Home Blog Page 13556

Awas, Ada 15 Ribu Senpi Ilegal di Sumut

MEDAN-Komplotan perampok bersenjata api (senpi) berhasil dibekuk pihak Poldasu. Seorang anggota mereka ditangkap di Labuhanbatu, Minggu (6/5) lalu. Kejadian ini seakan menegaskan penggunaan senpi ilegal begitu marak. Dan, hal ini sesuai dengan data yang menyatakan ada 15.000 senpi ilegal di wilayah Sumut.

Data ini dikemukakan oleh Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane secara khusus kepada Sumut Pos, kemarin di Jakarta. Diperkirakan Pane, 15.000 pucuk senjata api ilegal memang beredar di Sumut. Besarnya angka peredaran senpi ilegal ini, salah satunya disumbang oleh kebijakan Mabes Polri pada 2000 hingga 2002 lalu. Untuk Sumut, setidaknya izin pemberian senpi dikeluarkan mencapai 3.000 lebih.
“Tapi meski kemudian saat era Kapolri Sutanto memerintahkan agar senpi-senpi ini ditarik kembali, tidak ada seorang pun yang mengembalikan,” katanya.

Senjata-senjata api yang memperoleh izin ini, dipastikan kemudian menjadi ilegal. Karena izinnya tidak lagi diperpanjang dan diperkirakan dipegang oleh sejumlah pengusaha, terutama pengusaha perkebunan yang cukup banyak di Sumut atau bahkan telah berpindah tangan.

Parahnya lagi, ternyata setelah era Sutanto berakhir, secara diam-diam Mabes Polri justru mengeluarkan kebijakan dengan menjadikan pendapatan dari pajak senpi masuk dalam Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). “Itu sampai Rp1,5 juta per senjata api per tahunnya,” tambahnya.

Akibatnya, menurut Neta, dapat dipastikan angka peredaran senpi semakin tidak terbendung. Terutama di Sumut, karena IPW meyakini senjata-senjata ilegal dari sisa-sisa konflik di Aceh, juga masuk ke Sumut. Demikian juga senpi selundupan dari negara-negara tetangga seperti dari Filipina Selatan dan Kamboja. “Karena secara geografis, Sumut bersebelahan dengan negara tetangga. Nah senjata selundupan ini masuk ke Indonesia lewat Malaysia,”ungkap Neta yang meyakini senpi ilegal juga berasal dari senjata para purnawirawan dan senjata rakitan.

Besarnya angka 15.000 senpi ilegal yang beredar di Sumut ini menurut Neta kemudian, diperoleh karena secara teori, angka 3.000 di kali lima celah-celah masuknya senpi ilegal ke Sumut. Sementara ketika bicara secara nasional, angkanya benar-benar sangat luar biasa. Karena selain izin yang dikeluarkan Mabes Polri tahun 2000 hingga 2002 lalu yang mencapai 17.000 pucuk senpi bagi sipil, masih dikali lima sumber-sumber senpi ilegal lainnya. Sehingga jumlahnya mencapai 85.000 pucuk. Dan itu belum termasuk izin-izin yang baru. Untuk itu Neta meminta Kapolda Sumut, harus segera berani mengambil tindakan nyata. “Saya yakin kalau ada kemauan dari Kapolda, pasti bisa. Contohnya di Jawa Tengah, itu gencar dilakukan operasi penertiban senjata api. Karena kalau dibiarkan, ini sangat berbahaya. Di DKI Jakarta saja, itu dipastikan rata-rata tiap minggu satu aksi kejahatan menggunakan senjata api. Nah di Sumut sendiri angka ini saya kira tidak jauh berbeda,” jelasnya.

Untuk itu Neta berharap pemerintah dalam hal ini kepolisian harus bertindak cepat mengatasi ini. “Apapun alasannya, sipil tidak boleh memegang senjata. Jadi harus tegas dan harus segera menarik kembali senjata-senjata ini. Kalau orang yang dimaksud tidak mau mengembalikan, dia dapat dikenakan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), karena melanggar UU Darurat. Itu ancamannya sampai 15 tahun penjara,” tambahnya.

Anggota Komplotan Perampok Bersenpi Ditangkap

Sebelumnya, seorang dari komplotan perampok bersenpi yang kerap beraksi merampok truk bermuatan sawit di kawasan Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), dibekuk Sub Direktorat (Subdit) III, Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Sumatera Utara di daerah Labuhan Batu, Minggu (6/5).
Pelaku adalah Misnan (56) warga Buluh Cina Kelurahan Siderejo, Labuhan Batu.

Kepala Subdit III Reskrimum Polda Sumatera Utara, Ajun Komisaris Besar Polisi Andry Setiawan mengatakan, pelaku berperan sebagai supir (driver) dan sudah menjadi DPO. “Sebelumnya salah seorang rekan pelaku (Sangkot) sudah tertangkap di Polsek Perdagangan wilayah hukum Polres Serdangbedagai,” ungkap Andry saat ditemui di ruangannya, Senin (7/5).

Andry menambahkan, untuk barang bukti yang terdahulu sudah ada, seperti uang hasil penjualan dan yang lainnya. Menurut Andry, pelaku terdiri dari 4 orang dengan modus menyewa mobil rental dan kemudian menyetop supir truk. Selanjutnya supir truk ditodong dengan senjata api, lalu dibuang ke daerah perkebunan sawit dan kemudian truknya diambil beserta muatannya.

Lebih lanjut Andry mengatakan, kejadiannya pada tanggal 2 Desember 2011 lalu, kemudian dikembangkan hingga akhirnya pelaku berhasil dibekuk. “Dia mengakui 5 kali sudah melakukan aksi ini, dan perannya sebagai driver,” ucap Andry.

Andry menambahkan, pelaku akan dijerat Pasal 365 KUHPidana dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara. Sementara, dua pelaku lainnya masih dalam pengejaran pihaknya.

