Ramadan, Pasar Petisah Jadi Sentral Kuliner Medan, Tempat Nongkrongan Anak Muda atau Blok Petisah

PERUSAHAAN Umum Daerah (PUD) Pasar Kota Medan akan melakukan pengembangan pasar-pasar yang ada di Kota Medan. Dalam waktu dekat, program tersebut akan dimulai dari Pasar Petisah dengan menjadikan Pasar Petisah sebagai pusat sentral usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Pasar Petisah akan menjadi ikon kuliner Kota Medan, tempat nongkrongnya anak muda dan warga Kota Medan serta sebagai salah satu objek wisata bidang kuliner. Direncanakan kita namakan Blok Petisah,” ucap Direktur Utama (Dirut) PUD Pasar Kota Medan, Anggia Ramadhan di ruangannya, Jumat (18/9).

Anggia menyatakan, program tersebut akan berjalan secepatnya, sebab sudah ada pihak yang akan berinvestasi. Pembangunan Pasar Petisah sebagai Blok Petisah tersebut ditargetkan akan selesai pada Bulan Suci Ramadan di Tahun 2027 mendatang.

“Sebab Pak Wali Kota ingin saat Ramadan nanti sudah beroperasi. Dengan demikian, diharapkan bisa bermanfaat untuk masyarakat secara luas termasuk bagi para pelaku UMKM di Pasar Petisah itu sendiri,” ujarnya.

Terkait persiapan, Anggia memastikan sudah berjalan. Bahkan pekan depan, pihaknya akan melakukan perjanjian kerja sama (PKS) dengan pihak pengembang.

“Target kita, akhir bulan ini atau paling lama awal bulan sudah mulai proses pembangunan. Sosialisasi sudah kami lakukan ke pedagang, termasuk soal izin yang sedang berproses di Pemerintah Kota (Pemko) Medan hingga nilai sewanya sudah kita hitung dengan konsultan,” katanya.

Disinggung soal lokasi, Anggia menyebutkan bahwa Blok Petisah dipusatkan di pelataran parkir dan lantai dua Pasar Petisah. Tempat yang saat ini kosong akan “disulap” menjadi lokasi UMKM.

“Sedangkan pedagang pakaian dan lainnya yang sudah lebih dulu berjualan, tetap bisa menjalankan usahanya seperti biasa. Dari konsep itu, semoga bisa berdampak dengan pedagang lain,” tuturnya.

Anggia menuturkan, sedikitnya lokasi itu akan di isi 100 tenant. Yang membuatnya menjadi lebih menarik, semua produk UMKM tersebut merupakan khas Kota Medan. “Kami tidak akan membawa brand-brand luar, melainkan fokus terhadap brand-brand Kota Medan,” tegasnya.

Konsep pembayarannya, sambung Anggia, akan disesuaikan dengan masyarakat, bisa secara cash maupun cashless. Untuk pembayaran cashless, saat ini PUD Pasar Kota Medan sedang berkoordinasi dengan pihak perbankan, khususnya bank daerah.

“Dengan demikian, Pasar Petisah ini akan menjadi smart market. Kita akan dorong berkolaborasi dengan Bank Indonesia untuk menciptakan pasar pintar. Di situ nanti akan ada kegiatan-kegiatan edukasi dan lainnya,” sambung Anggia.

Dia memberikan contoh salah satu mal di Medan yang nyaris redup. Namun karena berkolaborasi dengan usaha kuliner, saat ini sudah ramai dikunjungi pengunjung.

“Kalau kita lihat, mal-mal ini hidup bukan karena ada pakaiannya. Kalau berharap jual pakaian, jual sepatu, tak akan ramai. Karena ada food and beverage (FB) nya, maka mal itu tiap weekend, sore-sore menjadi lebih ramai,” katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat menengah di Kota Medan akan menjadu target ikon kuliner baru di Kota Medan itu.

