Home Blog Page 6417

Kampanye Akbar Perdana Eramas di Kisaran Meriah

Cawabgubsu Musa Rajekshah dan Cagubsu Edy Rahmayadi saat kampanye akbar perdana di Kabupaten Asahan, Minggu (22/4).
Cawabgubsu Musa Rajekshah dan Cagubsu Edy Rahmayadi saat kampanye akbar perdana di Kabupaten Asahan, Minggu (22/4).

SUMUTPOS.CO – Kampanye akbar atau rapat umum I Pilgubsu 2018 pasangan calon nomor urut satu, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) berlangsung sukses dan meriah, Minggu (22/4). Meski satu jam lebih diguyur hujan deras, sejak Edy-Ijeck diarak mulai dari Jalan Setia Budi Kisaran sampai ke Lapangan PBSD Kota Kisaran, Kabupaten Asahan, sedikit pun tak menyurutkan antusias seluruh pendukung dan relawan mengikuti rangkaian kegiatan.

Ada lima aspek prioritas Eramas bilamana diberi amanah memimpin Sumut lima tahun mendatang. Pertama soal ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur serta bidang pertanian dan kelautan.

“Pertama yakni soal pemberdayaan tenaga kerja kita. Bayangkan sekian banyak lulusan SMA, S1 dan S2 yang hampir 400 ribu lebih belum memiliki pekerjaan. Kedua, pendidikan harus segera kita benahi. Sehingga banyak generasi penerus yang mampu membangun Sumut dari dinasti ke dinasti berikutnya,” ujar Edy Rahmayadi didampingi Ijeck kepada wartawan usai kampanye akbar.

Aspek ketiga yaitu kesehatan, dimana diketahui banyak ibu melahirkan yang meninggal dunia. Hal ini menurutnya juga perlu segera dibenahi. Yakni dengan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di bidang tersebut. “Kemudian infrastruktur yang kita tahu membuat masyarakat bosan dan apatis ketika berkendara di jalan. Termasuk kondisi jalan menuju lokasi pariwisata sangat tidak nyaman dilalui. Terakhir soal pertanian dan nelayan yang harus segera kita benahi,” janjinya.

Bersama Ijeck, mantan Pangkostrad dan Pangdam I/BB ini yakin mampu mewujudkan visi dan misi itu. Terlebih saat melihat antusiasme masyarakat dan seluruh pendukung Eramas pada kampanye akbar perdana kemarin. “Jumlah 15-25 ribu massa yang hadir itu adalah petanda baik bagi Eramas dan Sumut. Walaupun hujan deras tapi rakyat tetap antusias menyambut kami,” katanya. “Insyaallah kami optimis. Karena kami berdua anak Sumut. Pilihannya hanya tinggal anak Sumut atau bukan. Kalau sesama anak Sumut tentu punya ikatan emosional yang kuat membangun wilayahnya. Doakan kami,” imbuh Edy.

Ijeck menambahkan, di tengah kondisi cuaca yang tak tentu, animo masyarakat dan pendukung Eramas tetap antusias mengikuti kampanye akbar perdana. Ia berharap hal ini menjadi bentuk kecintaan masyarakat Sumut terhadap Eramas. “Kami berharap kecintaan itu terus bertambah kepada Eramas, sampai 27 Juni mendatang saat hari pencoblosan datang ke TPS untuk menentukan pilihan. Insyaallah jika diberi amanah memimpin Sumut, kami akan bawa perubahan Sumut lebih baik lagi,” katanya.  

