Home Blog Page 14111

Semua Ini Berkat Keluarga Tercinta

Dra Asli Sembiring

Menjabat sebagai kepala sekolah bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi seorang wanita. Selain harus memikul tanggung jawab besar, penentuan sebuah kebijakan demi meningkatkan kualitas pendidikan adalah sebuah prioritas yang dikedepankan.

Inilah menjadi dasar bagi Dra Asli Sembiring, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN-1) Medan untuk mengedepankan nilai kedisiplinan dalam diri dan lingkungan kerjanya untuk menciptakan sebuah hasil dan prestasi kerja.

Dibalik rasa tanggung jawab yang tinggi, wanita kelahiran Tanah Karo 49 tahun silam ini juga menganggap jabatan adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-sebaiknya.

BAHKAN dengan tanggung jawab dan kedisiplinan yang diterapkannya, membawanya memegang amah sebagai kepala sekolah swasta meskipun baru satu tahun berdedikasi sebagai seorang guru. Tak tanggung-tanggung, saat itu usianya baru 24 tahun sudah menjabat sebagai sekolah.

Meski waktu itu usianya muda, tak lantas membuat Asli berfikir untuk menolak amanah yang dipercayakan kepadanya.

Baginya, bekerja dengan hati dan berbuat untuk banyak orang adalah sebuah tujuan mulia yang terus dipegangnya.

“Dua puluh empat tahun yang lalu, awalnya saya adalah seorang guru swasta di SMK Medan Area. Baru satu tahun menjadi guru, pemilik Yayasan Bapak H Agussani memanggil saya untuk memegang jabatan sentral sebagai kepala sekolah. Saya juga tidak menyangka akan diberikan kepercayaan tersebut karena saat itu saya juga masih sangat muda. Namun berkat dorongan kedua orang tua dan dan keluarga yang lainnya, saya akhirnya memberanikan diri menerima tawaran menjadi kepala sekolah,” ujar Asli mengenang.

Di usianya yang masih muda, tentu saja membuat Asli belum cakap dan berpengalaman dalam memimpin.

Iapun sempat grogi dan gugup saat memimpin menjadi kepala sekolah waktu itu. “Itu wajarlah, karena saya masih muda, dan belum berpengala-man waktu itu,” tambahnya.

Tapi dengan keyakinannya, Asli mampu mengatasinya, sehingga ia bekerja secara sungguh-sungguh agar tidak terbentur kesalahan yang bisa berdampak terhadap kualitas lembaga pendidikan yang tengah ditangani.

Bahkan dengan pola kepemimpinan secara demokrasi, terbuka, dan jujur yang diterapkan, Asli mampu bertahan selama 23 tahun sebagai seorang kepala sekolah di lembaga pendidikan swasata dan hampir dua tahun menjabat kepala sekolah di lembaga pendidikan milik pemerintah.

“Itu semua bisa berjalan berkat dorongan semangat dari keluarga, orangorang dekat dan kedua orangtua tercinta,” ujar Asli .

Namun dibalik itu semua, Asli mengakui kalau wanita sangat identik dengan mempertimbangkan perasaan saat mengambil sebuah kebijakan.

Meskipun terkadang bertolak belakang antara logika dan perasaan, namun semuanya mampu disikapinya secara sistematis.

Dalam pemimpin, Asli mengaku selalu memberikan reward bagi para staf pendidik atau guru yang mampu berprestasi dan sebaliknya memberikan sebuah punishment atau peringatan bagi guru yang melanggar peraturan yang ditentukan oleh pihak yayasan.

“Kalau kita berikan rewad atau penghargaan meskipun nilainya tidak begitu besar, tapi kalau rutin dilakukan setiap tahun, terutama saat Hari Guru dan beberapa kesempatan lainnya, sedikit banyaknya akan mampu merangsang guru untuk terus berkarya,” kata dia.

Kedisplinan inilah yang juga diterapkan dalam membimbing kedua anaknya.

Meskipun terkadang perasaan dan kasih sayang terhadap anak sangat besar, tak jarang Asli bersikap cukup keras dalam mengajarkan anak dalam menjaga prinsip demi memberikan sebuah hasil yang terbaik untuk masa depan kedua anaknya.

Disela-sela rutinitas yang cukup padat, wanita yang memiliki hobi menulis artikel ini mengaku tetap menyediakan waktu bagi kedua anaknya. Asli juga selalu menyempatkan untuk memasak demi keluarganya sebelum melakukan aktivitas kerja.

