Home Blog Page 6112

Kader Minta SK Pengambilalihan Ketua Golkar Ngogesa Dicabut

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kader Golkar meminta agar Surat Keputusan (SK) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar tentang pengambilalihan jabatan Ketua Golkar Sumut dari Ngogesa Sitepu dicabut. Mereka juga meminta agar meninjau kembali SK pergantian tersebut demi penyelamatan Parta Golkar Sumut.

”Saat ini kami minta kembali dicabut SK DPP Partai Golkar atas dicabutnya kewewenangan sebagai Ketua Golkar Sumut,” ujar kader Partai Golkar Sumut Drs Zulkarnaen Lubis kepada wartawan Senin (6/8).

Mantan pengurus Soksi Sumut ini meyesalkan pernyataan Pelaksana tugas (Plt) Ketua Golkar Sumut Ahmad Doli Kurnia di berbagai media cetak beberapa waktu lalu, terkait komentarnya yang menyatakan pengambilalihan kepemimpinan Ngogesa Sitepu sebagai Ketua Golkar Sumut, untuk menyelamatkan partai Golkar.

Dalam pernyataan Doli di berbagai media yang menyebutkan bahwa pengambilalihan jabatan dan kewenangan Ngogesa dilakukan karena 4 persoalan, yakni soal kinerja, persoalan konsilidasi internal partai, indikasi kasus amoral hingga persoalan andanya potensi masalah hukum dalam kepengurusan.

“Pernyataan Plt Ketua Gilkar Sumut yang juga selaku Ketua DPP Golkar wilayah Sumut Doli, tidak pantas diumbar ke publik karena ini masalah marwah partai. Kalau ini dilakukan oleh DPP maka akan bisa terjadi perpecahan Partai Golkar Sumut,” ujarnya.

Seharusnya, kata dia, Ahmad Doli Kurnia menjelaskan dan langsung tunjuk hidung siapa yang dikatakannya terkait pernyataan di media cetak yaitu indikasi kasus amoral hingga persoalan adanya potensi masalah hukum dalam kepengurusan.

Sebab, kata dia, masalah nama baik partai Golkar dan jangan sampai pamor partai Golkar anjlok akibat pernyataan itu yang membuat kader partai Golkar bingung dan publik bertanya tanya apakah Kader Golkar betul seperti yang dikatakan Ahmad Doli.

“Ahmad Doli Kurnia harus berani dan jelaskan kepada publik dan kader partai Golkar siapa kader partai yang dikatakan terkait dalam masalah amoral dan permasalahan hukum, jangan mengantung pernyataannya. Kalau memang terbukti, ungkap saja ke publik biar semua tahu dan jelas. Jangan takut mengatakan yang benar kalau memang benar adanya,”tegasnya lagi.

Menurutnya, pemberhentian Ketua DPD Partai Golkar Sumut H.Ngogesa Sitepu itu tidak wajar. Karena selama ini partai Golkar Sumut dalam mencalonkan gubernur di Pilkada Sumut selalu tidak menang. Kini, berkat kerja sama seluruh kader partai Golkar yang lama maupun yang baru termasuk organisasi pendukung partai Golkar berhasil memenangkannya saat diketua Ngogesa Sitepu.

Melihat perkembangan ini, lanjutnya, DPP Partai Golkar harus menyatakan supaya mendukung penuh seluruh kegiatan Partai Golkar Sumut di bawah pimpinan Ngogesa Sitepu.

Sebelumnya Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia, enggan memberi keterangan secara rinci terkait pengambilan kepengurusan Partai Golkar Sumut dari Ngogesa Sitepu. Apabila ada kader ingin mempertayakan Doli menantang kader untuk mempertayakan hal tersebut langsung kepada dirinya.

Karena itu ia tidak ingin melihat kebelakang dan lebih fokus meningkatkan kenerja partai. Hal itu dikatakan Ahmad Doli Kurnia, kepada Wartawan, Selasa (31/7) lalu di Kantor DPD Golkar Sumut, Jalan Abdul Wahid Hasyim.

Lebih lanjut Doli menyampaikan bahwa pencopotan Ngogesa sudah dipikirkan secara matang-matang. “Begini DPP dalam mengambil kebijakannya itu sudah mempertimbangkan matang-matang berbagai faktor. Yang perlu dipahami bahwa apa yang terjadi di Sumatera Utara khususnya di Partai Golkar selama setahun ini semua DPP tahu,” ujar Doli.(ila/azw)

Warga Desa Seituan Mengadu ke DPRD Deliserdang

CEK LOKASI: Anggota Komisi A DPRD Deliserdang Benhur Silitonga mengecek lokasi lahan warga Desa Seituan yang dipaksa tinggalkan lahan.
CEK LOKASI: Anggota Komisi A DPRD Deliserdang Benhur Silitonga mengecek lokasi lahan warga Desa Seituan yang dipaksa tinggalkan lahan.

