Home Blog Page 5971

Wabup Asahan Beri Tali Asih untuk Atlet dan Tokoh Olahraga

Tommy Sanjaya/Sumut Pos SERAHKAN: Wakil Bupati Asahan, H Surya, B Sc bersama Kapolres Asahan, AKBP Yemi Mandagi menyerahkan tali asih kepada atlet berprestasi dan tokoh olahraga di halaman kantor Bupati Asahan Jalan Lintas Sumatra.
Tommy Sanjaya/Sumut Pos
SERAHKAN: Wakil Bupati Asahan, H Surya, B Sc bersama Kapolres Asahan, AKBP Yemi Mandagi menyerahkan tali asih kepada atlet berprestasi dan tokoh olahraga di halaman kantor Bupati Asahan Jalan Lintas Sumatra.

ASAHAN,SUMUTPOS.CO – Wakil Bupati Asahan, H.Surya, B.Sc memberikan tali asih kepada atlet berprestasi dan tokoh olahraga usai upacara Peringatan ke-35 Hari Olah Raga Nasional (Haornas) yang berlangsung di Halaman Kantor Bupati Asahan di Jalan Lintas Sumatra, Senin (10/9).

Penyerahan tali asih itu kepada Armen Margolang tokoh olah raga yang telah menghantarkan tim U-15 mengikuti turnamen bersala internasional Barcelona Cup di Spanyol tahun 2017 serta turnamen sepak bola lainnya di Sumatera Utara tahun 2018.

Lalu, tokoh olah raga cabang voli, H Zahar Ginting serta atlet lomba lari 5K Indra Sikoembang pada Porwanas di Jawa Barat. Berikut juga kepada wartawan olahraga Sapriadi, guru olahraga terbaik dan tim berprestasi maupun wasit terbaik yang ada di Asahan.

Wakil Bupati Asahan, H Surya, B Sc dalam membacakan pidato tertulis Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi yang disampaikan Wakil Bupati Asahan mengatakan dengan tema Haornas mengajak untuk Berolah raga dan Bangun Indonesia. “Marikah seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam menggiatkan olah raga dengan berolah raga jiwa raga menjadi sehat dan badan menjadi kuat,”katanya.

Dilanjutkannya pria yang kerap disapa Surya, kiranya agar seluruh bangsa dapat menggerakan olahraga secara menyeluruh mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan hingga warga masyarakat secara luas. “Artinya dengan digalakannya olahraga selain nantina dapat tumbuh bibit bibit atlet muda yang dapat dihandalkan dalam berbagai event baik lokal maupun internasional, dan dengan berolahraga juga akan menimbulkan kecintaan akan tanah air dan cinta akan bangsa yang kaya akan budaya serta adat istiadat,”tambahnya.

Hal itu akan menjadikan bangsa ini semakin kuat dan olahraga merupakan alat pemersatu bangsa.

“Saya yakin dengam menggelorakan Olahraga hidup semakin sehat dan be-kerja akan lebih semangat,”pungkasnya. (omi/don)

Gelar Seleksi Atlet untuk Kejurnas

istimewa BERSAMA: Ketua Pertina Medan, Budiman bersama pengurus, pelatih dan para atlet.
istimewa
BERSAMA: Ketua Pertina Medan, Budiman bersama pengurus, pelatih dan para atlet.

SUMUTPOS.CO – Pengurus Kota Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Medan menyurati Pengurus Pusat (PP) Pertina Indonesia tertanggal 10 September 2018 Nomor:106/PERTINA-MDN/IX/2018.

Hal tersebut dilakukan karena menilai Pengprov Pertina Sumatera Utara telah melakukan tindakan inkonstitusional dengan melantik kepengurusan Pertina Medan hasil Muskot versi caretaker diketuai Sabam Manalu dan sekretaris Binner Dabukke, 7 September lalu.

Terdapat tujuh poin yang dituangkan dalam surat tersebut. Dalam hal ini menyangkut keputusan PP Pertina sebelumnya yang telah memperpanjang kepengurusan Budiman dan merencanakan Muskot Ulang 29 September 2018 mendatang, merujuk pada Peraturan Orga-nisasi PERTINA No. PO-001/PO/PP.PERTINA/XII/2018 tanggal 9 Desember 2018.

Hal tersebut sesuai dengan Surat PP PERTINA No. 122/KU/PP.PERTINA/VIII/2018, tertanggal 3 Agustus 2018. “Otomatis kepengurusan saat ini kan masih aktif, tapi kenapa sudah dilantik yang baru?” sebut Budiman di Medan, Selasa (11/9).

Pada poin-poin selanjutnya, pihak Budiman menyatakan Pengprov Pertina Sumut telah menunjukkan perlawanan terbuka terhadap keputusan PP Pertina dan telah mengabaikan petunjuk dan langkah-langkah penyelesaian permasalahan Pengkot Pertina Medan sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum PP Pertina.