KPK Diminta ‘Kejar’ Pejabat Pemprovsu

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS BERJALAN_Mantan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 Hidayatullah dan Raudin purba berjalan keluar usai diperiksa KPK di Makobrimob Polda Sumut, Medan, Selasa (17/4). KPK kembali memeriksa sebanyak 22 orang mantan dan anggota DPRD sebagai saksi untuk 38 anggota DPRD Sumut yang menjadi tersangka dalam kasus penerimaan suap dari mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
BERJALAN_Mantan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 Hidayatullah dan Raudin purba berjalan keluar usai diperiksa KPK di Makobrimob Polda Sumut, Medan, Selasa (17/4).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kasus dugaan suap hak interpelasi dan ‘uang ketok’ pengesahan APBD Sumut telah menyeret 50 anggota DPRD Sumut. Sebanyak 12 orang sudah divonis, dan 38 anggota dewan lainnya masih berstatus tersangka.

Namun hingga kini, belum ada seorang pun pejabat Pemprov Sumut yang ditetapkan sebagai tersangka, selain mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho. Karenanya, lembaga antirasuah itu diminta juga mengusut keterlibatan pejabat eksekutif lainnya.

Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut Zulfikar mengatakan, pemeriksaan yang kini sudah sampai pada penetapan hukuman bagi sejumlah terpidana, pantas diapresiasi. Sebab dengan proses penyidikan yang sudah beberapa kali berulang, membuahkan hasil yang cukup baik. Sejumlah oknum kemudian disebutkan telah mengembalikan uang suap yang sempat diterima pada masa lalu.”Tentu kita harus menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Kita harapkan hukuman dengan seadil-adilnya. Jangan ada proses hukum yang kesannya tebang pilih,” sebut Zulfikar kepada Sumut Pos, Minggu (22/4).

Dengan penetapan 38 orang tersangka baru kasus suap pengesahan APBD dan interpelasi oleh KPK, Zulfikar menganggap ini belum final. Sebab menurutnya, masih ada dugaan keterlibatan sejumlah orang lainnya. Sebagaimana disebutkan, lembaga antirasuah juga melihat peran seseorang dalam kasus suap-menyuap tersebut hingga sikap mengembalikan uang untuk mempertimbangkan peringanan tuntutan hukuman.

“Sekarang kita lihat ini masih dalam proses. Kita berharap ini bisa jadi memotivasi agar Dewan (DPRD Sumut) bekerja lebih baik lagi. Makanya kami juga mengundang KPK datang pada rapat paripurna membahas APBD,” jelas Zulfikar.

Pun begitu, dirinya melihat hingga kini belum ada gambaran bagaimana KPK bisa mengungkap dugaan keterlibatan pejabat di lingkungan Pemprov Sumut sebagaimana disebutkan bahwa sedikit banyak, diduga oknum PNS punya peran seperti menjadi pengantar. “Makanya kita minta ini diselesaikan dengan adil. Belum ada eksekutif (pejabat) yang diungkap kan. Tetapi saya yakin KPK sendiri punya pemetaan sendiri terhadap masalah ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, KPK kembali melakukan pemeriksaan saksi-saksi secara maraton Mako Brimob Jalan Wahid Hasyim Medan, Sabtu (21/4). Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi dan tokoh masyarakat Sumut, Musa Rajekshah alias Ijeck turut diperiksa.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah membenarkan ihwal pemeriksaan saksi-saksi tersebut. Menurutnya, penyidik meneruskan proses pemeriksaan terhadap dua saksi sejak pagi, yakni Tengku Erry Nuradi sebagai Gubernur Sumut dan juga Ijeck.

Selain memeriksa Ijeck dan Tengku Erry, Febri juga mengatakan, penyidik akan memeriksa sekitar 18 saksi lain dari unsur Pemprov Sumut, staf DPRD dan pihak swasta. “Kita sudah memeriksa 94 saksi. Secara total sekitar 152 saksi telah diagendakan pemeriksaannya,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.

DLH Medan Sidak Lippo Plaza

FOTO: SIDAK DLH SIDAK: Petugas DLH Medan saat melakukan sidak ke Lippo Plaza Medan, kemarin. (IST/SUMUT POS)
FOTO: SIDAK DLH
SIDAK: Petugas DLH Medan saat melakukan sidak ke Lippo Plaza Medan, kemarin. (IST/SUMUT POS)

SUMUTPOS.CO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan akhirnya melakukan insepeksi mendadak (sidak) ke Lippo Plaza, Jumat (20/4) kemarin. Dari sidak tersebut dipastikan bahwa tidak ada limbah Lippo Plaza yang dibuang ke pedestrian.

