Home Blog Page 13457

Sekuriti RSU Sari Mutiara Tewas Digilas Truk

MEDAN-Sekuriti RSU Sari Mutiara Medan, Frengky Sugito (28) tewas digilas truk, setelah terjatuh dari sepeda motornya di Jalan SM Raja Km 6,5 Medan, Senin (28/5) sekitar pukul 11.00 WIB. Keterangan yang dihimpun, siang itu pria yang tinggal di Dusun IV, Desa Dagang Kerawan, Tanjungmorawa berniat hendak pulang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor Supra Fit BK 2064 MR.

Korban selanjutnya meluncur dari inti Kota Medan menuju Tanjungmorawa.

Dari arah yang sama, truk kontainer BK 9845 TL meluncur  hendak menuju pintu tol Amplas. Persis di depan loket bus CV Sibuhuan Indah, sepeda motor yang dikendarai korban tiba-tiba tersenggol oleh mobil dan terjatuh ke sebelah kanan. Korban terjatuh ke tengah jalan dan langsung digilas oleh truk kontainer. Akibatnya, kepala korban pecah dan otak berserakan. Korban meninggal dunia di lokasi kejadian.

Saksi mata menyebutkan, korban tersenggol mobil dan langsung terjatuh ke tengah jalan. Tubuh korban langsung digilas ban depan truk kontainer.
“Kami tidak lihat proses jatuhnya, mungkin tersenggol mobil. Yang jelas kami lihat dia dan sepeda motornya dilindas ban kontainer,” ujar saksi mata, di lokasi kejadian.

Saksi mata itu menyebutkan, helm yang dikenakan korban memang tidak rusak namun kepalanya pecah. Akibat kejadian itu, ruas jalan SM Raja sempat macet total.

Petugas Unit Laka Satlantas Polresta Medan, Aiptu Asram Nasution dan Aiptu Supriyanto langsung mengevakuasi mayat korban ke RSU dr Pirngadi Medan sedangkan supir truk bernama Karlot Lumbantobing (55), warga Jalan Pengilar, Medan Amplas, kini diamankan oleh Satlantas Polresta Medan.
Eli Boy (30), teman kerja korban mengaku, saat itu korban ingin pulang ke rumahnya di Tanjungmorawa. “Tadi saat di rumah sakit dia sudah ada firasat buruk karena berat untuk pulang. Tapi karena orangtuanya sedang sakit lalu dia memilih pulang,” katanya.
“Dia itu bekerja sebagai satpam di RSU Sari Mutiara sama dengan saya,” sambungnya.

Ditambahkannya, saat pulang temannya tetap memaksa pulang ke rumah dengan alasan mau merawat orangtuanya.
Eli Boy menambahkan, orang tuanya tak bisa datang karena sedang sakit dan terpaksa harus menunggu keluarganya yang lain untuk mengambil jenazahnya. (gus/jon/mag-12)

Kawal Guru Honor jadi PNS

Kepentingan para guru honor di lingkungan Dinas Kependidikan (Disdik) Kota Medan, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dinilai urgen dan penting. Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Ari Sisworo dengan anggota Fraksi Demokrat DPRD Sumut, Yahya Payungan Lubis.

Berapa pentingkah persoalan guru honor di Medan untuk diangkat menjadi PNS?

24 Mai lalu, kita langsung menghadap Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), untuk memohon agar guru honorer asal kota ini mendapat kemudahan, dalam hal pemenuhan data untuk persyaratan sebagai PNS di lingkungan dinas pendidikan Medan.

Bagaimana niat itu bisa terealisasi?  
Kalau Menpan bisa menerima usulan anggota Komisi A dan B DPRD Medan, yang ikut memperjuangkan nasib para guru honorer. Fraksi Demokrat akan mengawal itu.

Bagaimana dengan batas waktu untuk melengkapi persyaratan yang sudah habis?
Memang batas waktu untuk menyelesaikan kelengkapan persyaratan administrasi, sudah selesai sejak 23 April silam. Namun karena masih banyaknya persoalan pendataan tenaga guru honor yang ada di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Medan, akhirnya hingga kini belum bisa melengkapi berkas sebagaimana dimaksudkan. Karenanya kita memohon pada Menpan untuk memberikan kelonggaran waktu hingga 31 Mai mendatang. Dan Alhamdulillah diterima.

Bagaimana soal data guru honor yang ada beberapa versi?