“Walaupaun waktu saya bersama keluarga tidak cukup banyak, namun kalau untuk masakan di rumah saya selalu menyempatkan masak terlebih dahulu, karena anak saya lebih mau masakan ibunya daripada masakan di luar. Saya juga selalu menyempatkan waktu libur untuk jalan bersama suami dan anak demi menjaga keharmonisan keluarga,”ucapnya diakhir pertemuan.

(kesuma ramadhan)

Jadi Superwoman Tahu Apa yang Harus Dilakukan

MERASA mampu menjalani berbagai peran, berstatus sosial tinggi, memiliki karier di puncak dengan menjadi pemimpin bagi banyak bawahan, tampil sebagai sosok yang selalu tegar, bahkan menonjolkan maskulinitas, super sibuk dengan peran ganda, dipandang sukses di karier juga keluarga, mandiri secara finansial, merasa kuat dan tak ada kata mengeluh dalam kamus pribadi, inikah syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi superwoman? Belum tentu.

Psikolog Alexander Sriewijono memaparkan, superwoman adalah mereka yang mampu menggunakan potensi apa yang ada dalam dirinya, mengaplikasikannya dalam keseharian, dan memberikan hasil dalam hidupnya. Ia tak hanya sekadar merasa, merasa kuat misalnya, tetapi ia membuktikan dalam tindakan bahwa ia kuat dan mendapatkan hasil darinya. Perempuan menjadi superwoman ketika ia mampu menginspirasi orang lain dengan segala kebiasaannya.

Memahami dirinya secara utuh

“Untuk menjadi superwoman, perempuan perlu tahu apa yang penting bagi dirinya dan sepanjang hidupnya. Perempuan yang berada dalam tahapan usia yang sama bisa berbeda kepentingannya. Setelah mengetahui apa yang penting, cari jalan keluarnya, lalu wujudkan,” jelas Alex, salah satu pendiri Daily Meaning, lembaga konsultan pengembangan pribadi.

Pertanyaan dasar yang harus diajukan setiap perempuan ke dalam dirinya adalah “Siapa saya, dan apa yang saya bisa?” “Saya merasa seperti apa?” “Saya harus melakukan apa dan mengapa?” “Apa hasilnya dari apa yang saya putuskan untuk lakukan itu?” Semua pertanyaan ini saling terkait.

Artinya, menjadi superwoman, Anda selalu tahu apa yang sedang dan akan Anda lakukan, dengan alasan kuat di baliknya dan memahami sepenuhnya konsekuensi dari setiap pilihan dan keputusan yang Anda buat. Dengan demikian, Anda pun dapat memprediksi seperti apa hasil dari tindakan Anda saat ini. Pertanyaan ini dapat diajukan setiap kali Anda menjalani peran berbeda, sebagai ibu, istri, profesional, anak perempuan, saudara perempuan, sahabat perempuan, apa pun dalam hidup seorang perempuan.

Membedakan keinginan dan kebutuhan

Jika perempuan mampu menjawab pertanyaan dasar tadi, ia akan lebih mahir membedakan keinginan dan kebutuhan setiap kali menjalankan peran.

“Superwoman bisa membuat pilihan berdasarkan kebutuhan.

Bisa juga dengan menggabungkan keinginan dan kebutuhan.

Setiap kali ia melakukan sesuatu harus jelas apa tujuannya.

Ia mampu membedakan secara tajam apa itu kebutuhan dan keinginan,” jelas Alex.

Sebagai contoh, dengan uang Rp 300.000, apa yang akan Anda lakukan bersama keluarga? Pilihannya, Anda ingin makan di restoran bersama keluarga, atau ingin mengajak anak Anda belanja sayuran di pasar tradisional, sambil mengajarkannya mengenai berbagai pengetahuan, life skills yang tak didapatnya di sekolah, lalu memasak bahan makanan bersama di rumah sambil menjelaskan kepada anak setiap bagian dari makanan tersebut? Sekali lagi, setiap orang memiliki kepentingan berbeda. Anda boleh saja memilih makan bersama di restoran dengan uang Rp 300.000, tetapi adakah alasan pasti di baliknya? Sekadar keinginan atau memang Anda membutuhkannya? Boleh jadi, anak-anak membutuhkan suasana berbeda karena terlalu sering makan bersama di rumah.

