Universitas Al-Washliyah (Univa) Medan melaksanakan pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM), Kamis (18/6). Kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan pakta integritas dosen dan tenaga kependidikan Univa Medan untuk melaksanakan tugas dengan profesional, jujur, transparan dan bertanggung jawab.
Kegiatan di aula perguruan tinggi tersebut dihadiri Rektor Univa Medan Prof. Dr. Saiful Akhyar Lubis, M.A dan Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Univa Medan Dr. H. M. Nasir, Lc, M.A bersama para wakil rektor, dekan, kepala lembaga dan bagian serta dosen dan tenaga kependidikan.
Ketua Dewan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si hadir menjadi pemateri utama berjudul: Spiritualitas Kerja dan Corporate Culture Univa Medan dalam pembinaan SDM tersebut.
Pembinaan SDM serta penandatanganan pakta integritas dosen dan tenaga kependidikan ini untuk memperkuat tata pengelolaan perguruan tinggi yang profesional, akuntabel dan berintegritas. Pembinaan ini merupakan komitmen Univa Medan dalam membangun budaya kerja berlandaskan integritas, profesionalisme, disiplin dan bertanggung jawab untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan.
Rektor Univa Medan Prof. Dr. Saiful Akhyar Lubis, M.A mengungkapkan bahwa SDM yang berkualitas merupakan aset paling berharga dalam kemajuan perguruan tinggi. Ditegaskan rektor, kemajuan pendidikan juga harus didukung sarana dan prasarana.
Untuk itu, Prof. Dr. Saiful Akhyar Lubis, M.A meminta dosen dan tenaga kependidikan Univa Medan untuk terus meningkatkan kompetensi dan etos kerja. Sebab perguruan tinggi unggul dibangun oleh SDM berkualitas, berintegritas, disiplin dan komitmen kuat.
Prof. Dr. Saiful Akhyar Lubis, M.A yang pernah menjadi ketua senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara dan ketua Pimpinan Wilayah Al-Washliyah Sumut mengingatkan pentingnya nilai-nilai keislaman dan kealwashliyahan sebagai landasan bagi sivitas akademika Univa Medan.
Sementara itu Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si yang juga tokoh penting dalam Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengupas tentang spiritualitas kerja dan corporate culture. Disebutkan juga hakikat kerja secara teori ilmiah (cari upah, transaksional dan sistem), hubungan kemanusiaan (cari teman/relasi, aktualisasi diri dan kenyamanan psikologis), sistem birokrasi (terikat pada sistem birokrasi yang ketat, impersonalitas dan rasionalitas dan efisiensi) serta perspektif Islam (cari nafkah, ibadah dan dakwah).
Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si juga menjelaskan tentang spiritualitas kerja berbasis tauhid yakni billah, lillah, ma’allah, fillah dan bil mahabbah. “Billah, atas dasar iman Allah yang memberikan kesehatan, kekuatan, ilmu, kemampuan, petunjuk, hidayah dan maunah sehingga bisa bekerja, berprestasi dan memberikan yang terbaik. Pentingnya kesadaran dan sikap tawadlu bahwa segala potensi semata karena pertolongan Allah,” katanya.
Lillah, lanjutnya, hidup milik Allah, karena Allah dan untuk Allah. Allah Maha Baik, ikhlas karena Allah, lelah jadi lillah, didedikasikan untuk Allah. Itqan (profesional) menghasilkan hikmah dan berkah. Untuk itu pentingnya menata niat, cita-cita, idealisme dan telad.
“Ma’allah, yakin Allah dekat, membersamai, mengawasi, memberikan perlindungan dan pertolongan. Allah bersama orang baik. Tetap menjadi yang terbaik. Tidak ada khauf dan khazn. Tidak mudah capek, mengeluh dan putus asa,” ujarnya.
