Home Blog Page 6163

Nikita Mirzani Gugat Cerai Suami

SUMUTPOS.CO – Kabar mengejutkan datang dari artis sensasional Nikita Mirzani. Bukan soal keputusan ia berhijab, melainkan kabar perceraiannya dengan Dipo Latief. Pernikahan yang dibina sejak Februari 2018 itu, terpaksa diakhiri Nikita, lantaran sudah tidak tahan dengan pelakukan sang suami.

“Penyebabnya ia sudah enggak kuat lagi lah untuk bertahan,” tutur pengacara Nikita, Fahmi Bachmid, saat dihubungi, Senin (16/7).

“Ia bilang sekuat apa pun seorang wanita, enggak akan sanggup kalau terus menerus disakiti dan tersakiti,” lanjut Fahmi.

Ibu 2 anak itu berencana melayangkan isbat nikah dan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan. “Isbat nikah sekaligus gugat cerai siang ini (kemarin, red). Isbat nikah itu karena nikahnya dulu belum terdaftar, jadi harus diisbatkan dulu, baru diceraikan sekaligus. Jadi, disahkan dulu di pengadilan baru diceraikan,” beber Fahmi.

Sebelum kabar perceraian beredar, Nikita pernah mengungkapkan, ia sudah menikah dengan Dipo lewat video yang diunggah oleh Boy William di akun YouTube-nya. Boy pun mengucapkan selamat kepada Nikita yang sudah menikah.

Boy juga menanyakan, mengapa Nikita tak mengadakan resepsi. Kemudian dijawab, karena mereka memang tidak menginginkan adanya pesta perayaan. “Karena buang-buang uang, karena gue tahu cari uang itu susah,” ujar Nikita dalam satu video.

Hubungan asmaranya mulai terendus media saat awal 2018. Nikita kerap mengunggah foto kebersamaannya di Instagram dengan seorang pria yang selalu ditutupi wajahnya dengan emoticon.

Awal Februari 2018, usai syuting program acara televisi di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Nikita secara terbuka mengakui, pria yang dekat dengannya adalah Dipo. Laki-laki yang meluluhkan hatinya itu, merupakan putra kedua dari konglomerat dan mantan Menteri Tenaga Kerja era Presiden Soeharto, yakni Abdul Latief.

Nikita pun sempat mengungkapkan pertemuan pertamanya dengan Dipo dengan malu-malu bahagia. Pemeran film Nenek Gayung ini, mengungkapkan, sudah pernah bertemu dengan Dipo sebelum intensitas dekatnya yang terjalin via chat dan telepon.

Meski berstatus janda beranak 2, sosok Nikita rupanya diterima Dipo apa adanya. Bahkan, sang pengusaha nampak dekat dengan putra kedua Niki, Azka Raqila Ukra disapa Al. Hal itu yang membuat perempuan yang lekat dengan imej seksi tersebut, menyatakan, Dipo adalah sosok laki-laki yang ia dambakan. Penuh kasih sayang dan perhatian.

Kedekatan Dipo diceritakannya melalui perilakunya yang kerap menjemput anaknya pulang sekolah. Bahkan, beberapa bulan lalu, putri sulung Nikita, Loly, kabur dari rumah pun ia lari ke rumah Dipo mencari perlindungan.

Belum lama ini, Nikita bahkan sempat dikabarkan hamil. Saat ditanyakan langsung soal kabar kehamilannya, presenter yang terkenal nyinyir itu, belum memberi jawaban secara gamblang. Ia hanya menyatakan, kalaupun benar hamil, seharusnya tidak menjadi masalah, karena statusnya masih sebagai istri orang. “Ya, kalau memang hamil, kan ada suaminya. Kan, enggak hamil di luar nikah,” ungkapnya.

Tapi, kini tanpa alasan yang pasti, Nikita menggugat cerai Dipo. (yln/jpc/saz)

Nadine Chandrawinata: Itu Bersifat Pribadi

SUMUTPOS.CO – Di tengah kebahagiaan sebagai pengantin baru, pasangan Nadine Chandrawinata dan Dimas Anggara diserang gosip tak sedap. Keduanya diisukan pindah keyakinan setelah menjalani pernikahan di Bhutan, pada 5 Mei lalu.

