Home Blog Page 6070

SUAP GUBSU GATOT

 JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menahan eks anggota DPRD Sumut. Kemarin (7/8), giliran Elezaro Duha yang ditahan lembaga antirasuah tersebut. Elezaro merupakan tersangka ke-11 yang sudah ditahan KPK.

Elezaro keluar dari Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, mengenakan rompi tahanan warna oranye. Dia tak memberi keterangan apa pun terkait kasusnya. Elezaro langsung masuk ke mobil tahanan. “Tanya penyidik saja,” ujarnya.

Dia ditahan di rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur. Penahanan dilakukan untuk 20 hari pertama. “ELD (Elezaro Duha) ditahan 20 hari pertama di rutan cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Sebenarnya kemarin, KPK memanggil 4 orang tersangka, yakni MDH (Musdalifah), TMP (Tahan Manahan Panggabean), dan PD (Pasiruddin Daulay). Namun ketiganya tak hadir.

Sehari sebelumnya, Senin (6/8), KPK memfokuskan pemeriksaan terhadap tersangka Helmiati (HEI) yang ditahan KPK pada 9 Juli 2018 lalu, dengan memanggil seorang saksi, yakni staf Pansus PAD DPRD Sumut Ayu Apriani. “Yang berkaitan diperiksa sebagai saksi tersangka HEI,” ujar juru bicara KPK Febri Diansyah.

Sebelumnya, KPK pada 3 April 2018 telah mengumumkan 38 anggota DPRD Sumut sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi memberi atau menerima hadiah terkait fungsi dan kewenangan anggota DPRD Sumut 2009-2014 dan/atau 2014-2019. Ke-38 anggota DPRD Sumut 2009-2014 dan/atau 2014-2019 tersebut diduga menerima hadiah atau janji dari Gubernur Sumatera Utara saat itu, Gatot Pujo Nugroho.

Pertama, terkait persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemprov Sumut Tahun Anggaran 2012-2014 oleh DPRD Provinsi Sumut. Kedua, persetujuan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sumut Tahun Anggaran 2013 dan 2014 oleh DPRD Provinsi Sumut.

Ketiga terkait pengesahan APBD Provinsi Sumut Tahun Anggaran 2014 dan 2015 oleh DPRD Provinsi Sumut. Terakhir, terkait penolakan penggunaan hak interpelasi oleh DPRD Provinsi Sumut pada 2015. (bbs/adz)

5.750 Mahasiswa Meriahkan Harmoni Indonesia

MEDAN,SUMUTPOS.CO-Sebanyak 5.750 Peserta memeriahkan pagelaran Harmoni Indonesia 2018 dalam rangka menyambut perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 dan menyambut pelaksanaan Asian Games 2018.

Acara berlangsung di Stadion Mini Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Minggu (5/8) pagi. USU sendiri, ditunjuk sebagai titik kumpul pagelaran Harmoni Indonesia 2018 untuk Kota Medan. Acara tersebut dilaksanakan secara serentak di 49 kota lainnya di Indonesia dan beberapa kota besar di luar negeri ikut melaksanakan hal yang serupa.

“Adapun esensi kegiatan ini, terpentingnya adalah untuk merajut rasa kebangsaan dan memperkokoh kembali kesatuan bangsa,” kata Rektor USU Prof Dr Runtung Sitepu SH MHum dalam sambutannya pada acara tersebut.

Runtung menilai selama beberapa tahun terakhir menemui tantangan yang cukup berat, yang seringkali menjurus pada potensi perpecahan dan konflik beraroma SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan). “Dengan Pagelaran Harmoni Indonesia 2018 ini diharapkan semoga kerukunan dan persatuan kesatuan di antara unsur-unsur kemajemukan bangsa dapat utuh dan harmonis kembali,” ujar Runtung di hadapan ribuan peserta.

Harmoni Indonesia 2018 kali ini diikuti oleh 5.750 peserta yang berasal dari berbagai 18 PTN dan PTS yang ada di Kota Medan serta BPOM Sumut. Adapun PTN/PTS tersebut, yakni USU, Polmed, Unimed, UISU, UMA, AMIK Medicom, Inkes Medistra, STIKES Mitra Husada.

Kemudian, Universitas Panca Budi, UMSU, UHN, Universitas Quality, STIKES Santa Elisabeth, Politeknik LP3I Medan, UNPRI, STIKES AUDI Husada, Yaspen Harapan M, ATKP Medan, UPT Perhubungan Belawan.

