33 C
Medan
Wednesday, July 17, 2024

Pelaku Sudah Diindentifikasi Polisi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelaku yang menghabisi Titin Wahyuni alias Nanda (31) sudah dikantongi polisi. Namun, polisi belum mau membeberkan identitas pelaku yang membunuh warga Dusun Serba Jadi, Desa Karang Rejo, Kec. Stabat itu.

”Kita sedang melakukan pengembangan, hari ini (kemarin) kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap 6 orang saksi. Satu diantaranya teridentifikasi mengarah ke tersangka. Itu gambarannya,” ujar Kapolsek Padang Tualang, AKP M Hasibuan.

Tapi, kata Hasibuan, dia belum bisa membeberkan namanya. “Saya mohon maaf untuk inisial belum bisa saya sebutkan guna menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelas Hasibuan. “Semoga polisi segera menangkap pelakunya,” katanya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, polisi sudah mengumpulkan barang bukti yang berhubungan dengan pelaku diantarnya kain sal yang digunakan untuk menjerat korban, sepasang sepatu pansus karet yang ditemukan terpisah.

Sementara itu, keterangan teman-teman Titin yang terakhir melihat Titin di cafe pinggiran jalan Titi Panjang, Tanjung Putus, Kec. Hinai mengaku, kalau Titin itu biasa dipanggil Nanda.

“Kami baru tau bang kalau Nanda itu sebenarnya Titin, yang kami tau dia itu Nanda. Nanda itu tidak pernah menetap di sini karena kalau di sini dia itu paling-paling beberapa hari saja dan selalu membawa anaknya (Aldi 8 tahun),” kata seorang teman Titin yang minta namanya tak disebut di koran.

Menurut cewek berparas lumayan itu, sejak dua minggu yang lalu Titin tak pernah datang lagi. “Sebelum ditemukan tewas, dari café ini Titin naik becak bawa tas. Sejak itu dia tidak pernah kelihatan lagi. Kemudian kami dengar dia sudah jadi mayat ditemukan di parit,” katanya.

Menurutnya, kalau datang Titin selalu menginap di rumahnya. “Dua atau tiga hari pergi lagi,” sambungnya.

Kalau datang atau pergi, Titin tak pernah dilihatnya bersama pria. ”Kalau datang yang saya tau dia itu sama anaknya. Tapi belakangan ini anaknya tidak pernah dibawanya. Kami juga sempat heran dan menanyakannya, katanya anaknya dia titipkan ke keluarganya,” katanya.

Saat terakhir pergi naik becak Titin pakai selop plastic. ”Selama yang saya tahu Titin itu jarang sekali pakai sepatu, tetapi hobi ganti baju. Sehari dia bisa ganti baju sampai empat kali,” katanya.

Tapi, di lokasi ditemukan mayat polisi menemukan sepatu. Diduga sepatu itu bukan milik korban.

Sekadar mengingatkan, mayat Titin pertama kali ditemukan Budianto di dalam parit di dekat ladangnya yang berbatasan dengan kebun kelapa Sawit PTPN IV PS Langkat.

Dari hasil otopsi RSUP H Adam Malik Medan, mayat Titin diperkirakan 4 hari tewas sebelum ditemukan karena sudah membusuk. Mayat tidak hamil. Titin tewas karena dibunuh. Keterangan dokter RSUP Adam Malik yang mengotopsi mayat mengungkapkan korban tewas akibat sesak nafas karena paru-parunya banyak Lumpur. (zaid/smg)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelaku yang menghabisi Titin Wahyuni alias Nanda (31) sudah dikantongi polisi. Namun, polisi belum mau membeberkan identitas pelaku yang membunuh warga Dusun Serba Jadi, Desa Karang Rejo, Kec. Stabat itu.

”Kita sedang melakukan pengembangan, hari ini (kemarin) kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap 6 orang saksi. Satu diantaranya teridentifikasi mengarah ke tersangka. Itu gambarannya,” ujar Kapolsek Padang Tualang, AKP M Hasibuan.

Tapi, kata Hasibuan, dia belum bisa membeberkan namanya. “Saya mohon maaf untuk inisial belum bisa saya sebutkan guna menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelas Hasibuan. “Semoga polisi segera menangkap pelakunya,” katanya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, polisi sudah mengumpulkan barang bukti yang berhubungan dengan pelaku diantarnya kain sal yang digunakan untuk menjerat korban, sepasang sepatu pansus karet yang ditemukan terpisah.

Sementara itu, keterangan teman-teman Titin yang terakhir melihat Titin di cafe pinggiran jalan Titi Panjang, Tanjung Putus, Kec. Hinai mengaku, kalau Titin itu biasa dipanggil Nanda.

“Kami baru tau bang kalau Nanda itu sebenarnya Titin, yang kami tau dia itu Nanda. Nanda itu tidak pernah menetap di sini karena kalau di sini dia itu paling-paling beberapa hari saja dan selalu membawa anaknya (Aldi 8 tahun),” kata seorang teman Titin yang minta namanya tak disebut di koran.

Menurut cewek berparas lumayan itu, sejak dua minggu yang lalu Titin tak pernah datang lagi. “Sebelum ditemukan tewas, dari café ini Titin naik becak bawa tas. Sejak itu dia tidak pernah kelihatan lagi. Kemudian kami dengar dia sudah jadi mayat ditemukan di parit,” katanya.

Menurutnya, kalau datang Titin selalu menginap di rumahnya. “Dua atau tiga hari pergi lagi,” sambungnya.

Kalau datang atau pergi, Titin tak pernah dilihatnya bersama pria. ”Kalau datang yang saya tau dia itu sama anaknya. Tapi belakangan ini anaknya tidak pernah dibawanya. Kami juga sempat heran dan menanyakannya, katanya anaknya dia titipkan ke keluarganya,” katanya.

Saat terakhir pergi naik becak Titin pakai selop plastic. ”Selama yang saya tahu Titin itu jarang sekali pakai sepatu, tetapi hobi ganti baju. Sehari dia bisa ganti baju sampai empat kali,” katanya.

Tapi, di lokasi ditemukan mayat polisi menemukan sepatu. Diduga sepatu itu bukan milik korban.

Sekadar mengingatkan, mayat Titin pertama kali ditemukan Budianto di dalam parit di dekat ladangnya yang berbatasan dengan kebun kelapa Sawit PTPN IV PS Langkat.

Dari hasil otopsi RSUP H Adam Malik Medan, mayat Titin diperkirakan 4 hari tewas sebelum ditemukan karena sudah membusuk. Mayat tidak hamil. Titin tewas karena dibunuh. Keterangan dokter RSUP Adam Malik yang mengotopsi mayat mengungkapkan korban tewas akibat sesak nafas karena paru-parunya banyak Lumpur. (zaid/smg)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/