28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 5755

Tambang Emas Martabe Dukung Pembentukan Forum Komunikasi PUSPA Tapsel

Foto: Corcomm Martabe Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul M. Pasaribu berfoto bersama peserta sosialisasi pembentukan Forum Komunikasi PUSPA Tapanuli Selatan usai membuka sosialisasi tersebut secara resmi, Kamis (15/11).
Foto: Corcomm Martabe
Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul M. Pasaribu berfoto bersama peserta sosialisasi pembentukan Forum Komunikasi PUSPA Tapanuli Selatan usai membuka sosialisasi tersebut secara resmi, Kamis (15/11).

PADANGSIDIMPUAN, SUMUTPOS.CO – PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe mendukung penuh pembentukan Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK PUSPA) tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan yang digagas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) Kabupaten Tapanuli Selatan.

Sosialisasi Pembentukan FK PUSPA dilakukan di acara Temu Koordinasi Partisipasi Publik dalam rangka mewujudkan peran serta masyarakat untuk menghilangkan kekerasan dan kesenjangan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (15/11) di Padangsidimpuan. Acara yang dibuka secara resmi oleh Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul M. Pasaribu ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan di Tapanuli Selatan, termasuk puluhan karyawan perempuan PT Agincourt Resources.

PT Agincourt Resources (PTAR) yang diwakili Senior Manager Corporate Communications, Katarina Siburian Hardono, memberikan pemaparan tentang program Keberagaman Gender (Gender Diversity) di Tambang Emas Martabe. Paparan lainya adalah sosialisasi Program Unggulan  dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) yang disampaikan pejabat Dinas PPPA Sumatera Utara, serta forum diskusi dalam rangka pembentukan FK PUSPA, Kabupaten Tapanuli Selatan.

FK PUSPA Taspel dibentuk dalam rangka mensukseskan program nasional Three Ends di Tapanuli Selatan, yang dicanangkan Kementerian PPPA untuk mencapai kesejahteraan perempuan dan perlindungan anak. Pada tahun 2016, Kementerian PPPA mencanangkan 3 (tiga) Program Unggulan, bernama Three Ends, yakni; Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, Akhiri perdagangan manusia dan Akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan.

Dengan fokus pada tiga program unggulan tersebut, Kementerian PPPA berharap mampu mengurangi dan menurunkan angka kekerasan pada perempuan dan anak pada akhir tahun ini.

Sementara itu Katarina Siburian Hardono menyatakan PT Agincourt Resources sangat mendukung program unggulan Three Ends yang dicanangkan Kementerian PPPA, khususnya untuk poin yang ketiga terkait kesenjangan ekonomi bagi perempuan. Terkait poin ketiga ini lanjut Katarina, PT Agincourt Resources mewujudkannya dalam bentuk Program Gender Diversity atau Keberagaman Gender di Tambang Emas Martabe.

“Dalam kesempatan ini PT Agincourt Resources sebagai salah satu wakil dari sektor industri di Tapanuli Selatan sangat mendukung pembentukan Forum Komunikasi PUSPA ini, khususnya dalam mensukseskan program unggulan ketiga dari Three Ends, yakni mengakhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan, kami sudah mewujudkannya dalam bentuk program keberagaman gender atau gender diversity di Tambang Emas Martabe,” kata Katarina.

 

Foto: Corcomm Martabe
Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono memaparkan tentang program keberagaman gender yang diterapkan di Tambang Emas Martabe pada acara sosialisasi pembentukan Forum Komunikasi PUSPA, Kab. Tapanuli Selatan, Kamis (15/11).

Katarina menjelaskan Tambang Emas Martabe mulai menerapkan kebijakan Kebergaman Gender pada 21 April 2016. Melalui kebijakan ini PT Agincourt Resources memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada karyawan perempuan untuk berpartisipasi aktif dan meniti karier di industri pertambangan yang selama ini identik dengan dunia kerja laki-laki. Keterlibatan kaum perempuan dalam angkatan kerja bisa memiliki peran yang besar dalam mensejahterakan keluarga, yang pada akhirnya turut meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

“Kami menerapkan kebijakan ini karena kami percaya bahwa keanekaragaman memperkaya kinerjaperusahaan kami. Dengan meningkatkan partisipasi perempuan, kami percaya bahwa perspektif yang beragam bisa meningkatkan kekuatan organisasi, kemampuan pemecahan masalah dan peluang untuk inovasi sehingga dengan pendekatan keberagaman gender yang sukses akan memungkinkan PT Agincourt Resources menjadi perusahaan yang lebih baik, sehingga bisa memberikan hasil terbaik kepada semua pemangku kepentingan,” kata Katarina.

Katarina menambahkan pada 2019, Tambang Emas Martabe menargetkan paling tidak memiliki 25% tenaga kerja wanita, di mana termasuk 40% diantaranya menduduki posisi Superintendent dan Manajer. Katarina menjelaskan data per 30 September 2018, jumlah karyawan perempuan di Tambang Emas Martabe (PTAR dan Kontraktor) mencapai 19,99 % atau 540 orang dari total 2.701 karyawan. Sementara khusus untuk PTAR sendiri sekitar 21,89 % atau 178 karyawan perempuan dari total 813 karyawan. ”Dan angka ini semuanya bukan target akhir dari kami,” tandas Katarina.