Sidak ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Medan Sonita Simangunsong. Sedangkan pihak Lippo Plaza Medan diwakili Jahari Situmorang, selaku operational manager. Namun DLH tidak menemukan adanya limbah dibuang ke pedestrian Jalan Diponegoro.

Menurut Jahardi Situmorang, pihaknya telah menyambungkan pipa yang selama ini membuang air ke pedestrian. “Yang dibuang itu bukan air limbah, tapi pipa pembuangan air hujan. Itu pun sudah disambungkan pipanya agar pembuangan menuju drainse,” katanya.

Disebutkan, pipa air limbah berbeda dengan pipa air hujan. “Pipa oulet untuk air limbah berada pada lokasi tersendiri, tidak mungkin dicampur dengan air hujan,” tambahnya.

Dijelaskan, Lippo Plaza Medan telah mengelola air limbah pada IPAL dan mengujinya setiap bulan. “Jadi tidak benar juga kalau Lippo disebut membuang limbah ke pedestrian,” tuturnya.

Jahardi menambahkan hasil verifikasi ini merupakan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan dan Lippo Plaza Medan berharap dapat menghentikan polemik yang terjadi di masyarakat.

Sedangkan Corporate Public Relation Manager Lippo Indonesia, Nidia N Ichsan menambahkan, berdasarkan hasil uji laboratorium hasil limbah lippo plaza masih kategori normal. “Hasil uji laboratorium untuk bulan Januari hingga Maret 2018 tidak ada yang melebihi baku mutu,” kata Nidia.

Sebelumnya, ada keluhan masyarakat tentang adanya aliran air yang diduga limbah dibuang ke pedestrian Jalan Diponegoro. Atas keluhan tersebut, managemen Lippo Mall langsung melakukan perbaikan dengan menyambung pipa pembuangan air hujan ke saluran drainase kota. (dek/ila)

 

 

Kontrak PT Budi Mangun Diperpanjang

Lahan tempat pembangunan relokasi Pasar Kampunglalang tampak semal belukar karena pembangunannya tak kunjung rampung.
Lahan tempat pembangunan relokasi Pasar Kampunglalang tampak semal belukar karena pembangunannya tak kunjung rampung.

SUMUTPOS.CO – Kegagalan PT Budi Mangun KSO dalam merevitalisasi Pasar Kampunglalang sehingga mangkrak berbulan-bulan, tidak menjadi penilaian buruk bagi Pemerintah Kota Medan (Pemko) Medan.

Nyatanya, Pemko Medan melalui Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman Penataan Ruang (PKP2R) Kota Medan, diam-diam memperpanjang kontrak kerja dengan PT Budi Mangun tersebut untuk melanjutkan revitalisasi pasar tradisional tersebut.

Kepala Dinas PKP2R Kota Medan, Samporno Pohan yang dikonfirmasi tak menampik kontrak kerja terhadap PT Budi Mangun diperpanjang. “Tetap dia (PT Budi Mangun) yang mengerjakan,” kata Samporno saat ditemui di Lapangan Merdeka Medan ketika menghadiri acara memperingati Hari Bumi yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Minggu (22/4).

Menurut dia, hanya kontraktor tersebut yang bisa melaksanakan atau membangun Pasar Kampung Lalang. Sebab, apabila pemborong lain dikhawatirkan tidak sanggup mengerjakan. “Kalau baru pemborongnya, lain lagi ceritanya nanti,” ucapnya.

Disinggung tidak khawatir apabila gagal lagi dikerjakan perusahaan tersebut, Samporno mengaku sudah ada pertimbangan. “Makanya ada skema baru lagi, misalnya sistem kerja yang dilakukan,” akunya sembari buru-buru pergi.

