30 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 5750

Wakapendam I/BB Wafat Setelah Main Golf

Istimewa For Sumt Pos BERDUKA: Kapendam I/BB Kolonel Inf Roy Hansen J Sinaga menyampaikan kata-kata penghiburan bagi keluarga Letkol Inf Reinhard Silitonga, Sabtu (17/11).
Istimewa For Sumt Pos
BERDUKA: Kapendam I/BB Kolonel Inf Roy Hansen J Sinaga menyampaikan kata-kata penghiburan bagi keluarga Letkol Inf Reinhard Silitonga, Sabtu (17/11).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Keluarga besar Kodam I/BB berduka. Wakil Kepala Penerangan Kodam (Wakapendam) Letkol Inf Reinhard Silitonga menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Pusat H Adam Malik, diduga akibat serangan jantung, Sabtu (17/11).

Sebelumnya, Reinhard bermain golf di Lapangan Golf Bukit Barisan Country Club di kawasan Medan Tuntungan, sekira pukul 08.00 WIB. Sekitar dua jam beramin golf, tepatnya pukul 10.00 WIB, Letkol Inf Reinhard Silitonga tiba-tiba terjatuh saat berjalan menuju ke lubang bola golf, hole 9.

Seketika teman perwira militer yang saat itu ikut bermain golf, Kolonel Ckm Sutan Lubis, langsung melarikan Letkol Inf Reinhard Silitonga menuju Rumah Sakit Adam Malik Medan. Namun, ketika dirinya dibawa ke rumah sakit, kurang lebih 10 menit perjalanan, Letkol Inf Reinhard Silitonga pun langsung ditangani di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Di sana, kondisi perwira tersebut tak makin membaik, terus memburuk hingga akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya. “Tepat pukul 10.30 WIB, pihak medik RS HAM menyatakan Letkol Inf Reinhard Silitonga telah meninggal dunia,” kata Kapendam I/BB, Kolonel Inf Roy Hansen J Sinaga dari RSUPHAM Medan.

Kapendam I/BB juga menyampaikan, Letkol Inf Reinhard Silitonga terkena serangan jantung berdasarkan diagnosa dokter saat bermain golf. Sementara, Kasi Medtak Pendam I/Bukit Barisan, Mayor Inf Yamin Sohar menyampaikan, jenazah saat ini telah dibawa pulang ke rumah duka atau kediamannya di Komplek Pamen (perwira menengah) TNI di Jalan Djamin Ginting, Padang Bulan untuk selanjutnya disemayamkan. (dvs)

BPKP Diminta Audit Proyek Jembatan Sicanang

Pembangunan jembatan darurat
Pembangunan jembatan darurat

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Amblasnya jembatan Titi Dua Sicanang terus menjadi sorotan berbagai pihak. Kali ini, Gerakan Rakyat Berantas Korupsi Sumatera Utara (Gerbaksu) mendesak Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP) Sumatera Utara untuk mengaudit anggaran senilai Rp13,6 miliar jembatan tersebut.

“Proyek jembatan itu sudah jelas banyak penyimpangan, karena ada dugaan termin pembayaran dan penyiasatan waktu adendum pertamabahn waktu. Makanya, kita mendesak BPKP Sumut untuk melakukan audit proyek tersebut,” ungkap Ketua Gerbaksu, Saharudin, Minggu (18/11).

Dikatakan pemerhati kebijakan publik ini, selama proyek jembatan itu dilaksanakan, selalu terjadi masalah. Sejak 2016 proyek yang dikerjakan PT Jaya Star Utama senilai Rp8 miliar gagal, kemudian pada tahun 2017 kembali dilakukan tender dikerjakan PT Pillaren senilai Rp10 miliar juga gagal, untuk tahun 2018 kembali ditender dikerjakan PT Jaya Sukses Prima senilai Rp13,6 miliar juga bermasalah.

Ketiga pelaksana proyek yang mengerjakan proyek itu adalah orang yang sama. Ada dugaan, permainan dalam tender proyek itu cukup jelas, bahkan terindikasi adanya manpulasi agar, pelaksana proyek mensiasati agar bebas dari kesalahan dalam melaksanakan proyek tersebut.

“Kami layangkan surat meminta tegas BPKP agar segera melakukan audit, evaluasi dan pemantauan terhadap pelaksanaan pembangunan jembatan itu. Indikasi temuan KKN dalam proyek harus dijerat sesuai dengan ketentuan hukum, makanya TP4D yang dilibatkan, harus komitmen melakukan penyelidikan,” tegas Saharudin.

Pihaknya juga, ungkap Saharudin, sudah melayangkan surat protes ke Dinas PU Medan, untuk menyampaikan tentang keraguan kinerja pelaksana proyek. Untuk itu, mengenai adendum penambahan waktu dan penambahan termin pembiayaan untuk dipertimbangkan.

Harapannya, agar pembangunan jembatan cepat rampung, diusulkan melibatkan pihak tertentu. Dengan menggunakan Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Nomor 13 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa dalam penanggulangan keadaan darurat.