Sementara itu Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul M. Pasaribu mengapresiasi PT Agincourt Resources yang telah memfasilitasi kegiatan sosialisasi pembentukan Forum Komunikasi PUSPA tersebut. Namun, Syahrul berharap forum komunikasi PUSPA itu tidak terhenti dalam kegiatan tersebut, tetapi bisa berlanjut secara berkesinambungan melalui program-program pemberdayaan perempuan dan anak ke depannya.

“Sehingga ke depannya dengan adanya forum komunikasi ini kaum perempuan tidak hanya sebagai objek tapi bisa sebagai subjek,” kata Syahrul. (rel)

Dimakamkan Satu Liang

sMG/SUMUT POS DIMAKAMKAN: Jenazah Diperum Nainggolan dan keluarga disemayamkan sebelum dimakamkan di Hariara Tolu, Pangururan, Kabupaten Samosir, Kamis (15/11) siang.
sMG/SUMUT POS
DIMAKAMKAN: Jenazah Diperum Nainggolan dan keluarga disemayamkan sebelum dimakamkan di Hariara Tolu, Pangururan, Kabupaten Samosir, Kamis (15/11) siang.

SUMUTPOS.CO – JENAZAH Diperum Nainggolan dan keluarga dimakamkan di Hariara Tolu, Pangururan, Kabupaten Samosir, Kamis (15/11) sekira Pukul 14.00 WIB. Pendeta Jhon Petra Simatupang beserta jemaat HKBP Resort Pangururan Kota melaksanakan ibadah di depan rumah duka.

Tangis haru pecah saat peti jenazah ke empat korban ditutup. Salah seorang wanita yang juga kerabat korban tampak terus memeluk peti jenazah Diperum Nainggolan dan istrinya Maya boru Ambarita.

Selanjutnya, masyarakat dibantu beberapa pemuda yang mengenakan seragam Pemuda Pancasila mengangkat peti jenazah korban satu per satu ke dalam mobil ambulans. Tangis histeris kembali terdengar mengiringi.

Berjalan kaki sekitar 15 menit, keluarga dan para pelayat tiba di area pemakaman keluarga. Satu per satu jenazah kembali diturunkan untuk dimasukkan ke dalam satu liang lahat.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” ucap Pendeta Jhon Petra dalam khotbahnya. (gid/esa/smg/ala)

Pembunuh Sekeluarga di Bekasi Dibekuk, Pelaku Kerap Tidur di Rumah Korban

DITANGKAP: HS, pembunuh sekeluarga di Bekasi dibekuk tim gabungan dari Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Kota Bekasi di kaki Gunung Guntur, Rabu (14/11) sekira pukul 22.00 WIB. Ia diamankan petugas untuk pengembangan di salah satu hotel.
DITANGKAP: HS, pembunuh sekeluarga di Bekasi dibekuk tim gabungan dari Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Kota Bekasi di kaki Gunung Guntur, Rabu (14/11) sekira pukul 22.00 WIB. Ia diamankan petugas untuk pengembangan di salah satu hotel.

BEKASI, SUMUTPOS.CO – Pelarian HS, pembunuh sekeluarga di Bekasi berakhir. Pria berusia 30 tahun itu, dibekuk tim gabungan dari Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Kota Bekasi di kaki Gunung Guntur, Rabu (14/11) sekira pukul 22.00 WIB.

KABID Humas Polda Metro Jaya, Kom bes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, keberadaan HS diketahui berdasarkan laporan dari masyarakat.

“Ketika kami kejar ke Garut, pelaku HS dikabarkan ada di kaki gunung Guntur. Di sana dia berada di suatu rumah atau saung,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Kamis (15/11).

Kepada petugas, HS mengaku hendak naik gunung. Polisi lalu melakukan penggeledahan terhadap barang yang dibawa oleh HS.

“Kami lakukan penggeledahan dan ada kunci mobil merek Nissan kemudian ada handphone. Lalu ada uang Rp 4 juta,” imbuh Argo.

Kemudian, pihak kepolisian langsung membawa HS ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa HS merupakan pengangguran yang masih memiliki hubungan saudara dengan korban Maya Ambarita.

Pelaku juga sering numpang tidur di rumah korban Diperum Nainggolan.

“Dia memang sering tidur di situ (rumah Diperum Nainggolan),” kata Argo
Selama tiga bulan terakhir, HS sudah tidak bekerja. Pelaku sebelumnya bekerja di sebuah pabrik di kawasan Cikarang.

Karena tak lagi bekerja, pelaku meninggali sebuah indekos di kawasan Cikarang. Di lokasi itu juga polisi menemukan mobil Nissan X-Trail dengan nomor polisi B 1705 UOQ milik korban.

Mobil itu diduga dibawa kabur HS dari rumah Diperum usai membunuh korban. “Sebelumnya kerja di PT di Cikarang dan kemudian resign,” imbuh dia.

Sebelumnya korban dibunuh pelaku di kawasan Jalan Bojong Nangka 2, Pondok Gede, Bekasi, Selasa 13 November 2018 pagi.