Warga Desa Seituan, Kecamatan Pantai Labu mengadukan nasib mereka ke DPRD Deliserdang. Pasalnya, mereka dipaksa angkat kaki meninggalkan 65 hektare lahan pertanian yang sudah mereka kelola selama puluhan tahun.

Mendapat keluhan warga itu, Wakil Ketua Komisi A DPRD Deliserdang, Benhur Silitonga mendatangi lahan pertanian yang diklaim milik Puskopad A Dam I/BB atau Puskop Kartika A BB.

Setibanya, Benhur diajak warga meninjau lokasi areal persawahan yang sudah mereka tanami padi. “Lahan itu sudah dikuasai oleh Bapak dan kakek kami semenjak tahun 1950. Semenjak itu, tak ada pernah ada pengusuran atau sengketa dengan pihak manapun. Tetapi sekarang Puskopad A Dam I/BB atau Puskop Kartika A BB mempersoalkan lahan milik kami itu,”ungkap Albiner Siregar, warga Desa Seituan, Senin (6/8).

Dengan mengendarai sepedamotor, warga mengajak Benhur berkeliling ke lokasi yang diklaim Puskopad A Dam I/BB atau Puskop Kartika A BB sebagai HGU miliknya.”Diareal lahan 65 ha ini sudah berdiri sarana irigasi yang dibangun oleh Pemkab Deliserang. Di sana juga ada jalan usaha tani yang dana pembangunannya berasal dari Pemkab Deliserdang,”tambah Albiner.

Kesaksian Albiner diperkuat, Kepada Desa Parningotan Marbun. Menurutnya, bahwa warga sudah lama mengelola lahan pertanian yang berupa persawahan. “Orang tua kita dulunya sudah mengelola lahan persawahan di areal yang dipersoalkan Puskopad A Dam I/BB atau Puskop Kartika A BB. Kami tidak pernah bersengketa dengan pihak manapun,”ucapnya.

Diungkapkan Parningotan, pihaknya mendapat surat dari Pusat Koperasi Kartika “A” Bukit Barisan tertanggal 27 Juli tahun 2018.

Isi surat itu, perihal peringatan pengosongan areal Desa Saor Matio di Lahan HGU Kebun Sei Tuan. Dalam surat itu menyebutkan, melalui Surat Keputusan Kepala BPN RI No : 4/HGU/BPN/ 93 tanggal 1 Maret 1993 merupakan HGU atas nama Puskopad A Dam I/BB atau Puskop Kartika A BB dengan luas sekitar 1.099,40 Ha dengan sertifikat No 1 tanggal 30 Agustus 1994 dan masa berlakukanya 30 tahun sampai 31 Desember 2023.

Kemudian Surat itu menjelaskan, bahwa selama ini warga yang bercocok tanam padi di sana adalah penggarap. Dan diminta agar mengosongkan areal lahan seluas 65 hektare yang dikuasai penggarap. “Para warga yang bercocok tanam padi agar tidak menanami kembali lahan yang mereka garap itulah yang disebutkan dalam surat pengosongan itu,”beber Parningotan.

Setelah mendapat penjelasan dari warga, Benhur meminta agar berjuang menurut hukum yang berlaku. Disebutkannya, sengketa masalah tanah ada masuk ke ranah hukum.

Pun begitu, Benhur tetap menyarankan mengunakan jalur politik tetap dilakukan oleh warga Desa Seituan. “Biarlah nanti kita buat rapat dengar pendapat, semua pihak yang berhubungan permasalahan ini akan kita undang Minggu depan,”ungkapnya.

Kepada warga, Benhur meminta agar tidak bertindak diluar jalur hukum. Karena permasalahan yang dihadapi warga Desa Seituan berhadapan dengan kekuatan besar. “Tolong bersabar jangan melakukan kegiatan melangagar hukum, kalau bercocok tanam silahkan lakukan biar bapak ibu dapat menghidupi keluarga,”pintanya. (btr/han)

Tol Tebing-Siantar Butuh Lahan 67.180 Hektar

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PINTU TOL_Beberapa kendaran keluar dan masuk di gerbang tol Amplas Medan, Rabu (5/7)
Ilustrasi : PINTU TOL_Beberapa kendaran keluar dan masuk di gerbang tol Amplas Medan, Rabu (foto : SUTAN SIREGAR/SUMUT POS)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pembangunan jalan tol tahap I ruas Tebingtinggi – Pematangsiantar sepanjang 58,70 km sebagai bagian dari rencana tol Trans Sumatera ruas Tebing Tinggi-Parapat sepanjang 98,50 km sempat diwacanakan dibangun pada Juli 2018. Namun hal itu belum bisa dilakukan, karena lahannya belum dibebaskan.