“Selain itu, Harmoni Indonesia 2018 juga didedikasikan untuk menyambut, memaknai, dan menyemarakkan perayaan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia danmenyemangati penyelenggaraan dan kesuksesan Asian Games 2018,” jelas Runtung.

Ia menjelaskan acara Harmoni Indonesia 2018 ini merupakan ajang berkumpul dan bernyanyi bersama lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan, yang diselenggarakan secara serentak secara nasional. (gus/azw)

Polres Binjai Diminta Profesional Tangani Kasus Dana Hibah OKP

BINJAI-Sejumlah kalangan pemerhati hukum dan masyarakat mengharapkan Polres Binjai profesional dalam melakukan penyelidikan kasus dugaan penyelewengan dana hibah terhadap Organisasi Kepemudaan (OKP). Selain itu, penyidik Tipkor Polres Binjai juga diminta untuk mengabaikan bila ada intervensi-intervensi dari siapapun, demi terkuaknya dugaan penyelewengan dana hibah tersebut.

Direktur Eksekutif LSM P3H Sumut, Jaspen Pardede berharap, penyidik dapat mengungkap adanya temuan dalam penyaluran dana hibah yang ditangani KNPI Binjai. Soalnya, diduga ada ketidaksesuaian dalam ketentuan penyalurannya untuk OKP penerima dana hibah. “Jangan merasa sungkan walaupun Ketua KNPI ini disebut-sebut keponakan Wali Kota Binjai,” kata Jaspen, baru-baru ini.

Jaspen juga berharap, penyidik harus lebih serius melakukan pemeriksaan dan tidak mengorbankan orang yang tidak bersalah.

“Dalam memproses kasus dana hibah KNPI ini, hendaknya Kapolres Binjai berani mengungkap dugaan penyimpangan uang negara ini. Kalau salah, katakan salah, jangan yang salah tidak berani mengatakan salah. Kita minta Kapoldasu memantau kinerja Polres Binjai ini,”harap Jaspen.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Binjai, AKP Hendro Sutarno mengaku pihaknya masih melakukan penyelidikan hingga mendalami bukti-bukti. Bahkan pihaknya juga telah memanggil Ketua KNPI Binjai Arif Rahman Nasution untuk diambil keterangannya dalam kasus dugaan penyelewengan dana hibah tersebut. Selain itu, pihaknya juga telah memeriksa 20 orang yang tergabung dalam wadah KNPI. (ted/han)

BIAYA BACALEG MEMPEREBUTKAN KURSI DPRD MEDAN

SUMUTPOS -Modal yang disiapkan bakal calon legislatif (Bacaleg) memperebutkan kursi DPRD Medan pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, lumayan besar. Sejumlah bacaleg yang diwawancarai mengaku menyiapkan dana hingga ratusan juta. Paling minim mencapai Rp500 juta. Paling besar Rp1,5 miliar. Modal itu dianggap senilai dengan penghasilan yang akan mereka dapat selama menjadi anggota dewan selama satu periode (5 tahun).

BACALEG pendatang baru dari Partai Demokrat, Pangeran, misalnya mengaku telah menyiapkan dana hingga Rp500 juta untuk ongkos politiknya. “Dana kampanye yang disiapkan sekitar Rp300 juta hingga Rp500 juta. Sebab, harus melakukan sosialisasi membentuk tim sukses, alat peraga kampanye dan sebagainya,” sebutnya, Selasa (7/8). Ia maju di Dapil V (Medan Sunggal, Medan Selayang, Medan Tuntungan, Medan Johor, Medan Polonia dan Medan Maimun).

Pangeran mengaku optimis dapat terpilih dan akan duduk di kursi legislatif. Sebab, dapil yang dipilihnya merupakan wilayah sehari-hari. “Saya tinggal (di Medan Selayang) dan beraktivitas di wilayah Dapil V, maka dipilih dapil itu ketimbang dapil lain. Selain itu, mengetahui juga persoalan pembangunan yang terjadi di masyarakat,” ucap dia.

Lain halnya dengan Rajuddin Sagala, caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Medan yang maju di Dapil I. Pria yang masih duduk di kursi DPRD Medan ini mengaku tak membuat persiapan atau alokasi khusus untuk dana kampanye.

“Saya sudah sampaikan ke partai bahwasanya tidak akan mau mengeluarkan uang banyak untuk menjadi anggota dewan. Bahkan, pada periode Pileg sebelumnya hanya habis uang pribadi Rp5,5 juta untuk mencetak brosur biodata. Jadi, tidak ada alokasi anggaran khusus,” katanya.

