Home Blog Page 6363

Kisah Saksi-saksi Bom Surabaya

SURABAYA, SUMUTPOS.CO – Salah satu saksi bom bunuh diri di GKI, menceritakan pengebom didrop dengan sepeda motor. “Didrop oleh sepeda motor,” ujar Mulia Harton, yang bekerja sebagai juru parkir di gereja itu. Ibu tersebut membawa 2 anak serta 1 remaja.

Temannya Yesaya mencoba menghalangi perempuan bercadar ini. “Cara berpakaiannya beda dengan jemaat. Cara jalannya juga jinjing gitu, mas. Kayak terburu-buru. Makanya langsung ditahan sama teman saya,” cerita Mulia.

Dan bom pun meledak. “Setengah badannya terbang ke atas, Mas,” jelas Mulia.

Setelah bom pertama itu meledak, ledakan kedua menyusul. Rupanya berasal dari remaja, anak si ibu.

Dalam kejadian itu, petugas gereja, Yesaya yang berada pada jarak yang paling dekat, masih terselamatkan meski luka cukup parah terkena serpihan bom.

“Setelah ledakan mereka berdua tergeletak dan anaknya satu lagi terluka sama seperti security,” imbuhnya.

Sementara terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Surabaya, Jawa Timur, disebut mengendarai sepeda motor menerobos gerbang gereja. Momen tersebut sempat terekam CCTV.

Dilihat dari rekaman CCTV, tampak ada 2 orang yang mengendarai sepeda motor bergerak ke arah gereja pukul 07.08. Tampak 2 orang itu membawa barang bawaan yang diduga sebagai bom.

Keduanya mengendarai motor perlahan kemudian berbelok ke gerbang gereja dan seketika meledak. Orang-orang di sekitar lokasi tampak panik menjauhi lokasi.

Rekaman CCTV itu senada dengan kesaksian seorang saksi mata bernama Samsia. Dia menyebut 2 terduga pelaku bom bunuh diri itu membunyikan klakson sesaat sebelum bom meledak. “Saya pas lihat masuk orang 2 menerobos masuk tapi orangnya langsung mati (meledak). Jadi mereka pakai motor langsung tet (klakson). Kan nggak biasanya begitu,” kata Samsia.

Samsia yang berjualan di dekat pintu gerbang gereja sampai terpental karena ledakan. Dia melihat ada 2 polisi dan dua pihak keamanan gereja yang jadi korban. “Satpam kena 2, polisi kena. Satu satpam, perempuan tukang catat di gereja. Saya terlempar 15 meter,” ujar dia.

Sedangkan di Gereja GPPS Jalan Arjuno Surabaya, petugas keamanan Gereja Pantekosta Erens A. Ratupa mengatakan, bom teror ini berasal dari satu unit mobil yang merangsek masuk ke halaman gereja.  “Mereka tiba-tiba masuk dan melemparkan bom itu.  Mobil mereka ikut terbakar,” katanya.

“Terjadinya waktu misa pertama,” tambah Erens.

Usai bom itu, polisi masih menemukan bom yang masih aktif di di paha salah satu anak pelaku. Tim Penjinak Bom dari Brimob Polda Jatim pun meledakkan sisa bahan peledak aktif. (bbs/mea)

Pelaku Ayah, Ibu & 4 Anaknya

Dita Oepriarto bersama istrinya Puji Puswati dan kekmpat nanak mereka, Fadil, 18, Firman Halim, 16, Fadilah Sari (12) dan Pamela Rizkita (9).