“Sebelum pelaksanaan pertandingan dan pelantikan tersebut, Ketua Pertina Sumut Sdr. Romein Manalu dan saya sebagai Ketua Pertina Medan melakukan pembicaraan telepon dan kepada beliau kami sampaikan agar mengurungkan niatnya melantik Pengkot Pertina Medan hasil Muskot versi caretaker yang tidak sah. Namun yang bersangkutan menyatakan kesiapannya menerima konsekuensi logis dari tindakan yang kami kategorikan sebagai tindakan inkonstitusional,” ucap Budiman membacakan laporan pada poin ke-7.

Atas surat tersebut, Budiman meminta arahan sekaligus permohonan agar PP Pertina mengambil sikap tegas. “Kami ingin PP Pertina turun menyelesaikan dan mengambil langkah tegas sesuai aturan yang ada,” tambah Budiman.

Dalam kesempatan itu juga, Pertina Medan di bawah pimpinan Budiman telah melaksanakan seleksi atlet Medan.

Seleksi dilakukan sesuai arahan Ketua PP Pertina, Jhony Asadoma saat memediasi antara Pertina Medan dan Pertina Sumut di Kantor Pertina Pusat, 3 September lalu. Dalam mediasi tersebut, Budiman bersama pihaknya turut hadir begitu juga Romein Manalu selaku Ketua Pertina Sumut.

“Seleksi kami lakukan sesuai arahan pusat. Atlet terpilih akan dikirim ke pengprov menuju Kejurnas yunior dan youth di Bogor pekan depan. Jadi Kejurda Tinju yunior dan youth Piala Komandan POM Lantamal I Belawan bukanlah seleksinya,” terang-nya. (don)

Andi Arief: Partai Gerindra Tak Boleh Egois

ist AndiArief
ist
AndiArief

Posisi PAN, PKS dan Partai Demokrat pada Pemilu serentak 2019 terbilang berat. Pasalnya, selain berjuang untuk lolos parliamentary threshold (PT) 4 persen, juga harus memenangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Di satu sisi sedang mencari dukungan agar partainya tetap lolos dan bertahan di Parlemen, di sisi lain harus mencari dukungan untuk presiden dan wakilnya bukan dari partai sendiri. Harus ada seni agar Gerindra tak besar sendirian,” kata Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, Andi Arief di akun twitter @AndiArief__, Selasa (11/9).

PAN, PKS dan Demokrat harus benar-benar bekerja ekstra terutama untuk meyakinkan memilih Prabowo-Sandi kepada rakyat. Kalau tidak dengan seni tinggi maka keuntungan elektabilitas akan masuk hanya ke Gerindra. “Karena itu setiap partai harus punya seni tinggi,” terang Andi Arief.

Untuk itu, lanjut dia, koalisi Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS harus mendiskusikan seni yang tinggi agar keuntungan elektoral bisa proporsional di tengah capres dan cawapresnya yang berasal dari satu partai.

Menurutnya, Gerindra yang pasti mendapat berkah elektoral harus berlapang dada tidak egois, harus memikirkan tiga partai koalisinya.

“Demokrat mungkin di zone aman, tapi berdasarkan survei posisi PAN dan PKS harus berjuang soal lolos PT. Soal-soal ini harus dibicarakan di koalisi,” tutup Andi Arief.(rgu/rmol/azw)

Hemat Belanja BBM hingga 400 Juta per Tahun

BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos MoU: Penandatangan MoU mempercepat proyek pembangunan PLTA Batangtoru di USU.
BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos
MoU: Penandatangan MoU mempercepat proyek pembangunan PLTA Batangtoru di USU.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Direktur PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), Sarimuddin Siregar, menjawab kekhawatiran sejumlah pihak atas kelangsungan hidup orangutan Tapanuli dan ekosistem Batangtoru seluas 140.000 Ha.

Menurut Sarimuddin Siregar, proyek PLTA Batangtoru berada di area penggunaan lain (APL) di luar hutan dengan menggunakan lahan seluas 121 Ha (lahan bangunan 55 Ha dan luasan genangan maksimal 66 Ha). Dengan demikian total luasan proyek PLTA Batangtoru hanya 0,09% dari ekosistem Batangtoru yang merupakan habitat orangutan. PLTA ini merupakan pembangunan PLTA terbesar di Sumatera. Tujuannya untuk mengatasi kritis listrik di Sumatera Utara.

Setelah beroperasi, Proyek PLTA Batangtoru akan memberikan penghematan kepada belanja bahan bakar minyak pemerintah sebesar USD350-400 juta per tahun karena pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Proyek dengan sifat renewable energy, akan ikut berkontribusi bagi keinginan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 1,6 juta metrik ton dari target 4,4 juta metrik ton.

“PLTA Batangtoru akan menyerap kurang lebih seribu tenaga kerja selama masa pembangunan dan memberikan dampak multiplier ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada penduduk dan sektor usaha formal maupun informal di sekitar Kawasan Batangtoru,” ujarnya pada acara Memorandum of Understanding (MoU) Universitas Sumatera Utara (USU) bersama PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pengelola PLTA Batangtoru dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapsel, untuk mempercepat proyek pembangunan PLTA dengan kapasitas 510 Mega Watt (MW) di Medan, Senin (10/9).