Oleh karena itu, Anda merasa butuh mengajaknya makan di restoran karena akan ada pembelajaran yang diterimanya.

Anda bisa mengenalkannya apa profesi koki yang ditemui di restoran dan lain sebagainya.

Apa pun pilihan Anda, pastikan Anda selalu tahu apa yang sedang Anda lakukan dan mengapa, serta hasil apa yang ingin dicapai, dengan melihat kebutuhan bukan sekadar keinginan belaka. Inilah salah satu syarat yang harus dimiliki untuk menjadi superwoman sesungguhnya.

Jika contoh tadi lebih menjelaskan bagaimana menjadi superwoman dengan peran ibu, lantas bagaimana menjadi superwoman sebagai profesional misalnya?

Super yang memesona

Sebagai profesional, superwoman tak berarti Anda harus memiliki posisi tinggi dengan gaya kepemimpinan yang maskulin dengan bersikap jauh lebih tegas kepada karyawan.

Karena jika menunjukkan sisi feminin, Anda merasa tak lagi super.

Dalam karier, superwoman yang memesona adalah mereka yang mampu membuat orang lain merasa diistimewakan dengan kehadirannya, jelas Alex.

“Superwoman membuat orang lain merasa nyaman dengan super- nya ia. Ia tidak mengecilkan orang lain dengan super-nya.

Tapi, justru ia membuat orang lain sama super-nya seperti dia bukan dengan mengecilkan kemampuan orang lain. Superwoman takkan mengecilkan orang lain, apalagi membuat orang lain menjadi tidak berkembang. Inilah superwoman yang memesona,” papar Alex.

Boleh mengeluh

“Bukan superwoman kalau ia mengeluh dan tidak tahu mengapa ia mengeluh,” kata Alex.

Adalah wajar bagi siapa pun untuk mengeluh, termasuk superwoman, tambahnya. Namun, bagi superwoman, ketika ia sedang mengeluh, ia lalu tahu apa yang harus dilakukan terhadap dirinya dan keluhannya.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang mengeluhkan sesuatu, ia merasa lelah dengan semua hal yang dialaminya, ia merasa sedih dengan kondisi yang sedang menderanya, tetapi ia tak tenggelam dalam kesedihan atau kelelahan emosinya.

“Siapa pun boleh bilang capek.

Namun, seberapa jauh dia mengeluh dan melakukan sesuatu, itulah yang membedakan superwoman.

Superwoman akan melakukan sesuatu dengan kekuatan yang ada dalam dirinya,” tandasnya.

Menjadi superwoman adalah pilihan Anda. Apakah dengan menjadi superwoman Anda dapat menjalankan peran lebih baik sebagai profesional, istri, juga ibu? Anda tentu punya jawabnya.

(*)

Bangkai Pesawat TNI AU Berhasil Dievakuasi

JAKARTA – Pesawat latih AAU yang jatuh di Jetis, Magelang, berhasil dievakuasi tim gabungan TNI AU, TNI AD dan Polri. Proses evakuasi bangkai pesawat yang tersebar di pucuk-pucuk pohon itu memakan waktu cukup lama akibat medan yang cukup terjal dan licin.

Tim menggunakan gergaji besi, linggis, pisau dan tali untuk menurunkan bangkai pesawat. Setelah berlangsung beberapa jam sejak dimulainya pada pagi hari, akhirnya serpihan pesawat latih bernormor registrasi LD 3417 itu berhasil dikumpulkan, Sabtu (7/1).

Serpihan sayap dan badan pesawat merupakan bagian yang paling sulit dievakuasinya. Seluruh serpihahan yang berhasil dikumpulkan akhirnya diangkut dengan tiga truk ke Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.

Di sela-sela evakuasi, Kasubdin Keselamatan Terbang dan Kerja Mabes TNI Angkatan Udara, Kolonel Penerbang Arif Widianto mengatakan bangkai ini juga akan dilakukan pendataan, penelitian dan penyelidikan.

“Kami masih mengumpulkan data dan fakta.

Bangkai dan serpihan pesawat ini juga bagian dari data, fakta dan penyelidikan. Sehingga harus kami amankan,” ungkap Arif pendek.(net/jpnn)

Siswa PKBL Belajar Mengelola Surat Kabar di Sumut Pos

MEDAN- Sebanyak 20-an siswa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBL) Gerhana berkunjung ke Harian Sumut Pos untuk mengetahui cara pembuatan koran dan belajar menulis berita, Sabtu (7/1).

