SIDIMPUAN, SUMUTPOS.CO – Berkas kasus judi yang menjerat Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemkab Tapanuli Selatan Ridwan Harahap belum dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan. Sampai saat ini, penyidik Polres Padangsidimpuan masih memproses berkas tersangka.
“Sudah hampir selesai,” kata Kapolres Padangsidimpuan AKBP Hilman Wijaya, Selasa (25/9).
Hilman mengatakan, tersangka saat ini masih mendekam di dalam sel. “Saat ini masih di dalam sel,” ujar Hilman.
Sekretaris Daerah Pemkab Tapanuli Selatan, Parulian Nasution mengatakan, pihaknya menghormati proses hukum yang menjerat Ridwan. Ia juga berharap peristiwa serupa tidak terulang di jajarannya.
Untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggal Ridwan, Parulian mengaku sudah memerintahkan pihak Badan Kepegawaian Daerah Pemkab Tapanuli Selatan untuk menetapkan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Dinas Komunikasi dan Informatika Pemkab Tapanuli Selatan.
“Untuk menghindari hambatan terhadap tugas-tugas sehari-hari, Sekretaris Dinas yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas-tugas rutin sebagaimana mestinya. Karena itu, saya sampaikan kepada BKD supaya segera membuat pelaksana tugas yang bisa mengendalikan tugas-tugas ke depan dengan baik, taat aturan, taat asas dan taat hukum yang berlaku,” ujar Parulian melalui aplikasi WhatsApp.
Seperti ramai diberitakan, Polres Padangsidimpuan menangkap sepuluh orang pelaku judi di salah satu warung di Jalan Sutan Soripada Mulia, Gang Anggrek, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Padangsidimpuan, Rabu (5/9) sekira pukul 22.30 WIB.
Dari sepuluh orang yang ditangkap, tiga di antaranya merupakan oknum PNS. Dua di antara PNS itu merupakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemkab Tapanuli Selatan, Ridwan Harahap dan staf Sekretariat KPU Padanglawas Utara, Iwan Batubara.
Bahkan, seorang oknum lurah juga turut ditangkap karena kepergok bermain judi. Yakni Lurah Batang Tura Sirumambe, Angkola Timur, Tapanuli Selatan, Abdul Rasyid Harahap.(trm/ala)
BERSAMA: Gubsu Edy Rahmayadi dan Wagubsu Musa Rajeckshah (tengah) foto bersama wartawan dalam acara silaturahmi di
Gedung Bina Graha Komplek Kantor Bappeda Sumut, Selasa (25/9).( Foto : Ist /Sumutpos)
BERSAMA: Gubsu Edy Rahmayadi dan Wagubsu Musa Rajeckshah (tengah) foto bersama wartawan dalam acara silaturahmi di Gedung Bina Graha Komplek Kantor Bappeda Sumut, Selasa (25/9).( Foto : Ist /Sumutpos)
SUMUTPOS.CO – SEJAK dilantik 5 September lalu di Istana Negara oleh Presiden Jokowi Widodo (Jokowi), baru kali ini Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah sempat bertatap muka langsung dengan insan pers di Kota Medan.
Sekitar dua ratusan wartawan baik yang bertugas di kantor Gubsu dan DPRD Sumut, hadir dalam acara yang penuh rasa keakraban dan kekeluargaan di Gedung Bina Graha Komplek Kantor Bappeda Sumut, Selasa (25/9) pagi. Kegiatan yang difasilitasi Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu ini, bertujuan sebagai awal perkenalan antara awak media dengan pemimpin Sumut yang baru.
Dengan gaya komunikasi khasnya, Gubsu Edy sesekali menciptakan suasana ‘pecah’ melalui candaannya. Meski begitu cukup banyak juga ia berbicara dengan raut wajah serius dalam pertemuan itu.
Saat membuka curahan hatinya, Edy Rahmayadi menyampaikan akan melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala daerah bersama wakilnya, Musa Rajekshah atau Ijeck, dengan sepenuh hati dan siap bekerja keras demi mewujudkan Sumut bermartabat. Salah satu caranya, menurut dia, dengan meminta dukungan penuh awak media yang ada di Sumut.
“Assalamualaikum, saya berterima kasih kepada Anda semua, dan saya minta kepada para wartawan untuk mau mendukung dan memajukan Sumut lebih baik,” ujarnya.
Belakangan hari ini, diakui Edy, heboh pemberitaan tentang dirinya menampar seorang suporter saat sedang menyaksikan laga PSMS di Stadion Teladan Medan. Tindakannya itu, menurut Edy, bukan dengan maksud melakukan kekerasan kepada siapapun. Bahkan ia menyadari bahwa sangat menyukai anak kecil.
“Mana mungkin saya melakukan kekerasan kepada anak-anak, saya paling senang kepada anak-anak. Memang tangan saya ini keras, saya sehari saja push up 40 kali masih sanggup, kalau gak percaya kalian pegang tangan saya. Tetapi saya melakukannya kemarin itu, memarahi anak itu karena menggunakan flayer dan itu dilarang oleh FIFA,” ujarnya.