“Kita tidak mau jembatan itu terus terbengkalai, makanya kita harapkan kepada BPKP Provinsi Sumut segera merespon permohonan dan memberikan solusi, untuk terlaksananya pembangunan jembatan tersebut,” ungkap Saharudin.

Amatan di lapangan, pasca jembatan lama Titi Dua Sicanang amblas beberapa, Pemko Medan telah membangun jembatan darurat yang terbuat dari besi agar kendaraan roda dua bisa melintas. Sedangkan pekerjaan proyek pembangunan jembatan baru Titi Dua Sicanang berhenti karena amblas. (fac)

BPBD Perpanjang Pencarian Korban Longsor Nisel

BPBD SUMUT for SUMUT POS PENCARIAN: Pencarian korban longsor di Dusun II, Desa Sukamaju Mohili, Kecamatan Gomo, Nisel, yang terjadi pada 11 November 2018 masih terus dilakukan tim SAR Gabungan.
BPBD SUMUT for SUMUT POS
PENCARIAN: Pencarian korban longsor di Dusun II, Desa Sukamaju Mohili, Kecamatan Gomo, Nisel, yang terjadi pada 11 November 2018 masih terus dilakukan tim SAR Gabungan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hingga kemarin, Minggu (18/11), belum ada lagi korban bencana longsor di Desa Suka Majumohili, Kecamatan Gomo, Kabupaten Niasselatan (Nisel). Pun begitu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memperpanjang proses evakuasi dan pencarian korban selama seminggu kedepan.

“Pencarian (korban) diperpanjang sampai tujuh hari kedepan, karena baru empat mayat ditemukan,” ujar Kepala BPBD Sumut, Riadil Akhir Lubis menjawab Sumut Pos.

Kata dia, proses pencarian dan evakuasi terhadap korban sudah dilanjutkan kembali terhitung Sabtu kemarin.

Sayangnya, mantan Kepala Bappeda Sumut ini enggan memastikan status kawasan bencana. Hanya saja, Riadil hanya mengatakan setelah sepekan kedepan pencarian dilakukan, tim baru akan mengevaluasi untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.

“Yang jelas tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya pencarian korban tanah longsor di desa tersebut. Hingga Rabu (14/11), tim SAR gabungan dibantu oleh masyarakat setempat telah menemukan 4 dari 7 orang korban longsor,” kata Riadil sebelumnya.

“Korban yang ditemukan pada hari itu sekitar pukul 16.30 WIB atas nama Aristina Laia Ina Elsa (33). Ibu rumah tangga yang merupakan istri dari Asazaro Hulu,”sambungnya.

Sebelumnya, 3 korban lainnya juga sudah ditemukan, yakni atas nama Cristoven Hulu (4), Yusti Ayu Putri Hulu (5) dan Madarman Hati Hulu (7). “Korban longsor telah ditemukan 4 orang dalam keadaan meninggal dunia,” ujar Riadil.

Adapun korban yang masih dinyatakan hilang terdiri dari 3 orang, diantaranya Setiamas Hulu (30), Reinshon Hulu (3) dan Noverman Jaya Hulu (2). “Pencarian masih terus dilakukan oleh tim SAR Gabungan,” terang Riadil.

Dalam kesempatan yang sama, Riadil juga mengingatkan potensi bencana longsor masih tinggi diberbagai daerah di Sumut, dikarenakan keadaan cuaca masih sering terjadi hujan. Atas hal tersebut, Riadil mengingatkan masyarakat agar senantiasa waspada atas potensi bencana longsor yang masih memungkinkan terjadi.

“Sejumlah daerah di Sumut berpotensi terjadi tanah longsor karena curah hujan juga masih tinggi. Sejumlah daerah yang rawan terjadi longsor dan gerakan tanah itu antara lain Kabupaten Mandailingnatal, Karo, Tapsel, Nias Selatan, Nias, Dairi, Deli Serdang, Tapteng dan Kota Sibolga,” katanya. (prn/han)

Usut Korupsi Pembangunan RSU HAMS, KPK Periksa Sejumlah Pejabat Asahan

Korupsi-Ilustrasi.
Korupsi-Ilustrasi.

ASAHAN, SUMUTPOS.Co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat di ruang lingkup Pemerintahan Kabupaten Asahan di Polres Asahan, terkait kasus dugaan korupsi pembangunan ruang VIP RSU H Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran.

Pemeriksaan itu dilakukan tim KPK dengan meminjam salah satu ruangan di Polres Asahan. Hal itu dibenarkan oleh narasumber terpercaya di Polres Asahan. “Ya benar, memang ada kemarin KPK datang ke sini, kabarnya kasus korupsi,”ungkapnya pada Sumut Pos, Minggu (18/11).

Disebutkannya, ada tiga orang yang tengah diperiksa tim KPK, yakni mantan Dirut RSUD berinisial Her, mantan Direktur HAMS dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas PUPR Asahan berinisial R.