Terpisah, Misnan mengakuinya bahwa aksi tersebut ia lakukan karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Terpaksa bang. Pekerjaan sebagai supir truk tidak mencukupi. Apalagi orangtua saya sakit,” ujarnya kepada wartawan saat diwawancarai di ruang penyidik Subdit III Reskrimum Polda Sumut.(gir/ari)

Kader Bakar Baju Golkar

Sekretaris DPD yang Baru Sembunyi Dalam Mobil

MEDAN-Konflik di DPD Partai Golkar Sumut makin panas. Seratusan massa yang mengaku sebagai kader partai berlambang pohon beringin itu membakar baju partai tepat di depan kantor DPD Golkar Sumut di Jalan KH Wahid Hasyim Medan.

Bahkan, Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut yang baru terpilih HM Hanafi Harahap SH sampai bersembunyi dalam mobil.
Kejadian ini terjadi pada Senin (7/5) kemarin sekira pukul 10.00 WIB. Saat itu mobil Hanafi Harahap telah tiba di kantor. Namun, karena ada unjuk rasa dengan membakar atribut partai seperti baju, Hanafi mengurungkan niatnya untuk keluar.

Ratusan massa yang tak puas karena ada pemecatan 12 Pengurus DPD Partai Golkar Sumut oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar diketahui datang dari Deliserdang. Mereka datang dengan menumpang 6 angkutan kota. Selain membakar baju Golkar, mereka juga melakukan orasi yang intinya mengecam keputusan DPP Golkar tersebut.

“Kami meminta pada DPP Partai Golkar untuk mencabut SK DPP Partai Golkar No.170/DPP/Golkar/V/2012 tentang susunan kepengurusan DPD I Partai Golkar Sumut hasil revitalisasi karena telah melukai hati para kader daan simpatisan partai Golkar di Sumut,” teriak koordianator aksi, Sumabolo’o.

Sumabolo’o juga mendesak DPP Golkar untuk mengeluarkan Surat Perintah (intruksi) kepada DPD I Partai Golkar agar segera melaksanakan Musdalub Partai Golkar Sumut guna menetapkan susunan kepengurusan DPD I Partai Golkar Sumut yang sesuai dengan keinginan kader dan simpatisan. “Apabila ini tidak diindahkan maka kami akan menurunkan aksi massa yang lebih besar lagi untuk melakukan aksi serupa di kantor ini,” tegasnya.

Dianggap Massa Bayaran

Aksi ini berdurasi singkat, berlangsung hanya beberapa menit saja. Massa langsung bergerak pulang karena tidak seorang pun pengurus Partai Golkar Sumut yang menemui mereka.

“Itu bukan simpatisan ataupun kader Partai Golkar. Itu adalah massa bayaran yang dengan sengaja diturunkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk menjelek-jelekan citra Partai Golkar,” ujar Hanafi Harahap usai aksi.

Hanafi Harahap juga menyesalkan aksi yang dilakukan massa, yang dinilainya seperti petinju pukul lalu lari. “Revitalisasi bukan dari kemauan DPD atau kemauan kader. Kami menyesalkan adanya pihak-pihak yang membonceng. Unjuk rasa itu liar, seperti main tinju main pukul lari,” ujar Hanafi Harahap.
Dianggap sebagai massa bayaran, menurut Hanafi Harahap, terlihat jelas dengan baju Golkar yang masih baru. Jadi, kaos sengaja dibeli untuk dibakar. “Kami akan melaporkan kasus ini ke aparat kepolisian. Untuk segera diselesaikan secara hukum karena kami menilai mereka telah membakar atribut Partai Golkar,” tegas Hanafi.

Leo Nababan: Usut Tuntas!

Dari Jakarta, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Golkar, Leo Nababan dengan tegas menyatakan, pelaku aksi unjuk rasa yang sampai membakar atribut partai di depan kantor DPW Sumut, dipastikan orang suruhan.

“Saya sudah cek kebenarannya, itu yang melakukan aksi tidak ada yang merupakan anggota kita. Itu merupakan orang suruhan,” katanya.
Untuk itu, Golkar akan mendalami terlebih dahulu kasus ini terlebih dahulu. Termasuk kemungkinan untuk membawanya ke tingkat hukum. “Untuk itu kita berharap kasus ini untuk diperiksa secara mendalam, sehingga diketahui siapa otak dibalik aksi pembakaran atribut ini. Kalau ada yang coba-coba dari anggota kita, maka kita akan beri sanksi yang tegas,” sambungnya.

Menurut Leo, adalah merupakan hak setiap orang untuk masuk maupun keluar dari sebuah partai politik. Demikian juga dengan kader-kader yang berasal dari Partai Golkar. “Jangan merusak atribut partai dong,” tegasnya.

Karena hal tersebut menurutnya, sudah merupakan pelanggaran hukum yang berlaku. Untuk itu secara khusus ia mengingatkan para kader, terutama yang saat ini masih duduk sebagai anggota DPRD yang berasal dari Partai Golkar. “Kalau masih anggota DPRD, kita minta untuk tetap bekerja sebagaimana yang telah ditetapkan. Kalau tidak loyal, kami (DPP) pikir ulang untuk melakukan Pergantian Antar Waktu (PAW),”ungkapnya yang memastikan bahwa pemecatan kedua belas anggota DPD Golkar Sumut beberapa waktu lalu, sudah merupakan keputusan partai. Dan itu sah ditandatangani oleh Ketua Umum Partai Golkar, Abruzial Bakrie.

“Jadi saya minta para kader untuk tetap menjaga kekompakan dan soliditas partai. Kalau ada yang coba-coba (melakukan aksi-aksi menentang kebijakan partai), kita akan beri sanksi tegas,” ancam Leo. (rud/gir)

Mantan Wakasad Daftar di Demokrat

Geliat Tokoh Jelang Pilgubsu 2013

MEDAN- Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI (Purn) Cornel Simbolon sudah mengambil formulir pendaftaran penjaringan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut di Partai Demokrat. Hingga, Senin (7/5) sudah tiga tokoh yang mengambil formulir yakni Soetan Bathoegana Siregar dan Anggota DPRD DKI Jakarta Syahrianta Tarigan.