Dalam kunjunganya, puluhan siswa tersebut mengaku sedang melakukan pelatihan jurnalistik suatu program kerjasama antara Forum Jurnalis Perempuan (FJP) dan PKBM Gerhana. “Kami biasanya melakukan berbagai pelatihan, dan saat ini kami sedang melakukan pelatihan jurnalistik, dan kami mohon ke Sumut Pos agar memberikan ilmunya kepada kami,” ujar Ketua Pelaksana PKBM Gerhana, Manahan Sitanggang.

Selain melihat secara langsung ruang redaksi Sumut Pos, anak-anak PKBM Gerhana diberikan penjelasan singkat terkait dengan kinerja surat kabar, sebelum berada di tangan pembaca. Penjelasan itu mulai cara mendapatkan berita oleh wartawan, editing berita oleh redaktur, tata letak atau perwajahan surat kabar dan proses percetakannya.

Wakil Pimpinan Redaksi Sumut Pos, Hirzan mengatakan berita bisa menjadi menarik bila proses liputannya itu mendapatkan data yang lengkap, kemudian perwajahan yang menarik serta hasil cetakkannya yang bagus.

Dalam kesempatan tersebut, anak-anak putus sekolah itu dengan semangat mengikuti pelatihan jurnalistik itu. Hal itu semakin menarik minat lagi, ketika memasuki sesi tanya jawab, tiap anak memiliki pertanyaan yang terkadang terdengar lucu.

“Enak kerja jadi wartawan ya, bisa jalan-jalan,” ujar anak yang bernama Manuel dalam tanya jawab. Pernyataan polos ini mengundang tawa semua yang ada dalam ruangan. “Setiap pekerjaan, ada enaknya dan ada tidaknya, nah pekerjaan itu tergantung dari hati, bukan terpaksa,” ujar Sekretaris redaksi Sumut Pos, Desi.

Dalam sesi tanya jawab, anak yang sedang menimba ilmu untuk paket luar sekolah ini tidak menyangka, dalam membuat berita dicetak menjadi surat kabar sangat banyak yang terlibat. Bahkan lebih dari satu orang. (ram)

Ditangkap Mencuri Sepeda Motor Pelaku dan Polisi Nyaris Dibakar Massa

MEDAN- Ramadhan Syahputra (26) warga Jalan STM, Medan dipukuli massa karena kedapatan hendak mengambil sepeda motor Yamah Mio Seoul warna hitam BK 4237 ACC di Jalan Panglima Denai tepatnya di depan depot air.

Kejadian itu berawal saat Amru (17) warga Jalan Tuar, Kecamatan Medan Amplas, hendak main game di satu warung internet di Jalan Panglima Denai. Saat itu, dia memarkirkan sepeda motor Yamaha Mio Soul di depan depot air.

Tanpa disadari, ternyata Amru sudah menjadi incaran Ramadhan dan rekannya. Saat menjalankan aksinya, Ramadhan ternyata sudah dipantau oleh seorang pedagang Es Dawet, A Purba. Ketika itu, A Purba mengaku melihat tersangka mencoba membuka paksa kunci sepeda motor Amru. Saat itulah, A Purba berteriak, maling.

Spontan, rekan-rekan pelaku lari dan warga langsung menangkap Ramadhan. Emosi warga semakin memuncukan saat mengingat sudah 7 sepeda motor hilang di Masjid Jami’ di Jalan Panglima Denai.

Warga yang sudang mengerumuni pelaku dan memberikan pukulan kepada pelaku hingga babak belur. Seorang polisi berseragam yang ketika itu melintas mencoba mengamankan pelaku.

Tapi, polisi tersebut tak mampu mengamankannya, sehingga polisi membawa pelaku ke rumah warga. Namun, warga yang belum puas melampiaskan emosinya terus mengejar pelaku. Saat itu, seorang warga yang sudah sangat kesal karena banyak sepeda motor yang hilang, langsung membeli bensin eceran seharga Rp5 Ribu.

Bensin tersebut langsung dibawanya dan disiramkan warga ke arah pelaku yang dibekap polisi. Akibatnya, polisi berpakaian dinas tersebut langsung berteriak.

“Jangan… jangan… danmengatakan, akubisakena juga nih,” ujar polisi sambil mengelap tangan dan bajunya yang kena bensin.