Bahkan Her pun mengaku tengah menjalani pemeriksaan. “Memang, ada tiga orang, dan memang ada kop surat saya lihat berlambang KPK. Sudah ya, saya mau masuk lagi,”ujar Her singkat, sembari berlalu pergi saat ditanyai sejumlah wartawan, Sabtu (17/11) sekira pukul 17.00 WIB, di Mapolres Asahan.

Usai Her berlalu, NA, yang juga mantan Dirut RS HAMS Kisaran terlihat keluar dari salah satu ruangan Mapolres Asahan.

“Nanti ya, lagi sibuk,” ucap NA sembari berlalu saat ditanyai.

Sama seperti Her dan NA, giliran R juga tak mau bersedia menjawab pertanyaan yang disodorkan wartawan.

Belum ada keterangan resmi dari pihak KPK maupun dari Polres Asahan. Meski sudah ditunggu berjam-jam oleh sejumlah wartawan, tak seorangpun penyidik KPK berhasil ditemui.

Kepala Dinas Komunikasi Informasi (Kominfo) Kabupaten Asahan, Rahmat Hidayat Siregar mengatakan, jika pihaknya tidak mengetahui atau belum mendapatkan kabar jika ada pejabat Asahan yang diperiksa penyidik KPK.

“Sampai saat belum da kabar atau pun informasi adanya pejabat yang diperiksa oleh KPK,” kata Rahmat Hidayat Siregar.

Dikatakannya, KPK itu punya aturan tersendiri jadi tidak sembarangan.

“Tentulah KPK tidak perlu memberitahukan jika ada pemeriksaan, dan kami juga demikian tidak mungkin menanyakan hal itu kepada KPK,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolres Asahan AKBP Faisal Napitupulu yang dikonfirmasi terkait adanya pemeriksaan berkomentar banyak soal pemeriksaan itu.

“Wah, kalau itu saya no comment. Kurang tahu juga siapa saja yang diperiksa,” ungkap perwira yang baru dua hari duduk di Polres Asahan tersebut.(dvs/omi/han)

Keluarga Korban Lion Air JT 610 Gugat Boeing

.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Gugatan pertama menyusul kecelakaan pesawat Lion Air JT610 dilayangkan terhadap Boeing. Menurut kuasa hukum keluarga korban, gugatan hukum adalah satu-satunya cara mendapatkan kompensasi atas tragedi tersebut.

Hasil sementara investigasi kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang mengindikasikan kesalahan teknis pada pesawat 737 MAX membuahkan gugatan hukum pertama buat Boeing.

Keluarga Rio Nanda Pratama melayangkan gugatan di negara bagian Illinois, AS, di mana kantor pusat perusahaan berlokasi.

Rio Nanda Pratama adalah seorang dokter muda yang berencana menikah pekan ini. Tunangannya, Intan Syari yang berusia 26 tahun sempat menarik perhatian pers dunia, setelah berpose dalam gaun pengantin yang sedianya akan dikenakan untuk pesta pernikahan keduanya.

Syari mengatakan mendiang calon suaminya berpesan agar tetap melakukan sesi foto tersebut, meskipun jika dia tidak bisa pulang tepat waktu dari perjalanan fatal tersebut. “Ini sebagai penghormatan terakhir baginya,” kata perempuan tersebut.

Rio yang juga berusia 26 tahun meninggal dunia ketika Boeing 737 MAX menghujam Laut Jawa pada 29 Oktober silam, hanya 20 menit setelah lepas landas dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Padahal pesawat yang ditumpanginya baru diserahkan oleh Boeing kepada Lion Air, Agustus silam.

Tim investigasi Indonesia dan Otoritas Penerbangan Federal AS (FAA) dalam penyelidikannya mendekati kesimpulan kesalahan teknis sebagai penyebab kecelakaan. Pesawat anyar tersebut menyimpan piranti lunak anti-stall yang secara otomatis membuat pesawat menukik ketika kecepatan melambat dan hidung pesawat menengadah ke atas.

Fitur tersebut digunakan untuk mengoreksi desain yang berbeda dengan versi terdahulu, menggunakan mesin yang lebih besar sehingga mengubah pusat massa pesawat.

Sementara itu asosiasi pilot di Amerika Serikat dan Lion Air memastikan Boeing tidak memberitahu mengenai keberadaan fitur tersebut atau melatih pilot untuk mematikan fitur ketika terjadi kesalahan sensor seperti yang diduga terjadi pada penerbangan JT610.

“Tim investigasi dari pemerintah biasanya tidak memutuskan siapa yang salah,” kata Curtis Miner, kuasa hukum keluarga. “Kompensasi bagi keluarga korban juga tidak akan diatur oleh investigasi pemerintah.”
Menurutnya kepastian mengenai uang ganti rugi merupakan “peran kritis gugatan privat dalam tragedi semacam ini.”

