Home Blog Page 13558

Stewart jadi Sarjana di Usia 97 Tahun

SYDNEY – Semangat Allan Stewart dalam menuntut ilmu patut diacungi jempol. Meski usianya sudah 97 tahun, pria yang berprofesi sebagai dokter gigi itu masih sempat menuntaskan studi masternya di bidang ilmu pengetahuan klinis. Kemarin (4/5) kakek 12 cucu dan 6 cicit itu menjadi sarjana tertua di dunia.

“Saya rasa, setelah ini saya bisa menggantung topi dan jubah akademis ini,” kata lelaki kelahiran 7 Maret 1915 tersebut. Predikat sarjana tertua kemarin merupakan gelar kedua yang dia raih dari Guinness World Records. Pada 2006 Stewart tercatat sebagai sarjana tertua setelah menuntaskan studinya di bidang hukum di University of New England. Saat itu usianya masih sekitar 91 tahun.

Sekitar enam tahun lalu, setelah dikukuhkan sebagai sarjana hukum, Stewart juga bertekad menggantungkan toganya sebagai kenang-kenangan. “Tapi, saya kemudian merasa bosan dan kembali ke bangku kuliah,” papar penduduk Port Stephens, sekitar 160 kilometer di sebelah timur laut Kota Sydney, tersebut. Dia lantas melanjutkan studi pascasarjana di Southern Cross University.

Stewart butuh waktu tiga tahun untuk memutuskan kelanjutan studinya. Setelah menjadi sarjana tertua pada 2006, dia baru terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana pada 2009. Sebenarnya, sebelum aktif menuntut ilmu di usia senja, bapak enam anak itu juga sudah mengantongi dua predikat sarjana pada era 1930-an. Yakni, sarjana kedokteran gigi dan ilmu spesialis bedah mulut.

“Saya punya banyak waktu luang akhir-akhir ini dan saya ingin tetap aktif secara mental,” papar Stewart yang total sudah menyandang dua predikat sarjana dan dua predikat pascasarjana tersebut. Bagi dokter gigi (spesialis bedah mulut) yang praktik di Australia dan Inggris itu, menuntut ilmu di usia tua tidak gampang. Tapi, dia menganggap semua itu sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.

“Mendekati usia 90 tahun, saya sadar bahwa waktulah yang menjadi penentu segalanya. Karena itu, saya harus bergegas jika tidak ingin gagal,” ungkap dia. Karena itu, Stewart tak menyia-nyiakan waktu yang dia miliki. Salah satu caranya adalah mengikuti perkuliahan tambahan dan semester pendek. Hasilnya, dia bisa menuntaskan studi ilmu hukum yang seharusnya enam tahun menjadi hanya 4,5 tahun.

Setelah berhasil meraih gelar sarjana hukum dari University of New England, Stewart justru ketagihan. (ami/jpnn)

Diskusi Warung Bersama Medan, Seni tanpa Penonton?

Jones Gultom

Ketika bertandang ke Pattaya, Thailand, beberapa waktu lalu dan menyaksikan pertunjukan Kabaret Alcazar, saya langsung teringat dengan salah satu karya yang pernah dipentaskan  tim teater dari Bandung, berjudul Sangkuriang.

Sangkuriang ikut mengisi festival teater bertajuk eksperimental yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta 2003 silam. Sangkuriang yang konsepnya kabaret itu, berhasil memborong beberapa nominasi.

Saya sempat tak sepakat waktu itu. Mengingat kabaret bukan sesuatu yang asing dalam dunia berkesenian tanah air. Namun keputusan juri yang di antaranya, Afrizal Malna dan Benny Yohannes, tetap harus dihargai.

Barangkali ada sisi berbeda yang mereka lihat dari karya itu. Apalagi fakta membuktikan, ketika “Sangkuriang” dipentaskan, penonton cukup apresiatif. Riuh-rendah tepuk tangan penonton membahana dari awal sampai akhir.

Berbeda dengan pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Mungkin entah karena karyanya yang terlalu serius atau penonton yang tidak mengerti, tak terdengar satu aplaus pun dari penonton, bahkan sampai pertunjukan usai.