SUMUTPOS.CO – Tiga serangan teror bom bunuh diri menyasar tiga gereja di kota Surabaya, Jawa Timur pada Minggu (13/5/2018) pagi. Sedikitnya 13 orang tewas dan 43 orang lainnya luka-luka. Aparat kepolisian berhasil mengidentifikasi pelaku yang diduga kuat terdiri dari ayah, ibu, dan empat orang anaknya. Keluarga ini baru pulang dari Suriah, dan tergabung dalam Jamaah Anshorut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Kapolri Jendral Tito Karnavian, dalam konferensi pers mendampingi Presiden Jokowi di RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (13/5/2018) sore merinci siapa dan bagaimana proses peledakan bom dilakukan. “Pelaku diduga satu keluarga,” ujar Tito.

Tito menjelaskan, yang melakukan serangan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jalan Arjuna dengan mobil Avanza bernama Dita Oepriarto. Dia disebut-sebut sebagai kepala keluarga. Dia beraksi pada pukul 07.53 WIB, setelah sebelumnya menurunkan istri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro.

“Sebelumnya, dia men-drop istri dan dua anak perempuannya,” terangnya. Istri Dita adalah Puji Puswati, perempuan kelahiran Banyuwangi. Sedangkan dua anaknya diketahui bernama Fadilah Sari (12) dan Pamela Rizkita (9).

Usai mendrop istri dan anak di GKI, Dita membawa mobil diduga berisi bom menuju Gereja Pantekosta. Kemudian meledakkan mobil tersebut di Gereja Pantekosta. Mom meledak pukul 07.53 WIB, dan menjadi bom ketiga.

Sebelum ia meledakkan mobil di Gereja Pantekosta, istri dan dua anak perempuannya telah menyerang GKI Diponegoro dengan bom yang meledak pukul 07.15 WIB. Hal itu sesuai dengan keterangan saksi. Dikatakan, saat itu ada seorang perempuan bersama dua anak perempuan meledakkan diri di dekat tempat parkir. Dua anak langsung tewas, namun ada satu bom yang masih menempel di paha salah satu anak tidak meledak.

Sementara dua anak laki-laki pasangan Dita Oepriarto dan Puji Kuswati, sebelumnya berangkat sendiri menggunakan motor ke gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel. “Dua orang laki-laki ini diduga adalah putra Dita. Yang satu namanya Fadil, 18, dan Firman Halim, 16,” jelas Kapolri Tito Karnavian.

Bom Meledak di Rusunawa Sidoarjo, 5 Orang jadi Korban

Foto: Deni Prasetyo Utomo/detik Rusun Wonocolo, lokasi terjadinya ledakan diduga bom di Sidoarjo.
Foto: Deni Prasetyo Utomo/detik
Rusun Wonocolo, lokasi terjadinya ledakan diduga bom di Sidoarjo.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Sebuah bom meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (13/5) malam. Ada 5 orang korban akibat ledakan bom. Dua orang sudah berada di rumah sakit.

“Dua orang di rumah sakit,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera saat dihubungi, Minggu (13/5/2018). Sedangkan tiga orang lainnya masih berada di unit Blok B Rusunawa. Polisi belum menjelaskan detail soal kondisi mereka yang terluka. “Yang mau kita turunkan (dari rusunawa) 3 orang,” kata Frans.

Mabes Polri membenarkan bahwa ledakan tersebut terjadi di dekat Polsek Taman Sepanjang. “Benar, ada ledakan lagi di Sidoarjo. Sumber ledakan di salah satu unit Rusunawa Jalan Sepanjang, dekat Polsek Taman. Diduga unit itu didiamin oleh terduga teroris,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen M Iqbal saat dikonfirmasi.

Iqbal mengatakan, orang yang mendiami unit Rusunawa itu adalah keluarga teroris bom bunuh diri di sejumlah gereja di Surabaya, pagi tadi.

Namun, kata Iqbal, pihaknya masih menyelidiki hal itu lebih dalam. “Kami belum tahu ada orang di sana atau tidak. Jadi kamar tersebut, unit tersebut ditinggali oleh terduga pelaku teroris. Kami masih cek apakah itu meledak dengan sendirinya atau ada orangnya di sana yang meledakkan,” ucap Iqbal.