Korban adalah satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami-istri dan dua orang anaknya. Keempat orang tersebut yakni, Diperum Nainggolan (38), Maya Ambarita (37), Sarah Nainggolan (9), serta Arya Nainggolan (7). (jpnn/ala)

Terkait Kegiatan Reses dan Sosialisasi Perda, Anggota DPRD Medan Diperiksa BPK

Idris/sumut pos SOSIALISASI: Iswanda Nanda Ramli saat Sosialisasi Perda Nomor 6/2009 tentang Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir dan Balita (KIBBLA) di Polonia, Sari Rejo. Kecamatan Medan Polonia, Minggu (11/11). (M IDRIS)
Idris/sumut pos
SOSIALISASI: Iswanda Nanda Ramli saat Sosialisasi Perda Nomor 6/2009 tentang Kesehatan Ibu, Bayi baru lahir dan Balita (KIBBLA) di Polonia, Sari Rejo. Kecamatan Medan Polonia, Minggu (11/11). (M IDRIS)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) mencium adanya indikasi ketidakberesan dalam kegiatan reses dan sosialisasi peraturan daerah (Perda) Kota Medan. Karenanya, BPK Perwakilan Sumut memeriksa anggota DPRD Kota Medan terkait kedua kegiatan tersebut.

Informasi yang diperoleh Sumut Pos, setidaknya sudah 9 anggota DPRD Kota Medan yang diperiksa BPK. Pada Rabu (14/11) lalu, setidaknya ada 3 anggota dewan diperiksa yakni Proklamasi Naibaho dari Fraksi Partai Gerindra, Paul Mei Anton Simanjuntak dan Umi Kalsum dari Fraksi PDI Perjuangan.

Kemudian pada Kamis (15/11), ada 6 anggota dewan diperiksa yakni Heri Zulkarnain dari Fraksi Partai Demokrat, Irsal Fikri dari Fraksi PPP, Dame Duma Sari Hutagalung dari Fraksi Partai Gerindra, Edward Hutabarat dari Fraksi PDI Perjuangan, Beston Sinaga dari Fraksi Persatuan Nasional dan Mulia Asri Rambe alias Bayek dari Fraksi Partai Golkar. Tak hanya wakil rakyat, sejumlah staf Sekretariat DPRD Medan juga turut diperiksa.

Saat dikonfirmasi, Beston Sinaga membenarkan pemeriksaan itu. “Kita dipanggil untuk memberikan keterangan terkait kegiatan reses dan sosialisasi perda, tidak ada kaitan dengan perjalanan dinas. Mereka (BPK Perwakilan Sumut) mempertanyakan apakah kegiatan tersebut benar dilakukan dan sesuai anggaran yang diperuntukkan,” ujar Beston Sinaga saat keluar dari gedung BPK, Kamis (15/11) sekira pukul 14.00 WIB.

Beston mengaku, apa yang disampaikannya kepada BPK sesuai yang dilakukan dengan dua kegiatan itu. Namun, apabila BPK menilai ada yang tidak sesuai, tentu akan dikembalikan anggarannya. “Kalau memang harus ada yang dipulangkan, tentu akan kita pulangkan. Akan tetapi, kita lihat dulu penjelasan yang disampaikan BPK,” aku Beston yang diperiksa mulai sekitar pukul 13.00 WIB.

Ia membeberkan, tim dari BPK menanyakan secara detail mengenai kegiatan reses dan sosialisasi perda yang dilakukan. “Mereka tanya semua yang terkait hingga sekecil-kecilnya. Misalkan, soal konsumsi, tenda dan lain sebagainya, apakah sesuai dengan harga di pasaran. Pokoknya detail yang mereka tanya,” ucap politisi dari PKPI ini.

Disebutkan anggota Komisi C DPRD Medan ini, untuk sekali kegiatan reses menghabiskan anggaran hampir Rp50 juta. Sedangkan sosialisasi mencapai Rp23 juta lebih. “Dalam setahun, baik reses maupun sosialiasasi yang dilakukan sebanyak 3 kali masing-masing. Tinggal diatur waktu dan tempatnya untuk disesuaikan jadwal,” cetusnya.

Dia menambahkan, pemeriksaan terhadapnya yang dilakukan BPK bukan baru kali ini. Sebab, pada 2017 juga sempat dimintai keterangan. “Kalau tahun lalu kita tidak ada memulangkan anggaran. Mudah-mudahan tahun ini juga demikian. Tapi pada intinya jika memang harus ada yang dikembalikan, maka kita siap,” tukasnya.

Tak jauh beda disampaikan Dame Duma Sari Hutagalung. Menurut anggota dewan dari Partai Gerindra ini, BPK mempertanyakan hal-hal apa saja yang dilakukan pada dua kegiatan tersebut. “Mereka tanya, kita kasih apa dan dalam bentuk apa kepada masyarakat. Saya sampaikan, memang ada dikasih uang dan beras tetapi tidak banyak,” ujarnya.

Dikatakan Dame, BPK menyatakan bahwasanya sesuatu yang diberikan kepada masyarakat seharusnya tidak boleh dilakukan oleh anggota dewan langsung. Termasuk juga, dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan itu. “Seharusnya, semua itu dikerjakan oleh Sekretariat DPRD Medan karena ada regulasi yang mengatur. Jadi, anggota dewan tinggal datang dan menyampaikan materi,” terangnya.

Sekretaris Komisi C DPRD Medan ini menyatakan, apabila memang seperti itu kondisinya dan ada regulasi yang mengatur, maka dirinya sangat setuju. Sehingga, tidak perlu repot-repot melakukan persiapan selain materi pembahasan yang akan disampaikan kepada masyarakat. “Apabila sudah diatur dalam aturan, maka tahun berikutnya harus diterapkan seperti itu juga. Sebab, terkadang kita bisa nombok atau mengeluarkan anggaran sendiri lantaran begitu banyak masyarakat yang hadir,” tandasnya.