“Yang sudah menghubungi kami sebenarnya sudah banyak. Tapi yang sudah mengambil formulir mereka ini, dan informasinya yang lain akan menyusul mengambil formulir,” kata Anggota Tim 9 Partai Demokrat untuk Penjaringan Pilkada Provinsi Sumut Tahan M Panggabean, di Medan, Senin (7/5).

Dikatakan Tahan, pihaknya belum bisa memberitahukan nama-nama yang sudah ada pembicaraan tersebut, dengan alasan tidak etis jika disampaikan kepada publik sebelum ada kepastian apakah akan mendfatar atau tidak. Tiga nama yang sudah mengambil formulir tersebut, katanya, juga belum bisa dikatakan mendaftar ke Partai Demokrat, karena belum mengembalikan formulir.

“Pendaftaran yang sudah dibuka ini masih akan berlangsung sampai akhir Mei 2012. Karenanya, masih terbuka kemungkinan untuk nama-nama lain mengambil formulir dan mendaftar di Partai Demokrat. Untuk selanjutnya, dilakukan survei oleh partai dan ditetapkan oleh Majelis Tinggi, dalam hal ini Dewan Pembina Partai Demokrat di DPP,” terangnya.

Ketika disingung dengan adanya klaim dari kader Partai Demokrat yang sudah mendapat restu dari Ketua umum (Ketum) DPP Demokrat, Anas Urbaningrum, Tahan menyangkal terkait restu tersebut. Pasalnya, lanjut dia, pendaftaran saja masih belum ditutup, sehingga belum ada hasil yang disampaikan kepada DPP dan sekarang masih dalam ranah kerja Tim Sembilan. Namun, kata dia, dalam penetapan nanti, akan ada prioritas untuk kader Demokrat yang dalam survei berada di urutan tiga besar.

“Kader akan diprioritaskan, jika memang hasil surveinya berada di jajaran tertinggi. Namun, dalam pilkada tentu kami ingin menang, sehingga yang paling diinginkan masyarakat lah yang akan diusung, sesuai hasil survei yang dilakukan oleh lembaga independen nantinya,” lanjut Tahan yang juga Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumut.

Di sisi lain, Plt Ketua DPC Partai Demokrat Medan, Soetan Bathoegana kembali mengatakan dia siap memimpin Sumut. “Saya tidak ingin Demokrat Sumut ini tertidur, karena itu saya mencalonkan diri dan saya wakafkan diri saya untuk rakyat Sumut,” ucapnya.

PSBI Dukung Effendy Simbolon

Sementara itu, belum jelasnya nama calon kandidat yang akan diusung partai-partai politik dalam Pilgubsu, membuat sejumlah wacana mengemuka kuat. Termasuk dugaan kemungkinan PDI Perjuangan akan mencalonkan kadernya sendiri, Effendy Simbolon.

Wacana ini mengemuka tidak saja didasari fakta bahwa sosok anggota DPR RI ini memiliki karakter cukup kuat. Namun juga diketahui ia merupakan salah satu figur yang dinilai cukup populer dari sejumlah tokoh-tokoh PDIP asal Sumatera Utara yang ada. Selain itu, saat ini Effendy juga diketahui merupakan Ketua Umum Punguan Simbolon dohot Boruna se-Indonesia (PSBI) yang memiliki ratusan ribu anggota keluarga. Dan masih ditambah, Simbolon merupakan bagian dari 56 marga-marga yang masuk dalam himpunan marga Parna.

Dukungan salah satunya dikemukakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSBI, Brigjen (Pol).Anthon Simbolon, sebagaimana diungkapkannya kepada koran ini di Jakarta, kemarin. “Secara nurani, kita pasti mendukung (jika Effendy Simbolon) maju dalam pemilihan gubernur Sumut. Dan saya yakin masing-masing anggota keluarga PSBI memiliki nurani yang sama untuk itu,” ungkapnya.

Meski demikian, Anthon mengaku dalam organisasi belum ada pembicaraan terkait hal tersebut. “Beliau juga belum pernah menyampaikannya secara pribadi kepada kita,” ungkapnya. Hanya saja secara pribadi, sang jenderal tidak menutupi kekagumannya akan sosok Effendy yang terbukti selama ini cukup konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang anggota dewan.

Menanggapi dugaan pencalonan ini, Effendy Simbolon belum memberikan jawaban. Namun salah seorang Ketua DPP, Maruarar Sirait kepada koran ini beberapa waktu lalu memastikan, PDIP membuka pintu bagi siapa saja yang terpanggil mengikuti seleksi calon gubernur yang telah dibuka sejak beberapa waktu lalu.

“Siapa saja bisa mendaftar (termasuk dari) birokrat. Syaratnya, harus memiliki ideologi Pancasila. Calon juga harus memperoleh dukungan dari internal partai. Dan harus memiliki visi misi yang jelas,” ungkapnya.  (adl/gir)

Palar Nainggolan Tetap Diproses

Bebas Setelah Ketangkap Main Leng di Lapangan Golf

MEDAN-Palar Nainggolan dan tiga rekannya memang sudah dipulangkan usai ketangkap main judi leng pada Sabtu (5/5) lalu. Namun, proses hukum terhadap anggota DPRD Sumut yang juga mantan Ketua DPD Partai Demokrat Sumut tersebut dipastikan tidak berhenti.

Hal ini diungkapkan Kanit Judisila Polresta Medan, AKP Edi Safari. “Keempatnya memang pulang, tapi proses hukum tetap berlanjut,” ucapnya kepada Sumut Pos, Senin (7/5).

