Fachril/sumu tpos
BERI KETERANGAN: Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, saat memberikan keterangan kepada media massa, belum lama ini.
Fachril/sumu tpos BERI KETERANGAN: Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, saat memberikan keterangan kepada media massa, belum lama ini.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara hingga kini belum mengumumkan nama-nama hasil seleksi Anggota Dewan Pengawas dan Dewan Komisaris BUMD, baik untuk gelombang I ataupun gelombang II yang baru-baru ini selesai.
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi selaku pemegang saham BUMD Pemprovsu, bahkan mengaku belum menerima hasil dari panitia seleksi untuk seleksi Dewas dan Dekom tahap ke-dua. “Belum, belum sampai di meja saya (hasil seleksi). Nanti akan saya lihat dulu,” katanya menjawab Sumut Pos, Selasa (12/2).
Dia mengatakan sebelum hasil diumumkan, harus berdasarkan proses dengan tim penilai yaitu konseling atau pemahaman terhadap kemampuan diri peserta seleksi. “Oh itu nanti dulu, saya kan harus konseling dulu dengan tim-tim penilai ini,” ujarnya.
Namun untuk hasil seleksi tahap I, dirinya menyebut sudah mengetahui penilaian peserta seleksi dari pansel Kenapa lantas dibuka rekrutmen kedua, karena Edy mau orang-orang yang nantinya duduk di sana tidak sekadar memiliki pengalaman lebih pada bidangnya, namun ada pertimbangan lain bahwa peserta adalah orang jenius soal pendalaman teori dan mampu berkerjasama.
“Ada katanya dari orang-orang memang dia jenius dalam teorinya, tetapi harus juga dipertimbangkan kapasitas pengalamannya di lapangan. Itukah nanti yang kita gabung hasil seleksi kedua gelombang tersebut,” ucapnya.
Mantan Pangkostrad ini menambahkan, nama-nama peserta yang dinyatakan lolos pada seleksi ini, adalah orang-orang yang sudah memenuhi standar. “Yang sudah sampai di meja saya nanti yang memenuhi standar,” katanya.
Untuk diketahui, sebelumnya Pemprovsu resmi membuka kembali pendaftaran calon anggota Dewas dan Dekom BUMD. Dalam pengumuman pendaftaran No 07/Pansel-BUMD 2019 tertanggal 24 Januari 2019 yang diteken Sekdaprov Sumut, R Sabrina selaku panitia disebutkan pendaftaran dibuka 25 Januari. Setelah pendaftaran, pada 28-29 seleksi berkas, 29 Januari pengumuman hasil seleksi berkas, 31 tes tertulis, 1-4 Februari evaluasi hasil ujian tertulis, 6 Februari pengumuman hasil ujian tertulis dan 7 Februari tes wawancara. Tidak disebutkan kapan hasil seleksi dan nama-nama yang dinyatakan lolos diumumkan.
Sebagaimana disebutkan Gubsu sebelumnya, bahwa pendaftaran ini terpaksa dibuka kembali karena pada proses rekrutmen yang digelar Desember 2018 tidak satu pun peserta seleksi yang berkualitas. Namun Edy tidak secara tegas menyatakan bahwa hasil seleksi sebelumnya dibatalkan, karena hingga kini belum ada pengumumuman nama yang dinyatakan lolos.
Dibandingkan dengan pengumuman rekrutmen serupa yang dipublikasikan Desember 2018 lalu terdapat perbedaan. Kali ini, setiap pelamar diharuskan menuliskan BUMD mana yang akan diminati. Seperti PT Dhirga Surya, PT PSU, PD AIJ, PDAM Tirtanadi atau yang lainnya.
Perbedaan yang paling menonjol, di bagian akhir pengumuman kali ini dinyatakan dilarang melamar bagi pelamar yang sebelumnya pernah ikut menjadi peserta seleksi. Sayangnya, hingga hari ini belum diketahui bagaimana hasil seleksi tertulis terhadap 19 nama pelamar yang mendaftar pada pembukaan tahap I, beberapa waktu lalu. (prn/ila)
istimewa/sumut pos
SOSIALISASI: Anggota DPRD Medan Parlaungan Simangunsong ST saat sosialisasi tentang Penanggulangan Kemiskinan.
di Lapangan Komplek KPUM Deli Sejahterah II Blok 27 Kelurahan Terjun, Medan Marelan, Minggu (10/2).
istimewa/sumut pos SOSIALISASI: Anggota DPRD Medan Parlaungan Simangunsong ST saat sosialisasi tentang Penanggulangan Kemiskinan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Anggota DPRD Medan Parlaungan Simangunsong ST mengusulkan kepada Pemko Medan agar melakukan pendataan ulang terhadap kepesertaan warga miskin selaku penerima bantuan apa saja dari pemerintah. Sehingga, bantuan dimaksud tepat sasaran bagi warga yang patut membutuhkan.
Hal itu ditegaskan Parlaungan Simangunsong saat menggelar sosialisasi II Tahun 2019 Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan No 5/2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan di lapangan komplek KPUM Deli Sejahterah II Blok 27 Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan, Minggu (10/2). Hadir saat sosialisasi Lurah Terjun Hj Erlina, Kepling 13 S Harahap dan Dinas Sosial Kota Medan Dedy Irwanto Pardede. Juga hadir, tokoh masyarakat, tokoh agama dan ratusan konstituen.
Kata Parlaungan, adapun alasan pengusulan untuk data ulang penerima bantuan karena banyaknya pengaduan warga miskin tidak pernah terjamah bantuan seperti beras miskin (raskin), Program Keluarga Harapan (PKH), Program Indonesia Pintar (PIP), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan non iuran dan bantuan lainnya.
Disebutkan, banyak warga yang ekonomi mapan tetap saja menda-pat bantuan miskin. “Kita harapkan, warga yang paling miskin lah menjadi prioritas, maka itu kita sarankan data penerima bantuan miskin supaya dikaji ulang,” tambah Parlaungan Simangunsong.
Sebenarnya kata Parlaungan, sistem pelaksanaan dan ketentuan menangani warga miskin sudah diperkuat dengan adanya payung hukum yakni Perda Penanggulangan Kemiskinan. Perda tersebut dilahirkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Medan.
Seperti yang disampaikan Dinas Sosial/Kordinator Kota PKH Kota Medan, Dedy Irwanto Pardede mengaku jika pendataan terakhir warga penerima bantuan PKH di kota Medan yakni Tahun 2015.