Sementara, BPK Sumut yang hendak dikonfirmasi terkait pemeriksaan anggota dewan tersebut belum berhasil. Sebab, mereka tak mau memberikan keterangan apabila tidak ada surat resmi untuk wawancara. “Sudah aturannya begitu, kalau mau konfirmasi harus pakai surat resmi dari kantor. Kalau tidak ada, tidak bisa. Silahkan tanyakan atau konfirmasi ke anggota dewan yang bersangkutan,” ujar Bambang, seorang petugas keamanan Kantor BPK Sumut. (ris)

Pelamar Berharap Sistem Rangking

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) 2018 yang dilaksanakan mulai 26 Oktober 2018 hingga 17 November 2018 menuai banyak protes dari para peserta SKD CPNS 2018. Banyak peserta yang gugur di tahap ini dan harus merelakan impiannya untuk menjadi ASN 2019 karena nilai Tes Kepribadian Pribadi (TKP) tidak memenuhi nilai ambang batas (passing grade).

CASN yang mengikuti ujian seleksi kompetensi dasar (SKD) namun kalah, sangat berharap agar kebijakan sistem perangkingan dapat diberlakukan pemerintah. Sebab, dari tiga bagian mengikuti tes SKD, passing grade atau ambang batas penilaian terendah hanya di tes karakteristik pribadi (TKP).

“Dari berita yang saya baca, pemerintah sedang menggodok kebijakan baru ini. Ya, harapannya semoga saja memakai sistem rangking atau peringkat dibanding menurunkan passing grade,” kata Andri Kurniawan, seorang pelamar CASN 2018 kepada Sumut Pos, Kamis (15/11).

Dia menceritakan, dari tiga bidang tes yang diujikan saat SKD, hanya TKP yang tidak mampu melewati passing grade. Untuk kerumitan soalnya, menurut dia tidak begitu sulit, hanya saja ambang batas nilai yang diminta yakni 143. “Saya dapatnya cuma 133 (skor TKP).

Kalau dihitung total mudah-mudahan bisa lolos. Karena dua bidang lain (TIU dan TKW) nilai saya tinggi. Keduanya itu saya dapat masing-masing 110. Bahkan dari nilai total cuma diminta 298. Jika dihitung skor saya dari ketiga tes itu, kan tentu sudah lebih,” katanya.

Andri sendiri mencoba peruntungan pada formasi apoteker di Rumah Sakit Umum Daerah Langsa, Provinsi Aceh. Ia optimis jika akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan memakai sistem ranking berdasarkan skor dari ketiga tes tersebut, kansnya lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) terbuka lebar.

“Itulah harapannya. Apalagi kan katanya terlalu rendah tingkat kelulusan (ujian SKD) akibat tingginya passing grade. Dan memang rata-rata banyak kalah di TKP itu. Kawan saya yang satu rumah saja mengalami nasib kayak saya. Jika ditotal dia punya nilai 332 tapi kalah dua poin saja di TKP, dan gugur,” kata warga Sumatera Barat itu.

“Dibilang sulit sih enggak juga ya, cuma kan waktunya (menjawab 100 soal) hanya 90 menit. Udah gitu soalnya itu panjang. Membutuhkan analisa kita sebelum menjawab. Seperti kalau Anda jadi ini, apa yang harus Anda lakukan. Jadi kita harus membaca dulu semua pilihannya,” katanya.

Senasib dengan Andri, Joandro Parulian Lubis juga mengungkapkan asa supaya pemerintah mengambil kebijakan dalam sistem perangkingan bagi peserta yang gagal ujian SKD, lantaran kalah di passing grade TKP. “Nilai TKP-ku cuma dapat 130-an, dari 143 ambang batas yang ditetapkan. Yang dua lagi, TWK aku dapat 200 dan TIU dapat 80,” katanya.

Dia menuturkan soal-soal di TKP banyak yang menjebak dan ada kriteria khusus dari panitia atas jawaban yang dipilih peserta. Dalam satu soal itu pun, sebut pria yang akrab disapa Jo, biasa terdapat dua masalah. “Contohnya begini, ‘bos kamu menyuruh kamu mengerjakan tugas sampai sore nanti, dan harus selesai hari itu juga. Setengah jam kemudian istri kamu menelepon bilang anak kamu sakit, lantas apa yang kamu lakukan’?

Lalu kita pilihlah ada lima opsi jawaban dibawah. Aku pilih yang lebih utamakan anak sakit, tapi malah salah. Dijawabnya sebagai pegawai profesional harus mengutamakan pekerjaan daripada anak,” katanya yang mencoba formasi sebagai CASN di Badan Ekonomi Kreatif di bawah Kementerian Perekonomian. “Soal-soalnya banyak yang menjebak. Udah gitu kriteria jawabannya kita gak tahu seperti apa,” imbuh Jo.

Saat ini dirinya mengaku masih menunggu pemerintah yang tengah menggodok kebijakan baru atas banyaknya peserta ujian SKD yang gagal. Apalagi jika dilihat dari skor yang ia peroleh dari ketiga tes, berada diangka yang lumayan tinggi. “Sekitar 300 lebih jugalah skor yang kudapat. Aku optimis bisa masuk jika pakai sistem ranking nanti. Tapi kitakan masih menunggu juga sampai saat ini. Bisa saja yang sudah lulus malah berontak kalau nanti diberlakukan perankingan,” katanya.

