JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana mengatakan, pihaknya akan memberikan sanksi tegas kepada PNS yang kedapatan mengunggah ujaran kebencian dan isu intoleransi tersebut. Hal ini untuk meredam merebaknya ujaran kebencian dan guliran liar isu yang berkaitan dengan intoleransi di media sosial.
“BKN akan memroses dan menindak tegas PNS yang kedapatan menyalahgunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarluaskan ujaran kebencian dan isu intoleransi. Saksinya berat karena membuat perpecahan,” ujar Bima, Jumat (18/5).
Lebih lanjut, Kepala Biro Hubungan Masyarakat BKN Mohammad Ridwan mengimbau untuk melaporkan PNS yang melakukan ujaran kebencian, intoleransi, dan memecah belah persatuan dalam NKRI.
“Ada berbagai kanal yang bisa digunakan masyarakat untuk melaporkan PNS yang melakukan tindakan-tindakan tersebut di antaranya ke kanal www.lapor.go.id, dan melalui surat elektronik ke alamat humas@bkn.go.id,” ujar Ridwan.
Ridwan menambahkan, PNS itu perekat bangsa. Sudah seharusnya jauh dari aktivitas ujaran kebencian dan intoleransi. Bagi masyarakat yang mengetahui ada PNS lakukan ujaran kebencian, diminta segera melaporkan. (esy/jpnn)
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Indonesia yang melakukan baiat dengan ISIS, Oman Rachman alias Aman Abdurrahman telah dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5).
Sikap Aman tampak santai saat menjalani sidang yang menentukan masa depannya itu. Dengan gamis cokelat dan peci abu-abunya, Aman masih bisa tersenyum dingin ke jaksa, hakim dan pengacaranya.
“Menuntut majelis hakim untuk menjatuhkan pidana pada terdakwa pidana mati,” ujar Jaksa Anita Dewayani di PN Jaksel, Jumat (18/5).
Mendengar tuntutan itu, tak ada reaksi dari Aman. Dia hanya duduk santai seraya menyimak ucapan jaksa dari kursinya. Dia juga tetap santai saat jaksa menyampaikan, tak ada hal meringankan bagi Aman.
Usai jaksa membacakan tuntutan dan menyerahkan berkas, hakim bertanya pada Aman Abdurrahman mengenai pembelaan.
“Apakah pembelaan sendiri atau bersama-sama dengan pengacara?” tanya majelis hakim.
Aman lantas meminta izin untuk berdiskusi dengan kuasa hukumnya. Usai mendapat izin, Aman langsung menghampiri pengacaranya. Keduanya tampak berdiskusi sambil berbisik.
Dalam diskusi singkat itu, Aman mengeluarkan kertas dari saku gamisnya dan menyerahkan ke pengacaranya.
Polda Riau diserang terduga teroris pagi ini, Rabu (16/5/2018). Mereka melukai polisi dengan samurai. Empat terduga teroris ditembak mati.
Polda Riau diserang terduga teroris pagi ini, Rabu (16/5/2018). Mereka melukai polisi dengan samurai. Empat terduga teroris ditembak mati.
PEKANBARU, SUMUTPOS.CO – Polisi menyebut 2 terduga teroris asal Pekanbaru yang ditangkap di Palembang mendapat suntikan dana dari seorang pegawai BUMN yang belakangan diketahui dari PLN. General Manager PLN Wilayah Riau-Kepulauan Riau M Irwansyah Putra mengaku kaget dengan kabar itu.
“Saya kaget juga dapat kabar ada oknum di wilayah kerja kita terlibat dugaan mendanai teroris,” kata Irwan, sapaan akrab Irwansyah, ketika dimintai konfirmasi, Jumat (18/5/2018).
Irwan mengatakan PLN menyerahkan sepenuhnya kepada aparat hukum untuk penyelidikan dugaan keterlibatan pegawai PLN yang disebut berinisial D itu. Menurut Irwan, D memang berada di wilayah Riau-Kepulauan Riau tetapi ditugaskan di bawah kantor cabang Pekanbaru.
“Kita serahkan sepenuhnya kepada pihak-pihak terkait untuk menindaklanjuti soal itu (dugaan donatur teroris),” kata Irwan.
Terkait dengan sosok D, Irwan mengaku tidak tahu karena memang wilayah kerjanya berbeda sehingga jarang bertemu atau berkomunikasi. Namun, Irwan menegaskan bahwa tidak boleh satupun pegawai PLN terlibat terorisme.