Namun begitu, Gubernur Sumut telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor 188.44/668/KPTS/2018 tentang Penetapan Lokasi Jalan Tol Tebing Tinggi-Pematang Siantar tertanggal 8 Juni 2018. Terbitnya surat penetapan lokasi itu setelah melalui tahapan verifikasi dokumen perencanaan, konsultasi publik langsung dengan masyarakat yang terkena pembangunan jalan tol tersebut.

Konsultasi publik itu dilakukan di Simalungun 31 Mei 2018, Pematang Siantar 30 Mei 2018, Tebing Tinggi dan Serdang Bedagai 4 Juni 2018. Masyarakat telah menyetujui rencana pembangunan tol tersebut dengan menandatangani berita acaranya. Dengan adanya penetapan lokasi itu, maka saat ini progresnya dalam tahap persiapan tim dalam rangka verifikasi oleh Kanwil BP Sumut. Selanjutnya akan dilakukan penilaian harga melalui tim apraisal independen.

“Artinya, secara umum ini tidak ada masalah sejauh ini,” kata Kepala Biro Pemerintahan Setdaprov Sumut, Afifi Lubis mengatakan, telah terbit keputusan Gubernur Sumut yang juga Tim Persiapan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan jalan tol Tebingtinggi – Pematangsiantar, di Medan, Senin (6/8).

Selanjutnya saat ini pihak PPK dari BBPJN II Medan telah meneruskan penetepan lokasi tersebut kepada Kanwil BPN Sumut yang merupakan pihak yang berkompeten dalam pengadaan tanah sesuai UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Proses selanjutnya, kata Afifi, saat ini kanwil BPN sedang mempersiapkan tim dalam rangka verifikasi utk selanjutnya nanti akan dilakukan penilaian harga melalui tim appresial independen
Selajutnya nantinya tentang pembayaran, menurut Afifi akan diproses setelah adanya penetapan penilaian oleh tim penaksir harga (appraisal independen) dan disampaikan kepada masyarakat untuk menilai dan mengetahui lebih lanjut.

“Apabila telah sesuai hasil penilaian oleh tim itu menurut masyarakat, maka proses pembayaran dilakukan dengan transfer ke rekening masyarakat. Namun itu dilakukan tidak dengan tunai,” sebut Afifi.

Disinggung nantinya soal pembayaran ganti rugi lahan, Afifi menambahkan sepenuhnya berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. “Anggaran sepenuhnya dari Kementerian PUPR karena proyek jalan tol itu adalah proyek strategis nasional yang dibiayai oleh APBN,” kata Afifi.

Hal senada juga dikatakan Asisten Pemerintahan Setdaprov Sumut Jumsadi Damanik yang juga Tim Persiapan Pengadaan Tanah. “Prosesnya tidak ada masalah, penetapan lokasinya sudah ada, tinggal menunggu adanya tim apraisal yang dibentuk Kanwil BPN Sumut,” ujarnya.

Jumsadi menyebutkan kebutuhan tanah yang diperlukan untuk tol Tebingtinggi – Pematangsiantar tersebut mencapai sekitar 67.180 Ha, berada di 4 kabupaten/kota, 10 kecamatan dan 29 desa/kelurahan. Kecamatan yang dilewati adalah Sei Bamban, Tebing Tinggi, Sipispis dan Dolok Merawan (Sergai).

Kemudian Kecamatan Bajenis (Tebingtinggi), Tapian Dolok dan Panombean Panei (Simalungun) dan Siantar Martoba, Siantar Sitalasari dan Siantar Marimbun (Pematangsiantar).

Sementara itu, Kasi Pembangunan dan Pengujian Jalan BBPJN II Simon Ginting menyebutkan sejauh ini belum dapat dilakukan pembangunan fisik ruas tol tersebut masih menunggu pembebasan lahan.

“Belum bisa dilakukan, masih menunggu lahannya bebas. Kalau misalnya sudah ada bebas misalnya 60%, kemungkinan sudah bisa dimulai. Tapi kapan itu dimuai, belum bisa kita sampaikan saat ini,” sebut Simon.

Terkait pembangunannya nantinya, kata Simon, dilakukan oleh badan usaha seperti BUMN Hutama Karya. Lalu soal anggaran pembangunan fisiknya, adalah bersumber dari dana investasi.

Nantinya jalan tol Tebingtinggi-Pematangsiantar, untuk meningkatkan aksebilitas dan konektivitas serta menambah kapasitaas jaringan jalan di Sumut dan kabupaten/kota.

