Home Blog Page 13714

Ditinggalkan 100 Ribu Fans

 Se7en dan Park Han Byul

Se7en dan Park Han Byul adalah salah satu dari sedikit selebriti Korea yang terbuka soal hubungan mereka. Namun ternyata keterbukaan itu harus dibayar mahal. Se7en dan Han Byul mengumumkan bahwa mereka telah pacaran selama 7 tahun pada tahun 2009 lalu. Meski mengaku lega karena bisa pacaran tanpa diam-diam, Se7en pun banyak ditinggalkan oleh fansnya.

“Respon dari fans sangat berbeda. Setelah aku mengumumkan hubunganku, 100 ribu orang meninggalkan fans club online-ku,” ujar Se7en dalam episode ‘Strong Heart: YG Special’ Selasa (3/4)

Kejadian itu menyadarkan Se7en bahwa memang ada fans yang tidak bisa menerima keadaannya. Namun fans yang tersisa justru malah menunjukkan kesetiaan mereka. “Jadi aku sangat bersyukur pada fans yang masih bersamaku apapun yang terjadi,” sambungnya.

Se7en mengungkap bahwa tersebarnya foto dirinya dengan sang pacar Park Han Byul pada tahun 2009 silam sebenarnya malah menyelamatkan hubungan mereka berdua.

“Hubungan kami tidak pernah membosankan, namun kami menghadapi tantangan berat di tahun ke-7,” ucapnya. “Saat itu aku tengah berada di USA untuk promosi, dan karena kami terpisah jauh, kami sering bertengkar,” ucapnya. (bbs/net)

RSUD Salak Mulai Dibenahi

SALAK- Untuk menanamkan kepercayaan terhadap masyarakat dan menjadikannya sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan yang diakui, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, mulai melakukan pembenahan di segala bidang. Hal itu disampaikan Direktur RSUD dr Pintar Manihuruk, kepada wartawan, Rabu (4/4) di ruang kerjanya.

Meski relatif baru, seiring dengan usia daerah otonom yang memasuki usia 8 tahun, pusat unit layanan kesehatan tersebut senantiasa melakukan langkah dan berusaha mewujudkan visi dan misi kepala daerah sebagai ikon pelayanan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

Beberapa langkah dan terobosan telah dimulai dengan pengadaan alat-alat kesehatan, perbaikan infrastruktur jalan menuju rumah sakit, dan rehab bangunan rumah sakit kini menjadi prioritas. “Hal itu dilakukan agar pelayanan dapat berjalan maksimal,” terangnya.

Ia berprinsip, kesehatan adalah segalanya bagi manusia. Orang rela membayar berapa saja agar bisa sehat. (mag-14)

Pentas Kesenian China Muslim Xinjiang Digelar di Medan

Kesenian China Muslim Pesona Xinjiang akan tampil di Kota Medan, tepatnya di hal persahabatan Sin Chew Daily Gedung MITSU PSP kampus hijau STBA-PIA, Jumat (6/4) mendatang.

Even itu dilaksanakan Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China (LIC) Sumatera Utara bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Forum Pembaharuan Kebangsaan (FPK) Sumut, Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara Peduli Sosial dan Pendidikan (MITSU PSP) dan konsulat Jenderal China untuk Indonesia di Medan.

“Pergelaran tersebut atas arahan ketua LIC Pusat, Prof dr H Sukamdani Sahid Gitosardjono,” kata ketua panitia, Juswan Tjoe dalam rapat internal pembentukan panitia malam budaya China Pesona Xinjiang di ruang rapat Gedung MITSU PSP kampus hijau STBA-PIA, kemarin.

Dikatakannya, dalam pertunjukan tersebut akan menampilkan tarian mangkok di atas kepala, Qebiyat Mukam yang merupakan set kedua dari lagu-lagu mukam dua belas, Tarian Emas Dolan, kelompok lagu dan tarian dengan mengekspresikan kebahagiaan dan bagian ketiga yang menceritakan dari lagu-lagu dan selingan mukam dua belas.

Kemudian, tarian tradisional rakyat Uygur yang sangat populer di daerah Turpan Xinjiang yang akan ditarikan dengan penuh semangat dan humor. Tak ketinggalan penampilan tarian dengan keceriaan dengan mengintegrasikan lagu, musik dalam satu tarian.

“Dengan diadakannya pertunjukan ini, juga sekaligus membuktikan pembauran etnis di kota Medan yang beragam tetap menjadi satu,” jelasnya.