Namun, warga tetap tak peduli walau seorang polisi sudah melarang mematikan mancisnya. Beruntung, sebanyak 7 polisi dari Polsek Patumbak turun langsung mengamankan lokasi dan mengamankan pelaku. Personel polisi di bawah pimpinan Kanit Reskrim Polsek Patumbak, ketika itu polisi hendak membawa pelaku. Tapi, warga sempat menghalangi. Warga terus mengejar pelaku dan memukulinya.

“Bakar saja, sudah berapa sepeda motor hilang di masjid 7 kali, di Indomaret Amplas sudah tiga, belum lagi yang di rumah warga dan di depan warnet-warnet yang ada disini. Sudah puluhan disini hilang, matikan saja,” kata pria berbadan tegap memakai baju biru sambil meninju wajah pelaku.

Melihat warga yang marah, petugas polisi langsung tancap gas membawa pelaku.

“Ayo..ayo matikan saja,” ujar warga mengajak mendatangi ke Polsek Patumbak.

Seorang tokoh Pemuda, Mahdi menenangkan warga agar jangan main hakim sendiri. “Sudah-sudah…sudah ada polisi, biar polisi yang memprosesnya sesuai dengan hukum,” katanya membendung amarah warga.

Kanit Reserse Polsek Patumbak AKP Samosir yang ditemui Sumut Pos mengatakan tersangka dan barang bukti dibawa ke Polsek Patumbak.

Setelah warga mulai bubar, ternyata ada seorang warga, Wariska yang ikut menangkap pelaku kehilangan jam tangannya “Sial, jatuh jam tangan aku, saat menangkap dia, orang terus memukulinya, nggak tahu jam tangan sudah jatuh,” celetuknya.

(mag-5)

Kenali Penyebab Kebocoran Atap

Kenali Penyebab Kebocoran Atap Atap yang bocor kerap membuat kita pusing. Apalagi saat ini, musim hujan belum juga berakhir. Sementara tetesan air hujan telah merembes melalui atap. Upaya mengganti atap dengan yang baru, mungkin belum bisa dilakukan. Pasalnya, awan dan hujan masih terus mengintip.

AGAR kebocoran atap tak membuat pusing, Anda harus mencari sumber masalahnya dan segera diatasi. Simak tips berikut ini sebagai panduan Anda melakukannya: Air masuk dari talang horisontal Pada dasarnya, ini terjadi karena bibir talang bagian luar lebih tinggi daripada ujung genting paling bawah. Kondisi demikian dapat menyebabkan air yang mengalir pada talang tidak meluber ke bawah, melainkan terdorong masuk kembali dan menyebabkan kebocoran pada atap rumah.

Untuk mengatasinya, ulangi pemasangan talang dan pastikan bibir talang bagian luar lebih rendah daripada ujung genting. Selain itu, pastikan pipa vertikal yang berfungsi mengalirkan air ke bawah tidak membentang lebih dari tiga meter.

Atap terlalu landai Atap rumah yang terlalu landai membuat air hujan mengalir lebih lambat.

Pada atap berbahan genting, overlap atau lebar tumpukan tiap gentingnya sangat kecil (2-5 sentimeter) sehingga potensi air untuk memasuki rumah lebih besar. Apalagi, jika ada angin kencang yang meniup air masuk ke dalam rumah.

Untuk menanggulangi kebocoran akibat atap terlalu landai, cara pertama bisa dilakukan adalah mengganti material atap dengan bentuk lembaran seperti metal, bitumen, atau fiber semen.

Material lembaran umumnya dipasang dengan overlap atau lebar tumpukan yang lebih besar hingga mencapai 20 sentimeter. Oleh karena itu, potensi masuknya air hujan melalui cerah antara lembaran menjadi lebih kecil.

Namun demikian, material lembaran seperti fiber semen cenderung lebih berisik saat terkena hujan. Karena itu diperlukan penambahan bahan peredam seperti rockwool atau glasswool.

Cara kedua, Anda bisa mengganti kemiringan atap. Cara ini membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya lebih banyak.

Kemiringan atap yang ideal adalah antara 30-40 derajat agar air dapat mengalir dengan lancar. Jika terlalu curam, genting justru akan mudah melorot.

Satu hal penting, ketika melakukan pembongkaran atap, sebaiknya Anda menambahkan insulasi berupa lembaran alumunium foil yang dibentangkan dan dijepit di antara kayu kasau dan reng. Insulasi ini berfungsi untuk mencegah air hujan tidak langsung menetes ke plafon. Selain itu, insulasi juga berfungsi menurunkan suhu dalam ruang.