Sebab itu Intan Syari meminta agar pemerintah dan industri penerbangan serius memperhatikan keselamatan penumpang. Ia tidak ingin tragedi serupa terulang pada orang lain. “Kami sudah menunggu momen ini selama 13 tahun,” ujarnya soal rencana pernikahan. “Termasuk enam tahun hubungan jauh. Tapi pada akhirnya saya kehilangan tunangan saya.”
“Tolong perbaiki regulasi industri penerbangan, dalam hal keselamatan dan inspeksi, sebelum pesawat lepas landas,” kata Syari lagi. “Kalau pesawatnya tidak layak terbang, tolong jangan dibiarkan terbang.”

Sementara itu FAA menggelar penyelidikan sendiri terhadap cetak biru, piranti lunak, prosedur pengoperasian dan pelatihan pilot Boeing 737 MAX. Lembaga pengawas keselamatan penerbangan AS itu tidak menutup kemungkinan kesalahan desain dan teknis menyebabkan kecelakaan pesawat. Meski demikian Boeing bersikeras pesawat 737 MAX miliknya aman untuk dioperasikan. (rzn/vlz/afp/ap)

KMN UPMI Peduli Korban Longsor Nisel

ISTIMEWA GALANG DANA: Mahasiswa KMN UPMI melakukan penggalangan dana di persimpangan Jalan Brigjend Katamso–Jalan Juanda Medan, Sabtu (17/11).
ISTIMEWA
GALANG DANA: Mahasiswa KMN UPMI melakukan penggalangan dana di persimpangan Jalan Brigjend Katamso–Jalan Juanda Medan, Sabtu (17/11).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Sukamaju Mohili, Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan, Sabtu (10/11) lalu yang diperkirakan menelan korban jiwa sebanyak 7 orang tak pelak menggugah hati masyarakat Sumatera Utara.

Kabar duka cita itu juga sontak membuat Mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Mahasiswa Nias (KMN) UPMI Medan mengambil inisiatif untuk menggalang dana membantu keluarga korban.

Dikomandoi Ketua KMN UPMI Tulus Hia, mahasiswa yang berasal dari Kepulauan Nias terlihat melakukan aksi penggalangan dana di beberapa simpang jalan, seperti di persimpangan Jalan Sisingamangaraja–Jalan Juanda dan persimpangan Jalan Brigjend Katamso – Jalan Juanda, Medan, selama 2 hari berturut turut, Jumat (16/11) dan Sabtu (17/11).

Pantauan wartawan, terlihat sejumlah mahasiswa asal Kepualauan Nias dengan memakai baju Almamater UPMI dan baju seragam KMN UPMI, membentang spanduk yang bertuliskan
“Kesatuan Mahasiswa Nias Peduli Koban Tanah Longsor” sambil berorasi menggugah hati para pengguna jalan kiranya sudi memberi sumbangan untuk membantu meringankan beban para korban tanah longsor di Nias Selatan.

Kepada wartawan, Ketua KMN UPMI Tulus Hia mengatakan, aksi penggalangan dana ini sebagai bentuk solidaritas mahasiswa yang berasal dari Kepulauan Nias kepada korban bencana tanah longsor, dan semoga dana yang terkumpul dapat meringankan beban keluarga korban. “Walau kami jauh di rantau bukan berarti kami tidak peduli dengan kampung halaman kami,” tegas Tulus Hia.

Menurut Ketua KMN UPMI, Tulus Hia, hasil penggalangan dana ini nantinya akan disalurkan kepada keluarga korban.

“Walau dana yang terkumpul tidak terlalu besar, namun kami telah berusaha meringankan beban mereka,” ucap Tulus.

Tulus juga berharap Pemkab Nisel dan Tim SAR terus melanjutkan proses pencarian dan evakuasi korban tanah longsor, karena menurut data terakhir baru 4 korban yang berhasil di evakuasi dan masih ada 3 korban lagi yang belum ditemukan.(adz)

8 Rumah Ludes Terbakar di Tebingtinggi

SOPIAN/SUMUT POS LUDES: Petugas pemadam kebakaran dan warga berusaha menjinakkan api yang melalap rumah warga di Jalan Musyawarah, Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis.
SOPIAN/SUMUT POS
LUDES: Petugas pemadam kebakaran dan warga berusaha menjinakkan api yang melalap rumah warga di Jalan Musyawarah, Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Sebanyak delapan rumah semi permanen yang terletak di Jalan Musyawarah, Lingkungan I, Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi, ludes dilalap si jago merah, Sabtu (17/11). dugaan sementara api berasal dari salah satu rumah pedagang minyak besin eceran.

Kebakaran itu terjadi bermula ketika salah seorang pedagang minyak eceran yang rumahnya ikut terbakar bernama Gocun (40), sedang mengisi BBM ke tangki sepeda motor pembeli. Tak disadari, si pengendara sepeda motor tengah menyalakan rokok yang hendak diisapnya dengan menggunakan mancis.