Rajuddin menuturkan, ia tak memiliki tim sukses untuk memuluskan langkahnya memenangkan Pileg 2019 nanti. “Kalau dari PKS, partai yang mensubsidi calegnya untuk dana kegiatan kampanye. Sebab, gaji kami dipotong oleh partai sekitar 40 persen perbulan (dari Rp50 jutaan),” bebernya.

Disebutkan Rajuddin, gaji yang dipotong untuk partai tidak hanya digunakan sebagai ongkos politik saja. Melainkan, digunakan untuk dana sosial seperti ambulans, membantu orang sakit dan anak sekolah yang kekurangan biaya serta lainnya.

Tak jauh beda disampaikan Dame Duma Sari Hutagalung, caleg dari Partai Gerindra. Wanita yang kini masih duduk di kursi DPRD Medan ini menyebutkan, dana yang disiapkannya tidak sampai Rp1 miliar. “Periode Pileg sebelumnya (2014) disiapkan dana sekitar Rp500 juta hingga Rp600 juta. Kemungkinan untuk periode ini (2019) tak jauh beda mudah-mudahan,” akunya sembari menyebut uang hingga Rp600 juta itu digunakan untuk kegiatan kampanye, spanduk, baju dan lain sebagainya.

Angka paling besar disiapkan bacaleg petahana untuk DPRD Kota Medan, Godfried Effendi Lubis. Godfried mengaku sudah menyiapkan dana kampanye hingga Rp1,5 miliar. “Menjadi caleg memang butuh modal besar, jadi saya siapkan dana sekitar Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar,” kata bacaleg Perindo yang lompat pagar dari Gerindra ini.

Dikatakan Godfried, dana yang disiapkan tersebut nominalnya meningkat dibanding periode sebelumnya (2014). Di mana ketika itu ia hanya menghabiskan uang Rp700 jutaan. “Sebenarnya modal dana kampanye itu relatif. Kalau tahun ini lebih besar wajar saja, karena setiap tahun harga kebutuhan terus meningkat. Jika dianalogikan setiap tahun dihitung naik 10 persen, maka lima tahun kemudian menjadi 50 persen peningkatannya,” tutur pria yang masih duduk di Komisi IV DPRD Medan ini.

Dia juga mengaku, dalam menyiapkan ongkos kampanye itu, tidak menggunakan jasa konsultan anggaran, lantaran sudah memiliki pengalaman panjang yang aktif di dunia politik. Mulai dari PDI Perjuangan, Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Gerindra, dan Perindo. “Saya cukup lama belajar di partai, di PDI Perjuangan saja sekitar 20 tahunan. Jadi, bukan serta merta instan,” ucapnya.

Godfried menyebutkan, dana kampanye yang akan dikeluarkan merupakan hasil tabungan dan istri juga sudah sepakat atau merestui. Termasuk, pindah partai dari Gerindra ke Perindo. “Uang yang disiapkan untuk kampanye dari hasil tabungan selama beberapa tahun belakangan. Tahu sendirilah kalau perempuan orang Batak suka menyimpan emas. Tapi yang jelas, kalah atau menang nantinya uang itu pasti digunakan,” bebernya.

 

Tak Bakal Tekor

Tidak ada istilah tekor bagi bakal calon legislatif (Bacaleg) yang menang di kursi DPRD Medan. Pasalnya, penghasilan yang mereka dapat selama menjadi anggota dewan dinilai sangat bisa mengembalikan ‘modal’ yang mereka keluarkan selama masa kampanye. Tekor hanya berlaku bagi bacaleg yang gagal duduk.

Pengamat Anggaran, Elfenda Ananda menilai, Bacaleg petahana akan lebih diuntungkan dari sisi biaya, ketimbang calon baru dalam pertarungan Pileg. Sebab, calon petahana sudah memiliki instrumen, perangkat dan jaringan yang kuat sehingga tidak sulit mendapat simpati ataupun suara rakyat.

“Apalagi dari aspek keuntungan finansial, tidak ada istilah tekor bagi semua bacaleg yang bertarung. Malah jika harus dibandingkan dengan pendapatan seorang anggota dewan selama satu periode menjabat, modal tersebut akan bisa kembali lagi,” ungkap Elfenda menjawab Sumut Pos, Selasa (7/8).