Pertunjukan Kabaret Alcazar dan Sangkuriang bisa jadi pengalaman. Untuk menyaksikan Kabaret Alcazar misalnya, penonton mesti membayar sebesar 600 baht, sekitar Rp180.000 (kurs 1 baht = Rp300) dan 700 baht untuk satu kursi kelas VIP. Walau ditampilkan 3 kali sehari, dengan cerita dan konsep yang sama, penonton tetap membludak memenuhi 1500 seat kursi yang tersedia.

Begitu juga dengan kelompok teater Bandung yang mementaskan Sangkuriang itu. Dengan memanajemen penontonnya sendiri (seperti yang pernah dilakukan Bengkel Teater Rendra) konon panggung mereka tak pernah sepi.

Menurut penulis, manajemen penonton inilah yang gagal dilakukan oleh para pelaku seni di kota ini. Tak heran, jika beberapa kali event seni di Medan, kehadiran penonton terbilang minim. Padahal peluang itu cukup besar, mengingat sebagian besar pelaku seni di Medan juga merangkap dosen maupun guru yang memiliki basis penonton yang jelas. Tapi tak cukup bermain “sendiri”.

Seniman tari, misalnya boleh jadi meminta seniman teater untuk mengerahkan basis-basis penontonnya. Dengan komunikasi yang baik, toh karya itu bisa dijadikan bahan rujukan kuliah bersama.

Kerja Kolektif Tari

Harus diakui dalam sebuah lomba, apresiasi penonton sedikit-banyaknya akan memengaruhi subjektivitas penjurian. Jangankan seni yang penilaiannya kadang tak “lazim”, dalam dunia olahraga sekalipun, kehadiran supporter sangat berpengaruh.

Itu sebabnya, tim yang bermain di kandang sendiri, dianggap sudah unggul lebih dulu dari lawannya. Kesenjangan inilah yang menjadi persoalan kesenian di tanah air, khususnya di Medan. Kian lebarnya jarak antara penonton dengan karya itu sendiri, termasuk faktor utama yang membuat seni di Medan terus terpuruk. Kesan ini terungkap lewat diskusi yang digelar “Warung Diskusi Bersama” pimpinan Ojak Manalu di Taman Budaya Sumatera Utara, 28 April 2012 lalu.

Diskusi yang mengambil tema “Melirik Event tari di Kota Medan” sebagai evaluasi dari pagelaran “Inovasi 3” (20-21 April, sebagai bagian dari Pekarya Sumut Bicara 2012) karya Suwarsono yang dianggap gagal menghadirkan penonton.

Selain Suwarsono, sejumlah koreografer dan seniman tari Medan hadir dalam diskusi itu antara lain, Drs Dillinar Adlin MPd, Martozet, Iwan Tarok, Ijal, Haris. Selain itu beberapa pekerja seni lain, seperti Agus Susilo (teater) dan Jones Gultom (sastra) turut memberikan masukan. Seperti dijelaskan di atas, minimnya penonton bukan hanya dialami oleh dunia tari, tapi juga nyaris semua genre seni.

Keadaan ini disinyalir yang menyebabkan pelaku seni, khususnya tari di Medan, jadi sungkan menggelar event. Namun menurut Suwarsono, tak ada yang bisa disalahkan. “Medan memang bukan kota seni serius, seperti Solo, Yogya, Padang, Lampung ataupun Pekanbaru. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena tak ada institusi formal seni di kota ini. Maka sangat wajar jika kerja-kerja kebudayaan yang standart merupakan sesuatu yang asing bagi pelaku seni di Medan.”

Menurut Suwarsono yang lahir dan besar di Yogyakarta dan pernah mengecap pendidikan seni di ISI di kota Gudeg itu, harapan kesenian di Medan lebih kepada mindset pemerintahnya. “Jangan disalahkan seniman ataupun penonton, karena sudah syukur mereka masih mau menghidupkan kesenian meski dalam situasi rumit seperti ini,” katanya.