Dedy tidak menampik jika kondisi ekonomi peserta penerima PKH saat ini (Tahun 2019) pasti berubah. Artinya, yang sebelumnya prasejahterah sekarang sudah kaya. Maka, pendataan ulang bagi warga Medan selaku penerima bantuan miskin memang sudah patut dilakukan lagi. (adz/ila)
Sebagaimana diketahui, Perda Kota Medan No 5 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan terdiri XII BAB dan 29 Pasal. Seperti pada BAB II Pasal 2 disebutkan tujuan Perda adalah menjamin perlindungan warga miskin secara bertahap.
Mempercepat penurunan jumlah warga miskin. Sedangkan pada BAB IV Pasal 9 yakni setiap warga miskin mempunyai hak atas kebutuhan pangan, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, pekerjaan dan berusaha, modal usaha, perumahan, air bersih dan sanitasi yang baik, mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, rasa aman dari ancaman tindak kelerasan dan berpatisipasi dalam kehidupan sosial dan politik.
Sama halnya Pasal 10 dikuatkan untuk pemenuhan hak sebagaimana Pasal 9 dibiayai dan bersumber dari APBD. Untuk merealisasikan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan, Pemko wajib menyisihkan minimal 10 % dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam percepatan penuntasan kemiskinan Pemko dapat menggalang partisipasi masyarakat dalam dunia usaha, lembaga pemerintah dan kemasyarakatan.
Sedangkan pada BAB V Pasal 11 menyebutkan agar warga miskin berkewajiban mengusahakan peningkatan taraf kesejahteraannya serta wajib mentaati dan berperan aktif terhadap segala upaya penanggulangan kemiskinan. Warga miskin juga berkewajiban mentaati norma, estetika dan peraturan per undangundangan yang berlaku. (adz/ila)
TRIADi WIBOWO/SUMUT POS
BERSANDAR: KM Kelud bersandar di terminal Dermaga Pelabuhan Belawan, beberapa waktu. Mahalnya tiket penerbangan membuat masyarakat beralih ke kapal laut.
TRIADi WIBOWO/SUMUT POS BERSANDAR: KM Kelud bersandar di terminal Dermaga Pelabuhan Belawan, beberapa waktu. Mahalnya tiket penerbangan membuat masyarakat beralih ke kapal laut.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – ‘Mahalnya’ harga tiket pesawat ditambah pemberlakuan bagasi berbayar, menyebabkan penumpang penerbangan domestik beralih ke transportasi kapal laut. Dampaknya, jumlah traffic penerbangan dan penumpang melalui Kualanamu Internasional Airport (KNIA), turun hingga dua digit dibanding tahun lalu. Sebaliknya, penumpang KM Kelud yang bertolak dari Pelabuhan Belawan tujuan Batam, Tanjung Balai Karimun, dan Tanjung Priok, mengalami kenaikan hingga 100 persen.
DATA penumpang KM Kelud yang berangkat selasa (12/2) via Belawan, mencapai 2.884 orang. Jumlah ini mengalami kenaikan 100 persen, dibanding jumlah penumpang pada hari-hari low season tahun sebelumnya.
Kepala Operasional PT Pelni Cabang Medan, Irwansyah, mengatakan hari biasa jumlah penumpang KM Kelud rata-rata hanya 1.200 hingga 1.300 orang. “Namun sejak awal Februarin
jumlah penumpang meningkat. Mungkin karena harga tiket pesawat naik ya. Umumnya penumpang yang berangkat 80 persen tujuan Batam,” jelasnya.
Sejumlah penumpang membenarkan, mereka beralih naik kapal laut, karena harga tiket pesawat yang dinilai mahal, ditambah bagasi yang mesti bayar.
“Biasanya saya naik pesawat. Tapi karena harga tiket pesawat naik, saya pilih naik Kelud. Memang naik pesawat lebih cepat. Tapi ongkosnya bisa mencapai Rp1,2 juta ke Batam. Sebelumnya, harga tiket di bawah 1 juta,” ungkap seorang calon penumpang, Martha Manurung (31), kepada Sumut Pos.
Dibanding harga tiket pesawat yang di atas Rp1 juta, tiket KM Kelud memang cukup murah. Medan-Batam misalnya, untuk Kelas Ekonomi hanya Rp 220 ribu untuk dewasa, bayi hanya Rp27 ribu. Kelas 2B dewasa Rp355 ribu, bayiRp40 ribu. Kelas 2A dewasa Rp 384 ribu, bayi Rp43 ribu. Kelas 1B dewasa Rp559 ribu, bayi Rp61 ribu. Kelas 1A dewasa Rp683 ribu, bayi Rp73 ribu.
Untuk rute Belawan-Jakarta, Kelas Ekonomi dewasa hanya Rp412 ribu, bayi Rp46 ribu. Kelas 2B-D dewasa hanya Rp683 ribu, bayi Rp73 ribu. Kelas 2A-C dewasa Rp741 ribu, bayi Rp79 ribu. Kelas 1B-B dewasa Rp1,086 juta, bayi Rp113 ribu. Kelas 1A-A dewasa Rp1,329 juta, bayi Rp138 ribu.
Diakui wanita yang memiliki bisnis dagang di Batam ini, dirinya merasa rugi naik pesawat sejak awal tahun 2019. Karena pengeluaran bukan hanya harga tiket, tetapi juga biaya operasional menuju ke Bandara Kualanamu. “Jika dihitung-hitung, seluruh biaya yang harus saya keluarkan untuk naik pesawat, sangat mempengaruhi keuntungan bisnis yang saya peroleh,” ungkapnya.
Selama ini, Martha mengirim barang dagangannya dari Batam ke Medan via KM Kelud. Tapi saat berangkat untuk belanja ke Batam, ia selalu naik pesawat. “Tapi belakangan karena harga tiket pesawat naik, saya lebih memilih naik Kelud. Kalau tidak, biaya operasional pasti besar, saya tidak dapat untung,” kata Martha, yang berharap agar harga tiket pesawat dapat kembali ke harga sebelumnya.
Senada, Sulastri (45), juga mengatakan memilih naik KM Kelud karena lebih murah. Biasanya, ibu rumah tangga ini terbang ke Batam naik pesawat. Namun sejak harga tiket pesawat dan biaya bagasi naik, dia memilih naik KM Kelud.
“Saya biasa naik pesawat. Tapi karena ongkos bagasi naik, saya pilih naik KM Kelud. Karena saya banyak bawa barang,” ujarnya.
Penumpang Pesawat Turun Drastis
Penurunan jumlah penumpang pesawat diakui Eksekutif General Manager PT Angkasa Pura II Bandara Kualanamu, Bayuh Iswantoro. Kepada wartawan, Selasa (12/2) siang, Bayuh mengatakan, penurunan jumlah penumpang yang berangkat maupun tiba di Bandara Kualanamu Internasional Airport (KNIA) Kabupaten Deliserdang, mencapai 19,9 persen.