Mantan Pangkostrad ini juga turut mengomentari keterkaitan dirinya dengan wawancara khusus kepada Kompas TV, pada Senin malam kemarin. Ia mengatakan bahwa perkataan yang dilontarkan oleh wartawan tersebut tidaklah tepat, dan tidak merujuk kepada masalah.
“Saya sedang banyak tugas, saya sedang pusing, masa kalian tanya semuanya apa gak tambah pusing saya. Ada wartawan Kompas yang datang, coba mana orangnya berdiri? Nah kau orangnya, itu tanggungjawab kau dan dosa kau. Karena saya bukan hanya satu pikiran saya, semua saya pikirkan,” ungkapnya.
Namun ia menyampaikan, bahwa semua yang terucap itu bukan karena datang dari sanubari terdalam, melainkan hanya sekadar ucapan. Dirinya menegaskan tidak suka menjadi orang yang pendendam. “Gak mungkin saya apai wartawan, karena wartawan adalah mata dan telinga bagi Gubenur Sumut, tetapi saya sebetulnya butuh kalian semua untuk Sumut yang lebih bermartabat,” ujar Ketua Umum PSSI itu.
Edy mengaku tidak main-main dalam mengemban jabatan sebagai gubernur. Dikarenakan dirinya mengaku tidak memanfaatkan gaji seorang gubernur untuk memajukan provinsi ini. Ia mengatakan, dalam mengemban jabatan saat ini, dirinya malah tidak tahu menahu masalah gaji, dikarenakan berani meninggalkan jabatan saat menjadi TNI.
“Seharusnya saya mau meninggalkan jabatan Pangkostrad tahun 2020, tapi karena saya tau kalau lama di sana saya bakalan makin pusing. Dan saya mau balik ke Sumut dan membenahi semuanya, agar berubah menjadi lebih baik lagi. Dan baru tau saya kalau gaji jadi Gubernur itu ternyata hanya Rp 8 juta, dan teman saya di Jakarta pun baru tau ternyata gaji (gubernur) hanya Rp8 juta, tapi saya tidak pedulikan, yang saya mau sekarang membenahi semuanya,” kata suami Nawal Lubis itu.
Selain menyampaikan curahan hatinya, kesempatan itu Edy juga membuat para tamu dan hadirin yang datang tertawa. Kata dia, ternyata lebih pusing dan lebih sulit menjadi seorang kepala daerah ketimbang mengemban jabatan Pangkostrad.
“Dulu waktu mau berhenti jadi Pangkostrad saya pusing juga, tetapi ternyata waktu menjabat sebagai Gubernur Sumut ternyata lebih pusing sulit. Kalau gak percaya tanya dengan Ijeck, dia pun sekarang semakin pusing,” katanya Edy yang langsung disambut tawa oleh wartawan.
Dirinya juga menyinggung terkait baru lima hari mengemban jabatan sebagai Gubsu, tetapi sudah di demo.
“Saya baru lima hari jadi gubernur tapi sudah di demo, yang demo para nelayan dan saya juga tidak tau apa nelayan ini yang mau didemokan, katanya pemakaian pukat trwal itu, saya juga tidak tau apa itu pukat trwal dan bagaimana cara pakainya,” kata dia.
Selama ini dirinya selalu diisukan bahwa memiliki pasukan khusus saat menjadi gubernur, tetapi itu semua ia bantah. Begitu juga soal sikapnya yang tegas dan terkesan arogan di mata orang lain, ia menyampaikan bahwa semua itu hanya sebatas ucapan saja.
“Saya tidak punya intel, dan dengan sikap saya yang tegas dan arogan, kalau tidak begini apa mau kalian Sumut ini lembek terus? Saya begini, yakinlah saya ini hanya ucapan saja, saya mohon para awak media membantu saya dalam menjalankan tugas dan memberikan masukan terkait apa saja yang terjadi pada Sumut. Dan gaya saya begini, tanyalah dengan mamak saya yang melahirkan saya kenapa begini,” ujarnya yang kembali disambut canda tawa.
Selanjutnya mantan Pangdam I/BB mengungkapkan cerita saat dirinya meninjau banjir yang menerpa Kota Medan. Ia pun sudah memberikan instruksi kepada seluruh stakeholder terkait, dalam hal penanganan banjir di ibukota Provinsi Sumut. “Saya sudah perintahkan semuanya, untuk segera cari solusi banjir ini. Jangan hanya menyalahkan Tuhan, masa Tuhan mau dilawan karena turunkan hujan. Saya perintahkan kepada mereka untuk selesaikan dalam waktu satu minggu cari solusinya, aku suruh orang itu untuk masuk ke sungai, kalau tidak selesai siap lah,” beber Edy.
Di samping itu dirinya dan Ijeck akan melakukan pembenahan terhadap ASN yang terlibat korupsi. Tidak hanya itu, pada waktu mendatang dia akan membuat perombakan di jajaran staf ahli.
