Home Blog Page 5896

BMKG: Hindari Pesisir Pantai saat Terjadi Gempa

Kristianto Purnomo/kps Kapal Sabuk Nusantara 39 kandas akibat tsunami di Pelabuhan Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Gempa yang terjadi di Palu dan Donggala mengakibatkan 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak.
Kristianto Purnomo/kps
Kapal Sabuk Nusantara 39 kandas akibat tsunami di Pelabuhan Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Gempa yang terjadi di Palu dan Donggala mengakibatkan 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika ( BMKG) Daryono meminta masyarakat, khususnya di pesisir pantai, untuk mengevakuasi diri jika terjadi gempa bumi. Evakuasi mandiri yang dimaksud adalah, menghindari pesisir pantai sesaat setelah gempa, untuk mengantisipasi terjadinya tsunami.

“Masyarakat di pesisir jika terjadi gempa merasakan guncangan kuat serta berdurasi cukup lama, tidak usah menunggu peringatan dari BMKG langsung menjauh dari pantai. Itu konsep evakuasi mandiri,” kata Daryono dalam sebuah diskusi di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Utan Kayu, Jakarta Timur, Kamis (4/10/2018).

Menurut Daryono, gempa itu sendiri bisa menjadi peringatan dini tsunami. Tak perlu menunggu peringatan dari BMKG, masyarakat yang berada di daerah terdampak gempa bisa segera menghindari pantai jika merasakan goncangan.

“Goncangan gempa itu adalah peringatan dini tsunaminya. Mau ada tsunami atau enggak, lari dulu yang penting jiwa selamat,” tegas dia.

Selain itu, Daryono juga menganjurkan masyarakat tidak menempati rumah yang retak atau miring akibat gempa. Sebab, hal itu berbahaya mengingat gempa susulan sangat mugkin terjadi. Masyarakat juga diminta untuk menghindari tebing yang curam, karena rawan longsor jika terjadi gempa.

Gempa bermagnitudo 7,4 dan tsunami melanda Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018). Akibat bencana tersebut, tercatat 1.424 orang meninggal dunia.

Selain itu, terdapat 2.549 korban luka berat sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit, baik di Palu maupun di luar Palu. Adapun korban hilang mencapai 113 orang. Hingga saat ini, proses evakuasi dan pencarian masih terus dilakukan. Bantuan juga terus disalurkan untuk 70.821 pengungsi yang tersebar di 141 titik. (kps)

Terbenam Lumpur Saat Gempa, Selamat karena Kabel Listrik

AP Photo/Dita Alangkara Seorang pria berjalan di antara jalan yang rusak berat akibat gempa di Balaroa dekat Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia Indonesia, Kamis (2/10/2018).
AP Photo/Dita Alangkara
Seorang pria berjalan di antara jalan yang rusak berat akibat gempa di Balaroa dekat Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia Indonesia, Kamis (2/10/2018).

SUMUTPOS.CO – Gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, masih menyisakan kepedihan mendalam. Peristiwa yang terjadi secara mengejutkan, Jumat (28/9) sore itu, membuat banyak warga trauma dan mengungsi.

Tenda-tenda pengungsian masih terlihat di pinggir-pinggir jalan. Warga masih bertahan. Ada pula yang sudah tidak bisa kembali ke rumah, karena kediaman mereka hancur. Tinggal puing-puing berserakan. Digoyang gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter. Warga membutuhkan makanan, minuman, obat-obatan, pakaian hingga selimut.

Peristiwa itu sangat mengagetkan warga. Hasni (51) salah satunya. Perempuan yang bermukim di kawasan Balaroa, Palu Barat, itu hampir saja meninggal dunia ketika terjadi gempa bumi.

Jumat (28/9) sore itu, Hasni tengah mandi. Tiba-tiba tanah bergoyang. Dia pun kaget. Keluar melihat.

Tak lama kemudian rumahnya roboh. Tanah retak. Dia pun lari. Tapi, Hasni mengaku sempat terjebak dengan reruntuhan.

“Rumah saya terbenam, hancur,” katanya ditemui di lokasi pengungsian di Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Jalan Sumur Yuga, Balaroa, Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Rabu (3/10).

Hasni pun berusaha lari menghindar. Dia tidak membawa apa pun selain baju di badan. “Hanya ini yang saya bawa,” katanya sembari tangannya memegang baju.

Hasni pun terjebak dan sempat terbenam di dalam tanah yang berlumpur. Hasni mengaku saat itu sudah pasrah. “Saya hanya angkat tangan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap Hasni.

Lantas, Hasni pun berupaya naik dari lumpur terbenam. Akhirnya dia memegang sebuah batang pisang yang terbawa oleh seretan lumpur.

Dia mengaku bertahan dengan memegang batang pisang. Lantas, ujar Hasni, dia menemukan sebuah tali listrik yang putus.

Tali itulah yang digunakannya untuk naik dan menyelamatkan diri. “Saya naik pakai tali listrik yang putus,” kata Hasni.