“Januari tahun lalu, jumlah penumpang via KNIA mencapai 963.894 penumpang. Sedangkan Januari tahun ini hanya 763.894 penumpang. Turun 189.762 penumpang atau 19,9 persen dibanding tahun lalu,” katanya.
Selain penurunan jumlah penumpang, juga terjadi penurunan jumlah traffic penerbangan hingga 23 persen. Yakni dari 7.336 penerbangan pada Januari 2018, turun menjadi 5.602 penerbangan pada 2019. Atau terjadi penurunan sebanyak 1.734 penerbangan atau 23,6 persen.
“Selain itu, tercatat pula 1.904 pembatalan penerbangan pada Januari 2019. Padahal jumlah pembatalan penerbangan pada Januari 2018 hanya 314 kali,” tutur Bayuh.
Penurunan jumlah penumpang itu diakuinya sebagai dampak kenaikan harga tiket pesawat. Dan itu tidak hanya dialami Bandara Kualanamu saja. Melainkan juga terjadi di bandara-bandara lain di Indonesia.
“Sejak awal Februari 2019, baru tercatat 1.849 penerbangan di Bandara Kualanamu. Persentasi penurunannya setiap hari berkisar antara 10,3 persen hingga 32,3 persen. Sementara jumlah penumpang baru mencapai 247.963. Penurunannya berkisar antara 2,1 persen hingga 33,6 persen. Internasional ada sedikit kenaikan jumlah traffic maupun penumpang,” jelas Bayuh.
Mitra KNIA Ikut Terimbas
Branch Communication and Legal Manajer Bandara Kualanamu, Wisnu Budi Setianto, mengatakan jumlah penerbangan yang biasanya mencapai 230 per hari pada tahun 2018, pasca kenaikan harga tiket menurun menjadi rata-rata 172 penerbangan per hari.
“Tapi itu hanya untuk penerbangan domestik. Sedangkan penerbangan internasional masih dalam batas normal. Karena harga tiket pesawat penerbangan internasional tidak mengalami kenaikan,” tutur Wisnu, saat dikonfirmasi Sumut Pos.
Wisnu mengungkapkan, tingginya harga tiket pesawat, ditambah adanya kebijakan bagasi berbayar untuk Airline LCC, berimbas dengan turunnya jumlah penumpang. Hal ini juga dirasakan oleh mitra usaha di Bandara Kualanamu.
“Hal-hal tersebut sangat berpengaruh dengan pendapatan PT Angkasa Pura dan Mitra Usaha di Bandara Kualanamu. Namun berapa besar pengaruh pendapatan yang diterima pasca tingginya harga tiket dan berlakunya kebijakan bagasi berbayar dimaksud, kami belum menghitung,” jelas Wisnu.
Terpisah, Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sumut, Solahuddin Nasution, mengatakan kenaikan harga tiket pesawat sangat berdampak dengan kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) ke objek-objek wisata di Sumut. Terutama di Kawasan Danau Toba.
“Kenaikan harga tiket akan berdampak pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan nusantara ke Sumut. Dan akan berpengaruh pada pergerakan wisatawan nusantara secara nasional,” sebut Solahuddin kepada Sumut Pos.
Selanjutnya akan berdampak juga pada sektor-sektor lain, seperti penurunan hunian hotel, pendapatan restoran, transportasi lokal, toko-toko souvenir di objek wisata, dan industri pariwisata lainnya yang selama ini mengandalkan pergerakan wisatawan.
“Di sisi lain, akibat mahalnya tiket penerbangan di dalam negeri, masyarakat akan lebih memilih melakukan perjalanan wisata ke luar negeri. Maka akan terjadi kebocoran devisa,” tutur Solahuddin.
Ia mengungkapkan, kebijakan bagasi berbayar akan sangat berpengaruh pada sektor UMKM yang bergerak dalam pariwisata dengan menjual souvenir, makanan ringan khas daerah, dan lainnya.
“Dengan mahalnya biaya bagasi, wisatawan akan menahan diri untuk berbelanja oleh-oleh dari suatu destinasi yang dikunjungi. Pada akhirnya akan mematikan home industry, terutama yang selama ini bersandar pada kedatangan wisatawan,” ujar Solahuddin.
Kenaikan harga tiket pesawat domestik, menurut Solahuddin, bertolak belakang dengan target menarik kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) untuk menghasilkan devisa bagi negara. Malah sebaliknya, wisnus akan berwisata ke luar negeri. Karena tiket pesawat internasional normal.
“Lalu daerah dapat apa? Sementara di sisi lain, wisatawan diharapkan membelanjakan uangnya sebanyak-sebanyaknya di tempat yg dikunjungi untuk meningkatkan pendapatan daerah,” katanya.
Atas hal itu, Solahuddin menyarankan pemerintah untuk meninjau kembali Keputusan Menteri (Kepmen) Perhubungan tentang pemberlakuan harga tiket ambang batas atas dan ambang batas bawah.
“Kepmen harus berpihak kepada rakyat, karena sektor pariwisata ini juga menguasai hajat hidup orang banyak,” pungkas Solahuddin.
Dipicu Harga Avtur
Menanggapi kenaikan harga tiket pesawat domestik tanah air, pengamat Ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo mengatakan, hal itu dipicu naiknya harga avtur (bahan bakar pesawat) di Indonesia, ditambah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
“Harga tiket pada akhir tahun lalu dan tahun ini memang relatif meningkat dan bertahan. Penyebabnya banyak faktor. Seperti harga avtur yang mahal dan nilai tukar rupiah yang melemah,” sebut Wahyu kepada Sumut Pos.
Selain itu, semakin rendahnya tingkat persaingan antar operator penerbangan, ikut memengaruhi. Seperti diketahui, saat ini Sriwijaya Air dan NAM Air sudah berada di bawah operasional Garuda Indonesia, sehingga kebijakannya akan mengikuti Garuda Indonesia
“Awalnya, banyak yang memperkirakan harga tiket mahal karena high season. Ternyata low season seperti saat ini harga tiket masih juga bertahan,” ucap pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi USU ini.
Umumnya saat low season, harga tiket pesawat relatif ikut menurun. Karena perusahaan penerbangan bersaing merebut pasar.
Namun jika diamati, untuk beberapa jalur penerbangan, terutama yang terkoneksi dengan hub di luar negeri, tiketnya relatif lebih murah. Misalnya dari Medan ke Jakarta, harga dari Medan transit di Kuala Lumpur atau Penang lalu ke Jakarta, relatif lebih murah dengan menggunakan maskapai asing.
Menurut Wahyu, agar persaingan lebih baik, masyarakat sebaiknya memiliki pilihan lebih banyak. Untuk itu, jalur-jalur penerbangan harus dibuka ke penerbangan lainnya, sehingga ada persaingan yang lebih besar. Sebab jika dalam satu jalur penerbangan hanya dikuasai satu atau dua operator, akan membentuk pasar oligopoli atau monopoli.
