Home Blog Page 13713

Wali Kota Ancam Copot Tiga Camat

MEDAN-Wali Kota Medan, Rahudman Harahap berencana mengganti tiga camat di jajaran Pemko Medan. Alasannya, wali kota menilai ketiga camat tersebut tidak bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

“Memang ada tiga camat yang mau saya ganti, namun saya beri keringanan selama satu bulan untuk berubah. Bila dalam waktu satu bulan tak ada perubahan akan saya ganti,” kata Rahudman.

Dijelaskannya, camat harus peduli dengan wilayahnya untuk melaksanakan kewenangan wali kota di wilayah kerjanya.
“Jadi tugasnya jaga wilayahnya agar tetap kondusif dan jaga kebersihan. Jangan kerjain yang bukan menjadi tugasnya. Sakit hati aku melihat ketiga camat ini yang tidak bekerja sesuai dengan tupoksinya,” ucap Rahudman.

Menurut informasi yang diperoleh wartawan ketiga camat yang sedang dibidik adalah Camat Medan Selayang Alim Hasibuan, Camat Medan Timur, Parulian Pasaribu dan Camat Medan Kota Parlindungan.

Menurut sumber ketiga camat dalam menjalankan tupoksinya tidak bersungguh-sungguh dan hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja. (adl)

Isyaratkan Selingkuh

Sophia Latjuba

Sophie menganggap enteng gosip cerai. Tidak peduli tuduhan bertubi-tubi dari Michael Villareal sikap Sophia Latjuba masih dingin menanggapi rencana perceraian yang beberapa waktu lalu dihembuskan suaminya, Michael Villareal.

Saat ditemui di sela-sela latihan konser Kidung Abadi Chrisye di Kuningan, Jakarta, Senin malam (2/4), model senior itu pasang sikap acuh tak acuh saat ditanya seputar nasib rumah tangganya. “Lihat nanti lah,” jawabnya singkat.

Dalam account twitter-nya, Villareal mengungkap keretakan rumah tangganya dengan Sophia lantaran artis itu telah memiliki pria lain di hatinya. Ketika disinggung soal tuduhan tersebut, Sophia juga tak mau ambil peduli.
“Saya paling nggak peduli digosipin. Perang twitter-nya kan satu arah,” tambahnya santai.
Meski demikian, wanita berdarah Jerman ini menegaskan jika ia memang telah memiliki pria lain. Ia tak akan menutupi hubungan asmaranya tersebut. “Berarti kan itu jawabannya,” ucapnya.

Sophia dan Villareal menikah pada 30 April 2005. Dari pernikahannya itu, pasangan ini dikaruniai satu orang putri. Kemudian ia memutuskan untuk tinggal di Amerika Serikat (AS) mengikuti suami.

Sophie, sapaannya, belum punya keinginan hijrah permanen ke Indonesia. Ia dan anak-anaknya masih betah bermukim di Los Angeles, AS.

“Saya nggak berpikir sejauh itu. Saya berpikir hari per hari. Yang pasti anak-anak mau sekolah di sana. Eva lagi betah di sana, nggak panas,” bebernya.

Apalagi, saat ini Eva Celia, putri sulung dari pernikahannya bersama musisi Indra Lesmana itu, sedang mengikuti pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Los Angeles. Ia memilih jurusan Art Performing. Sepertinya, Eva mengikuti jejak ayahnya.

“Dia (Eva-red) sekarang ambil kuliah musik. Ia bakal kelarin kuliahnya di sana aja. Dia masih sekolah, dia dua tahun lagi kelar,” jelasnya.
Nah, kedatangannya ke Indonesia kali ini bukanlah untuk berlibur, melainkan untuk kembali merasakan hingar bingarnya dunia hiburan tanah air.
“Sophia Latjuba akan tampil di Kidung Abadi Chrisye, Kamis.

“Ya, saya diimpor langsung dari Amerika. Rencananya saya bawa dua lagu. Sembilan tahun lalu saya juga pernah berduet dengan almarhum,” katanya.
Konser itu juga melibatkan dua komposer handal yang pernah menjadi kunci sukses keberhasilan Chrisye. Sophie pun tak akan merasa canggung ketika tampil menyanyi di atas panggung.