“Untuk masalah bawahan saya yang terlibat korupsi akan saya tindaklanjuti, agar dia tidak terlibat lagi. Saya juga akan rombak semuanya nanti, saya akan bawa orang-orang kelas berat, bukan badannya yang berat ya, tapi pemikirannya yang berat, jadi biar cepat selesai Sumut ini dari mereka yang tidak bekerja dengan baik dan tegas,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah mengatakan banyak hal yang menjadi masukan untuk Sumut ke depan. Wakil Gubernur meminta media untuk memberikan masukan hal-hal baik yang bisa dilakukannya. “Visi apa yang saya kampanyekan akan saya jalankan, media harus bantu untuk mewujudkan itu, Sumatera Utara tidak akan maju tanpa media,” ujarnya.
Terkait dengan program perlindungan perempuan dan anak, Musa Rajekshah mengatakan Ranperda untuk itu akan disahkan menjadi peraturan daerah. “Kita harapkan media, LSM, dan pemerhati untuk memberikan masukan, generasi di depan kalau mendapatkan perlakuan yang tidak baik, bagaimana kita akan menghasilkan generasi yang baik” ujarnya. (prn/azw)
GAS: Seorang pekerja mengangkat Gas Elpiji 3kg dari dalam truk di Jalan Tanjung Mulia Medan, Kamis (5/10). Pertamina
menjamin stok LPG 3 Kg aman di Kecamatan Lubukpakam, Deliserdang.( Foto : Sutan siregar/Sumut Pos)
GAS: Seorang pekerja mengangkat Gas Elpiji 3kg dari dalam truk di Jalan Tanjung Mulia Medan, Kamis (5/10). Pertamina menjamin stok LPG 3 Kg aman di Kecamatan Lubukpakam, Deliserdang.( Foto : Sutan siregar/Sumut Pos)09
MEDAN, SUMUTPOS.CO – PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I, pastikan pasokan LPG 3 kilogram cukup dan aman di Kecamatan Lubukpakam Kabupaten Deli Serdang. Setiap harinya, penyaluran di kecamatan ini sebanyak 5.099 tabung.
Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I, Rudi Ariffianto menyatakan pasokan LPG 3 Kg untuk wilayah Lubukpakam disalurlan oleh 14 agen yakni PT Dimas Gasindo, PT Dermawan LPG, PT Anggita, PT Putra Deli Gas, PT Keluarga Mandiri Wisesa, PT Surya Serdang.
Kemudian, PT Usaha Mulia Sejahtera, PT Sama Mulia, PT Sintora Putra Gasindo, PT Anugrah Sumber Utami, PT Faisyal Terus Jaya, PT Marigas Prima, PT Eka Surya Gasindo dan PT Berkah Persada melalui 64 pangkalan dengan HET Rp16.000.
“Sejauh ini penyaluran berlangsung lancar dan tidak ditemukan adanya kendala distribusi dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBBE) ke Agen maupun Pangkalan,” kata Rudi kepada wartawan di Medan, Selasa (25/9) siang.
Selain itu, Rudi juga mengungkapkan distribusi untuk wilayah Sumut disuplai melalui depot LPG Tandem, SPPBE PT Wanantara Dharma, PT Citra Tunas Semesta, PT Karya Bakti Sentosa Abadi, PT Petro Gasindo, dan Mitha Sarana Wijaya.
“Kami akan terus memantau distribusi pasokan LPG 3 Kg di masyarakat dan akan melakukan kegiatan operasi pasar bila diperlukan. Kami akan segera melakukan operasi pasar apabila ditemukan adanya kelangkaan,” jelas Rudi.
Pertamina menyalurkan LPG 3 Kg sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah. Pertamina menghimbau peruntukkan LPG 3 kg hanya bagi rakyat miskin dengan penghasilan kurang dari Rp1,5 jt per bulan atau Usaha Mikro.
“Bagi warga mampu, Pertamina menyediakan LPG non subsidi seperti Bright Gas 5,5 Kg, Bright Gas 12 Kg dan Elpiji tabung biru 12 kg serta 50 kg untuk usaha komersial,” tandas Rudi.(gus/ram)
PAPARAN: Mantan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro saat
memberi paparan soal energi terbarukan di Indonesia di Unika
Santo Thomas, Medan, Selasa (25/9).( Foto : Sumut Pos)
PAPARAN: Mantan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro saat memberi paparan soal energi terbarukan di Indonesia di Unika Santo Thomas, Medan, Selasa (25/9).( Foto : Sumut Pos)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wacana Pemerintah Indonesia menggunakan bahan bakar nuklir dalam mengatasi kebutuhan listrik masih hangat diperbincangkan.
