31 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 14119

Hari Ini, RUPS-LB Digelar

Dewan: Ini Akal-akalan

MEDAN-Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi C DPRD Sumut, dengan segenap direksi PT Bank Sumut, Selasa (24/1), menyoroti pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham-Luar Biasa (RUPS-LB), yang akan digelar hari ini, Rabu (25/1). Intinya, anggota dewan tak mau RUPS-LB menjadi ajang politik.
Sejumlah anggota Komisi C DPRD Sumut pada kesempatan itu, dengan tegas-tegas menyatakan, pelaksanaan RUPS-LB PT Bank Sumut, harus murni untuk perbaikan Bank Sumut ke depan. Jangan sampai, sedikitpun terselip niat “jahat” untuk menggebosi atau menjadikan PT Bank Sumut sebagai sapi perahan, demi kepentingan politik sekelompok atau oknum yang mencari keuntungan pribadi.

Bahkan, anggota Komisi C DPRD Sumut Mulkan Ritonga mengatakan RUPS-LB PT Bank Sumut ini, terkesan dipaksakan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho. “Ini akal-akalan dari Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho, yang arahnya adalah ke Pilgubsu 2013. Jangan karena kepentingan politik pribadi, kemudian mengorbankan Bank Sumut yang sejauh ini sudah baik. Jangan membuat Bank Sumut menjadi sapi perahan,” tegas Mulkan Ritonga kepada Sumut Pos, Selasa (24/1).

Politisi dari Partai Golkar ini menjelaskan, ada skema yang salah pada rencana pergantian dua komisaris independen Bank Sumut yakni, Lian Dalimunthe dan Irwan Djanahar.

“Ya itu tadi, Plt Gubsu ini mau memasukkan orang-orangnya untuk menduduki jabatan itu. Arahnya ke Pilgubsu 2013 nanti. Sebenarnya, persoalan ini karena ketidakmampuan Komisaris Utama PT Bank Sumut, yang juga Assisten II Pemprovsu, Jaili Azwar. Harusnya Jaili Azwar yang diganti, bukannya kedua komisaris independent itu,” jelasnya.

Pada kesempatan itu pula, segenap anggota Komisi C DPRD Sumut kembali mempertegas, agar pelaksanaan RUPS-LB PT Bank Sumut, jangan sampai pada akhirnya menjadi ajang konflik dan kepentingan politik praktis. “RUPS ini harus mengutamakan kepentingan rakyat, ketimbang membuat konflik yang dapat menimbulkan Bank Sumut kolaps,” ungkap Sekretaris Komisi C DPRD Sumut, Effendi Napitupulu saat RDP tersebut.

Hal yang sama juga dikemukakan anggota Komisi C DPRD Sumut lainnya, M Nasir Johan. “Kami berhadap tidak ada kepentingan politik atau ada sutradara dibalik pelaksanaan RUPS-LB tersebut. Biarkan berjalan sesuai aturan yang ada sesuai yang diharapkan masyarakat, karena kita tidak ingin Bank Sumut dijadikan ajang pertarungan,” ujarnya.

Selain dihadiri Mulkan Ritonga dan M Nasir, rapat tersebut juga dihadiri oleh anggota Komisi C lainnya seperti Hj Meilizar Latief, Roslynda Marpaung, Edi Rangkuti, Arifin Nainggolan, Muslim Simbolon dan dipimpin langsung Ketua Komisi C DPRD Sumut Marasal Hutasoit. Hal yang tersirat dalam RDP tersebut juga, meminta dipengujung periodesasi Gus Irawan sebagai Dirut Bank Sumut, harus lebih mengedepankan hal-hal yang perlu ditangani dalam melakukan perputaran uang sebesar-besarnya sesuai visi dan misi PT Bank Sumut. “Kita berharap tidak memunculkan problematika atau meninggalkan bom waktu. Tapi kedamaian dan kenyamanan di internal Bank Sumut,” tutur Effendi.