“Setiap apel kita sudah selalu sampaikan, bahwa kita bekerja harus menunjukkan integritas. Begitu juga terkait pelaksanaan Pilkada misalnya, sebagai organisasi PLN bersifat netral, soal pilihan itu terserah pribadi masing-masing. Intinya kita tentu tidak menginginkan adanya pegawai kita yang terlihat hal-hal yang seperti itu (terlibat donatur teroris),” kata Irwan. (dhn/fjp/dtc)
Foto: Lamhot Aritonang/dtc
Pimpinan tertinggi JAD, Aman Abdurrahman.
Foto: Lamhot Aritonang/dtc Pimpinan tertinggi JAD, Aman Abdurrahman.
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Organisasi antek ISIS di Indonesia, yakni Jamaah Ansharut Daulah (JAD), ternyata pernah mengadakan pertemuan nasional beberapa tahun lalu. Pertemuan diadakan dengan kedok latihan obat herbal.
Hal ini diungkap oleh jaksa Anita Dewayani dari surat tuntutan untuk Aman Abdurrahman yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera, Jumat (18/5/2018).
“Bahwa bulan November 2015 diadakan acara daurah dai nasional di Batu Malang, dengan topik pelatihan pengolahan pengobatan herbal,” kata jaksa.
‘Daurah’ atau ‘dauroh’ adalah pertemuan untuk pelatihan. Di situ hadir 30 orang amir (pimpinan) atau perwakilan wilayah JAD seluruh Indonesia. Tak ketinggalan, mereka menghadirkan Aman Abdurrahman yang sedang menjalani penahanan di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
“Mengadakan phone call dengan terdakwa Aman Abdurrahman yang sedang menjalani hukuman di Nusakambangan, dengan menggunakan handphone milik Zainal Anshori yang diperdengarkan kepada seluruh yang hadir pada saat itu,” kata jaksa.
Meskipun topik pertemuan nasional yang diangkat ke permukaan adalah soal pengobatan herbal, namun pertemuan ini bertujuan menyamakan pemahaman JAD berbagai wilayah. Aman Abdurrahman menyampaikan materi soal jihad menurut pemahamannya.
“Dengan materi pembahasan seputar tauhid dan jihad, hukum menyekolahkan anak di sekolah negeri, perangi syiah, segera mulai berjihad jangan mulai menunggu tahun 2018,” kata jaksa.
Di acara JAD se-Indonesia itu, pimpinan pusat JAD bernama Marwan alias Abu Musa memimpin rapat pimpinan JAD berbagai wilayah. Abu Musa hendak pergi ke Suriah, maka melalui forum itu dia menyerahterimakan jabatan pimpinan pusat JAD ke orang lain.
Selain itu, mereka juga melengkapi petugas dan perangkat, dan membuat program kerja. Mereka juga melakukan sumpah setia ke pimpinan ISIS Abu Bakar Al Baghdadi.
“Melaksanaan bai’at, mengucapkan sumpah janji setia yang ditujukan kepada Syekh Abu Bakar Al Baghdadi, yang dipandu ulah Saiful Munthohir alias Abu Gar,” kata jaksa.
Lewat acara itu ditetapkan kepengurusan setelah Abu Musa cabut ke Suriah. Dalam kepengurusan tersebut tidak ada nama Aman Abdurrahman, namun Aman diposisikan sebagai rujukan dalam ilmu din (ilmu agama) yang posisinya di atas amir atau Pimpinan JAD Pusat. Berikut adalah susunan kepengurusan JAD yang mereka tetapkan pada acara di Malang tahun 2015 itu:
Amir Pusat: Zainal Anshori alias Komaruddin alias Abu Fahry
Askari: Saiful Munthohir alias Abu Fida alias Abu Gar
Tarbiyah/Pendidikan: Ustaz Fauzan Jawa Tengah
Jabodetabek: Abu Arqom
Amir Wilayah Jawa Barat: Ustaz Khairul Anam
Amir Wilayah Jawa Tengah: Ustaz Fauzan
Amir Wilayah Jawa Timur: Rumlan alias Romli, alias Gus Rom
Amir Wilayah Bima: Abu Salma
Amir Wilayah Kalimantan: Djoko Sugito
Amir Wilayah Sulawesi: Fajrun
Amir Wilayah Ambon: Syaiful Munthohir alias Abu Gar. (dnu/fjp/dtc)
JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Komedian Entis Sutisna alias Sule akhirnya angkat suara perihal kabar gugatan cerai istri, Lina. Sule membenarkan kabar sang istri telah menggugat cerai dirinya di Pengadilan Agama Cimahi, Bandung.