Palar dan tiga rekannya ketangkaap saat main judi jenis leng di Lapangan Golf Martabe Tuntungan. Mereka hanya dijerat pasal 303 Bis. Kini mereka sudah dipulangkan dan wajib melapor setiap harinya.

Edi Safari, menambahkan Surat Diberitahu Penyeledikan Tersangka (SDPT) tetap dilakukan oleh pihaknya, sehingga proses hukum terus dilakukan kepada orang yang melanggar hukum. Edi pun mengatakan berkas kasus Palar dkk akan secepatnya diserahkan ke Kejaksaan Negeri Medan.

PernyataanEdi dipertegas lagi oleh Kasat Reskrim Polresta Medan Kompol Yoris Marzuki. Katanya, biar pun pelaku judi leng tidak ditahan, termasuk Palar Nainggolan. Tapi, kasusnya tetap diproses. “Keempat pelaku yang diamankan oleh pihaknya, wajib lapor setiap hari ke komando,” tegasnya.
DPRD Sumut Heboh

Di Gedung DPRD Sumut, sejumlah wakil rakyat terkejut akibat ulah kader Partai Demokrat tersebut. Seperti anggota DPRD Sumut dari Partai Golkar, Isma Fadly Ardhya Pulungan.

“Iya? Ya Allah, ada-ada saja. Saya nggak tahu. Polisi pun ada-ada saja, main leng pun ditangkap. Lokasi-lokasi judi lainnya juga banyak, tapi tak ditangkap,” sebutnya.

Lebih lanjut, Isma mengaku bertanya-tanya, apakah permainan leng yang dilakukan Palar Nainggolan, memang diikuti dengan taruhan uang.
“Benar itu? Ada isinya (pakai uang, Red) itu? Ya Allah, ada-ada saja,” tutupnya.

Sedangkan itu, kolega Palar Nainggolan di Fraksi Demokrat DPRD Sumut, Sopar Siburian menjelaskan, apa yang dilakukan Palar bukanlah tindak pidana berat. Itu dibuktikan dari pasal yang dikenakan adalah pasal tindak pidana ringan, sehingga Palar Nainggolan bisa dilepas oleh polisi dengan tidak ditahan. Karena pasalnya ringan yakni 303 bis.

Dia merinci Pasal 303 ini ada dua, dan yang dikenakan adalah pasal yang ringan ancamannya empat tahun. “Sebenarnya, itu hanya iseng-iseng saja dan sumir. Dilakukan tidak di suatu lokasi atau markas judi. Artinya ringan. Jadi lagi sial saja,” ujarnya.

Badan Kehormatan Segera Agendakan Rapat

Terpisah, seorang anggota Badan Kehormatan (BK) DPRD Sumut, Amsal Nasution menerangkan, BK DPRD Sumut akan merapatkan dan membahas persoalan itu. Dan akan segera mengkonfirmasi atau klarifikasi terhadap yang bersangkutan.

“Kami belum bisa mengklarifikasi. Kami mencermati proses yang ada di kepolisian dan hargai prosesnya. Yang jelas, kami akan membahas dan merapatkannya lagi, dan menunggu proses di kepolisian,” terang anggota DPRD Sumut dari Fraksi PKS.

Amsal memaparkan, persoalan kode etik tidak sedetail dengan proses pidana di kepolisian.”Kami tidak terlalu detail soal kode etik, ini hanya menyangkut moralitas. Bisa diberi peringatan, teguran tertulis dan sebagainya,” tambahnya lagi.

Kelanjutan dari proses etik di DPRD Sumut, Amsal menyebutkan, pada prosesnya hasil rapat di BK DPRD Sumut, akan diberikan ke Partai Demokrat Sumut, untuk ditindaklanjuti partai.

Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Muslim Muis menerangkan dengan tidak ditahannya Palar Nainggolan, menunjukkan polisi tidak konsisten. Karena selama ini, penjudi kecil-kecilan saja seperti pembeli togel, dengan nyata-nyata langsung ditahan dan diproses secara hukum.

“Itu pidana, harus dilimpahkan ke kejaksaan dan pengadilan dan segera disidangkan. Kalau pasal bis, memang ada pasal pengecualian di bawah empat tahun. Itu juga sifatnya diskresi polisi. Artinya, bisa ditahan sebenarnya. Tapi ini nyatanya tidak ditahan. Dengan tidak ditahan seperti itu, dikhawatirkan bisa menghilangkan barang bukti, mengulangi tindak pidana dan lain sebagainya. Ini juga menandakan, polisi tidak konsisten,” sebutnya.

Dia meminta polisi itu harus konsisten. Pemain togel saja ditahan, mengapa dalam kasus yang melibatkan anggota DPRD Sumut tidak ditahan. “Artinya polisi tidak konsisten,” tegasnya.

Muslim menambahkan, BK DPRD Sumut harus segera menindaklanjuti dan membahas persoalan ini secepatnya. Dengan tidak ditahannya pelaku judi tersebut, bukan menandakan kasus pidana tersebut berhenti.

Selanjutnya, dia menyatakan, sebaiknya pihak dari Kapolri, Komisi Yudisial (KY), Kejaksaan Agung serta institusi penegak hukum pusat, untuk mengawasi persoalan ini, karena rentan tidak diproses disebabkan pelakunya adalah kader partai penguasa. (gus/ari)

Langsung Duduk di Bangku SMP

Murid SD Tekad Mulia Tetap UN meski Sekolah Dihantam Puting Beliung

Ada yang berbeda di SMP di Desa Pujimulyo Kecamatan Sunggal Kabupaten Deliserdang. Kemarin, tak ada pelajar berseragam putih biru. Yang ada di gedung sekolah itu adalah murid berseragam merah putih alias anak SD.

Apa sebab?