“Belum tahu low atau high explosive. Belum tahu ada korban atau nggak. Ini makanya dicek,” tandas Iqbal.

Pantauan di lokasi, Minggu (13/5/2018), pukul 22.00 WIB, petugas kepolisian, tim inafis hingga TNI masih melakukan identifikasi lokasi ledakan.

Terlihat juga seluruh penghuni rusun sudah dievakuasi dari gedung. Para penghuni rusun berlarian keluar dan menunggu di area parkiran bersama warga sekitar.

Polisi memeriksa lokasi ledakan. Unit rusunawa yang dihuni terduga teroris juga dalam kondisi berantakan. Ditemukan rakitan bom yang sudah meledak. Rakitan bom itu terdiri dari benda berbentuk pipa, gulungan kabel dan dudukan baterai. Belum ada informasi mengenai rinci ledakan bom tersebut.

Polisi masih berjaga di sekitar police line. Para petugas melarang warga masuk ke area Rusun. Ambulans juga sudah berada di lokasi.

 

Polisi menemukan rakitan bom yang sudah meledak. Rakitan bom itu terdiri dari benda berbentuk pipa, gulungan kabel dan dudukan baterai.

Saksi Mata: Bocah Terluka

Salah seorang warga bernama Kasmadi (50) mengungkap detik-detik ledakan keras dari rusun 5 lantai.

“Kejadian sekitar pukul 20.00 WIB, saya mendengar ledakan cukup keras di blok B. Saya bersama sejumlah warga mencari sumber ledakan yang ternyata di blok B lantai 5,” kata Kasmadi.

Suara ledakan terdengar keras dari kamar Kasmadi yang tinggal di blok A di lantai yang sama. Ia sempat melihat ada seorang bapak yang sekarat, ia juga melihat anak kecil luka parah. Ia melihat ada tas berisi benda mencurigakan.

“Saya melihat beberapa bungkus mencurigakan seperti bom, saya mengimbau warga untuk turun. Saya kemudian lapor polisi,” katanya.

“Setelah itu ada beberapa bahan yang kata Polsek itu berbahaya dan bisa meledak,” imbuhnya.

Tak lama kemudian sekitar pukul 21.00 WIB Polsek datang dan kemudian mengevaluasi warga.

Ledakan terjadi setelah peristiwa bom di 3 gereja di Surabaya. Pelaku pengeboman di gereja merupakan satu keluarga.

Setelahnya polisi menggeledah rumah pelaku pengeboman gereja, Dita Oepriarto. Polisi menemukan bahan-bahan berbahaya pembuatan bom. “Dirakitnya di rumah tersebut,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan. (dtc/bbs/mea)

Pelaku Satu Keluarga, Gunakan Bom Berbeda

Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

SURABAYA, SUMUTPOS.CO – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan adanya dugaan para pelaku pengeboman 3 gereja di Surabaya adalah sekeluarga. Mereka menggunakan jenis bom yang berbeda-beda.

“Tim alhamdulillah sudah bisa identifikasi pelaku. Jadi pelaku diduga 1 keluarga yang melakukan serangan,” ucap Tito mengungkap hasil investigasi tim Polri, dalam konferensi pers mendampingi Presiden Jokowi di RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Total ada 6 terduga pengebom yaitu D, K, FS, VR, Y, dan Ir. Berikut pembagian perannya seperti dijelaskan Tito.

Ayah D menyopiri Toyota Avanza berisi bom bersama istrinya, K, dan 2 anaknya yaitu FS dan VR. Ayah D menurunkan K, FS, dan VR di GKI Diponegoro, kemudian berlanjut membawa mobil itu ke Gereja Pantekosta.

Sedangkan, 2 anak D dan K lainnya yaitu Y dan Ir berboncengan motor ke Gereja Santa Maria Tak Bercela. Bom di 3 lokasi itu meledak dalam waktu yang tak terlalu lama.