Terlebih, lanjut mantan Sekretaris Eksekutif Forum Independen Transparansi Anggaran (Fitra) Sumut ini,  di periode 2014-2019, kesejahteraan untuk legislatif itu jauh lebih baik dibanding periode-periode sebelumnya. “Tunjangan-tunjangan untuk mereka sudah begitu diperhatikan pemerintah,” ungkapnya.

Pada prinsipnya, hemat Elfenda, Pileg adalah pertarungan strategi untuk mendapat simpati rakyat. Sepanjang calon tidak punya masalah dan melukai hati rakyat, antara petahana dan calon baru jauh lebih besar keuntungan petahana. “Sebab dari sisi ‘amunisi’ caleg petahana itu diuntungkan. Sudah punya modal seperti jaringan, perangkat dan sumber keuangan yang terukur. Sebaliknya, bagi calon baru, meskipun dia punya jaringan dan sumber pendanaan yang kuat, tingkat popularitas dan elektabilitasnya belum sebaik petahana,” katanya.

Selain itu, lanjut Elfenda, kerja-kerja yang sudah dilakukan Bacaleg petahana dengan memanfaatkan fasilitas negara, mempermudah akses menguatkan jaringan dan menambah konstituen, sudah dilakukan selama satu periode. Sedangkan bagi calon baru, meski sudah punya jaringan luas dan pengalaman yang dimiliki, juga disokong pendanaan lumayan, mesti kerja lebih keras merebut simpati rakyat. “Kecuali calon petahana di dapil tertentu itu ‘cacat’, seperti pernah membohongi rakyat atau bermasalah hukum, tentu bisa menguntungkan calon baru. Ini yang kemudian berakibat masyarakat di daerah tersebut tidak percaya dengan calon itu,” ungkapnya.

Pun demikian, ia menilai setiap calon baru yang ingin maju tentu sudah punya hitung-hitungan matang. Baik dari sisi jaringan yang mereka miliki, pengalaman, kemampuan pribadi dan juga finansial sehingga mampu dengan baik menyosialisasikan diri kepada masyarakat. “Pembuktian ini akan kita lihat bersama pada hasil Pileg mendatang. Dan kembali kepada masyarakat kita yang kian cerdas memilih wakil rakyatnya,” katanya.

Lantas bagaimana soal keuntungan finansial yang akan mereka dapatkan selama menjabat dengan biaya kampanye sebelum terpilih? Elfenda tak bisa mengurai secara detil, karena hal tersebut tergantung pola atau strategi pemenangan yang dimainkan oleh setiap calon. “Saya pikir kalau bakal calon cerdas memanfaatkan jaringan dan modal sosial yang luas, meski dia calon baru nilainya tidak begitu besar dikeluarkan. Apalagi untuk tingkat Kota Medan yang cuma antar kecamatan untuk bersosialisasi. Nah di tingkat Sumut, juga tergantung sebaran kabupaten/kota tempatnya bertarung. Semakin luas sebaran daerahnya maka semakin besar pula cost yang akan dikeluarkan,” katanya.

Hal senada diungkapkan akademisi dari USU, Bimby Hidayat. Menurutnya, sosok calon sangat menentukan dan berpengaruh besar untuk merebut hati rakyat dalam kontestasi nanti. Terlebih bagi calon yang memang sudah terbukti dan teruji kinerjanya ditengah masyarakat. “Masyarakat tentu akan lebih senang memilih calon yang sudah berbuat untuk mereka. Bukan sekadar mengandalkan ketokohan dan uang banyak untuk membeli suara masyarakat. Sebab sekarang ini rakyat mulai cerdas berpolitik,” katanya.

Integritas personal setiap bakal calon, kata Bimby, memang penting diutamakan ketimbang aspek lain. Sebab ketika integritas tergerus dengan sesuatu berbau hukum, maka masyarakat tidak akan mau memercayai calon yang maju. “Apalagi yang kita tahu walaupun pindah partai, orang yang maju itu-itu juga. Sosok yang sudah dikenal, sudah berbuat dan punya basis massa yang jelas. Akan sulit bagi calon baru pada dapil yang sama menyaingi calon petahana. Terkecuali memang si petahana tidak maju lagi dari dapil itu, atau pernah berbuat kesalahan pada masyarakat di tempatnya maju,” katanya.

Mengenai pendanaan setiap bacaleg, hemat dia, tergantung dari kemampuan yang sudah diperhitungkan dengan matang sebelumnya. Karena tidak selamanya kekuatan uang menjamin seseorang sukses menjadi wakil rakyat.