Sementara itu, Dirut Bank Sumut Gus Irawan didampingi para direksi mengaku kecewa, dengan munculnya isu terkait RUPS-LB dan sependapat jika isu tersebut muncul kepermukaan dapat mempengaruhi reputasi Bank Sumut.

“Jika ada polemik di komisaris, tidak hanya berpengaruh terhadap Bank Sumut, tapi bank bisa kolaps,” ujarnya.

Dari data yang diperoleh, Bank Sumut terus menunjukkan kinerja berprestasi dari kondisi minus hingga menjadi surplus. Jika pada 1998 mengalami kerugian Rp127 miliar, tahun 1999 rugi Rp161 miliar, maka mulai tahun 2000 sudah mulai meraih laba Rp10 miliar. Kemudian berturut-terus terus meraih laba yaitu  pada 2001 sebesar Rp30 m, pada 2002 Rp60 m, 2003 Rp121 m, 2004 Rp170 m, 2005 Rp141 m, 2006 Rp225 m, 2007 Rp289 m, 2008 Rp276 m, 2009 Rp473 m, 2010 Rp563 m, dan 2011 Rp711 m.

“Saran saya, sebaiknya Bank Sumut dibiarkan berjalan sebagaimana biasa hingga pergantian regular, karena kinerjanya sudah bagus dan terus membaik. Kalau ada posisi yang kosong diisi dengan mengikuti prosedur baku saja,” ujar John Tafbu, ekonom senior USU.
Ia mengatakan, bank adalah bisnis kepercayaan, tidak boleh digonjang-ganjing dengan cara-cara yang tidak profesional. Jangan sampai misalnya, ada yang dipaksakan masuk hari ini, kelak satu hari nanti niscaya menuai masalah. Dan kalau itu terjadi, masalahnya bakalan berdarah-darah. “Indonesia sudah punya pengalaman, tahun 1998 perbankan ambruk karena sebelumnya para pemilik bertindak semaunya. Ketika ada masalah, semuanya ikut ambruk,” tambah Jhon.

Dulu Bank Sumut juga ikut berdarah-darah karena manajemen tak tegas dan para pemegang saham tidak disiplin dan tidak taat azas, akibatnya krisis moneter 1998 membuat Pemda membayar obligasi rekap. “Jadi saya harap Pak Gatot pertebal saringan mendengar para pembisik, saya percaya Gubsu paham itu, tugas kita mengawal kepemimpinannya hingga 2013 nanti supaya kinerja bagus menjadi kredit poin ke jenjang yang lebih baik, ya kalau gak jadi Gub ya jadi Menteri kan cocok,” ujarnya. (ari)

Monster Miras

Oleh : H Affan Bey Hutasuhut
Wakil Pimpinan Umum Sumut Pos

Minuman keras atau si miras benar benar monster yang menakutkan di Cina. Sebab biang tewasnya orang di jalanan lebih banyak karena minuman haram tersebut. Kata polisi di negeri tirai bambu itu, 80 persen dari 180 orang yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Xiamen karena ulah sopir yang gemar menenggak miras dalam tahun 2010 lalu. Itu baru satu wilayah.

Kantor Berita Xinhua, Cina, menyebutkan pula seorang polisi ditahan karena menabrak dua tiang lampu dan menewaskan lima warga di Provinsi Henan, akhir tahun lalu. Massa yang marah bergegas mencegat polisi dan menjungkirbalikkan mobil hamba hukum itu.

Mereguk minuman keras adalah kebiasaan orang di sana. Dan seperti manusia lainnya di belahan bumi ini, waktu yang sedap untuk mabuk-mabukan adalah malam minggu.

Polisi di sana masih berupaya keras untuk mencegah terjadinya musibah demi musibah tersebut.