“Produk UMKM ini bisa dipastikan harga makanannya bersahabat. Apalagi orientasi pihak investor bukan profit-oriented, melainkan social entrepreneur karena fokus pengembangan di UMKM,” pungkasnya.(map/azw)

PERUSAHAAN Umum Daerah (PUD) Pasar Kota Medan akan melakukan pengembangan pasar-pasar yang ada di Kota Medan. Dalam waktu dekat, program tersebut akan dimulai dari Pasar Petisah dengan menjadikan Pasar Petisah sebagai pusat sentral usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Pasar Petisah akan menjadi ikon kuliner Kota Medan, tempat nongkrongnya anak muda dan warga Kota Medan serta sebagai salah satu objek wisata bidang kuliner. Direncanakan kita namakan Blok Petisah,” ucap Direktur Utama (Dirut) PUD Pasar Kota Medan, Anggia Ramadhan di ruangannya, Jumat (18/9).

Anggia menyatakan, program tersebut akan berjalan secepatnya, sebab sudah ada pihak yang akan berinvestasi. Pembangunan Pasar Petisah sebagai Blok Petisah tersebut ditargetkan akan selesai pada Bulan Suci Ramadan di Tahun 2027 mendatang.

“Sebab Pak Wali Kota ingin saat Ramadan nanti sudah beroperasi. Dengan demikian, diharapkan bisa bermanfaat untuk masyarakat secara luas termasuk bagi para pelaku UMKM di Pasar Petisah itu sendiri,” ujarnya.

Terkait persiapan, Anggia memastikan sudah berjalan. Bahkan pekan depan, pihaknya akan melakukan perjanjian kerja sama (PKS) dengan pihak pengembang.

“Target kita, akhir bulan ini atau paling lama awal bulan sudah mulai proses pembangunan. Sosialisasi sudah kami lakukan ke pedagang, termasuk soal izin yang sedang berproses di Pemerintah Kota (Pemko) Medan hingga nilai sewanya sudah kita hitung dengan konsultan,” katanya.

Disinggung soal lokasi, Anggia menyebutkan bahwa Blok Petisah dipusatkan di pelataran parkir dan lantai dua Pasar Petisah. Tempat yang saat ini kosong akan “disulap” menjadi lokasi UMKM.

“Sedangkan pedagang pakaian dan lainnya yang sudah lebih dulu berjualan, tetap bisa menjalankan usahanya seperti biasa. Dari konsep itu, semoga bisa berdampak dengan pedagang lain,” tuturnya.

Anggia menuturkan, sedikitnya lokasi itu akan di isi 100 tenant. Yang membuatnya menjadi lebih menarik, semua produk UMKM tersebut merupakan khas Kota Medan. “Kami tidak akan membawa brand-brand luar, melainkan fokus terhadap brand-brand Kota Medan,” tegasnya.

Konsep pembayarannya, sambung Anggia, akan disesuaikan dengan masyarakat, bisa secara cash maupun cashless. Untuk pembayaran cashless, saat ini PUD Pasar Kota Medan sedang berkoordinasi dengan pihak perbankan, khususnya bank daerah.

“Dengan demikian, Pasar Petisah ini akan menjadi smart market. Kita akan dorong berkolaborasi dengan Bank Indonesia untuk menciptakan pasar pintar. Di situ nanti akan ada kegiatan-kegiatan edukasi dan lainnya,” sambung Anggia.

Dia memberikan contoh salah satu mal di Medan yang nyaris redup. Namun karena berkolaborasi dengan usaha kuliner, saat ini sudah ramai dikunjungi pengunjung.

“Kalau kita lihat, mal-mal ini hidup bukan karena ada pakaiannya. Kalau berharap jual pakaian, jual sepatu, tak akan ramai. Karena ada food and beverage (FB) nya, maka mal itu tiap weekend, sore-sore menjadi lebih ramai,” katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat menengah di Kota Medan akan menjadu target ikon kuliner baru di Kota Medan itu.

“Produk UMKM ini bisa dipastikan harga makanannya bersahabat. Apalagi orientasi pihak investor bukan profit-oriented, melainkan social entrepreneur karena fokus pengembangan di UMKM,” pungkasnya.(map/azw)

Artikel Terkait


Terpopuler

Artikel Terbaru