiang Baru, Padangsidimpuan Selatan.

SIDIMPUAN, SUMUTPPOS.CO – Kondisi jalan di beberapa tempat di Kelurahan Sitamiang Baru, Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan sangat memprihatinkan. Mirisnya, meski sudah berulang kali diusulkan pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), namun belum juga direalisasi untuk diperbaiki.

Lurah Sitamiang Baru Solahuddin Siregar mengatakan, ia mendapat banyak keluhan dari warganya yang menanyakan tentang kondisi jalan di kelurahan mereka. Solahuddin mengaku, kondisi jalan yang menghubungkan antar lingkungan dan daerah lainnya terbilang sangat buruk. Apalagi, katanya di daerah tersebut terbilang banyak penduduk yang menggunakan kendaraan untuk transportasi.

“Kondisi jalan di kelurahan kami ini sudah cukup memprihatinkan, dan sudah sangat layak untuk diperbaiki. Sayangnya, hingga kini belum ada realisasinya,” ujarnya.

Bahkan, katanya, pihaknya sudah berulang kali mengusulkan lewat Musrenbang untuk diperbaiki. Dan sampai sekarang belum ada hasilnya.

“Kita juga sudah sampaikan ke Anggota DPRD, tapi tetap juga belum ada tindakannya sampai saat ini,” ucapnya.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya pun berinisiatif dengan membuat surat permohonan yang ditujukan kepada Dinas PUPR Kota Padangsidimpuan. Lewat surat tersebut, Lurah berharap akan ada respon yang baik.

“Dan ini sudah kita buat surat yang juga ditandatangani Pak Camat Padangsidimpuan Selatan, dan ditujukan kepada Dinas PUPR. Harapan kita ada respon yang baik, dan jalan-jalan yang rusak di kelurahan ini dapat segera diperbaiki,” harapnya.

Chandra Nasution, warga setempat juga mengaku, ia mengeluhkan kondisi jalan yang ada di tempat tinggalnya. Tidak hanya rusak dan berlubang, bahkan jika hujan turun bakal banyak air yang menggenang di jalan.

“Apalagi daerah kita ini kelurahan dan berada di dekat kota. Kalau banyak yang rusak seperti ini kan tidak wajar. Mudah-mudahan pemerintah meresponnya dan segera diperbaiki.” Pungkasnya. (yza/mtb/sp)