Sementara, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin yang diwawancarai tak banyak berkomentar. Eldin sibuk mendampingi Menteri LHK Siti Nurbaya. “Sudah dibangun, sudah dibangun,” ucapnya singkat.

Sebelumnya kontraktor itu sudah gagal mengerjakan proyek tersebut. Sebab, sesuai dengan perjanjian yang disepakati dalam rapat dengar pendapat (RDP) lintas komisi beberapa waktu lalu, seharusnya 30 hari pertama setelah perjanjian yang disepakati antara PT Budi Mangun dengan masyarakat dan Pemko Medan maka progres kerjanya harus mencapai minimal 30 persen. Namun hal itu tidak dilakukan dengan alasan yang tidak diketahui. Bahkan, pemborong itu sudah meninggalkan lokasi proyek.

Kabar diperpanjangnya kontrak kerja dengan pihak swasta itu, diperoleh Sumut Pos berdasarkan Addendum Ke-3 Surat Perjanjian Pekerjaan (Kontrak Kerja) dengan nomor: 2.1.2/Add-3/KPA-PPP/SPP/III/2018. Dalam surat tersebut, ditandangani Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Khairudi Hazfin Siregar dan Kuasa KSO PT Budi Mangun, Dedy Stefanus tertanggal.

Permohonan surat itu dilakukan sejak 12 Maret 2018, sebelum masa perpanjangan kontrak kerja berakhir pada 24 Maret. Adapun beberapa poin penting di antaranya, PT Budi Mangun dinilai memiliki keahlian, profesional, personil dan sumber daya teknis.

Kemudian, nilai kontrak biaya yang dibebankan (borongan) Rp26.288.350.000. Pembayaran biaya pelaksanaan pekerjaan dilakukan 6 tahap dengan sistem dan jumlah sesuai kesepakatan.

Pertama, pembayaran uang muka sebesar 20 persen. Kedua, setelah pembangunan mencapai 30 persen dilakukan pembayaran 25 persen. Ketiga, dibayar 25 persen lagi apabila kemajuan fisik bangunan 55 persen. Keempat, dibayar 20 persen bila sudah 100 persen pembangunan. Terakhir, sisa 5 persen dibayar pada masa pemeliharaan bangunan selesai 100 persen.

Namun sayang, dalam kontrak kerja tersebut tidak dijelaskan berapa lama waktu yang harus ditargetkan pembangunan selesai mencapai 30 persen. Hanya saja, waktu penyelesaian proyek ini yang tercantum selama 300 hari dari sebelumnya 240 hari. (ris/ila)

 

Ribuan Nelayan Akan Demo

Foto: Fachril/Sumut Pos Pekerja sedang menimbun Pantai Belawan yang akan direklamasi.
Foto: Fachril/Sumut Pos
Pekerja sedang menimbun Pantai Belawan yang akan direklamasi.

SUMUTPOS.CO – Ribuan nelayan yang tergabung dalam Nelayan Center akan melakukan unjuk rasa besar – besaran. Ini terkait penolakan mereka terhadap pembangunan pelebaran dermaga atau reklamasi.

Aksi unjuk rasa yang akan berlangsung, ribuan nelayan menolak pembangunan reklamasi fase I yang dikerjakan Kementrian Perhubungan melalui Otoritas Pelabuhan dan BUMN melalui Pelindo I.

Ketua Nelayan Center, Ahmad Jafar, Minggu (22/4), mengatakan, aksi demo yang akan mereka gelar berlangsung pada Senin (30/4) mendatang. Mereka akan melibatkan sekitar 3.000 nelayan yang dirugikan akibat pembangunan reklamasi.

“Rencananya besok (hari ini) kami mau demo, sasaran demo kita ke BICT. Tapi izin tidak dikeluarkan Polres Pelabuhan Belawan. Karena, sasarannya objek vital, jadi kita undur minggu depan,” kata Ahmad.