Salah satu hal yang disorot yakni soal public acceptance (penerimaan publik) yang masih menjadi kendala serius dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Rencana pembangunan PLTN harus mempertimbangkan banyak aspek, tidak hanya teknis, tetapi juga aspek lainnya seperti sosial dan ekonomi masyarakat. “Begini, hati-hati. Jangan lupa publik acceptance itu penting. Suara rakyat suara Tuhan,” ujar mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro pada seminar nasional bertajuk Pengelolaan Sumber Daya Energi yang Berkelanjutan untuk Ketahanan Nasional, di Universitas Katolik (Unika) Santo Thomas Medan, Selasa (25/9).
Purnomo mengisahkan tentang studi kasus rencana pembangunan PLTN di Gunung Muria yang mendapat penolakan kuat dari publik menyebabkan rencana tersebut tidak dapat dieksekusi. Dimana paskagempa Fukushima sebaiknya kehati-hatian dan studi komprehensif menjadi pijakan utama pemerintah untuk memutuskan langkah selanjutnya.
“Dulu Dirjen kita dikejar-kejar sama masyarakat Muria dan ternyata di Gunung Muria sering terjadi gempa. Akhirnya diputuskan dibatalkan,” jelasnya. “Energi nuklir di dunia saat ini juga presentasenya menurun,” tambah Purnomo.
Terkait wacana pembangunan PLTN, Purnomo mengingatkan jangan tergesa-gesa. Posisi nuklir dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) sebagai opsi terakhir juga penting dipegang. Peran serta masyarakat menjadi kunci bagi penerimaan kebijakan energi ke depan.
“Belajar dari pengalaman, bikin tim untuk FGD (fokus grup diskusi). Dari sisi kebijakan melihat potensi nuklir dalam KEN yang ujung-ujungnya sosialisasi kembali dengan masyarakat,” tuturnya.
Di hadapan lebih dari 400 mahasiswa yang hadir dalam acara seminar, Saleh Abdurrahman, Sekjen Dewan Energi Nasional menargetkan bahwa pada 2025 Indonesia akan menggunakan energi terbarukan (angin, air, dan tata surya) sebesar 25 persen. “Tahun 2025 sebentar lagi, kita menargetkan Indonesia sudah menggunakan energi terbarukan sebesar 25 persen dari yang sekarang hanya 6 sampai 7 persen,” ucapnya.
Ia menuturkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang banyak. Potensi matahari dan angin belum dimanfaatkan sebesar-besarnya. Secara pribadi, Saleh sangat mendukung penggunaan energi terbarukan dan mendorong daerah-daerah untuk mengembangkan energi terbarukan. Selain minim resiko juga lebih murah daripada nuklir. “Tren harga energi terbarukan semakin menurun, tren nuklir semakin tahun semakin naik,” katanya.
Selain karena bukan prioritas, faktor ekonomi juga menjadi bahan pertimbangan untuk melaksanakan proyek PLTN ini. “Biaya pembangkit nuklir per kwh itu termasuk mahal. Apalagi ditambahi biaya-biaya resiko kecelakaan, tambah membengkak dia,” imbuh Saleh.
Pada kesempatan yang sama, Febby Tumiwa, pakar energi terbarukan dan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) yang juga anggota dewan pengarah PWYP lndonesia menambahkan, Indonesia berada di daerah pusat gempa atau ring of fire. “Pada tahun 80-an ada wacana pembangunan PLTN di Muria, tetapi setelah tsunami dan gempa di Yogyakarta pada 2006 dan dilakukan studi ulang, ternyata ditemukan sesar atau patahan di Muria. Yang artinya, bila pembangunan dilakukan maka akan merugikan dan memberikan dampak yang buruk pada lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, biaya pembangunan dan harga jual per kwh yang mahal juga menjadi pertimbangan untuk menolak pembangunan PLTN. Atas dasar itu Febby mengusulkan dan mendukung penggunaan energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya yang sangat berlimpah di Indonesia untuk mencapai target 35.000 MW yang dicanangkan oleh pemerintah.
Turut hadir dalam seminar dan menjadi pembicara, Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu, Rektor Unika Santo Thomas Medan, Frietz R Tambunan, para dosen dan ratusan mahasiswa. (prn/ram)
SUMUTPOS.CO – Sebuah toko usaha jual beli dan service Play Station (PS) diserang puluhan oknum TNI AU, Minggu (23/9) malam. Akibatnya, toko yang berlabel Tomb Rider di Jalan Brigjen Zein Hamid Medan itu rusak parah.
KOMANDAN Landasan Udara (Danlanud) Soewondo, Kolonel Pnb Dirk Poltjen Lengkey tidak membantah anak buahnya menyambangi Toko Tomb Rider. Lengkey menerangkan, aksi tersebut lantaran puluhan personel TNI AU hendak menyelamatkan rekannya, Pelda Muhammad Chalik (45).
Ceritanya, anak Chalik memperbaiki PS. Oleh pegawai Tomb Rider, dikenakan cas Rp50 ribu. Sedangkan PS belum diperbaiki.
Kemudian, anaknya menelepon Chalik. Tak lama setelahnya, Chalik datang ketempat itu untuk mengambil Play Station.