Tiba-tiba, percikan api dari mancis menyambar botol aqua yang berisikan bensin, hingga terus menjalar ke bagian dinding rumah korban, karena bangunan rumah mudah. Si Jago merah pun juga merembes ke rumah warga lainnya yang berdekatan.

Melihat api mulai membakar rumah, si pengendara sepeda motor langsung melarikan diri, sedangkan Gocun juga keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Adapun ke depalan rumah milik Aki, Mariam, Muncai, Aki, Amei dan Ama, keseluruhannya tinggal di Jalan Musyawarah Kota Tebingtinggi. Peristiwa kebakaran itu, Polsek Rambutan Kota Tebingtinggi langsung meng hubungi petugas Damkar milik pemko Kota Tebingtinggi.

Petugas Damkar langsung menerjunkan 6 unit mobil pemadam. Selama 3 jam, api berhasil dipadamkan. Hanya saja, rumah para korban telah ludes. Petugas Mapolsek Rambutan Kota Tebingtinggi dan Polres Tebingtinggi bersama Tim Identifikasi Polres langsung terjun ke lokasi kebakaran guna olah TKP.

Kapolsek Rambutan Kota Tebingtinggi, AKP Leo Sembiring membenarkan adanya kejadian kebakaran sebanyak 8 rumah, tepatnya di Jalan Musyawarah Kota Tebingtinggi.

Menurut para saksi, lanjut Sembiring, api berasal dari rumah seorang penjual bensin eceran bernama Gocun.

“Atas adanya kejadian kebakaran ini, tidak ada korban jiwa hanya saja korban mengalami kerugian material sebesar ratusan juta rupiah,”tandasnya. (ian/han)

Tinjau Lokasi Banjir Pasar Inpres, Parlindungan Purba: Normalisasi Sungai yang Melintasi Tebingtinggi

sopian/sumut pos BERSAMA : Anggota DPD RI Parlindungan Purba bersama Kasatker OP BWSS II Sumut Aron Lumbanbatu, Kepala BPBD Wahid Sitorus, Anggota DPRD Husin, Zainal Arifin Tambunan, perwakilan Dinas PUPR Tebingtinggi mendengarkan keluhan masyarakat atas banjir di Pasar Inpres.
sopian/sumut pos
BERSAMA : Anggota DPD RI Parlindungan Purba bersama Kasatker OP BWSS II Sumut Aron Lumbanbatu, Kepala BPBD Wahid Sitorus, Anggota DPRD Husin, Zainal Arifin Tambunan, perwakilan Dinas PUPR Tebingtinggi mendengarkan keluhan masyarakat atas banjir di Pasar Inpres.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Menyahuti keluhan masyarakat Tebingtinggi khususnya para pedagang Pasar Inpres yang kerap dilanda banjir, Anggota DPD RI Sumut, Parlindungan Purba turun langsung ke lokasi banjir di Jalan Tengiri.

Hadir juga Kasatker OP BWSS II Sumut, Aron Lumbanbatu, Kepala BPBD Tebingtinggi Wahid Sitorus, Anggota DPRD Tebingtinggi Husin, Zainal Arifin Tambunan, Ketua DPC Gerindra Sergai Budi, perwakilan Dinas PUPR Tebingtinggi, Sabtu (16/11).

“Penanganan banjir di Tebingtinggi harus diselesaikan secara terpadu tidak bisa dilakukan secara tersendiri dan harus duduk bersama,”terang Parlindungan Purba. Parlindungan Purba pun mengaku akan melayani keluhan masyarakat Tebingtinggi, khususnya para pedagang yang kerap dilanda banjir untuk dicarikan solusinya, seperti melakukan normalisasi terhadap sungai yang melintasi Kota Tebingtinggi.

“Tebingtinggi dialiri sungai Sei Padang, Sibaro dan Sungai Bahilang yang hulunya dari Kabupaten Simalungun yang harus dinormalisasi,”ujarnya. Dengan melakukan normalisasi, menurut Parlindungan merupakan penanganan yang harus dilakukan. Dicontohkannya dengan menggambarkan apa yang telah diterapkan di Kota Medan dengan melakukan pengorekan di setiap aliran sungai.

Parlindungan juga mengatakan, dalam waktu dekat akan melakukan rapat koordinasi dengan pihak pihak terkait seperti BWSS II, BPBD Sumut, Pemkab Simalungun, Pemkab Sergai dan Pemko Tebingtinggi yang bertujuan untuk penanganan banjir.

“Kita juga sudah mendorong penyelesaian master plan penanganan banjir yang sedang dikerjakan IDB,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Tebingtinggi Wahid Sitorus mengatakan, dalam menyikapi banjir telah mendata tanggul tanggul yang jebol, dimana titik rawan banjir dan apa permasalahan yang harus ditindaklanjuti ke depan agar air tidak melewati benteng. “Sudah didata dan dianggap perlu penambahan benteng sekitar 1,5 meter,”kata Wahid.