Menambahi Suwarsono, Dilinar Adlin, menegaskan sebenarnya event tari di Medan pernah berjaya dengan digelarnya Medan Annual Choreografers (MACs). Sayangnya event berskala nasional ini mandek selama 2 tahun belakangan. Dillinar menawarkan agar event ini digelar kembali. Tentang pendanaan yang selama ini dianggap menjadi masalah klasik harus diatasi sendiri oleh senimannya. Salah satunya dengan menghimpun dana bersama, meski tetap membangun komunikasi dengan pemerintah dan sponsor. Pendapat Dilli dibenarkan Agus Susilo. Seniman teater ini meyakinkan seniman harus terus berkarya. Tidak mesti menunggu event yang notebene berharap pendanaan dari luar.

Menyambung ketiganya, Martozet menekankan pentingnya membangun kerjasama antar pelaku genre seni. Kerjasama itu, selain akan menciptakan tanggungjawab bersama sesama pelaku seni, lebih jauh juga merangsang kerja-kerja kebudayaan yang lebih kompleks. Berbeda dari lainnya, secara spesifik Iwan Tarok menyoroti fenomena yang terjadi dalam dunia tari di Medan. Menurut dosen Unimed ini, di banding seni lainnya, tari di Medan termasuk minim diapresiasi media massa. Jones Gultom lantas menanggapi Iwan Tarok. Menurut redaktur sastra dan seni di salah satu media ini, yang terjadi justru sebalinya.

Wartawan seni-lah yang selama ini sering diabaikan. Jika pun diundang, posisinya semata-mata dianggap sekedar peliput. Menurut Jones, yang juga sastrawan ini, wartawan seni harus sering dilibatkan, terutama dalam diskusi sebuah karya. Selain itu, mindset Jawa sebagai pusat seni harus dihapuskan dari benak para seniman Medan. “Produk kesenian tidak bisa dibanding-bandingkan, jika konsepnya memang kuat mendasar,” jelas Jones. Pada akhirnya, diskusi itu menyimpulkan tentang komitmen perunya menghidupkan kembali MACs, dengan manajemen yang lebih profesional serta membuka ruang diskusi antar pekerja seni yang ada di Medan. (*)

Penulis adalah pemerhati seni di Medan

M-Radio Terbakar

MEDAN- Si jago merah melalap ruang produksi dan pemancar Muhammadiyah Radio (M-Radio) di Jalan Ampera X Medan Keluruhan Glugur Darat Kecamatan Medan Timur, Jum at (4/5) sekitar pukul 11.45 WIB. Penyebab api diduga karena arus pendek dari ruang produksi M-Radio.
Akibat kebakaran ini peralatan produksi radio seperti tiga unit komputer, satu unit mixer dan alat pemanacar ikut terbakar.

Menurut penuturan M Natsir Isfa Direktur M Radio dirinya mengetahui kebakaran ini dari seorang staf M-Radio. Mendengar kabar itu dia sontak kalang kabut. Selanjutnya Isfa bersama pihak keamanan Kampus UMSU melakukan pemadaman sementara dengan mengunakan tabung racun api.
Melihat api semakin membesar dan tidak bisa dikendalikan, kemudian pihaknya melaporkan kejadian itu ke Dinas Pencegah dan Pemadaman Kebakaran (DP2K) Kota Medan. “Supaya api tidak menjalar kemana-kemana aku panggil petugas pemadam kebakaran,” ujarnya.

Lalu petugas DP2K Kota Medan menerjunkan enam unit armadanya untuk menjinakkan api. “Setelah petugas pemadam kebakaran datang, akhirnya api bisa dipadamkan,” ungkap Isfa.

Lanjut dia saat kejadian dirinya sempat mendengar dua kali ledakan di dalam ruangan produk M-Radio yang terbakar ini.  Akibat kejadian ini kerugian ditaksir mencapai Rp300 juta.