Kini, Hasni bersama para pengungsi lain tinggal di tenda pengungsian. Cerita lain datang dari Supriyadi (52), warga Kelurahan Donggala Dodi.

Supriyadi mengatakan, peristiwa gempa yang menimpa pemukiman Perumnas Balaroa, sangat cepat. Saat itu, kata dia, jelang waktu salat magrib tiba.

“Tanah waktu itu bergoyang kuat. Saking kuatnya, itu di sana ada lapangan bola terseret sekitar 300 meter. Pohon kelapa itu juga bergeser 300 meter terseret,” ujar Supriyadi saat ditemui di Jalan Gawalise Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Rabu (3/10).

Supriyadi menjelaskan, saat ini goyangan tanah begitu kuat. Setelah bergoyang, tanah retak dan berputar. “Rumah sampai terbawa ke bawah,” jelasnya.

Di kawasan itu terlihat puing-puing rumah berserakan. Diduga masih banyak korban yang belum dievakuasi. Jalanan terputus. Tanah retak. (boy/jpnn)

BNPB: Ribuan Warga Ramai-ramai Tinggalkan Kota Palu

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A Warga antre untuk dievakuasi menggunakan pesawat Hercules di Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Sejumlah warga Palu dievakuasi ke luar Kota Palu menggunakan pesawat Hercules karena susahnya mencari makan pascagempa dan tsunami di Palu.
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Warga antre untuk dievakuasi menggunakan pesawat Hercules di Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Sejumlah warga Palu dievakuasi ke luar Kota Palu menggunakan pesawat Hercules karena susahnya mencari makan pascagempa dan tsunami di Palu.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut, ribuan warga ingin meninggalkan Kota Palu, pascagempa bermagnitudo 7,4 dan tsunami melanda Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (28/9/2018). Mereka, kata Sutopo, kebanyakan pendatang yang berasal dari luar kota.

“Masyarakat yang ingin keluar dari Palu sebagian besar warga pendatang, dari Makassar, Jakarta, dan lain-lain,” kata Sutopo di kantor BNPB, Utan Kayu, Jakarta Timur.

Mereka yang meninggalkan Kota Palu, mayoritas ingin kembali ke daerah asalnya. Warga diangkut menggunakan pesawat komersil melalui Bandara Mutiara Palu. Selain itu, warga juga difasilitasi menggunakan Kapal Pelni. Namun demikian, hingga saat ini, Sutopo belum dapat memastikan jumlah warga yang meninggalkan Kota Palu pascagempa dan tsunami.

“Totalnya masih terus diupdate. Tapi kalau melihat jadwal dan jumlah kapal dan pesawat, sudah ribuan masyarakat yang keluar dari wilayah Palu,” kata Sutopo.

Data terbaru BNPB, Kamis (4/10/2018) pukul 14.00 WIB menyebut, sebanyak 1.424 warga meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang melanda Sulteng.

Selain itu, terdapat 2.549 korban luka berat sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit, baik di Palu maupun di luar Palu. Adapun korban hilang mencapai 113 orang. Sementara jumlah rumah rusak mencapai 66.238 unit. Sutopo mengatakan, proses evakuasi dan pencarian masih terus dilakukan. Bantuan juga terus disalurkan untuk 70.821 pengungsi yang tersebar di 141 titik. (kps)

Ribuan Orang Masih Tertimbun

TERANGKAT Seorang pria berjalan di jalan yang rusak berat akibat gempa di daerah Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Akibat gempa ini, ribuan orang masih hilang dan diperkirakan masih tertimbun.
TERANGKAT
Seorang pria berjalan di jalan yang rusak berat akibat gempa di daerah Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Akibat gempa ini, ribuan orang masih hilang dan diperkirakan masih tertimbun.

PALU, SUMUTPOS.CO – Ribuan orang yang hilang di Kelurahan Balaroa Kecamatan Palu Barat, Sulawesi Tengah, pasca-gempa dan tsunami pada 28 September 2018 lalu, hingga Rabu (3/10) belum ditemukan. Kawasan permukiman padat penduduk ini hilang tenggelam, saat gempa besar mengguncang Kota Palu.

“AWALNYA bumi seperti meloncat-loncat. Kami sangat ketakutan. Tidak hanya itu, kemudian kami seperti diputar-putar,” kata Nur Faidah (42), warga Perumnas Donggala Kodi yang tidak jauh dari lokasi, Rabu (3/10).

Saat permukaan bumi diputar-putar, tidak ada yang selamat dari kawasan ini. Semua yang ada di atasnya tenggelam bersama lumpur yang keluar dari rekahan bumi. “Kawasan Balaroa belum ada yang menyentuh, kondisi saat ini asli. Warga korban masih di dalam tanah ini,” kata Oskar, warga Palu.

Oskar menyebutkan, ribuan orang yang tinggal di kawasan ini terkubur hidup-hidup. Mereka tidak dapat menyelamatkan diri.