Prof Runtung menyambut baik dilakukannya penandatanganan MoU tersebut. Dirinya mengklaim PT NSHE tidak salah memilih USU sebagai mitra untuk memberikan masukan dan bahkan kritikan, bila proyek pembangunan PLTA tersebut tidak berjalan semestinya.

Bupati Tapsel, Syahrul M. Pasaribu mengungkapkan untuk memastikan kelayakan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dari proyek pembangunan PLTA Batang Toru tersebut,  ia mengundang para akademisi untuk meninjau langsung ke lapangan.

”Kami undang akademisi USU untuk melihat secara objektif secara langsung ke lapangan, baru memberikan saran dan kritikan. Karena, niat kita untuk pembangunan, bukan untuk mencari pemasukan dari kritikan tersebut,” ujarnya.

Syahrul menyatakan bahwa lokasi PLTA Batangtoru murni berada di hutan APL (Area Penggunaan Lain), bukan di kawasan hutan lindung dan cagar alam. Untuk itu, sudah tepat PLTA Batangtoru dibangun dilokasi tersebut. Terlebih dahulu dilakukan analisis untuk keseluruhannya.

Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, yang turut hadir di acara penandantanganan MoU itu mengungkapkan bahwa pihanya siap mengawal proyek pembangunan PLTA Batangtoru tersebut. “Bila ada oknum yang coba menghalangi proyek pembangunan PLTA hanya untuk mencari uang semata, maka akan kita hadapi bersama.

Komisi VII DPR RI siap mengikuti dan mengawal proyek ini, selama proyek berada di jalur yang benar,” paparnya.

Terpisah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan memastikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru tidak akan menggangu kelestarian orangutan. Tim khusus akan dibentuk secara permanen untuk melakukan pemantauan.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno menegaskan, penyelamatan orangutan tapanuli menjadi fokus perhatian pemerintah seperti diinstruksikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 15 tahun oleh peneliti dari Balai Litbang LHK Aek Nauli, kepadatan orangutan di bakal lokasi pembangunan PLTA Batangtoru rendah. Hanya sekitar 0,41 individu per kilometer persegi. Orangutan lebih banyak ditemukan di tempat yang memiliki ketinggian di atas 600 meter dari permukaan laut.

”Tim kami akan melakukan pengecekan di sekitar rencana lokasi pembangunan PLTA,” katanya. (gus/ila/ram)

Wagub Harapkan Perbankan Syariah Berkembang

BERSAMA: Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah berfoto bersama peserta Dialog Kebangsaan “Peran Perbankan Syari’ah Dalam Menyongsong Kebangkitan Ekonomi Islam” yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Sumatera Utara di Medan, Jalan Sisingamangara, Senin (10/9) malam.
BERSAMA:
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah berfoto bersama peserta Dialog Kebangsaan “Peran Perbankan Syari’ah Dalam Menyongsong Kebangkitan Ekonomi Islam” yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Sumatera Utara di Medan, Jalan Sisingamangara, Senin (10/9) malam.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah mengharapkan perbankan syariah semakin berkembang di daerah ini. Khususnya untuk PT Bank Sumut, yang merupakan bagian dari BUMD Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut.

“Saat ini perbankan syariah kita di Bank Sumut masih berbentuk unit usaha, semoga Bank Sumut bisa mempunyai bank syairah yang berdiri sendiri, dengan aset besar dan mendukung program umat Islam di Sumut, bahkan Indonesia,” ungkap Wagub Musa Rajekshah, ketika membuka Dialog Kebangsaan: Peran Perbankan Syariah Dalam Menyongsong Kebangkitan Ekonomi Islam yang diadakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Sumut di Hotel Madani, Medan, Senin (10/9) malam.

Perbankan Syariah, kata Wagub, berbeda dengan perbankan konvensional yang tidak menerapkan sistem syariah. Saat ini, perkembangan perbankan syariah sangat pesat, bahkan tidak hanya digunakan oleh negara-negara Islam, tetapi di negara-negara Eropa banyak juga yang mengembangkan perbankan syariah.

Karena itu, Wagub sangat mengapresiasi dialog kebangsaan tersebut. Diharapkan dapat mendorong bangkitnya perekonomian masyarakat Sumut. “Atas nama Pemprov Sumut, saya mengapresiasi kegiatan ini karena ikut membantu Pemprov Sumut dalam membangun perekonomian, terutama ekonomi umat Islam Sumatera Utara,” ujarnya.

Musa Rajekshah juga menyebutkan, kegiatan seperti ini dapat memperat persatuan umat Islam. “Semoga kita semakin bersatu, semakin bersama, untuk membuat hal-hal baik, khususnya untuk saudara-saudara kita, kita tidak mengharapkan perpecahan,” katanya.