Selain itu dampaknya saat ini M-Radio tidak bisa bersiaran (On Air), akibat pemancar yang dimiliki M-Radio Terbakar.
Kebakaran M-Radio ini juga sempat menjadi pusat perhatian warga sekitar dan mahasiswa yang melintas di lokasi kejadian. Kini kasus kebakaran tersebut ditangani Polsekta Medan Timur. Saat kejadian personel kepolisian melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran dan memintai keterangan sejumlah saksi.(gus)

Kota Berastagi Jorok, Alasan APBD Belum Diketok

KARO- Lembaga Swadaya Masyarakat Gempita  yang menggelar aksi lempar sampah di kantor Bupati Karo kemarin (3/5), tetap bersikukuh akan mengajak berbagai elemen masyarakat Karo untuk memperbesar aksi mereka.

Hingga  Jumat (4/5) pagi, sekelompok anggota LSM Gempita sudah bergabung dengan rombongan Pemkab Karo untuk bergotong royong dan membersihkan beberapa titik di Kecamatan Berastagi dan sekitarnya. Jumat bersih yang sudah menjandi agenda Pemkab Karo tersebut dianggap bukan bentuk jaminan atas tuntutan mereka.

Robinson Purba, Ketua LSM Gempita Karo mengaku tetap akan melaksanakan demo susulan bila permasalan sampah tersebut tidak segera diselesaikan.
Robinson berharap dengan menjaga kebersihan Tanah Karo bisa mendapatkan adipura seperti yang pernah diraih sebelumnya.
“Bila Pemkab Karo dapat menyelesaikan permasalahan sampah ini, maka kita akan mendukung sepenuhnya, dan kami berharap Tanah Karo bisa meraih kembali adipura  seperti yang pernah diaraih sebelumnya,” katanya.

Dia juga mengatakan sampah-sampah tersebut bisa saja akan menambah permasalahan rakyat Karo. “Warga  sangat risau karena bisa terjangkit penyakit yang disebabkan sampah-sampah  ini. Selain itu, bau busuk juga membuat rakyat tidak nyaman, khususnya di Kecamatan Berastagi akan sangat berpengaruh sebagai daerah tempat kujungan wisata,” katanya.

Di lain pihak Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi usai mengadakan Jumat bersih kemarin (4/5) mengatakan, kebersihan sudah menjadi prioritas utama khususnya di Kecamatan Berasatagi, yang merupakan daerah tujuan wisata Sumatera Utara.

Karo Jambi menyatakan, masalah kebersihan ini dari awal kepemimpinannya sudah menjadi prioritas. Ini terbukti dengan adanya agenda Jumat bersih, di mana setiap elemen masyarakat diajak bergotong-royong  membesihkan Tanah Karo dari sampah.

Hanya saja, lanjutnya pemerintah sendiri masih tergendala dalam beberapa hal seperti kurangnya armada pengangkutan sampah, sehingga pemungutan sampah belum bisa dilaksanakan secara maksimal.

Ini terjadi, juga disebabkan belum disahkannya APBD Kabupaten Karo Tahun Anggaran 2012, sehingga anggaran untuk memaksimalkan pelayanan terhadap masyarakat belum bisa direalisasikan secara optimal. Sementara usai kegiatan Jumat bersih itu, rencananya APBD Kabupaten Karo akan disahkan.

Selain itu dukungan dari masyarakat sendiri terhadap kebersihan lingkungan juga sangat diharapkan oleh Bupati Karo, karena tanpa dukungan rakyat Karo kebersihan lingkungan akan sulit dicapai.

“Saya sangat berharap bersama seluruh elemen masyarakat Karo  untuk bersama-sama membangun Tanah Karo. Karena tanpa dukungan rakyat, ini tidak akan terjadi,” kata pria yang kerap dipanggil KJ ini.

“Selain kinerja pemerintah kurang maksimal, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan juga sangat penting. Untuk menjawab kapan persoalan ini selesai, sampah akan segera kita bersihkan seiring APBD Kabupaten Karo disahkan. Karo akan bersih dari sampah dan pembangunan akan terlaksana seperti yang diharapakan,” pungkasnya. (mag-19)

Puting Beliung Rusak Rumah Warga

PATUMBAK- Hujan deras disertai angin puting beliung menerjang belasan rumah warga di Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang, Jumat (4/5) sore. Akibatnya, sejumlah keluarga terpaksa mengungsi ke rumah tetangga.