Pada saat gempa awal masyarakat mengungsi dan berkumpul di lapangan. Namun saat gempa kedua kawasan ini berubah menjadi yang menakutkan .Tanah menekuk bergelombang, dari rekahannya keluar lumpur lunak yang bergerak berputar-putar menggiling semua yang ada di atasnya. “Tidak ada yang selamat, banyak saudara saya yang hilang,” kata Nur Faidah.

Dia menggambarkan guncangan gempa yang terjadi seperti diaduk-aduk. Lapisan tanah di dalam keluar menimbun lapisan atasnya, diputar dan digerakkan berulang-ulang.

“Menara masjid itu aslinya berada di sana, sekitar 300 meter,” kata Nur Faidah sambil menunjuk lokasi tempat awal masjid. Saat ini, warga Balaroa masih fokus pada menyelamatkan yang hidup. Anak-anak, kaum wanita dan usia lanjut yang tersisa harus dirawat. Mereka menempati pengungsian yang jauh dari kayak.

Finger Print Antisipasi ‘Pemain Bayaran’

SIAP-SIAP Seorang pekerja melintas di depan panggung utama yang dipersiapkan untuk acara pembukaan MTQN XXVII di kawasan Medan Estate, Deliserdang, Selasa (2/10).
SIAP-SIAP
Seorang pekerja melintas di depan panggung utama yang dipersiapkan untuk acara pembukaan MTQN XXVII di kawasan Medan Estate, Deliserdang, Selasa (2/10).

MEDAN– Pemprovsu selaku panitia pelaksana Musabaqoh Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXVII/2018 mengklaim, persiapan acara MTQN sudah rampung seratus persen. Bahkan, saat ini kafilah (rombongan) dari sejumlah provinsi sudah mulai berdatangan ke Kota Medan, Sumatera Utara.

Ketua Pelaksana Harian MTQN, Zonny Waldi mengatakan, adapun kafilah yang sudah hadir dan terkonfirmasi sebanyak lima daerah yang antara lain dari Bangka Belitung dan Kalimantan Utara. “Sebagai tuan rumah yang baik, kita menyambut kedatangan mereka dan membawa para kafilah untuk makan bersama. Bahkan saat tiba di bandara kita suguhkan makanan khas Sumut,” katanya kepada wartawan, Rabu (3/10).

Secara fisik, kata Zonny, persiapan sudah tidak ada masalah termasuk kondisi arena utama (astaka) yang siap untuk dipergunakan. Begitupun dengan sejumlah veneu lainnya di seputar arena MTQN termasuk stand pameran juga tidak ada kendala lagi. “Dan mulai besok (hari ini, Red) peserta harus melakukan registrasi ulang,” katanya.

Bahkan sebut dia, ada keunikan dan keistimewaan dari penyelenggaran even MTQN kali ini dibanding tahun-tahun sebelumnya, dimana peserta melakukan registrasi ulang dengan menggunakan finger print. “Untuk lokasi pendaftarannya di Asrama Haji. Nanti akan kita siapkan 28 meja registrasi di sana. Melalui finger print itu juga akan merekam seluruh data peserta dan kafilah,” kata mantan Kadiskanla Sumut itu.

Melalui sistem finger print ini juga, sambung Zonny, akan meminimalisir permainan atau joki sehingga peserta lomba MTQN benar-benar dari putra daerah setempat, bukan diimpor dari daerah lain. “Jadi nggak ada lagi pemain-pemain bayaran. Kalau tahun-tahun lalu mungkin masih ada yang seperti itu. Finger print ini pula untuk memastikan bahwa peserta sejak awal mendaftar sudah terjaring sampai nanti diikutsertakan dalam lomba. Dan ketika nantinya si peserta namanya dipanggil, dia juga harus finger print dulu. Kalau ternyata bukan dia, maka akan langsung didiskualifikasi. Inilah terobosan dan keistimewaan MTQ kali ini,” paparnya.

Begitupun dengan kapasitas dewan juri, menurutnya sudah merupakan hasil seleksi tingkat nasional. Artinya orang yang dipercaya duduk sebagai dewan juri merupakan orang-orang pilihan. “Dan hasil atau skor dari dewan juri setelah peserta lomba tampil, akan ditampilkan langsung nilainya berapa pada layar monitor. Ini sudah menjadi komitmen kita sebab kita ingin sukses dalam tiga hal pada MTQN kali ini. Sukses penyelenggaran, sukses prestasi dan sukses dalam pertanggungjawaban acara,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Umum MTQN XXVII/2018 yang juga Sekdaprovsu R Sabrina, memastikan kedatangan Presiden RI Joko Widodo untuk membuka secara resmi MTQN pada Minggu, 7 Oktober mendatang. “Kedatangan presiden tidak jadi tanggal 6, diundur karena ada Asian Para Games di Jakarta,” ujar ketika meninjau persiapan pelaksanaan MTQN di Astaka Jalan Pancing Medan, kemarin.