“Logikanya kan begini, tidak mungkin seseorang itu ingin maju sebagai caleg jika tidak untung setelah menjabat selama lima tahun. Katakanlah walau untungnya tipis, ketika dia hendak mencalon lagi kan aksesnya sudah ada. Dia tidak susah lagi membina konstituen lamanya. Bahkan bisa menambah basis massa dan jaringan baru,” ujarnya.

Pembiayaan kampanye, blusukan dan sosialisasi kepada masyarakat, menurutnya memang dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tapi bagi calon yang cerdas dan sudah memetakan potensi suaranya, modal kecil juga dianggap bisa efektif untuk duduk sebagai legislator. “Paling tidak harus tersedia minimal Rp300 juta untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Itu pun sudah minim sekali angkanya. Anggaplah Rp200 juta untuk bersosialisasi selama kampanye, dan Rp100 juta untuk membayar saksi mengawal suaranya di TPS,” katanya. (prn/ris)

Sriwijaya Berharap Tuah Agus Salim

jawa pos KETERANGAN: Subangkit dan Lee Hyun Koo saat memberi keterangan.
jawa pos
KETERANGAN: Subangkit dan Lee Hyun Koo saat memberi keterangan.

Sriwijaya FC akan menjamu Madura United di Stadion H. Agus Salim, Padang, Sabtu (11/8). Pada duel tersebut, Laskar Wong Kito kembali berharap tuah dari stadion milik Semen Padang tersebut.

Saat menjamu Borneo FC di pekan ke-18 Liga 1 2018, tim berjuluk Laskar Wong Kito sukses petik kemenangan 1-0 Kemenangan itu penting karena mampu sudah tren buruk di dua pertandingan sebelumnya di Liga 1. Karena sebelum menang atas Borneo, Yu Hyun Koo dkk takluk masing-masing 0-3 atas Arema FC dan Mitra Kukar.

Pelatih Sriwijaya FC, Subangkit berharap, tuah Stadion H. Agus Salim bisa kembali dirasakan saat tim asal Kota Pempek ini menjamu Madura United, Sabtu (11/8) nanti.

Tuah sangat diharapkan karena Madura United bukan tim abal-abal. Dengan segudang pemain top dimiliki, tim asal Kota Garam tersebut menguntit Persib Bandung di puncak klasemen.

“Kami butuh tuah Stadion H. Agus Salim. Semoga bisa kembali menang di Padang karena poin sangat penting untuk koreksi posisi di klasemen apalagi status di laga ini tetap partai home meski di Padang,” terang Subangkit.

Mantan pelatih PSIS Semarang ini menyadari, untuk memenangkan pertandingan tidak hanya butuh tuah. Kerja sama antarpemain juga sangat dinantikan. Apalagi, sebagian besar pemain yang dimainkan di dua pertandingan terakhir mayoritas spesialis cadangan.

Hanya Manuchehr Jalilov, Esteban Vizcarra, Nur Iskandar, dan Teja Pakualam yang sering mendapatkan menit main di era Rahmad Darmawan.

“Hampir 80 persen pemain yang jadi andalan ini kan jadi cadangan di pertandingan putaran 1. Ini menjadi pekerjaan tersendiri bagi saya untuk menekankan kekompakan tim. Jujur, dengan situasi itu mereka butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” jelasnya.

Arsitek asal Jawa Timur ini berharap, dua pertandingan di bawah kendalinya sudah bisa memunculkan harapan menang.

“Dari dua pertandingan sudah ada perkembangan positif karena mereka pemain profesional dan tidak ada masalah dengan fisik. Hanya pemahaman Ganti ke saja yang perlu diasah. Semoga waktu sepekan lawan Madura cukup untuk menebalkan kekompakan tim,” jelasnya. (kmd/ion/jpnn/don)

Kuliner Menambah Keakraban

SENYUM: Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Zulfakhri Ahmadi dan isteri tersenyum bahagia.
SENYUM: Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Zulfakhri Ahmadi dan isteri tersenyum bahagia.

MEDAN- Untuk menghilangkan rasa penat dalam sehari penuh bekerja, Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Medan, Zulfakhri Ahmadi, S.Sos ada cara dalam menghilangkan penat tersebut. Cara yang dilakukan dengan menikmati kuliner yang ada di Kota Medan bersama keluarga tercinta. Pasalnya, menikmati kuliner bersama keluarga mengingat akan Ayahnya yang sudah Almarhum bernama H. Ahmadi.

“Inilah cirri khas dalam menghilangkan penat keseharian dalam bekerja. Sebab, dengan cara menikmati kuliner kecapekan dan kejenuhan akan hilang,”bilang Zulfakhri Ahmadi, kemarin.