Seandainya tak ada puting beliung pada Minggu (6/7) yang menerpa kawasan tersebut, mungkin pemandangan tersebut benar-benar aneh. Bagaimana tidak, murid SD sudah langsung duduk di SMP meski UN baru hari pertama dilaksanakan.

Tapi begitulah, bencana puting beliung telah menghancurkan SD Tekad Mulya. Muridnya yang harus menjalanin
UN kemarin pun harus dialihkan ke SMP yang dimaksud. Sedangkan pelajar SMP, terpaksa diliburkan.

Kepala Sekolah SD Tekad Mulya, Drs Parno Kartawi, mengatakan sejatinya murid berjumlah 561 orang. Dan, yang harus mengikuti ada 85 murid. Nah, karena sebagian gedung rusak maka murid UN harus dipindahkan ke ruang kelas SMP yang berlokasi tak jauh dari SD. “Sedangkan ruang untuk pengawas SD, kita gunakan ruang perpustakaan,” terangnya, kemarin.

Beruntung, perpindahan sekolah sebelum waktunya itu tak membuat murid bingung. Meski belum saatnya duduk di bangku SMP, mereka tampak tak canggung untuk ujian di sana. Ujian hari pertama pun berlangsung dengan tertib dan lancar.

Tambah berbahagia, ujian yang mereka laksanakan juga langsung dipantau oleh Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Syaiful Syafri. “Alhamdulillah Dinas Pendidikan sudah memindahkan para siswa ke ruangan SMP, jadi anak-anak yang berjumlah 85 siswa ini sudah mengikuti ujian dengan baik,” kata Syaiful Safri.

Pada kesempatan itu Gatot meminta kepada kepala sekolah agar siswa tetap ujian dan dijaga ketenangannya. Atas rasa simpatinya, Plt Gubsu menyerahkan bantuan uang tunai tanggap darurat terhadap keteguhan dan ketanggapan para guru yang turut mencari solusi terhadap ujian tersebut.
“Terus semangatkan anak-anak agar mereka dapat lebih giat belajar walau dalam kondisi seperti ini,” pesan Gatot kepada para guru.

Sementara, Camat Sunggal Sariguna Tanjung menjelaskan, pada bencana itu selain SD Tekad Mulia, rumah milik warga pun menjadi korban. Sedikitnya bencana puting beliung menghantam dua desa di wilayah Kecamatan Sunggal Deliserdang. Pertama Desa Pujimulyo dan kedua Desa Medan Krio.
Di Desa Medan Krio, saat disambangi Sumut Pos, terlihat sebagian warga yang menjadi korban keganasan angin puting beliung membersihkan rumahnya, mengumpulkan apa yang tersisa dan layak untuk digunakan kembali. “Memang kejadian ini baru pertama kali. Selama ini, tidak pernah terdengar sebelumnya kawasan ini diterpa angin puting beliung. Ngeri bila diingat kembali kejadian malam itu,” kata Sri Wartini (33) salah seorang warga yang mengatakan angin puting beliung pertama kali mengamuk pada pukul sekira 17.00 WIB.

Bukan itu saja, dia beserta warga lainnya mengalami kerugian besar. “Atap rumah kami terbang. Sebagian dindingnya retak. Lemari dan tempat tidur anjlok akibat tertimpa batu, televisi juga rusak terkena hujan. Bukan itu saja, baju sekolah dan buku-buku anak saya habis beterbangan dibuat angin puting beliung,” ungkapnya.

Menurutnya, kejadian begitu cepat. Seketika angin berputar sangat kencang dan mendekati rumah mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Wartini langsung berlari keluar rumah dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil meskipun saat itu hujan turun sangat deras disertai petir.

“Suaranya menderu. Saya lihat dari jendela ternyata ada seperti gulungan angin yang sangat besar mendekat ke rumah kami. Saya sangat takut, apalagi suami belum juga pulang. Anak saya yang paling kecil, Agung (3) demam panas, dia menangis ketakutan. Nggak tau lagi saya harus bagaimana. Yang saya pikirkan hanyalah anak saya. Saya langsung lari keluar dan mendekap kedua anak saya. Dari jauh saya lihat atap rumah kami sudah terbang entah kemana,” ujarnya mengingat kembali kejadian itu.

Setelah itu, Wartini mencoba berlindung ke rumah adiknya Sri Winih (31) yang tidak jauh dari kawasan itu. Ternyata di sana sebagian keluarganya juga telah berkumpul. Merasa tidak aman, mereka memutuskan untuk pindah ke rumah tetangga yang jaraknya agak jauh dari rumah Winih. Ternyata angin puting beliung tak pandang bulu. Rumah Winih juga mengalami hal yang sama. Angin kencang menerbangkan atap rumah beserta isinya.
Sambung Wartini, sepulang dari menjual ikan keliling, suaminya, Zulnaidi langsung memeluk mereka. “Melihat atap rumah kami hilang, suami saya langsung ngebut dengan sepedanya. Dia juga nggak begitu mempedulikan ikan dagangannya jatuh, sepedanya rusak dan ditinggalin begitu aja dijalan. Suami saya bilang, dia sudah merasa tak enak selama di jalan, perasaannya lain,” terangnya lagi.

Namun, sekitar pukul 19.30 WIB, angin kencang kembali menerjang. “Setelah maghrib, saya lihat ke jendela, ada angin kencang lagi. Tapi nggak begitu lama, sekitar 20 menit. Lebih kencang angin yang pertama. Saat itu, kami hanya bisa menangis dan berdoa. Semoga tidak terjadi apa-apa, dan malam itu cepat berlalu,” urainya.

Kini, dirinya beserta keluarganya terpaksa menumpang tinggal dirumah mertua mereka. Sebab, rumah mereka sudah tak layak huni. “Untuk merenovasi rumah ini kembali membutuhkan biaya yang besar. Mau kemana dicari uangnya. Tadi pagi, Camat di sini sudah meninjau kerusakan dirumah kami. Mereka juga ngasi bantuan seadanya seperti mie instant, gula, dan beras,” sebutnya.