Ia mengatakan, persiapan pelaksanaan MTQN yang akan digelar pada 4-13 Oktober 2018, sudah rampung. Begitupun ada beberapa hal detail yang butuh penyempurnaan, seperti dekorasi dan fasilitas pendukung lainnya.

Terkait kafilah Sulawesi Tengah yang kini sedang ditimpa musibah, Sabrina mengatakan belum ada jawaban pasti mengenai kondisi kafilahnya. “Ini sangat kita maklumi, kita juga tidak menyangka itu terjadi, diharapkan kita berempati kepada saudara-saudara kita di sana,” katanya.

Diketahui, kegiatan MTQN XXVII yang digelar di Kota Medan dan Deliserdang terdiri dari beberapa rangkaian acara. Antara lain penyambutan kedatangan dan registrasi kafilah dari seluruh provinsi mulai hari ini. Selain itu juga diselenggarakan parade 1.000 hafiz di UIN Sumatera Utara, launching buku “Muqri Sumut di Pentas Dunia” dan Katalog Mushaf Kuno Alquran Sumut pada 4 Oktober.

Pelantikan dewan hakim dan panitera serta pawai taaruf pada 6 Oktober. Sedangkan perlombaan dilakukan mulai 7-11 Oktober di 12 titik lokasi Medan dan Deliserdang. Serta penutupan MTQN pada 12 Oktober di Arena Utama di Jalan Pancing.

Pencapaian Imunisasi MR di Sumut Baru 42,6 Persen

File/SUMUT POS - Petugas Puskesmas Glugur Darat memberikan vaksin imunisasi polio kepada seorang balita, di Jalan Pendidikan, Kec Medan Timur, Jumat (11/3) lalu. PIN Polio bagi balita ini, dilakukan serentak di seluruh Indonesia dari 8-15 Maret 2016 mendatang.
File/SUMUT POS – Petugas Puskesmas Glugur Darat memberikan vaksin imunisasi polio kepada seorang balita, di Jalan Pendidikan, Kec Medan Timur, Jumat (11/3) lalu. PIN Polio bagi balita ini, dilakukan serentak di seluruh Indonesia dari 8-15 Maret 2016 mendatang.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) tahap II dimulai 1 Agustus hingga akhir September 2018 lalu. Namun, capaian program nasional ini di Sumatera Utara masih jauh dari harapan. Tercatat, hingga Selasa (2/10) lalu, program ini baru menyasar 1,826,567 anak atau 42,6 persen dari target sasaran 4,291,857 anak. Karenanya, program ini pun diperpanjang hingga 31 Oktober 2018 mendatang.

Dengan diperpanjangnya program imunisasi MR ini, Dinas Kesejatan Provinsi Sumatera Utara pun menargetkan pencapaian 95 persen dari target sasaran. “ Total sasaran 4,291,857 anak. Sementara yang diimumisasi masih 1,826,567 anak atau 42,6 persen. Untuk vaksin MR yang dipakai sejauh ini 165,047, “ ungkap Kadis Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Agustama melalui Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi, Suhadi kepada wartawan, Rabu (3/10) siang.

Diakui Suhadi, pihaknya optimis memenuhi target 95 persen di masa perpanjangan program ini. “Sejauh ini yang menjadi kendala adalah polemik belum adanya sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI),” ungkapnya.

Disebutnya, berdasarkan kelompok usia 9 bulan sampai 6 tahun, 26 persen dengan jumlah sasaran 1,580,905 dan diimumisasi 424,457. Usia 7 tahun sampai 12 tahun, 56% dengan jumlah sasaran 1,807,301 dan diimunisasi 1,015,425. Sementara usia 13 tahun sampai di atas 15 tahun, 42,8% dengan jumlah sasaran 903,651 dan diimunisasi 368,649.

Lebih lanjut dikatakan Suhadi, daerah yang paling tinggi capaian imunisasi MR yakni Kabupaten Samosir 97,9 persen dengan jumlah sasaran 41,897 anak dan diimunisasi 41,037 anak. Kemudian Kabupaten Toba Samosir 95,5 persen dengan jumlah sasaran 58,355 anak dan diimumisasi 55,755 anak. Setelah itu adalah Kabupaten Humbahas 90,9 persen dengan jumlah sasaran 67,167 anak dan diimunisasi 61,023 anak.

Selain itu, dikatakan Suhadi di Nias capaian imumisasi MR juga tinggi, 85,1 persen dengan jumlah sasaran 52,316 anak dan diimumisasi 44,538 anak. Begitu juga dengan Simalungun, disebut Suhadi pencapaian imunisasi MR cukup tinggi, 82,9 persen dengan jumlah sasaran 247,063 anak dan diimunisasi 204,868 anak, serta Pematang Siantar 81,5 persen dengan jumlah sasaran 65,972 anak dan diimumisasi 53,759 anak.

