34 C
Medan
Thursday, July 18, 2024

Vaksin Astrazeneca Dihentikan Sementara, Sumut Pakai Bacth Berbeda

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menyusul adanya dua orang penerima vaksin yang meninggal dunia pascavaksinasi, pemerintah pusat telah memutuskan untuk menghentikan sementara distribusi dan penggunaan vaksin Astrazeneca batch (kumpulan produksi) CTMAV547. Selama penghentian, Badan POM akan melakukan pengujian toksisitas dan sterilitas guna memastikan keamanan dari jenis vaksin tersebut.

Vaksin AstraZeneca-Ilustrasi.

MESKI demikian, Jubir Satgas Covid-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah mengimbau agar masyarakat Sumatera Utara tidak usah panik. Sebab, vaksinasi Covid-19 di Sumut tidak ada menerima atau memakai jenis vaksin Astrazeneca batch CTMAV547 tersebut. “Batch yang masuk ke kita itu CTMAC516 dan CTMAC539. Kita tidak pakai batch CTMAV547,” ujar Aris yang juga Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Senin (17/5).

Aris menegaskan, Sumut terbebas dari vaksin Astrazeneca CTMAV547. Sedangkan penggunaan vaksin Astrazeneca jenis kode lain, sampai saat ini masih diperbolehkan. “Selama bukan CTMAV547, vaksin Astrazeneca dengan kode yang lain tidak apa-apa,” ucapnya.

Diakui Aris, vaksin Astrazeneca di Sumut selain batch CTMAV547 memang telah masuk pada bulan April 2021. Di sisi lain, untuk vaksin Sinovac stoknya masih tersedia. “Sejauh ini belum ditemukan adanya kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi),” tukasnya.

Diketahui, penghentian sementara distribusi dan penggunaan vaksin Astrazeneca batch CTMAV547 dilakukan sebagai langkah kehati-hatian, sembari menunggu hasil investigasi dan pengujian Badan POM. Penghentian sementara ini tidak berkaitan dengan kejadian pembekuan darah yang diduga dialami oleh salahsatu penerima vaksin AstraZeneca beberapa waktu lalu.

Vaksin Bacth CTMAV547 saat ini berjumlah 448.480 dosis, dan termasuk dalam 3.853.000 dosis vaksin AstraZeneca yang diterima Indonesia pada 26 April 2021 melalui COVAX Facility. Batch ini sudah didistribusikan untuk TNI dan sebagian ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.

“Ini adalah bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini. Kementerian Kesehatan menghimbau masyarakat untuk tenang dan tidak termakan oleh hoax yang beredar. Masyarakat diharapkan selalu mengakses informasi dari sumber terpercaya,” kata Jubir Vaksinasi Covid-19 Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi dalam siaran pers Minggu (16/5).

Dua Meninggal Dunia Usai Disuntik

Terpisah, Juru Bicara vaksin Covid-19, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan dua orang peserta vaksinasi yang meninggal dunia usai disuntik vaksin AstraZeneca.

Pertama, seorang pemuda 22 tahun asal Jakarta, Trio Fauqi Virdaus dikabarkan meninggal dunia 24 jam setelah menerima vaksin AstraZeneca dengan gejala sakit kepala berat. Kedua, seorang peserta lainnya juga dilaporkan meninggal, namun Nadia tidak menjelaskan jenis kelamin dan usia peserta tersebut, karena menurutnya data mendalam soal peserta meninggal ada di Komnas KIPI.

Walau demikian, ia menyampaikan bahwa gejala yang terjadi cenderung sama dengan kasus kematian pertama yakni sakit kepala.

Saat dikonfirmasi terkait kebenaran kasus baru ini, Nadia mengatakan bahwa kabar meninggalnya peserta vaksinasi kedua tercantum dalam surat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Ini ada di surat BPOM dua kasus KIPI berat, data lengkap ada di komnas KIPI,” katanya melalui pesan singkat, Senin (17/5).

Ia menambahkan, walau ada kasus KIPI berat yang menyebabkan kematian, peserta yang sebelumnya telah mendapatkan vaksin AstraZeneca tahap satu tetap akan menerima vaksinasi tahap dua 3 bulan kemudian. “Iya tetap vaksin AstraZeneca 3 bulan kemudian,” katanya.

Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir dan meyakinkan bahwa vaksin ini aman. Hal tersebut dibuktikan dengan 160 juta orang yang mendapatkan vaksin AstraZeneca tanpa KIPI berat.

“Tidak perlu khawatir vaksin ini aman, sudah lebih dari 160 juta orang mendapatkan vaksin AstraZeneca dan vaksin ini sudah mendapatkan emergency use listing (EUL) dari WHO.”