Biasanya untuk menikmati kuliner bersama keluarga dilakukan saat hari biasa dan lokasinya tidak jauh dari lokasi rumahnya di sekitaran Jalan Ringroad. “Kalau sehari-hari ada waktu. Kita pergi makan malam bersama istri dan anak-anak di kawasan kuliner,”katanya.

Namun, bila hari libur panjang. Kebiasanya bersama keluarga untuk menikmati kuliner itu di daerah Kampung Halaman yakni di Langkat. “Untuk menikmati kuliner di Langkat itu biasanya kita melakukan makanan khas yang ada di Langkat,”ungkap suami dari Erina Mailany, SE ini.

Tapi, baginya makanan kuliner yang disukai itu ada-lah Ikan Bakar. Sedangkan, anak-anak menyukai makanan seperti burger dan spageti serta lainnya. “Kalau saya pribadi suka makanan kuliner itu adalah Ikan Bakar. Karena dengan memakan ikan bakar yakni Ikan Bakar Kakap dan Nila akan teras sedang dinikmati dengan bumbu kecap pedasnya,”kata ayah dari Defa Muhammad Akbar, Davin Muhammad Al-Fajry dan Dinda Malika Azahra.

Kemudian, selain menikmati makanan kuliner bersama keluarga di luar, sambung pria yang hobi membuat kreasi tanaman indah itu dirinya juga tidak lupa untuk menikmati kuliner bersama keluarga di rumah. Biasanya, kuliner yang dinikmati di rumah itu adalah makan burger, roti bakar, sosis dan pisang bakar.

“Untuk memasak kuliner yang dinikmati langsung dibuat sendiri dan makanan lainnya,”katanya.

Lalu, disaat di rumah juga tidak lupa untuk memberikan pengajaran tentang Islam yakni dengan cara melaksanakan salat berjamaah di rumah bersama keluarga dan mengaji. Kemudian, kita juga tidak pernah melupakan anak-anak untuk mengajak terus melaksanakan salat lima waktu.

“Walaupun masih anak-anak. Yang namanya salat harus tetap kita ajarkan mulai dini. Sehingga, sesudah dewasa anak-anak terbiasa melakukan salat lima waktu,”katanya. (ris/ram)

Sudah Tiga Calhaj Asal Sumut Wafat

MAKKAH- Inalillahi wainailaihi rojiun. Jamaah calon haji (Calhaj) Embarkasi Medan yang wafat di Tanah Suci bertambah satu orang lagi. Kabid Dokumen Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan Eri Nofa mengatakan, jamaah atas nama Paisah Junaiddin Rangkuti Binti Junaiddin (60), meninggal pada Senin (6/8) pukul 14.03 WAS, di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah “Almarhumah tergabung dalam Kloter 03/MES, beralamat di Panyabungan Jae, Kabupaten Mandailing Natal, nomor manifes 042. Beliau wafat disebabkan Respiratory Diseases (saluran pernafasan) dan dimakamkan di Syar’i,” ungkap Eri, kepada wartawan, Selasa (7/8).

Eri Nofa menyampaikan, sampai kemarin (7/8) jamaah haji Embarkasi Medan yang wafat di Tanah Suci berjumlah 3 orang. Sebelumnya calhaj yang wafat atas nama, Bainah Banua Siregar Binti Banua Siregar Kloter 08/MES manifes 033 asal Tebing Tinggi wafat pada tanggal 5 Agustus 2018 pukul 10.20 WAS di KKHI Makkah disebabkan Respiratory Diseases.

“Seorang lagi calhaj yang wafat sebelumnya atas nama, Katio Abdul Majid Simanjuntak Bin Abdul Majid Simanjuntak Kloter 02/MES manifes 234 asal Kabupaten Asahan wafat pada 25 Juli 2018 pukul 14.15 WAS di KKHI Makkah di Cardiovascular Diseases,” tandasnya.

6 Tahun Liput Haji, Akhirnya Berangkat Haji
Sementara itu, Amran Bangun Pohan, seorang wartawan yang selama ini aktif meliput kegiatan jamaah haji di embarkasi Medan, akhirnya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini. Pria yang akrab disapa Ampo ini merupakan wartawan salah satu surat kabar harian terbitan Medan. Dia menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercintanya, tergabung dalam kloter 13 jamaah asal Kabupaten Deliserdang.