Hingga kini memang ada beberapa versi tentang jumlah pendataan guru honorer yang ada dilingkungan Disdik Medan. Berdasarkan data dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemko Medan, sedikitnya ada 75 data guru honorer masih simpang siur. Dimana mereka beralasan, kesimpangsiuran dikarenakan ada guru honorer yang sudah menjadi PNS melalui jalur ujian, maupun guru honorer yang sudah tidak lagi aktif. Lucunya, angka ini tidak sama dengan jumlah guru honorer di lingkungan Disdik Kota Medan. Dimana Disdik Medan menjelaskan, sedikitnya ada 63 guru honorer di lingkungannya yang datanya masih simpang siur.

Apa solusinya?

Jadi untuk mengsingkronkan jumlah tadi, maka hari ini, Komisi A dan B bersama dengan Disidik Medan serta Inspektorat dan BKD Pemko Medan, melakukan validitasi data guru honorer, untuk kemudian dikirimkan ke Menpan, agar persoalan yang ada, bisa diselesaikan. Sebagai perbandingan, sebagaimana pernyataan Menpan, Pemko Medan paling buruk dalam persoalan ini. Dimana, kota kecil seperti Sibolga saja, bisa menyelesaikan pendataannya.(*)

Jambret untuk Modal Kawin

Haizat Hairi (25) dan anak buahnya Beni Azari (25) menjambret kalung emas milik Leli Nurjana (34), saat melintas di Jalan Selamat Ketaren, tepatnya di depan kampus Unimed Medan. Tapi aksi keduanya digagalkan warga. Buntutnya, pedagang ikan dan temannya yang tinggal di Bandar Setia, Percut Seituan itu babak belur dihajar warga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Leli berangkat dari rumahnya di Jalan Pelita VI, mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit BK 2634 CC miliknya berboncengan dengan anaknya. Leli berniat hendak pergi undangan ke tempat kerabatnya yang berada di Bandar Setia.

Setiba di kawasan Jalan Selamat Ketaren, tiba-tiba Leli dipepet kedua tersangka yang mengendarai sepedamotor Yamaha Zupiter MX BK 6415 ABI dan langsung merampas kalung emas yang melingkar di lehernya. Setelah kalung berpindah tangan, keduannya langsung kabur.

“Saya dari rumah niat mau pergi undangan ke rumah teman saya di Bandar Setia. Tiba di depan kampus Unimed tiba-tiba kalung saya dirampas,” ujarnya.
Korban  selanjutnya mengejar kedua tersangka sambil meneriaki rampok. Warga setempat yang mendengar teriakan korban, berhamburan keluar dari dalam warung yang tak jauh dari lokasi dan langsung menangkap kedua tersangka saat berusaha kabur.
Warga kemudian memukuli keduannya hingga babak belur.

Tersangka Beni Azari mengaku nekat menjambret karena butuh uang untuk modal kawin.

Kapolsek Percut Seituan, Kompol Maringan Simanjuntak melalui Kanit Reskrim AKP Faidir Chaniago yang dikonfirmasi menjelaskan, pihaknya telah mengamankan dua pelaku. Dan kini kedua pelaku masih dalam proses pemeriksaan oleh petugas. (gus)

Sabu Diselundupkan dalam Keramik

MEDAN-Sabu-sabu seberat 520 gram asal Mali, Afrika Tengah, gagal masuk ke Kota Medan, setelah petugas Bea Cukai Bandara Internasional Polonia, berhasil mendeteksi barang haram yang disembunyikan di dalam keramik perabot rumah tangga, Rabu (23/5).

Direktorat Bea Cukai Polonia kemudian melakukan koordinasi dengan Direktorat Reserse Narkoba (Ditres Narkoba) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu). Sehari kemudian, Kamis (24/5), petugas Dit Narkoba Poldasu berhasil menangkap Hengki Aritonang (35), warga Jalan Pinguin 8, Kelurahan Kenangan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang. Dalam bungkusan sabu, tertera kalau sabu itu akan diantar ke kediaman Hengki.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos, sabu tersebut dimasukkan di dalam keramik perabotan rumah tangga, kemudian sisi bagian dalam keramik di cor semen untuk mengelabui petugas bandara. Awalnya, petugas bandara curiga dengan kiriman tanpa ada nama si pengirim barang.

“Kita awalnya curiga kenapa ada kiriman keramik dari Afrika, biasanyakan keramik kiriman dari Cina. Apalagi nama dan alamat pengirim juga tidak tertera,” ujar Edy Safutra, Pjs Kepala Kantor Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Madya Pabean B Medan, saat ikut menyaksikan pemaparan penangkapan itu di Dit Narkoba Poldasu, Senin (28/5) kemarin.