Terakhir, Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak perlu pilih-pilih vaksin. Pasalnya semua vaksin aman dan jumlahnya terbatas. “Tidak perlu pilih vaksin karena vaksin semua aman dan bermanfaat ingat ketersediaan vaksin juga terbatas,” tutupnya.

Pasien Kedua Lansia

Informasi dari Ada dua kasus meninggal dunia usai vaksinasi AstraZeneca di DKI Jakarta. Selain pria 22 tahun di Jakarta Timur, Trio Fauqi Virdaus, ada lagi satu kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) fatal usai disuntik vaksin Corona AstraZeneca yang dialami seorang lansia.

“Satu kasus Trio, satu lagi kasusnya sepertinya tidak terkait dengan vaksin AstraZeneca, lansia, tapi saya detailnya lupa,” kata Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari, dikutip dari CNNIndonesia, Senin (17/5).

Kedua laporan tersebut kemudian menjadi catatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk meninjau kembali keamanan vaksin Corona AstraZeneca, khususnya batch CTMAV547. Kini, uji toksisitas dan uji sterilitas terkait vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 tengah berlangsung dan diharapkan rampung akhir Mei 2021.

Sejauh ini, Prof Hindra mengklaim tak ada kasus yang meninggal akibat vaksin COVID-19 di Indonesia. Maka dari itu, seluruh vaksin Corona yang tiba di Indonesia, di luar batch terkait, disebutnya aman.

Penghentian sementara vaksin Corona AstraZeneca juga berdasarkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurutnya, bilamana didapati efek samping serius hingga meninggal dunia pasca divaksin, perlu pemantauan lebih lanjut sebelum sejumlah dosis vaksin Corona diberikan.

“Sesuai pedoman WHO, kalau misal ada sampai yang meninggal, kemudian batch yang dipakai sama. Maka batch tersebut harus diuji toksisitas dan sterilitas oleh laboratorium yang certified dalam hal ini Indonesia punya BPOM,” ujarnya.

Berapa banyak dosis yang dihentikan sementara?

Ada 448.480 dosis vaksin AstraZeneca yang dihentikan sementara, dari total 3.853.000 dosis vaksin yang tiba di Indonesia. Di luar dosis tersebut, Kementerian Kesehatan memastikan vaksin AstraZeneca tetap diberikan.

Hal serupa dikonfirmasi juru bicara vaksinasi COVID-19 Badan Pengawas Obat dan Makanan Lucia Rizka Andalusia. Batch vaksin AstraZeneca selain CTMAV547 tetap aman digunakan. (ris/lp6/dtc)

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menyusul adanya dua orang penerima vaksin yang meninggal dunia pascavaksinasi, pemerintah pusat telah memutuskan untuk menghentikan sementara distribusi dan penggunaan vaksin Astrazeneca batch (kumpulan produksi) CTMAV547. Selama penghentian, Badan POM akan melakukan pengujian toksisitas dan sterilitas guna memastikan keamanan dari jenis vaksin tersebut.

Vaksin AstraZeneca-Ilustrasi.

MESKI demikian, Jubir Satgas Covid-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah mengimbau agar masyarakat Sumatera Utara tidak usah panik. Sebab, vaksinasi Covid-19 di Sumut tidak ada menerima atau memakai jenis vaksin Astrazeneca batch CTMAV547 tersebut. “Batch yang masuk ke kita itu CTMAC516 dan CTMAC539. Kita tidak pakai batch CTMAV547,” ujar Aris yang juga Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Senin (17/5).

Aris menegaskan, Sumut terbebas dari vaksin Astrazeneca CTMAV547. Sedangkan penggunaan vaksin Astrazeneca jenis kode lain, sampai saat ini masih diperbolehkan. “Selama bukan CTMAV547, vaksin Astrazeneca dengan kode yang lain tidak apa-apa,” ucapnya.

Diakui Aris, vaksin Astrazeneca di Sumut selain batch CTMAV547 memang telah masuk pada bulan April 2021. Di sisi lain, untuk vaksin Sinovac stoknya masih tersedia. “Sejauh ini belum ditemukan adanya kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi),” tukasnya.

Diketahui, penghentian sementara distribusi dan penggunaan vaksin Astrazeneca batch CTMAV547 dilakukan sebagai langkah kehati-hatian, sembari menunggu hasil investigasi dan pengujian Badan POM. Penghentian sementara ini tidak berkaitan dengan kejadian pembekuan darah yang diduga dialami oleh salahsatu penerima vaksin AstraZeneca beberapa waktu lalu.

Vaksin Bacth CTMAV547 saat ini berjumlah 448.480 dosis, dan termasuk dalam 3.853.000 dosis vaksin AstraZeneca yang diterima Indonesia pada 26 April 2021 melalui COVAX Facility. Batch ini sudah didistribusikan untuk TNI dan sebagian ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.