Tito mengatakan bom yang meledak itu berbeda-beda. Bom yang dibawa ayah D di mobil disebut Tito memiliki daya ekplosif yang tinggi.

“Yang dengan Avanza di Arjuna itu menggunakan bom diletakkan dalam kendaraan setelah itu ditabrak. Ini ledakan terbesar dari 3 (lokasi),” sebut Tito.

Sedangkan, bom yang dibawa istri D yaitu K disematkan di ikat pinggang. Menurut Tito, ciri khas bom ikat pinggang dapat dilihat dari mayat terduga pelaku yang terbelah dua.

“Di GKI, bom pada ikat pinggang, pada belt. Ini ciri-cirinya sangat khas karena rusak pada bagian perut. Bagian atas dan bawah masih utuh,” kata Tito.

Sedangkan, bom yang meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela dibawa di dalam tas. Bom itu meledak dan menyebabkan sejumlah orang tewas termasuk seorang bocah berusia 11 tahun. (dkp/dhn/dtc)

Otak Pengendali Teroris Berada di Lapas Nusakambangan

Foto yang beredar di aplikasi pesan instan dari gereja Santa Maria Tak Bercela. Tampak jemaat yang selamat mencoba pergi dari lokasi ledakan.
Foto yang beredar di aplikasi pesan instan dari gereja Santa Maria Tak Bercela. Tampak jemaat yang selamat mencoba pergi dari lokasi ledakan.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Sejumlah teroris yang ditangkap oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror hari ini ternyata dikendalikan dari balik lembaga permasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Hal itu diungkap Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.

“Mereka kelompok JAD (Jemaah Ansharut Daulah) Jabodetabek yang dipimpin K dan DS.  Keduanya napi teroris,” kata Setyo di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Minggu (13/5).

Dijelaskan Setyo, K dan DS sudah lama menghuni Lapas di Nusakambangan. Namun, gerakan yang muncul hari ini diketahui telah dikomunikasikan sejak beberapa waktu lalu. “Sudah beberapa waktu lalu mereka lakukan komunikasi,” imbuhnya.

Ditanya bagaimana cara mereka bisa berkomunikasi untuk melancarkan aksi serangan, Setyo enggan menjawabnya. Sebab, cukup pihak Kepolisian saja yang mengetahui dalam rangka penyelidikan. “Kita tidak boleh buka,” sebutnya.

Pihaknya pun masih mendalami apakah gerakan mereka dipicu dari kerusuhan di Rutan cabang Salemba, Kompleks Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat yang sempat dikuasai oleh napi terorisme selama 38 jam.

Seperti diketahui, Densus 88 Antiteror menembak mati empat terduga teroris di Cianjur, Jawa Barat. Mereka berencana menjalankan aksi teror di Jakarta dan Mako Brimob dengan sasaran aparat kepolisian.

Saat penangkapan, diamankan sejumlah senjata api dan senjata tajam berupa panah yang busurnya dipasang bom. Usai mereka dilumpuhkan, Densus 88 Antiteror pun menangkap kembali dua terduga teroris di Sukabumi dan Cikarang, Bekasi. Mereka semua ternyata masih satu kelompok teroris jaringan (JAD) Jabodetabek pimpinan K dan DS.

Sebelumnya, diamankan pula TS, seorang terduga teroris di sekitar Mako Brimob, Sabtu dini hari (12/5). Dia berhasil menusuk salah satu anggota satuan intel pasukan khusus Polri itu.

Densus 88 Antiteror juga menangkap empat terduga teroris di daerah Tambun, Bekasi, Jawa Barat, kemarin, Sabtu (12/5). Juga dua orang perempuan di sekitar Mako Brimob semalam.