Ketua MUI Medan, Mohamad Hatta menyambut baik digelarnya pertunjukan kesenian budaya China Muslim Xinjiang. “Saya bersama tokoh lintas agama pernah berkunjung ke daratan China termasuk ke Xinjiang yang mayoritas penduduknya beragama Islam,” ucap Hatta.

Dikatakannya, pertunjukan malam kesenian Budaya China Muslim Xinjiang yang kaya dengan warga warni seni budaya China bernuansakan Islam ini akan didukung sepenuhnya dalam pertukaran budaya muslim kedua negara. “Tujuannya untuk meningkatkan hubungan budaya Islam kedua negara,” ujarnya.

Ketua FPK Sumut, Bahari Damanik mengatakan melalui acara ini diharapkan seluruh masyarakat Sumut khususnya Medan dari berbagai etnis suku dapat mengetahui ternyata di China ada budaya China Muslim. “Selama ini sebagian mereka hanya mengetahui budaya China berupa Cap Gomeh, Imlek maupun pertunjukan Barongsai,” ujarnya.

Dengan pertunjukan ini diharapkan bisa membawa rasa persahabatan yang kokoh melalui pertukaran budaya antarkedua negara dan membawa dampak positif dalam meningkatkan kebangsaan dalam pembauran diantar etnis suku yang ada di Sumut. (adl)

Harga Ikan pun Melambung

Ombak Besar, Nelayan Kembali tak Melaut

BELAWAN- Gelombang tinggi akibat cuaca buruk di lautan kembali terjadi.Akibatnya, Sejumlah nelayan asal Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Gabion Belawan pun terpaksa gigit jari karena tak bisa melaut. ‘’Gelombang tinggi mulai terjadi lagi sejak kemarin, sebahagian nelayan terpaksa menyandarkan boat (kapal ikan ) di tangkahan,’’ kata Manaf (52), seorang nelayan kepada Sumut Pos, Selasa (3/4) sore.

Manaf mengatakan, kondisi cuaca yang dikenal dengan istilah pasang besar lima belas hari bulan itu kembali muncul. Nelayan pun akan terancam bahaya jika memaksakan diri melaut. Pasalnya, kapal penangkap ikan tak akan bisa menahan gelombang setinggi lebih dari dua meter itu.

Menurutnya, kalau kondisi perairan sudah seperti ini nelayan lebih memilih tak melaut sambil memantau perkembangan cuaca. Jikapun melaut, hanya di perairan yang dekat dengan daratan. “Memang ada juga yang berangkat melaut, tapi sedikit. Itupun kalau gelombang tinggi datang mereka (nelayan) kembali pulang ke tangkahan,” ungkapnya.

Terjadinya perubahan musim di laut juga berdampak terhadap penjualan ikan segar di pasaran. Dari pantauan Sumut Pos di PPS Gabion Belawan, harga jual ikan laut seperti ikan tongkol yang sepekan sebelumnya hanya Rp16.000 per kg, kini naik menjadi Rp23.000 per kg. Ikan gembung Rp22.000 per kg naik Rp25.000 per kg, ikan selayang Rp16.000 per kg naik Rp20.000 per kg dan ikan gulama yang sebelumnya Rp6.000 per kg harga kini mencapai Rp10.000 per kg.

“Kalau sudah musim ombak begini pasokan ikan dari nelayan minim, meskipun ada harganya mahal. Dan ini masih harga di PPS Gabion Belawan, kalau harga jual ikan di pasar tradisional sudah beda lagi. Bahkan cendrung lebih tinggi harganya,” ujar Rusli, seorang pedagang.
Apa yang dikatakan, Rusli ternyata benar. Amatan sumut pos di beberapa pasar tradisonal di Medan Utara diantaranya di Pasar Tradisional Marelan misalnya, harga jual ikan segar melambung tinggi, ikan tongkol harga yang dijual ke masyarakat mencapai Rp25.000 per kg, selayang Rp23.000 per kg, gulama Rp15.000 per kg dan gembung Rp27.000 per kg.

Kenaikkan harga yang cukup tinggi tersebut menurut para pedagang pengecer di pasar tradisional Marelan dikarenakan harga beli ikan dari agen juga tinggi. “Kami beli dari agen sudah tinggi, kan nggak mungkin kita jual tanpa ambil untung,” kata Samsuddin (39) seorang pedagang pengecer.
Dia mengatakan, meski harga ikan mahal namun minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan segar tetap banyak. “Biar pun mahal, ibu-ibu dan warga lainnya tetap ramai datang untuk membeli ikan,” imbuhnya.(mag-17)

Pemko Binjai Diminta Stabilkan Harga Sembako

BINJAI- Pemerintah Kota (Pemko) Binjai diminta turun langsung ke pasar-pasar tradisional untuk menstabilkan harga sejumlah bahan pokok yang masih melambung. Pasalnya, saat ini ibu-ibu rumah tangga khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah menjerit dengan melonjaknya harga sembako saat ini.

