DELISERDANG-Mayoritas rumah warga di Dusun 15, Desa Sampali, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, menutup pintunya rapat-rapat. Bukan karena takut maling, mereka tidak tahan dengan bau menyengat minyak kotor yang diduga berasal dari limbah pabrik. Pada Jumat (21/8/2026), limbah minyak yang mencemari parit itu mengalami kebakaran hebat. Bahkan, nyaris menyambar rumah masyarakat jika petugas Damkar tidak bergerak cepat.
Sebab, jarak antara parit dengan rumah penduduk hanya beberapa meter saja, cuma dipisahkan oleh jalanan desa. Seorang warga bernama Rusman mengatakan bahwa insiden kebakaran sudah dua kali terjadi dari Bulan Juli sampai Agustus 2026 ini. Sebab, parit depan rumah mereka sudah tercemar minyak berwarna hitam selama bertahun-tahun lamanya.
“Kalau ini (parit limbah) sudah lama, puluhan tahun bahkan. Cuma belakangan parah karena sumbat. Selama ini kalau airnya lancar, kami tidak komplain,” kata Rusman (52) kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).
Parit yang dipenuhi limbah tersumbat karena banyak ranting pepohonan yang jatuh, banyak sampah yang menyangkut. Sehingga, minyak kotor diduga dari pabrik tak mengalir. “Parah (baunya) karena pembersihan pun tidak ada. Kalau dulu rajin dibersihkan itu parit pakai beko. Lama-lama malas orang itu (perusahaan),” lanjutnya. Rusman merupakan salah satu warga yang saat itu takut rumahnya tersambar api ketika parit terbakar. Sebab, jaringan kabel di rumahnya dekat dengan jalan dan parit.
“Sudah capek kami kayak begini sebenarnya, menghirup bau ini (minyak menyengat). Tapi ya macam mana, kami orang kecil,” keluhnya.
Rusman menceritakan bahwa parit itu terhubung ke sungai besar. Jika saluran parit lancar dan tidak tersumbat, bau limbah minyak tidak akan lagi menyengat. “Kami minta parit dinormalisasi. Kalau dulu, kita lapor sampah diangkat. Yang penting dia lancar, itu saja,” harapnya. Kepala Dusun 15 Desa Sampali, Rudianto, membenarkan insiden kebakaran dari parit pembuangan limbah itu. Ia juga membenarkan bahwa warga sudah satu tahun merasakan bau minyak menyengat. “Belum ada laporan soal penyakit. Cuma kalau air bersih ada. Di sini air bersih kurang. Warga saya ada 300 lebih lah. Masyarakat pun sudah geram kok tidak ada ngertinya dari perusahaan ini,” keluhnya.
Ia mengatakan bahwa dalam waktu dekat, pemerintah desa akan melakukan pertemuan dengan perusahaan pembuang limbah dan Dinas Lingkungan Hidup. Rudianto meminta perusahaan bertanggung jawab atas masalah kebakaran kemarin.
“Ya nanti kami bilang. Masyarakat bilang kalau tidak bisa ditangani (normalisasi), parit kami tutup,” ujar Rudianto. Sejauh ini, pihak perusahaan sudah menurunkan dua alat berat untuk membersihkan parit yang tersumbat itu. Warga juga ingin parit tersebut disemen dan dirapikan. “Sudah ditangani sama pabriknya ini. Makanya diturunkan alat berat dari perusahaan. Mereka bertanggung jawab lah. Tadi pagi sudah mulai diturunkan peralatannya, dua ekskavator ada. Lalu hasil korekannya dibawa untuk dibuang, karena kan itu mengandung minyak. Kalau dibuang di sini juga, takutnya terbakar lagi,” jelasnya. (kom/net)