Setelah melalui Nota Hasil Intelegen (NHI), petugas kemudian membongkar isi keramik. “Setelah kita bongkar, ternyata memang benar ada sabu-sabu seberat 520 gram di dalamnya,” beber Edy.

Sabu senilai 520 juta tersebut, diketahui dikirim melalui perusahaan jasa pengiriman barang inisial D. Sebelum tiba di Bandar Polonia, paket kiriman yang dikemas dalam kotak kayu berisikan keramik itu sempat transit di Singapura dengan menggunakan pesawat Silk Air.
Direktur Reserse Narkoba Poldasu, Kombes Pol Drs Andjar Dewanto mengatakan, mengenai penangkapan sabu senilai Rp520 juta tersebut, pihaknya semula mendapat informasi dari Bea cukai Polonia Medan.

“Kita mendapat info dari Bea Cukai, kemudian kita tindak lanjuti. Setelah dilakukan tes uji coba, ternyata memang benar sabu, yang diletakan di dalam keramik. Didalam dokumen pengirimanya, tertulis bahwa yang dikirim ini adalah contoh keramik,” ujar Andjar.

Dikatakan Andjar, dalam bungkusan paket, tujuannya adalah sebuah rumah yang berada di Jalan Penguin 8 No 190, Perumnas Mandala, Medan. Selain itu, ada juga tertera no hp si penerima yang diketahui adalah milik Hengky.

Kemudian, lanjut Anjdar pihaknya mengadakan koordinasi dan menghubungi nomor si penerima kiriman itu. Saat dihubungi, ternyata si pemilik nomor tersebut sempat terdeteksi sedang berada di Bandara Cengkareng. “Kita coba hubungi terus, dan tetap nyambung.
Dari hasil deteksi si penerima berada di Bandar Cengkareng,” tambah Andjar.

Selanjutnya, Kamis (24/4) sipemilik HP ternyata sudah berada di Medan. Ketika menghubunginya, si penerima menyarankan, agar paket kiriman tersebut sudah dapat diantarkan ke alamatnya karena dia sudah berad di rumah. “Petugas yang menyamar sebagai pegawai jasa titipan pun mengantarkan paket kiriman. Setelah diterima oleh tersangka, dan menandatangani bukti penerimaan, selanjutnya anggota saya menangkap Hengky,” jelas Andjar mengenai kronologis penangkapan.

Hengki menuturkan, bahwa kedatanganya ke Medan memang khusus untuk menerima paket kiriman sabu dari Afrika itu, selain itu, hengki juga berencana ziarah ke makam orang tuanya, yang berada di kawasan Medan Johor. “Saya disuruh teman untuk menerima kiriman sabu tersebut, Nama kawan saya Bernit Pasaribu. Saya tau barang yang dikirim itu adalah sabu. Saya terima Rp 700 ribu bang sebagai upahnya,” jelas Hengki.
Pria lajang, yang sehari-harinya bekerja sebagai supir di Jakarta ini juga mengatakan, bahwa selama ini dirinya tinggal satu kos dengan Bernit. “Yang saya tahu si Bernit sudah 2 kali ditahan, karena kasus putau,” tambah Hengki.

Pria lajang bertubuh tambun ini  sempat meneteskan air mata, saat ditanya perihal makam kedua orang tuanya tersebut. “Rencananya, saya juga mau ziarah bang ke makam orang tua saya,” kata hengki, sambil meneteskan air matanya. (mag-12)

Taman Kota yang Dibongkar Tergenang Air

MEDAN-Delapan taman kota yang dibongkar Pemko Medan menimbulkan masalah baru. Pasalnya, bekas taman yang dibongkar tergenang air saat hujan, sehingga menyulitkan pengendara kendaraan roda dua dan roda empat saat melintas.

“Becek jadinya jalan-jalan ini sejak tamannya dibongkar. Jadi sulit kita, khawatir terpeleset jatuh dari sepeda motor, karena kalau hujan jalan jadi berlumpur dan licin,” ujar Rinal, Senin (28/5).

Dikatakan Rinal, dia kesulitan dan khawatir terjatuh dari sepeda motor karena jalan licin.

“Setiap hari saya kan bawa dagangan berkeliling makanya kalau hujan sulit kali saya takut jatuh dari sepeda motor, karena jalan licin dan bawaan saya di sepeda motor banyak,” terang Rinal.

Dia berharap kepada Pemko Medan segera memberikan solusi agar taman yang telah dibongkar segera dibangun median jalan, sehingga tidak terjadi genangan air dan lumpur yang mengakibatkan jalan becek dan licin.