Untuk minggu depan, kata aktivis nelayan ini, pihaknya sudah menyusun surat izin untuk melakukan aksi demo dengan sasaran demo menuju ke kantor Pelindo I, Jalan Krakatau Medan.

“Kita sudah merubah surat izin demo, kita akan gelar demo minggu depan tujuannya ke Pelindo. Titik kumpul demo rencananya di depan Mesjid Taqwa, Kampung Salam, Belawan,” kata Ahmad.

Ahmad menjelaskan, selama ini pembangunan reklamasi Pantai Belawan telah merusak mata pencaharian nelayan tradisional khususnya di Belawan dan Deliserdang.

“Sudah turun menurun nelayan mencari nafkah di kawasan itu, kini masyarakat nelayan tergusur untuk mencari makan. Kita selama ini tidak anti dengan pembangunan, negara dan kemapanan, tapi mereka harus arif dengan masalah yang dialami nelayan,” terang Ahmad.

Ditegaskan Ahmad, nelayan selama ini merupakan golongan masyarakat miskin, tapi nelayan bagian dari negara, jadi pembangunan itu tidak bermanfaat bagi masyarakat nelayan, bahkan merugikan.

“Pembangunan ini sudah berlangsung 2 tahun, makanya kita turun ke jalan untuk ?menyampaikan aspirasi ini. Selama ini, tidak ada kompensasi yang diterima nelayan, lebih bagus kita tolak aja pembangunan itu, sebelum ada penyelesaian kepada masyarakat nelayan, kita minta pembangunan itu dihentikan dulu,” tegas Ahmad.

Terpisah, Corporate Secretary Pelindo I, Eriansyah dikonfirmasi mengaku belum tahu adanya demo yang akan dilakukan ribuan nelayan ke Pelindo I terkait reklamasi. “Kita belum dengar, yang jelas reklamasi itu bukan bagian kerja dari Pelindo I, ada juga bagian kerja dari Otoritas Pelabuhan. Silahkan masyarakat nelayan menyampaikan aspirasinya,” kata Eriansyah.

Disinggung belum tuntasnya masalah kompensasi dampak yang dialami nelayan, Eriansi mengaku selama ini mereka sudah melakukan pertemuan untuk memberikan kompensasi kepada nelayan.

“Untuk kompenasi kepada nelayan sedang berlangsung, kita sudah serahkan ke camat untuk melakukan pendataan, bukan kita tidak peduli dengan masyarakat nelayan,” kata Eriansyah. (fac/ila)

 

Pasar Peringgan Tetap Dikelola Swasta

Foto: M Idris/Sumut Pos PKL Pasar Peringgan menggelar dagangannya. Saat ini kondisi gedung Pasar Peringgan memprihatinkan.
Foto: M Idris/Sumut Pos
PKL Pasar Peringgan menggelar dagangannya. Saat ini kondisi gedung Pasar Peringgan memprihatinkan.

SUMUTPOS.CO – Upaya pedagang Pasar Peringgan yang menolak dikelola oleh pihak swasta dalam hal ini PT Panbers dengan melakukan aksi unjuk rasa, sepertinya sia-sianya. Sebab, Pemerintah Kota (Pemko) Medan tetap mempertahankan pihak swasta untuk mengelolanya.

Hal itu disampaikan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin yang ditemui di Lapangan Merdeka, saat mengikuti acara memperingati Hari Bumi yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Minggu (22/4).

“Ya harus (PT Panbers), karena sudah ada aturannya antara perusahaan itu dengan PD Pasar,” kata Eldin singkat yang sibuk mendampingi Menteri LHK.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan Syaiful Bahri mengatakan hal yang sama. Diutarakan dia, persoalan ini ditangani PD Pasar. “Sekarang sudah ditangani PD Pasar dan telah berkompromi dengan perusahaan itu. Tapi, bukan dikelola bersama,” ujar Syaiful yang juga hadir pada kegiatan tersebut.