“Banyak diperlukan teknologi dan kreativitas. Chrisye sudah nggak ada, tapi ini kan tim dari dulu, Erwin dan Jay, jadi udah biasa,” ucapnya.   (rm/jpnn)

Briptu Nimrod Masih Koma, tak Kenal dengan Istrinya

MEDAN-Anggota Brimob Polres Siantar  Briptu Nimrod Sitorus yang dianiaya sipir Rutan Klas I Tanjung Gusta masih koma di Lantai II Rumah Sakit Colombia Asia.

Saat dijenguk wartawan Sumut Pos, di mulut anggota Brimob yang terganjal kasus judi itu masih terpasang selang. Sesekali ia membuka matanya dan hanya melihat istrinya Trisna boru Ginting, yang berada di sebelahnya.

Menurut Trisna boru Ginting, suaminya masih sulit berbicara dan masih hilang ingatan.“Saya saja tidak dikenalinya,” kata ibu tiga anak itu.
Menurutnya, suaminya sudah dirawat di RS Colombia Asia sejak Senin (26/3), setelah sebelumnya dirawat di RS Bina Kasih Sunggal.

“Saat dibawa dari RS Bina Kasih ke RS Colombia Asia, dia mengalami luka memar pada bagian kepala, mata, mulut dan dada. Karena di RS Bina Kasih nggak memadai, makanya di pindahkan ke RS Colombia Asia,” sebutnya.

Selama dirawat di RS Colombia Asia, suaminya sudah dioperasi sekali. Tengkorak kepala suaminya mengalami pembengkakkan dan ada tulang tengkorak kepalanya dipotong oleh dokter. Rencananya, katanya, bulan depan tulang tengkorak kepala suaminya akan dioperasi lagi.

Saat ini, sambungnya, untuk biaya perobatan suaminya selama dirawat di RS Colombia Asia Medan sudah mencapai Rp300 juta. Sedangkan biaya perobatan yang diber Lapas Tanjung Gusta Rp70 juta.

“Saat ini saya bingung biaya mencari tambahan soalnya rumah sakit sudah menangih biaya perobatannya. Saya hanya ibu rumah tangga dan hanya makan gaji suami saya, sampai saya tua pun mungkin tidak bisa ngumpulkan uang sebanyak Rp300 juta,” ucapnya.

Rencananya dalam waktu dekat ini dirinya berencana ke LBH untuk meminta bantuan hukum atas kasus yang dialami suaminya.
Dia menceritakan, suaminya ditahan di Tanjung Gusta November 2011, terkait kasus judi. (gus)

Pengaruhi Mental Dan Kreativitas

Rasa ingin tahu anak-anak yang demikian besar kadang membuat para orang tua khawatir akan keselamatan mereka. Karena itu tak jarang orangtua melarang anaknya melakukan sesuatu yang menurut mereka  dapat membahayakan. Namun larangan yang dilontarkan orangtua terhadap anak ternyata memiliki dampak terhadap perkembangan mental dan psikologinya.

“Sah-sah saja orangtua melarang anaknya. Tetapi, larangan hanya boleh diberikan jika anak-anak memang melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya atau orang lain disekitarnya misalnya pelanggaran norma dan moral. Tapi terkadang banyak orangtua yang menjadi overprotective sehingga semua hal yang ingin dilakukan anak dilarang,”sebut Direktur Biro Psikologi Persona Irna Minauli, Selasa (3/4).

Menurutnya, anak yang terlalu banyak dilarang oleh orangtua akan terkubur kreatifitasnya. ‘’Inisiatifnya menjadi tidak berkembang. Bahkan mereka akan menjadi pribadi yang sangat bergantung atau istilah klinisnya dependent personality disorder dan tidak berani melakukan sesuatu tanpa persetujuan orangtuanya,”lanjut Irna.

Ditambahkannya, pada dasarnya, anak memiliki keinginan untuk bereksperimen dan melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya. Larangan yang terlalu berlebihan dari orangtua menyebabkan anak-anak tidak berani bereksplorasi dan mencoba hal-hal baru.

“Orangtua harus tahu kapan sebuah larangan perlu dilakukan. Biarkan anak bereksperimen dan bereksplorasi. Anak-anak juga akan banyak belajar dari kesalahan yang mereka lakukan,”sambunynya.

Kadangkala orangtua melarang anaknya agar tidak membantunya mencuci piring, karena takut kalau si anak memecahkan piring. ‘’Padahal seharusnya kita lebih menghargai keinginan anak untuk membantu orangtuanya, meski mungkin hasil cuciannya tidak bersih. Dengan demikian, anak akan mengembangkan kemampuan bekerjasama dengan oranglain dan merasa dirinya lebih dihargai,” bebernya.