Lebih lanjut Setyo menerangkan, Densus 88 Antiteror dipastikan terus bergerak untuk menangkap para teroris yang merencanakan aksi penyerangan dalam waktu dekat.  “Sekarang teman-teman dari petugas antiteror sedang lalukan pengejaran terus karena diindikiasikan sel-sel tidur sudah mulai bangkit,” tuturnya.

Di sisi lain, penjagaan rumah ibadah juga diperketat menyusul adanya aksi bom di sejumlah gereja di Surabaya hari ini. “Rumah-rumah ibadah sudah dari Kamis kemarin kita lakukan penjagaan,” pungkas Setyo. (dna/JPC)

Detik-detik Bripka Iwan Sarjana Disiksa Para Napi Teroris

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo saat menjenguk Bripka Iwan Sarjana di RS Bhayangkara R Said Sukanto, Jakarta, Sabtu (12/5).
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo saat menjenguk Bripka Iwan Sarjana di RS Bhayangkara R Said Sukanto, Jakarta, Sabtu (12/5).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Bripka Iwan Sarjana, anggota Densus 88, sempat mengalami penyanderaan dan penyiksaan oleh para tahanan dan napi teroris di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob.

Berikut kronologis dan fakta-fakta kesadisan para napi teroris, sebagaimana dituturkan Bripka Iwan Sarjana saat diwawancarai secara eksklusif wartawan Jawa Pos Ilham Dwi Ridlo Wancoko.

Pertama, awal mula kejadian penyanderaan, saat Bripka Iwan sedang di ruang pemeriksaan. Mendengar ada ribut-ribut di luar ruangan, Iawan menguga hal yang biasa saja. Sebab, memang Rutan Mako Brimob ini berbeda dengan rutan atau penjara lainnya.

Kedua, dia mengungkap bedanya Rutan Salemba Cabang Mako Brimob dengan rutan lainnya. Bila di rutan atau penjara biasa, tahanan dan napi itu segan terhadap polisi. Tapi, kalau di Rutan Mako Brimob ini, tahanan dan napinya kasus terorisme. Mereka marah, tidak suka, melawan kalau dengan polisi. Makanya, setiap ada anggota lewat sel, mereka teriak-teriak. Biasanya mereka meneriakkan kata thogut (orang yang melebihi batas, red), klaim sepihak kelompok teror.

“Nah, teriakan-teriakan semacam itu biasa didengar setiap hari. Saya mengiranya yang biasanya ini. Tapi, ternyata berbeda dari biasanya. Saat saya keluar ruang pemeriksaan di lantai atas dan turun melalui tangga, ternyata banyak tahanan dan napi yang mengepung.”

Ketiga, para tahanan dan napi teroris mencoba melukai dan melumpuhkan Iwan Sarjana dengan berbagai barang yang keras. Batu, meja, kursi, dan sebagainya. Belasan hingga puluhan orang.

“Tapi saya berusaha menyelamatkan diri. Saya masuk ke dalam ruangan penyidik atau ruang staf. Di sana sudah ada beberapa rekan saya, seperti almarhum Pak Yudi Rospuji, Almarhum Fandy Setyo Nugroho, dan dua rekan lainnya seingat saya,” ungkapnya.

Perempuan Pelaku Taruh Bom di Paha Kedua Anaknya

Polisi berjaga di TKP lokasi pengeboman di salahsatu dari 3 gereja yang dibom di Surabaya, Minggu (13/5).
Polisi berjaga di TKP lokasi pengeboman di salahsatu dari 3 gereja yang dibom di Surabaya, Minggu (13/5).

SURABAYA, SUMUTPOS.CO – Entah apa yang dipikirkan pelaku peledakan bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, Surabaya, Minggu (15/5). Dia melakukan aksinya dengan sangat keji karena melibatkan dua anak. Dua anak itu ikut tewas, namun satu bom di paha masih aktif saat polisi mendatangi tempat kejadian.