Sari (35), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kecamatan Binjai Selatan, mengaku sangat resah dengan masih melonjaknya harga sembako di pasar-pasar tradisional.

“Saya baru saja belanja. Hampir semua sembako naik, beras, cabai, tomat dan lainnya,” kata Sari kepada Sumut Pos, Selasa (3/4).
Menurut Sari, harga beras yang dulunya hanya Rp8 ribu. Kini sudah naik menjadi Rp8.500 per kilo gram. “Padahal BBM nggak jadi dinaikan pemerintah. Kenapa sembako sudah naik? Apa pemerintah tidak dapat menertibkan hal ini?,” ujarnya.

Selain itu, harga minyak goreng juga ikut naik, dari Rp10 ribu per kilogram, saat ini naik menjadi Rp12 ribu per kilo gram. “Yang jelas, hampir semua sembako naik. Kalau terus begini, kami sebagai ibu rumah tangga merasa sulit. Penghasilan suami masih pas-pasan, sementara sembako sudah dinaikkan,” cetusnya.

Selain itu, sejumlah pedagang bensin eceran di Kota Rambutan ini juga mengambil kesempatan. Mereka tak segan-segan menjual bensin seharga Rp5.500 per liter kepada masyarakat. Padahal sebelumnya, mereka menjual bensin tersebut seharga Rp5.000 per liter. Sementara, harga ambilan mereka ke SPBU masih tetap, Rp4.500 per liter.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan Pasar Pemko Binjai Drs Tulen Sinulingga saat dikonfirmasi Sumut Pos mengatakan, sampai saat ini harga sembako masih stabil. “Memang, ada kenaikan, tapi hanya untuk cabai dan tomat,” kata Tulen.

Sejauh ini, sambung Tulen, pihaknya terus melakukan pengawasan dan melaporkan setiap perkembangan harga di pasar. “Kita terus laporkan soal harga sembako di pasar Kota Binjai. Namun begitu, kalau ada pedagang yang menaikkan, kita juga tidak dapat menindak. Paling, kita membuat pasar murah untuk membuat saingan di pasar,” ucapnya.

Disinggung sebab kenaikan harga cabai dan tomat, Tulen mengaku tidak tahu pasti. “Kalau hal itu kita tidak bisa pastikan apa sebabnya. Namun, biasanya kenaikan harga cabai dan tomat, disebabkan pengaruh cuaca, hama, dan jauhnya jarak atau lokasi pengambilan barang untuk dipasarkan di Kota Binjai,” kata Drs Tulen. (dan)

Dirut Akui PDAM Tirtasari Perusahaan Sakit

Pipa Banyak yang Bocor, Anggaran Perbaikan tak Ada

BINJAI- Berlebihnya karyawan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtasari Binjai, membuat perusahaan milik Pemko Binjai itu menjadi bangkrut. Meski hal tersebut telah menjadi rahasia umum, tapi Dirut PDAM Tirtasari Yusmansyah MBA MT belum melakukan pengurangan karayawan.
“Memang benar, bangkrutnya PDAM karena berlebihnya karyawan. Tapi untuk saat ini, kita tunggu dulu petunjuk dari pusat,” kata Yusmansyah kepada Sumut Pos, Senin (2/4). Bahkan menurutnya, berlebihnya karyawan ini merupakan yang terparah dibanding seluruh PDAM yang ada.

Yusmansyah yang baru dilantik sebagai Dirut PDAM Tirtasari pada 10 Februari 2012 lalu mengakui, saat ini perusahaan yang dipimpinnya itu sedang dalam kondisi sakit. “Untuk saat ini, PDAM Tirtasari Binjai, adalah perusahan sakit. Makanya kami mencoba untuk menyembuhkannya dengan melayangkan surat permintaan bantuan penyehatan menajemen ke pusat yang kami kirim pada 19 Maret 2012 lalu,” ungkap Yusmansyah.

Bukan itu saja, Yusmansyah juga mengungkapkan, pipa PDAM Tirtasari Binjai banyak yang bocor. Sehingga, hal itu sangat menganggu untuk mengalirkan air kepada masyarakat. “Kalau pipa sudah banyak yang bocor, bagaimana air mau mengalir dengan baik. Berapa jumlah kebocoran pipa itu? Tidak dapat kita sebutkan, yang jelas banyak, dan lebih dari 10 pipa,” ungkapnya.

