Kondisi tersebut terjadi seusai Green Force bermain imbang 1-1 melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Sabtu (5/9) sore WIB. Kepulangan Persebaya Surabaya dari Bandar Lampung terkendala penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di ruang udara yang dilalui jalur penerbangan. Situasi tersebut membuat perjalanan Green Force menuju Surabaya harus menggunakan kombinasi bus, kapal, dan kereta api.
Rute kepulangan Persebaya Surabaya dimulai dengan perjalanan menggunakan bus dari Bandar Lampung menuju Pelabuhan Bakauheni. Setelah itu, rombongan akan menyeberang menggunakan kapal menuju Merak sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Jakarta.
Setibanya di Jakarta, rombongan Persebaya Surabaya dijadwalkan melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Gambir. Dari Stasiun Gambir, perjalanan terakhir menuju Surabaya ditempuh menggunakan kereta api.
Rencana rute tersebut disampaikan Manajer Persebaya Surabaya, Sidiq Maulana Tualeka, pada Minggu (6/9/2026), sekaligus menggambarkan panjangnya perjalanan yang harus dilewati skuad Green Force setelah pertandingan perdana Super League 2026/2027.
“Bus sampai ke Bakauheni, (lalu naik) kapal ke Merak. Kemudian (naik) bus ke Gambir, (dan terakhir naik) kereta ke Surabaya,” ujar Sidiq Maulana Tualeka, Minggu (6/9). Gangguan penerbangan terjadi setelah erupsi Gunung Anak Krakatau memicu penyebaran abu vulkanik di ruang udara yang dilewati sejumlah jalur penerbangan.
Kondisi tersebut membuat beberapa penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Radin Inten II Lampung dibatalkan pada Sabtu (5/9/2026).
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, menjelaskan pembatalan dilakukan sebagai langkah untuk menjaga keselamatan penumpang dan kru pesawat.
Keputusan itu turut memengaruhi penerbangan dengan rute Lampung-Jakarta maupun Jakarta-Lampung.
“Sehubungan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan penyebaran abu vulkanik (volcano ash) di ruang udara yang dilewati jalur penerbangan pada Sabtu (5/9/2026), beberapa penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Radin Inten II mengalami pembatalan,” ujar Kiki Eprina Arieanti dikutip dari Antara, Minggu (6/9).
Pada Sabtu, sedikitnya tiga penerbangan mengalami pembatalan akibat kondisi tersebut.
Penerbangan yang terdampak yakni Transnusa 5205 rute Cengkareng menuju Lampung, Transnusa 5206 rute Lampung menuju Jakarta, serta Lion Air 242 rute Cengkareng menuju Lampung.
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya terjadi pada Sabtu (5/9), tetapi berlanjut pada Minggu (6/9). Sejumlah penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Radin Inten II mengalami penundaan jadwal keberangkatan maupun kedatangan.
“Sedangkan pada hari ini, terdapat beberapa penerbangan dari dan menuju Bandara Radin Inten II yang mengalami penundaan jadwal keberangkatan atau kedatangan penerbangan,” ucap Kiki.
Tiga penerbangan yang mengalami penundaan pada Minggu terdiri dari Garuda Indonesia 073 rute Lampung menuju Jakarta, Citilink Indonesia 904 rute Cengkareng menuju Lampung, serta Citilink Indonesia 905 rute Lampung menuju Jakarta.
Kondisi itu menunjukkan gangguan abu vulkanik masih berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II.
Bagi Persebaya Surabaya, situasi tersebut membuat perjalanan pulang tidak bisa dilakukan melalui penerbangan langsung dari Lampung menuju Jakarta. Rombongan pun harus memilih jalur alternatif yang membutuhkan beberapa moda transportasi sekaligus sebelum akhirnya kembali ke Surabaya.
Perjalanan panjang tersebut terjadi setelah Persebaya Surabaya mengawali kompetisi Super League 2026/2027 dengan meraih satu poin di markas Bhayangkara Presisi Lampung FC. Pertandingan di Stadion PKOR Sumpah Pemuda pada Sabtu (5/9) berakhir dengan skor 1-1.
Green Force sempat berada dalam posisi menguntungkan setelah Yann Mabella mencetak gol untuk membawa Persebaya Surabaya unggul lebih dahulu. Namun, Bhayangkara Presisi Lampung FC mampu mencetak gol balasan pada babak kedua sehingga laga berakhir tanpa pemenang. Hasil imbang tersebut membuat Persebaya Surabaya harus puas membawa pulang satu poin dari laga pembuka.
Setelah pertandingan, skuad Green Force menghadapi tantangan berbeda karena kepulangan mereka dari Bandar Lampung ikut terdampak kondisi penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. (JPC/TRI)