Keduanya, diduga menjalani pernikahan secara Buddha di Bhutan. Padahal, Dimas menganut agama Islam, sedangkan Nadine beragam Khatolik.

Saat dikonfirmasi mengenai kabar tersebut, Nadine menolak menjawabnya. Ia beralasan tak ingin muncul opini baru perihal keyakinannya dan Dimas.

“Soal itu, kami mau meluruskan, mau bilang A ataupun mau bilang B, pasti ada pemikiran baru,” tutur Nadine, saat menggelar jumpa pers usai resepsi pernikahan di kawasan Jakarta Utara, Minggu (15/7) lalu.

“Maaf untuk pertanyaan itu kami enggak bisa menjawab. Karena itu bersifat pribadi,” lanjut pemain film Labuhan Hati tersebut.

Tapi, Puteri Indonesia 2005 tersebut, memastikan, keputusannya menikah dengan Dimas di Bhutan sudah mendapat restu dari keluarga masing-masing. “Kami menghargai apa yang kami putuskan dan kami juga menghargai keluarga. Jadi, biarlah itu menjadi milik kami,” tukas Nadine, sebagaimana ditulis JPNN (Grup Sumut Pos), Senin (16/7).

Sebagaimana diketahui, Dimas dan Nadine menggelar upacara pernikahan di Anema Resort Gili, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 7 Juli lalu. Kemudian, resepsi digelar di kawasan Jakarta Utara, pada 15 Juli. (jpg/jpc/saz)

Kasus Pemerkosaan Terus Meningkat di India

Sejumlah wanita berunjuk rasa soal maraknya kasus pemerkosaan di India.
Sejumlah wanita berunjuk rasa soal maraknya kasus pemerkosaan di India.

SUMUTPOS.CO – Polisi India sedang mencari lima pria yang telah memerkosa dan membakar hidup-hidup seorang perempuan berusia 35 tahun di Kota Sambhal, India. Kejahatan ini menambah daftar kasus perkosaan terhadap perempuan setiap tahunnya.

Seperti dilansir Channel News Asia, inspektur di Kantor Polisi Rajpura di Sambhal, Varun Kumar mengatakan, sebuah kasus telah diajukan terhadap lima orang. “Kelimanya telah menerobos masuk ke rumah perempuan itu sekitar pukul 2.30 pagi, pada Sabtu (14/7),” kata Kumar.

Mereka memerkosanya, lalu membakar tubuhnya, dan membuangnya di kuil terdekat. Lebih dari 100 kasus perkosaan dilaporkan setiap hari di India.

Pemerkosaan yang terjadi baru-baru ini juga dialami seorang gadis berusia delapan tahun dan seorang remaja di dua negara bagian yang akhirnya mencetuskan protes publik.

Masyarakat mendorong Pemerintah India untuk menjatuhkan hukuman mati bagi perkosaan gadis di bawah usia 12 tahun dan meningkatkan hukuman minimum bagi mereka yang korbannya di bawah 16 tahun. Jumlah perkosaan yang dilaporkan di India telah meningkat sebesar 60 persen sejak 2012 menjadi sekitar 40 ribu kasus pada 2016.

Di Sambhal sebelumnya pun terjadi kasus serupa kepada seorang gadis berusia tiga tahun pada Jumat pekan lalu yang dilakukan oleh penjaga pantai di sebuah sekolah di Noida, dekat New Delhi. Manoj Kumar Pant, seorang petugas di Kantor Polisi Surajpur di Noida mengatakan, pada Minggu (15/7) terdakwa telah ditangkap setelah orang tua melaporkan insiden yang terjadi dua hari sebelumnya, Jumat (13/7). (ce1/iml/azw/JPC)

 

Warga Chicago Ngamuk kepada Polisi

Polisi AS dengan ceroboh menembak pria kulit hitam, warga Chicago ngamuk dan melakukan protes.
Polisi AS dengan ceroboh menembak pria kulit hitam, warga Chicago ngamuk dan melakukan protes.