“Dengan demikian harganya akan mahal. Jika ini berlangsung terus, maka ini juga akan mengancam pariwisata nasional. Dengan tiket pesawat domestik yang tinggi, masyarakat akan mencari alternatif tujuan wisata di negara lain yang harga tiketnya lebih terjangkau. Maka yang rugi malah Indonesia sendiri. Devisa kita kan lebih banyak keluar,” sebut Wahyu.
Ia mengatakan dampak kenaikan harga tiket pesawat tersebut, dengan beli wisatawan berupa oleh-oleh dan souvenit. Hal itu karena kabin berbayar.”Jikapun membeli, maka akan dibeli sekedarnya saja. Yang hanya bisa dibawa ke kabin,” katanya.
Untuk itu, saran Wahyu, sebaiknya pemerintah membuka saja jalur penerbangan bagi seluruh operator, agar persaingan harga dan layanan semakin baik. “Buktinya ada maskapai penerbangan murah yang sudah menerapkan harga tiket yang murah dan bagasi berbayar. Sayangnya jalur penerbangan yang diizinkan kepada mereka terbatas,” ujar Wahyu. (fac/gus/btr)
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Awalnya ngotot tidak akan mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Honorer Kategori 2 Kota Binjai belakangan berubah pikiran. Berdasarkan rapat internal yang mereka gelar, Senin (11/2), Honorer K2 Binjai memastikan akan mengikuti seleksi PPPK “Hasil rapat kami, rekan-rekan tenaga guru tidak keberatan mengikuti seleksi PPPK Kota Binjai. Sudah kesepakatan dan mufakat bersama dalam rapat,” ujar Koordinator Honorer K2 Kota Binjai, Adnin Al Irsyada, Selasa (12/2).
Hanya saja, Adnin tidak dapat mengikuti seleksi PPPK tersebut. Pasalnya, tahap pertama pembukaan penerimaan PPPK kali ini hanya untuk tenaga pendidikan, kesehatan, dan penyuluh pertanian. Sedangkan dirinya honorer tenaga teknis yang sudah mengabdi belasan tahun sebagai operator di SMPN 2 Binjai. “Tenaga teknis belum ada,” katanya.
Saat ini, ada 69 orang Honorer K2 di Kota Binjai. Sebelumnya 73 orang. Empat orang di antaranya telah dinyatakan lulus sebagai Calon Aparatur Sipil Negara tahun 2018 lalu. Tiga orang dari formasi honorer dan seorang lagi masuk dari formasi umum.
“Kalau tidak salah, honorer guru sekitar 20-an lagi yang berstatus K2. Sedangkan tenaga kesehatan dan penyuluh pertanian, saya kurang tahu, karena enggak ada datanya,” ujar dia.
Kepala Bidang Mutasi dan Kepegawaian Kota Binjai, Hendra Januar, belum dapat membeberkan jumlah tenaga PPPK yang bakal diterima oleh Pemko Binjai. “Kami belum dapat. Belum bisa dibuka dari SSCN. Info dari kawan-kawan, memang sudah ada yang bisa dibuka dan belum. Kami (Pemko Binjai) belum dapat,” ujar Hendra ketika dikonfirmasi melalui telepon selularnya.
Disoal adanya penolakan Honorer K2 Kota Binjai yang enggak ikut PPPK, Hendra enggan berkomentar. Menurut dia, PPPK ini merupakan kebijakan dari pemerintah pusat.
Pemko Binjai diminta oleh pemerintah pusat sebagai perpanjangan tangan di daerah untuk menerima pemberkasan seleksi PPPK. “Pemberkasan sudah kita siapkan. Kami enggak bisa paksakan mereka untuk ikut. Pribadi masing-masing. Kalau memang dia enggak mau daftar, kami tak bisa komentarlah,” ujar di.
Ia menegaskan, yang mendaftar harus berstatus Honorer K2. Waktu Rakornas, ada nomor ujian waktu dulu (Honorer K2). Nomor kartu ujiannya dulu, itu dimasukkan. Jadi khusus K2,” tandasnya.
Desak Pusat Buka Rekrutmen P3K
Sementara itu, DPRD Sumut mendesak pemerintah pusat agar mempercepat pendaftaran penerimaan tenaga honorer menjadi PPPK. Pusat diharapkan mampu bekerjasama dengan baik antara pemprov dan pemda.
“Rakyat masih banyak membutuhkan lapangan pekerjaan. Karena itu, program ini harus cepat dilakukan, jangan diperlambat,” kata anggota Komisi A DPRD Sumut, Nezar Djoeli kepada Sumut Pos, Selasa (12/2).
Dalam konteks ini, menurutnya, daerah hanya menunggu arahan pemerintah pusat agar pelaksanaan rekrutmen bisa segera dimulai.
Bila ada persoalan keterbatasan anggaran, politisi Partai NasDem ini menilai, daerah seharusnya dapat mengajukan penggunaan APBN. DPRD siap memberi rekomendasi kepada Kemendagri perihal kebutuhan anggaran untuk gaji P3K ini. “Pada prinsipnya kebutuhan P3K ini dapat diakomodir menjadi dana anggaran belanja negara,” sebutnya.
Pihaknya menganggap rekrutmen P3K ini sangat baik untuk meningkatkan kualitas SDM tenaga honorer. “Untuk itu segeralah dibuka dan diberi tahu berapa banyak (posisi) yang dibutuhkan,” katanya, seraya meminta kepada Gubsu Edy Rahmayadi agar segera membuka pendaftaran kepada para honorer.
“Kami minta kepada Gubsu untuk menyikapi apa yang sudah disampaikan oleh pemerintah pusat, sehingga perubahan dapat dirasakan,” ucapnya.
Belum Terima
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Arsyad Lubis, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum terima surat edaran resmi dari pusat untuk rekrutmen P3K dari guru honorer K-2. “Sampai sekarang belum ada pengumuman resmi secara tertulis kepada kami, apakah guru-guru honor kita akan diangkat menjadi P3K,” katanya kemarin.
Menurutnya, saat ini status tenaga pengajar SMA/SMK sederajat sudah mencukupi kebutuhan untuk diangkat menjadi P3K. “Data-data guru honorer kita sebenarnya ada dan sudah resmi. Sudah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi P3K, karena sudah S1,” ucapnya.