Menurut wartawan yang sudah puluhan tahun menggeluti profesi jurnalistik ini, ia menyetor BPIH pada tahun 2012. “Alhamdulah, setelah 6 tahun menunggu, akhirnya niat untuk menunaikan rukun Islam ke lima ke Tanah Suci dikabulkan Allah SWT,” kata Ampo terharu.

Sesaat sebelum bertolak ke Bandara Kualanamu, Ampo mohon doa restu kepada rekan-rekan wartawan di Asrama Haji Medan agar perjalanan ibadah hajinya dimudahkan Allah SWT dan dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik serta sekembalinya dari Makkah menjadi haji mabrur dan mabruroh. (man)

Perkuat Eksistensi, RFB Buka Kantor Cabang di Jogjakarta

ist TUMPENG: Kepala Cabang PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Jogjakarta Dewi Diananingrum memberikan potongan tumpeng pertama kepada Chief Business Officer PT RFB Teddy Prasetya saat pembukaan kantor PT RFB cabang Yogyakarta, Senin (6/8).
ist
TUMPENG: Kepala Cabang PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Jogjakarta Dewi Diananingrum memberikan potongan tumpeng pertama kepada Chief Business Officer PT RFB Teddy Prasetya saat pembukaan kantor PT RFB cabang Yogyakarta, Senin (6/8).

JOGJAKARTA- PT Rifan Financindo Berjangka (RFB), perusahaan pialang berjangka di bidang perdagangan berjangka komoditi (PBK) yang telah mendapatkan izin sejak tahun 2000, memperluas pasar lewat pembukaan kantor cabang di Jogjakarta, Senin (6/8). Berlokasi di Malioboro City, Sleman, peresmian kantor cabang RFB ke-10 ini dihadiri Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Stephanus Paulus Lumintang.

CBO RFB, Teddy Prasetya mengungkapkan, Jogjakarta adalah salah satu kota dengan wilayah agraris yang luas serta memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Selain itu Jogjakarta memiliki lebih dari 35.900 investor potensial berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia. “RFB tertarik melakukan ekspansi, karena para pelaku pasar modal adalah salah satu target market dari investasi komoditas berjangka.

Kami ingin berkontribusi dalam memperkuat eksistensi pasar PBK di Indonesia sekaligus memberi kesempatan kepada generasi muda kota Yogyakarta untuk menjadi pialang handal dan profesional,” papar Teddy.

Upaya ekspansi pasar RFB lewat kantor cabang terbaru ini juga tidak lepas dari besarnya potensi industri pialang berjangka di Tanah Air.

Untuk pengembangan kantor cabang Wilayah Yogyakarta, RFB mengalokasikan total investasi Rp10 miliar yang akan digunakan untuk infrastruktur kantor sebesar Rp5 miliar dan sisanya untuk modal kerja.

Kepala Cabang RFB Yogyakarta, Dewi Diananingrum menargetkan 100.000 lot transaksi dan 300 nasabah untuk tahun pertama Kantor Cabang Yogyakarta. Sementara untuk kinerja perusahaan secara keseluruhan, RFB mematok penambahan 3.000 nasabah baru dan total volume transaksi 1 juta lot di akhir tahun 2018. (rel/adz/ram)

Siar Tour Berangkatkan 61 Jamaah Haji Plus

ist/Sumut Pos SAMBUTAN: Direktur Operasional PT Siar Tour, Reza Pahlevi memberikan sambutan sebelum keberangkatan jamaah haji plus di Medan.
ist/Sumut Pos
SAMBUTAN: Direktur Operasional PT Siar Tour, Reza Pahlevi memberikan sambutan sebelum keberangkatan jamaah haji plus di Medan.

MEDAN,SUMUTPOS.CO– Siar Tour kembali membuktikan bahwa travel ini memang pantas untuk dipercaya oleh masyarakat. Bagi travel ini, memberikan pelayanan maksimal untuk perjalanan wisata rohani berupa haji dan umrah menjadi nilai yang berharga. Hal ini dibuktikan oleh Travel Siar Tour yang kembali memberangkatkan 61 jamaah haji plus ke tnaha suci, Senin (6/8) kemarin.

Direktur Operasional PT Siar Tour, Reza Pahlevi mengatakan, 61 jamaah tersebut terdiri dari 33 pria, dan 18 jamaah perempuan.

“Para jamaah ini berasal dari berbagai daerah, seperti Medan, Sibolga, dan Dumai,” ujarnya.