Disinggung soal stanvas pengelolaan pasar tersebut, ia menyatakan tidak ada dilakukan. “Enggak ada itu stanvas (pengelolaan), dan enggak lagi hubungan dengan Badan Pengawas,” ucapnya yang buru-buru pergi.

Sebagaimana diketahui, pengelolaan Pasar Peringgan yang ditangani pihak swasta diprotes oleh para pedagang di pasar itu. Para pedagang pasar tradisional yang berada di Jalan DI Panjaitan tersebut, meminta dikelola oleh PD Pasar.

Pembunuh Sandimin Menyerah

Hendro alias Etong.
Polres Langkat mengamankan Hendro alias Etong (40) satu di antara tiga pembunuh Sandimin (50). Entong diamanan setelah menyerahkan diri di depan Universitas Sumatra Utara, Medan, Sabtu (21/4/2018) sekitar pukul 07.00 WIB.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO -Polres Langkat menangkap seorang dari tiga tersangka pelaku pembunuhan Sandimin (50) penjual sayur-mayur warga Desa Tebing, Langkat. Tersangkanya, Hendro alias Etong (40) warga Dusun Benteng Sari Desa Suka Ramai Padangtualang Langkat. Entong ditangkap di depan kampus Universitas Sumatra Utara (USU) Medan, Sabtu (21/4) sekitar pukul 07.00 WIB.

Etong ditangkap setelah menyerahkan diri kepada polisi dalam kasus pembunuhan Sandimin (50), yang jenazahnya ditemukan di Areal Perkebunan Sawit Afd V PTPNII Kebun Batang Kabupaten Langkat, Senin (16/4/).

“Benar bahwa Polres Binjai dibantu Polsek Padangtualang mengamankan Etong pelaku pembunuh Sandimin yang menyerahkan diri, dengan memberi tahu keberadaannya di Medan,” kata Kasubbag Humas Polres Langkat, AKP Arnold Hasibuan, Minggu (22/4).

Dia mengatakan berdasarkan pengakuan pelaku, Etong melakukan pembunuhan bersama dua rekannya yakni Hendro alis Kabaret (27) dan Kelvin alias Gondo (25) ke duanya warga Jati Mulyo, Tebing Tanjungselamat Padangtualang, Langkat. “Hingga kini petugas masih memburu Hendro dan Kelvin,” katanya.

Menurut AKP Arnod, pihaknya belum bisa memberikan keterangan mengenai motif pembunuhan yang dilakukan tiga sekawan tersebut. Namun berdasarkan keterangan Entong, mereka membunuh pelaku menggunakan kayu.

“Padahal berdasarkan luka di tubuh korban luka didapatkan karena benda tajam,” katanya

Sebelumnya Miswanti dan Ade Irma Gultom warga Desa Tebing Tanjung, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat kaget melihat seorang pria dengan posisi telungkup di perkebunan di perkebunan sawit Afdeling V PTPN II Batang Serangan, Senin (16/4) sekitar pukul 10.00 WIB.

Korban yang diketahui bernama Sandimin (50) Dusun III Teladan Desa Tebing Tanjungselamat, Kecamatan Padangtualang tersebut ditemukan dalam kondisi  meninggal dunia.

Dari lokasi, petugas menemukan satu buah along-along, topi hitam, tas warna coklat, jaket warna hitam, jam tangan warna hitam, dompet warna coklat dan uang tunai Rp632 ribu. Namun sepeda motor dan hand phone milik korban hilang. (bam/azw)

 

 

 

 

 

 

Polisi Tembak Perampok

Ipansius Panjaitan (kursi roda) mendapat perawatan akibat luka tembak di kaki, Minggu (23/4).
Ipansius Panjaitan (kursi roda) mendapat perawatan akibat luka tembak di kaki, Minggu (23/4).

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Aksi perampokan sadis di Jalan Ayahanda tepatnya Jalan Notes, Gang Ranto, Medan menggegerkan warga. Korbannya seoran perempuan renta sempat disekap dan dianiaya pelaku. Beruntung, nyawanya tak melayang.