Apalagi saat ini, menurut Musa Rajekshah, suhu politik nasional semakin meningkat. “Kita umat Islam harus tetap menjaga kekompakan, agar syiar dan agama kita semakin berkembang di seluruh daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua GNPF Ulama Sumut Hariansah mengharapkan dialog kebangsaan tersebut dapat menghasilkan hal besar yang bisa diterapkan di Sumut. “Dalam pemikiran kami, nanti suatu saat ketika kita bicara tentang perbankan bisa tenteram, karena tidak lagi memikirkan hal-hal yang riba. Pilihannya tidak lain, selain bank syariah,” ujarnya.

Ketua Panitia Dialog Kebangsaan Haidar Azwir mengatakan, kegiatan ini merupakan program tahunan GNPF Ulama. Kegiatan tersebut juga dalam rangka upaya mensyiarkan dakwah Islam di negara Indonesia. “Ini salah satu rangkaian kegiatan, misalnya Subuh Akbar Berjamaah di beberapa titik. Puncaknya besok kita mengadakan Parade Tauhid. Ini mengingatkan kita pada periode puluhan tahun silam keberagaman kita mewarnai Sumatera Utara ini,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut hadir Komisaris Utama Independen Bank Sumut Rizal Pahlevi, Direktur Utama PT Bank Sumut Edie Rizliyanto, Pakar Ekonomi Ichsanuddin Noorsy, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan Prof Dr H Mohd Hatta, perwakilan dari Bank Aceh, serta peserta dan undangan lainnya. (prn/ram)

Kosgoro 57 Harap Musda Golkar Tebintinggi Digelar Usai Pileg

ilustrasi pileg 2019
ilustrasi pileg 2019

SUMUTPOS.CO – Kosgoro 1957 Kota Tebingtinggi meminta kepada DPD I Golkar Sumut, dalam hal ini Plt Ketua, agar musyawarah daerah (musda) Partai Golkar Tebingtinggi dilaksanakan usai pelaksanaan pemilihan legislatif (Pileg) 2019.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Kosgoro 1957 Kota Tebingtinggi Ferry Tarigan yang mengaku mewakili suara dari masyarakat Golkar baik simpatisan, kader maupun fungsionaris. Dalam penyampaiannya Ferry didampingi Wakil Ketua Golkar Ir Teman Barus, Hisar Hasibuan, dan Samsudin Gayo serta para caleg perempuan dari DPD Partai Golkar Tebingtinggi antara lain Indah Ramadhani, Winda Adriana Pratiwi, Nurmalina dan Sri Wahyuni di Coin Hotel Jalan Ahmad Yani Kota Tebingtinggi, Senin (10/9).

Menurut Ferry Tarigan, bahwa hal ini juga untuk menjaga keutuhan Partai Golkar dalam rangka meraih kemenangan dalam Pemilu 17 April 2019 nanti. Ferry mengkhawatirkan apabila Musda tetap dipaksakan dan harus dilaksanakan sebelum pileg akan terjadi perpecahan didalam Golkar sendiri.

Sebab tahun ini kondisinya adalah tahun politik. Belum lagi adanya mental dari pemilik hak suara yang kurang baik dengan tidak perduli kepada calon ketua yang betul-betul bisa membawa Golkar ini menjadi lebih baik. Tetapi mereka lebih perduli kepada siapa yang bisa memberi lebih besar. Jika tradisi ini dibiarkan, kedepan Partai Golkar akan rusak dan tidak dapat memenangkan pemilu.

“Memang benar jika musda tersebut adalah perintah organisasi yang harus dilaksanakan, namun disisi lain kita juga harus melihat bahwa ada kepentingan yang lebih besar selain dari pada Musda, yaitu pemenangan pemilu. Karena gol partai politik itu dikatakan berhasil ketika kita memenangi pemilu tersebut,”terang Ferry Tarigan.

Disebutkannya, meski tertata seperti apapun baiknya kepengurusan partai itu, namun bila pemenangannya tidak berhasil itu sama saja partai tersebut gagal dan tidak berhasil.

Ferry Tarigan menambahkan bahwa pada saat Tim ADHOC DPD I Partai Golkar Sumatera Utara melakukan kunjungan kerja ke DPD Partai Golkar Tebingtinggi pada 24 Agustus 2018 lalu dalam rangka persiapan Musda, para kader Golkar Tebingtinggi juga telah meminta dan berharap agar Musda dapat dilaksanakan setelah pelaksanaan pileg.

“Karena Plt Ketua DPD Golkar Tebingtinggi Pahala Sitorus patuh dan taat asas, taat aturan agar Musda segera dilaksanakan, maka Musda akhirnya dilaksanakan. Akan tetapi kenyataannya pelaksanaan Musda pada 9 September 2018 kemarin tidak membuahkan hasil,” imbuh Ferry.

Dalam kesempatan itu Ferry Tarigan yang juga Wakil Ketua AMPG Golkar Tebingtinggi berharap kiranya DPD I Partai Golkar Sumut mau menyahuti aspirasi dari pada kader-kader Golkar Tebingtinggi.