Dalam hal penambahan benteng di pinggiran aliran sungai, Wahid mengakui keterbatasan dana sehingga belum bisa terealisasikan. Untuk itu, Pemko Tebingtinggi berharap Pemerintah Pusat dapat memfasilitasinya. Wahid menjelaskan, banjir yang terjadi di Tebingtinggi merupakan kiriman dari Kabupaten Simalungun, sehingga perlu penataan antara sistem satu Daerah Aliran Sungai (DAS). (ian/han)

63 Juta Penduduk BAB Sembarangan, Negara Rugi Rp56,8 Triliun per Tahun

.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Masih sedikit di antara masyarakat yang mengetahui, bahwa Senin (19/11) hari ini merupakan Hari Toilet Sedunia. Hari Toilet Sedunia adalah sebuah kampanye untuk memberikan motivasi untuk menggerakkan dunia tentang pentingnya sanitasi.

DOSEN Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia Dr S Otniel Ketaren MSi kepada Sumut Pos di Medan Minggu (18/11) mengatakan, untuk mengingatkan pentingnya Hari Toilet Sedunia maka USM Indonesia menggelar perlombaan kebersihan toilet sekolah dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Medan.

‘’USM Indonesia merencanakan Lomba Toilet Bersih untuk sekolah dan SPBU di Medan. Hari Toilet Sedunia, kata Otnel, dinisiasi oleh World Toilet Organization pada 19 November 2001 dan pada tanggal 19 November 2013 yang lalu PBB menandatangani penetapan HTS sebagai salah satu hari internasional PBB,’’ kata Otniel Ketaren.

Menurut laporan WHO dan Unicef, bahwa lebih 1,1 miliar orang di dunia masih berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Berdasarkan laporan Tingkat dan Tren Kematian Anak-anak 2014 PBB, Indonesia merupakan peringkat kedua setelah India sebagai negara dengan tingkat BABS yang mencapai seperlima dari populasi.

‘’Perilaku BABS ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang di desa tetapi juga kota-kota besar begitu juga dengan fasilitas tempat umum yang disebabkan oleh sebagian tidak mempunyai fasilitas toilet dan juga dipengaruhi oleh kondisi toilet yang tidak bersih dan tidak layak pakai,’’ katanya.

Ia menegaskan, bahwa toilet merupakan sarana kebersihan dan kesehatan. Sebab toilet merupakan salah satu indikator terbersih dan sehatnya sebuah rumah atau bangunan umum seperti sekolah, SPBU, mall dan bandara. ‘’Kebersihan toilet dapat dijadikan ukuran terhadap kualitas manajemen sanitasi di suatu tempat,’’ terangnya.

Sebagai sarana buang air manusia, lanjut dia, toilet merupakan sumber perkembangbiakan berbagai kuman penyakit, sehingga harus dipelihara dengan baik. Persyaratan toilet yang baik dan sehat adalah dilihat dari kebersihan, ketersediaan air dan tipenya.

‘’Jumlah kisaran BABS di India 616 juta jiwa, Indonesia 63 juta jiwa, Pakistan 40 juta jiwa, Nigeria 39 juta jiwa, Ethiophia 38 juta jiwa. Kuman bisa berkembang biak di kamar mandi atau toilet yang kotor setiap 20 menit sekali. Dalam 24 jam saja bisa mejadi 8 juta sel, sehigga menimbulkan bau yang tidak sedap,’’ sebut dia.

Akibat perilaku BABS itu, lanjut dia, Kementerian Kesehatan memperkirakan kerugian ekonomi sekitar Rp56,8 triliun per tahun. Sebab biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan untuk mengatasi penyakit akibat sanitasi yang buruk, antara lain penyakit diare yang disebabkan toilet kotor yang menjadi sumber penularan bakteri yang berkembang biak dengan mudah dan cepat yang berbahaya bagi kesehatan.

Ia menambahkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan toilet di fasilitas-fasilitas umum masih sangat rendah. Penelitian yang pernah dilakukan Yayasan Lembaga dan Konsumen Indonesia (YLKI) tahun 2011 tentang pengelolaan toilet di SPBU dan Mushola mengatakan banyak konsumen yang tidak puas dalam memanfaatkan fasilitas tersebut.

‘’Sebanyak 42 SPBU atau 87,5 persen persen dari sampel dianggap tak memiliki toilet mumpuni. Aspek utama yang menjadi masalah adalah tentang hygenitas. Perjalanan yang menempuh waktu yang lama membuat banyak orang terkadang ingin buang air kecil.

Dan tempat paling strategis untuk buang air kecil sekaligus beristirahat adalah SPBU. Akan tetapi, kondisi toilet di SPBU ini dari segi kebersihannya tidak terpelihara, aroma kurang sedap yang menyengat, dan yang paling umum terjadi yaitu tidak adanya air tersedia bahkan saluran air yang banyak tersumbat,’’ imbuhnya.