Agnesia, pelamar lainnya mengaku kesulitan dalam menjawab soal yang berkaitan dengan TKP. Menurutnya sulit membedakan mana pilihan jawaban yang tepat atau paling baik di antara pilihan yang ada. Menurutnya, antara benar dan salah atau baik-kurang baik sangat tipis, sehingga kesannya tidak ada yang tidak baik. “Pilihan jawabannya hampir semua positif dan bagus. Jadi karena hampir sama, sulit untuk dibedakan. Kesannya semua bagus jawabannya. Kita harus memilih mana yang paling baik,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya waktu ujian dengan jumlah 100 soal, kurang pas. Apalagi ada beberapa soal yang menggunakan materi atau penjelasan yang cukup panjang. Sehinga untuk membaca dan menelaah pertanyaan, mereka membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ditambah lagi mempertimbangkan jawaban mana yang paling tepat dan benar.

Hari Ini, Pencarian Korban Longsor Nias Dihentikan

istimewa for SUMUT POS MENCARI: Beberapa warga ikut melakukan pencarian korban longsor di Desa Sukamaju Mohili, Kecamatan Gomo, Nias Selatan, Rabu (14/11).
istimewa for SUMUT POS
MENCARI: Beberapa warga ikut melakukan pencarian korban longsor di Desa Sukamaju Mohili, Kecamatan Gomo, Nias Selatan, Rabu (14/11).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di Desa Suka Maju Mohili, Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan akan dihentikan hari ini, Jumat (16/11). Hal itu mengacu pada pernyataan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, Riadil Akhir Lubis sebelumnya, yang menyebut proses pencarian korban akan dilakukan selama satu pekan sejak bencana terjadi.

Diketahui, longsor yang menewaskan tujuh orang dalam satu keluarga akibat tertimbun reruntuhan rumah itu, sudah terjadi sejak Sabtu (11/11) lalu. Itu artinya hingga hari ini, sudah tujuh hari proses evakuasi terhadap korban dilakukan. Namun sampai kini baru ditemukan empat korban dan sisanya masih dalam proses pencarian. “Selama tujuh hari (pencarian korban dilakukan) sejak bencana terjadi,” ujar Riadil, Rabu (14/11).

Meski demikian, pihaknya belum mengetahui langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Ia hanya bisa menginformasikan bahwa tim gabungan proses memaksimalkan pencarian dan evakuasi terhadap korban yang belum ditemukan, berikut membuka akses jalan yang tertutup akibat lumpur. “Masyarakat diminta menghindar dari perbukitan mengingat potensi cuaca ekstrim dan hujan lebat masih akan terjadi. Dalam upaya pencarian korban yang masih hilang telah terpenuhi alat berat,” katanya.

Berdasarkan data dari BPBD Sumut, hingga Rabu (14/11) telah ditemukan lagi satu orang korban bencana alam tanah longsor atas nama Aristina Laia (28). Ibu rumah tangga itu merupakan istri dari Asazaro Hulu, yang tinggal di Dusun II Desa Suka Maju Mohili, Kecamatan Gomo. Korban ditemukan diujung lokasi terjadinya tanah longsor di Desa Suka Maju Mohili, dalam kondisi tidak bernyawa.

Sementara daftar nama-nama korban yang belum ditemukan akibat bencana alam tanah longsor itu; Setiamas Hulu ina Putri (28), ibu rumah tangga, dan istri dari Gemazaro Hulu, Reinshon Septi Hulu (3), anak perempuan dari Gemazaro Hulu alias Ama Putri, Noverman Jaya Hulu (2), anak dari Gemazaro Hulu alias Ama Putri.

Selain Aristina Laia, daftar nama-nama korban yang sudah ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia yaitu; Cristoven Hulu (4), anak dari Asazaro Hulu alias Ama Elsa dan sudah dimakamkan, Yusti Ayu Putri Hulu (4), anak perempuan dari Gemazaro Hulu alias Ama Putri, dan Madarman Hati Hulu (6), anak dari Asazaro Hulu alias Ama Elsa. (prn)

Ruas Tol Sei Rampah Tebingtinggi Hampir Rampung, Dioperasikan saat Natal dan Tahun Baru 2019

sopian/SUMUT POSHAMPIR RAMPUNG: Pintu Tol Tebingtinggi sudah hampir rampung. Diperkirakan, ruas tol Sei Rampah-Tebingtinggi dapat digunakan saat libur Natal dan Tahun Baru 2019.
sopian/SUMUT POSHAMPIR RAMPUNG: Pintu Tol Tebingtinggi sudah hampir rampung. Diperkirakan, ruas tol Sei Rampah-Tebingtinggi dapat digunakan saat libur Natal dan Tahun Baru 2019.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Pada libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 mendatang, ruas tol Sei Rampah-Tebingtinggi diperkirakan sudah dapat digunakan. Hal ini terlihat dari progres pekerjaan yang sudah mencapai 90 persen.

Direktur Teknik PT Jasa Marga Kualanamu Tol (JMKT), Agus Choliq mengatakan, saat ini sudah tidak ada lagi kendala dalam pengerjaan ruas tol Medan-Tebingtinggi khususnya di Seksi 7 yakni Sei Rampah-Tebingtinggi.