Salah seorang warga, Rina mengatakan hujan deras turun secara tiba-tiba sekitar pukul 17.00 WIB. Kemudian disusul angin kencang hingga menerbangkan atap rumah warga, terutama di tepi jalan utama Medan-Patumbak. Bahkan tembok rumah salah seorang warga runtuh diterjang angin.
Kerusakan rumah terparah terjadi di Lingkungan II dan IV, Desa Patumbak II, Kecamatan Patumbak. Selain merusak rumah, warung dan satu tiang listrik turut tumbang dan menimpa rumah warga.

“Memang sejak sore langit sudah gelap. Kemudian turun hujan deras.

Tetapi warga jadi panik karena angin kencang. Atap rumah beterbangan,” kata Rina
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, belasan keluarga terpaksa mengungsi di rumah tetangga karena rumahnya tidak dapat ditempati.(smg)

Renovasi Stasiun KA Selesai November 2012

MEDAN- Renovasi Stasiun Kereta Api Medan yang saat ini berlangsung diprediksi akan selesai akhir November 2012 mendatang. Renovasi ini dilakukan dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dan juga dalam melaksanakan pembangunan rel kereta api menuju Bandara Kuala Namu.

“Renovasi ini dilakukan di beberapa Stasiun KA di Sumut diantaranya di Stasiun KA Medan dan Stasiun KA Aras Kabu. Juga dilakukan pembangunan jalur rel KA untuk tujuan Bandara Kuala Namu yang akan selesai dalam waktu dekat ini,” kata Humas PT KAI Sumut, Hasri, Jumat (4/5) siang di ruang kerjanya.

Sambungnya, pihaknya sejauh ini baru merenovasi dua Stasiun KA saja karena kedua jalur tersebut sangat penting dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat dimana Bandara Kuala Namu akan selesai akhir 2012.

“Maka dari itu percepatan renovasi dan pembangunan ini akan selesai akhir November 2012 nanti,” sebutnya.
Menurutnya, untuk pembiayaan memakai dana dari PT KAI Indonesia sendiri dan tak ada melibatkan pihak luar.
“Untuk Pembangunan City Airport Terminal (CAT) Set Besar Medan dimulai 19 Maret 2012 dan selesai akhir November 2012 dengan biaya Rp32,4 M, menggunakan dana PT KAI,” ucapnya.

Tambahnya, untuk rute, menuju Bandara Kuala Namu, dari Medan-Kuala Namu sudah  hampir rampung dan tinggal pembangunan dan perbaikan beberapa rute.

“Untuk kereta apinya sendiri dipesan dari Jakarta. Dan saat pembangunan Bandara Kuala Namu sudah selesai maka kereta api yang digunakan sebelum kereta api dari Jakarta tiba maka akan dipergunakan kereta api Medan,” pungkasnya.
Hasri menuturkan, saat penumpang tiba, maka penumpang langsung diberangkatkan ke Bandara Kuala Namu. (jon)
fungsi. “Pembebasan lahan sudah selesai 2008 silam dengan biaya Rp10.7 M. (jon)

Jenglot Hebohkan Warga

ASAHAN-  Ratusan warga Kecamatan Rawang Paca Arga Kabupaten Asahan berbondong bondong mendatangi kediaman HM Sueb (60) di Dusun IX Desa Rawang Lama, Jumat (4/5). Kedatangan mereka ingin menyaksikan secara langsung jenglot makluk klenik yang berhasil ditangakap.

Informasi yang dihimpun selama ini HM Sueb selalu kehilangan uang dalam jumlah besar dan hal serupa juga sering dialami warga setempat  “Siapa pelakunya mungkin saja ada yang pelihara tuyul,” cetus Abdul Rahim warga setempat menirukan ucapan HM Sueb saat dikonfirmasi di tengah – tengah kerumunan warga, Jumat (4/5 ).