Ini potret buram yang layak disimak, khususnya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Bos, kelakuan buruk ini juga kerap menimpa pengemudi di Indonesia. Peristiwa terhangat terjadi Minggu 22 Januari lalu yang menewaskan sembilan orang di kawasan Tugu Tani Jakarta.

Aktris di belakang musibah, cewek Afriyani Susanti, sok jagoan bukan karena piawai mengandarai mobil (nggak punya SIM). Dia jadi blingsatan karena ‘dikomporin’ narkoba dan miras yang menggoda syarafnya. Beginilah jadinya kalau polisi leler mengawasi peredaran narkoba dan orangtua yang terbiasa membiarkan anak (masih) perawannya keluyuran di semalam suntuk.

Jahatnya pengaruh racun miras ini bukan hanya di jalan raya. Jeritan para wanita dan anak-anak dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga kerap terdengar.

Eni Karmila (30) warga Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun, luka bakar akibat disiram dengan minyak dan dibakar suaminya Budianto, tahun lalu. Gara-garanya si laki pulang larut malam dan mabuk-mabukan pula. Si istri yang tadinya menahan berang karena tak dikasih uang belanja bertanya, kok pulang malam kali. Mendengar ini si laki langsung menzaliminya dengan cara yang keji. Kekerasan ini terjadi untuk yang kesekian kalinya.

Cerita duka ini sebenarnya lebih nyaring terdengar di Papua. Sudah lama lah si miras sebagai salah satu pemicu utama munculnya kekerasan dalam rumah tangga di Papua. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Papua, Rika Monim, mengatakan, di Papua, kekerasan dalam rumah tangga akibat minuman keras dan pelecehan seksual masih cukup tinggi. Dan sebagian besar kasus KDRT yang terjadi disebabkan suami dalam pengaruh miras kemudian menyakiti pasangannya.

Sebagai seorang menteri, bos pastilah lebih tau soal ini. Pertanyaannya, dengan kejadian ini apakah masih nekat untuk mencabut Perda miras ini. Mana lebih penting, keselamatan orang di jalan raya, menghindari KDRT, atau karena Perda Miras bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Keppres, UU, misalnya, bukanlah kitab suci yang tak bisa diperdebatkan. Ia bisa diubah kalau para abdi negara ini bekerja dengan hati nurani.

Oh ya, titip salam juga buat Kapolda Sumut. Maunya bersuara lantanglah menolak usulan Mendagri ini. Jangan cuma bisik-bisik sehingga tak tahu khalayak setuju atau malah senang. Menangani soal narkoba saja kan masih kelabakan, tambah lagi miras. (*)

Cinta Penelope Istri Keenam Mustafa ‘Debu’?

Gonjang-ganjing pernikahan Cinta Penelope dan Mustafa ‘Debu’ terus berlanjut. Terkini, pernikahan mereka dianggap tidak sah. Cinta pun kabarnya jadi istri keenam penyanyi religi itu, bukan istri ketiga seperti yang disebut-sebut sebelumnya.

Sumber membocorkan, pernikahan dilakukan tanpa adanya wali dari pihak Cinta. Selain itu pernikahan pun tanpa dihadiri oleh saksi dari kedua pihak. “Pernikahan yang dilakukan oleh Mustafa Debu itu tidak valid. Pernikahan tersebut dilakukan tanpa wali dan saksi menurut Islam,” ujar sumber yang enggan disebut identitasnya, kemarin.

Sumber lain mengungkapkan, saat ini Mustafa sudah menikah enam kali, termasuk sama Cinta. Yang pertama, Shakurah. Dia masih tercatat salah satu personel Debu. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak yaitu Abdullah dan Amatullah. Namun, selama ini Mustafa selalu mengakui bahwa Shakurah adalah saudarinya.