“Biarlah Plt Ketua DPD Golkar Tebingtinggi Pahala Sitorus yang selama dua bulan lebih ini telah melaksanakan tugas dengan baik sebagai pimpinan Golkar Kota Tebingtinggi untuk kembali meneruskan hingga selesainya pileg. Hingga seluruh kader dan calon legislatif akan bekerja sungguh-sungguh untuk pemenangan partai,” pungkas Ferry. (ian/azw)

Mujianto Tidak Mungkin Lari ke Luar Negeri

PENANGKAPAN: Mujianto alias Anam (kanan), tersangka penipuan dan penggelapan saat ditangkap kepolisian, beberapa waktu lalu.
PENANGKAPAN: Mujianto alias Anam (kanan), tersangka penipuan dan penggelapan saat ditangkap kepolisian, beberapa waktu lalu.

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), belum bisa memastikan kapan mulai memproses tersangka kasus penipuan dan penggelapan, Mujianto alias Anam. Pasalnya usai ditangguhkan, terdakwa kasus penipuan dengan kerugian material sebesar Rp3,5 miliar itu hanya dikenakan wajib lapor sekali seminggu.

“Diakan (Mujianto) masih wajib lapor. Jadi setiap hari Jumat selama seminggu sekali wajib lapor, jadi dia masih kooperatif,” ujar Kasi Penkum Kejatisu, Sumanggar Siagian kepada Sumut Pos, Selasa (11/9).

Sumanggar pun menggaransi, Mujianto tidak akan kembali kabur ke luar negeri, seperti apa yang pernah dilakukannya saat masih ditangani Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut.

“Kalau melarikan diri tidak mungkin, karena pasport-nya kan kita sita. Apalagi yang menjamin keluarga dan pengacaranya,” katanya.

Menurutnya, selama dikenakan wajib lapor, Mujianto datang sendiri ke Kejatisu. “Dia sendiri yang datang tidak boleh diwakili,” ucap Sumanggar.

Sumanggar mengatakan, bila penangguhan terhadap Mujianto dilakukan, berdasarkan pertimbangan medis. “Yang pertama mungkin karena rekam medis dari Rumah Sakit Mount Elisabeth dari Singapura. Kedua karena ada yang menjamin dari keluarga dan ketiga adanya uang jaminan Rp3 miliar,” sebutnya.

Sumanggar mengakui, bahwa kasus hukum yang menjerat Mujianto bakalan tetap diproses. Hanya saja, saat disinggung kapan mulai diproses, Sumanggar tidak bisa memastikannya.

“Diproseslah masa tidak diproses, kita tunggulah ya sabar. Masa berlaku penangguhannya tidak ada, tetapi dia (Mujianto) tetap kita awasi dilapangan,” pungkasnya.

Terpisah, pengamat hukum Julheri Sinaga, menanggapi penangguhan penahanan Mujianto yang dilakukan Kejatisu. Dia berpendapat, bahwa Kejatisu tidak profesional dalam menangani kasus ini.

“Alasan dilakukan penahanan itu yang pertama apabila dikhawatirkan melarikan diri. Yang kedua dikhawatirkan menghilangkan barang bukti, yang ketiga dikhawatirkan melakukan perbuatan yang sama. Yang jadi persoalan sekarang, ketika dikepolisiankan dia (Mujianto) sempat DPO. Jadi dengan DPO tersebut, seharusnya jaksa itu menjadikan dasar untuk melihat perkara ini secara utuh,” jelasnya.

Dia melanjutkan, yang paling utama harus mempertimbangkan azas persamaan di depan hukum. Untuk itu, dia sangat menyesalkan keputusan yang dilakukan Kejatisu. “Jangan karena punya uang, jangan karena orang kaya kemudian boleh melanggang kangkung pada hal sudah pernah DPO terus kasusnya ditangguhkan. Saya melihat kejaksaan tidak profesional dalam menangani perkara ini,” katanya.

Julheri khawatir, penangguhan penahanan yang diberikan kepada Mujianto, akan memperlambat proses hukum yang dijalani. Diapun menuding kejaksaan tidak serius.

“Di dalam undang-undang pokok kehakiman itu jelas ditegaskan peradilan yang cepat, sederhana dan biaya yang ringan. Dengan terulur-ulurnya inikan jaksa sudah mengangkangi undang-undang tersebut,” terangnya.

Diapun menyinggung ke khawatiran Mujianto bakal melarikan diri kembali ke luar negeri. Sebab, katanya, dengan jaminan yang diberikan kepada Kejatisu dirasa belum cukup mengingat Mujianto pernah melarikan diri.

“Apa dengan keluarganya menjamin, terus perbuatannya bisa diwakilkan tidak. Apa sanksinya bagi yang menjamin rupanya, kan gak bisa dipenjara dia gara-gara menjamin orang. Oke uang Rp3 miliar, berapa kali rupanya uang segitu? Tapi nilai-nilai penegakan hukum dan rasa keadilan masa dihargai dengan uang 3 miliar. Kejaksaan kan sudah mempertaruhkan penegakan hukum hanya untuk Mujianto,” urainya.