“Tapi di situ, cekcok sama kasir tidak terelakkan dan ketika PS milik anaknya mau diambil dicegat sama Satpam. Alhasil, mereka cekcok adu mulut dan berantam,” terang Lengkey di Lanud Soewondo, Selasa (25/9).
“Saat berantam itulah pemilik atas nama Joni, mungkin reflek mengambil stick baseball berbahan besi dan mengeroyok Chalik bersama satpamnya,” sambungnya.
Akibatnya, mata sebelah kiri Chalik terluka hingga mengeluarkan darah. Sedangkan mata kanan memar.
Tak hanya itu, punggung bagian pinggang Chalik juga dihantam stick baseball. Alhasil, Chalik harus dilarikan ke rumah sakit.
“Jadi sebenarnya, ini permasalahan cuma tidak pas karena pembayaran biaya Rp50 ribu itu. Dia tidak terima karena PS anaknya tidak diapa-apain tapi kenapa bayar,” ujar Lengkey.
Menurut Lengkey perdamaian sudah dilakukan. Namun, keluarga Chalik tidak terima dan meminta agar perkara diproses lanjut.
“Kalau masalah ini diangkat pasti jadi saling dendam dan saling menuntut. Lebih baik, karena ini tahun politik tidak usah diperpanjang permasalahan ini,” kata Lengkey.
“Kebetulan keluarga dari Chalik sudah mau menerima. Tadi malam dari pihak Play Station dan anggota sudah buat perjanjian,” lanjutnya.
Namun, Lengkey menepis tudingan penyerangan yang dilakukan sekelompok oknum Anggota TNI AU ke toko tersebut. Ia menyebut, saat itu anggota TNI AU yang malah diserang oleh pemilik toko tersebut.
“Jadi pemilik PS dan Satpam tidak tahu yang dipukul anggota TNI AU. Tapi yang jelas perdamaian sudah dilakukan dua belah pihak dan tadi malam perdamaian saya saksikan,” terangnya.
Diketahui, malam itu suasana di lokasi cukup mencekam. Aksi penyelamatan berujung pengerusakan yang dilakukan belasan oknum TNI AU di ruko bercat hijau sontak membuat arus lalulintas macet.
Tampak dua mobil Avanza berwarna putih dan hitam juga mobil patroli Polisi Militer (PM) turun ke lapangan. Belasan oknum diduga personel TNI AU turun dan merangsek masuk menggedor-gedor pintu ruko berwarna biru yang sudah terkunci.
“Buka pintunya, buka,” terdengar suara teriakan orang dari arah ruko tempat pengusaha mainan tersebut.
Sejumlah sepeda motor yang terparkir di halaman toko tersebut berjatuhan. Tampak belasan orang melempari batu ke arah pintu besi ruko.
Perhatian warga pun tertuju ke ruko tersebut. Tak ingin jadi tontonan, warga di sana sempat diusir oleh oknum aparat berpakaian preman.
“Ayo pergi dari sini. Tolong jalan, ini bukan tontonan,” ungkap salah seorang pria bertubuh tegap.
Salah seorang warga, Charles, menyebut belasan orang diduga aparat bersama POM TNI AU datang ke lokasi sekira pukul 20.45 WIB.
“Katanya ada kawan mereka yang disekap, makanya orang itu datang menyelamatkan. Kudengar di sekap di dalam ruko,” tuturnya.
Alhasil, seisi ruko tersebut hancur diobrak-abrik. Tampak kaca dan steling di dalam ruko tersebut berserakan. Meja dan sejumlah perkakas rusak dibuat belasan oknum personel TNI AU yang marah.(dvs/ala)
TUAN RUMAH: Tim SSB Sejati Pratama U-11 siap menjadi tuan rumah
Festival Sepak Bola Sejati Pratama 2018.( Foto: Istimewa/Sumut Pos)
TUAN RUMAH: Tim SSB Sejati Pratama U-11 siap menjadi tuan rumah Festival Sepak Bola Sejati Pratama 2018.( Foto: Istimewa/Sumut Pos)
SUMUTPOS.CO – Festival Sekolah Sepak Bola (SSB) Sejati Pratama U-11 2018 akan kick off pada 20-21 Oktober mendatang. Festival sepak bola tahunan ini digelar untuk keempat kalinya di Lapangan Sejati Pratama, Jalan Karya Jaya.
Ketua Panitia Pelaksana Turnamen, Sunyoto Tosari mengatakan, tim U-11 atau yang kelahiran 2007 tersebut diharapkan bisa ikut berpartisipasi. Pihak panitia penyelenggara telah membuka pendaftaran sejak Senin (24/9).
“Turnamen ini merupakan yang keempat kali digelar sekaligus sebagai perayaan ulang tahun SSB Sejati Pratama ke 25 tahun (berdiri sejak September 1993). Panitia sudah mulai membuka pendaftaran sejak Senin (24/9) hingga 15 Oktober (Senin) mendatang yang juga merupakan hari pelaksanaan technical meeting,” ujar Sunyoto, Selasa (25/9).