Ironisnya, kata Yusmansyah, begitu banyak pipa yang bocor, tidak dapat diperbaiki karena ketiadaan anggaran di perusahaan ini. “Itulah salah satu yang menjadi kendala kita. Yang pastinya, kita akan berusaha sebaik mungkin, untuk menyembuhkan setiap penyakit yang ada di PDAM Tisrtasri Binjai ini,” kata Yusmansyah.

Sebelumnya, Kepala Seksi Pelayanan di PDAM Tirtasar Binjai MY Ginting mengatakan, PDAM Tirtasari memiliki 11.000 pelanggan. Sementara, pegawainya mencapai 233 orang. “Hal ini sudah melanggar Permendagri No 47/1999, tentang rasio pelanggan dengan pegawai. Dalam Permendagri itu disebutkan, jika jumlah pelanggan 1.000 orang, maka jumlah pegawai yang melayani harus 6 orang. Jadi, kalau pelanggannya 11.000 ribu, maka jumlah pegawainya 66 orang.” bebernya. (dan)

Gus Irawan Dalam Radar PDIP

MEDAN-Sosok Direktur Utama (Dirut) Bank Sumut, Gus Irawan Pasaribu, tampaknya makin banyak dilirik partai terkait Pilgubsu 2013. Setelah dikaitkan dengan Golkar dan diisukan dilirik Demokrat, Gus Irawan kini dalam radar PDIP.

Setidaknya hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI P. “Ya seperti yang sudah dibicarakan banyak orang, ada kader yang ikut pertemuan dengan Gus Irawan dan ada kader yang ikut pertemuan dengan Chairuman Harahap. Tapi itu masih secara internal,” tegasnya usai acara konfrensi pers pembukaan pendaftaran Calon Gubernur Sumut (Cagubsu) dan Calon Wakil Gubernur Sumut (Cawagubsu) pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 mendatang, di Kantor DPD PDI P Sumut Jalan Hayam Wuruk No.11 Medan, Minggu (1/4) lalu.

Apakah ada sosok dari internal PDI P sendiri, yang akan diusung selain nama-nama tersebut? Menyikapi pertanyaan itu, pria yang juga Wakil Ketua DPRD Sumut tersebut mengaku, belum ada sosok yang akan maju dari PDI P. “Belumlah, belum ada. Semuanya masih akan melalui proses penjaringan dan survey, dari hasil yang ada akan diserahkan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI P,” jawabnya lagi.

HM Affan saat berlangsungnya konfrensi pers tersebut juga sempat mengemukakan, ada usulan kader-kader PDI P Sumut yang ada di daerah-daerah. “Ada usulan nama-nama dari kader di daerah. Namun itu masih internal dan sifatnya subjektif. Makanya kita akan melakukan proses penjaringan, dengan skema dan aturan yang ada untuk menghasilkan calon yang terbaik,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Bidang Informasi dan  Komunikasi (Infokom) DPD PDI P Sumut Eddy Rangkuti, mengatakan sejak Senin (2/4) hingga Sabtu (2/6) mendatang DPD PDI P Sumut mulai membuka pendaftaran bagi siapa saja, baik kader PDI P maupun kader lain dan masyarakat biasa yang memiliki keinginan untuk maju menjadi Cagubsu dan Cawagubsu 2013 mendatang. Tempat pendaftarannya di Kantor DPD PDI P, Jalan Hayam Wuruk No.11 Medan. “Dalam tahapannya, nanti setelah mendaftar dan mengembalikan formulir, akan dilakukan verifikasi oleh DPD pada 3 Juni-10 Juni 2012. Selanjutnya, simulasi pada Juni-Juli 2012, survey Agustus 2012 dan fit and proper test oleh DPP pada Oktober 2012 dan pada bulan yang sama dikeluarkan rekomendasi pasangan balon yang akan diusung PDIP,” terang Eddy Rangkuti.

M Affan juga sempat menambahkan, pihaknya akan serius dalam melakukan penjaringan balon tersebut Namun demikian, katanya, sampai saat ini belum ada deal-deal terkait parpol yang akan diajak berkoalisi. Dengan perolehan 12 kursi di DPRD Sumut pada pemilu 2009, PDIP harus berkoalisi dengan parpol lain untuk memenuhi persyaratan mengusung pasangan calon, yakni minimal 15 dari 100 kursi di DPRD Sumut.

“Koalisi PDIP terbuka dengan parpol manapun dan itu menjadi keharusan, karena PDIP tidak bisa mengusung pasangan calon secara tunggal,” katanya.