Untuk itu, dia meminta kepada kejaksaan untuk bertindak profesional agar tidak menjadi contoh buruk bagi penegakan hukum kedepan. “Secara khusus di Sumatera Utara ataupun secara umum seluruh indonesia. Untuk itu kita berharap kejaksaan lebih serius menangani perkara ini,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Mujianto dilaporkan Armen Lubis sesuai STTLP/509/IV/2017 SPKT “II” tertanggal 28 April 2017 atas kasus penipuan dengan kerugian material sebesar Rp3,5 miliar. (man/azw)

Joko Santoso: Jadilah Tuan di Negeri Sendiri

PUKUL GONG: Jenderal TNI (Purn) Joko Santoso memukul gong tanda dibukanya secara resmi seminar Prakongres Boemipoetra Nusantara Indonesia Bagian Barat di Garuda Plaza Hotel Medan, Selasa (11/9).
PUKUL GONG: Jenderal TNI (Purn) Joko Santoso memukul gong tanda dibukanya secara resmi seminar Prakongres Boemipoetra Nusantara Indonesia Bagian Barat di Garuda Plaza Hotel Medan, Selasa (11/9).

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Ribuan masyarakat antusias mengikuti seminar Prakongres Boemipoetra Nusantara Indonesia Bagian Barat, yang digelar di Garuda Plaza Hotel Medan, Selasa (11/9). Seminar yang dihadiri tokoh-tokoh nasional, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan berbagai organisasi kepemudaan serta organisasi masyarakat di Kota Medan ini, juga menampilkan pembicara dari akademisi dan para praktisi, termasuk Jenderal TNI (Purn) Joko Santoso, Ichsanudin Noorsy, Marzuki Ali, dan Ratna Sarumpaet.

Dalam kesempatan itu, Jenderal TNI (Purn) Joko Santoso mengatakan, dengan masuknya liberalisasi memicu munculnya kapitalisme yang sekarang ini sedang dihadapi bersama. Menurutnya, zaman dulu menjajah menggunakan peluru, sekarang pakai uang.

“Indonesia terancam. Ribuan pulaunya bisa saja hilang, karena banyak orang yang ingin menjarahnya. Maka dari itu, jadilah tuan di negeri sendiri,” tegas Joko.

Lebih lanjut Ketua Tim Sukses Prabowo-Sandi ini, mengatakan, dalam memperjuangkan agar negara tidak terjarah, harus bisa membangun pemahaman serta melakukan konsolidasi nasional. ”Sekarang ini rakyat makin susah. Makanya, agar kesejahteraan dan keadilan bisa dirasakan, haruslah kembali ke UUD 1945 Pasal 33. Seandainya yang berkuasa tidak terima, tapi kita harus terus berteriak,” kata mantan Panglima TNI ini.

Ia juga mengingatkan dan mengajak para peserta seminar, agar memilih pemimpin yang Pancasilais dan harus kritis serta berpikir cerdas, sebab jika salah pilih pemimpin, negara ini akan punah.

Sementara itu, Ketua Majelis Syuro DPP Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban, yang juga hadir dalam acara tersebut, saat ditanya soal Pilpres 2019, ia dengan tegas mengatakan, PBB akan memilih pemimpin yang berpihak kepada umat, sesuai dengan ijtima ulama.

Bahkan ia juga mengaku, perintah Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra, kepada seluruh kader PBB sudah jelas, tidak akan memilih Jokowi di ajang Pilpres 2019 mendatang. “Ucapan Pak Yusril itu kan sudah jelas. Seandainya yang bertarung di Pilpres Jokowi melawan kotak kosong, maka kader PBB akan menyoblos kotak kosong,” tegasnya Kaban.

Pemerintah sekarang ini, menurut Kaban, hanyalah melanjutkan komitmen-komitmen yang dirancang oleh blok-blok kapitalis, dan jika harus bekerja sama dengan pihak lain, hendaknya memikirkan juga siapa yang harus diuntungkan terlebih dulu dalam hal tersebut. ”Sumber daya alam semua berpihak ke perusahaan. Makanya bagi siapa yang bakal jadi presiden nantinya, harus berpikir untuk menaikan derajat pribumi demi kepentingan Indonesia,” harapnya, yang juga merupakan inisiator acara tersebut.

Sebelumnya, Ketua Panitia Wilayah Sumut Masri Sitanggang, didampingi Ketua Panitia Nasional Prakongres Boemipoetra Nusantara Muhardi Zainudin, menjelaskan latar belakang dilaksanakannya seminar tersebut. “Di usia 73 tahun kemerdekaan RI, ternyata negara kita masih banyak persoalan-persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua elemen masyarakat, terutama persoalan keadilan dan kesejahteraan, yang justru kian jauh dari cita-cita founding father,” jelasnya.