Disebutnya, persoalan ganti rugi lahan yang sebelumnya sempat menghambat pembangunan, menurutnya sudah selesai. “Kendala selama ini tidak ada, hanya masalah pembebasan lahan. Dan sudah bebas pada 22 Oktober 2018 lalu dengan cara eksekusi,” ungkap Agus Choliq kepada wartawan, belum lama ini.

Menurutnya, eksekusi dilakukan karena masalah ahli waris (keluarga) yang saling klaim. “Bukan mereka tidak mau diganti rugi. Tapi kalau kita layani, serba salah. Kalau dibayar ke abangnya, si adek protes, begitu sebaliknya. Ya sudah, uang ganti rugi dititip ke pengadilan,” jelas Agus.

Melihat progres pembangunannya, Agus optimis pada libur Natal dan Tahun Baru 2019 nanti ruas tol Sei Rampah-Tebingtinggi sudah dapat dioperasionalkan. Dia juga mengatakan, saat uji coba nantinya jalan tol Sei Rampah-Tebinggtinggi bakal digratiskan. “Tapi nanti pemerintah yang menentukan. Apakah digratiskan saat uji coba selama satu atau dua bulan, pemerintah yang menentukan nantinya,” imbuh Agus.

Ketika ditanyakan soal pekerjaan pembersiahan kebun sawit di depan pintu tol keluar Tebingtinggi (seberang Jalinsum, red), Agus menyatakan itu bukan pekerjaan mereka. “Yang merapikan itu bukan kita. Saya tidak tahu itu. Batas pekerjaan jalan tol oleh JMKT yaitu jalinsum Tebingtinggi. JMKT batas pekerjaannya hanya jalan tol sampai Tebingtinggi, dari Tebingtinggi lanjut ke Siantar atau yang lain bukan kita yang menangani,” jelasnya.

Sedangkan mengenai seringnya terjadi kemacetan di pintu tol keluar Sei Rampah setiap akhir pekan dan saat pulang jam kerja, Agus mengakuinya karena pengendara masih terbiasa tidak isi saldo sebelum masuk jalan tol. “Sering terjadi macet, padahal sudah setahun sudah kita lakukan pembinaan ke masyarakat tetapi masih ada saja yang tidak menghiraukan membeli pulsa di luar jalan tol.

Padahal pengendara seperti kebiasaan seperti itu rugi dan dapat merugikan orang lain karena menunggu pembelian dan akibatnya macet. Sebelum masuk tol, hendaknya pastikan dulu saldo cukup atau tidak agar tidak mengganggu di pintu keluar tol,” tandas Agus.

Sementara pantauan Sumut Pos di lokasi, pembangunan Tol Tebingtinggi-Sei Rampah di Desa Paya Bagas, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Serdang Bedagai sudah tahap finishing. Untuk tempat gardu pintu masuk dan keluar tol sudah siap. Penerangan juga telah rampung hingga ke jalan lintas Tebingtinggi-Sei Rampah tempat pintu masuk tol Tebingtinggi.

Seorang pekerja yang ditemui Sumut Pos mengakui, pembangunan sudah rampung dan tinggal penyelesaian sedikit, dan dia optimis ruas tol ini bisa di lintasi pada libur Natal dan Tahun Baru 2019. Finishing penyelesaian terlihat pemasangan pagar pembatas, saluran air pembuangan, pemasangan rambu rambu jalan tol dan pemasangan lampu pada pintu masuk dan keluar tol.

Mesin kartu e tol juga sudah rampung terpasang. “ Yah tinggal finishing saja, terkait kapan bisa digunakan oleh pengemudi untuk melintas, itu wewenang PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) Kualanamu Tebingtinggi, kami tidak ada hak untuk menjelaskan itu,” bilang pekerja yang tidak mau menyebut namanya itu.

Selain itu, terlihat juga pihak pengembangan Hutama Karya sudah melakukan pembersihan dan pengorekan tanah di kebun sawit milik PTPN 3 Kebun Rambutan di Desa Paya Bagas dan Desa Paya Lombang Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Sergai untuk lanjutan Jalan Tol Tebingtinggi Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara.

Pembersihan lapangan sudah hampir sejauh 3 kilometer yang melintas perkebunan sawit, lalu lalang kenderaan pengangkut tanah juga banyak terlihat untuk menimbun dan mengorek tanah lapisan atas dan dibuang. (btr/ian)

Barang Bukti Lahan di Desa Helvetia Disita Negara, Hukuman Tamin Sukardi Jadi 8 Tahun

agusman/SUMUT POSSIDANG: Majelis Hakim Pengadilan Tinggi saat menjatuhkan vonis terhadap Tamin Sukardi, Kamis (15/11).
agusman/SUMUT POSSIDANG:
Majelis Hakim Pengadilan Tinggi saat menjatuhkan vonis terhadap Tamin Sukardi, Kamis (15/11).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Medan menjatuhkan vonis 8 tahun penjara kepada Tamin Sukardi dalam sidang putusan perkara banding di Ruang Utama Pengadilan Tinggi Medan, Kamis (15/11). Putusan ini lebih tinggi 2 tahun dibanding putusan Pengadilan Negeri (PN) Medan.