Sementara untuk daerah paling rendah pencapaian imumisasi MR, dikatakan Suhadi adalah Kabupaten Labuhanbatu Selatan, 2,2 persen dengan jumlah sasaran 110,535 anak dan yang sudah diimumisasi 2,422 anak. Selanjutnya Kota Tanjungbalai, 6,8 persen dengan jumlah sasaran 54,621 anak dan diimunisasi 3,727 anak. Lalu, Kabupaten Mandailing Natal, 9,2 persen dengan jumlah sasaran 146,615 anak dan diimunisasi 13,519 anak. Begitu juga Kota Padang Sidimpuan, 17 persen dengan jumlah sasaran 64,467 anak dan yang sudah diimunisasi 11,005 anak.

Disinggung pencapaian imumisasi MR di Kota Medan, disebut Suhadi berdasarkan data, total pencapaian 47,2 persen. Untuk total sasaran 552,869 anak dengan total cakupan 260,985 anak. Oleh karena itu, disebut Suhadi pihaknya berharap peran serta semua pihak untuk menyukseskan imunisasi MR. (ain)

Formasi Pemda se-Sumut Sudah Tersedia di Portal SSCN

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kabar gembira bagi calon pelamar aparatur sipil negara di seluruh Indonesia terkhusus Sumatera Utara. Berdasarkan pengumuman Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui portal sscn.bkn.go.id, penerimaan CASN 2018 akan diperpanjang selama 5 hari.

Sebelumnya, masa pendaftaran akan ditutup pada 10 Oktober 2018. Namun, BKN memutuskan utnuk menunda penutupan pendaftaran selama lima hari. Dengan begitu, penutupan pendaftaran CASN 2018 menjadi 15 Oktober pukul 23.59 WIB.

Perpanjangan masa pendaftaran dilakukan otomatis di website sscn.bkn.go.id, sehingga instansi tidak perlu mengubah seting. “Panitia Pelaksana Panselnas telah memutuskan untuk memperpanjang masa pendaftaran penerimaan CPNS untuk seluruh instansi sampai dengan 15 Oktober 2018,” bunyi kutipan dari akun instagram resmi BKN, kemarin.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu, Kaiman Turnip saat dikonfirmasi mengamini terkait kabar dimaksud. “Iya akan diundur,” katanya menjawab Sumut Pos, Rabu (3/10). Pihaknya mengaku belum dapat keterangan resmi dari BKN terkait pengunduran tanggal penerimaan CASN itu. “Saya juga taunya dari baca berita dan saat melihat pengumuman pada portal SSCN,” ujarnya.

Sementara itu amatan Sumut Pos, sudah hampir semua formasi dan kualifikasi pendidikan dari pemerintah daerah di Sumut ditampilkan di portal SSCN. Yakni antara lain selain Pemprovsu, ada formasi CASN Pemko Medan, Pemko Binjai, Pemko Tanjungbalai, Pemko Sibolga, Pemko Gunung Sitoli, Pemkab Serdangbedagai, Pemkab Padang Lawas, Pemkab Batubara,
Pemkab Labuhanbatu Selatan, Pemkab Nias Barat, Pemkab Nias Utara, Pemkab Dairi, Pemkab Tapanuliselatan, Pemkab Asahan, Pemkab Nias, Pemkab Toba Samosir, Pemkab Mandailing Natal, Pemkab Humbang Hasundutan, Pemkab Pakpak Bharat, Pemkab Samosir, Pemkab Deli Serdang, Pemkab Karo, Pemkab Langkat, Pemkab Tapanuli Tengah, Pemkab Simalungun dan Pemkab Labuhanbatu.

Informasi lain yang diperoleh dari portal SSCN, pertama pendaftaran CASN paling cepat dilaksanakan 26 September 2018 pukul 00.01 WIB. Kedua, jadwal pembukaan pendaftaran CASN berdasarkan setting yang dilakukan oleh masing-masing instansi melalui SSCN. Ketiga, peserta dapat melakukan pendaftaran di instansi yang telah membuka pendaftaran, dengan catatan bahwa formasi telah direkam ke dalam SSCN dan telah di verifikasi oleh BKN.

Bagi instansi yang belum memenuhi ketentuan pada poin 3, maka pilihan instansi tersebut belum muncul dan belum dapat dipilih oleh calon pendaftar. Sementaa itu pada 26 September, seluruh calon peserta dapat membuat akun terlebih dahulu sebelum mendaftar di instansi yang telah siap menerima pendaftaran.

Calon pelamar yang juga warga Kota Medan, Ari Anhari mengaku sudah mengetahui ihwal pengunduran pendaftaran CASN ini. Dirinya juga sampai kini belum berhasil untuk membuat akun pada portal SSCN, dikarenakan aksesibilitas portal tersebut lambat dibuka. “Saya terus coba membuka akses di portal tersebut. Padahal sudah pakai jaringan yang maksimal tapi belum berhasil juga,” katanya.