Dalam melarang anakpun, orangtua harus bijak memilih kata-kata yang positif.  Hindari kata –kata seperti, ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’.

Contohnya saat anak masih berada didepan TV sampai larut malam, kebanyakan orangtua akan melontarkan kalimat larangan seperti “jangan nonton TV sampai malam”.
Padahal kalimat ini akan diartikan anak sebagai sebuah larangan sekaligus perintah, mungkin anak bisa saja menurut, tapi sesungguhnya anak-anak terpaksa melakukan apa yang diperintahkan orangtua karena rasa takut.

‘’Sebaiknya gunakan kata-kata yang lebih lembut dan terdengar seperti ajakan,”tambah Irna. Sebab, lanjut Irna, didalam otak anak tidak mengenal kalimat negatif. Seperti larangan untuk tidak melompat-lompat justru akan membuat anak semakin melompat-lompat. ‘’Sebaiknya gunakan instruksi langsung misalnya “ayo duduk dikursi ini,” terangnya.
Hal lain yang perlu orangtua ketahui adalah, berikan alasan-alasan yang sederhana, masuk akal dan benar, saat anak Anda bertanya perihal larangan yang Anda lontarkan. (mag – 11)

 

Pukat Trawl Seser Pantai Sergai dan Belawan

SERGAI- Penangkapan ikan menggunakan pukat trawl masih berlanjut di perairan Serdang Bedagai (sergai), meskipun sudah dilarang penggunaanya oleh petugas kelautan.

Pun begitu, masih ada saja nelayan menggunakan pukat trwal secara terang-terangan ataupun secara sembunyi meraup ikan di laut Sergai.

Menurut Saiful (38) nelayan tradisional di Tanjung beringin, Sergai, sedikitnya delapan pukat trawl merambah hingga pinggiran pantai Bagan Kuala, Kecamatan Tanjung Beringin. Akibatnya, nelayan tradisional yang hanya mengandalkan alat seadanya tidak lagi mendapatkan ikan.

“Lihat lah kapal pukat trawl itu, kerjanya hanya mondar mandir di perairan Tanjung Beringin, jaraknya hanya sekitar 1,5 mil dari bibir pantai dan rata-rata kapal tersebut berasal dari Belawan, Batubara, Sergai, dan Deli Serdang,” uangkap Saiful, kemarin(4/4).

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sergai Ir H Ramlan Matondang, kepada Sumut Pos, Rabu (4/4), mengatakan, sangat menyayangkan kapal pukat trawl yang masih ada beroperasi dengan jarak tangkap di bawah 2 mil. “Kita sangat menyayangkan masih adanya pukat trawl beroprasi di bibir pantai. Tapi kami terkendala biaya untuk mengawasi aktivitas pukat trawl itu dan lebih berkompeten mengawasinya Polisi Air,” terangnya.

Kasat Pol Air Tanjung Beringin Iptu Bahdaruddin, ketika dikonfirmasi Sumut Pos, Rabu (4/4), melalui telepon selulernya mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengawasan semaksimal mungkin. Untuk di Sergai tidak ada lagi kapal pukut trawl, namun jika para nelayan melaporkan adanya aktivitas kapal pukat trawl, kita langsung tanggapi,” uangkapnya.

Sementara itu, Kepala Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Stasiun Belawan, Mukhtar, mengaku, kapal-kapal ikan pukat lamparan dasar (Fish Net) memang mirip trawl, tapi tidak memiliki pemberat (batu) di bawahnya.
“Kendala kita untuk menertibkannya, pukat-pukat ini memiliki izin dari Distanla provinsi dan kabupaten/kota, dan izin dari pemerintah pusat. Makanya kita sulit untuk melakukan penertiban,” kata Mukhtar.

Menurut dia, dari pengawasan yang dilakukan PSDKP, diketahui untuk kapal ukuran 10 GT ke bawah, pengeluaran izinnya dikeluarkan Distanla kabupaten/kota, 30 GT ke bawah dikeluarkan Distanla Sumut, sedangkan untuk 30 GT ke atas, izinnya dikeluarkan Kementerian di pusat. “Jadi kalau ada izin kita mau bilang apa,” sebutnya.(mag-16/mag-17)

Polres Labuhanbatu Amankan 20 Ton BBM

RANTAUPRAPAT- Dalam sepekan pihak Polres Labuhanbatu berhasil mengamankan sekitar 20 ton Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar yang dikemas dalam 70 jeriken saat pelaksanaan kegiatan Operasi Dian Toba Tahun 2012.
Pelaksanaan kegiatan Operasi Dian Toba yang digelar jajaran Polres Labuhanbatu tersebut, merupakan langkah antisipasi tentang penyalahgunaan dan adanya penimbunan BBM.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan didampingi Kasat Reskrim AKP Wahyudi SIK dan Kasubbag Humas AKP MT Aritonang, Rabu (4/4) di Mapolres Labuhanbatu mengatakan, kegiatan Ops Dian Toba yang dilaksanakan tersebut digelar selama satu bulan sejak 28 Maret lalu hingga 28 April 2012 mendatang.