SUMUTPOS.CO – PARA pengunjuk rasa di Chicago, Amerika Serikat (AS) menuntut jawaban setelah terjadi penembakan fatal seorang pria kulit hitam dilakukan polisi. Seperti dilansir Al Jazeera pada Senin, (16/7), penembakan tersebut memicu konfrontasi kekerasan di Kota Illinois.

“Seluruh sistem sialan itu salah,” kata puluhan orang pada Sabtu hanya beberapa jam setelah polisi menembak dan membunuh Harith Augustus yang berusia 37 tahun di lingkungan Pantai Selatan Chicago. Augustus dikenal di masyarakat sebagai Snoop si tukang cukur.

Kepala Polisi Patroli Fred Waller mengatakan, Augustus ditembak setelah polisi menanyainya karena ada tonjolan di sekitar pinggangnya. Polisi langsung mengira Augustus bersenjata. Apalagi Augustus menjadi agresif.

“Mereka mengira dia tampaknya meraih senjata. Lalu para petugas secara tragis menembaknya,” kata Waller. Ia menambahkan, polisi menemukan senjata semi otomatis. Akibat penembakan itu, Augustus dinyatakan meninggal di rumah sakit.

Usai penembakan, kerumunan penonton dan aktivis turun di tempat kejadian. Video yang beredar di media sosial menunjukkan konfrontasi tegang antara polisi dan para pengunjuk rasa.

Waller menambahkan, kerumunan warga menjadi agresif. Mereka melemparkan botol dan melompat di atas mobil patroli.

Juru Bicara Kepolisian Anthony Guglielmi melalui Twitter mengatakan, polisi telah membersihkan tempat kejadian dan empat demonstran telah ditangkap. Lebih banyak protes dilakukan pada Minggu malam. Mereka marah atas penembakan yang dilakukan polisi.

Konfrontasi hari Sabtu adalah insiden terbaru yang mengilustrasikan ketidakpercayaan yang mendalam antara penduduk Chicago yang didominasi lingkungan hitam dan Latin kepada polisi.

Kota itu meletus sebagai protes pada tahun 2015 setelah perilisan sebuah video yang menunjukkan petugas polisi berkulit putih Jason Van Dyke menembaki Laquan McDonald, 17 tahun, remaja kulit hitam, sebanyak 16 kali pada tahun 2014. Van Dyke dituduh melakukan pembunuhan.

Reporter Chicago Sun-Times Issa mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ketegangan antara masyarakat dan polisi belum terasa setinggi ini sejak video penembakan Laquan McDonald dirilis. (ina/azw/JPC)

 

Orang Siantar, WNI Pertama Menerima NIK di Eropa

Berlin (kanan) menerima NIK di KBRI Jerman (KBRI Jerman).
Berlin (kanan) menerima NIK di KBRI Jerman (KBRI Jerman).

BERLIN, SUMUTPOS.CO -Duta Besar RI untuk Jerman, Arief Havas Oegroseno memberikan Nomor Induk Kependudukan (NIK) kepada para Warga Negara Indonesia (WNI) yang belum pernah memiliki NIK di Jerman pada Minggu, (15/7). Kegiatan tersebut adalah yang pertama untuk WNI di kawasan Eropa.

WNI pertama yang menerima NIK adalah bernama Berlin Sumbajak. Pria kelahiran Pematangsiantar 70 tahun lalu tersebut sudah puluhan tahun tinggal di Jerman, namun belum pernah memiliki NIK dan belum pernah direkam biometriknya.

“Puji Tuhan, saya senang sekali akhirnya bisa punya kesempatan memiliki NIK”, ucap Berlin dengan mata berkaca-kaca saat diperlihatkan oleh Duta Besar Havas bahwa dirinya sudah terekam dalam data WNI nasional.

