DELISERDANG, sumutpos.co— Poltekkes Kemenkes Medan melalui Jurusan Kebidanan kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan ibu dan mencegah kematian maternal melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tandem Hilir II, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang.
Kegiatan yang dilangsungkan pada Hari Selasa tanggal 18 Agustus 2026 dengan judul “Pencegahan Preeklamsia melalui Edukasi dan Pengendalian Faktor Risiko Preeklamsia pada Perempuan Masa Pra Konsepsi di Desa Tandem Hilir II: Pemberdayaan Survivor Preeklamsia” ini dipimpin Dr. Dodoh Khodijah, SST., MPH, dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Medan, bersama dua orang dosen dan mahasiswa.
Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Peserta terdiri dari Kepala Desa, bidan desa, kader kesehatan, ibu hamil, wanita usia subur (WUS) masa pra konsepsi, serta survivor preeklamsia. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat ini menjadi bagian penting dalam membangun upaya pencegahan preeklamsia berbasis masyarakat.
Kegiatan dilakukan melalui tiga rangkaian utama, yaitu pemeriksaan antropometri, skrining faktor risiko preeklamsia, dan edukasi kesehatan. Pemeriksaan antropometri dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik peserta, sementara skrining bertujuan membantu mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya preeklamsia.

Setelah pemeriksaan dan skrining, peserta mendapatkan edukasi mengenai preeklamsia, faktor risikonya, pentingnya deteksi dini, serta upaya pengendalian risiko sejak masa sebelum kehamilan. Materi diberikan secara interaktif sehingga peserta dapat berdiskusi dan menyampaikan pengalaman maupun pertanyaan yang mereka hadapi di masyarakat.
Peserta terlihat sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Khususnya para survivor preeklamsia, pengalaman mereka dalam menghadapi kehamilan dengan preeklamsia menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi wanita usia subur dan ibu hamil.
Dr. Dodoh Khodijah menjelaskan bahwa pencegahan preeklamsia perlu dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum seorang perempuan merencanakan kehamilan. Identifikasi faktor risiko sejak masa pra konsepsi memungkinkan perempuan memperoleh informasi dan melakukan pengendalian risiko lebih awal.
Program ini juga mendorong survivor preeklamsia untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dapat berperan sebagai agen perubahan di masyarakat. Melalui pengalaman yang dimiliki, survivor diharapkan mampu berbagi informasi mengenai pentingnya mengenali faktor risiko dan melakukan deteksi dini preeklamsia. Pendekatan pemberdayaan survivor tersebut merupakan bagian dari rancangan pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Medan.
Kegiatan di Desa Tandem Hilir II ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mencegah preeklamsia, sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat untuk mewujudkan kehamilan yang sehat dan aman bagi ibu serta bayi. (adz)