Kedua, Fatimah Husnia. Belum jelas masih sah atau sudah diceraikan Mustafa. Keduanya dikaruniai dua orang anak. Tiga, Fatimah Zahrah, adik dari Fatimah Husnia. Ia juga personel Debu. Empat, Silfani Arifo. Disebut-sebut istri keempat, Silfani Arifo telah memberikan tiga anak kepada Mustafa, yaitu Jasmine, Sabah dan Raihana. Mustafa pun dikabarkan telah menikah dengan seorang pianis Debu. Dan terakhir, tentu saja Cinta Penelope, sang penyanyi yang berciri khas tato di tubuhnya.

Mendengar tudingan itu, Mustafa masih kokoh dengan pendiriannya untuk tak berkomentar masalah pernikahannya. “Apa pun tentang urusan pernikahan, saya mohon maaf itu hal prinsip yang tidak saya ungkapkan. Jadi saya no comment semua yang disampaikan,” ungkapnya saat dihubungi wartawan, kemarin.

Namun sejurus kemudian, Mustafa memaklumi kalau banyak pihak yang menentang dirinya menikahi Cinta. “Saya begini keadaannya, otomatis pasti banyak yang tidak setuju dilihat dari sosok dua orang ini (Cinta dan Mustafa).”

Sebelumnya, Cinta malah mengaku serba salah saat ditanya perihal kabar bahagia pernikahannya. Ia malah menjawab “Kalau aku bilang nikah, nanti ada yang komplain. Bilang nggak nikah juga ada yang komplain, sama saja.”

“Selama ini orang terlalu banyak tahu tentang hidup aku, jadi nggak nyaman. Kali ini aku mau mencoba lebih diam,” ketusnya.
Meski dikabarkan telah menikah, ia rela disebut masih menjomblo. “Mau dibilang jomblo, sumpah sekarang memang aku nggak punya pacar,” ujarnya. (bcg/net/rm/jpnn)

Terkait Sengketa Lahan Eks HGU PTPN 2, Gatot Minta Bantuan DPD

JAKARTA-Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho meminta bantuan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk menyelesaikan kasus sengketa lahan eks HGU PTPN 2. DPD diharapkan mendorong Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan kementerian terkait untuk cepat mengambil tindakan.
“Saya tadi minta DPD memberikan penguatan, misal untuk urusan dengan BPN dan Kemenkeu,” ujar Gatot kepada wartawan usai bertemu Komite I DPD di Senayan, Selasa (24/1).

Dalam pertemuan itu, Gatot memaparkan perkembangan kerja Tim Khusus yang dibentuk Pemprov Sumut, yang punya tugas mencari solusi-solusi konflik lahan eks HGU PTPN 2. Dijelaskan Gatot, awal mulanya pada 1965 ada HGU PTPN II yang habis pada 2002. Pada 2002 itu lantas ada perpanjangan HGU seluas 56.341,7 hektar. Sedang seluas 5.873,06 hektar yang diusulkan Tim Khusus untuk didistribusikan ke petani, pensiunan, dan sebagainya, dikeluarkan dari areal eks HGU.

Masalahnya, terang Gatot, yang seluas 56.341,7 hektar itu belum jelas batas-batasnya. “Belum jelas fisiknya, BPN belum mau sebelum clear and clean,” ujar Gatot.

Nah, Tim Khusus yang dibentuk Gatot pada September 2011, diberi tugas untuk memperjelas masalah ini. Tim Khusus yang masa tugasnya diperpanjang hingga Mei 2012 ini bertugas melakukan pemetaan. “Tim tengah melakukan mapping, mana dari 56.341,7 hektar itu yang menjadi HGU PTPN 2,” ujar Gatot.

Sebelumnya, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sumut, Rahmat Shah, menilai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah Sumut tidak mampu bekerja secara baik, sehingga kasus-kasus sengketa lahan tak kunjung terselesaikan.

Rahmat menjelaskan, delegasi Komite I DPD pada 30 November 2010 melakukan pertemuan dengan BPN Kanwil Sumut yang diikuti seluruh Kepala BPN Kabupaten/Kota se-Sumut, membahas masalah tanah eks HGU PTPN II dan tanah Sari Rejo.