Diharapkan seluruh guru honorer dapat menjadi P3K. Saat ini, pihaknya masih menjemput database tenaga pengajar yang sebelumnya berada di kabupaten/kota. “Sudah kami surati. Jadi ada dulu datanya di kita, sembari menunggu juknis pusat dan kapan waktu (penerimaan P3K). Data honorer K-2 kita tinggal 176 orang lagi, data itu masih di kabupaten/kota. Dan saya kebetulan mau ke Jakarta mengikuti rembuk nasional. Nanti saya akan coba pertanyakan soal ini,” pungkasnya.
Gubsu Edy Rahmayadi mengatakan, pihaknya sudah mengajukan rekrutmen PPPK ini. Namun masih dipelajari lebih lanjut soal kuota dan posisi yang dibutuhkan. “Sudah mengajukan, sedang kita bentuk, kita lihat dan pelajari dulu,” katanya singkat. (ted/prn)
BANGKAI IKAN: Bupati Tobasa, Darwin Siagian melihat bangkai ikan yang baru diangkat Holmes Hutapea dari dasar Danau Toba, beberapa waktu lalu.
BANGKAI IKAN: Bupati Tobasa, Darwin Siagian melihat bangkai ikan yang baru diangkat Holmes Hutapea dari dasar Danau Toba, beberapa waktu lalu.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bangkai ikan mati yang dibuang ke dasar Danau Toba, belum dapat dipastikan oleh penyidik Polres Toba Samosir. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumatera Utara, Mulyadi Simatupang, polisi sendiri tidak bisa memastikan bahwa limbah itu adalah ikan.
“Setelah kabar bangkai ikan mati itu mencuat, dua orang penyidik Polres Tobasa datang ke kantor DKP, untuk memastikan apakah limbah yang diduga dibuang masyarakat sekitar PT Aquafarm Nusantara itu adalah ikan. Waktu kami tanya ke mereka (polisi), mereka sendiri tidak bisa memastikan apakah itu adalah ikan. Karena tidak ada lagi kepala maupun duri ikannya. Hanya tinggal ampas-ampasnya saja,” kata Mulyadi kepada Sumut Pos, Selasa (12/2)n
Mulyadi mengakui, pihaknya tidak melihat langsung dugaan bangkai ikan yang dibawa penyidik Polres Tobasa itu. Tetapi lewat keterangan penyidik polisi, DKP menegaskan tidak bisa melakukan uji laboratorium, kalau sampel yang mau diuji bukan benar-benar ikan.
“Tupoksi kami ‘kan menguji kualitas kandungan ikan. Bukan untuk memastikan sesuatu itu ikan atau bukan. Sedangkan dugaan ikan yang mereka bawa bukan dalam bentuk ikan, seperti ada kepalanya atau durinya. Untuk dipahami, dinas kami ini menguji ikan. Bukan menguji yang masih diduga ikan,” katanya.
Meski begitu, pihaknya tidak serta merta menyatakan bahwa sampel yang pernah dibawa penyidik tersebut adalah bukan ikan. “Dan ternyata sebelum datang ke kantor kami, polisi juga sudah mau mengujinya di Socfindo dan DLH Sumut. Tapi di sana mereka juga belum melakukan uji lab. Makanya datang ke dinas kami,” kata mantan Kabag Anggaran Biro Keuangan Setdaprovsu ini.
Kalaupun materi yang dibawa polisi tersebut mau diuji, menurutnya, yang menyimpulkan isi kandungan ikan itu adalah pakar dan ahli DKP. Bukan dirinya selaku kepala dinas. “Tapi sekali lagi saya bilang, DKP bukan menguji dugaan ikan, apalagi memastikan itu ikan atau tidak. Tapi menguji yang benar-benar ikan,” sambungnya.
Mulyadi menambahkan, paling terpenting dari insiden dugaan pencemaran Danau Toba ini ialah bagaimana pengendalian budidaya di kawasan tersebut yang sesuai dengan regulasi. “Ada Perpres No.81/2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba. Di situ diatur kawasan budidaya perikanan harus sesuai daya dukung lingkungan, di mana dalam hal ini khusus pembudidaya Keramba Jaring Apung (KJA),” katanya.
Pihaknya mengaku rutin menyurati pembudidaya KJA yang tidak taat aturan, sehingga pengendalian lingkungan dan ekosistem kawasan Danau Toba tetap terjaga. “Jadi insiden kemarin itu ‘kan baru dugaan, bahwa terindikasi ada limbah ikan dibuang ke dasar danau. Tentu dari segi UU perikanan tidak nyambung (bukan tupoksi) kami, melainkan Dinas Lingkungan Hidup. Kalau kami lebih kepada pengendalian budidaya ikan di kawasan Danau Toba,” katanya.
Kepala DLH Sumut, Binsar Situmorang belum bisa dikonfirmasi lagi perihal ini. Namun ia sebelumnya menegaskan sesuai hasil investigasi pihaknya, PT Aquafarm Nusantara diduga kuat sebagai otak pelaku pembuangan bangkai ikan melalui tangan masyarakat sekitar yang mereka bagi-bagikan.
Selain itu Binsar menambahkan, terungkap sejumlah pelanggaran berdasarkan hasil investigasi pihaknya yang dilakukan perusahaan asal Swiss tersebut. Pertama, dari sisi kapasitas produksi. Aquafarm ternyata memproduksi ikan di luar kapasitas yang diizinkan berdasarkan Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (DPPL).
“Harusnya izin kapasitas produksi 26.464.500 ekor atau 26.464,500 ton per tahun. Namun kenyataannya 27.454.400 atau 27.454,400 ton per tahun. Dalam hal ini ada kelebihan 1.000.000 ekor atau 1.000 ton. Temuan ini berdasarkan Laporan Semester 1 Aquafarm ke Dinas LH Sumut,” sebutnya.
Kemudian dari sisi daya dukung dan daya tampung perairan Danau Toba. Sesuai dengan diktum keempat keputusan Gubernur Sumut Nomor 660/4223/Tahun 2009 juga dinyatakan, apabila ternyata daya dukung dan daya tampung perairan Danau Toba tidak dapat lagi menerima dampak kegiatan KJA maka dokumen lingkungan PT Aquafarm harus ditinjau.
“Pada diktum ketiga Keputusan Gubernur Sumut Nomor:188.44/213/KPTS/2017 tentang Daya Dukung Perairan Danau Toba terhadap Kegiatan KJA menyatakan bahwa daya dukung maksimum Danau Toba untuk budidaya perikanan adalah 10.000 ton ikan per tahun. Artinya sudah melampaui banyak kapasitas. Sampai saat ini Aquafarm belum merevisi dokumennya. Sementara diktum itu sudah sering disosialisasikan,” katanya.