Ketiga tersangka yang juga turut diamankan yakni, VRN (21) penduduk Dusun Kampung Mangga, Desa Asam Jawa, Kecamatan Kotapinang, Labuhanbatu Selatan, Rah (47) penduduk Kampung Kuala Beringin, Desa Kuala Beringin, Kecamatan Kualuh Hulu, Labuhanbatu Utara dan Suk (41) penduduk Kampung Pardamuan Nauli Sikopi-kopi, Desa Kuala Beringin, Kecamatan Kualuh Hulu, Labuhanbatu Utara.

Hirbak menjelaskan, selain ketiga tersangka, polisi juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti antara lain satu unit pick up warna hitam BK 9279 YE, BBM bersubsidi jenis premium sebanyak 20 jerigen (600 liter), BBM jenis solar sebanyak 30 jerigen (900 liter), lima jerigen solar, 14 jerigen premium, satu unit truck BK 8470 YI, satu unit sepedamotor Suzuki Smash BK 5623 QB dan satu unit sepedamotor Supra X 125 BK 5987 YAQ.

Sementara Kasat Reskrim AKP Wahyudi menambahkan, ketiga tersangka diamankan dengan barang buktinya dari dua lokasi berbeda. Saat itu, polisi mendapat informasi ada satu unit mobil mengangkut BBM subsidi yang akan dibawa menuju ke Kabupaten Rokan Hulu, Riau, dan berhasil memberhentikan mobil tersebut saat melintas di Jalan Aek Torop/Jalan Bakaran Batu Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Kemudian saat mobil diberhentikan, polisi lalu melakukan pemeriksaan atas bawaannya dan menemukan di atas mobil tersebut bermuatan BBM subsidi jenis premium sebanyak 600 liter dan solar sebanyak 900 liter. Dari lokasi yang berbeda polisi juga mengamankan satu unit truck BK 8470 YI yang juga mengangkut BBM sebanyak 19 jerigen (636 liter) yang dilangsir menggunakan sepedamotor dari SPBU Aek Kanopan ke tempat parkir Toko Abadi dengan jarak 200 meter.

Wahyudi juga menjelaskan, tindak pidana yang dipersangkakan yakni, tindak pidana penyalahgunaan tata niaga dan/atau pengakutan BBM yang subsidi pemerintah dan atau melakukan pengangkutan atau niaga BBM tanpa izin usaha, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf b Undang-undang RI Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. (zul/smg)

Wali Kota Ngotot Diperbaiki Secepatnya

Rusak Traffic Light tak Parah

MEDAN-Traffic light yang rusak akibat aksi demo menolak kenaikan BBM di sepuluh persimpangan di Kota Medan ternyata tak terlalu parah.

Pantauan Sumut Pos Rabu (4/4) siang, beberapa traffic light yang rusakn
di antaranya pada boks dan lampu serta countdown (penghitungan waktu mundur), begitu juga alat kontrol. Sementara kalau tiangnya tidak banyak yang rusak.

Seperti di Jalan Perintis/Jalan Gaharu dari arah Jalan Perintis dua boks traffic light rusak, satu boks hilang total dan satu tiang rusak. Dari arah Jalan Gaharu satu boks rusak dan tiang masih bagus.

Jalan Perintis Kemerdekaan/Jalan Sutomo, dari arah Jalan Perintis ke Jalan Sutomo terlihat ada 7 boks lampu yang rusak dan enam tiang traffic light tidak rusak, lokasi ini terlihat dijaga polisi tapi sama sekali tidak ada dijaga oleh Petugas Dishub Medan.

Begitu juga di Jalan M Yamin/Jalan Sutomo terdapat empat boks yang rusak, countdown masih hidup dan tiang sama sekali tidak rusak. Jalan M Yamin/Jalan Gaharu, dua boks dan tiang tidak rusak, persimpangan ini terlihat dijaga polisi dan sama sekali tidak ada dijaga oleh petugas Dishub Medan.