Majelis hakim yang dipimpin Dasniel bersama dua hakim anggota masing-masing Albertina HO dan Mangasa Manurung dalam amarnya mengubah putusan Pengadilan Negeri Medan pada 27 Agustus 2018 lalu. Majelis menegaskan, tetap mempertimbangkan dakwaan primer Jaksa Penuntut Umum.

“Mengadili terdakwa Tamin Sukardi dengan pidana penjara selama 8 tahun, denda Rp500 juta, apabila denda tidak dibayar diganti dengan masa kurungan selama 6 bulan,” ujar Dasniel pada sidang yang berlangsung tanpa dihadiri Jaksa Penuntut Umum maupun Penasihat hukum terdakwa.

“Menghukum terdakwa dengan membayar pengganti kerugian negara sebesar Rp132,4 miliar dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap. Dan apabila uang pengganti kerugian negara tidak bisa dibayarkan maka harta bendanya akan dirampas dengan ketentuan apabila tidak cukup diganti hukuman selama 2 tahun penjara,” urai Dasniel.

Selain pidana penjara yang diubah oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi, barang bukti berupa sejumlah tanah yang sebelumnya diserahkan kepada PT Erni Putra Terari sesuai keputusan Pengadilan Negeri Medan juga turut diubah oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi Medan.

“Barang bukti Nomor 167 Tanah seluas 20 Ha yang merupakan bagian dari tanah yang awalnya dikuasai oleh PT Erni Putra Terari dari tanah seluas ±126 Ha yang terletak di Pasar IV, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang,” sebut Dasniel.

Kemudian Barang bukti 168, yakni Tanah seluas 32 Ha yang merupakan bagian dari tanah seluas ± 126 Ha yang terletak di Pasar IV, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang. “Barang bukti Nomor 169. Tanah seluas 74 Ha yang merupakan bagian dari tanah yang awalnya dikuasai PT ERNI PUTERA TERARI seluas ± 126 Ha yang terletak di Pasar IV, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang dirampas untuk negara,” pungkas Dasniel.

Terpisah, putusan majelis hakim Pengadilan Tinggi Medan yang menjatuhkan vonis 8 tahun penjara kepada Tamin Sukardi dan membayar kerugian Rp132,4 miliar serta seluruh aset tanah yang diperkarakan dirampas untuk negara dinilai tidak adil.

Keluarga menilai, putusan tersebut sarat dengan tekanan tanpa mempertimbangkan fakta yang bertujuan untuk menghabisi Tamin, bukan memberi keadilan. Iwan Samosir, adik dari istri Tamin Sukardi menyatakan putusan Pengadilan Tinggi sangat tidak adil. Iwan menyebut banyak fakta yang dikesampingkan oleh majelis Pengadilan Tinggi. Iwan menambahkan anehnya putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap mengenai tanah yang sudah dieksekusi dikesampingkan oleh majelis Pengadilan Tinggi Medan.

“Ini tidak adil dan tidak masuk akal sama sekali, bagaimana mungkin ada putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap di Mahkamah Agung diabaikan dalam pengambilan putusan banding di tingkat Pengadilan Tinggi. Dengan keputusan seperti ini, bagaimana rakyat bisa tetap percaya dengan adanya penegakan hukum yang adil di negara kita ini,” kata Iwan.

Iwan juga menyoal kembali legal opini Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, terhadap tanah yang diperkarakan sudah dinyatakan tidak ada ganti rugi. Namun Kejaksaan Agung justru menetapkan Tamin Sukardi sebagai tersangka. Iwan mempertanyakan apakah hal ini tidak jadi dasar pertimbangan bagi majelis Pengadilan Tinggi untuk mengambil keputusan.

Kemudian, sebut Iwan, tidak ada satupun saksi atau alat bukti selama berlangsung persidangan di Pengadilan Negeri yang menunjukkan niat jahat Tamin. Justru sebaliknya, fakta menunjukkan bahwa ahli waris pemegang alas hak tanah Helvetia yang melakukan gugatan terhadap PTPN-II.

Iwan menambahkan gugatan itu bukan karena disuruh Tamin Sukardi tapi karena marah setelah mengetahui PTPN-II menjual tanah eks HGU tersebut, kepada pihak ketiga yaitu pengusaha properti di Medan dengan berlindung di balik organisasi kemasyarakatan.

“Ini semua fakta, tapi kenapa diabaikan. Lantas, atas dasar apa putusan ini diambil. Tidak ada penjelasan kenapa semua poin pembelaan yang diajukan diabaikan oleh pihak majelis,” tandas Iwan. (man)

Mantan Pelatih PSMS, Suryanto Herman Meninggal Dunia

istimewa Suryanto Herman
istimewa
Suryanto Herman

Dunia sepak bola Sumut kembali berduka. Setelah kehilangan Syafei Pilly, kini satu lagi jajaran pelatih berpulang. Mantan pelatih PSMS, Suryanto Herman menghembuskan nafas terakhirnya di RSUP Haji Adam Malik, Kamis (15/11) pagi.

Dia wafat pada usia 62 tahun meninggalkan seorang istri dan tiga orang serta enam orang cucu. Kepergian Suryanto Herman membawa kesedihan mendalam tidak bagi keluarga tapi juga rekan sejawatnya.

