Muktamar XIII Al Jam’iyatul Washliyah dibuka Selasa (7/7) malam di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Perhelatan akbar organisasi Islam yang berdiri sejak 1930 ini dibuka Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani. Pembukaan muktamar yang berlangsung khidmat ini dihadiri ribuan kader, pengurus wilayah, daerah dan peninjau dari berbagai pelosok tanah air.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengapresiasi kontribusi historis Al Washliyah dalam mengawal pendidikan, dakwah dan sosial di Indonesia. “Al-Washliyah telah membuktikan diri sebagai pilar strategis dalam menjaga moral bangsa dan memperkokoh persatuan nasional. Muktamar ke-23 ini harus menjadi momentum melahirkan gagasan besar untuk menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks,” ujarnya.
Ahmad Muzani menekankan pentingnya organisasi kemasyarakatan Islam untuk terus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika global tanpa kehilangan akar nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Dalam kesempatan itu, ketua MPR juga memberi nasehat kepada para guru dan kaum wanita, agar memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dengan baik.
Ketua Umum PB Al-Washliyah Dr. KH. Masyhuril Khamis mengatakan dakwah utama yang yang diperjuangkan oleh Al-Washliyah selain pendidikan adalah untuk membentengi umat dari bahaya kerusakan moral. Selain itu fokus lain perjuangan dakwah Al-Wasliyah adalah memperkuat kesejahteraan rakyat menuju Indonesia maju. Kaya secara materi, kuat imannya dan mulia akhlaknya.
KH Masyhuril Khamis mengapresiasi semangat bermuktamar seluruh kadernya yang datang dari jauh dengan biaya sendiri dan kondisi seadanya. Ada yang naik kapal laut, naik bus bahkan ada yang naik sepeda dari gunung ke pelabuhan untuk seterusnya naik kapal dengan rute bersambung-sambung.
Muktamar diikuti lebih kurang 1000 peserta dari 38 Pengurus Wilayah se-Indonesia, 7 Organisasi Bagian,198 Pengurus Daerah, Sejumlah pengurus luar negeri seperti dari Malaysia, Inggris/Eropa dan Amerika Serikat, para rektor/ketua sekolah tinggi Al-Washliyah dan jajaran PB Al Washliyah lainnya.
Tampak di deretan kursi tamu, para pejabat tinggi dan tokoh masyarakat. Diantaranya Ketua MUI KH Abdul Manan Ghani, Ketua Harian PSI Ahmad Ali, Ketua Baznas Sodik Mujahid, Wamendes Ahmad Riza Patria, Ambassador of Palestine to Indonesia H.E. Mr. Abdalfatah A.K. Alsattari Kepala BIN Z Huda.
Ketua Panitia Pelaksana Muktamar XIII Al Jam’iyatul Washliyah Ahmad Doli Kurnia Tanjung menegaskan bahwa perhelatan akbar lima tahunan ini menjadi momentum krusial untuk melakukan konsolidasi total, baik secara ideologis maupun organisasi.
Ahmad Doli Kurnia menegaskan bahwa Al-Washliyah saat ini sudah ada di 38 provinsi di Indonesia. Selain itu ia juga menyampaikan laporan kesiapan panitia dalam pelaksanaan muktamar, sekaligus arah strategis yang ingin dicapai melalui forum tertinggi organisasi Islam tersebut.
Ia memaparkan bahwa panitia pelaksana telah merancang muktamar ke-XIII ini tidak hanya sebatas agenda seremonial atau suksesi kepemimpinan, melainkan sebagai wadah perumusan masa depan Al-Washliyah.
Beberapa point yang perlu digarisawahi, memperkuat semangat dasar Al-Washliyah sejak tahun 1930 yaitu fokus pada bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial.
Merumuskan program kerja lima tahun ke depan yang adapatif terhadap tantangan zaman, termasuk respon terhadap disrupsi digital dan kemandirian ekonomi umat.
“Kami berharap muktamar XIII ini tidak hanya menjadi ajang suksesi kepemimpinan, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi total untuk melahirkan rekomendasi-rekomendasi konkret bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Ahmad Doli Kurnia mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, pengurus pusat dan wilayah, daerah, hingga tingkat cabang yang telah bergotong royong untuk menyukseskan acara ini. “Muktamar kali ini dihadiri oleh ribuan utusan dan penijau dari seluruh pelosok tanah air. Antusiasme yang luar biasa ini menunjukan bahwa ikatan batin dan solidaritas jam’iah Al-Washliyah masih sangat kuat dan mengakar,” ujar Ahmad Doli Kurnia.
Muktamar ke-XIII Al-Washliyah dijadwalkan berlangsung beberapa hari dengan agenda sidang-sidang komisi yang berfokus pada penguatan organisasi, pendidikan, dan dakwah digital. Pembukaan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa serta kelancaran jalannya muktamar. (dmp)