Selain di Kecamatan Sunggal, bencana akibat angin dan hujan deras juga terjadi di Tanjungmorawa dan Patumbak. Di perumahan Cendana Asri di Dusun 9 Desa Medan Sinembah Kecamatan Tanjungmorawa ada sekitar 22 rumah rusak berat, rusak ringan 125 unit rumah, sedangkan di Patumbak rusak ringan 5 unit rumah dan rusak berat 11 unit rumah.

Pemkab Deliserdang telah melakukan pendataan kepada rumah warga yang terkena banjir dan angin puting beliung. Pemkab pun telah mendirikan tenda tenda posko kesehatan dan bencana.  Selain itu, telah diberikan bantuan berupa sembako yang terdiri mie instan, minyak goreng, beras, lauk pauk.
Bagi warga yang rumahnya rusak ringan diberikan bantuan Rp1,2 juta dan bagi rusak berat Rp4 juta. “Penyerahan bantuan langsung dilakukan Bupati Deliserdang Amri Tambunan,”bilang Kepala Infokom Pemkab Deli Serdang Nekan Taringan. (uma/mag-11/btr)

Pemimpin Itu Dilahirkan atau Dibentuk?

Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Pemimpin itu dilahirkan (alami) atau dibentuk (diproses)? Itu pertanyaan yang sudah sejak lama diperdebatkan.

Yang pertama mengatakan: leader are born, not made. Pemimpin itu dilahirkan, bukan dibentuk. Yang kedua menolak dan berkata: leader are made, and not born.

Pemimpin itu dibentuk, bukan dilahirkan. Yang ketiga menengahi dengan mengatakan, leader are born and made. Pemimpin itu dilahirkan dan juga dibentuk oleh faktor luar yang mengasahnya.

Mana yang benar?
Semua benar.

Pemimpin itu dilahirkan, itu benar adanya. Kita bisa lihat kisah hidup pemimpin-pemimpin hebat yang mampu membentuk sejarah, yang memang dilahirkan untuk itu.

Tipe pemimpin yang dilahirkan ini biasanya dari kalangan nabi/tokoh agama. Sebelum lahir pun, mereka sudah dinubuatkan akan menjadi ‘seseorang’. Dan hingga sekarang, mereka tetap memiliki pengikut.

Namun argumentasi bahwa pemimpin itu dibentuk, juga benar adanya. Pernah kenal dengan temanmu yang di masa kanak-kanak dan remajanya bukan sosok yang menonjol, tetapi belakangan berhasil menjadi sosok pemimpin di komunitasnya? Nah, ini pasti tipe pemimpin yang dibentuk. Mereka menjadi pemimpin karena mendapat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Pemimpin ini umumnya tipikal manager perusahaan, kepala dinas, perwira, dan sebagainya.

Yang terakhir, pemimpin yang dilahirkan dan juga didukung faktor luar yang mengasahnya. Ini adalah tipe pemimpin yang lebih menonjol dibanding tipe pemimpin yang dibentuk. Tipe ini mampu membentuk sejarah sendiri, mampu membangkitkan rasa kagum alami dari yang dipimpinnya, dan mampu menggerakkan massa dalam jumlah besar.

Mereka mampu mencetak sejarah dan diingat hingga sekarang. Sebut saja nama John F Kennedy, Nelson Mandela, Napoleon Bonaparte, dan banyak lagi. Di negara kita, ada nama presiden pertama RI, Soekarno.

Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pernah mengatakan, orang yang percaya pemimpin itu dilahirkan, itu ada benarnya. Tetapi, kata Kalla lagi, sosok pemimpin yang dilahirkan itu juga harus didukung faktor eksternal lain seperti pendidikan, latihan, dan pengalaman. Kombinasi ketiga hal itulah yang menjadikan seseorang mampu menjadi pemimpin nasional.

Bercermin pada peta kepemimpinan di negeri ini, tampaknya pemimpin yang berkuasa saat ini masih pemimpin yang dibentuk. Mereka berkesempatan menjadi pemimpin, karena dilahirkan di lingkungan yang tepat, mendapat pendidikan yang tepat, didukung oleh keberuntungan yang tepat, dan lain-lain yang tepat.

Ini tentu tidak salah. Jika kita hanya menunggu pemimpin yang dilahirkan, bisa-bisa kita tidak punya pemimpin. Untunglah, pemimpin bisa dibentuk, meski kualitasnya (mungkin) tak sebaik pemimpin yang dilahirkan dan dibentuk.
Tetapi, kita tentu boleh bermimpi memiliki tokoh pemimpin nasional yang memiliki kualitas born and made. Di manakah seseorang yang seperti itu? (*)

Sumut-Aceh Disapu Puting Beliung

Rumah di Tiga Desa dan Kecamatan Luluh Lantah

LANGKAT-Dua provinsi, Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh disapu angin puting beliung sejak Minggu (6/5) kemarin. Dari dua provinsi yang bedekatan itu rumah dan gedung di beberapa kecamatan dan desa rusak.

Di Langkat, Sumut, sebelumnya Kecamatan Teluk Aru Kabupaten disapu puting beliung. Kini giliran puluhan rumah di tiga kecamatan yakni Babalan, Sei Lepan dan Brandan Barat-Langkat luluh lantak. Kendati tidak ada korban jiwa namun kerugian material mencapai ratusan juta rupiah.
“Sesuai data awal sementara diterima, pemukiman warga di tiga kecamatan tersebut mengalami kerusakan lumayan parah disebabkan puting beliung,” kata Kabag Humas Pemkab Langkat, H Syahrizal.