Air masuk dari talang Masalah ini biasanya disebabkan oleh overlap atau lebar tumpukan antara bibir talang dengan genting terlalu kecil, sehingga air yang menetes dari genting tidak sepenuhnya jatuh ke talang, tapi masuk ke rumah. Untuk mengatasinya, ganti talang dengan talang baru yang dapat menjangkau selebar mungkin.

Dengan overlap yang lebih besar, air hujan akan sepenuhnya jatuh ke talang dan tidak menetes ke dalam rumah.

Selain itu, talang berbahan seng atau metal memiliki kemungkinan karat dan bolong yang dapat mengurangi kualitasnya.

Setalah mengganti talang, lapisi dengan cat galvanis yang mengurangi sifat korosif talang. Talang yang dilapisi cat galvanis akan terbebas dari karat hingga lima tahun. (net/jpnn)

Dunia Pendidikan Lahirkan Pebisnis

MEDAN- Lembaga pendidikan khususnya Universitas akan dirangkul Kementrian Koperasi dan UKM untuk menghasilkan wirausaha muda. Setidaknya, kerjasama dengan dunia usaha dapat meningkatkan minat anak muda, khususnya mahasiswa dapat belajar dan mempraktekkan ilmu yang didapatnya.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan dalam acara Milad Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Jalan SisingamangarajaMedan, (Sabtu, 7/1). Menurut dia, dunia pendidikan terutama universitas akan memfasilitasi mahasiswa tersebut dalam permodalan.

“Mahasiswa paling potensial menjadi wirausaha, karena dengan menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah,” ujarnya.

Dia menyebutkan, selain program kerjasama yang berbentuk inkubasi, kementerian koperasi dan UKM akan memfasilitasi dalam bidang permodalan bagi para mahasiswa. Modal yang diajukan sesuai dengan modal yang dibutuhkan oleh UKM.

Rektor UISU, Prof Zulkarnain Lubis mengatakan, sangat mendukung niat pihak kementerian koperasi. Karena inkubasi akan menjadi praktek yang terbaik bagi para mahasiswa mendapatkan petunjuk untuk masa depannya.

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengatakan pascareformasi tidak lebih baik dari sebelumnya. Bahkan pascareformasi ada beberapa hal yang semakin membaik bahkan dijamin pemerintah seperti adanya kebebasan berekspresi dan berpendapat, kebebasan berserikat, bahkan tak pernah ada lagi napol atau tapol. (ram)

Tiket Medan-Jakarta Habis, Sriwijaya Bandrol Rp1,82 Juta

MEDAN- Loket Sriwijaya Air di Bandara Polonia Medan membandrol harga tiket pesawat sebesar Rp1,82 juta untuk tujuan Medan-Jakarta. Padahal tarif batas atas yang telah disepakati sebesar Rp1,7 juta. Uniknya, maskapai lainnya menjual tarif tiket pesawat tujuan Medan- Jakarta dikisaran Rp1,7 juta.

Di tengah harga tiket melambung tinggi, ternyata tiket Medan- Jakarta juga sulit didapatkan dalam empat hari ke depan.

Demikian informasi yang dihimpun Sumut Pos, Sabtu (7/1) petang.

Tarif pesawat Sriwijaya itu diketahui ketika wartawan koran ini mengecak harga tiket melalui counter ticket sale (counter penjualan tiket, Red) di Bandara Polonia.

Seorang stafnya menyebutkan, harga tiket Medan-Jakarta sebesar Rp1.82 juta, dan sekarang sudah habis terjual. “Tiket habis bang, harganya Rp1,82 juta Medan- Jakarta. Kalau mau, tiket baru ada tanggal 11 Januari 2012 karena sudah diborong para calon penumpang yang membeli via online,” ujar wanita mengenakan pakaian seragam Sriwijaya Air.

Seperti diakui seorang staf counter penjualan tiket Lion Air, Dede menyebutkan, harga tiket maskapanya Rp1,72 juta, tapi sudah habis terjual. Tiket rute yang sama baru ada pada 11 Januari 2012. “Harga tiket 11 Januari 2012 sekitar Rp1.3 juta,” ucapnya.

Menanggapi tingginya harga tiket tersebut, Kasie Angkutan Udara, Kelayakan Udara dan Pengoperasian Udara Otoritas Bandara (Otband) Polonia Medan, Havandi Gusli menegaskan mengenai adanya harga tiket yang diatas batas atas agar secepatnya dikembalikan normal sesuai harga batas atas.