Hasil pertemuan, Kakanwil BPN Sumut menjanjikan dalam tempo dua bulan akan diselesaikan pemetaan lahan eks HGU PTPN. “Tapi hingga kini tidak ada,” cetus Rahmat Shah kepada koran ini pekan lalu.

Sementara itu, konflik lahan eks HGU PTPN 2 Sei Semayang di Kota Binjai, terus berkepanjangan. Bahkan, bentrok sesama warga rentan terjadi. Untuk mengantisipasi bentrok sesama warga itu, Zainuddin Purba, salah seoroang angggota DPRD Binjai, meminta kepada warga untuk bersatu.
Permintaan Zainuddin Purba, yang akrab disapa Pak Uda itu, disampaikannya langsung kepada kelompok tani Anuggrah Tunggurono, saat mengadakan pertemuan di Jalan Bangau, Lingkungan IX, Kelurahan Mencirim, Kecamatan Binjai Timur, Senin (23/1), sekitar pukul 21.00 WIB. “Sekarang ini kita (warga, Red) harus bersatu untuk mengatasi bentrok sesama kita. Jangan sampai kita bertumpah darah saat berjuang, tetapi hasilnya pengusaha luar yang menduduki lahan yang sedang kita perjuangkan ini,” tegas Zainuddin Purba.

Lebih jauh disampaikan Zainuddin Purba, dalam sengketa atau konflik lahan eks HGU PTPN 2 ini, banyak ‘hantu’ tanah yang mengambil keuntungan dari masyarakat. “Saya siap mendukung warga demi memperjuangkan haknya. Tapi, saya tidak akan dukung, jika warga sudah bergabung dengan ‘hantu’ tanah dalam berjuang. Karena saya takut, lahan ini akan jatuh ke tangan para pengusaha dengan memanfaatkan masyarakat,” ucapnya.
“Kalau kita bersatu, kita dapat melawan ‘hantu’ tanah yang secara perlahan masuk ke tangah-tengah masyarakat. Sebab, perpecahan itulah yang diinginkan oleh para pengusaha di atas sana,” jelasnya.

Menanggapi ucapan Zainuddin Purba, Suratman, salah seorang warga mengajukan pertanyaannya terkait manfaat lebih jauh bergabungnya sesama kelompok tani. “Ada satu hal yang kami perlu tahu. Sejak awal, kami sudah membersihkan lahan, sampai-sampai satu orang warga kami ditangkap polisi. Nah, kami mau tahu, dengan bergabungnya kami dengan kelompok lain, apa dapat membebaskan warga kami yang sudah diamankan? Kalau tidak bisa, untuk apa kami bergabung dengan kelompok tani lain, yang kesehariannya hanya berdiam diri dan ikut menanami lahan yang sudah kami bersihkan,” tanya Suratman dengan tegas.

Menyikapi hal itu, Zainuddin Purba menjamin dapat mengeluarkan warga yang sudah diamankan oleh polisi tersebut. “Kalau kita bergabung, saya jamin. Dalam waktu dua hari ini, warga yang sudah diamankan bisa kita bebaskan. Sebab, setelah kita bergabung, kekuatan kita semakin besar. Untuk itu, kita dapat meminta PTPN 2 agar segera mencabut pengaduannya. Dengan demikian, warga kita yang diamankan dapat bebas. Kalau pihak PTPN 2 tidak mau menyabut pengaduannya, kita ancam aja sekalian, dengan meratakan tanaman tebu yang lainnya,” tegas Zainuddin Purba di hadapan puluhan warga tani.
Sebelum pertemuan itu berakhir, Abdul Rahman, seorang warga setempat mengatakan, kalau ia dan warga lainnya sangat setuju kalau semua warga bergabung. (sam/dan)

Ibu Bayi Kembar Empat Mulai Normal

Medan-Kondisi bayi kembar empat yang lahir, Senin (23/1), terlihat normal dan wajar. Kondisi sang ibu pun sudah mulai normal. Setidaknya hal ini diungkapkan sang ayah, Jhon Piter Manik (38), di RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) Stella Maris di Jalan Samanhudi/Jalan Multatuli.

