Cegah Stunting

Susu Kemasan MBG Menggumpal, Siswa di Pati dan Subang Sakit Perut, Insentif SPPG Diubah dari Rp6 Juta/Hari Jadi Rp2.000/Porsi

JAKARTA– Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memperluas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke wilayah Timur Indonesia. Sebanyak 480 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 16 provinsi dan 116 kabupaten/kota diaktifkan mulai hari ini (2/10). Meski demikian, kasus keracunan MBG masih saja terjadi di sejumlah daerah.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, SPPG yang diaktifkan telah memenuhi persyaratan dan dinilai siap beroperasi. Dari total 480 SPPG, sebanyak 211 merupakan SPPG mitra mandiri dan 269 SPPG terpencil. ’’Pada Jumat (hari ini, Red), kami akan melaksanakan aktivasi dapur SPPG yang siap beroperasi di wilayah 3T, wilayah yang stuntingnya tinggi dan wilayah yang stuntingnya tinggi sekali. Kita mulai dari wilayah Timur Indonesia,” ujar Sudaryono kemarin (1/10).
Sebanyak 16 provinsi menjadi sasaran aktivasi serentak. Yakni Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Insentif Berdasarkan Porsi
Di sisi lain, BGN mengubah mekanisme pemberian insentif ketersediaan dan mutu layanan SPPG mulai 5 Oktober 2026. Sebelumnya, setiap SPPG mendapat insentif Rp6 juta per hari. Kini, insentif diberikan secara proporsional berdasarkan jumlah porsi makanan yang dibagikan.
Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan BGN Nomor 13 Tahun 2026 tentang Hari Pelayanan Efektif Program MBG dan Pemberian Insentif Ketersediaan dan Mutu Layanan SPPG.’’Kemudian kami sesuaikan sesuai dengan proporsionalnya, yaitu kami kembalikan menjadi Rp2.000 per porsi makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat,” ujar Sudaryono.
Besaran Rp2.000 tersebut merupakan bagian dari alokasi Rp15 ribu untuk setiap penerima manfaat. Rinciannya, Rp10 ribu untuk makanan, Rp3 ribu untuk operasional, dan Rp2 ribu sebagai insentif ketersediaan dan mutu layanan SPPG.
Sudaryono menegaskan, insentif hanya diberikan ketika SPPG beroperasi dan melayani penerima manfaat. SPPG yang terkena suspend atau tidak memberikan layanan karena kondisi tertentu tidak mendapatkan insentif.

Dugaan Keracunan di Subang dan Pati

Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG kembali terjadi. Kali ini, kejadian dilaporkan di Kabupaten Subang, Jawa Barat, dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sedikitnya 35 siswa mengalami mual, pusing, lemas, hingga muntah setelah menyantap menu MBG.

Di Subang, 14 siswa SD di Desa Sidajaya, Kecamatan Cipunagara, mengalami keluhan mual dan pusing setelah mengonsumsi paket MBG pada Rabu (30/9). Menu yang disantap terdiri atas nasi, sayur, dan susu.

Sejumlah siswa kemudian dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. Salah seorang orang tua siswa mengatakan, anak-anak mengalami mual, pusing, dan lemas beberapa saat setelah menyantap makanan. ’’Keluhan yang dirasakan siswa sebagian besar mual dan pusing. Kondisi tubuhnya lemas,’’ ujarnya kepada Radar Bandung.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang dr Dwinan mengatakan, petugas telah melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui penyebab kejadian. Dia menegaskan, penyebab kejadian masih dalam penyelidikan. Namun, hasil investigasi awal mengarah pada susu kemasan yang dikonsumsi para siswa. ’’Temuan di lapangan menunjukkan susu dalam kondisi menggumpal,’’ ujarnya.

Kejadian serupa dilaporkan di SD Negeri Tambahmulyo 02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Sebanyak 21 siswa mengalami keluhan mual, pusing, lemas, hingga muntah setelah mengonsumsi menu MBG pada Rabu pagi.

Enam siswa dengan gejala lebih berat dibawa ke Puskesmas Jakenan untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah menjalani perawatan dan observasi sekitar dua jam, kondisi mereka stabil dan diperbolehkan pulang.

Perawat Puskesmas Jakenan Yuliati mengatakan, petugas juga menemukan 15 siswa lain yang mengalami keluhan serupa. Namun, kondisi mereka relatif stabil sehingga tidak dirujuk ke puskesmas.