“Kita harap upaya ini menjawab kebutuhan WNI di Jerman. Ini salah satu cara negara untuk hadir, ” kata Duta Besar Havas dalam siaran persnya, Senin, (16/7).

Sejumlah WNI berhasil dibuatkan NIK pada kesempatan sosialisasi Portal Pelayanan dan Perlindungan WNI di KBRI Berlin. KBRI Berlin bersama dua perwakilan RI lainnya di Jerman, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg akan memperluas upaya pendataan WNI di Jerman dan memfasilitasi pembuatan NIK serta perekaman biometrik bagi WNI yang belum memilikinya.

Kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk memastikan agar setiap WNI di Jerman sudah memiliki NIK. Ada ribuan WNI di wilayah Eropa yang menghadapi situasi seperti yang dihadapi Berlin. Sebagian besar dari mereka datang ke negara-negara Eropa di era Orde Lama untuk belajar ataupun bekerja.

Meskipun tetap mempertahankan status kewarganegaraan Indonesia, mereka tidak pernah memiliki NIK, KTP maupun melakukan perekaman biometrik sebagaimana layaknya dilakukan oleh seorang WNI. Akibatnya, mereka kesulitan untuk mendapatkan hak-hak sipilnya saat pulang ke Indonesia.

Mereka juga kesulitan membuka rekening dan membeli properti di Indonesia. Dengan memiliki NIK, Berlin dan WNI lainnya di Jerman yang baru diberikan NIK dan direkam biometriknya diharapkan dapat memperoleh hak-hak mereka dengan mudah di Indonesia, sama seperti halnya WNI lain di dalam negeri. (iml/azw/JPC)

 

Warna Biologis Berusia 1,1 Miliar Tahun Ditemukan

Mahasiswa master di ANU Nur Gueneli menemukan pigmen tertua di dunia tersebut setelah menjalankan pelarut organik melalui bubuk batu (BBC).
Mahasiswa master di ANU Nur Gueneli menemukan pigmen tertua di dunia tersebut setelah menjalankan pelarut organik melalui bubuk batu (BBC).

SUMUTPOS.CO – TERDAPAT penemuan baru tentang warna pigmen tertua di dunia. Para ilmuwan menemukan warna biologis tertua di dunia yang berasal dari bebatuan kuno di bawah Gurun Sahara.

Pigmen berusia 1,1 miliar tahun tersebut berwarna merah muda cerah namun diperkirakan merupakan pergeseran dari warna merah darah ke ungu yang sudah terkonsentrasi. Seperti dilansir BBC, para ilmuwan Australia mengatakan, pigmen tersebut merupakan molekul fosil klorofil yang dihasilkan oleh organisme laut. Mereka juga menggiling batu serpih untuk mengestrak pigmen.

Profesor Jochen Brocks dari Australian National University (ANU) mengatakan, mereka membuat jenis penemuan fosil dinosaurus yang masih memiliki warna asli seperti hijau dan biru.

Mengenai pigmen tersebut dia kemudian menjelaskan, ini adalah molekul yang sebenarnya. Molekul berwarna tertua di dunia. Ketika dipegang dan terpapar sinar matahari, warna sebenarnya adalah neon pink.

Mahasiswa master di ANU Nur Gueneli menemukan pigmen tertua di dunia tersebut setelah menjalankan pelarut organik melalui bubuk batu. Menurutnya proses ekstrasi mirip dengan yang dilakukan mesin kopi.

Analisis pigmen yang mereka temukan telah diproduksi oleh cyanobacteria di laut saat itu. Profesor Brocks mengatakan, hal tersebut berkontribusi pada pemahaman tentang evolusi bentuk kehidupan di bumi.

“Cyanobacteria kecil mendominasi dasar rantai makanan di lautan satu miliar tahun yang lalu, yang membantu menjelaskan mengapa hewan tidak ada pada saat itu,” katanya.