Agung Laksono Sebut Gus Irawan

Sementara, di Jakarta, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar (DPP PG) Agung Laksono mengatakan, penentuan calon yang akan diusung Partai Golkar di pilgub Sumut 2013, murni berdasarkan hasil survei.

“Kita akan lakukan survei untuk melihat aksesabilitas dan elektabilitas yang tertinggi siapa. Sekarang sejumlah nama mulai muncul. Nanti kita ukur siapa yang tertinggi elektabilitas dan popularitasnya,” ujar Agung Laksono kepada Sumut Pos di Jakarta, Selasa (3/4).

Agung juga mengatakan, bahwa partainya akan mengusng kadernya sendiri yang akan dijadikan Cagub Sumut. Bukankah kader Golkar yang sudah muncul Chairuman Harahap? Agung buru-buru membantahnya. “Ada juga Dirut…Gus Irawan itu dan beberapa bupati,” ujar Agung, alumni SMAN 1 Medan tersebut.

Maksudnya, Golkar mau mengusung Gus Irawan? “Tapi harus disurvei dulu. Kita akan survei lagi. Survei yang tak bisa direkayasa,” terang mantan Ketua DPR itu. (ari/sam)

Syamsul Restui Ketua PBR Pimpin Golkar Sumut

Kelompok 55 Desak Musdalub

MEDAN-Kabar perpecahan di Partai Golkar Sumut makin mengemuka. 14 DPD Partai Golkar se-Kabupaten/Kota atau kelompok 55 mendesak diadakan Musyawah Daerah Luar Bisa (Musdalub) untuk memilih ketua DPD baru. Lima kandidat pun muncul, satu di antaranya malah kader Partai Bintang Reformasi (PBR).

Bahkan, berdasarkan informasi yang diperoleh Sumut Pos pada Selasa (3/4), diketahui lima kandidat itu telah mendapat restu dari Ketua DPD Sumut Nonaktif, Syamsul Arifin. Kelima kandidat yang dimaksud adalah Bupati Serdang Bedagai T Erry Nuradi, Bupati Tapanuli Selatan Syahrul Pasaribu, Anggota DPR-RI Chairuman Harahap, Anggota DPRD Sumut Ajib Shah, dan Bupati Labuhanbatu Utara Kharuddinsyah Sitorus atau yan lebih dikenal dengan H Buyung.

Kemunculan H Buyung cukup mencengangkan. Pasalnya, hingga kini dia masih menjadi Ketua PBR Labuhanbatu Utara.

Namun, kehadiran H Buyung ikut dalam kancah pertarungan ini dianggap sebagai nuansa baru dan dia bisa dianggap sebagai poros tengah. “Akibat timbulnya konflik di tubuh Golkar Sumut, membuat Ketua Umum DPP Partai Golkar Abu Rizal Bakrie memanggil dan mengumpulkan seluruh pengurus Partai Golkar Kabupaten/ Kota se-Sumut,” ujar sumber itu.

Menurut sang sumber, persaingan kelima kandidat baru terlihat jika Musdalub benar-benar digelar. Jalan menuju Musdalub memang sudah digagas. Setidaknya hal ini tampak setelah ada pertemuan di Hotel Polonia Medan pada Rabu malam lalu. Adalah kelompok pendukung Syamsul Arifin yang terdiri dari 14 DPD Partai Golkar se-Kabupaten/Kota atau kelompok 55 yang bersuara. Kelompok ini dikomandoi Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut Hardi Mulyono dan Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut Mahmudin Lubis. Mereka mendesak dan menginginkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar agar segera melaksanakan Musdalub untuk memilih ketua baru DPD.

Rapat tertutup yang dipimpin Hardi Mulyono ini dihadiri 14 DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota se-Sumut dan pengurus lainnya berjumlah 55 orang hingga dikenal dengan nama Kelompok 55.

Pertemuan 14 DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota se Sumut ini, sambung sumber itu, berdasarkan izin dari Syamsul Arifin. “Justru pertemuan itu diketahui oleh Bapak Syamsul Arifin.Makanya semua pengurus yang hadir mau menandatangani opsi itu. Karena semua pengurus yang hadir adalah pendukung Syamsul Arifin,” kata sumber lagi.

Ke-14 DPD Partai Golkar yang mendukung Syamsul Arifin  adalah Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias, Kotamadya Gunungsitoli, Kota Tebingtinggi, Kabupaten Langkat, Kota Medan, Kota Tanjungbalai, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Batubara, Kabupaten Serdangbedagai, dan Kabupaten Asahan.