Dugaan awal mengarah pada susu kemasan yang dibagikan dalam paket MBG. Sejumlah siswa mengeluhkan rasa susu yang tidak biasa. Ada pula susu yang disebut memiliki tekstur menggumpal. Salah seorang orang tua siswa, Septi, mengatakan, anaknya mengalami pusing dan mual setelah mengonsumsi susu tersebut. ’’Katanya kepala pusing, perut mual karena habis minum susu dari MBG,’’ ujar warga Desa Tambahmulyo itu.

Menurut dia, beberapa susu yang diminum anak-anak terasa pahit dan asam. Ada pula yang teksturnya menggumpal. Namun, kondisi fisik kemasan terlihat masih baik. ’’Susunya pahit, sama kecut, dan yang lain ada bergerindil (menggumpal). Kedaluwarsa masih lama, kemasan bagus,’’ katanya.

Yuliati membenarkan bahwa kemasan susu yang diperiksa petugas tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Masa kedaluwarsanya juga masih sampai 2027. ’’Untuk kemasan susu tidak ada yang rusak. Tanggal kedaluwarsa masih tahun 2027. Dari keterangan anak-anak, rasanya susunya kurang enak,’’ jelasnya, dilansir Jawa Pos Radar Kudus.

Untuk memastikan penyebab kejadian, Puskesmas Jakenan telah mengamankan sampel susu untuk diperiksa di laboratorium. ’’Kita sudah mengamankan sampel. Kita akan kirim ke dinas terkait,’’ tegas Yuliati.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan, tim medis dan kesehatan masyarakat telah diterjunkan untuk melakukan penanganan sekaligus penyelidikan epidemiologi. ’’Masih berlangsung oleh tim surveilans. Satu sampel dari bank sampel. Teknis penyelidikan epidemiologis oleh tim surveilans sesuai kaidah PE. Tergantung kondisi di lapangan sampai data dan informasi benar-benar mencukupi,’’ ungkap Luky.

Dengan demikian, dugaan susu sebagai penyebab kejadian di Subang maupun Pati masih menunggu hasil pemeriksaan. Sampel makanan dan minuman menjadi bagian penting dalam penyelidikan untuk memastikan sumber keluhan yang dialami para siswa. (lyn/adr/anr/oni/jpg)

JAKARTA– Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memperluas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke wilayah Timur Indonesia. Sebanyak 480 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 16 provinsi dan 116 kabupaten/kota diaktifkan mulai hari ini (2/10). Meski demikian, kasus keracunan MBG masih saja terjadi di sejumlah daerah.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, SPPG yang diaktifkan telah memenuhi persyaratan dan dinilai siap beroperasi. Dari total 480 SPPG, sebanyak 211 merupakan SPPG mitra mandiri dan 269 SPPG terpencil. ’’Pada Jumat (hari ini, Red), kami akan melaksanakan aktivasi dapur SPPG yang siap beroperasi di wilayah 3T, wilayah yang stuntingnya tinggi dan wilayah yang stuntingnya tinggi sekali. Kita mulai dari wilayah Timur Indonesia,” ujar Sudaryono kemarin (1/10).
Sebanyak 16 provinsi menjadi sasaran aktivasi serentak. Yakni Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Insentif Berdasarkan Porsi
Di sisi lain, BGN mengubah mekanisme pemberian insentif ketersediaan dan mutu layanan SPPG mulai 5 Oktober 2026. Sebelumnya, setiap SPPG mendapat insentif Rp6 juta per hari. Kini, insentif diberikan secara proporsional berdasarkan jumlah porsi makanan yang dibagikan.
Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan BGN Nomor 13 Tahun 2026 tentang Hari Pelayanan Efektif Program MBG dan Pemberian Insentif Ketersediaan dan Mutu Layanan SPPG.’’Kemudian kami sesuaikan sesuai dengan proporsionalnya, yaitu kami kembalikan menjadi Rp2.000 per porsi makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat,” ujar Sudaryono.
Besaran Rp2.000 tersebut merupakan bagian dari alokasi Rp15 ribu untuk setiap penerima manfaat. Rinciannya, Rp10 ribu untuk makanan, Rp3 ribu untuk operasional, dan Rp2 ribu sebagai insentif ketersediaan dan mutu layanan SPPG.
Sudaryono menegaskan, insentif hanya diberikan ketika SPPG beroperasi dan melayani penerima manfaat. SPPG yang terkena suspend atau tidak memberikan layanan karena kondisi tertentu tidak mendapatkan insentif.