Panitia membuka pendaftaran di Sekretariat SSB Sejati Pratama setiap hari dengan biaya pendaftaran sebesar Rp300 ribu. Selain tunai, untuk memudahkan, para tim calon peserta bisa mentransfer biaya pendaftaran melalui nomor rekening yang ditunjuk, yakni, Bank Mandiri No rekening 106-0006-7-7729-9 atas nama Linda Andriani.
“Jika sudah ditransfer, foto struk bukti transfer bisa dikirimkan ke nomor WhatsApp 0852-6205-9881 juga atas nama Linda Andriani dengan menyertakan nama SSB-nya. Turnamen ini diperuntukkan bagi SSB yang ada di Kota Medan dan sekitarnya termasuk dari daerah di provinsi lain,” ucap pria yang juga Kepala Pelatih SSB Sejati Pratama itu.
Sunyoto mengatakan, syarat pendaftaran seperti biasa menyertakan dokumen asli seperti kartu keluarga (KK), akte kelahiran, rapor, dan pas foto. “Target peserta antara 32 hingga 40 tim,” ucapnya didampingi Bendahara Panitia, Linda Andriani.
Event tersebut menurut Sunyoto juga menjadi ajang pemanasan untuk perhelatan Danone Cup. Untuk itu format pertandingan juga mengacu pada Danone Cup. Hadiah akan diberikan kepada juara satu, dua dan tiga serta pencetak gol terbanyak atau top skorer bernilai jutaan rupiah, namun tidak dalam bentuk uang.
“Hadiah tidak berbentuk uang, tapi perlengkapan sepakbola, karena menurut regulasi dalam PSSI, anak usia dini hadiah jangan berupa uang. Sekaligus memberi asupan kepada anak agar tidak materialistis lantaran masih dalam tahap pembinaan, teknik, mental, dan psikologinya. Jangan sampai mengganggu pertumbuhan,” pungkasnya. (don)
PADAMKAN: Petugas Rutan Tanjung Gusta Medan dibantu warga binaan memadamkan api yang membakar salah satu ruangan, Selasa (25/9).( Foto: Agusman/Sumut Pos)
PADAMKAN: Petugas Rutan Tanjung Gusta Medan dibantu warga binaan memadamkan api yang membakar salah satu ruangan, Selasa (25/9).( Foto: Agusman/Sumut Pos)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rumah Tahanan Negara (Rutan), Klas I di Jalan Permasyarakatan, Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia terbakar. Kebakaran melanda ruang generator listrik cadangan gedung dan melahap ruangan staff pegawai Rutan.
“Tadi ada teriakan kebakaran abangda dari tamping kita, kebetulan kondisi Rutan masih ramai karena baru siap kunjungan dari inspektorat,” kata Kepala Pengamanan Rutan (KPR) Alanta I Ketaren, Selasa (25/9).
Pria yang kerap disapa Alan itu mengatakan, kebakaran diketahui terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Api dapat dipadamkan lebih kurang selama setengah jam.
Seluruh pegawai dan dibantu wargabinaan berjibaku memadamkan api yang menghanguskan sebuah ruangan kantor dan generator.
“Syukurlah masih ramai, puji Tuhan api dapat kita padamkan. Untuk wargabinaan sendiri bisa kita kendalikan tidak terjadi kepanikan,” papar Alan.
Ia menambahkan, saat ini penyebab kebakaran sedang diselidiki. Dengan terbakarnya ruang generator, saat ini pihaknya tengah mengakali defisit listrik di Rutan itu sendiri.
Tambahnya lagi, kerugian dari terbakarnya generator saat ini mencapai puluhan juta rupiah.
“Kita masih terus bekerja, ini memunculkan masalah baru. Listrik di Rutan defisit, kita lagi mengakalinya. Penyebab kebakaran kita serahkan kepada pihak Kepolisian Sektor Helvetia,” pungkas Alan.
Kasi Humas Polsek Helvetia, Brigadir Syahfitra Taufik mengatakan, dugaan sementara akibat korsleting dari kabel generator yang sudah tua. Taufik yang saat itu di lokasi turut memadamkan api yang melahap ruang generator Rutan.
“Dugaan kabel-kabel generator sudah tua, tapi masih dugaan. Tak dipungkiri mungkin ada konspirasi lain. Kasus sudah diserahkan ke Reskrim Polsek Helvetia,” pungkas Taufik.(man/ala)
TEBINGTINGGI, SUMUTPSO.CO – Kapolres Tebingtinggi AKBP Sunadi dan Walikota Tebingtinggi Ir Umur Zunaidi Hasibuan membuka Turnamen Futsal antar instansi Kapolres Cup yang dilaksanakan di Lapangan Futsal Gedung Serbaguna Jalan Pahlawan Kota Tebingtinggi, Selasa sore (25/9). Turnamen ini diikuti 12 tim.
