Kesempatan bekerja di Jepang bagi warga Kota Medan diproyeksikan semakin terbuka. Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Medan menargetkan sedikitnya 100 tenaga kerja dapat diberangkatkan ke Negeri Sakura sepanjang 2026 melalui skema pembiayaan yang menggandeng Bank Jawa Barat (BJB) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
Plt Kepala Disnaker Kota Medan Ramaddan, mengatakan keterbatasan biaya selama ini menjadi hambatan utama bagi pencari kerja yang ingin bekerja di luar negeri. Karena itu, Disnaker berupaya menghadirkan solusi pembiayaan agar kesempatan tersebut dapat dinikmati lebih banyak masyarakat.
“Untuk bulan ini saja sudah ada sekitar 10 orang dalam daftar tunggu. Kalau dihitung sampai akhir tahun, kami optimistis jumlah tenaga kerja yang diberangkatkan bisa lebih dari 100 orang. Sekarang tinggal menunggu persetujuan dari Bank BJB sebelum program ini dieksekusi,” ujar Ramaddan, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, kerja sama dengan Bank BJB dipilih karena telah lebih dahulu diterapkan di sejumlah daerah lain. Sementara di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, program tersebut akan menjadi yang pertama.”Kebetulan program pembiayaan itu ada di Bank BJB, sehingga kami memilih bank tersebut agar prosesnya lebih cepat. Saat ini tinggal menunggu persetujuan karena di Medan program ini baru akan dimulai,” katanya.
Ramaddan menjelaskan, dalam skema tersebut pencari kerja akan memperoleh pinjaman pembiayaan dari Bank BJB dengan jaminan dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Disnaker berperan sebagai fasilitator yang mempertemukan calon pekerja dengan LPK hingga proses pengajuan pembiayaan.
“Nanti pencari kerja dan LPK membuat perjanjian lebih dulu, kemudian mengajukan pembiayaan ke Bank BJB. Kami juga sudah mengingatkan agar bunga pinjaman yang dikenakan tidak memberatkan, minimal setara bunga kredit UMKM,” jelasnya.
Ia mengakui biaya keberangkatan menjadi persoalan yang paling sering membuat calon pekerja mengurungkan niat bekerja ke luar negeri, meski peluang kerja terbuka cukup besar.”Kami berharap program pembiayaan ini menjadi solusi sehingga masyarakat yang memiliki kemampuan dan kemauan bekerja di Jepang tidak lagi terkendala biaya,” ujarnya.
Disnaker Medan saat ini masih memprioritaskan penempatan tenaga kerja ke Jepang karena permintaannya dinilai paling besar. Meski Korea Selatan juga membuka peluang dengan tingkat upah yang lebih tinggi, proses seleksi dan mekanisme penempatannya dinilai lebih kompleks.
“Korea Selatan memang ada dan gajinya lebih besar. Namun sistem ketenagakerjaannya lebih rumit. Karena itu, sementara kami fokus ke Jepang dulu. Prinsipnya, semua upaya akan kami lakukan untuk menekan angka pengangguran di Kota Medan,” pungkas Ramaddan. (map/ila)