HM Sueb yang merasa kesal, kemudian menghubungi Ageng salah seorang paranormal muda yang bermukim di Kota Medan.  “Dengan disaksikan HM Sueb serta beberapa warga yang sengaja diundang, Ageng melakukan ritual untuk menangkap makluk yang sering mencuri uang itu,” tegasnya.
Abdul Rahim yang saat itu diundang HM Sueb untuk menyaksikan proses penangkapan makluk halus, duduk bersila sekitar dua meter menyaksikan Ageng melakukan ritual.

Tampak gulungan kain putih dan lembaran kapas, dan beberapa saat kemudian kapas itu terbakar oleh sulutan rokok yang dipegang Ageng. Ageng langsung bangkit dan memegang gulungan kain putih di kedua sisinya.

“Di dalam gulungan kain putih seperti ada yang bergerak- gerak, kemudian oleh Ageng, kain putih itu dililit dengan menggunakan benang merah yang kemudian diperlihatkan,” katanya. Di dalam kain itu bukan tuyul melainkan jenglot.
Kabar penangkapan jenglot itu secepat kilat menyebar ke seluruh pelosok Kecamatan Rawang Panca Arga, jenglot itu sebelum akhirnya dibakar terlebih dahulu seperti disiksa oleh Ageng. (smg)

Gedung Baru DPRD Binjai Rp5 M

BINJAI- Kontroversi pembangunan gedung wakil rakyat yang serba mewah, tak menghalangi DPRD Binjai untuk membangun gedung baru yang lebih elit dari gedung sebelumnya dengan mengusulkan anggaran Rp5 miliar.

Usulan ini disampaikan Ketua DPRD Binjai, Zainuddin Purba SH saat melakukan silaturahmi bersama tokoh masyarakat, LSM dan organisasi profesi di Gedung Dewan, Jumat (4/5) sekitar pukul 10.00 WIB.

Menurut Zainuddin, gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kota Binjai merupakan gedung terkecil dan terburuk dari gedung dewan di seluruh Indonesia. Untuk itu, pihaknya mengusulkan anggaran Rp5 miliar untuk pembangunan tahap pertama. “Rancangan pembangunan gedung baru itu, sudah kita serahkan ke Bappeda dan Dinas PU Binjai,” kata Ucok sapaan akrab Zainuddin Purba.

Mengenai lahan bangunan baru itu, sambung Ucok, rencananya tetap di lahan semula di Jalan Veteran Kota Binjai, Kelurahan Tangsi, Kecamatan Binjai Kota. Anggaran untuk pembangunan gedung baru itu, bakal dimasukkan ke dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (P-APBD) Kota Binjai tahun 2012 ini.

Ditambahkan dia, sudah selayaknya gedung dewan dibangun yang baru, karena kondisi bangunan sekarang sangat kecil, baik ruangan sidang paripurna dan ruangan lainnya.  Diuraikannya, pada prinsipnya rencana pembangunan gedung dewan yang baru nanti, bakal dikerjakan sebanyak 4 tahap. Untuk tahap pertama digelontorkan Rp5 miliar , sedangkan untuk tahap berikutnya melihat kondisi keuangan yang ada. “Rencananya 4 tahap,” ungkapnya.(ndi)

tapi kita lihat dulu anggaran yang tersedia ke depan,” urainya.

Menyikapi rencana pembangunan gedung baru tersebut, Ir Suseno Arto dari Forum Silaturahmi Umat (FSU) Sumatera Utara yang hadir dalam pertemuan itu, meminta pihak DPRD Kota Binjai untuk menunda pembangunan, mengingat masih banyak kebutuhan rakyat yang belum terpenuhi oleh Pemko Binjai.

“Melihat situasi dan kondisi masih banyak masyarakat Kota Binjai yang jauh dari kehidupan yang sejahtera, sebaiknya mereka menunda pembangunan gedung baru itu. Lebih baik biaya Rp5 miliar itu diperuntukkan bagi rakyat Binjai di segala aspek dan bidang,” pinta Ir Suseno Arto.
Ditambahkannya, dari anggaran Rp5 miliar itu DPRD dan Pemko Binjai dapat fokus memajukan perekonomian rakyat, misalkan memberikan bantuan kepada rakyat untuk modal membuka usaha.