Saliman, warga lainnya mengaku juga merasakan hal yang sama.

“Saya pernah mau mengejar waktu, jadi saat kencang karena lampu merah masih hijau saya ngebut, eh pas dekat rupanya sudah merah jadinya saya rem tiba-tiba, karena jalannya becek dan licin, saya hampir terjatuh,” ucapnya.

Dishub Medan telah mengusulkan pembangunan median jalan kepada Wali Kota Medan untuk mengganti taman yang sudah dibongkar.
“Kita sudah usulkan desainnya sama Pak Wali, dan sekarang masih menunggu persetujuan dari Pak Wali,” kata Kepala Dinas Perhubungan Medan, Armansyah Lubis.

Dijelaskan Armansyah, kalau Wali Kota Medan sudah menyetujui desain median jalan tersebut maka untuk selanjutnya Dishub Medan akan mengkaji berapa besar anggarannya.

“Kalau sudah setuju baru kita kaji anggarannya. Kalau anggarannya sendiri sudah ada ditampung di APBD dari alokasi anggaran untuk pembangunan median jalan. Namun, berapa besar anggarannya nanti itu akan tergantung dari desain yang disetujui Pak Wali,” terang Armansyah.(adl)

Ganja 23 Kg Dikirim Melalui Paket

MEDAN-Petugas X-Ray Bandara Polonia Medan berhasil menggagalkan pengiriman 23 kg ganja, Sabtu (26/5) petang. Ganja tersebut dikemas dalam 2 kotak yang berisi 20 bal paket ganja.

Informasi yang dihimpun, petang itu petugas X-Ray masing-masing Tiram Barus, Edi Saputro yang berjaga di Unit Bisnis Gudang dan Kargo (UBGK) Bandara Polonia Medan melakukan pemeriksaan terhadap 2 kotak paket yang dikirim melalui jasa titipan barang PT JNE.

Karena curiga melihat kotak tersebut, setelah melalui pemeriksaan X-Ray, mereka membuka kotak. Setelah kotak dibuka, petugas melihat isi paket dalam 2 kotak ternyata berisi 20 bal daun ganja seberat 23 kg.

Petugas langsung melapor ke kantor sekuriti Avsec Bandara Polonia Medan. Ganja ter sebut dikirim oleh Selamat Purnomo, war ga Jalan Desa Lidah Tanah Dusun II, Perbaungan, Deliserdang dengan tujuan Marcelius T, warga Jalan Masmar R 02 Iswayudi, samping Coco SPBU, Balikpapan dengan menggunakan maskapai Garuda dengan nomor penerbangan GA 147n
keberangkatan pukul 10.45 WIB.

Kepala Pos Polisi Bandara Polonia Medan, Aiptu S Sihombing mengatakan, ganja tersebut sudah diamankan dan diserahkan ke Dir Narkoban
Polda Sumut untuk penyelidikan.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Pol Andjar Dewanto SIK mengaku, pihaknya sudah mengamankan ganja tersebut. Dijelaskannya,  polisi masih melakukan penyelidikan untuk mencari pengirim ganja tersebut. Sebelumnya, kurir sabu berinisial HA (35), warga Cimanggis, Depok, Jawa Barat dibekuk petugas Bea dan Cukai Bandara Polonia Medan. Dari tangan tersangka petugas  berhasil mengamankan sabu-sabu seberat 520 gram.
Tersangka HA ditangkap saat hendak mengambil barang tersebut di Unit Bisnis Gudang dan Kargo (UBGK) Bandara Polonia Medan. Sabu itu dikirim dari Afrika melalui jasa titipan barang luar negeri Mali Afrika dan diterima oleh HA.

Namun, karena petugas X-Ray curiga dengan isi barang tersebut lalu diperiksa dan ternyata isinya sabu-sabu seberat 520 gram. Petugas langsung menyusun siasat dan berhasil membekuk HA, yang telah menunggu di UBGK Bandara Polonia Medan.
Begitu barang dipegang, petugas langsung mengamankan HA.

Kasie Penyelidikan dan Penyidikan Bea dan Cukai Bandara Polonia Medan, Riski mengaku HA dibekuk saat mengambil sabu tersebut.
Menurutnya, sabu seberat 520 gram tersebut disimpan dalam barang yang telah dipaketkan sebelumnya. “Sabu disembunyikan di dalam mangkok
keramik (false compartement). Penangkapan pelaku sudah dilakukan koordinasi sebelumnya dengan Dir Narkoba Polda Sumut,” tambahnya.
Tersangka mengaku, nekat menjadi kurir sabu karena membutuhkan uang. “Pelaku diberikan imbalan Rp2 juta,” katanya.