Simpang Jalan Ngumban Surbakti/Jalan Setia Budi terdapat 3 boks lampu yang rusak, di persimpangan ini terlihat pengendara kendaraan bingung untuk menentukan jalan sehingga lalu lintas semrawut, karena sama sekali tidak ada petugas Dishub Medan dan polisi yang menjaga di persimpangan, sementara traffic lightnya rusak.

Sekretaris Eksekutif Fitra Sumut, Rurita Ningrum mengatakan, penggunaan anggaran untuk penggantian traffic light yang rusak dialokasikan dari anggaran force mayor atau anggaran bencana, jelas sudah menyalahi.

Pasalnya, kerusakan traffic light itu bukan disebabkan karena bencana tetapi karena penyampaian aspirasi masyarakat.
“Tidak boleh anggaran bencana itu dialokasikan untuk penggantian traffic light. Anggaran itu untuk force mayor seperti bencana alam banjir dan lainnya. Kalau anggaran itu sudah digunakan, nantinya ketika ada bencana maka anggaran dari mana lagi yang akan diambil,” terang Rurita.

Dikatakannya, anggaran penggantian itu bisa dialokasikan melalui pengajuan anggaran P-APBD.
“Sebenarnya itu kan tidak terlalu mendesak. Sekarang juga kan sudah bisa menggunakan lampu pijar, untuk mengatasi kemacetan di persimpangan bisa dilakukan dengan menurunkan petugas Dishub ataupun petugas polisi, jadi sebenarnya tidak terlalu mendesak dan bisa diajukan nanti dalam P-APBD sehingga tidak perlu mengalokasikannya dari anggaran bencana,” terang Rurita.

Wali Kota Medan, Rahudman Harahap mengakui kalau anggaran penggantian traffic light yang rusak akibat aksi unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM di Medan sudah diajukan oleh Dishub Medan.
“Iya anggarannya sudah diajukan. Kita mau pengadaan itu selesai tahun ini,” ucap Rahudman.

Ditegaskan Rahudman, penggantian traffic light yang rusak itu merupakan kebutuhan mendesak, sebagai tujuan untuk memperlancar arus lalulintas juga sebagai upaya untuk menata kawasan-kawasan kota, termasuk nantinya sekaligus penataan kawasan taman yang rusak akibat aksi unjuk rasa.

“Apalagi nanti tanggal 29 kita akan menggelar kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), nanti akan ada sektiar 30-an wali kota yang datang kemarin, makanya kita ingin Kota Medan ini kondusif, jadi itu memang kebutuhan kita,” tegas Rahudman.(adl)

Empat Mahasiswa UISU Tertipu Ratusan Juta

Terungkap Dalam Sidang Korupsi Kas Pemkab Batubara

JAKARTA- Boleh saja kenal dekat dengan seseorang. Tapi jangan terlalu percaya dengan semua ucapan ataupun bantuan yang diberikannya. Bisa saja, apa yang dilakukannya itu merupakan cara untuk memuluskan niat buruknya.
Seperti dialami mantan mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Muhammad Zulfadli Lukman.
Pria asal Serdang Bedagai ini, tidak saja kehilangan uang senilai Rp35 juta, tapi lebih dari itu, dia justru kehilangan bangku kuliahnya.

Menariknya lagi, ia ditipu bersama empat teman sesama mahasiswa lainnya. Hal ini terungkap di sela-sela persidangan atas terdakwa David Purba, terkait kasus korupsi dan pencucian uang dana kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara, di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, kemarin.

Ia yang dihadirkan sebagai saksi atas David, mengungkapkan, jika beberapa waktu lalu saat masih menjadi mahasiswa UISU, berencana melakukan tugas praktik ke Malaysia. Tapi sayangnya, kampus dimana ia kuliah, tidak diakui di Malaysia, yang diakui Universitas Trisakti. Sehingga, Zulfadli dan keempat teman mahasiswa lainnya berencana transfer kuliah ke Trisakti.

Dari sinilah kasus penipuan ini berawal. Ternyata David mengaku, jika memiliki seorang teman yang mampu mengurus proses transfer tersebut yaitu Daud Aswan Nasution yang telah bermukim di Jakarta. “Saya kenal (David Purba) dari orangtua. Jadi sudah sejak kecil menganl dia pak Hakim,” ungkap Zulfadli.