Berbeda nasib dengan Ari, Tondi Gabeta warga Medan lainnya, justru berhasil membuat akun untuk mendaftar CASN. Namun ia belum dapat memilih lowongan yang tersedia disebabkan akses portal SSCN lambat untuk dibuka. “Syukur juga akhirnya bisa membuat akun. Untuk melakukan pendaftaran sesuai bidang jurusan saya, tentu akan dicoba terus supaya berhasil,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, BKD Setdaprovsu mengaku hingga kini portal SSCN BKN tidak maksimal diakses calon pelamar. BKD telah berkoordinasi dengan BKN mengenai kondisi perangkat yang akan digunakan masyarakat untuk mendaftar CASN tahun ini. “Kami sudah informasikan kendala ini ke mereka (BKN). Dan memang saat ini mereka sedang memperbaiki perangkat tersebut, sekaligus membuat pengumuman akan hal ini,” ujar Kepala Bagian Formasi BKD Setdaprovsu, Menan menjawab Sumut Pos, Senin (1/10).

Kata Menan, saat melakukan upaya koordinasi tersebut pihak BKN mengaku sedang memperbaiki jaringan atas portal tersebut. Akan tetapi pihaknya menilai upaya perbaikan yang dilakukan BKN tersebut sejauh ini belum maksimal. “Seperti tadi malam saya mendapat informasi dari tetangga saya yang sudah mencoba akses namun belum bisa-bisa. Menurut kami (portal SSCN) memang belum maksimal. Mudah-mudahan mereka cepat memperbaiki kondisi yang ada tersebut,” katanya.

Pihaknya mengakui bahwa proses verifikasi atas kualifikasi formasi CASN Pemprovsu sudah rampung dilakukan. Namun hanya saja lantaran perangkat portal untuk membuat akun dan melakukan pendaftaran belum maksimal diakses, menjadi kendala utama yang sekarang dihadapi calon pelamar.

“Pelamar yang mendaftar dan melamar ke situs itu kan jumlahnya banyak. Sementara perangkatnya sendiri belum maksimal sampai sekarang sehingga situs sulit diakses,” tambahnya. (prn)

37 Ribu Wisatawan Kunjungi Danau Toba

triadi wibowo/sumut pos BERPERAHU: Warga sekitar Danau Toba melintas menggunakan perahu di daerah Samosir, belum lama ini. Kementerian PUPR diminta bangun ikon yang identik dengan danau terbesar di Asia itu.
triadi wibowo/sumut pos
BERPERAHU: Warga sekitar Danau Toba melintas menggunakan perahu di daerah Samosir, belum lama ini. Kementerian PUPR diminta bangun ikon yang identik dengan danau terbesar di Asia itu.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kunjungan wisatawan ke Danau Toba terus meningkat. Hingga September 2018, kunjungan wisatawan mencapai 237 ribu orang di Kabupaten Samosir. Angka tersebut, diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun ini.

Hal itu, diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir, Ombang Siboro kepada Sumut Pos melalui telpon selular, Rabu (3/10) pagi. Menurutnya, untuk memikat wisatawan agar terus berdatangan ke danau terbesar di Asia ini. Dinas Pariwisata Samosir akan terus melakukan pembenahan. “Totalnya 237.000 orang dengan perincian 58.630 wisatawan mancanegara dan sisanya, 178.370 wisatawan nusantara,” kata Ombang.

Dia juga mengungkapkan, tinggi kunjungan wisatawan ke danau vulkanik ini, khususnya di Kabupaten Samosir, diiringi dengan kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) di bidang pariwisata yang dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir. Disebutnya, disbanding tahun 2017 lalu, PAD yang dihasilkan meningkat hingga 70 persen. “Pastinya naik juga lah PAD kita. Jika pada Januari hingga September 2017 lalu hanya menghasilkan PAD sebesar Rp 210 juta, maka di periode yang sama di tahun 2018, PAD dihasilkan mencapai Rp1,5 miliar,” beber Ombang.

Di samping itu, Ombang meminta kepada Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk memerintahkan 8 Pemkab, yang berada di Danau Toba untuk serius mengelola dan mengembangkan Danau Toba ke depannya.

“Harusnya Kemendagri memerintahkan pemkab yang ada di kawasan Danau Toba untuk serius menjadikan pariwisata sebagai prioritas. Coba cek SKPD-nya, apakah dinas pariwisatanya sudah prioritas atau belum. Apakah dinas pariwisatanya digabung dengan yang lain, misalnya dinas pariwisata, olahraga dan perindustrian misalnya. Kemudian, apakah orang yang berkompeten mengelola pariwisata yang diangkat sebagai kadisnya,” tutur Ombang.

Apalagi menurut Ombang, pihaknya diberikan target dari Kementerian Pariwisata untuk mendatangkan wisatawan mancanegara sebanyak 1 juta orang. “Kita harus berlari kencang untuk mengalahkan Malaysia. Dari 10 destinasi, kita menjadi super prioritas. Jadinya, kita tidak bisa bermain-main,” sebut Ombang.