Dugaan Keracunan di Subang dan Pati

Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG kembali terjadi. Kali ini, kejadian dilaporkan di Kabupaten Subang, Jawa Barat, dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sedikitnya 35 siswa mengalami mual, pusing, lemas, hingga muntah setelah menyantap menu MBG.

Di Subang, 14 siswa SD di Desa Sidajaya, Kecamatan Cipunagara, mengalami keluhan mual dan pusing setelah mengonsumsi paket MBG pada Rabu (30/9). Menu yang disantap terdiri atas nasi, sayur, dan susu.

Sejumlah siswa kemudian dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. Salah seorang orang tua siswa mengatakan, anak-anak mengalami mual, pusing, dan lemas beberapa saat setelah menyantap makanan. ’’Keluhan yang dirasakan siswa sebagian besar mual dan pusing. Kondisi tubuhnya lemas,’’ ujarnya kepada Radar Bandung.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang dr Dwinan mengatakan, petugas telah melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui penyebab kejadian. Dia menegaskan, penyebab kejadian masih dalam penyelidikan. Namun, hasil investigasi awal mengarah pada susu kemasan yang dikonsumsi para siswa. ’’Temuan di lapangan menunjukkan susu dalam kondisi menggumpal,’’ ujarnya.

Kejadian serupa dilaporkan di SD Negeri Tambahmulyo 02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Sebanyak 21 siswa mengalami keluhan mual, pusing, lemas, hingga muntah setelah mengonsumsi menu MBG pada Rabu pagi.

Enam siswa dengan gejala lebih berat dibawa ke Puskesmas Jakenan untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah menjalani perawatan dan observasi sekitar dua jam, kondisi mereka stabil dan diperbolehkan pulang.

Perawat Puskesmas Jakenan Yuliati mengatakan, petugas juga menemukan 15 siswa lain yang mengalami keluhan serupa. Namun, kondisi mereka relatif stabil sehingga tidak dirujuk ke puskesmas.

Dugaan awal mengarah pada susu kemasan yang dibagikan dalam paket MBG. Sejumlah siswa mengeluhkan rasa susu yang tidak biasa. Ada pula susu yang disebut memiliki tekstur menggumpal. Salah seorang orang tua siswa, Septi, mengatakan, anaknya mengalami pusing dan mual setelah mengonsumsi susu tersebut. ’’Katanya kepala pusing, perut mual karena habis minum susu dari MBG,’’ ujar warga Desa Tambahmulyo itu.

Menurut dia, beberapa susu yang diminum anak-anak terasa pahit dan asam. Ada pula yang teksturnya menggumpal. Namun, kondisi fisik kemasan terlihat masih baik. ’’Susunya pahit, sama kecut, dan yang lain ada bergerindil (menggumpal). Kedaluwarsa masih lama, kemasan bagus,’’ katanya.

Yuliati membenarkan bahwa kemasan susu yang diperiksa petugas tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Masa kedaluwarsanya juga masih sampai 2027. ’’Untuk kemasan susu tidak ada yang rusak. Tanggal kedaluwarsa masih tahun 2027. Dari keterangan anak-anak, rasanya susunya kurang enak,’’ jelasnya, dilansir Jawa Pos Radar Kudus.

Untuk memastikan penyebab kejadian, Puskesmas Jakenan telah mengamankan sampel susu untuk diperiksa di laboratorium. ’’Kita sudah mengamankan sampel. Kita akan kirim ke dinas terkait,’’ tegas Yuliati.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan, tim medis dan kesehatan masyarakat telah diterjunkan untuk melakukan penanganan sekaligus penyelidikan epidemiologi. ’’Masih berlangsung oleh tim surveilans. Satu sampel dari bank sampel. Teknis penyelidikan epidemiologis oleh tim surveilans sesuai kaidah PE. Tergantung kondisi di lapangan sampai data dan informasi benar-benar mencukupi,’’ ungkap Luky.

Dengan demikian, dugaan susu sebagai penyebab kejadian di Subang maupun Pati masih menunggu hasil pemeriksaan. Sampel makanan dan minuman menjadi bagian penting dalam penyelidikan untuk memastikan sumber keluhan yang dialami para siswa. (lyn/adr/anr/oni/jpg)

Artikel Terkait

Cegah Stunting

Terpopuler

Artikel Terbaru