Rizal kepada wartawan di Stabat, Senin (7/5) menjelaskan, peristiwa terjadi Minggu (6/5) malam, spontan disahuti Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu dengan menginstruksikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Kesbangpol Linmas, Kantor Sosial dan camat seputar wilayah bencana berkoordinasi memberikan bantuan tanggap darurat sekaligus pendataan kerusakan.
Selain itu, urai dia, Pemkab Langkat pun menyalurkan sejumlah sembako dan menyiapkan bahan bangunan sebagai upaya pembangunan kembali rumah korban musibah melalui validitas pendataan.

Data dan informasi terangkum, jelas dia, Kecamatan Babalan bencana terjadi di Desa Securai Utara, Securai Selatan, Teluk Meku, Pelawi Selatan, Kelurahan Brandan Barat dan Kelurahan Brandan Timur dengan total 22 rusak berat (rb), 74 rusak ringan (rr) dan 1 loods pasar rb di Desa Securai Utara.
Kecamatan Sei Lepan terjadi di Kelurahan Alur Dua, Kelurahan Alur Dua Baru, Kelurahan Sei Bilah dan Kelurahan Sei Bilah Timur dengan perincian 30 rb dan 77 rr. Kecamatan Brandan Barat persisnya Desa Klantan 1 rumah rb dan 20 rr. “Ini data awal sementara, data yang valid masih akan kita tunggu paling lama besok (Selasa,8/5),” tutup Rizal.

Tidak kalah hebat terjadi di Aceh. Kalau kemarin, badai puting beliung menghajar Kecamatan Langsa Timur, kini giliran Kecatan Idi Tunang Aceh Timur yang dikunjungi badai ini, Minggu kemarin (6/5). Akibatnya, puluhan rumah warga hancur diobrak abrik.

Pantauan Rakyat Aceh (Group Sumut Pos), Senin (7/5) pagi, ada tiga desa di kecamatan yang porak poranda dilanda puting beliung, yakni rumah  Muhammad Idris Kades Desa Kemuneng, dengan kondisi atap rumahnya hancur, Keudai milik Ismail atapnya hancur, Doorsmer milik Anto ditimpa pohon bambu, sementara rumah milik Alamrhum Hasbi Idris warga Desa Kemuneng  ditimpa pohon rambutan dan pohon pinang dan rumah milik Khaidir juga atapnya rusak.

Sedangkan di Desa Seunubuk Buya,  rumah milik Sofyan Yusuf, rumah Rasyid Sarong, rumah Banta Cut Muhammad dan rumah Asnawi Rani,  semuanya mengalami kerusakan atap rumah.

Sedangkan di Desa Seunubok Drien hanya dua rumah yang rusak yakni rumah Basri dan rumah Nurjannah (50) seorang janda.
Menurut Muhammad Idris Kades Kemuneng, yang terjun ke lokasi menyebutkan kejadian tersebut terjadi saat hujan dan angin kencang melanda kawasan itu.”Kita belum melakukan pendataan berapa kerugian warga yang rumahnya rusak diterjang puting beliung. Namun musibah ini telah kita laporkan ke pihak kecamatan,” ujar Ibnu Sakdan.

Sementara daerah Sumatera Utara lainnya, Kabupaten Batubara, puluhan pohon besar tumbang di pinggir jalan lintas Sumatera (Jalinsum)  dan menimpa baliho, Minggu (6/5) malam. Pohon-pohon besar itu tumbang akibat terpaan angin kencang disertai hujan deras . Akibatnya,  jalur lalulinta s terganggu oleh pohon tumbang dan baliho yang rubuh.

Hingga berita ini diturunkan,baleho yang terletak di persimpangan Jalan PT Inalum belum juga diangkut.
Pantauan Metro (Group Sumut Pos) ,senin (7/5),beberapa titik pohon tumbang antara lain lintasan jalan menuju Inalum, Jalinsum Indrapura dan simpang Inalum.

Menurut warga, MMarbun, angin kencang dan hujan deras Minggu malam itu menumbangkan pohon dan baliho.(mag-4/smg/jpnn)
mengakayang sangat lebat,banyak pepohonan di wilayah kami ini tumbang,kami sangat khawatir apabila kembali terjadi seperti ini sangat menggangu pengguna jalan,kami mohon kepada pemerintah kabupaten dinas  lingkungan hidup agar memangkas pohon ini agar tidak nantinya menimpa pengguna jalan,katanya kemetro.

Sementara,di indrapura,akibat dari kencangnya angin yang menumbangkan pohon dimana akhirnya menimpa jalur kabel telepon yang menghalangi jalinsum dan nyaris menimpa gubuk warga sudah dapat di bersihkan oleh warga.ck/1.

Sementara itu, puluhan rumah penduduk di Dusun Calok Geulima Gampong Jawa kawasan Kota Idi Rayeuk Aceh Timur, terendam air laut pasang purnama.  Ketinggian air rata-rata antara 10-30 centimeter  dalam rumah warga. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun dan dua kali setiap bulan selalu terjadi.

Pantauan Rakyat Aceh, Senin (7/5) siang, di kawasan Calok Geulima persisnya di belakang pusat pasar Kota Idi, terlihat sepanjang lorong III Dusun Calok Geulima dan di dalam rumah penduduk dikepung air asin yang bersumber dari sungai Idi. Meluapnya sungai Idi tak hanya berimbas terhadap puluhan rumah di Lorong III Calok Geulima, tetapi lebih dari tiga hektar areal pertambakan budidaya bandeng di desa itu ikut karam. (mag4/yas)
Sehingga ikan peliharaan warga kembali ke laut.

Menurut, M. Hasyem (68) warga setempat, saat ditemui Rakyat Aceh, menyebutkan, kawasan rumahnya bahkan dalam rumah miliknya, sudah sering direndam air pasang purnama. Dia mengaku rumahnya karam akibat pasang purnama,kemarin sejak pukul 10.00 wib.
“Kondisi seperti ini telah bertahun kami rasakan. Air yang masuk ke kawasan ini karena meluapnya sungai Idi Rayeuk yang tidak mempunyai tanggul,” ujar M. Hasyem.