Nah, hasil pertemuan rapat internal tersebut melahirkan tiga opsi. Pertama, DPD meminta pada DPP Partai Golkar untuk mengembalikan Syamsul Arifin sebagai Ketua DPD. Kedua, meminta DPP untuk menggantikan Plt Ketua DPD Golkar Sumut Andi Ahmad Dara atau Adai karena dianggap tidak koperatif. Dan ketiga, meminta DPP segera melaksanakan Musdalub untuk memilih ketua baru menggantikan posisi Syamsul Arifin yang tersandung dalam perkara korupsi.

Hasil kesepakatan kelompok 55 ini, ditandatangani secara bersama-sama untuk segera di sampaikan pada Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Sementara itu kelompok pendukung Andi Ahmad Dara, yang dikomandoi Wakil Ketua DPD Golkar Sumut Wagirin Arman dan Wakil Sekretaris Partai Golkar Sumut Hanafi Harahap, ingin mempertahankan Adai sebagai Plt. Mereka pun menganggap pertemuan kelompok 55 itu tidak sah dan melanggar AD/ART.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari fungsionaris Partai Golkar Sumut, bahwa para pengurus mendapatkan dua surat yang dilayangkan kedua kubu ini. “Yang pertama surat undangan untuk menghadiri rapat di Hotel Polonia Medan, untuk membahas tiga opsi tadi. Surat undangan itu memakai kop surat DPD Partai Golkar Sumut yang ditandatangani Sekretaris Hardi Mulyono dan Wakil Ketua Mahmudin Lubis. Sedangkan surat protes penolakan untuk menghadiri rapat itu juga dilayangkan pada seluruh pengurus, memakai fotokopi kop surat Partai Golkar Sumut distempel dan ditandatangani Wagirin Arman dan Hanafi Harahap,” ujar fungsionaris Partai Golkar Sumut yang namanya enggan dikorankan.

Lebih lanjut dikatakan pengurus Golkar Sumut itu, bahwa dari rapat internal tertutup itu, selain membahas tiga opsi tersebut, kelompok 55 ini juga membahas tentang menempatkan Plt Ketua DPD Partai Golkar Kota Tanjungbalai yang dari pengurus Partai Golkar Tanjungbalai sendiri.

“Hal inilah yang mendasari bahwa pertemuan itu digelar. Karena selama ini DPD Golkar Sumut dipimpin plt-nya yang bukan kader Golkar Sumut. Makanya, kepengurusan Partai Golkar menjadi vakum akibat Plt-nya tidak koorporatif. Bukan itu saja kelompok 55 ini juga mendesak DPD Partai Golkar Sumut, untuk melayangkan surat peringatan dan ini sudah dilakukan pada dua kader Partai Golkar yang tidak mendukung mosi tidak percaya pada Adai. Selain itu, kedua kader ini, juga dianggap telah melanggar AD/ART, memakai kop surat (fotokopi) dan memakai stempel partai tanpa diketahui sekretariat partai,” beber sumber itu.

Sementara itu Sekretaris Partai Golkar Sumut Hardi Mulyono hingga saat ini belum bisa dihubungi. Sedangkan Wakil Sekretaris, Muhammad Hanafi Siregar mengatakan posisi Plt DPD Golkar tetap kuat. “Sebagai Wakil Sekretaris Golkar Sumut, kepemimpinan tidak berafiliasi orang per orang. Itulah ruh sebagai kader Golkar SUmut. Pak Andy Achmad Dara selaku Plt Ketua DPD adalah atas SK DPP. Hal revitalisasi di DPD adalah perintah DPP dan berlaku seluruh Indonesia. SK Revitalisasi dimaksud belum saya lihat. Dan sebagai kader, demikian juga kawan-kawan lain. Sebagai kader siap ditugaskan oleh pimpinan,” tegasnya.

Sementara itu, fungsionaris Partai Golkar Sumut Gomo Mendrofa ketika dikonfirmasi wartawan mengaku dirinya sedang berada di Jakarta. “Kalau masalah naiknya berita di media hari ini yang mengatakan adanya konflik internal di Partai Golkar Sumut, abang belum dapat perintah untuk bicara. Nanti abang bicara kan dulu pada pimpinan partai, kalau memang abang dapat izin untuk menerangkan ini, nanti abang hubungi lagi adik ya,” ujar Gomo. (rud/ari)

Kamseupay

Ramadhan Batubara

Warga Kecamatan Beringin Kabupaten Deliserdang patut berbangga. Pembangunan bandara di Kualanamu adalah penyebabnya. Maka, ketika wilayah mereka menjadi lintasan pembangunan bandara internasional itu, mereka tak mempermasalahkan.