Menurut saksi mata, Tardianto, dia melihat seorang perempuan berjalan kaki memasuki area parkir GKI bersama anak-anak dan seorang balita. Perempuan itu mengenakan jaket warna hitam dan menggunakan pakaian berwarna gelap. Tak lama, Tardianto mendengar ledakan keras. Perempuan dan anak-anak itu tergeletak, termasuk security gereja yang berjaga.

Namun, bom yang meledak ternyata belum semuanya. Polisi menemukan ada satu bom aktif yang masih nempel di paha anak. Belum diketahui, apakah itu anak korban atau bukan. Yang jelas, tim Jihandak (Penjinakan Bahan Peledak) langsung melepaskan bom itu dari paha anak yang tewas untuk diledakkan.

Berdasarkan pantauan JawaPos.com (grup Sumut Pos) di lokasi, dentuman ledakan bom itu terjadi tepat pukul 10.35 WIB dengan cukup keras. Peledakan dilakukan dengan menggunakan mobil kendaraan penjinak bom yang disiapkan oleh aparat kepolisian.

“Ini bom yang di anaknya. Insya Allah sudah tidak ada bom aktif lagi,” kata seorang petugas di lokasi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, anak tersebut kemungkinan besar sudah tewas sebelum bom di pahanya diledakkan. Sebab, saat bom pertama meledak, anak itu terkena ledakan dan benturan dengan perempuan dewasa pembawa bom. (jpg)

Penutupan Galian C di Aceh Besar Harus Ada Solusi

Foto: BATARA/SUMUT POS KOREK: Sebuah alat berat mengorek material dari dasar Sungai Seruai di Dusun Buluh Nipes Desa Tanjung Sena, Kecamatan Biru-biru, Senin (23/10).
Sebuah alat berat mengorek material dari dasar sungai-ilustrasi.

JANTHO, SUMUTPOS.CO –  Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Aceh Besar, H Khairudin, meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melalui dinas terkait tidak hanya tegas dalam penutupan galian C di zona larang tambang.

Ia menilai, penutupan galian C di beberapa wilayah di Kabupaten Aceh Besar tidak menjadi langkah bijak yang dilakukan oleh pemerintah. Namun, penutupan lokasi tambang galian C saat ini menimbulkan permasalahan baru.

“Penyelesaian galian C harus diselesaikan secara menyeluruh dan tidak hanya menutup lokasi saja. Akibat dari penertiban ini akan berdampak pada sektor lain,” ujar Khairudin, kepada SUMUT POS, Sabtu (12/5).

Kata dia, material galian C sangat dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur. Tanpa ada solusi dari penutupan galian C, sambung dia, akan berdampak terhadap pelaksanaan proyek APBK/APBA dan proyek APBN.

“Pemerintah juga harus memberi izin kepada masyarakat dan menetapkan zona tambang rakyat untuk masyarakat. Sehingga para pengusaha tambang galian C bisa memperoleh izin tambang dari pemerintah yang legal dan resmi,” ujarnya.

Dengan ditetapkan zona tambang rakyat, kata dia, juga akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Namun demikian, kata dia, pemerintah harus dapat mengendalikan dampak lingkungan dari galian C.

“Pemeintah juga harus mengawasi areal tambang galian C secara berkala terhadap izin yang sudah diberikan.  Pemerintah harus cakap mengelola sumber kekayaan alam yang terbatas, dan tidak terbarukan dengan sebaik-baiknya dan diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat,” tegasnya.(zal)

Gamer Bisa Bermain PUBG Mobile hingga 7,3 Jam Non Stop

PUBG Mobile – PC Level Mobile Game.
PUBG Mobile – PC Level Mobile Game.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – ASUS menghadirkan solusi sempurna bagi para mobile gamers di Indonesia, yang industri gamingnya sedang meningkat pesat. Solusi yang dihadirkan adalah dalam wujud ZenFone Max Pro M1.