LMP Ancam Sweeping Warga Malaysia

MEDAN-Seratusan massa yang mengatasnamakan organisasi massa Laskar Merah Putih (LMP) Sumut melakukan aksi unjukrasa di depan Konsulat Jendral Malaysia Jalan Diponogoro Medan, Senin (75) siang.

Kedatangan massa LMP ini untuk melakukan aksi orasi dan unjukrasa terkait tewasnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ditembak mati oleh polisi Diraja Malaysia beberapa hari yang lalu.

Dengan dikawal puluhan aparat kepolisian, massa LPM dengan mengendarai sepeda motor dan kendaraaan roda empat, dengan membawa pengeras suara, Anjar Siregar koordinator lapangan LPM Sumut menegaskan mereka sangat mengecam keras tindakan pemerintahan Malaysia terhadap tewasnya sejumlah TKI dan meminta mengusut tuntas kasus tersebut.

“LPM menuntut  pemerintahan Malaysia agar jangan lagi melakukan penembakan kepada anak Bangsa Indonesia, usut tuntas kasus tewasnya tiga orang TKI dan pemerintahan Malaysia agar memintah maaf dengan terjadinya kasus itu,” teriak Anjar.

Anjar juga mengatakan bahwa kedatangan LPM ke Konjen Malaysia untuk meminta agar polisi Malaysia jangan sampai melakukan penembakan hingga tewas. “Kalau memang salah ya dihukumlah,” imbuhnya.

Dalam menanggapi hal tersebut, beberapa perwakilan dari massa diminta masuk ke dalam kantor Konsulat Jendral Malaysia untuk membicarakan kasus tersebut. Sayangnya sejumlah wartawan yang ingin meliput tidak diijinkan ikut masuk.

Terlihat ratusan polisi melakukan penjagaan yang ketat guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Bahkan LMP juga mengancam akan menurunkan massa yang lebih besar lagi apabila aksi kesemena-menaan Malaysia terus terjadi pada warga negera Malaysia.

“Kami menegaskan, kalau ini terjadi lagi maka kami akan melakukan aksi sweeping terhadap warga negera Malaysia di Medan.Kami juga akan mengambil alih seluruh aset Malaysia yang ada di Sumatera Utara ini,” tegas Andjar.(rud)

Massa SP3SB Minta Bebaskan Suyatno

Kasus Sengketa Lahan TNGL

MEDAN – Massa yang tergabung dalam Solidaritas Pembela Petani Pengungsi Sei Lapan dan Besitang (SP3 SB) mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut. Massa menuntut agar rekan mereka, Suyanto dibebaskan, karena pengkapannya tidak berdasarkan hukum atas kasus tanah di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Suyanto merupakan salah seorang kepala keluarga dari 1500-an keluarga petani atau pengungsi asal Aceh yang mendiami lahan di Desa Harapan Maju Kecamatan Seilapan.

Pada Kamis (5/4) lalu, tanpa dasar hukum yang jelas dan surat penangkapan, Suyatno diculik di tengah jalan oleh oknum Polisi Kehutanan. Penangkapan itu kemudian dikaitkan pihak kehutanan dengan sengketa areal pertanian petani atau pengungsi dengan Balai Besar TNGL (BBTNGL) .

Padahal sesuai kesepakatan rapat pada 10 Januari 2012 antara warga petani, BBTNGL, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Komisi A DPRD Sumut di ruang sidang Komisi A DPRD Sumut  disepakati tidak boleh ada tindakan apapun terhadap warga petani di Seilapan dan Besitang yang lahannya diklaim oleh BBTNGL karena masalah tersebut masih dalam proses penyelesaian oleh pihak Kementrian Kehutanan dan Badan Pertanahan Negara (BPN) Pusat. “Kami minta segera bebaskan Suyatno dari tahanan Tanjung Gusta,” kata, pendemo Darwin.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Sumut, Chaidir Ritonga sudah menyurati instansi terkait dengan ketentuan yang berlaku. (adl)
“Surat rekomendasi melepaskan Suyatno seharusnya jalan, kalau tidak jalan saya bersama anggota dewan lainnya akan menandatangani rekomendasi pembebasan Suyatno,” janji Chaidir.(adl)

Malaysia Haramkan Unjukrasa

KUALA LUMPUR- Majelis Ulama Malaysia mengeluarkan fatwa haram terhadap aksi unjuk rasa yang dilakukan warga melawan pemerintah. Terlebih, apabila unjuk rasa tersebut berujung pada kerusuhan dan perusakan fasilitas publik.

Fatwa ini dikeluarkan menindaklanjuti aksi unjuk rasa melawan pemerintah yang dilakukan oleh puluhan ribu warga di Kuala Lumpur pada 28 April lalu. Saat itu, para pendemo mengambil alih jalanan dan menerobos barikade polisi, hingga berujung pada bentrokan yang diwarnai gas air mata dan pelemparan air keras. Sebanyak 513 pendemo ditangkap oleh polisi.

“Membuat rusuh, mengganggu keamanan publik dan merusak fasilitas publik dilarang oleh Islam,” ujar Kepala Komite Fatwa Nasional Malaysia, Abdul Shukor Husin kepada media setempat dan dilansir oleh AFP, Senin (7/5).

“Fatwa ini juga berlaku bagi setiap upaya penggulingan pemerintah melalui aksi unjuk rasa yang terorganisir,” imbuhnya.

Sebelumnya, Perdana Menteri Najib Razak menyebut aksi unjuk rasa besar-besaran yang menuntut pemilu bersih di Malaysia tersebut, sengaja dilakukan untuk menggulingkan pemerintahannya. Meskipun banyak rekaman video di internet yang menunjukkan bahwa para pendemo dilawan oleh polisi bersenjata lengkap, PM Najib tetap meyakini bahwa unjuk rasa tersebut memiliki niat terselubung selain menuntut pemilu yang bersih.(net)