Polisi juga berhasil meringkus pengedar narkoba jenis sabu-sabu, Yusuf (46), warga asrama TNI KIE B Langsa. Polisi mengamankan barang bukti 95,70 gram sabu-sabu, di Jalan Brigjen Katamso, Medan.

“Anggota menyaru sebagai pembeli, langsung meringkus tersangka di lokasi yang sudah disepakati. Dan tersangka juga tidak melakukan perlawanan saat diringkus bersama barang buktinya, “ kata Dir Narkoba Poldasu, Kombes Pol Andjar Dewanto.

Selain sabu-sabu, polisi juga menyita HP merek Nokia yang digunakan untuk menghubungi bandar besarnya. Dikatakan Andjar, keterangan pelaku sabu-sabu tersebut diperolehnya dari seorang bandar besar berinisial BAI (30), warga Jalan Gagak Hitam. (adl/jon/gus)

Pasarkan Pelumas, Pertamina Gandeng BUMN

MEDAN- Berdasarkan survei surveyor Indonesia, pelumas Pertamina menguasai pasar nasional, dengan 60 persen marketshare dari total produk. Tercatat selama 2011, 56 juta kiloliter (kl) pelumas dari berbagai jenis telah dipasarkan.
“Selama 2011 kita telah menjual pelumas 56 juta KL secara nasional, karena itu untuk 2012 kita tingkatkan lagi,” ungkapnya.

Sales Regional Manager Pelumas Pertamina UPMS I Sumatera Bagian Utara Ibnu Prakoso mengatakan di Sumatera Utara belum ada angka pasti berapa total penjualan pelumas pabrikan Sumut.
Tahun ini, pelumas keluaran Pertamina menargetkan peningkatan penjualan 4 persen  keangka 58 juta kiloliter. Ibnu mengaku pertumbuhan ini memang relatif kecil jika dilihat dari sisi persentase, namun dengan volume penjualan yang telah menguasai 60 persen, maka angka itu cukup memuaskan.

“Dalam bisnis apapun, termasuk bisnis pelumas, kalau volume penjualan kecil, maka pertumbuhannya bisa besar, bahkan bisa sampai seratus persen. Tapi kita dengan marketshare 60 persen dan volume 56 juta, maka 4 persen itu besar sekali. Bahkan bisa saja setara dengan total penjualan satu pabrikan,” pungkasnya.

Dalam rangka semakin memperkuat perannya di pasar pelumas dalam negeri, sebagai BUMN, Pertamina juga telah memiliki nota kesepahaman dengan BUMN lain agar mereka menggunakan pelumas Pertamina untuk operasionalnya. Namun hingga saat ini komitmen itu diakui belum berjalan secara maksimal, karena banyak BUMN yang belum konsisten dengan komitmen tersebut.

“BUMN sudah komit, MoU dengan kementerian terkait penggunaan produk dengan tingkat kandungan dalam negeri 40 persen sudah ditandatangani, namun memang unit-unit BUMN di lapangan yang belum menerapkannya secara maksimal. Padahal kalau ini terealisasi, meski belum ada perhitungan terperinci, tapi dipastikan akan mampu mendorong peran pelumas dalam negeri hingga 70 persen. Hingga saat ini baru TNI/Polri yang operasionalnya secara keseluruhan menggunakan pelumas Pertamina,” tambahnya.

Ibnu juga menegaskan, bisnis pelumas ini ke depannya akan menjadi bisnis strategis Pertamina. Karena nilai ekonomis yang sangat tinggi, ditengah biaya produksi yang relatif rendah.
Meski saat ini bisnis pelumas hanya berkontribusi di bawah 1 persen pada bisnis migas nasional, namun dengan ekspansi yang tengah diupayakan, bukan tidak mungkin ke depannya pelumas Pertamina menjadi salah satu pemain utama di pasar pelumas internasional.

“Infrastruktur industri pelumasnya kita sudah punya, bahkan satu-satunya perusahaan pabrikan pelumas yang memiliki fasilitas di Indonesia cuma kita. Banyak pabrikan pelumas malah menggunakan base oil kita dikemas lalu dijual kembali,” katanya.

Seperti diketahui, saat ini ada 6 kilang pelumas yang ada di Indonesia, seperti Dumai, Cilacap, Plaju, Palongan, Balikpapan, dan Kasim (Sorong). Sedangkan yang menghasilkan Base Oil hanya yang di Dumai dan Cilacap.(ram)

Miranda Goeltom Segera Dipanggil dan Ditahan

JAKARTA-Perkembangan kasus suap cek perjalanan pemenangan Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) memang kian meredup. Namun KPK memastikan tak lama lagi segera memanggil Miranda sebagai tersangka.