Informasi dihimpun, kejadian perampokan itu menimpa Nurhayati Napitupulu (43) Sabtu (21/4) dini hari. Korban yang sedang sendirian di rumah memergoki pelaku masuk ke rumahnya. Alhasil, dia pun dianiaya, diikat dan disekap di dapur belakang.

Terungkapnya kejadian ini ketika korban berteriak minta tolong usai pelaku kabur dari rumahnya. Polisi dari Polsek Medan Baru pun datang ke lokasi dan menolong Nurhayti selanjutnya meminta keterangan korban soal ciri pelaku.

“Awalnya kita mendapatkan informasi sekitar pukul 01.00 WIB, Sabtu dinihari adanya seorang wanita yang dirampok di rumahnya setelah dicek, ternyata korban mengalami luka dikepala dan keningnya,” ujar Kasi Humas Polsek Medan Baru Aiptu Ayatullah, Minggu (22/4).

Pihaknya Polsek Medan Baru kemudian melakukan penyelidikan. Memeriksa sejumlah saksi yang berada di lokasi dan mengambil rekaman Closed Circuit Television (CCTV).

Ternyata, dari rekaman CCTV polisi berhasil mengidentifikasi ciri-ciri pelaku. Alhasil, polisi mendapati informasi pelaku bernama Ipansius Panjaitan (24) warga Jalan Piring Piring, Ayahanda yang merupakan pekerja dekorasi dan sedang berada di Regale Convention Jalan Adam Malik Medan untuk bekerja memasang dekorasi.

Saat diamankan, tersangka sempat berupaya melakukan perlawanan. Polisi lalu memberikan tindakan tegas terukur untuk melumpuhkan tersangka.

“Barang bukti yang diamankan  2 buah serbet untuk mengikat tangan dan mulut korban, ikat rambut kain untuk mengikat kaki korban,” jelas Aiptu Ayattulah.

Dari hasil pemeriksaan polisi, pelaku menganiaya korban dengan batu gilingan dan mengikat tangannya. Selanjutnya pelaku kabur setelah mengambil sejumlah uang dan berkas berharga lain. (dvs/azw)

Kombes Pol Mardiaz: Fahrizal Dikenal Sangat Jujur

Kombes Pol Mardiaz Kusin (tengah) saat menjabat Kapolrestabes Medan dan Kompol Fahrizal (kanan) saat menjabat Kasat Reskrim memeparkan kasus tangkapan.
Kombes Pol Mardiaz Kusin (tengah) saat menjabat Kapolrestabes Medan dan Kompol Fahrizal (kanan) saat menjabat Kasat Reskrim memeparkan kasus tangkapan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Pengakuan demi pengakuan seputar sosok dan sepak terjang Komisaris Polisi (Kompol) Fahrizal terus bergulir. Setelah rekan-rekannya seangkatan tahun 2003, kini pengakuan disampaikan mantan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto.

Menurut Mardiaz yang pernah menjadi komandan di satuan wilayah langsung Kompol Fahrizal, sangat prihatin dan berempati terhadap cobaan yang  sedang dihadapi mantan anak buahnya di satuan reskrim itu. Kata Mardiaz, Kompol Fahrizal sedang mengalami ujian berat seperti tiada henti.

“Fahrizal itu orang serse murni, yang tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan-pekerjaan berat yang dihadapinya,” ujar Mardiaz baru-baru ini.

Lanjutnya, apalagi dengan kompleksitas kejahatan di Kota Medan yang tergolong tinggi, Fahrizal selama bertugas bersama sangat menikmati pekerjaannya. Semua pekerjaan yang diembannya rata-rata bisa dituntaskan dengan baik. Di antaranya kasus pembunuhan yang berhasil diungkapnya.