Dengan adanya jalan tol itu, juga kan mempersingkat waktu tempuh dari dan menuju Medan – Danau Toba. Jalan tol itu juga mempermudah akses darat dari dan ke kawasan Danau Toba. (bbs/adz)

PSKTS Junior Tumbang dari PSMS U-16

TEBINGTINGGI- Persatuan Sepakbola Kota Tebingtinggi Sekitar (PSKTS) junior menjadi lawan yang dijajal PSMS U-16 dalam persiapan Piala Soeratin 2018. Pada laga uji coba di Lapangan Detasen B Brimobdasu Tebingtinggi, Jalan Ahmad Yani, Kota Tebingtinggi, Minggu petang (5/8), PSMS U-16 menang 1-0.

Laga uji coba itu menyedot perhatian masyarakat Tebingtinggi. Lebih dari 2.000 orang baik tua maupun muda menyaksikan pertandingan di lapangan terbuka tersebut, hingga memadati jalan. Lebih menariknya ada dua kubu suporter warga kota Tebingtinggi. Satu mendukung PSKTS dan satu lagi mendukung PSMS. Masing-masing membawa atribut, gendang serta pengeras suara, dengan pemandu sorak masing-masing.

Hasilnya anak asuh Jamal Makmur (Atan) dan Ismail serta manajer Hamdani Jambak, mampu membeir perlawanan untuk PSMS U-16. Mereka menampilkan gaya menyerang yang cepat dan terarah. Babak pertama berjalan ketat tanpa gol.

Di babak kedua, PSMS U-16 mengubah strategi dan bermain lebih agresif. Namun mereka sulit menembus pertahanan PSKTS yang dikomandoi kapten tim, Hafiz berduet dengan M Brahmana Alihandro. Namun petaka terjadi saat Hafiz harus ditarik keluar karena cedera. PSMS U-16 akhirnya mampu mencetak gol di masa injury time lewat Owen Valentino. Skor 1-0 bertahan hingga akhir laga.

Usai laga, Ismail mantan pemain PSKTS junior tahun 1987 mengajak kepada seluruh warga Kota Tebingtinggi khususnya pecinta bola, untuk sama-sama memajukan kembali sepak bola dan mengembalikan kejayaan PSKTS, yang banyak melahirkan pemain-pemain yang ternama diantaranya Anshari Lubis maupun yang lainnya.

“PSKTS junior ini dipersiapkan untuk mengikuti seleksi Piala Suratin tahun 2018, dan baru tiga bulan terbentuk dari hasil seleksi club maupun SSB se Kota Tebingtinggi dan sekitarnya,” jelasnya.

Walaupun dengan keterbatasan dana, PSKTS Junior sudah tiga kali berujicoba. Sebelumnya PSMS U-16 menghadapi Asahan dengan kemenangan 2-1, imbang 2-2 melawan Kebun Sei Paret Sergai (ian/don)

Arnita Bakal Dikuliahkan Disdik Simalungun hingga Tamat

Ist DIABADIKAN: Rektor IPB Dr Arif Satria, Tim Ombudsman RI, Wakil Ketua Lely Pelitasari dan Alamsyah Saragih, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut Abyadi Siregar dan Asisten Ombudsman RI James Panggabean, diabadikan bersama Wakil Sekretaris Disdik Simalungun Parsaulian Sinaga di sela-sela pertemuan di IPB Bogor, Jawa Barat, Senin (6/8).
Ist
DIABADIKAN: Rektor IPB Dr Arif Satria, Tim Ombudsman RI, Wakil Ketua Lely Pelitasari dan Alamsyah Saragih, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut Abyadi Siregar dan Asisten Ombudsman RI James Panggabean, diabadikan bersama Wakil Sekretaris Disdik Simalungun Parsaulian Sinaga di sela-sela pertemuan di IPB Bogor, Jawa Barat, Senin (6/8).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria memastikan bahwa Arnita Rodelina Turnip sudah kembali aktif menjadi mahasiswi IPB, setelah Dinas Pendidikan Simalungun membayar uang kuliah tunggal (UKT) Arnita yang tertunggak selama 6 semester sebesar Rp 55 juta.

“Alhamdulillah, Arnita sudah aktif. Terimakasih kepada Ombudsman. Terima kasih juga ke Pemkab Simalungun,” ujar Rektor IPB Dr Arif Satria pada pertemuan bersama Ombudsman RI perwakilan Sumut dan pusat serta pihak Dinas Pendidikan Pemkab Simalungun di IPB, Jawa Barat, Senin (6/8).

Arnita sebelumnya mengadu ke Ombudsman Sumut, mengaku beasiswanya diputus Disdik Simalungun, diduga karena dirinya pindah agama menjadi mualaf. Belakangan terungkap, pemutusan beasiswa dirinya sama sekali tidak terkait agama. Melainkan karena ada surat dari IPD ke Disdik Simalungun tentang nilai IPK yang diraih Arnita dan empat rekannya sesama penerima beasiswa utusan daerah dari Pemkab Simalungun. Nilai IPK kelima mahasiswa ini dinilai Disdik tidak memenuhi syarat sebagai penerima mahasiswa. Beasiswa kelimanya pun diputus.