Penelitian terhadap pimen tertua itu juga melibatkan para ilmuwan di Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Serta telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Science, AS.(trz/azw/JPC)

 

Tambang Emas Martabe Salurkan Beasiswa Rp 420 Juta

Para pelajar penerima beasiswa Martabe Prestasi 2018 tingkat SMA/Sederajat.
Para pelajar penerima beasiswa Martabe Prestasi 2018 tingkat SMA/Sederajat.

BATANGTORU, SUMUTPOS.CO – PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe kembali menganugerahkan Beasiswa Martabe Prestasi. Ratusan siswa siswi dan mahasiswa berprestasi di Tapanuli Selatan menerima jumlah total Rp 420 juta untuk tahun ajaran 2018/2019. Jumlah ini meningkat secara signifikan dibanding tahun lalu dengan total Rp 257 juta.

Penganugerahan beasiswa dilakukan dalam acara yang digelar di gedung ampitheater Sopo Daganak, di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (16/7).

Senior Manager Community Relations and Development PT Agincourt Resources Pramana Triwahjudi menyatakan tahun ini jumlah total penerima beasiswa mencapai 170 siswa yang terdiri dari 145 penerima beasiswa baru dan 25 penerima beasiswa pembaruan (lanjutan).

“Total dana yang dikeluarkan Tambang Emas Martabe untuk Program Martabe Prestasi Tahun 2018 ini sebesar Rp 420.000.000 dan akan terus meningkat setiap tahun,” kata Pramana.

Pramana menjelaskan, para penerima beasiswa terbagi dalam tiga kategori. Yakni kategori beasiswa Penghargaan Prestasi Akademis untuk tingkat SD dan SMP, Penghargaan Prestasi Khusus (non akademis) dan Penghargaan Prestasi Berkelanjutan untuk tingkat SMA/Sederajat, Diploma 3 dan Strata 1.

Untuk beasiswa Penghargaan Prestasi Akademis total siswa yang mendaftar sebanyak 119 pelamar dari 44 sekolah. “Setelah diverifikasi, yang berhak menerima sebanyak 106 siswa,” kata Pramana.

Para pelajar penerima beasiswa Martabe Prestasi 2018 tingkat SMP.

Dia mengungkapkan kegagalan dalam menerima Penghargaan Prestasi Akademis disebabkan karena dokumen pendukung yang tidak lengkap hingga batas waktu yang ditentukan. Selain itu beberapa sekolah tidak mendaftar beasiswa kategori ini dengan alasan tidak ada siswa yang memenuhi persyaratan dan tidak cukup waktu untuk menyelesaikan dokumen.

“Untuk Penghargaan Prestasi Khusus (Non-akademis) yang mendaftar hanya satu orang, dan dinyatakan diterima karena memiliki Prestasi sesuai dengan yang di persyaratkan,” kata Pramana. Sementara itu untuk beasiswa Penghargaan Prestasi Berkelanjutan (SMA/sederajat, D3, dan S1) yang mendaftar tercatat 91 pelamar beasiswa baru,  atau meningkat 75% dibandingkan tahun lalu.

“Setelah melalui serangkaian proses seleksi, ada 38 siswa memenuhi syarat untuk menerima Beasiswa Martabe Prestasi berkelanjutan,” kata Pramana. Menurutnya, kegagalan umumnya disebabkan beberapa hal, seperti dokumen pendukung yang tidak lengkap, tidak sesuai dengan persyaratan nilai minimum, belum terdaftar di universitas serta membatalkan panggilan universitas karena alasan keluarga.

Sementara itu untuk Penerima Beasiswa yang berlanjut ke tahun ajaran 2018/2019 atau Pembaruan tercatat 25 penerima beasiswa dari 40 penerima beasiswa di tahun ajaran 2017/2018. Ke 25 siswa tersebut terdiri dari 13 siswa SMA, 12 mahasiswa dari Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di wilayah Tabagsel dan luar wilayah Tabagsel.

“Dari 12 mahasiswa, ada 5 mahasiswa baru yang melanjutkan dari SMA ke Universitas, yaitu 3 orang diterima di universitas negeri di Padangsidimpuan, 1 orang diterima di universitas negeri di Medan, dan 1 orang melanjutkan belajar di universitas swasta di Padangsidimpuan,” papar Pramana.