Ia juga mengkritisi soal indikasi pencemaran alam dan air di Danau Toba. Ombang meminta ada kejelasan dari Pemerintah Pusat untuk menyelesaikan permasalah tersebut. Demi kelestarian alam Danau Toba yang indah ke depannya. “Dipertegaslah langkah, jangan sampai berhenti di forum-forum diskusi.

Pakailah time line, perusak-perusak Danau Toba dan lain-lainnya. Untuk infrastruktur time linenya sudah ada. Perusahaan-perusahaan yang dihilir, yang mencemari danau, ada time linenya. Kapan mereka harus keluar,” tegasnya.

Disisi lain, Ombang menyebutkan, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dinilai masih minim melakukan promosi-promosi terhadap Danau Toba secara nasional maupun internasional. Untuk itu, ada langkah jelas untuk mempromosikan Danau terbesar di Asian ini.”Untuk promosi kurang, dibandingkan dengan destinasi wisata lainnya di Indonesia ini. Aku melihat dari slot-slot di televisi.

Masih kurang itu, untuk promosinya. Danau Toba ada di 8 Kabupaten kan, banyak harus dipromosikan. Kemudian, Danau Toba banyak sudah yang dibaru. Harusnya, itu di flowup untuk dijadikan promosi. Banyak event-event di Danau Toba, tidak pernah masuk di slot-slot televisi,” kata Ombang.

Ia juga berharap, Pemerintah Pusat segera merealisasikan rencana pembangunan perguruan tinggi seperti akademi pariwisata di kawasan Danau Toba. “Untuk pembangunan SDM-nya, harus dibangun akademi pariwisata di Danau Toba itu menjadi tanda dibukanya tenaga-tenaga profesional dalam bidang pariwisata,” sebut Ombang.

Di samping itu, Ombang juga mengungkapkan, Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Kabupetan di kawasan Danau Toba untuk bersama-sama memberikan edukasi sadar pariwisata kepada masyarakat. Dengan begitu, Danau Toba semakin banyak pengunjungnya. (gus)

Kurir 12 Kg Sabu Ditembak, Ditangkap Saat Bawa Barang dari Tanjungbalai

Diva/Sumutpos REBUS: Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto merebus barang bukti narkoba yang disita dari puluhan tersangka di halaman Mapolda Sumut, Rabu (3/10).
Diva/Sumutpos
REBUS: Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto merebus barang bukti narkoba yang disita dari puluhan tersangka di halaman Mapolda Sumut, Rabu (3/10).

SUMUTPOS.CO – Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut mengungkap sindikat jaringan narkoba antar provinsi. Enam orang tersangka diamankan dari tempat berbeda-beda. Dalam pengungkapan itu, polisi mengamankan belasan kilogram sabu.

KAPOLDA Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan, petugas mengamankan sekurang-kurangnya 13,5 kilogram (kg) narkotika jenis sabu-sabu.

Keenam tersangka masing-masing berinisial S (40) warga Jalan Pertiwi Ujung, Gang 108 No 108 L, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung/Pasar IX Gang Rambutan, Kecamatan Percut Sei tuan, Kabupaten Deliserdang; EB (21) warga Jalan Cengkeh 6 No 32, Lingkungan 12 Perumnas Simalingkar, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan; IS (22) warga Jalan Ngumban Surbakti No 36B, Kelurahan Sempakata, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan dan DN (21) perempuan asal Barisan Kuta Mbelang, Desa Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi.

Kemudian, MZ (24) warga Dusun Industri, Desa Blang Me Timu, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Aceh dan R (47) warga Dusun Jeumpa, Desa Geulumpang Payong, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Aceh Timur.

“Keenamnya ditangkap di tempat terpisah. S tersangka pembawa 12 Kilogram Sabu, tiga orang masing-masing EB, IS dan DN membawa ekstasi sebanyak 12.681 butir,” ujar Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto saat pemaparan kasus sekaligus pemusnahan barang bukti di pelataran parkir Ditnarkoba Polda Sumut, Rabu (3/10).“Sedangkan dua orang lagi yang membawa sabu-sabu seberat 1,5 kilogram masing-masing MZ dan R,” sambungnya.

Dikatakannya, S ditangkap petugas Unit 1 Subdit III Ditnarkoba, Selasa (25/9) sekira pukul 19.52 WIB. S tidak sadar kalau dirinya yang menumpang bus Sartika dari Tanjungbalai sudah diikuti.

Sesampainya di depan Rumah Makan Bahagia, Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Pasar Bengkel Perbaungan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Sergai petugas menghentikan kendaraan tersebut. Petugas, langsung menggeledah S dan membuka tas ransel yang dibawa tersangka.

“Kita menemukan 10 bungkus plastik teh warna hijau muda bertuliskan tulisan Cina merek Guan Ying Wang berisi Narkotika jenis sabu masing-masing seberat 1 Kg dengan berat keseluruhan 10 Kg. Juga dua kilogram di plastik yang sama namun tidak didalam tas ransel,” ujarnya.

Saat diinterogasi, S mengaku barang haram tersebut akan diserahkan kepada seseorang bernama D (DPO) di daerah Sungai Rotan Kecamatan Tembung Medan.