Kasus ini menjadi heboh. Arnita langsung mendapat simpati publik, karena dianggap sebagai korban isu SARA. Belakangan, isu SARA itu menguap seiring dengan adanya klarifikasi dari Disdik Simalungun.

Dalam pertemuan di IPB, tim Ombudsman RI dipimpin Wakil Ketua Lely Pelitasari dan Alamsyah Saragih. Hadir juga Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut, Abyadi Siregar dan Asisten Ombudsman RI, James Panggabean.

Ucapan yang sama juga disampaikan Pemkab Simalungun melalui Sekretaris Dinas Pendidikan Simalungun, Parsaulian Sinaga kepada Ombudsman RI. “Kami sangat berterima kasih kepada Ombudsman RI yang memediasi masalah ini. Kami berkomitmen kuat menyelesaikan masalah sampai tuntas, hingga studi Arnita selesai,”tegas Parsaulian.

Mobil Dinas Wajib Pasang Bendera

ASAHAN,SUMUTPOS-Wakil Bupati Asahan H Surya BSc mewajibkan seluruh kantor instansi dan mobil dinas milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan dipasangi bendera merah putih.

Hal itu disampaikan Wabup Asahan pada saat memimpin apel gabungan di Halaman Kantor Bupati Asahan, Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Kisaran Barat, Senin, (6/8).

Wakil Bupati Asahan, H Surya, B Sc mengimbau kepada seluruh mobil dinas dan kantor instansi pemerintah dari tanggal 1 Agustus harus sudah memasang bendera merah putih. Ini dilakukan guna memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan RI.

“Di sini Bupati Asahan, Drs H Taufan Gama Simatupang, MAP akan memberitahukan kepada seluruh kantor-kantor yang terbaik dan terburuk pada saat upacara penaikan dan penurunan bendera merah putih pada tanggal 17 Agustus 2018,”bilang Surya.

Begitu juga diharapkan kepada seluruh Camat, Lurah dan Kepala Desa, serta Kepala Lingkungan agar memberitahukan kepada masyarakat untuk memasang bendera merah putih.

“Saya yakin para masyarakat Kabupaten Asahan dapat juga memasang bendera merah putih di depan rumahnya,”kata Surya.

Wabup juga mengharapkan para Apartur Sipil Negara (ASN ) yang beragama muslim untuk ikut melakukan qurban pada hari raya Idul Adha atau hari raya qurban yang sebentar lagi akan datang.(omi/han)

Poling Straw Poll DPD Berpihak ke Pendatang Baru

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Belakangan ini, pemanfaatan Straw Poll begitu masif terjadi di tengah-tengah masyarakat. Terlebih menjelang pemilihan legislatif (Pileg) 2019. Layanan pembuatan poll online yang mudah, ringkas, cepat disertai statistik yang informatif ini, juga menyasar untuk bakal calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumatera Utara.

Uniknya lagi, tren dari poling tersebut menunjukkan wajah-wajah baru balon DPD RI asal Sumut pada urutan teratas. Sebut saja seperti Raidir Sigalingging (mantan Humas PT PLN), Tolopan Silitonga (Anggota DPRD Deliserdang), Solahuddin Nasution (Ketua Karang Taruna Sumut), dan M Nuh (bekas anggota DPRD Sumut dari PKS). Mereka mengalahkan poling atau vote calon petahana seperti Darmayanti Lubis, Dedi Iskandar Batubara dan Parlindungan Purba.

Berdasar poling Straw Poll, Raidir Sigalingging memeroleh 16.59% (744 votes), Tolopan Silitonga 16.3% (731 votes), Solahuddin Nasution 10.55% (473 votes), dan M Nuh 8.27% (371 votes). Kemudian menyusul Dedi lskandar Batubara 7.56% (339 votes), Abdul Hakim Siagian 7.34% (329 votes), Faisal Amri 7.13% (320 votes), Parlindungan Purba 6.64% (298 votes), Ali Yakub Matondang 4.21% (189 votes), dan Pdt. EWP Simarmata 3.97% (178 votes). Poling yang menempatkan nama-nama pendatang baru itu, sudah berlangsung beberapa Minggu dimana menempatkan para petahana dibawah mereka.

Menyikapi kemunculan poling Straw Poll yang sudah membumi sejak Pileg dan Pilpres 2014, Pengamat Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Ansor Siregar mengatakan, betapa pun sederhana dan nyaris tanpa modal, Straw Poll tetap memiliki manfaat terutama untuk popularitas. “Elektibilitas juga bisa diangkat dari cara ini. Salah satu kelemahannya ialah aspek ketidakmerataan populasi hingga representasi (keterwakilan) masyarakat sangat lemah. Media mainstream terbesar sekali pun tidak dapat menjamin hasil Straw Poll mereka dapat diandalkan,” katanya kepada Sumut Pos, Senin (6/8).