Dalam sesi wawancara dengan E Entertainment News, NET TV, Sule enggan mengungkap alasan sang istri menggugat cerai. Dia memastikan baru mau angkat bicara kepada media bila sang istri muncul.
“Karena istri saya juga enggak mau mengeluarkan statement apapun. Begitu juga saya. Karena permasalahannya yang tahu adalah saya dan istri saya,” ungkap Sule, Jumat (18/5).
Pria 41 tahun ini juga menduga ada pihak ketiga yang mengompori sang istri melayangkan gugatan cerai.
“Saya tidak pernah mendakwa orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga saya, ikut campur urusan keluarga saya, karena saya yakin istri saya enggak mungkin seperti itu. Karena mungkin ada pihak ketiga yang buat istri saya panas,” tambahnya.
Meski begitu, Sule memastikan akan berusaha mempertahankan rumah tangga yang telah dibina selama 21 tahun itu.
“Saya yakin pemberitaan yang sekarang lagi ramai insyaallah enggak akan terjadi (cerai). Saya juga akan tetap mempertahankan rumah tangga saya, apapun yang terjadi,” kata Sule.
Seperti diketahui, Lina telah mendaftarkan gugatan cerainya terhadap Sule di Pengadilan Agama Cimahi, Bandung, Jawa Barat.
Sule dan Lina menikah sejak 1997 silam. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai empat orang anak, salah satunya penyanyi Rizky Febian. (mg7/jpnn)
SUMUTPOS.CO – Hari pertama Ramadan, pedangdut Ayu Ting Ting mengaku lemas dan ngantuk. Usai mengisi acara di satu stasiun televisi swasta, Ayu Ting Ting ingin segera sampai rumah untuk beristirahat.
“Ngantuk banget karena memang enggak tidur,” tutur Ayu, saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).
Pelantun Sambalado itu, mengungkapkan, selama Ramadan ia disibukkan dengan pekerjaan. “Sahurnya bakal sering di lokasi syuting,” kata ibu satu anak ini.
Ia pun harus pintar-pintar menjaga stamina agar tidak drop. “Paling minum madu, air putih aja. Udah ya, mau tidur dulu,” jelas Ayu.
Sebelumnya diberitakan, mantan istri Enji ini, memang dikontrak untuk memandu sederet program televisi selama Ramadan. Sebut saja Brownis, Pesbukers, Sahurnya Ramadan, hingga I Can See Your Voice Indonesia. (mg7/jpnn/saz)
Keterangan foto : Kapolsek Percut Sei Tuan Kompol Faidil Zikri S.H, S.I.K., (kemeja hitam) didampingi penyidik Reskrim Bripka I. Manullang (kemeja maron) mengintrogasi pelaku (kaos biru) di ruangan penyidik Polsek Percut Sei Tuan, Kamis (17/5).
Keterangan foto : Kapolsek Percut Sei Tuan Kompol Faidil Zikri S.H, S.I.K., (kemeja hitam) didampingi penyidik Reskrim Bripka I. Manullang (kemeja maron) mengintrogasi pelaku (kaos biru) di ruangan penyidik Polsek Percut Sei Tuan, Kamis (17/5).
PERCUT SEITUAN, SUMUTPOS.CO – Sembilan bulan dikandung dan dirawat hingga tumbuh dewasa, seolah tak ada arti bagi Andi Syaputra Siregar (24). Hanya karena dimarahi, penjual rokok asongan ini tega menikam ibu kandungnya, Nuriana Br Saragih (48).
Perbuatan tega itu berlangsung di rumah mereka, Jalan Pasar III Datuk Kabu, Gang Tengku IV, Desa Bandar Klippa, Percut Seituan, Kamis (17/5/2018) pagi. Atas tindakannya tersebut, kini Andi meringkuk di sel Mapolsek Percut Seituan.
Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Faidil Zikri SH, SIK, menyebut jika penikaman terjadi sekira pukul 09.00 Wib. Pagi itu, pelaku pulang ke rumah usai membeli makanan di warung.
Setibanya di rumah, si ibu yang sempat mencari-cari pelaku langsung memarahi dan melemparkan kulit pisang. Kurang puas, Nuriana juga memaki Andi dengan kalimat ‘Dasar Anak Anjing Kau’.
“Mendengar perkataan kasar ibunya, Andi tidak terima dan balik emosi. Tanpa banyak kata, pelaku mengambil pisau dari dapur. Berikutnya dia kembali menemui lalu menyerang sang ibu,” kata Faidil Zikri kepada POSMETRO MEDAN (grup SUMUTPOS.CO), Kamis (17/5/2018) malam.