Akhirnya, karena memang sangat percaya, apalagi David di mata Zulfadli merupakan orang yang terpandang di Serdang Bedagai, sehingga tidak ada keraguan sama sekali. Meski dimintakan uang senilai Rp35 juta untuk satu orang. (gir)

Modal Pas-pasan, Berhasil Kelilingi Objek Wisata di Sumut

Komunitas Medan Petualang

Bagi yang hobi berpetualang tapi punya dana pas-pasan alias cekak, tak perlu khawatir. Kini sudah ada komunitas yang memungkinkan berpetualang tanpa merogoh kocek dalam-dalam.

Jawabannya adalah bergabung dengan komunitas bernama Medan Petualang. Ya, Medan Petualang. Komunitas ini berisi pecinta keindahan alam dan objek wisata sejarah Indonesia. Berdiri sekitar 3 bulan yang lalu, Medan Petualang telah mengepakkan sayapnya, berkeliling ketempat objek wisata yang ada di Sumut. Modal bertualang dengan uang pas-pasan, tak menjadi halangan buat komunitas ini untuk mengeksplor keindahan alam dan sejarah Sumatera Utara.

“Komunitas ini terbentuk atas dasar kebersamaan dan kekeluargaan, yang selama ini terjalin sesama anggota. Kebetulan kita hobi jalan-jalan, jadi nggak ada salahnya kalau kita membentuk komunitas ini,” ucap Aulia Ramadhan Ray salah satu pendiri komunitas Medan Petualang.

Diungkapkannya, walaupun baru tiga bulan berdiri, kita sudah menjelajahi beberapa Kabupaten yang ada di Sumut untuk mengeksplor keindahan alam dan sejarahnya. “Kita sudah pergi ke Pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai, Danau Linting, Gua Penen, Sungai Dua Rasa, Air Terjun Tanjung Raja dan Air Terjun Tarunggang yang ada di Kabupaten Deli Serdang, objek wisata di Kabupaten Simalungun hingga Kota Siantar, juga telah ditaklukkan,” tambah Aulia.

Medan Petualang juga ingin mengubah paradigma masyarakat, bahwa berwisata itu identik dengan mahal. “Medan Petualang ingin menciptakan, bahwa jalan-jalan alias mengelilingi objek wisata tidaklah mahal. Kita bisa mengelilingi tiga objek wisata sekaligus, tanpa mengeluarkan kocek yang besar,” tandasnya.
Dijelaskannya, agar lebih terjangkau, bepergian bisa dilakukan dengan bersama-sama dan mengumpulkan dana secara patungan.

“Dana kan bisa patungan agar lebih ringan. Pokoknya masalah transport menuju objek wisata bisa juga kita cari yang murah dan lebih efisien. Touring juga bisa dipilih mengendarai sepeda motor bersama-sama. Pokoknya banyak hal yang bisa kita bicarakan agar lebih hemat. Intinya adalah kebersamaan,” pungkas Aulia. (ful)

Bocah 9 Tahun Diduga Diserang Tomcat

TEBINGTINGGI- Wiliam Cristofer Tarigan (9) warga Jalan Baja, Lingkungan IV, Kelurahan Tambangan Hulu, Kota Tebingtinggi, diduga diserang Tomcat, Senin (2/4).

Serangga tersebut menyerang leher bagian blakang anak pasangan Lucas Veri Dana Tarigan dan Rizki Rinda Amila, hingga menyebabkan kulit bocah itu melepuh kemerahan.

Menurut Lucas, ayah korban, Rabu (4/4), racun kimia serangga itu langsung menimbulkan suhu tubuh bayi meningkat (demam), dan kondisi kulit mengelupas selebar 2 cm.

Diceritakan Lucas, peristiwa itu terjadi saat anak sulungnya tidur siang di bawah pohon kelapa sawit di sekitar rawa-rawa di samping rumahnya.
“Tiba-tiba anak saya menangis menjerit serta tangannya terus menggaruk leher belakang,” ujarnya.

Awalnya, mereka tidak mengira itu gigitan Tomcat, tetapi selama dua hari berlalu, luka tersebut semakin lebar. Dari hasil pemeriksaan dokter sepsialis kulit, dr Zuan Zein, luka bekas merah melepuh memang disebebkan senyawa racun kimia dari binatang yang telah menjadi iritasi pada kulit bayi, tetapi masalah racun Tomcat itu, pihak dokter tidak bisa menyimpulkannya karena tidak mengetahuinya dengan persis.(mag-3)