Para kontestan antara lain Brimob Detasemen B, Kejaksaan Negeri, Polres Tebingtinggi, Pemko Tebingtinggi, Kebun Rambutan, dan Rumah Sakit Dr Kumpulan Pane.
Dalam sambutannya Walikota Tebingtinggi Ir Umur Zunaidi Hasibuan mengatakan dalam sebuah pertandingan olahraga jangan pernah ada anggapan bahwa lawan itu adalah musuh. Namun pertandingan digelar untuk menjalin silatuhrami sesama klub dan instansi.
“Dalam sebuah pertandingan itu, kalah menang sudah biasa. Jangan pernah anggap lawan itu musuh. Anggaplah pertandingan ini untuk memupuk persahabatan antar istansi,”terang Umar.
Menurutnya, kegiatan futsal antar istansi ini seharusnya terus dilakukan karena untuk memupuk rasa persaudaraan sesama instansi pemerintahan. “Dalam pertandingan futsal ini jangan dipaksakan dalam bertanding jika kondisi tidak memungkinkan, karena jika dipaksakan bisa menimbulkan hal hal yang tidak diinginkan,” bebernya.
Sementara itu, Kapolres Tebingtinggi AKBP Sunadi mengatakan para peserta klub futsal dari berbagai instansi diharapkan sebelum bermain harus memeriksakan kesehatan. Jika kurang sehat dia mengimbau jangan ikut bertanding. “Mari tingkatkan semangat olahraga,”jelasnya.
Dalam pertandingan perdana futsal Kapolres Cup Kota Tebingtinggi, Tim futsal Wartawan Polres Tebingtinggi menumbangkan tim Polres A Tebingtinggi dengan skor 6-3. Tampak hadir Ketua KONI Tebingtinggi Parlindungan SE, Wakapolres Kompol V Siagian, Kasat, Kapolres sejajaran Polres Tebingtinggi. (ian/don)
Keterangan Foto:
FUTSAL: Walikota Tebingtinggi Ir Umur Zunaidi Hasibuan didampingi Kapolres Tebingtinggi AKBP Sunadi dan Kabag, Kasat, Kapolsek dalam pertandingan futsal antar instansi (Sopian/Sumut Pos)
Institusi Kepolisian kembali tercoreng. Seorang oknum Polres Langkat berinisial Bripka KA alias Mandor, terlibat jaringan narkotika jenis sabu.
BEREDAR kabar, warga Dusun Pasar Lintang, Desa Stabat Lama, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat itu sudah diamankan.
Bripka KA diamankan Tim Opsnal Resnarkoba Polres Langkat, Kamis (20/9). Namun, baru terendus media, Selasa (25/9).
Keterlibatan Bripka KA berawal dari penangkapan Dede Suhendry alias Dede (29). Warga Jalan Hang Tuah Benteng, Kelurahan Stabat Baru, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat itu ditangkap karena mengedarkan sabu.
Dede diamankan tak jauh dari rumahnya. Dari tangan Dede, petugas mengamankan barang bukti 1 paket plastik bening berisi 0,24 gram sabu dan 1 unit sepeda motor matic merk Yamaha warna hitam/coklat BK 2960 PAT.
Saat penggeledahan seputar TKP, Dede sempat menutupi sabu miliknya menggunakan daun. Namun oleh petugas, sabu ditemukan di sebelah Dede.
Kepada petugas di lokasi, Dede mengaku mendapat sabu tersebut dari Bripka KA. Petugas kemudian memburu oknum polisi itu, namun tak ditemukan.
Jumat (21/9) sekira pukul 09.00 WIB, Bripka KA datang menghadap Kasat Narkoba Polres Langkat.
Setelah diperiksa penyidik, Dede mengaku telah dua kali menerima sabu dari Bripka KA. Pertama, Dede berhasil menjual sabu kepada pembeli seharga Rp150 ribu.
Oleh Dede, uang hasil penjualan langsung disetorkan kepada Bripka KA.
Kedua, Dede kembali menerima 1 paket sabu untuk diantarkan kepada pembeli. Karena pembeli tidak datang, sabu tersebut akan dikembalikan kepada Bripka KA.
Namun apes, saat akan mengembalikan barang haram tersebut, Dede dicokok Tim Satnarkoba Polres Langkat.
Sedangkan Bripka KA mengaku, kenal dengan Dede. Ia juga mengamini memberikan sabu kepada Dede.
Kasubbaghumas Polres Langkat, AKP Arnold Hasibuan mengaku tidak mengetahui adanya oknum polisi yang bertugas di Polres Langkat tersandung kasus narkotika. Arnold berdalih, tidak semua laporan penangkapan masuk ke Humas Polres Langkat.
“Saya belum mengetahui berita itu. Coba konfirmasi langsung ke Kasat Narkoba,” elak Arnold, Senin (24/9) sore.
Sementara, Kasat Narkoba Polres Langkat, AKP Yunus Tarigan tidak membalas konfirmasi yang dilayangkan wartawan via whatsapp. Pesan hanya dibaca, tetapi tidak dibalas.