Dilanjutkan, nasib baik masih menyertai Nuriana. Dia berhasil menghindar sehingga tikaman hanya mengenai tangan kirinya. Pun begitu, perempun ini tak lantas lolos begitu saja.
Emosi Andi semakin menjadi-jadi. Begitu tikamannya meleset, tindakannya berlanjut dengan penganiayaan. Si ibu dihajar hingga mengalami memar di perut.
Aksi kejam Andi baru berakhir setelah tetangga mereka, Pardomuan Siregar (53) dan Dahlia Siregar (26), meneriakinya agar berhenti menganiaya ibunya.
Sadar perbuatannya diketahui orang lain, Andi seketika tersadar jika tindakannya salah. Takut diamuk warga sekitar, pria ini lantas berusaha kabur.
Setelah Andi pergi, kedua saksi segera melarikan korban ke rumah sakit terdekat. Sementara warga lainnya yang belakangan mengetahui tindakan Andi, berinisiatif melaporkan kejadian ke Polsek Percut Seituan.
“Mendapat informasi itu, personel Reskrim bergerak cepat ke lokasi kejadian. Tak butuh waktu lama, pelaku berhasil diamankan di sekitaran lokasi tanpa melakukan perlawanan. Selanjutnya, pelaku berikut satu bilah pisau dapur bergagang kayu (barang bukti) di bawa ke Markas Komando (Mako) guna menjalani proses hukum lebih lanjut,” terang Faidil. (fad/ras)
SIDOARJO, SUMUTPOS.CO – Dua terduga teroris ditembak di Komplek Perumahan Auri, Kwadengan, Sidoarjo, Rabu (16/5/2018) malam. Mereka adalah Hari Sudarwanto alias Hari Singosari dan Wawan.
Hari dan Wawan masih saudara Budi Satriyo, yang ditembak mati di Perumahan Puri Maharani Desa Masangan Wetan Kecamatan Sukodono, Senin lalu.
Menurut kesaksian warga, Hari dan Wawan disergap Tim Densus 88 Antiteror usai salat tarawih di Masjid Nurul Huda, yang berada di dalam komplek perumahan, tak jauh dari rumah orang tuanya.
Hari dan Wawan tak mengikuti salat witir namun langsung pulang. Keduanya ditembak di kaki.
Namun Hari diduga melawan sehingga terpaksa ditembak mati oleh anggota Densus 88. Sementara Wawan diperkirakan masih hidup dan diamankan di Polda Jatim.
Menurut Dewa warga setempat, kejadian sangat cepat. Tampak bercak darah masih segar di depan rumah nomor 189 yang tak jauh dari rumah orang tua keduanya di nomor 193. “Sempat mendengar suara tembakan setelah sholat tarawih,” kata Dewa, seperti dilansir Pojok Pitu (grup POSMETRO MEDAN).
Atas kejadian ini, pihak keluarga hanya bisa menangis di dalam rumah. Keluarga mengaku, Wawan baru datang dari Bandung, sementara Hari datang dari Malang. Keduanya datang untuk menjenguk ibunya di Komplek Perumahan Auri Jalan Avia. (usrox indra/pul/jpnn)
Polda Riau diserang terduga teroris pagi ini, Rabu (16/5/2018). Mereka melukai polisi dengan samurai. Empat terduga teroris ditembak mati.
Polda Riau diserang terduga teroris pagi ini, Rabu (16/5/2018). Mereka melukai polisi dengan samurai. Empat terduga teroris ditembak mati.
PEKANBARU, SUMUTPOS.CO – Empat terduga teroris yang menyerang Mapolda Riau, Rabu (16/5/2018) pagi kemarin, tewas dilumpuhkan petugas. Satu di antara mereka, disebut sebagai pimpinan penyerangan, sekaligus pemimpin suatu kelompok suatu jaringan radikal.
Pria yang dimaksud adalah Mur Salim alias Pak Ngah (48) warga Kota Dumai. Sementara tiga lainnya adalah Adi Sugiyanto (26) warga Jalan Raya Dumai Sei Pakning, Suwardi (29) warga Kel. Gaung, Sungai Sembilan; serta Pogang (45), warga Kel. Bukit Timah.
Namun saat ditanyakan Pak Ngah pimpinan dari kelompok mana, Narto masih enggan untuk mengungkapkannya secara pasti. “Pimpinan kelompok mana masih pendalaman anggota, tapi ini terdeteksi dari kelompok pemanah,” katanya.
Sementara itu, pascapenyerangan yang terjadi di Mapolda Riau, tim gabungan langsung melakukan penggeledahan di beberapa lokasi di Kota Dumai, yang diduga sebagai kediaman dari para terduga teroris yang tewas.