Karena itu sebut dia Straw Poll harus dilihat dari beberapa aspek. Pertama, siapa penyelenggaranya dan apakah ia melakukan mobilisasi untuk satu pilihan tertentu. Kedua, seberapa luas (representatif) pengikut Sraw Poll. Ketiga, pastikan seseorang tidak bisa memberi pilihan lebih dari sekali. “Ini begitu sulit dihindari ketika seseorang memiliki lebih dari satu nomor akun dan melakukan pilihan. Tingkat kepercayaan publik atas hasil Sraw Poll atau bahkan survei lembaga ternama di Indonesia tidak menentu. Publik yang kurang tinggi kadar literasinya pasti mudah dipermainkan oleh orang di balik polling,” paparnya.

Ia mencontohkan, setahun lebih seluruh lembaga survei di Indonesia melakukan pengendalian publik opini lewat survei mereka yang mengutamakan isu siapa cawapres untuk Joko Widodo.

“Hasilnya sudah kita ketahui, Joko Widodo kelimpungan. Perlawanan sosial muncul bagai bola salju. Kepanikan Jokowi Sabtu lalu hingga mengeluarkan kata “kelahi” yang disambut meriah oleh para relawan dalam sebuah pertemuan di Bogor menunjukkan bahwa manipulasi opini bisa berbahaya. Akhirnya terkesan Joko Widodo panik dan lepas kontrol hingga terkesan bukan seorang negarawan sangkin pentingnya menang Pilpres,” pungkasnya.

Pandangan sedikit berbeda disampaikan Pengamat Politik Universitas Sumatera Utara (USU), Bimby Hidayat. Menurutnya hasil poling masih bisa diperdebatkan keakuratannya, meski di satu sisi sebagai sarana efektif mempopulerkan seorang calon kepada khalayak. “Saya tidak akan lebih jauh mengulas hasil poling, karena masih sebatas poling yag masih bisa diperdebatkan keakuratannya. Namun yang bisa saya tanggapi bahwa popularitas itu tidak menjamin untuk dipilih. Sebab kedaulatan sepenuhnya tetap ditangan rakyat,” katanya.

Kepada seluruh balon DPD ia menyarankan, untuk menyiapkan strategi dengan matang sebagai kunci kemenangan. “Karena apa Pemilihan DPD sangat berbeda dengan pemilihan caleg DPR yang seluruh calon adalah kader partai tertentu. Artinya mereka caleg DPR bisa memanfaatkan dan menjalankan mesin partai untuk melakukan konsolidasi hingga ke basis-basis massa sepenuhnya ditambah modal finansial yang dapat mendukung saat kampanye,” terangnya.

Sedangkan DPD menurut dia bermain di arenanya sendiri, berkontestasi merebut suara dengan gaya, modal dan strategi sendiri sehingga butuh energi yang banyak untuk memenangkan kontestasi.

“Kembali ke awal, popular saja tidak cukup. Relasi adalah modal sosial yang sangat riil ketimbang popularitas, persaudaraan dan pertemanan adalah kekuatan. Harus diingat bahwa tidak ada kata pasti dalam politik, yang pasti itu adalah ketidakpastian itu sendiri. Dengan kata lain semua calon punya peluang yang sama,” pungkasnya.

Raidir Sigalingging yang dimintai tanggapan atas poling Straw Poll yang menempatkan namanya diurutan teratas, mengungkapkan rasa senang dan berharap kenyataan akan seindah hasil poling tersebut. “Kalau saya ditanya, doa saya agar hasil poling bisa sama dengan kenyataannya nanti,” katanya seraya tertawa.

Namun begitu dirinya tidak mengetahui soal poling tersebut. Bahkan diakuinya tidak ada kepikiran membuat jajak suara melalui Straw Poll atau ada melibatkan tim dalam hal ini. “Sudah beberapa minggu ini saya lihat nama saya di peringkat teratas. Saya saja tidak tahu bisa ada poling tersebut. Begitupun pastinya saya senang melihat ada poling kayak begini. Semoga kemunculan calon baru juga membawa semangat baru masyarakat untuk memilih wakil rakyatnya nanti,” pungkasnya. (prn/azw)

Tebingtinggi-Sergai Sepakat Kembangkan Pertanian Organik

SOPIAN/SUMUT POS KERJA SAMA: Direktur Bahan Kebutuhan Pokok dan Barang Kementrian Perdagangan RI Ninuk Rahayuningrum sebagai Direktur Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) Mojokerto Suroso, Kadis Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Provsu M Azhar Harahap mewaki Pj Gubsu, pada acara penandatangann kerja sama Pemkab Sergai dan Pemko Tebingtinggi dalam sektor Pemasaran Pertanian Organik, yang ditandagani Bupati Sergai Ir Soekirman dan Wali Kota Tebingtinggi, Ir Umar Zunaidi Hasibuan.
SOPIAN/SUMUT POS
KERJA SAMA: Direktur Bahan Kebutuhan Pokok dan Barang Kementrian Perdagangan RI Ninuk Rahayuningrum sebagai Direktur Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) Mojokerto Suroso, Kadis Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Provsu M Azhar Harahap mewaki Pj Gubsu, pada acara penandatangann kerja sama Pemkab Sergai dan Pemko Tebingtinggi dalam sektor Pemasaran Pertanian Organik, yang ditandagani Bupati Sergai Ir Soekirman dan Wali Kota Tebingtinggi, Ir Umar Zunaidi Hasibuan.