Lebih lanjut, dia mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya dalam memberantas praktek percaloan. Tapi, para calo masih beroperasi di saat Otband Polonia Medan tidak ada. “Kami sudah bergeliat beroperasi, tapi saat petugas dan keamanan lengah sedikit saja para calo manfaatkan.

Semua pas sudah ditarik dari orang-orang yang dianggap tak memiliki hak masalah pas,” ungkapnya.

Terpisah, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Medan yang menaikkan tarif KA mulai 24 Desember 2011 sebesar Rp5 ribu, kini KAI sudah kembali mengembalikan ke tarif normal. (jon)

Dilihat Nyabu, Anak Jalanan Ditusuk Keris

MEDAN- Seorang anak jalanan, Muhammad Pane (21) warga Jalan Gurilla, Medan ditusuk pakai keris karena melihat seorang warga menghisap sabu-sabu. Akibatnya, anak jalanan tersebut harus dirawat intensif di lantai VIII RSU Pirngadi Medan, Sabtu (7/1).

Penuturan teman korban, Agus (16) saat ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Pirngadi Medan. Awalnya, dirinya bersama Muhammad Pane serta empat temannya lagi mau tidur di rumah kosong di Jalan Sentosa Lama, Medan Perjuangan.

Saat masuk ke rumah kosong yang biasa menjadi tempat tidurnya, Sabtu (7/1) dini hari ternyata ada seorang warga diketahui bernama Adol sedang asik memakai sabu-sabu. Spontan, Adol marah ke grombolan Muhammad Pane dan terjadi adu mulut , Adol pun pergi.

Tanpa disangka, ternyata Adol bersama abangnya, Zul (30) datang ke rumah tersebut. Saat bersamaan, Zul membawa keris dan temannya. Zul marah. Lalu, menusukkan keris ke pinggang dan dada korban . Korban jatuh, pelaku lari meninggalkan korban. (jon)

Mengalah adalah Perlawanan yang Tertunda

Ramadhan Batubara

Kata bijak memang mengatakan mengalah untuk menang, tapi bagi saya saat ini tidak seperti itu. Bagi saya, mengalah adalah perlawanan yang tertunda. Kenapa? Ya, karena saya tidak ada kesempatan untuk menang dan menyimpan sekian dendam!

ITULAH sebab Chairil Anwar menulis Kalau sampai waktuku//’Ku mau tak seorang kan merayu//Tidak juga kau dalam sajaknya yang berjudul Aku. Ya, di masa depan nanti, saya akan melakukan sesuatu yang kini belum bisa dilakukan. Saat ini saya hanya bisa mengalah; pada ruang dan kesempatan yang terasa ditutup oleh orang-orang seperti mereka. Ya, ini yang saya sebut perlawanan yang tertunda.

Begitulah, saya awali lantun ini memang dengan sesuatu yang penuh emosi. Bukan karena saya sedang merasa tak nyaman atau apapun itu, tapi siang kemarin saya menemukan kejadian tidak menyenangkan. Saya dibangunkan oleh teriakan orang-orang: Maling! Maling! Maling! Tak pelak, dengan mata sembab karena tidur tak lengkap, saya bergegas keluar rumah. Di depan sana, seorang anak remaja dipukuli massa.

Dia tidak melawan. Dia Pasrah. Begitu pun ketika tubuhnya dilempari bensin, siap untuk dibakar.

“Ada apa, Bang?” tanya saya pada seorang tetangga yang berada di sudut kejadian, jauh dari lokasi ‘pembataian’.

“Anak itu, ketahuan lagi mau mencuri sepeda motor bapak itu,” jawabnya sambil menunjuk lelaki yang paling garang memukul dan berteriak.

“Biar tahu rasa, sudah sering kali di daerah ini kecurian…” timpal tetangga lainnya.

“Tapi, apa anak itu juga yang mencuri tempo hari?” pertanyaan ini keluar dari mulut saya tanpa sadar.

Tetangga yang bicara ‘biar tahu rasa’ tadi melirik saya dengan tatapan heran.

Tak lama kemudian dia tersenyum, mungkin dia tahu kalau saya berbicara spontan tanpa maksud membela anak itu. “Gak tahu, tapi ini namanya peringatan bagi maling yang nekat beroperasi di kawasan kita,” ucapnya.