Para mantan pesepakbola era 1970-an hingga 2000-an hadir tampak hadir di rumah duka Jalan Sei Silau, Medan. Di antaranya Parlin Siagian, Suyud Ngatimin, Sugeng Rahayu, Sakiruddin, Sugito, Abdul Rahman Gurning, Amrustian, Jamaluddin Hutauruk, Sugiar, “Bedul” Abdul Rahman, Selamat Riyadi, Reswandi. Juga hadir Wakil Ketua KONI Medan T Daniel Mozard dan Julius Raja serta insan olahraga lainnya.

“Kita merasa sangat kehilangan atas kepergian Alm Suryanto Herman. Ia salah satu pelatih di Sumut yang mampu memberi “warna” di manapun ia berada,” ujar Parlin Siagian.

Parlin membenarkan, almarhum dimasa hayatnya pernah memperkuat PSMS, termasuk di Turnamen Yusuf Cup Makassar Tahun 1978. Dari karirnya di sepakbola tersebut, ia diterima menjadi Anggota Bhayangkara dan aktif di PS PO Polisi.

“Kalau sebagai pelatih, ia merintis karir di era 1990-an.Dan hingga akhir hayatnya ia menyandang lisensi S1,” tambahnya dan dibenarkan oleh mantan Wasit PSMS M Syarif.

Sebagaimana halnya insan sepakbola Sumut, pihaknya memang senantiasa kompak.

Mungkin karena itu pula, secara kebetulan, tim yang pernah dilatih Parlin, akhirnya juga ditangani oleh Suryanto Herman. “Ya tidak jauh dengan saya. Herman (panggilan akrab almarhum di masa hayatnya), pernah melatih PSMS, PSDS, Medan Jaya, Persiraja, Tim PON bahkan Tim Porwanas Sumut. Pokoknya, apa yang pernah saya latih, akhirnya ia juga melatih di tim tersebut,” jelasnya.

Satu hal yang menjadi tauladan dari sosok Suryanto Herman adalah nilai humanitas (kemanusiaan atau pergaulan) yang begitu tinggi. Sifatnya yang humoris membuat ia diterima dan bisa bergaul. (don)

Felipe dan Matsunaga Masih Diragukan

radar bali KONDISI: Felipe Martins masih belum berlatih secara penuh bersama PSMS karena kondisi cedera di bahu.
radar bali
KONDISI: Felipe Martins masih belum berlatih secara penuh bersama PSMS karena kondisi cedera di bahu.

SUMUTPOS.CO – Duel kontra Madura United, PSMS masih harap-harap cemas dengan perkembangan dua pemain asingnya, Felipe Martins dos Santos dan Shohei Matsunaga. Keduanya masih terlihat berlatih di pinggir lapangan pada latihan di Stadion Teladan, Kamis (15/12)
Pelatih PSMS, Peter Butler memang belum memberikan keduanya porsi latihan yang sama dengan pemain lainnya. Dia menjaga kondisi keduanya karena masih ada dua hari jelang kontra Madura United.

“Saya lihat situasi hari Sabtu mungkin mereka oke. Tapi saya tidak mau mereka contact. Lebih penting mereka jaga kondisi ada banyak pertandingan,” bebernya.Felipe menderita nyeri di bahu kirinya pasca bentrok dengan Persib. Sementara Matsunaga ada masalah dengan lutut dan pingganya. Namun keduanya masih besar kemungkinan untuk turun Sabtu nanti.

“Felipe saya rasa oke. Tapi saya tidak mau ambil risiko masuk di game dalam tempo tinggi dan bikin situasi lebih buruk,” bebernya.

Sejauh ini Felipe sudah mencetak 3 gol untuk PSMS. Sementara Matsunaga mencetak delapan gol sejak bergabung di putaran kedua.

Butler juga berharap banyak pada dukungan suporter di Stadion Teladan agar satu suara. Pasalnya bermain di kandang sendiri tak berarti PSMS bisa mudah memenangkan pertarungan. PSMS selalu menang dengan susah payah di Stadion Teladan.

“Saya pikir banyak orang pikir sangat sulit main di sini. Saat kita pergi kerjasama dan atmosfere dalam tim belum kondusif untuk tim. Saat mulai penonton bagus sekali. Stadion masih kosong saat kickf off.Babak kedua lebih penuh. Saya rasa pemain bisa karena selama mereka tidak kompak. Saya rasa kepada pemain harus lupa situasi luar di lapangan. Kalau ada situasi seperti ini tetap fokus saya tak ada masalah dengan pemain. Pemain selalu bicara sama saya. Main luar sangat beda. Main di sini sama fokus di home,” bebernya.

“Mungkin musim ini atau musim depan penonton harus menjadi satu grup. Seperti tim saya, jika ada tiga unit tim saya hancur. Tidak bisa ada faksi. Penonton tak bersama-sama. Main dengan menit terakhir. Penonton di sini bantu tim situasi kondusif dapat 3 poin,” bebernya.

Butler juga tak mau pikirkan pertandingan lainnya untuk PSMS. Termasuk Piala Indonesia.

Fokus saya lawan Madura. Saya ada 25 hari lagi di PSMS. Di kontrak saya tanggl 10 setelah PSM. Setelah itu bukan tanggung jawab saya. Ada lima pertandingan lagi semua fokus untuk itu. Persipura belum fokus saya. Harus kompak di situasi. Kita harus fokus utnuk situasi seperti ini. Persipura selesai, Tira, Persebaya,” pungkasnya. (don)