Kondisi kebersihan toilet yang tidak bersih telah memberikan kesan yang kurang baik bagi masyarakat pengguna khususnya yang ada dalam perjalanan ke suatu tempat. Apalagi lokasi yang dituju adalah daerah tujuan wisata (DTW), yang ramai dikunjungi wisatawan baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan luar negeri.

Bagaimana potret kebiasaan BAB di Sumut? Kondisi BABS di Sumut menurut hasil Riskesdas tahun 2010 bahwa 18,2 persen rumah tangga di Provsu tidak mempunyai fasilitas BAB, lebih besar dari rata-rata nasional 15,8 persen. Persentase rumah tangga menurut tempat pembuangan akhir tinja adalah tangki septik 61,4 persen, SPAL 3,1 persen, kolam/sawah 1,7 persen, sungai/danau 14,8 persen, lubang tanah 10,1 persen dan kebun 7 persen.

‘’Persentase rumah tangga yang tidak punya akses terhadap pembuangan tinja layak sesuai MDG’s adalah sebesar 42,7 persen. Yang paling memprihatinkan adalah sebanyak 19,9 persen rumah tangga masih BABS (open defecation), lebih tinggi dari rata-rata nasional 17,2 persen.’’ katanya.

Tak bisa dipungkiri, bahwa masih banyak warga dibeberapa daerah di Sumut masih BABS karena tidak mempunyai fasilitas BAB. BAB masih ke kali, sungai, kolam, kebun di belakang rumah. Kondisi ini diperparah dengan perilaku buruk dari warga, seperti penyediaan air bersih yang tidak layak, pembuangan limbah rumah tangga yang buruk dan memelihara ternak yang tidak dikandangkan.

Kondisi dan perilaku warga yang BABS khususnya ke kebun belakang rumah ditambah dengan adanya ternak-ternak seperti babi dan anjing yang berkeliaran memberi cerita atau kisah sendiri. Kalau seseorang mau buang hajat ke kebun belakang rumah, maka haruslah ia membawa satu kalau perlu dua tongkat kayu. Tongkat dimaksud adalah untuk mengusir hewan ternak tersebut, karena begitu anda jongkok mau BAB beberapa ekor ternak dalam posisi siap menerkam “produk BAB”.

Situasi seperti ini tentu tidak nyaman kalau tidak bisa dikatakan berbahaya, oleh karena itu tongkat dimaksud berguna untuk mengusir hewan ternak yang mengikuti atau menunggui orang yang sedang BAB. Penulis menyebut atau mengusulkan kondisi seperti ini dengan istilah “Kakus Tongkat”.

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Dengan pertimbangan kondisi diatas, pada tahun 2008 pemerintah membuat strategi kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang sebelumnya didahului oleh program Community Led Total Sanitation (CLTS) yang di uji coba dibeberapa kabupaten / kota terpilih.

STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku hiegene dan sanitasi melallui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Prinsip STBM adalah sebagai berikut, pertama, apa yang dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat, untuk selalu menciptakan kondisi sanitasi yang lebih baik tanpa bantuan pihak diluar warga. Kedua,dengan membangkitkan atau memicu rasa malu, rasa jijik, dan rasa takut terhadap penyakit.

STBM sebenarnya di disain untuk sasaran masyarakat pedesaan. Namun pendekatan partisipatif dengan pemicuan bisa digunakan untuk masyarakat perkotaan dengan beberapa penyesuaian. Sikap dan perilaku yang ingin diubah melalui partisipatif ini adalah kebiasaan BAB, kebiasaan CTPS, kebiasaan pengelolaan air minum rumah tangga, kebiasaan pengelolaan pembuangan air limbah, dan pengelolaan sampah.

Indikator output dan outcomenya adalah setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF). Kemudian setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.

Selanjutnya, setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan,puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan) sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar. ‘’Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar,’’ tegas Otniel Ketaren. (*)

Pelebaran Jalan Kabanjahe-Berastagi Dimulai Tahun Depan

Solideo/sumut pos TINJAU: Direktorat Kementerian PUPR, Selamat Simanjuntak, Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama Kepala Bappeda Ir Nasip Sianturi meninjau titik lokasi Daerah Median Jalan yang akan diperlebar Jalan Kabanjahe-Brastagi.
Solideo/sumut pos
TINJAU: Direktorat Kementerian PUPR, Selamat Simanjuntak, Bupati Karo Terkelin Brahmana bersama Kepala Bappeda Ir Nasip Sianturi meninjau titik lokasi Daerah Median Jalan yang akan diperlebar Jalan Kabanjahe-Brastagi.

BERASTAGI, SUMUTPOS.CO – Direktorat Pembangunan Jalan Kementerian PUPR melakukan pengecekan final proyek pelebaran Tahap II Jalan Kabanjahe–Berastagi, Jumat (16/11) sore. Disimpulkan, proyek ini akan segera dilaksanakan pada awal tahun 2019 mendatang.