Para pelajar penerima beasiswa Martabe Prestasi tingkat SD berfoto bersama.

Pramana menegaskan program pemberian bantuan pendidikan melalui Martabe Prestasi ini merupakan program pengembangan masyarakat dalam rangka meningkatkan akses pendidikan bagi para pelajar berprestasi yang berasal dari keluarga pra-sejahtera khususnya di wilayah sekitar tambang.

“Kami berharap melalui program ini para pelajar dan mahasiswa dari kawasan lingkar tambang dapat terus mencapai pendidikan yang lebih tinggi,” kata Pramana.

Pelajar penerima penghargaan prestasi akademis mendapatkan manfaat berupa bantuan perlengkapan sekolah dengan nilai maksimal Rp500.000 bagi pelajar SD/sederajat dan Rp750.000 bagi pelajar SMP/sederajat.

Untuk penerima penghargaan prestasi berkelanjutan, yakni mendapatkan tunjangan uang sekolah/kuliah dan biaya hidup dengan total Rp3.000.000 per tahun bagi siswa SMA/sederajat hingga kelas XII. Bagi mahasiswa D3 di lembaga pendidikan swasta di Tabagsel hingga semester 6 dan mahasiswa S1 di Perguruan Tinggi negeri dan swasta di Tabagsel hingga semester 8, masing-masing mendapatkan Rp6.000.000 per tahun.

Sementara itu, bagi mahasiswa D3 di lembaga pendidikan negeri hingga semester 6 dan mahasiswa S1 PTN/PTS hingga semester 8, di luar Tabagsel, mendapatkan Rp12.000.000 per tahun. (rel/mea)

Rajagopalan Vasudevan Ciptakan ‘Jalan Aspal’ dari Plastik

Rajagopalan Vasudevan
Rajagopalan Vasudevan

SUMUTPOS.CO – Di usianya yang ke-73, Doktor Rajagopalan Vasudevan kira-kira setua produksi masal plastik ciptaannya. Dilansir Gulfnews pada beberapa hari lalu Vasudevan mengatakan, plastik tak melulu membawa dampak buruk untuk lingkungan.

“Plastik tidak akan menyumbat lautan atau tempat pembuangan sampah kita jika kita tidak membuangnya di tempat pertama. Begitu banyak yang bisa kita lakukan dengan sampah plastik,” ujar Vasudevan di kantornya di Kota Madurai, India Selatan.

Pada bulan Januari tahun ini, Vasudevan meraih penghargaan sipil tertinggi di India, Padma Shri. Penghargaan itu diberikan atas penelitiannya yang inovatif tentang daur ulang sampah plastik dengan cara yang sangat tidak biasa.

Gagasan itu muncul dari bengkel kerjanya di Sekolah Tinggi Teknik Thiagarajar di Madurai sejak tahun 2001. Terganggu dengan larangan penggunaan plastik, yang dia yakini penting bagi orang miskin, dia mencari solusi untuk tantangan lingkungan yang terus berkembang.

“Larangan penggunaan plastik dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup bagi keluarga berpenghasilan rendah. Tapi jika kamu membakarnya atau menguburnya, itu pasti akan mempengaruhi lingkungan,” kata Vasudevan.

Vasudevan memulai serangkaian eksperimen di bengkelnya untuk menemukan teknik pembuangan yang efektif. Dalam kondisi cair, ia menemukan bahwa plastik memiliki sifat pengikat yang sangat baik.

Vasudevan melihat, ketika plastik cair ditambahkan ke batu dan campuran aspal maka plastik menempel cepat dan mengikat kedua bahan bersama. Plastik yang dimodifikasi aspal meningkatkan kekuatan tarik jalan dengan membuatnya lebih tahan lama dan fleksibel.

Plastik juga mencegah pembentukan lubang di jalan beraspal. Ketika lapisan plastik cair mengisi ruang antara kerikil dan aspal itu menggagalkan air hujan dari merembes masuk dan menyebabkan cacat struktural.