“Selain mempunyai visi yang jelas dalam pekerjaannya, Fahrizal juga dikenal sebagai komandan yang mampu membangun komunikasi efektif kepada anak buahnya. Karena, wajar jika dalam pengungkapan kasus-kasus kejahatan seluruh anak buahnya begitu bersemangat menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab satuan reskrim,” sebut Mardiaz.

Selain itu, sama seperti pandangan beberapa orang yang mengenal sosoknya, Mardiaz pun mempunyai pandangan serupa terhadap Fahrizal. Di mata Mardiaz, Fahrizal dikenal di lingkungan Polrestabes Medan khususnya di satuan reskrim, sebagai pribadi yang mudah tersentuh jika melihat ada yang kesusahan. Tak hanya itu, Fahrizal dikenal sangat jujur, baik kepada pimpinan maupun anggotanya.

“Selama setahun menjadi komandan, saya sangat respek kepadanya karena saya nilai sebagai anak buah yang jujur dalam menjalankan tugas,” bilangnya.

Ia menambahkan, sebagai senior dan juga mantan pimpinannya, Mardiaz berharap agar cobaan sangat berat ini dapat dijadikan sebagai ihtibar hidup untuk memperbaiki ke depannya. “Saya berkeyakinan banyak pihak yang membantu maupun mendoakannya, agar dia dapat tabah dan kuat menghadapi ujian ini,” imbuhnya. (azw)

 

Gelar Comeback The Daddies

Pasangan Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan.
Pasangan Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan.

SUMUTPOS.CO – Perlahan tapi pasti, Hendra Setiawan /Mohammad Ahsan mulai menunjukkan kebangkitan mereka. Berpasangan kembali setelah sempat berpisah di tahun 2016, Hendra/Ahsan meraih gelar juara pertama mereka, Minggu (22/4).

The Daddies kembali merasakan manisnya naik podium tertinggi usai memenangkan Malaysia International Challenge 2018. Mereka menundukkan pasangan tuan rumah Aaron Chia/Wooi Yik Soh.

Dipaksa bermain rubber game, pasangan peraih medali emas Asian Games 2014 itu menang dengan skor 21-17, 17-21, dan 21-19.

Ini adalah gelar pertama Hendra/Ahsan setelah kembali berduet pada awal 2018. Lebih dari setahun keduanya tak bermain bersama. Tepatnya, pasca-berlangsungnya Korea Open, pada Oktober 2016.

Sebulan setelah itu, Hendra memutuskan keluar dari pelatihan nasional di Cipayung, Jakarta Timur, dan memilih karier sebagai pemain profesional. Ahsan tetap di pelatnas dan berganti pasangan dengan Rian Agung Saputro.

Pada akhir 2017, PB PBSI kembali memanggil Hendra demi memperkuat Indonesia di Piala Thomas, yang sedianya berlangsung pertengahan bulan depan. Maka, awal 2018 menjadi periode kedua bagi Ahsan dan Hendra untuk kembali membuktikan tajinya.

“Yang pertama, kami sangat bersyukur bisa juara lagi. Kami senang naik podium juara lagi, walaupun levelnya international challenge. Kunci kemenangan kami adalah kami bisa bermain lebih sabar dan tenang, terutama di gim ketiga,” kata Ahsan.

“Kami memang terlalu terburu-buru pada gim kedua. Pada gim penentuan, baru kami main lebih sabar dan memperlambat tempo permainan,” ujar Hendra

Sayang, langkah Hendra/Ahsan gagal diikuti pasangan ganda campuran Andika Ramadiansyah/Mychelle Crhystine Bandaso. Keduanya ditumbangkan Tang Jie Chen/Yen Wei Peck (Malaysia) dengan skor 21-12, 21-23, dan 13-21.

Padahal sebelumnya, Rama/Mychelle berhasil menundukkan unggulan kedelapan, Guo Xinwa/Liu Xuanxuan (China) di semifinal yang juga lewat pertandingan rubber game 21-19, 13-21, dan 21-16. (kar/isa/jpc/don)