TEBINGTINGGI-Pemerintah Kota Tebingtinggi dan Pemkab Sergai jalin kerja sama dalam bidang Pengembangan Sektor Pertanian Kluster Padi Organik, Horti Organik, Perikanan, Peternakan dan Olahan Turunannya.

Penandatanganan kerja sama tersebut dilaksanakan pada acara Pembukaan Tebingtinggi Agri Market dan Pameran Flora Fauna TAM-PFF ke 5 Tahun 2018 di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi, Sabtu (4/8) malam.

Dalam sambutannya, Bupati Sergai Ir Soekirman mengatakan, rencana pengembangan produk hasil daerah, bukan tanpa alasan jika suatu daerah berniat menjual produknya dapat diartikan kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi dan bukti bahwa Sergai dan Tebingtinggi berstatus surplus beras.

Perkembangan di dunia saat ini diwujudkan dalam Forum Sustainable Development, bahwa negara-negara berkembang sepakat menekankan target no poverty and no hunger, atau kita ingin bebas dari kemiskinan dan kelaparan. Kalau pertanian ingin maju, maka harus meningkatkan mutu dan kualitasnya.

Untuk itu, pihaknya sedang membangun dan emperbaiki sistem mulai tanaman, tata air, kelembagaan, kemasan hingga pemasaran dalam wujud healty food beras organik. “Saya berkeyakinan dengan kerja sama ini akan disusul daerah lain. Bersatunya kita dalam satu produk beras sehat organik, akan membawa kecerahan bagi petani di daerah kita,”ujar Soekirman.

“Dengan adanya kerja sama ini, nantinya Sergai dan Tebingtinggi dapat mewujudkan target ekspor beras organik hingga keluar negeri,”sambungnya.

Sementara itu, Wali Kota Tebingtinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuan menyampaikan dengan adanya kesepakatan tersebut, merupakan bentuk nyata usaha peningkatan kualitas pertanian dengan mencoba membuka peluang pengembangan kluster pertanian organik.

“Kita harus belajar banyak kepada Kabupaten Sergai yang baru 14 tahun, namun sudah bisa melabelisasi hasil pertaniannya dengan sertifikasi organik dari lembaga yang terpercaya secara nasional,”terangnya.

Umar Zunaidi juga berharap agar Kementrian Perdagangan serta Apindo dapat membantu pemasaran hasil produk organik, agar dapat mewujudkan kemandirian pangan bagi masyarakat Indonesia.

“Bersama Pemkab Sergai, kami siap menjadi kota organik dan menjaga kelestarian pertanian organik meski memiliki lahan yang kecil dan menjaga lahan agar tidak hilang dengan adanya perkembangan zaman,”tegas Umar Zunaidi.

Direktur Bahan Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementrian Perdagangan RI, Ninuk Rahayuningrum mengapresiasi terselenggaranya kerja sama dan melihat otonomi daerah telah berjalan dengan sangat baik.

Pada kesempatan tersebut, Kementerian Perdagangan mengaku siap untuk memfasilitasi pemasaran dari produk-produk pertanian Kota Tebingtinggi dan Sergai pasca jalin kesepakatan.

Terpisah, Pj Gubsu Eko Subowo yang diwakili Kadis Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Provsu M Azhar Harahap mengatakan kegiatan yang dilakukan sangat strategis dan bermanfaat dalam upaya mendukung kemandirian pangan di Sumut. Hal ini sangat mendukung kondisi kita untuk membuat agro bisnis dari hulu ke hilir.

“Jika tidak, maka produk kita tidak akan bisa dijual ke daerahan lain, sehingga kita akan menjadi penonton di negeri sendiri. Kami dari Pemprovsu akan mendukung segala kegiatan yang seperti ini, dan siap membantu dalam hal distribusi serta pengawasan terkait pertanian organik tersebut,”terangnya.

Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari 1.000 kelompok pertanian organik, namun baru ada 33 yang lulus sertifikasi organik, dan Tebingtinggi menyusul Sergai mendapatkannya pada malam ini yang ditandai dengan penyerahan sertifikasi organik dari LeSOS. Seiring dengan pola konsumsi masyarakat dunia yang back to nature (kembali kepada yang alami).