Ketika almarhum Dr Abdul Kalam, mantan presiden dan ilmuwan India mengunjungi Thiagarajar College, dia mendorong Vasudevan untuk mendirikan jalan beraspal plastik pertama di dalam kampus. “Dia meminta saya untuk membuat jalan menjadi abu-abu karena jalan-jalan hitam menyerap dan menjebak panas,” kata Vasudevan.

Pada tahun 2002, ia membuka jalan sepanjang 60 kaki di dalam kampus dengan aspal modifikasi plastik. Jalannya masih utuh sampai hari ini. Ia menerima paten untuk proses tersebut pada 2006. Sejak itu, hampir 10.000 km jalan di India telah diaspal menggunakan tekniknya. (ina/azw/JPC)

 

Potong Rambut Bayar Pakai 5 Pisang dan 2 Telur

Warga saat pangkas di tengah krisis di Venezuela.
Warga saat pangkas di tengah krisis di Venezuela.

SUMUTPOS.CO – KEMBALI ke sistem barter. Itulah yang terjadi dalam perekonomian Venezuela sekarang. Dilansir dari The Economic Times, hiperinflasi di Venezuela yang berturut-turut menjadikan masyarakatnya menjalankan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Pada Juli 2018, untuk memotong rambut warga Venezuela membayar dengan 5 pisang dan 2 telur atau dua bungkus tepung jagung. “Tidak ada uang tunai di sini, hanya barter,” kata Mileidy Lovera, 30.

Ia berharap bisa menjual ikannya untuk memberi makan empat anaknya, atau mendapatkan obat untuk mengobati epilepsi anaknya. Padahal, Venezuela dikenal sebagai negara terkaya di Amerika Latin. Venezuela merupakan negara yang memiliki cadangan minyak terbesar dunia. Sayangnya kini tengah menatap masa depan yang suram.

Untuk bertahan hidup, masyarakat juga harus rela berkutat dengan penjatahan air. Rutinitas ini seakan menjadi biasa di negara yang sedang dilanda krisis. Padahal Venezuela memiliki sumber air besar, tetapi infrastruktur nasional dalam kondisi yang sangat buruk.

Hal yang tidak kalah miris ialah kelangkaan uang tunai. Pembayaran untuk barang dan jasa yang paling murah sekalipun akan membutuhkan tumpukan uang kertas yang banyak, dan kebutuhan uang tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar.

Bahkan keruntuhan ekonomi, yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, telah mendorong hampir satu juta orang, 3 persen dari populasi, untuk beremigrasi antara 2015 dan 2017.

Maduro, terpilih kembali untuk masa jabatan enam tahun yang baru pada Mei dalam pemilu yang dikutuk oleh AS. Ia menyalahkan harga konsumen yang tak jelas dan kekurangan makanan dan obat-obatan secara konstan pada perang ekonomi yang dipimpin oleh oposisi dan Amerika Serikat. (ina/ce1/azw/JPC)

 

Bendera yang Dipakai Zohri Diklaim Bendera Polandia

Ekspresi Muhammad Zohri usai menjadi juara nomor 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20.
Ekspresi Muhammad Zohri usai menjadi juara nomor 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20.

SUMUTPOS.CO – Publik Polandia belakangan ini ramai memperbincangkan Lalu Muhammad Zohri yang berhasil menjuarai nomor lari 100 meter putra kejuaraan dunia Atletik U-20. Bahkan, salah satu medianya, mengonfirmasi kalau bendera yang dipakai M Zohri berasal dari Polandia.

Muhammad Zohri memang menyita perhatian lewat prestasinya yang memecahkan catatan waktu 10,18 detik pada kejuaraan dunia tersebut. Namun, yang lebih disorot adalah soal Zohri yang mencari-cari bendera Merah Putih usai menjadi juara.

Dia sempat nyaris putus asa untuk mengalungkan Sang Saka untuk berfoto bersama. Bahkan, dia terpaksa harus meladeni foto bersama tanpa membentangkan Merah Putih di dadanya. Namun, dia akhirnya mendapatkan bendera tersebut dari salah seorang di tribun penonton.