Fillah bermakna dalam naungan, lindungan pengabdian dan ketaatan kepada Allah, dalam koridor syariat atau nilai-nilai etika dan moral Ilahi. Perlunya komitmen untuk senantiasa berada di jalan Allah dengan cara menjaga integritas intelektual, etika dan moral. Antara lain tidak korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
Bekerja bil mahabbah, kata Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si, berarti bekerja atas dasar cinta atau kasih sayang kepada Allah, Rasul dan sesama. Bekerja dengan cinta menumbuhkan kegembiraan dan gaung kecerian, moral berlimpah dan energi positif.
“Dalam konteks kualitas kerja akan melahirkan sikap ihsan (perfeksionis). Dalam konteks sosial akan melahirkan sikap empati dan persaudaraan serta tolong menolong sesama,” jelasnya.
Ketua Dewan Guru Besar UMM juga memaparkan tentang karakter muttaqin yakni shabirun, shiddiqun, qanithun, munfiqun dan mustaghfirun bil ashar. Shabirun berarti mantap dalam mewujudkan cita-cita, tidak mudah putus asa, tahan uji. Shiddiqun berarti komitmen dan mencintai kebenaran serta integritas.
Qanithun berarti rendah hati terhadap Allah, khusyu’ dalam beribadah dan tabligh. Munfiqun berarti menginfakkan sebagian harta, ilmu dan bahkan dirinya di jalan Allah, dermawan, suka berbagi dan bersih jiwanya. Mustaghfirun bil ashar berarti beristighfar di waktu sahur. Beribadah, beristighfar dan bermunajat di 1/3 malam terakhir serta munajat yang menembus langit.
Terkait corporate culture, ketua Dewan Guru Besar UMM mengungkapkan tentang personal core belief/value, institutional core values dan knowledge management. Dijelaskan juga semboyan “We are Leaders Producing Leaders”.
Personal core belief/value yakni Sidik (integritas), amanah (tanggung jawab), tabligh (terbuka), fatana (cerdas, kreatif dan inovatif), saleh (benar dan mutu), sareh (empati), sabar (tangguh) dan taqwa (taat, ahli karya, waskita dan akhlak).
Institutional core values berarti kredibel (tata kelola Institusi dapat dipercaya, memiliki landasan hukum yang sah dan dijalankan oleh individu yang kompeten) serta transparan (kebijakan, proses pengambilan keputusan dan pengelolaan institusi bersifat terbuka bagi seluruh pemangku kepentingan).
Kemudian akuntabel (semua kegiatan institusi dapat dipertanggungjawabkan secara kinerja dan moral), bertanggung jawab (pengelola memiliki komitmen penuh dalam menjalankan tugas, wewenang dan amanah institusi) serta adil (layanan dan kebijakan diberikan secara setara dan objektif kepada seluruh sivitas akademika tanpa diskriminasi).
Knowledge management, menurut Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si, berkaitan dengan membangun idiil, personil, organisasionil dan operasionil sebagai perguruan tinggi swasta. Kemudian terkait manajemen dan kepemimpinan yang efektif, membangun kepercayaan masyarakat, growth change dan reform.
Selanjutnya bekerja dengan hati, anti-formalitas, kebersamaan, fokus pada kemajuan institusi dan pemimpin sebagai dirigen sekaligus pelayan.
Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si juga menjelaskan pendidikan tinggi sebagai noble mission dengan misi kemanusiaan, misi keilmuan, misi keislaman, misi kebangsaan, misi peradaban dan misi Al-Washliyah. Makna noble industry misi sosial, kemanusiaan, keagamaan atau kelestarian ekosistem. Bersifat profit dan sosial oriented.
Dikelola secara profesional layaknya industri sehingga menghasilkan keuntungan atau nilai tambah. Keuntungan bukan semata untuk pemilik modal. “Keuntungan dikembalikan untuk meningkatkan kualitas organisasi dan kejayaan misi organisasi yang bersangkutan,” kata Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si. (dmp)