Pelanggaran lainnya, yakni pada unit kegiatan pembenihan ikan, pengelolaan ikan, pabrik pakan ikan di Kabupaten Serdangbedagai, berdasarkan hasil pengawasan bersama antara UPT Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan serta Kehutanan KLHK dan DLH ditemukan Aquafarm juga tidak mengelola limbah cairnya di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
“Mereka langsung menyalurkannya ke badan air, sehingga dapat diperkirakan limbah cair yang dibuang ke badan air belum memenuhi baku mutu lingkungan. Dan ini bertentangan dengan UU No.32/2009 tepatnya Pasal 20 Ayat 3,” ucapnya. (prn)
fachril/sumut pos
DIAMANKAN: Ratusan warga negara Bangladesh yang kini mendekam di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan.
fachril/sumut pos DIAMANKAN: Ratusan warga negara Bangladesh yang kini mendekam di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ratusan pria usia produktif warga negara (WN) Bangladesh kini mendekam di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan. Mereka ditangkap awal Februari lalu, di beberapa lokasi di Medan. Pengakuan para imigran itu, mereka ditipu agen dengan iming-iming akan dipekerjakan di Malaysia. Bagaimana kisah para pria itu bisa terdampar di Medan hingga ditangkap petugas keamanan?
Suasana di Kantor Rudenim Belawan di Jalan Slebes, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Selasa (12/2), tampak berjalan seperti biasa. Para pegawai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sementara di setiap sudut di lingkungan Rudenim, terlihat wajah-wajah berkulit gelap dan berhidung mancung, melakukan berbagai kesibukan di bawah pengawasan lembaga Kementerian Hukum dan HAM itu.
Di sebuah ruangan aula besar, petugas menempatkan 283 imigran Bangladesh. M Muhabbul Buya, salahsatu imigran yang mahir berbahasa Indonesia, menjadi sasaran wawancara kru koran ini Wawancara mendapat perhatian serius dari imigran lain.
Pria berusia 39 tahun ini menuturkan, ia dan ratusan temannya tiba ke Indonesia pada 17 Januari 2019 lalu. Indonesia hanya tempat persinggahan sementara. Rencananya, mereka akan menyeberang ke Malaysia menggunakan kapal laut.
“Rencananya, kami mau kerja ke Malaysia, tapi kami harus transit dulu ke Indonesia. Nantinya, kami mau masuk ke Malaysia melalui jalur laut,” ungkap Muhabbul, terbata-bata berbahasa Indonesia. Masuk Malaysia rencananya akan dilakukan secara ilegal.
Muhabbul adalah mantan tenaga kerja ilegal selama 10 tahun di Malaysia. Ia pernah bekerja di negara Mahadhir Muhammad itu pada tahun 1990 hingga tahun 2000. Masa itu, ia masuk ke Malaysia dengan cara menyeberang melalui Thailand.
Selama 10 tahun itu, ia bekerja di sebuah supermarket. Dari situlah, Muhabbul mahir berbahasa Melayu, yang punya kesamaan dengan Bahasa Indonesia.
Setelah 10 tahun menjadi TKI ilegal di Malaysia, ia pun pulang ke Bangladesh pada tahun 2001. Selama berada di negaranya, Muhabbul membuka usaha kecil-kecilan. Setelah berumah tangga dan memiliki 3 anak, belum lama ini Muhabbul mendapat tawaran bekerja sebagai kuli bangunan di Malaysia. “Upahnya menjanjikan,” katanya.
Secara massal, Muhabbul dan teman-teman senegaranya menerima tawaran bekerja di negara kerajaan tersebut. Melalui agen tenaga kerja bernama Mutofa, mereka diharuskan membayar uang keberangkatan sebesar 17.000 Ringgit Malaysia (sekitar Rp57,8 juta dengan kurs Rp3.400 per Ringgit).
“Kami berangkat kerja ke Malaysia bukan gratis. Kami bayar sama agen. Makanya kami mau berangkat ke Malaysia,” ucap Muhabbul.
Tanggal 17 Januari lalu, ia dan 16 rekannya berangkat naik pesawat dari Banglades ke Malaysia. Oleh si agen, mereka telah dibekali paspor dan tiket perjalanan. Setengah hari menunggu di bandara, mereka melanjutkan penerbangan ke Jakarta Indonesia. “Selanjutnya dari Jakarta, kami naik bus menuju ke Medan selama 4 hari,” beber ayah 3 anak ini.
Setibanya di Medan, ia dan 16 temannya bertemu 2 orang utusan agen. Mereka diajak ke sebuah bangunan yang disebut agennya sebagai hotel di Medan. Si agen menempatkan mereka di hotel itu, dengan alasan menunggu proses penyeberangan ke Malaysia.
“Selama berhari-hari, saya dan 16 teman saya dikurung dan dikunci di kamar hotel. Dua orang utusan agen itu menyita paspor kami. Kalau waktu makan, utusan agen itu baru datang mengantar makanan,” beber Muhabbul.
Ternyata penantian berlangsung hingga 20 hari. Selama 20 hari dikurung di hotel itu, mereka kerap kelaparan. Dan merasa hidup bak di penjara. Karena mereka tidak diperbolehkan keluar dari ‘hotel’ tersebut.
Pada 5 Februari lalu, hotel yang mereka huni digerebek. Bukannya diberangkatkan ke Malaysia, para imigran itu malah diamankan petugas keamanan. Ia dan ke-16 temannya pun dibawa oleh petugas ke Rudenim.
Selain Muhabbul dan ke-16 temannya, pada malam yang sama, petugas juga menggerebek berbagai lokasi tempat imigran ilegal disembunyikan di Medan. Antara lain, rumah pertokoan (ruko) di kawasan Kampung Lalang, Jalan Gatot Subroto, Medan. Kemudian sebuah rumah toko (ruko) di Jalan Pasar V, Kelurahan Cintadamai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan.
Keesokan harinya, petugas juga menggerebek sebuah ruko pertokoan Vintage Nomor 8D di Jalan Medan-Binjai Km 14, Dusun V, Desa Sumbermelati, Diski.
Dua jam kemudian, lagi-lagi ditemukan 36 warga Bangladesh di belakang Restoran Nelayan di Jalan Merak Jingga, Kota Medan. Total warga Bangladesh yang diamankan adalah 288 orang. Selanjutnya, delapan warga Bangladesh juga diamankan di seputaran rel kereta api di Jalan Sekip, Kecamatan Medan Barat. Total warga Bangladesh yang diamankan adalah 296 orang.
“Kami ini ditipu. Saya tahunya setelah berada di Rudenim. Ratusan teman satu negara mengaku dijanjikan kerja sebagai kuli bangunan di Malaysia dengan membayar. Rupanya kami semua kena tipu,” ungkap Muhabbul.
Ia mengakui, untuk bekerja secara ilegal di Malaysia, mereka harus menempuh perjalanan secara ilegal pula. Tujuannya, agar mereka tidak ditangkap petugas keamanan Malaysia. Agen menawarkan solusi perjalanan: menyeberang melalui Indonesia atau Thailand.