Kabar ini disambut gembira oleh Bupati Karo Terkelin Brahmana, SH yang ikut ke lokasi bersama Kepala Bappeda Ir Nasip Sianturi. Direktorat Pembangunan Jalan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Selamat Simanjuntak didampingi Sri Nanda Hasian Harahap ST selaku PPK 03 Kabanjahe Cs, Kasi Pembangunan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah I, Ir Simon Ginting mengatakan, cek final dilakukan untuk memastikan rencana pelebaran Jalan Letjen Djamin Ginting Kabanjahe–Berastagi tidak ada lagi hambatan dengan warga.

“Ini hanya untuk memastikan jika sudah clear dan clean dengan warga terdampak pelebaran, maka dipastikan pelebaran tahap II ini dilakukan pada tahun 2019,”ujar Simon.. “Proyek lanjutan pelebaran jalan nasional Kabanjahe hingga Berastagi kemungkinan akan dilanjutkan di Tahun 2019 dengan anggaran dari APBN,” tambah Selamat.

Dikatakannya, beberapa waktu lalu sudah dilakukan uji coba pengorekan pada titik lokasi Daerah Median Jalan (DMJ) yang akan diperlebar mulai dari depan gudang Bulog Kabanjahe untuk mengetahui secara langsung sudah bebas atau belum.

“Apakah lokasi sudah benar-benar bebas atau masih sebatas wacana sudah dibebaskan,” ujar Selamat Simanjuntak. Jika sudah clear dan clean, pelebaran ini dimungkinkan akan dilakukan pada Tahun 2019, bahkan jika lahan warga yang terdampak sudah bebas, akan kita teruskan sampai tugu kol Berastagi pada Tahun Anggaran 2020, ini tentunya Pemda juga harus siap dengan anggaran pendampingannya,” ujarnya, di sela-sela cek final bersama Bupati Karo.

Kita tidak mau terulang seperti pelaksanaan pelebaran tahap I tahun 2017 lalu dengan panjang 2,3 km, anggaran sebesar Rp32 miliar bersumber dari APBN 2017. “Ternyata, salah satu lokasi di ruas jalan yang terkena pelebaran tidak dapat diperlebar karena belum dibebaskan pihak Pemkab Karo. Sampai saat ini, di ruas jalan itu persis disebelah Unit Lantas Polres Tanah Karo sempit dan rawan sekali kecelakaan akibat jalan tiba-tiba menyempit,” jelasnya.

Lebih jauh diungkapkannya, dalam rencana pelebaran tahun 2019, pihaknya secara dini mau tahu secara langsung, apakah lahan sudah bebas atau belum. Cek final ini dilakukan sebagai persiapan pelebaran tahap kedua nantinya, diharapkan tidak ada masyarakat komplein atau keberatan. Sehingga proyek pelebaran dapat berjalan mulus tanpa ada hambatan, tuturnya.

Ditambahkan Simon, pelebaran dan peningkatan pembangunan jalan Kabanjahe-Berastagi yang sumber dananya berasal dari dana pusat, APBN TA 2019 tetap berpedoman kepada UU RI No 38/2004 Pasal 63 dengan merujuk Pasal 12 ayat 1,2 dan 3, yang mengatakan. “Kepentingan jalan nasional bagi terkena dampak tidak ada ganti rugi. Apabila ada yang bertahan sepanjang jalan nasional maka dia akan dapat dipidana,” tegasnya.

Bupati karo Terkelin Brahmana, mengapresiasi Direktorat Pembangunan Jalan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan pihak BBPJN Wilayah I Medan, yang sudah melakukan cek final rencana pelebaran tahap II. Pelebaran jalan nasional Kabanjahe – Berastagi ini merupakan program yang harus didukung bersama sehingga dapat berjalan dengan baik.

Bupati Terkelin Brahmana sangat mengharapkan dukungan masyarakat Kabanjahe/Berastagi khususnya di sepanjang jalan yang terkena dampak pelebaran jalan. “Mari kita berpikir jernih dan positif, kelak anak cucu kita juga yang akan menikmati pembangunan untuk kepentingan umum ini,” ujarnya.

Sementara Kepala Bapeda Ir Nasip Sianturi menerangkan bahwa saat ini sedang dilakukan pendataan final terhadap bangunan pagar rumah milik warga yang terdampak atas pelebaran jalan itu nantinya.

Ketika disinggung sudah sejauh mana progresnya, Nasib Sianturi menjawab, sudah hampir rampung. “Tahap awal dari rencana pembangunan ini nantinya akan dilakukan pencucian jalur dengan menggunakan alat berat bekerjasama dengan BBPJN Wilayah I Medan,” jelasnya.

Anggota DPRD Karo Ir Thomas Joverson Ginting mengharapkan keseriusan pemerintah daerah guna secepatnya merealisasikan program yang sangat bagus ini, bahkan hal-hal yg sederhana guna percepatan dapat diselesaikan diintern Pemkab Karo seperti penebangan kayu di pinggir badan jalan tentunya dapat segera dilakukan sehingga ada kepastian bagi masyarakat, ketusnya. (deo/han)