Dijelaskannya, program Haji Plus dari Siar Tour ini sudah menjadi pilihan masyarakat. Karena, komitmen Siar Tour yang memberikan pelayanan maksimal. Selain itu, ketepatan waktu bagi Siar Tour juga menjadi hal yang penting.

Oleh karena itu, dirinya berharap semoga jamaah haji plus kali ini mendapatkan mabrur, dan kondisi mereka tetap sehat berangkat hingga tiba di Kota Medan.

Sementara itu, Sutara, seorang jamaah mengatakan sangat senang dan puas dengan pelayanan dari Siar Tour, karena Siar Tour sudah memenuhi kriteria yang diinginkan oleh masyarakat.

“Kriteria sangat cocok, dari pelayanan, pelajaran ibadahnya, hingga antar jemputnya sangat professional,” ungkapnya.

Untuk informasi dan Pendaftaran dapat menghubungi nomor telepon ini: 061-7367132, 7333519, 0811 649262 atau dapat langsung datang ke kantor yang beralamat di Garuda Plaza Hotel Jalan Sisingamangaraja nomor 18 Medan. (rel/ram)

Koalisi Belum Solid Prabowo Terancam Ditinggal

JAWA POS BERSAMA: Sejumlah Sekjen partai pendukung Jokowi menjadi calon presiden, diabadikan bersama pada satu kesempatan, baru-baru ini.
JAWA POS
BERSAMA: Sejumlah Sekjen partai pendukung Jokowi menjadi calon presiden, diabadikan bersama pada satu kesempatan, baru-baru ini.

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani mengatakan, koalisi partai pendukung Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilu 2019 sudah semakin solid. Menurutnya, solidnya pendukung Jokowi berbanding terbalik dengan partai pendukung Prabowo Subianto, yang bakal diusung jadi capres.

Arsul menyampaikan, koalisi partai pendukung Jokowi sudah mulai merancang waktu pendaftaran capres-cawapres dan mematangkan strategi pemenangan. Anggota Komisi III DPR itu, juga mengatakan, tidak lama lagi Jokowi akan mengumumkan nama cawapres pilihannya, dan semua partai koalisi akan solid mendukungnya.

“Yang di sebelah (koalisi Prabowo) kan serius-serius mimiknya. Itu tanda checklist yang belum selesai banyak, gitu lho,” ungkap Arsul di Gedung KPU Jakarta, Selasa (7/8).

Arsul menegaskan, nama cawapres Jokowi sudah disepakati dan tinggal menunggu waktu tepat untuk diumumkan.

Sementara itu, jelang berakhirnya masa pendaftaran capres-cawapres, koalisi pendukung Prabowo masih disibukkan dengan pambahasan figur yang akan diusung jadi cawapres. Alotnya penetapan cawapres Prabowo disebabkan masing-masing partai pendukungnya belum legawa jika figur yang direkomendasikan tidak dipilih jadi cawapres.

PKS masih ngotot meminta Prabowo memilih Salim Segaf Al Jufri atau Abdul Somad menjadi cawapres, sementara Demokrat disebut mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres. “Nama cawapres Pak Jokowi bukannya belum selesai dibahas, tapi belum diumumkan,” beber Arsul lagi.

Pada Selasa siang, para sekretaris jenderal partai politik pengusung Jokowi sebagai capres, menyambangi Kantor KPU, untuk berkonsultasi soal pendaftaran pasangan capres-cawapres.

Sembilan Sekjen partai pendukung Jokowi itu, berasal dari PDIP, Golkar, PPP, Hanura, Nasdem, PKPI, PSI, PKB, dan Perindo. “Yang belum solid kan di tempat mereka (koalisi Prabowo). Kalau di tempat kami, bagaimana enggak solid? Wong datang ke KPU bareng-bareng, ketawa-ketawa,” jelasnya.

Secara terpisah, peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli mengatakan, Prabowo sulit menetapkan figur bakal cawapresnya, karena tersandera kepentingan PKS, PAN, dan Partai Demokrat. Ketiga partai bersikeras mengajukan kadernya menjadi cawapres Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Menurut Lili, partai pendukung Prabowo ngotot minta jatah cawapres demi mendapat coattail effect. Dengan menjadi cawapres, maka partai terkait berharap perolehan suara pada Pileg 2019 dapat terdongkrak. Jika salah memilih cawapres, sangat besar kemungkinan ada partai pendukung yang meninggalkan Prabowo.

“Iya jelas (tersandera), masing-masing partai ingin mengusung kadernya, pertimbangannya dengan coattail effect,” pungkasnya. (rel/val/saz)