“Banyak UKM yang perlu bantuan dari Pemko untuk membuka usaha atau menambah modal mereka, agar bisa terus berkembang demi kemajuan Kota Binjai, ketimbang harus dihabiskan untuk pembangunan gedung baru DPRD yang saya rasa masih bisa dimanfaatkan dalam beberapa tahun ke depan,” lugasnya.

Hal serupa diungkapkan Syamsudin Damanik dari For Peoples Binjai. Dia mengatakan, usulan pembangunan gedung baru DPRD Binjai tidak perlu karena masih banyak yang perlu dibenahi untuk kemajuan Kota Binjai.

“Anggaran Rp5 miliar untuk pembangunan gedung DPRD baru lebih bagus ditempatkan untuk kemajuan perekonomian dan meningkatkan kualitas pendidikan Kota Binjai, serta pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin Kota Binjai,” usulnya. (ndi)

Polair Amankan Kapal tanpa Awak

BELAWAN- Kapal Motor Pulau Samosir berbobot 27 gros ton (GT) ditemukan di perairan Barombang Kabupaten Labuhan Batu. Kapal tanpa sengaja ditemukan petugas saat patroli KP-II 2005.

Guna proses penyelidikan lebih lanjut kapal tanpa awak tersebut kemudian diserahkan ke Mako Satpolair Barombang untuk diamankan.
“Kita belum dapat pastikan, apakah awak kapal dirompak atau tidak. Yang jelasnya saat ini masih dalam proses penyelidikan,” kata Kombes Pol Ario Gatut Kristianto, Direktur Dit Polair Polda Sumut kepada Sumut Pos, Jumat (4/5).

Ario menjelaskan, penemuan kapal kayu tanpa awak tersebut bermula ketika jajarannya sedang menggelar patroli rutin di sepanjang perairan Pantai Timur Sumatera.

Memasuki kawasan Labuhan Batu persisnya di perairan Barombang, petugas mendapati kapal KM Pulau Samosir terkantung-katung di tengah laut.
“Kecurigaan pun muncul, kemudian kapal patroli kita merapat ke KM Pulau Samosir. Tapi setelah dilakukan pemeriksaan baik awaknya maupun dokumen kapal tidak ditemukan. Selanjutnya dilakukan pengamanan. Dan saat ini masih diproses di Satpolair Barombang, hasilnya belum diketahui tentang siapa pemilik kapal tersebut,” tandasnya. (mag-17)

Mari Berwisata di Bumi Sergai

WATER BOOM: Arena water boom yang bisa dinikmati di lokasi Theme Park Pantai Cermin.

Pelaksanaan MTQ ke-33 tingkat Provinsi Sumatera Utara sudah finish, tinggal acara seremoni penutupan yang rencananya digelar Sabtu malam (5/5) di PTPN II Kebun Melati Kecamatan Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai.

Sebagai tuan rumah MTQ, Pemerintah Kabupaten Sergai akan selalu memanjakan tamu-tamunya, tidak terkeculi para kafilah dan official MTQ yang hadir. Rencananya, Sabtu (5/5) pagi seluruh kafilah dan official serta undangan akan dibawa berwisata ke Theme Park Pantai Cermin serta berkeliling melihat keindahan pantai di kabupaten pemekaran tersebut.

Theme Park Pantai Cermin merupakan salah satu dari sekian banyak objek wisata di daerah yang dipimpin Bupati Sergai Ir HT Erry Nuradi MSi dan Wakilnya Ir H Soekirman ini. Selain itu ada juga Pantai Gudang Garam, Pantai Sialang Buah, Pantai Kuala Putri, Pondok Permai dan sejumlah pantai lain di sepanjang 55 km garis pantai yang ada di Kabupaten Sergai.

Semuanya tertata dengan rapi dan baik. Panorama keindahaan pantai dapat dirasakan seluruh pengunjung. Konsep Sapta Pesona yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Sergai dapat terlaksana dengan baik. Semuanya berkat kerja keras aparat pemerintah yang dalam hal ini dikomandoi Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga.