Hal ini tercermin dari penguasaan sumber daya alam yang hanya dinikmati oleh segelintir orang. Sebanyak satu persen orang kaya di Indonesia menguasai 46 persen kekayaan Indonesia. Selain itu, sumber-sumber penghidupan yang strategis, seperti energi, pangan, air, tanah, dan finance telah dikuasai asing.

Melalui seminar Prakongres Boemipoetra Nusantara Indonesia yang bertajuk ‘Boemipoetra Pendiri NKRI, Boemipoetra Pemilik NKRI, dan Boemipoetra Penguasa NKRI’ ini, lanjut Masri, ingin mengungkapkan dan menegaskan kembali, peran, hak, dan kewajiban Boemipoetra dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk menyikapi secara kritis dan komperhensif permasalahan yang terjadi saat ini, khususnya kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin tajam.

”Selain itu, tujuannya juga menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat luas, boemipoetra merupakan pendiri, pemilik, penguasa NKRI, dan mewujudkan kekuasaan boemipoetra Nusantara Indonesia pada setiap dimensi astra gatra nasional,” pungkasnya. (adz/saz)

Semoga Mampu Membangun Pasar Modern

KOMPAK: Ketua DPP P4B, Suwarno bersama Gubsu Edy Rahmayadi, kompak bersalaman dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. P4B berharap Gubsu membangun pasar moderen.
KOMPAK: Ketua DPP P4B, Suwarno bersama Gubsu Edy Rahmayadi, kompak bersalaman dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. P4B berharap Gubsu membangun pasar moderen.

SUMUTPOS.CO – Kehadiran gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara yang baru, memang menumbuhkan harapan baru terutama bagi kalangan pedagang. Selama masa kepemimpinannya, Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah (Ijeck) diharapkan mampu membangun pasar percontohan modern di Kota Medan.

“Medan sebagai ibukota Provinsi Sumut, tentu cocok dijadikan rule model dari daerah-daerah lain untuk mewujudkannya. Pasar tradisional modern ini perlu dibangun sebagai contoh bahwa stigma yang ada di masyarakat bahwa pasar itu semrawut kumuh, jorok, dan kotor tidak selamanya benar,” ujar Ketua DPP Pelindung Persaudaraan Pedagang Pasar Bersatu (P4B), Suwarno didampingi Sekretaris Rahmad Syah Ramadhan Harahap kepada Sumut Pos, Selasa (11/9).

Menurut Bang Warno, sapaan akrabnya, sistem percontohan pasar modern penting dilakukan dengan harapan terjadi peningkatan kesejahteraan pedagang. Dengan demikian, kata dia masyarakat kembali pada fitrahnya dimana senang berbelanja ke pasar tradisional ketimbang swalayan maupun pusat perbelanjaan modern seperti mall. “Kita tahu bahwa sejak dahulu pajak (pasar) merupakan tempat transaksi yang disukai masyarakat. Sebab masih ada tawar menawar harga yang tidak didapatkan ketika berbelanja di mall atau swalayan,” ungkapnya.

Atas dasar itu, apalagi P4B memang mendukung penuh pasangan dengan akronim Eramas saat Pilgub Sumut lalu, merasa perlu mengingatkan janji-janji kampanye Edy-Ijeck. Dimana siap merangkul aspirasi kaum pedagang di Sumut terkhusus Kota Medan, dengan membenahi semua infrastruktur pasar tradisional secara optimal. Melalui kewenangan yang dimiliki sebagai Gubsu-Wagubsu itulah, kata Bang Warno, Edy-Ijeck dapat menyinkronkan program kerjanya ke depan dan juga mendorong wali kota/bupati di Sumut untuk merealisasikan hal dimaksud.

“Sampai saat ini Kota Medan sebagai ibukota provinsi belum memiliki pasar yang layak dan bisa diandalkan. Terkesan semua pekerjaan yang dilakukan dalam hal pembenahan pasar, jadi ajang ‘bagi-bagi kue’ untuk oknum tertentu tanpa memikirkan kebutuhan para pedagang. Lihat saja bagaimana mangkraknya pembangunan Pasar Kampung Lalang sampai persoalan Pasar Marelan yang dijadikan ajang bisnis tanpa mengindahkan aturan yang sah,” ungkapnya.

Rahmat Harahap menambahkan, selain pembenahan pasar, Edy-Ijeck diharapkan mampu mewujudkan visi dan misinya melakukan perbaikan di bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur jaringan jalan serta pembangunan lainnya sesuai kebutuhan. Sehingga Sumut bermatabat seperti nawacita keduanya mampu dirasakan masyarakat Sumut semasa kepemimpinan mereka.

“Kita benar-benar berharap Pak Edy dan Bang Ijeck mampu mewujudkan pembenahan terhadap Provinsi Sumut sesuai visi dan misinya secara bertahap dari berbagai bidang baik ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan hingga infrastruktur,” katanya.