“Kita juga mengamankan dua unit handphone dan satu buah tas ransel warna biru hitam,” katanya.

Agus menyatakan, personel terpaksa menembak kaki sebelah kanan S. Karena berusaha melarikan diri saat melakukan pengembangan untuk menunjukkan lokasi rumah D yang berstatus DPO.

Selain pengungkapan sindikat ini, pada kesempatan tersebut, Kapolda Sumut beserta jajaran Pejabat Utama turut melakukan pemusnahan narkoba hasil tangkapan selama sebulan (mulai September hingga Oktober).

Agus Andrianto mengklaim, pihaknya telah berhasil menyelamatkan sedikitnya puluhan ribu generasi muda yang berpotensi menggunakan 90 kg sabu, ganja seberat 100 kg dan 12 ribu butir pil ekstasi.

“Jadi dari 90 kilo sabu yang dimusnahkan, sedikitnya 90 ribu generasi muda berhasil kita selamatkan dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Belum lagi ganja dan ekstasinya,” katanya.(dvs/ala)

Dua Kubu Masyarakat ’Duduki’ PN Stabat

SIDANG: Terdakwa Ngertiken Sembiring menjalani sidang kasus pengancaman dan penganiayaan di PN Stabat, Rabu (3/10).
SIDANG: Terdakwa Ngertiken Sembiring menjalani sidang kasus pengancaman dan penganiayaan di PN Stabat, Rabu (3/10).

STABAT,SUMUTPOS.CO – Sidang kasus pengancaman dan penganiayaan dengan terdakwa Ngertiken Sembiring, kembali digelar. Suasana di Pengadilan Negeri (PN) Stabat mencekam. Sebab, dua kubu masyarakat yang pro dan kontra terdakwa ‘menduduki’ PN Stabat di Jalan Proklamasi, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Rabu (3/9). Massa pro terdakwa menuntut agar Ngertiken Sembiring divonis bebas. Karena dianggap tidak melakukan kesalahan.

Sembari membawa spanduk, massa dari Desa Buluh Duri, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat itu menggelar orasi. Aksi massa dijaga ketat personel Kepolisian bersenjata lengkap.

“Kampung kami yang dirusuhi, kenapa malah orang kampung kami yang dirusuhi? Kalau tidak ada Ngertiken Sembiring, habis kampung kami terbakar,” teriak Susilawati sembari mengaku ikut memlerai kelompok yang berseteru sewaktu bentrok saat itu.

Tidak hanya itu, Susilawati juga mengatakan, salah satu seteru Ngertiken Sembiring berinisial ET pernah menyerang kampung Buluh Duri. Saat itu, ET membawa anggotanya yang berjumlah ratusan orang.

“Kami takut, mereka membawa parang dan senjata lainnya pas nyerang kampung kami,” kata Susilawati. Amatan Sumut Pos, puluhan massa pro terdakwa masih tertib menunggu di PN Stabat. “Katanya hari ini disidangkan. Tapi Suami saya memang belum datang kesini,” kata istri Ngertiken Sembiring, Azizah Lubis yang juga hadir di sana.

Di lokasi, mobil yang biasanya digunakan membawa tahanan untuk disidangkan, sudah berada di PN Stabat. Namun, terdakwa tidak ada dalam rombongan tahanan yang akan disidangkan.

“Katanya naik mobil lain,” ucap Azizah Lubis. Disisi lain, kubu korban Ngakurken alias Kunkun juga tampak berjaga dan mengikuti persidangan. Mereka berharap agar terdakwa dituntut seberatnya karena sudah sangat meresahkan warga.

Tidak lama menunggu, tepat pukul 15.30 WIB sidang akhirnya digelar.

Sidang digelar di Ruang Utama Cakra PN Stabat, dengan agenda pembacaan pembelaan (Pledoi). Sidang kali ini dipimpin oleh Majelis Hakim, Anita Silitonga SH MH. Kuasa hukum terdakwa, Elida Nainggolan dan Samuled Berutu SH meminta agar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dibatalkan hakim. Sebab, beberapa tuntutan jaksa tidak sesuai dengan keadilan.

Mengingat, selama ini banyak kasus pengancaman hanya dituntut hukuman percobaan.

“Banyak kasus pengancaman seperti ini yang sudah digelar dibeberapa pengadilan. Dan semua hanya dituntut hukuman percobaan.

Oleh sebab itu, tuntutan terhadap klien kami tidak sesuai dan harus dipertimbangkan,” papar kuasa hukum terdakwa. Oleh sebab itu, Elida Nainggolan meminta agar kliennya dibebaskan. Sebab, banyak pertimbangan yang mesti dicermati dalam persidangan.

“Kami minta terdakwa dibebaskan demi hukum,” pintanya.

Usai membacakan pledoi, sidang akhirnya ditunda oleh majelis hakim hingga Selasa (9/10). Pendukung kedua kubu pun membubarkan diri dengan tertib. (bam/ala)