Setiap saat dan setiap kesempatan Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga yang dipimpin Drs Herlan Panggabean selalu berpromosi.
Berbagai even promosi baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional, mereka tidak pernah absen. Bahkan di arena MTQ-33 tingkat Sumut ini juga, Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga berpromosi dengan membuka stand. Mereka menjelaskan keindahan objek wisata yang ada di Sergai, membagikan brosur, leaflet, poster dan lain sebagainya kepada pengunjung.

THEME PARK: Sejumlah pengunjung memadati arena bermain di Theme Park Pantai Cermin.

Menurut Panggabean jika selama ini mereka hanya mempromosikan mayoritas wisata pantai kepada dunia luar, sekarang tidak hanya itu lagi. Soalnya ada beberapa objek wisata lain yang memiliki nilai jual sehingga bisa menarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang. Objek wisata itu adalah Arung Jeram Desa Bulu Duri Kecamatan Sipispis.  Objek wisata ini bukan hanya mengandalkan panorama air terjun saja, tetapi nilai olahraga arung jeramnya juga begitu menonjol. Saat ini setiap hari, terutama hari-hari libur arung jeram ini tidak pernah sepi dari pengunjung yang datang baik secara pribadi maupun bersama klub-klub pencinta arung jeram.

Lebih menarik lagi sambung Panggabean tahun ini ada dua objek wisata baru yang layak untuk ditonjolkan. Keduanya adalah objek wisata air terjun yang berada di lokasi PTPN IV Kebun Pabatu dan objek wisata tanaman magrove.

Untuk objek wisata air terjun, sambung Panggabean pihaknya masih ingin menjalin kerjasama dengan direksi BUMN tersebut tentang pengelolaan objek wisatanya. Tapi dari analisa pihaknya, Panggabean yakin objek wisata ini memiliki nilai jual yang tinggi dan ke depan diyakini akan banyak mendatangkan pengunjung.

Sementara itu untuk objek wisata mangrove di Desa Naga Lawan Kecamatan Pantai Cermin sudah berjalan. Bahkan di areal pinggir pantai tersebut ribuan mangrove sudah tertanam. “Di sana (lahan hutan mangrove) setiap yang menanam mangrove namanya akan dipatrikan, sehingga begitu dia berkunjung kembali dan melihat magrove yang ditanamnya itu, akan timbul kebanggan tersendiri,” ujarnya.

Kini objek wisata tanaman mangrove sudah dikelola secara profesional apalagi mereka sudah dibantu oleh lembaga British Konsul. “Kita mengharapkan kedepan wisata tanaman mangrove ini menjadi ikon wisata Sergai tersendiri di luar wisata bahari yang selama ini sudah ada,” ujarnya.  Panggabean menambahkan selain dunia pariwisata, dinas yang dipimpinnya juga bertanggungjawab soal kebudayaan, kepemudaan dan olahraga. Khusus di dunia kebudayaan pihaknya sedang mengimpentarisir benda-benda cagar budaya. Soalnya benda itu menjadi daya tarik untuk mendatangkan pengunjung. Sementara di bidang pemuda dan olahraga sudah banyak yang dilakukan Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga.

AIR TERJUN: Peserta arung jeram berfoto dengan latar belakang arung jeram yang sangat deras dan indah.

Saat hari jadi ke-8 Pemkab Sergai beberapa waktu lalu, seluruh atlet berprestasi yang ada di Pemkab Sergai mendapatkan santunan. Ini merupakan kepedulian Bupati Sergai Ir HT Erry Nuradi MSi terhadap atlet. “Tak hanya santunan, atlet berprestasi yang bisa menunjukkan piagamnya juga akan diberdayakan Pemkab dengan menempatkan mereka di setiap SKPD,” ujar Panggabean. Guna pembinaan ke depan, setiap bulannya rutin digelar pertandingan cabang olahraga. Panggabean menambahkan pihaknya juga setiap tahun membina paskibra untuk dikirim di tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional. (dra)