Besar kemungkinan, Miranda akan langsung ditahan dalam pemeriksaan pertamanya. “Sampai Jumat (25/5) kemarin memang belum ada surat pemanggilan untuk Miranda. Tapi kami memastikan akan segera dipanggil,” kata juru bicara KPK Johan Budi kemarin.

Namun dia tidak tahu, secara pasti kapan sosialita yang populer dengan warna rambut ungu dipanggil penyidik untuk dikorek sebagai tersangka.

Di bagian lain, seorang pegawai KPK menyatakan surat pemanggilan Miranda memang belum disusun. Namun besar kemungkinan, pada satu dua hari ke depan, penyidik akan menyusun dan menyelesaikannya.

“Targetnya, kalau tidak Kamis (31/5), Jumat (1/6) dia dipanggil,” katanya. Jadi, kemungkinan besar, penyidik akan membuat surat panggilan tiga hari sebelum hari H pemanggilan.

Saat disinggung apakah dalam pemanggilan pertamanya Miranda akan langsung ditahan, sumber tersebut mengaku belum bisa memastikan. Tapi berdasarkan kebiasaan KPK, tersangka yang sudah lama tidak pernah diperiksa namun pemeriksaan kasusnya didahului saksi-saksi, maka yang bersangkutan akan langsung ditahan.

Apalagi, pemeriksaan Miranda diperkirakan dilangsungkan akhir pekan. Dua tersangka KPK sebelumnya ditahan di hari Jumat. Sebut saja, Wali Kota Semarang Soemarmo Hadi Saputra yang ditetapkan sebagai tersangka suap pembahasan APBD Kota Semarang ditahan pada Jumat 30 Maret.

Hal yang sama juga dialami Angelina Sondakh. Tersangka kasus suap wisma atlet dan proyek Kemendikbud itu juga ditahan pada Jumat 27 April lalu. “Hehehe, kita lihat saja nanti (apakah ditahan atau tidak),” imbuhnya. (kuh/jpnn)

RS Asia Columbia Tutupi Kematian Pasien

Usai Operasi, Balita Langsung Tewas

MEDAN-Dua kali pindah rumah sakit ternyata tidak dapat menyelamatkan Mutiara Margareth (5). Pihak keluarga histeris. Rumah Sakit Adam Malik dianggap tak serius. Sementara Rumah Sakit Asia Columbia dituding menutup-nutupi kematian Mutiara karena tidak ada penjelasan soal kematian itu.

Mutiara merupakan anak kedua dari pasangan Robinsius Sinarmata (44) dan Mersi boru Siahaan (37) Warga Jalan Pintu Air IV, Gang  Cangkul, Kelurahan Kwala Bekala, Perumnas Simalingkar B, Kecamatan Medan Johor. Dia meninggal usai menjalani operasi di RS Asia Columbia Jalan Listrik, Medan, Minggu (27/5) sekitar pukul 18.20 WIB.

Keterangan yang diperoleh di rumah sakit, awalnya Mutiara yang menjadi korban kecelakaan lalulintas (lakalantas) di Desa Lau Cie, Pancur Batu. Dia ditabrak truk saat dibonceng orangtuanya dengan menaiki sepeda motor. “Posisinya dibonceng di bagian depan naik sepeda motor, tapi di tengah perjalanan mengalami lakalantas karena ditabrak truk angkut tanah timbun saat pulang dari tempat kerjaan di kawasan Pancur Batu,” kata Adi Sinarmata yang merupakan paman korban saat disambangi Sumut Pos di halaman RS Asia Columbia.

Dikarenakan mengalami luka serius di bagian belakang paha sebeleh kiri terkoyak kulitnya hingga ke bahagian perut, tepatnya di bawah pusat. Mutiara langsung dilarikan ke RS Adam Malik oleh orangtuanya. “Hasil diagnosa di rumah sakit Adam Malik tidak ada menunjukkan kejanggalan pada tubuhnya. Walaupun bekas luka di paha kirinya agak terkelupas dagingnya hingga nampak tulang. Tapi hasil foto ronsen pada tulangnya, kepalanya serta sekujur tubuhnya tidak ada masalah,” ucap Adi lagi.