Saya pun tersenyum, tentu bukan karena dia tersenyum, tapi karena jawaban dia tadi. Ayolah, pelajaran? Kenapa dia tetap dipinggir, kenapa tidak ikut memukuli remaja itu! Tapi sudahlah, mungkin dia tidak suka melakukan kekerasan atau tidak mau dilibatkan ketika kasus itu nanti berbuntut panjang, atau dia memang tak mau repot kan sudah ada yang menghakimi.

Tak puas dengan kenyataan di pinggir lokasi kejadian, saya mencoba masuk ke tempat ‘pembantaian’ itu. Sayang, usaha saya tidak sesuai harapan.

Barisan massa yang mengantre memberikan pukulan terlalu rapat.

Saya berbalik, memilih tepat di pinggir, tentunya bukan tempat dua tetangga tadi.

Saya lalu berpikir, mengapa saya harus masuk ke tempat itu, apakah saya ingin menolong sang remaja atau ikut memukuli? Belum lagi saya temukan jawabannya, saya malah berpikir, apa yang ada dalam otak remaja itu; adakah dia menyesal karena sudah membuat salah hingga dia pasrah menerima hukuman atau malah dia menyimpan dendam. Ukh, saya perhatikan mata anak itu tajam memandang sekian orang meski tubuhnya terkesan pasrah menerima pukulan.

“Bakar! Bakar!” terdengar lagi teriakan itu, entah siapa yang teriak. Aneh, setahu saya bensin sudah disiramkan sejak tadi, kenapa belum ada yang menyulut api? “Banyak cakap,” tanpa sadar saya membisikan kalimat itu. Sumpah, entah sisi diri saya yang mana berujar.

Entahlah, saya merasa ada yang membingungkan saja, otak saya seperti tidak menerima, kenapa pembakaran itu belum terlaksana. Kan, katanya tadi untuk pembelajaran bagi kaum maling. Bukan maksud mendukung hal anarkis itu, tapi saya merasa seperti ada yang menggantung dengan kejadian itu.

Ya, jika memang sudah tak percaya dengan aparat hukum hingga warga memilih menghakimi sendiri, kenapa harus nanggung? Ya, bakar saja. Atau pukuli saja tanpa harus melempari bensin. Bukankah begitu? Lalu, jika tidak berani menghakimi semacam pembakaran tersebut, kenapa tidak menyerahkan maling itu langsung ke polisi? Entahlah…, saya jadi kurang tertarik mendiskusikan tingkah warga.

Saya perhatikan lagi remaja yang dipukuli dan yang telah disiram bensin tadi. Hm, tak ada air matanya, yang ada hanya darah. Sinar matanya pun masih lantang, memang tidak melotot, tapi lirikannya secara diamdiam itu begitu mengerikan. Ya, ada dendam di sana.

Terus terang saya membayangkan diri saya menjadi anak itu, apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menangis hingga massa kasihan? Oh, tidak, massa yang marah malah senang kalau saya menangis. Mereka menjadi tambah beringas karena merasa menang. Lalu, haruskah saya melawan hingga massa lari. Akh, untuk yang terakhir rasanya tidak mungkin.

Tubuh remaja itu kecil, meski pun dia punya ilmu kanuragan andal, tapi melawan puluhan orang dalam ruang sempit semacam itu pastilah kalah.

Hm, apa yang dilakukan anak itu tampaknya benar. Dia pasrah. Dia mencoba menikmati semua pukulan tendangan hingga makian, tidak lupa aroma menyengat bensin yang telah ada di tubuhnya. Ya, dia juga tak lupa mencoba menghafal setiap wajah yang mengelilinginya. Jika menjadi dia, saya tentunya akan balas dendam.

Ayolah, ini manusiawi. Bagaimana tidak, saya disiksa tanpa ada kesempatan membela diri. Baiklah jika saya memang salah, namun bukankah negeri ini masih punya polisi? Ups, bagaimana jika polisi malah menyiksa saya di kantornya sana? Tapi sudahlah, menghadapi kejadian seperti itu memang sudah pas memilih tingkah pasrah. Bagaimanapun kesalahan telah dibuat kan? Jadi, ya terima saja. Masalah tubuh jadi penuh luka kan risiko. Ya, mengalah adalah perlawanan yang tertunda.

Masalah kalah atau menang di akhirnya nanti kan belum ada yang tahu. Begitu kan? (*).