Diperkuat oleh Qualcomm Snapdragon 636 yang dibuat dalam proses manufaktur 14 nanometer, prosesor ini akan membuat smartphone bekerja lebih cepat dan dengan efisiensi energi yang lebih baik.

Dipadukan dengan baterai berkapasitas besar, yakni berbasis Lithium-Ion Polymer dengan ukuran 5.000mAh, ZenFone Max Pro M1 akan memungkinkan para gamers menikmati permainan lebih lama. Kombinasi antara CPU efisien dan baterai berkapasitas raksasa dalam perangkat yang disebut sebagai “Limitless Gaming” akan membuat pengguna bisa bermain PUBG Mobile hingga 7,3 jam non stop.

“Pada peluncuran ZenFone Max Pro M1 tanggal 23 April lalu, kami menggelar PUBG Demo Area untuk menyediakan tempat bagi para media, blogger dan YouTuber, fans dan partner dari seluruh Indonesia mencicipi pengalaman bermain PUBG Mobile menggunakan perangkat baru kami,” sebut Galip Fu, Country Marketing Manager ASUS Indonesia. “Responsnya, sangat luar biasa,” ucapnya.

Sebagai salah satu game yang sangat populer di seluruh dunia, PUBG menawarkan gameplay setara game PC dengan grafis yang hebat dan hiburan yang menyenangkan. Tak lama setelah dirilis, game ini berhasil meraih banyak sekali perhatian para gamers.

“Saat pengguna memainkan PUBG Mobile di ASUS ZenFone Max Pro M1, mereka sangat terkagum-kagum. Tak hanya performanya yang tinggi dan baterainya yang bertahan lama, ZenFone Max Pro M1 juga menawarkan setting grafis HD dan juga High Frame Rate mode,” sebut Galip. “Setting grafis HD memuat tampilan grafis pada game bisa menjadi sangat realistis,” ucapnya.

Dengan High Frame Rate, game juga bisa ditampilkan hingga kecepatan 60fps. Artinya, pengguna bisa menikmati game secara lebih lancar.

“Kami memprediksi PUBG Mobile akan menjadi topik utama di kalangan gamers untuk beberapa tahun ke depan. Untuk itu, ASUS memutuskan untuk menyediakan dukungan penuh pada event-event PUBG Mobile yang akan datang,” sebut Galip. “Tak hanya itu, kami juga akan terus mendobrak batas dan menghadirkan pengalaman mobile gaming yang memuaskan,” tambahnya. (rel/mea)

Dua Polisi Jadi Korban Teror Bom Gereja di Surabaya

Foto: Istimewa Situasi pasca ledakan bom di gereja di Surabaya.
Foto: Istimewa
Situasi pasca ledakan bom di gereja di Surabaya.

SURABAYA, SUMUTPOS.CO – Dua petugas kepolisian menjadi korban luka serangan bom gereja di Surabaya. Mereka kini dirawat di rumah sakit.

“Ada dua petugas,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera.

Hal itu disampaikan Frans kepada wartawan di depan kompleks gereja Santa Maria, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Frans menyatakan pernyataanya ini bersifat sementara.

Dua petugas polisi tersebut dilarikan ke RS Dr Soetomo, Surabaya. Frans menyatakan data sementara yang didapatkan kepolisian ada 35 orang menjadi korban luka.

Salah satu di antara tiga serangan itu dilakukan ibu dan anak. Kedua pelaku meledakkan dirinya di depan halaman GKI Surabaya.

“Saya sempat melihat 2 orang anak dan ibunya datang membawa 2 tas,” kata satpam, Antonius kepada wartawan di lokasi, Minggu (13/4/2018).

Awalnya, petugas menghadang ibu tersebut di depan pagar halaman gereja sekitar pukul 07.45 WIB. Namun ibu itu tetap mencoba masuk. Tiba-tiba saja ibu itu memeluk petugas.

“Tiba-tiba meledak,” kata Antonius. (fjp/dtc)