Kapolres Langkat AKBP Dedi Indriyanto, membenarkan adanya oknum Polisi Polres Langkat tersandung kasus narkotika jenis sabu.
“Benar. Saat ini sedang diproses. Coba konfirmasi ke Kasubbaghumas aja ya. Saya baru pulang haji,” ucap Kapolres Langkat, Selasa (24/9) pagi.(bam/ala)
BERSAMA: Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi bersama Pengurus dan Komite Eksekutif Asprov PSSI Sumut usai pelantikan di Hotel Grand Mercure, Senin (24/9).(Foto : Doni Hermawan/Sumut Pos)
BERSAMA: Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi bersama Pengurus dan Komite Eksekutif Asprov PSSI Sumut usai pelantikan di Hotel Grand Mercure, Senin (24/9).(Foto : Doni Hermawan/Sumut Pos)
SUMUTPOS.CO – PSSI resmi melantikan kepengurusan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sumut di bawah kepemimpinan Kodrat Shah di Hotel Grand Mercure, Senin (24/9). Selain itu PSSI juga melantik tujuh anggota Komite Eksekutif terpilih.
Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang langsung melantik malam itu mengaku berharap besar Asprov PSSI Sumut bisa berbenah di bawah kepengurusan baru ini. Terutama dalam upaya mengembalikan kejayaan persepakbolaan di Sumatera Utara (Sumut) seperti di masa-masa kejayaan yang lalu.
“Mengembalikan kejayaan persepakbolaan Sumatera Utara, dari level usia dini sampai seniornya PSMS, saya yakin itu bisa,” ujar Edy.
Diakuinya perlu proses dalam mewujudkan hal tersebut. Namun menurut dia, kabupaten/kota juga harus berperan, bersama-sama melakukan pembinaan. “Berlatih, bertahap, bertingkat dan berlanjut, itulah bola. Seluruhnya dari kabupaten dan kota harus melahirkan atlet-atlet bola sejak dini,” ucapnya lagi.
Soal sarana dan prasarana pendukung, diakuinya masih jauh dari harapan. Untuk itu, Gubernur Sumut itu juga mengajak semua pihak untuk sama-sama melakukan perbaikan. “Masih jauh (sarana dan prasarana), segera kita kejar, paling tidak satu desa satu lapangan bola,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Asprov PSSI Sumut, Kodrat Shah, berjanji untuk membuat sepakbola Sumut menjadi lebih baik. “Saya akan mengajak seluruh pengurus bersama-sama membesarkan sepak bola Sumut,” ujarnya.
Pada pelantikan yang dihadiri Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI yang juga Gubernur Sumut, Kodrat meminta kepada pengurus yang dilantik untuk bertanggung jawab atas amanah tersebut. Kodrat juga mengingatkan kepada pengurus yang tidak mampu untuk mengundurkan diri. “Kalau ada yang tidak bertangung jawab akan ditindak, Dan kalau memang tidak mampu, lebih baik mengundurkan diri,” bebernya.
Kodrat juga menyinggung soal minimnya jumlah bantuan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumut untuk pembinaan sepakbola. “Ada Rp12 juta setahun bantuan dari KONI Sumut, untuk bayar listrik saja enggak cukup. Saya heran, sepakbola olahraga mahal tapi bantuan untuk pembinaan hanya Rp12 juta setahun,” ucapnya.
Sementara itu Ketua KONI Sumut, Jhon Ismadi Lubis yang juga memberikan kata sambutan pada pelantikan tersebut menjawab pernyataan Kodrat.
“Mohon maaf karena pemerintah selama ini lalai. Kami harap dengan Gubernur Sumut dan Wakilnya yang baru yang merupakan tokoh olahraga, saya yakin beliau tidak akan meninggalkan kita. Tadi sore, kami audiensi bahwa beliau siap mencanangkan sepak bola dan seluruh olahraga menjadi tuan rumah di PON 2024,” ungkapnya.
Acara ini juga dilengkapi dengan pemberian tali asih keluarga mantan pesepakbola Sumut. Sebelum pelantikan, Ketua Panitia Pelantikan Asprov PSSI Sumut, Subagja Suihan menjelaskan proses pemilihan Kepengurusan Asprov PSSI Sumut diawali pada 10 Januai 2017 dengan penunjukan Juniarto Arman Plt Ketua Asprov PSSI Sumut. Kemudian menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sumatera Utara ke VIII/2018, berlangsung di Wing Convention Centre, Deliserdang, Sabtu (24/2/2018).
Kongres PSSI Sumut diikuti oleh 21 terdiri dari Asporv dan Askot 43 klub PSSI. Dalam Kongres itu Kodrat Shah terpilih secara aklamasi juga tujuh Exco PSSI Sumut yaitu Sri Rafrida Lubis, Armen Margolang, Prof dr Muhammad Fidel Ganis, Ricky Fahreza, Hendra DS, Dodi Safnul, Muksin Pohan. (don)