Pihaknya juga berharap persoalan kesehatan dan pendidikan bisa menjadi fokus utama agar tidak ada lagi ditemukan anak kekurangan gizi hingga tidak memiliki biaya untuk mendapatkan layanan kesehatan. “Baru-baru ini publik dikejutkan adanya peristiwa tiga anak sekolah terbawa arus di Nias. Ini akibat tidak adanya jalan di wilayah itu hingga harus menyebrang sungai. Jadi kita harapkan agar seluruh pemangku kepentingan di setiap daerah bisa melaporkan wilayahnya sehingga porsi anggaran itu bisa diperjuangkan secara bersama-sama,” katanya.

Begitupun di sektor kesehatan yang dirasakan masih mahal dan belum dinikmati seutuhnya oleh masyarakat. “Harapannya Pak Edy bisa membuat kebijakan yang bisa meringankan masyarakat ketika berobat. Dipundak Pak Edy dan Bang Ijeck pula kita berharap jangan ada lagi anak-anak yang putus sekolah dan tidak sekolah lantaran tidak punya biaya,” ujarnya. (prn/ila)

Rp15 Miliar Masih Menggantung

Foto: dok Massa honorer K2 unjuk rasa menuntut diangkat menjadi CPNS-Ilustrasi
Foto: dok
Massa honorer K2 unjuk rasa menuntut diangkat menjadi CPNS-Ilustrasi

MEDAN,SUMUTPOS.CO – Para guru honorer di Kota Medan sepertinya harus bersabar untuk menerima bantuan insentif tahun 2018. Sebab, dana bantuan sebesar Rp15 miliar yang diusulkan Banggar DPRD Medan belum bisa dicairkan lantaran terkendala landasan atau payung hukum alias masih mengatung.

Anggota Banggar DPRD Medan H Jumadi mengungkapkan, bantuan insentif untuk guru honorer merupakan usulan inisiatif dari pihaknya. Usulan tersebut diajukan karena prihatin dengan gaji mereka yang masih banyak di bawah standar atau upah minimum kabupaten/kota (UMK).

“Insentif guru honor merupakan usulan legislatif dan tak memiliki landasan hukum, makanya tak bisa langsung dicairkan. Apalagi, mekanisme dalam pembagiannya kita belum tahu dan nomenklaturnya juga belum ada,” kata Jumadi yang ditemui, Senin (10/9).

Diutarakan Jumadi, insentif ini sifatnya bukan menjadi kebutuhan tetapi bantuan. Akan tetapi, apabila yang mengusulkan dari Pemko Medan dalam hal ini Dinas Pendidikan tentu langsung disetujui DPRD Medan dan anggarannya bisa dicairkan. “Dengan bantuan itu, harapannya berarti ada kepedulian atau perhatian Pemko Medan terhadap guru honor,” tuturnya.

Namun demikian, sambung anggota Komisi B ini, pihaknya terus mendorong agar insentif tersebut dapat segera dicairkan. Oleh karena itu, nantinya diusulkan pada P-APBD 2018 dan harapannya pada bulan Oktober bisa disalurkan.”Makanya kita desak Dinas Pendidikan (Disdik) Medan untuk mengusulkan insentif tersebut pada P-APBD 2018 nanti, karena uangnya sudah ada. Selain itu, data terhadap guru honor harus juga rampung berapa jumlah keseluruhannya,” kata Jumadi.

Menurut dia, mekanisme pembagian insentif ini cukup mudah. Sebagai contoh, total guru honor (SD dan SMP) di Medan mencapai 1.400 orang. Total ini dikalikan 12 (jumlah bulan dalam setahun) lalu dibagi Rp15 miliar. Akan tetapi, bila insentif yang diberikan kurang layak tentu diusulkan untuk ditambah.

“Kita ingin bagaimana guru honor di Medan mendapatkan upah sesuai dengan UMK. Disdik Medan sendiri telah menerima dan mendukung usulan insentif kepada guru honor,” tutur anggota dewan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini.

Ia menambahkan, bantuan insentif ini bisa dibilang masih tahap pertama. Sebab, belum terkoreksi masa kerja guru honor yang akan menerima. Untuk itu, ke depan nantinya dikaji lagi pembagiannya berdasarkan pertimbangan pengabdian atau masa kerja. “Kurang layak juga kalau yang sudah 10 tahun mengabdi menerima insentif sama dengan yang baru 2 tahun menjadi guru honor,” paparnya.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Medan Ihwan Ritonga mengatakan, untuk meningkatkan kesejahteraan guru honor maka perlu dibuat semacam standarisasi. Paling tidak, ada pola yang diterapkan.”Kota Medan, karena masih menerima gaji sangat tidak manusiawi. Padahal, bagaimanapun guru itu adalah orang yang cukup berjasa dalam mencerdaskan anak bangsa tetapi mereka menerima gaji hanya berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu perbulan,” ujarnya.

Ihwan menuturkan, Pemko Medan diminta membuat kebijakan dalam rangka menyejahteraan guru honor. Salah satunya, dengan mengusulkan insentif dalam P-APBD 2018. “Harus diusulkan bantuan insentif kepada guru honor, sehingga mereka dapat menerima upah yang layak,” pungkasnya. (ris/ila)