Sayangnya, rasa bangga tersebut makin lama makin surut. Ini bukan soal ganti rugi atau apapun istilahnya. Ini hanya soal kenyamanan. Ya, entah sudah berapa kali truk pengangkut material bolak-balik. Akibatnya, jalan sepanjang delapan kilometer mulai dari Sekip hingga Desa Beringin di Kecamatan Beringin hancur lebur. Istilah gaulnya, jalan itu kini tak berlubang lagi karena seluruh jalan sudah berlubang. Becek dan berlumpur tak terhindarkan; itu kalau musim hujan. Debu mengakibatkan pohon di sekitar jalan berwarna cokelat; ini kalau lagi kemarau.

Warga di sana – dengan menyisihkan rasa bangga – protes. Ayolah, bukan menentang pembangunan, tapi mereka meminta tolong agar keadaan tersebut diperhatikan. Eh, ketika mereka menyuarakan itu, mereka malah dianggap lebay. Bahkan, beberapa kalangan malah anggap warga kecamatan itu kamseupay. Tahukan arti istilah itu? Istilah kamseupay adalah singkatan dari padanan kata ‘kampungan sekali, udik, payah’. Istilah kaum alay ini kembali populer karena mantan artis, akademis, sekaligus blogger Marissa Haque membuat postingan blog dan kicauannya di Twitter.

Ya, mereka dianggap tak mendukung pembangunan. Pemerintah yang terlibat dalam pembangunan bandara di Kualanamu pun seakan tutup mata. “Kekmana tak tutup mata, mereka kan tidak melihat jalan yang rusak itu, mereka lewat depan?” kata seorang kawan.

Kawan yang lain lebih ekstrem lagi. Katanya, soal jalan rusak itu tak seksi dibahas. “Pemerintah kan lebih suka diskusi soal nama,” timpalnya.
Maka, khalayak sibuk mendebatkan Sultan Sulaiman, Tengku Rizal Nurdin, Sisingamangaraja XII, Amir Hamzah, Adam Malik, dan lainnya untuk bandara tersebut. Tidak hanya di Deliserdang, Kabupaten Langkat juga menggelar diskusi nama tersebut. Sementara, nasib warga di Kecamatan Beringin hingga Kecamatan Pantailabu sama sekali tak diketahui. Ya, tidak pernah diseminarkan. Padahal, keberadaan warga di sekitar situ cukup berperan.
Jika begitu, siapa sebenarnya yang kamseupay?

Selain itu, efek debu dan becek juga bisa memakan korban kan? Tidak itu saja, bias sosial dari bandara juga penting dibahas. Pemerintah atawa pengambil kebijakan sudah selayaknya memikirkan nasib mereka yang menjadi pelintasan proyek. Bahkan, setelah proyek selesai, mereka juga wajib diperhatikan. Maka, diskusi atau seminar atau sarasehan untuk warga Kecamatan Beringin dirasa perlu agar mereka tak terbiarkan begitu saja. Ujung-ujungnya, jika semua nyaman, kan semuanya senang. Jika semua senang, maka tak ada lagi kecemburuan dan kesenjangan. Pemerintah pun bisa nyaman menjalankan roda pemerintahan.

“Tampaknya tak perlulah diskusi, cukup benahi saja jalan itu,” balas kawan tadi.
“Iya, kamu jangan ikut-ikutan kamseupay lah?” timpal kawan satunya lagi. Bah! (*)

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Medan-Berastagi Cukup 50 Menit

Jalan yang Belum Dibuka Tinggal 10 Kilometer Lagi

LUBUKPAKAM-Jalan lain Medan-Berastagi ternyata bukan rencana isapan jempol. Dinas Pekerjaan Umum Pemkab Deliserdang ternyata sudah memulainya. Dari 55 kilometer jalan yang direncanakan, sudah 45 kilometer yang dibuka. Dan, jika nanti sudah menyambung semua, maka Medan-Berastagi dipercayai hanya memakan waktu 50 menit.

Setidaknya hal ini diungkapkan Kepala Dinas PU Pemkab Deli Serdang Ir Faisal melalui Kepala Bidang Jalan dan Jembatan, Khairum Rizal, Senin (3/4).

“Untuk saat ini, kondisi jalan yang telah dibuka sepanjang sekitar 45 km, sebagian masih pengerasan. Bila rencana pembukaan 10 km yang masih tersisa, pada triwulan kedua ini terlaksana, maka kondisi jalan yang masih pengerasan akan ditingkatkan dengan pengaspalkan. Sehingga bila seluruh jalan diaspal diharapkan jarak tempuh Medan-Karo hanya sekitar 50 menit,” jelas Khairum Rizal.