“Kami semua ini yang diberangkatkan melalui Indonesia. Tapi ada juga yang memilih jalur Thailand. Umumnya, rekan-rekan masuk ke Malaysia melalui jalur laut Indonesia. Kami tidak tahu dari mana kami mau menyeberang. Itu tanggung jawab agen,” cerita Muhabbul.
Hal senada juga dikatakan M Sagor. Pria yang sudah pernah bekerja di Malaysia selama 8 tahun itu, juga menerima tawaran kerja ke Malaysia sebagai kuli bangunan. Sagor juga masuk ke Indonesia melalui jalur pesawat. Rencananya, akan diberangkatkan ke Malaysia melalui laut.
“Saya dikumpulkan dengan rekan-rekan satu negara di sebuah rumah di Medan. Kami rencananya mau menyebrang. Tapi hampir sebulan kami tidak juga diberangkatkan. Kami semu kena tipu. Kami mau minta pertanggungjawaban dari agen,” beber Sagor dengan nada kesal.
Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Belawan, Andi Bram, mengatakan ratusan imgran asal Bangladesh itu merupakan titipan dari Kantor Rudenim Medan. Pihaknya tidak punya kapasitas memberikan keterangan. “Untuk lebih jelasnya, tanya ke Medan saja,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan, Fery Monang Sihite, ratusan warga Bangladesh itu sampai di Kota Medan seperti wisatawan. Mereka masuk dengan cara bergelombang. Lalu oleh para penyalur ditempatkan di rumah toko (ruko) yang sudah disiapkan.
“Para pendatang itu korban penipuan. Izin tinggal mereka ada yang sudah habis serta hampir habis masa berlakunya. Mereka minta segera dipulangkan karena sudah cukup menderita di sini. Mungkin langkah yang kami ambil adalah deportasi dengan pencekalan,” kata Fery.
Lantas, apakah yang menyebabkan warga negara Bangladesh lebih suka bekerja di Malaysia daripada di negaranya sendiri? (*/bersambung)
MADINA, SUMUTPOS.CO – Dalam waktu dekat, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina) akan menggelar Musabaqah Hafalan Hadits. Kegiatan ini juga merupakan yang pertama digelar di Provinsi Sumatera Utara.
Hal ini disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Madina, Dr H Dur Brutu MA di Panyabungan, Selasa (12/2).
Dikatakannya, kegiatan Musabaqah Hafalan Hadits sebagai sarana untuk pengembangan dan pendalaman hadits-hadits Rasulullah SAW, khususnya dalam mengembangkan peradaban Islam dan memajukan kualitas insan-insan Muslim.
Selain itu, Musabaqah hadits juga sebagai upaya menjaga dan memelihara kemurnian dan keaslian hadits hadits Rasulullah SAW, dari hadits hadits palsu maupun dhoif.
Menurut Kakan Kemenag Madina, pihaknya tidak akan kesulitan untuk melahirkan para hafidz/hafidzah hadits. Mengingat banyaknya Pondok Pesantren di Negeri Beradat Taat Beribadah ini.”Kita hanya tinggal menyeleksi para santri dalam musabaqah nantinya, serta melakukan pembinaan yang serius secara berkesinambungan, sehingga generasi dan penerus hafidz hadits ini berkesinambungan dan mata rantainya tidak putus mata rantainya.
”Diharapkan, lanjut Dur Brutu, para hafidz hadits dapat menjadi teladan serta panutan dengan berperilaku akhlak terpuji dikalangan masyarakat Madina. Dan mampu memberikan pengaruh positif kepada daerah kini sebagai Negeri Santri ,” pungkasnya. (mag-7/han)
ist
RAPAT KOORDINASI:Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Edy Rahmayadi membuka Rapat Koordinasi Program Pencegahan Korupsi Bidang Optimalisasi Penerimaan Daerah di Provinsi Sumatera Utara di Ruang Rapat Kaharuddin Nasution, Lantai 8 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Selasa (12/2).
ist RAPAT KOORDINASI:Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Edy Rahmayadi membuka Rapat Koordinasi Program Pencegahan Korupsi Bidang Optimalisasi Penerimaan Daerah di Provinsi Sumatera Utara di Ruang Rapat Kaharuddin Nasution, Lantai 8 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Selasa (12/2).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dalam rangka optimalisasi pendapatan negara, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong pemerintah daerah untuk memaksimalkan potensi penerimaan yang ada.
Masukan itupun direspon Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi, dengan menekankan seluruh komponen harus bicara serius dalam rangka perbaikan.
“Kita kumpul hari ini ingin bicara serius. Saya bilang, minta ke KPK menyelesaikan masalah ini. Saya yakin KPK ini tidak gila jabatan, karena tujuannya untuk memperbaiki bangsa ini,” ujar Edy Rahmayadi saat membuka Rapat Pembahasan Optimalisasi Pendapatan Daerah bersama Satgas Korsupgah KPK di ruang rapat Kaharuddin Nst, Kantor Gubernur Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Selasa (12/2).
Dalam pidatonya, Gubsu meyakini kerja KPK dalam rangka memberantas korupsi maupun pencegahan yang maksimal. Karena dalam perjalanannya, tidak mengedepankan jabatan, namun lebih mengutamakan kinerja yang baik.
Dan Edy pun berharap pertemuan dengan KPK dapat menjadi awal untuk membuktikan Sumut bisa lebih baik dan bermartabat.
“Kalau sudah KPK yang turun tangan, kita yakin bisa. Kalau tidak, siapa lagi yang mau kita percaya. Mari kita buktikan kalau kita bisa,” tegas Edy Rahmayadi, yang mengimbau untuk bekerjasama dengan Bank Sumut sebagai bank milik daerah.
Sementara Ketua Satgas Korsupgah KPK Wilayah 1 Sumbagut, Juliawan menyebutkan bahwa upaya optimalisasi penerimaan daerah dilakukan secara nasional.
“Ada laporan kebocoran, maka kami mendorong agar itu (potensi penerimaan) bisa maksimal. Karena itu di KPK ada unit supervisi pencegahan. Kami mendorong supaya potensi di daerah, dibuat semacam database dan juga perhitungan target pendapatan,” pungkasnya yang menekankan pentingnya pencegahan daripada penindakan.