Dalam penggeledahan itu, personel dibagi dalam tiga tim. Tim pertama, melakukan penggeledahan di rumah Mur Salim atau Pak Ngah.
“Tim kedua melakukan penggeledahan di rumah Suwardi yang tewas kemarin dan tim ketiga melakukan penggalian di jaringan Mur Salim atau Pak Ngah,” bebernya.
Hasilnya, delapan orang pun diamankan. Di antaranya yakni Harmidi (HAR) yang merupakan kakak Suwardi dan ibunya Nilam (NI). Lalu, Aan Santoso (AS), Dede Supriadi (DS), Syafrizal alias Ijal (SY/IJ).
Kemudian Sri Wahyuni (SW) yang merupakan ibu dari Adi Sufyan dan dua adiknya, Hardiyanto (HD) serta Yuyut Eko Prasetyo (YEP).
“Delapan orang hasil pengembangan dari penyerangan di Mapolda Riau saat ini sedang dalam pendalaman di Polres Dumai,” kata mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) tersebut.
Delapan terduga teroris yang berhasil diamankan ini beberapa di antaranya diketahui memiliki hubungan darah dengan Suwardi dan Adi Sufyan, dua pelaku penyerangan di markas Kepolisian itu. “Perkumpulan yang mereka lakukan terbiasa dengan panah dan ada beberapa yang satu keluarga,” terangnya.
Dari hasil penggeledahan diamankan beberapa barang bukti. Diantaranya senapan angin, buku-buku tentang jihad, buku yang berbahasa Arab, busur dan anak panah dan sasaran target panah yang terbuat dari kayu. (ica/jpc)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Zulfahri Rangkuti, orangtua M Yusuf Rangkuti (28) yang diamankan Tim Densus 88 Selasa (15/5/2018) kemarin sekira pukul 19.00 wib, tak yakin jika anaknya terkait aksi terorisme.
“Saya tidak percaya Yusuf terlibat dalam kelompok teroris. Apalagi terlibat dalam aksi bom bunuh diri di Surabaya,” kata Zulfahri saat ditemui wartawan di rumahnya Jalan Pukat I, Gang Sekolah, Kel. Banten, Medan Tembung, Medan, Rabu (16/5/2018) kemarin.
Zulfahri menyebutkan, bahwa anaknya merupakan dikenal baik. Sehari-hari, Yusuf bekerja sebagai tukang ojek online.
Setiap pagi berangkat dan siang pulang. Lalu, sore biasa berangkat lagi hingga malam hari. “Yusuf tidak pernah berbuat aneh selama di rumah,” ucapnya.
Zulfahri sempat terkejut saat petugas kepolisian datang ke rumah membawa Yusuf. Seluruh rumah digeledah, buku dan alquran juga dibawa petugas. “Kami terkejut saat petugas datang membawa Yusuf dan mengeledah rumah,” ucap Zulfahri.
Yusuf yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online, diamankan saat di persimpangan Jalan Sei Sikambing Sekip, Medan. Dia tengah menunggu orderan penumpang.
“Selama ini kita tidak tahu apa kegiatannya di luar rumah. Apalagi katanya gabung sama kelompok tertentu. Mana tahu kita dia ada ikut aliran tertentu atau tidak,” terang Zulfahri.
Ia menuturkan, tidak pernah melihat gelagat aneh atau teman-teman pengajiannya datang ke rumah. “Tadi malam Yusuf datang ke rumah dibawa Polisi. Mereka sempat mengucapkan salam meminta izin untuk masuk. Mereka bilang ada mau mencari barang di rumah kami,” kata Zulfahri.
Lebih lanjut Zulfahri menjelaskan, bahwa anak ketiganya itu tidak ada terlibat jaringan teroris seperti yang diberitakan. Menurutnya Yusuf anak yang baik-baik di rumah dan baru kali ini dilakukan penangkapan terhadap dirinya.
“Harapan kita kalau bisa Yusuf dilepaskanlah. Karena kami pun orang susah, aku cuma kerja tukang becak dayung, yang biasa mangkal di terminal Pancing depan Polsek. Anakku banyak bisa kasih makan sehari-hari saja sudah syukur,” ucapnya.
Ibu Yusuf, Zahriana mengatakan anak ketiganya tersebut baru sekitar 15 hari terakhir mengikuti salah satu pengajian yang tidak ia ketahui dimana keberadaannya. “Paling ada 15 hari dia mengikuti pengajian,” kata Zahriana.