Hal ini menjadi sorotan publik Islandia. Salah satu media ternama Polandia, PZLANews mengonfirmasi kalau bendera yang dipakai Muhammad Zohri benar merupakan bendera Polandia.

“Medali emas dalam lari 100 meter dimenangkan Indonesia di Tampere2018. Ya, bendera tersebut mirip punya kami. Kru kami meminjamkan bendera tersebut, tetapi Media Indonesia tak memberitakannya,” tulis akun @PZLANews.

Ada salah satu netizen Indonesia yang mencoba bertanya kebenaran hal itu menggunakan bahasa Inggris. Sebab akun beralamat @KakBejo soal bendera Indonesia yang jadi perbincangan saat M Zohri juara saat ini malah merambat ke isu politik.

“Halo, bisakah anda terjemahkan ke dalam bahasa Inggris kalau bendera itu diberikan oleh sprinter Polandia? Sebab sepertinya bendera itu dibawa dari Jakarta, tapi saat ini jadi isu politik. Terima kasih,” katanya.

Hal itu dibalas oleh salah satu netizen Polandia. “Saya tak yakin bendera itu diberikan sprinter lain. Tapi saya mendengar kalau itu bendera Polandia, mungkin diberikan dari salah satu anggota timnas Polandia di sana, omong-omong, tinggalkan politik, itu hanya olahraga :),” tulis @chmiielewski.

Pernyataan si netizen asal Polandia itu lantas dipertegas oleh PZLA News. “Ya, itu dari salah satu tim kami :),” sahut @PZLANews.

PASI menjelaskan, tim official Indonesia telah membawa bendera merah putih dari Jakarta. Namun lambatnya bendera merah putih yang diterima Zohri disebabkan karena posisi duduk tim official dengan Zohri cukup jauh dari lintasan. Tim juga merekam video pertandingan sebagai bahan evaluasi Zohri yang juga akan bertanding di Asian Games 2018.

“Perlu kami jelaskan bahwa sesuai keterangan pelatih yang mendampingi, tim Indonesia yang terdiri dari 4 orang (2 pelatih dan 2 atlet) sudah menyiapkan bendera sejak dari Jakarta. (Tadinya tim Indonesia seharusnya 6 orang dari namun atlet Idan Fauzan dan pelatihnya Sainih gagal berangkat akibat galah yang dimilikinya ditolak dibawa oleh maskapai yang ke Finlandia). Sudah menjadi SOP bahwa setiap tim Indonesia yang berlaga di luar negeri harus membawa bendera karena kita percaya dan yakin bahwa atlet-atlet kita bisa menjadi juara,” tulis PASI di Instagram.

Saat pertandingan, panitia kejuaraan melarang selain atlet yang berlomba dan fotografer berada di dekat lintasan. PASI menjelaskan, anggota tim official Indonesia, Erwin Maspaitela yang berada dekat dengan Zohri berada di garis start. Begitu Zohri masuk finish, Erwin langsung berlari ke arah finish dan di luar lintasan.

“Jadi, ketika dalam 10 detik zohri masuk finish, Erwin segera berlari ke arah finish. Tentu di luar lintasan (dan tidak secepat Lalu Zohri) dan segera mengambil bendera yang dipegang Kikin (pelatih Indonesia). Jadi butuh waktu sepersekian detik untuk mengambil bendera dan menyerahkannya ke Zohri. Bahkan, Erwin kalah cepat saat Zohri diajak berfoto bersama sprinter AS, meski Erwin sudah di dekat Zohri. Barulah setelah berfoto bersama, bendera merah putih diserahkan ke Zohri dan dipakainya saat diwawancara official broadcast IAAF. Jadi tidak benar kalau itu bendera dari negara lain yang dipinjamkan ke Zohri. Itu bendera yang sudah disiapkan dari Jakarta untuk menyambut Indonesia Juara!” isi penjelasan PASI. (bbs/don)