“Mari kita manfaatkan peluang tersebut dengan menggalakkan pertanian organik dengan tentunya mengutamakan peningkatan kualitas dan mutu produk pertanian kita tersebut,”jelasnya.

Kegiatan Tebingtinggi Agri Market dan Pameran Flora Fauna TAM-PFF ke-5 Tahun 2018 dilaksanakan mulai tanggal 4-10 Agustus 2018, dan diikuti 36 stand yang berasal dari instansi dan stakeholder terkait dari dalam dan luar Kota Tebingtinggi. (ian/han)

Syafrida R Rasahan Gemar Membaca Sejak SD

SERIUS: Ketua Bawaslu Sumut, Syafrida R Rasakan tampak serius membaca buku.
SERIUS: Ketua Bawaslu Sumut, Syafrida R Rasakan tampak serius membaca buku.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Buku adalah jendela dunia. Pribahasa ini tampak dipegang teguh sampai kini oleh Syafrida Rachmawati Rasahan, Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Sumatera Utara.

Sejak kecil atau tepatnya saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), Syafrida sudah gemar membaca buku.

Bacaan fiksi tentang dunia kriminal dan seputar detektif misalnya, sudah ia lahap sejak usia kanak-kanak. Bahkan koleksi buku fiksi kepunyaannya itu, jika dihitung sudah lebih dari 20-an jumlahnya. “Sampai kini juga masih senang baca buku. Apalagi saat berada di perjalanan, selalu ada buku bacaan yang saya bawa,” katanya kepada Sumut Pos, Senin (6/8).

Adapun salah satu buku fiksi yang pernah dibaca Syafrida sejak SD, yakni buku karangan Enid Blyton yang berjudul Lima Sekawan. Kemudian berlanjut di zaman seragam putih biru sampai putih abu-abu, buku karangan dari Agatha Christie. “Nah di saat kuliah saya mulai membaca buku tulisan Sidney Sheldon,” ungkap wanita yang kembali terpilih sebagai Ketua Bawaslu Sumut periode 2018-2023 itu. “Jadi memang sejak SD kakak sudah gemar membaca buku-buku fiksi tersebut,” imbuh dia.

Jelang Pileg dan Pilpres

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Abdullah Syah memberikan harapannya terkait keadaan umat Islam menjelang pemilihan legeslatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres).(foto/sumutpos)
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Abdullah Syah memberikan harapannya terkait keadaan umat Islam menjelang pemilihan legeslatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres).(foto/sumutpos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Abdullah Syah memberikan harapannya terkait keadaan umat Islam menjelang pemilihan legeslatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres).

Menurut Abdullah, sebaiknya tidak ada dikotomi (pembagian kelompok) antara umat muslim yang berbeda pilihan, baik pilihan partai, maupun presiden.

“Sebagai umat Islam kita harus mengakui saudara sesama muslim yang lain, walaupun berbeda pilihan. Biar beda pilihan, namun setelah itu kita bersatu kembali,” katanya, Senin (6/8).

Abdullah juga mengimbau kepada masyarakat untuk memilih sesuai hati nurani. Baginya yang terpenting masyarakat dapat menunaikan hal politiknya dan tidak golput.

“Ini agenda lima tahunan jadi harus memilih. Pilih pemimpin sesuai hati, yang taat, cerdas dan punya kesabaran dalam memimpin,” katanya.

Bagi Abdullah yang tidak boleh di dalam pemilihan umum (pemilu) sebagai proses demokrasi yakni kecurangan, penggelembungan suara, ujaran kebencian serta fitnah.

Terkait netralitas MUI, menurut Abdullah tidak usah diragukan lagi.

“MUI dalam hal ini MUI Sumut tidak berpolitik,kami netral dan berada di tengah,” katanya.

Menurutnya, MUI tidak pada posisi mengarahkan kepada seorang calon maupun partai.

“Ya bila akhir-akhir ini ada Ganti Presiden dan Presiden 2 periode, itu sah-sah saja. Semuanya kita kembalikan kepada rakyat sesuai pilihan rakyat,” katanya.

Menurutnya sesuai sistem demokrasi, suara mayoritaslah yang akan menentukan siapa yang akan memimpin.

“Begitupun permasalahan dasar dan konstitusi negara kita. Bila banyak yang mempertahankan ideologi kita, maka tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Tetapi bila lebih banyak yang menginginkan perubahan, maka akan berubah,” katanya.

Abdullah berpesan agar umat tidak terpecah belah pasca momen politik. Ia berharap Sumatera Utara tidak mengalami perseteruan, dan tetap dalam keadaan damai.

“Seperti pengalaman yang lalu, saya optimistis di Sumatera Utara ini Insya Allah kita bisa menjaga kedamaian antarsesama,” pungkasnya. (bbs/azw)