Dikarenakan pelayanan medis di RS Adam Malik sangat lambat dan tidak ada menunjukkan perubahan, keluarga langsung memindahkan ke RS Asia Columbia berharap mendapatkan perawatan lebih baik. “Sejak Selasa (22/5) sampai Sabtu (26/5) pagi, Mutiara dirawat di RS Adam Malik dan sudah mendapat perawatan operasi kecil dengan pembersihan. Sejak operasi tidak ada perawatan dari dokter hanya pergantian perban saja. Rencananya di rumah sakit Adam Malik disarankan akan dilakukan operasi lanjutan dikarenakan daging di pahanya belum menyatu. Berharap akan mendapat perawatan yang lebih baik, kami memindahkannya ke RS Asia Columbia,” ucap Adi lagi.

Selama di RS Columbia, Mutiara yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) yang juga tempat ibunya bekerja, sejak Sabtu (26/5) sekitar pukul 14.00 WIB, sudah menjalani perawatan medis, tepatnya di ruang 602 lantai VI yang merupakan ruang anak.

“Tepatnya Minggu (27/5) sekitar pukul 14.00 WIB, Mutiara sudah menjalani operasi di lantai II sampai pukul 18.00 WIB dan mendapat izin dari orangtua. Tapi mereka tidak memberikan hal terburuk usai menjalani operasi,” ucap Adi dengan air mata berlinang.

Usai menjalani operasi, Mutiara yang langsung ditangani oleh dr Lintong bersama tiga timnya. Mereka membawa keluar Mutiara keluar dari ruangan dengan tempat tidur yang digunakannya di ruang inap bersama dua orang suster. “Kami keluarga tidak ada dipanggil oleh suster tersebut yang sudah menunggu di depan ruang operasi. Kami lihat Mutiara tertidur dengan posisi miring, ketika ditanya, jangan diganggu kata perawat karena sedang bekerja biusnya. Kami sudah curiga karena wajahnya sudah terlihat pucat dan perutnya tidak bergerak, apalagi kita lihat Mutiara tidak diberikan oksigen di hidungnya, kemudian perawat yang dua orang itu meninggalkannya,” cetus Adi.

Menurut Adi, keluarga sudah menduga akibat dari operasi yang dilakukan pihak rumah sakit tersebut kalau Mutiara sudah meninggal. “Sebelumnya operasi perawat mengatakan kalau operasi lanjutannya ada jaringan yang dibuang dan akan dilakukan operasi berikutnya. Setelah kami menjumpai perawat dan dipasang oksigen. Tapi kami curiga perut tak bergerak dan diperiksa sudah tewas,” ucap Adi yang memegang perutnya untuk memeriksa.

Sementara, pihak keluarga sempat menyandera seluruh dokter dan perawat yang melakukan operasi pada Mutiara. “Kalian jangan ada yang keluar sebelum bisa menjelaskan kenapa anakku bisa meninggal. Kalau tidakku kampak kalian semua,” jerit Rubinsiun di ruangan tersebut.

Humas RS Asia Columbia Dewi Arlina yang dikonfirmasi enggan memberikan penjelasan ketika dihubungi melalui telepon selulernya. Sedangkan pengacara rumah sakit Asia Columbia, Julheri Sinaga yang dikonfirmasi membantah kalau penanganan yang diberikan rumah sakit tersebut tidak maksimal. “Proses terhadap penanganan secara baik. Jadi, kesalahan dalam penanganan tidak maksimal itu tidak benar dan sudah sesuai dengan prosedur tetap (Protap),” beber Julheri melalui telepon selulernya.(adl)

Dari Pakter Tuak hingga Malas Kuliah Kedokteran

Biografi Lutfi Nasoetion: ‘Cum Laude Gunung Salak’

Orang Batak sukses bukan hal yang menarik untuk diceritakan. Kesuksesan orang Batak yang diraih dari nol, dari hidup kere, juga sudah biasa, dialami banyak orang. Tapi, sukses yang diawali dari perlawanan pola didik orangtua keras dan kaku, dari keluarga berada dan terhormat, rasanya jarang.

Soetomo Samsu, Jakarta

Cum Laude Gunung Salak, adalah sebuah buku kisah biografi Prof Ir H Lutfi Ibrahim Nasoetion Msc PhD. Pria kelahiran Padangsidimpuan, 3 Mei 1947, yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) pada 2001.

Dia satu-satunya anak laki-laki Haji Djohan Nasoetion, mantan Kepala Jawatan Karet Rakyat untuk Provinsi Sumut, pada era kekuasaan Belanda. Dalam buku yang ditulis wartawan senior IzHarry Agusjaya Moenzir, ada sekelumit sejarah marga Nasution. Begitu juga kaitannya dengan marga Rangkuti.