Dia menjelaskan, sejatinya sudah hampir empat tahun secara bertahap Dinas PU Pemkab Deliserdang membuka ruas jalan tersebut. Jalan itu nantinya memiliki lebar delapan meter. Untuk sepuluh kilometer yang beluim dibuka, nantinya akan dibangun 4 jembatan. Jalan itu nantinya akan tembus perbatasan Karo dengan Dusun Sembekan II Desa Rumah Bacang Kecamatan Kutalimbaru.

Sebenarnya, kata Khairum, pihaknya telah berulang kali mengajukan rencana pembuatan ruas jalan itu. Namun, usulan itu tidak pernah terealisasi bahkan selalu ditolak. Kini, setelah ada pernyataan Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho, pihaknya langsung semangat. “Bila diambil ahli Provinsi, tentu kita akan berterima kasih. Soalnya provinsi dan pemkab akan sama sama bertanggung jawab soal jalan itu,” katanya.
Secara terpisah, anggota DPRD Deliserdang, Mbergap Sembiring, merespon positif rencana pemerintah provinsi tersebut. “Kami berharap rencana itu terelalisasi segera,” katanya.

Disebutkannya, bila ruas jalan itu terlaksana, maka sarana infrastruktur di sana akan terkena imbasnya. Bahkan, perekonomian warga di Kecamatan Kutalimbaru yang selama ini statis dipastikan akan berkembang.

Sambutan baik juga disampaikan Pemkab Karo. ‘Itu memang sudah sangat dibutuhkan, mengingat jalan yang saat ini sudah tidak layak lagi. Kita harapkan wacana ini akan  terealisasi dan tidak mendapat banyak halangan,” kata Kabid Humas Pemkab Karo, Jhonson Tarigan

Jalan Jadi Dua, Pertumbuhan Ekonomi Tidak Signifikan

Tanggapan berbeda malah muncul dari para pengamat. Sebut saja Prof Bachtiar Hassan Miraza, Dosen Perencanaan Wilayah Pascasarjana USU. Menurutnya, menambah jalur bukanlah cara terbaik untuk meningkatkan perekonomian rakyat. “Pembangunan fasilitas ini baik, tetapi akan menelan biaya yang sangat besar, kalau bisa kenapa tidak digunakan untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, dana yang sangat besar untuk penambahan jalan akan lebih baik bila digunakan untuk masyarakat, misalnya dengan pembangunan fasilitas kerajinan tangan. Atau, kalau memang untuk infrastruktur, lebih baik bila digunakan untuk memperbaiki jalan tujuan Tebingtinggi, Kisaran, dan Rantauprapat. “Jalur jalan ini sangat penting, karena merupakan jalan lintas, selain itu pergerakkan ekonomi juga ditunjang dari jalan ini. Lebih baik, dana tersebut dialihkan untuk memperbaiki jalan ini,” ungkapnya.

Dia menegaskan, bahwa jalan baru ini nantinya bukan hal yang mudah untuk dilakukan bila hanya bertumpu pada APBD. Tetapi, bila ditunjang dnegan APBN akan ada kesempatan untuk membangunnya. Selain dana, kebenturan lain yang akan ditemui saat pembangunan ini adalah geografis tanah yang tidak mendukung, sehingga akan sangat sulit untuk pembangunan jalan ini bila tidak menggunakan teknologi. “Minimal waktu yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur baru ini adalah 5 tahun, acuan saya pada pembangunan jalan Jakarta-Bandung via Cipularang, geografisnya hampir sama, berbukit dan berjurang,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Unimed, M Ishak, menyatakan bahwa pembangunan jalan ini sangat bagus. Pertumbuhan ekonomi menurutnya juga akan bagus, walau tidak terlalu besar. Karena adanya jalur baru tersebut, akan ada wilayah yang dibuka, sehingga secara tidak langsung akan membuat masyarakat akan berpindah kedaerah pembangunan jalan itu sendiri. “Akan ada pemukiman, yang secara langsung akan ada kegiatan ekonomi. Pasti ada pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak besar,” lanjut Ishak.

Pengamat ekonomi dari Nommensen, Parulian Simanjuntak juga menyatakan hal yang sama, bahwa pembangunan jalan baru ini tidak signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Karena yang akan ada kegiatan ekonominya ini merupakan jalan lintas yang tidak memiliki pajak, dan lain sebagainya. “Inikan hanya jalan lintas, jadi orang hanya akan numpang lewat, singgah sebentar, lalu pergi lagi. Tetapi bila ini menjadi sebuah daerah tetap, dan ada industri, baru akan memberikan sumbangan yang cukup besar,” ujar Parulian. (btr/wan/ram)