Hadir di antaranya, Sekdaprovsu Dr Hj Sabrina, Ketua Satgas Koordinasi dan Supervisi Pencegahan (Korsupgah) KPK Wilayah 1 Sumbagut Juliawan bersama staf Azril dan Harun, Walikota Medan Dzulmi Eldin, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan, Wakil Walikota Pematang Siantar Togar Sitorus, Kepala Inspektorat Sumut OK Hendry, Kepala Dinas Penanaman Modal PTSP Arief S Trinugroho, Kadis Kominfo Sumut HM Fitriyus, Kabiro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut Ilyas Sitorus, Sekdako/Sekdakab, Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD), Direksi Bank Sumut dan pejabat lainnya.(prn/han)
SOPIAN/SUMUT POS
BERSAMA: Kadis Kesehatan dr Nanang Fitra Aulia bersama seluruh dokter internsip yang bertugas di Kota Tebingtinggi.
SOPIAN/SUMUT POS BERSAMA: Kadis Kesehatan dr Nanang Fitra Aulia bersama seluruh dokter internsip yang bertugas di Kota Tebingtinggi.
TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Kota Tebingtinggi menerima sebanyak 42 orang dokter internsip dari berbagai kampus, meliputi USU, UISU, UNSIYAH, UNRI, UNPRI dan NOMENSEN.
Ke-42 dokter internsip tersebut Di serahkan langsung Yetti Syahraini dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dan Pidi Provinsi Sumatera Utara, Juliani, serta kepada Kadis kesehatan Kota Tebingtinggi dr Nanang Fitra Aulia untuk diberikan arahan.
Dalam serah terima dokter internsip tersebut, di Aula Dinas Kesehatan Kota Tebingtinggi turut hadir beberapa Kepala Rumah Sakit, Kabid dan Kasi Puskesmas se Kota Tebingtinggi, tampak juga Direktur RSUD dr Kumpulan Pane, Direktur Rumah Sakit Sri Pamela, Komite medik dan dokter pendamping.
Sebanyak 42 orang dokter internsip akan di tempatkan di dua lokasi yang berbeda, tempat pertama yaitu di Rumah Sakit Dr Kumpulan Pane, sebanyak 21 orang dan Rumah Sakit Sri Pamela sebanyak 21 orang dan mereka akan mulai bertugas pada tanggal 11 Februari 2019.
Kadis Kesehatan Kota Tebingtinggi, dr Nanang Fitra Aulia, Selasa (12/2) menjelaskan bahwa terkait penempatan tugas seluruh dokter internsip dan berapa lama waktu mereka bertugas bahwa seluruh dokter intrensip ini akan ditempatkan di dua tempat rumah sakit yang berbeda dan mereka akan bertugas selama satu tahun di Kota Tebingtinggi.
“Saya berharap mereka semua akan bekerja dengan sungguh sungguh untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Tebingtinggi,”jelasnya.
Nanang Fitria berharap kembali kepada seluruh dokter yang baru bertugas di rumah sakit, khususnya di Kota Tebingtinggi untuk lebih meningkatkan kinerjanya, karena sudah tugas dan sumpah dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada orang yang sakit untuk menjadi sehat. (ian/han)
sopian/sumut pos
RAPAT: Wali Kota Tebingtinggi H Umar Zunaidi Hasibuan memimpin rapat persiapan juga sebagai tuan rumah Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist nabi (STQH) ke-16 tingkat Provsu.
sopian/sumut pos RAPAT: Wali Kota Tebingtinggi H Umar Zunaidi Hasibuan memimpin rapat persiapan juga sebagai tuan rumah Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist nabi (STQH) ke-16 tingkat Provsu.
TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Tebingtinggi H Umar Zunaidi Hasibuan memimpin rapat persiapan juga sebagai tuan rumah Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist nabi (STQH) ke-16 tingkat Provsu.
Hadir dalam rapat tersebut, Kajari Tebingtinggi Muhammad Novel, Ketua LPTQ Provinsi Sumatera Utara DR H Asren Nasution, Ketua LPTQ Tebingtinggi H Yusup Rekso, Kapolres diwakili, Pabung 0204/DS, Kakankemenag Tebingtinggi, Asisten, Staf Ahli, para OPD, Kepala Bagian, Camat se Kota Tebingtinggi.
Wali Kota Tebingtinggi menyampaikan tentang kesiapan Kota Tebingtinggi sebagai tuan rumah kepada Ketua LPTQ Provinsi Sumut. Dimana panitia lokal sudah merekomendasikan puluhan rumah warga yang nantinya akan dijadikan tempat tinggal kafilah dari tiap daerah atau kota.
Selain itu, hotel dan rumah makan juga akan disiapkan untuk menyambut para kafilah, serta Pemko Tebingtinggi juga berupaya menyiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk menyukseskan kegiatan STQH.
Ketua LPTQ Provinsi Sumatera Utara H Asren Nasution juga mengatakan, bahwa kegiatan STQH ini baru terlaksana di luar Kota Medan dan Kota Tebingtinggi terpilih menjadi tuan rumahnya.
Dari expos yang disampaikan, Wali Kota Tebingtinggi yakin kota yang dipimpinnya mampu untuk melaksanakan kegiatan ini.
“Dan untuk MTQ Tahun 2020 yang akan datang, pelaksanaannya juga akan dilaksanakan di Kota Tebingtinggi, karena melihat dari kesiapan yang sekarang beliau yakin Kota Tebingtinggi pasti mampu untuk melaksanakannya,”ungkap Umar Zunaidi.
Dari hasil rapat seleksi Tilatil Qur’an dan Hadist Nabi (STQH) ke-16 tingkat Provinsi Sumatera Utara akan dilaksanakan mulai tanggal 9 April sampai dengan 14 April 2019, seleksi akan dilaksanakan di 6 tempat yaitu di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi (arena utama), Gedung Balai Kartini (baru) Jalan Gunung Lauser, Islamic Center, Gedung Hj Sawiyah Nasution, Gedung Balai Kartini (lama) Jalan Imam Bonjol dan Masjid An Namirah Jalan Gunung Lauser.
Selanjutnya Kepada Kafilah yang ingin mengikuti STQH ini melakukan pendaftaran pada Senin 8 April 2019 mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai di Anjungan Sri Mersing Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi.
Pembukaan STQH, Selasa 9 April 2019 pada pukul 20.00 WIB di Arena Utama Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi dan selanjutnya perlombaan masing-masing cabang dan Golongan pada hari Rabu sampai dengan Sabtu 10 sampai dengan tanggal 13 April 2019 pukul 08.00 WIB sam pai dengan selesai di masing masing lokasi.
Adapun cabang-cabang yang diperlom bakan di antaranya Tilawah anak-anak (PA/PI), Tilawah Dewasa (PA/PI), Tahfizh 1 Juz Tilawah (PA/PI), Tahfizh 5 Juz Tilawah (PA/PI), Tahfizh 20 Juz (PA/PI), Tahfizh 30 Juz (PA/PI), Tafsir Bahasa Arab (PA/PI) dan Hadist Nabi (PA/PI). (ian/han)