“Ini adalah bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini. Kementerian Kesehatan menghimbau masyarakat untuk tenang dan tidak termakan oleh hoax yang beredar. Masyarakat diharapkan selalu mengakses informasi dari sumber terpercaya,” kata Jubir Vaksinasi Covid-19 Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi dalam siaran pers Minggu (16/5).

Dua Meninggal Dunia Usai Disuntik

Terpisah, Juru Bicara vaksin Covid-19, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan dua orang peserta vaksinasi yang meninggal dunia usai disuntik vaksin AstraZeneca.

Pertama, seorang pemuda 22 tahun asal Jakarta, Trio Fauqi Virdaus dikabarkan meninggal dunia 24 jam setelah menerima vaksin AstraZeneca dengan gejala sakit kepala berat. Kedua, seorang peserta lainnya juga dilaporkan meninggal, namun Nadia tidak menjelaskan jenis kelamin dan usia peserta tersebut, karena menurutnya data mendalam soal peserta meninggal ada di Komnas KIPI.

Walau demikian, ia menyampaikan bahwa gejala yang terjadi cenderung sama dengan kasus kematian pertama yakni sakit kepala.

Saat dikonfirmasi terkait kebenaran kasus baru ini, Nadia mengatakan bahwa kabar meninggalnya peserta vaksinasi kedua tercantum dalam surat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Ini ada di surat BPOM dua kasus KIPI berat, data lengkap ada di komnas KIPI,” katanya melalui pesan singkat, Senin (17/5).

Ia menambahkan, walau ada kasus KIPI berat yang menyebabkan kematian, peserta yang sebelumnya telah mendapatkan vaksin AstraZeneca tahap satu tetap akan menerima vaksinasi tahap dua 3 bulan kemudian. “Iya tetap vaksin AstraZeneca 3 bulan kemudian,” katanya.

Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir dan meyakinkan bahwa vaksin ini aman. Hal tersebut dibuktikan dengan 160 juta orang yang mendapatkan vaksin AstraZeneca tanpa KIPI berat.

“Tidak perlu khawatir vaksin ini aman, sudah lebih dari 160 juta orang mendapatkan vaksin AstraZeneca dan vaksin ini sudah mendapatkan emergency use listing (EUL) dari WHO.”

Terakhir, Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak perlu pilih-pilih vaksin. Pasalnya semua vaksin aman dan jumlahnya terbatas. “Tidak perlu pilih vaksin karena vaksin semua aman dan bermanfaat ingat ketersediaan vaksin juga terbatas,” tutupnya.

Pasien Kedua Lansia

Informasi dari Ada dua kasus meninggal dunia usai vaksinasi AstraZeneca di DKI Jakarta. Selain pria 22 tahun di Jakarta Timur, Trio Fauqi Virdaus, ada lagi satu kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) fatal usai disuntik vaksin Corona AstraZeneca yang dialami seorang lansia.

“Satu kasus Trio, satu lagi kasusnya sepertinya tidak terkait dengan vaksin AstraZeneca, lansia, tapi saya detailnya lupa,” kata Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari, dikutip dari CNNIndonesia, Senin (17/5).

Kedua laporan tersebut kemudian menjadi catatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk meninjau kembali keamanan vaksin Corona AstraZeneca, khususnya batch CTMAV547. Kini, uji toksisitas dan uji sterilitas terkait vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 tengah berlangsung dan diharapkan rampung akhir Mei 2021.

Sejauh ini, Prof Hindra mengklaim tak ada kasus yang meninggal akibat vaksin COVID-19 di Indonesia. Maka dari itu, seluruh vaksin Corona yang tiba di Indonesia, di luar batch terkait, disebutnya aman.

Penghentian sementara vaksin Corona AstraZeneca juga berdasarkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurutnya, bilamana didapati efek samping serius hingga meninggal dunia pasca divaksin, perlu pemantauan lebih lanjut sebelum sejumlah dosis vaksin Corona diberikan.

“Sesuai pedoman WHO, kalau misal ada sampai yang meninggal, kemudian batch yang dipakai sama. Maka batch tersebut harus diuji toksisitas dan sterilitas oleh laboratorium yang certified dalam hal ini Indonesia punya BPOM,” ujarnya.

Berapa banyak dosis yang dihentikan sementara?

Ada 448.480 dosis vaksin AstraZeneca yang dihentikan sementara, dari total 3.853.000 dosis vaksin yang tiba di Indonesia. Di luar dosis tersebut, Kementerian Kesehatan memastikan vaksin AstraZeneca tetap diberikan.

Hal serupa dikonfirmasi juru bicara vaksinasi COVID-19 Badan Pengawas Obat dan Makanan Lucia Rizka Andalusia. Batch vaksin AstraZeneca selain CTMAV547 tetap aman digunakan. (ris/lp6/dtc)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/