Cerita-cerita ringan semasa masih remaja, saat di Medan, juga diselipkan sebagai bagian kisah sukses pria yang SD hingga SMA-nya di Medan ini. Dia alumni SMAN 4 Medan pada 1965.

“Jika malas ke Lapangan Merdeka, di tengah perjalanan pulang saya suka mampir di pakter tuak dekat kuburan Jalan Sei Wampu. Di sana ada penyanyi yang saya kagumi. Namanya Nuhun Situmorang. Jika sudah minum empat gelas, dia langsung angkat suara, menyanyi lantang dengan gitarnya seperti troubadour. Tak ada capeknya, bisa sampai dua-tiga jam dia bersenandung. Saya merasa sendu mendengar alunan suaranya dalam lagu Na Sonang Do Hita Na Dua dan Dung Di Tonga Borngin. Untuk menyanyi lagu Pulau Samosir biasanya dia naik ke atas meja. Saya yang duduk jauh di bawah pohon, menonton melalui jendela, juga ikut bertepuk tangan. Karena jika saya masuk ke pakter, saya sudah pasti diusir. Ini tempat orang dewasa, bukan buat anak-anak.”

Begitu kalimat gaya bertutur yang tertulis di buku yang Minggu (27/5) siang dilaunching di sebuah hotel mewah di Jakarta. Dengan enteng, pria yang juga pernah menjabat Wakil Kepala BPN ini juga bercerita tengang kisah asmaranya.
Buku ini juga sangat cocok dibaca para alumni SMA, yang baru saja lulus UN tahun ini. Kemauan keras Lutfi, yang sudah bertekad meninggalkan Medan untuk merantau menuntut ilmu ke Jawa, menjadi hal menarik dan sangat inspiratif. Keinginan ibunya yang menghendaki agar Lutfi menjadi dokter, dengan kuliah di Fakultas Kedokteran di USU, diturutinya dengan ikut tes seleksi. Namun, dia sengaja tidak menjawab soal-soal tes.

“Tanpa antusias saya buka kerja ujian. Saya baca dengan hampa. Tidak ada semangat menjawabnya meski soal-soal yang diajukan itu terlihat sederhana. Saya bisa menjawabnya. Cuma jika saya jawab dengan benar, saya pasti akan lulus tes ini, saya pasti akan kuliah di Kedokteran. Itu artinya saya tidak bisa ke Jawa dan selamanya akan menjadi penjaga Sungai Deli di Kampung Keling. Halaahh! Maka sesuai rencana sejak lama, saya tidak mau menjawab tes itu. Saya tak mau mengisinya dengan benar. Biarkan saja saya salah,” isi bukut itu lagi.

Singkat cerita, dia kuliah di Institut Pertanian Bogor. Kecerdasannya pun dipuji mantan dosen pembimbing skripsinya di IPB, Prof Dr Ir Oetit Koswara. Oetit yang sudah sepuh itu, memberikan testimoni, bahwa skripsi Lufti ditulis dalam bahasa Inggris. “Dia mendapat predikat cum laude dan skripsinya ditulis dalam bahasa Inggris, tanpa saya minta. Dia hebat,” ujar Oetit yang kemarin hadir di acara launching buku itu.

Pujian kepada mantan Ketua Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB itu juga disampaikan Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan. Luhut mengaku sering mendapat undangan hadir di acara peluncuran buku biografi tokoh. Namun dia mengaku sangat jarang hadir karena menurutnya banyak tokoh yang tak jelas, tidak konsisten. “Tapi begitu ini undangan dari Pak Lutfi, saya hadir. Karena orang ini hebat, orang jujur,” puji Luhut, lugas dari atas mimbar.
Penulis buku, IzHarry Agusjaya Moenzir, yang juga anak Medan, mengatakan, buku biografi Lutfi ini sangat bergaya Medan. Baik dari gaya bahasannya yang khas, maupun tutur kata spontanitasnya. “Bahkan kekasarannya pun masih natural. Banyak sekali dialek gaya Medan di buku ini,” ujar Bang Iz, panggilan akrabnya. Saat menulis, dia dibantu Iman Mulia Rosidi, yang juga seorang jurnalis senior.

Sejumlah tokoh antara lain mantan Ketua BPK Anwar Nasution, termasuk para pengajar di IPB, juga hadir di acara peluncuran buku. “Siapa pun tak bisa memutuskan dengan masa lalu. Dia paling hanya bisa mengatakan, selamat tinggal,” ujar Lutfi, saat didaulat naik podium. (*)