“Kondisi keempat anak kami sampai saat ini sehat dan tidak ada ditaruh di ruang inkubator tapi di ruang bayi normal,” katanya, Selasa (24/1) pagi.
Rencana kepulangan dari rumah sakit, Jhon Piter menyebutkan, tergantung dokter karena menunggu istrinya benar-benar sehat dulu. “Saat ini istri saya sudah bisa makan dan diajak berbincang-bincang,” paparnya. “Nanti, saat sudah umur satu atau dua bulan baru akan dilakukan Tardidi (Baptisan Air, Red). Pasti akan kami adakan pesta suka cita mengenai kelahiran anak kami,” ungkapnya sambil tersenyum. (jon)

Pergantian Direksi yang Sangat Bising

Bising! Itulah satu kata yang bisa menggambarkan dengan tepat setiap akan terjadi penggantian direksi di sebuah perusahaan BUMN. Di antara yang bising-bising itu, yang paling berisik ada dua: proses pergantian direksi di 15 perusahaan perkebunan dan satu perusahaan telekomunikasi.

Oleh: Dahlan Iskan

Memang, masa jabatan direksi di 15 perusahaan perkebunan BUMN segera berakhir. Demikian juga di Telkom. Persiapan penggantian direksi pun harus dilakukan. Maka,  terjadilah apa yang terjadi sekarang ini, hari-hari ini, Perang Baratayudha! Calon yang diperkirakan akan menjadi direktur utama dihancur-hancurkan. Lewat SMS maupun kasak-kasuk. Mereka itu harus digulingkan. Kalau perlu sekalian menterinya!

Beredar pula susunan direksi baru di beberapa BUMN yang katanya sudah direstui menteri atau deputi atau DPP berbagai partai. Kalau membaca susunan direksi itu, seolah-olah sudah seperti yang sebenar-benarnya. Beredar pula daftar riwayat hidup banyak orang yang dipuji-puji dengan hebatnya. Merekalah yang dijamin pasti berhasil menjadi direktur atau direktur utama.

Kebisingan itu bertambah-tambah karena setiap orang juga melobi kanan-kiri, atas-bawah, muka-belakang. Termasuk melobi teman-teman dekat saya. Juga melobi adik saya yang hidup sederhana di rumah Perumnas di Madiun. SMS saya pun penuh dengan lalu lintas maki-maki dan puji-puji.
Melihat dan merasakan semua kebisingan itu, saya teringat kejadian beberapa tahun lalu. Yakni ketika terjadi pembunuhan yang latar belakangnya hanya ingin jadi direktur utama anak perusahaan BUMN. Bayangkan. Baru rebutan jadi direktur anak perusahaan saja sudah sampai terjadi pembunuhan. Sampai melibatkan pejabat negara yang begitu tingginya. Apalagi yang ini rebutan bapak perusahaan.

Menyaksikan riuhnya suasana, saya mengambil kesimpulan: saya harus menjauhkan diri dari bisikan pihak mana pun. Saya tidak boleh mendengarkan omongan, SMS, surat, telepon, serta segala macam bentuk rayuan dan makian. Saya ingin berkonsentrasi pada menemukan orang yang memenuhi kriteria yang sudah saya umumkan secara luas: integritas dan antusias. Saya tidak lagi memasukkan unsur kompetensi dan kepandaian. Semua calon untuk level seperti itu pasti sudah kompeten dan pandai.

Sebelum menemukan mereka itu,  saya harus menemukan dulu orang yang layak saya dengarkan pandangannya. Yakni orang yang tahu soal perkebunan, yang tahu orang-orang di lingkungan perkebunan, dan orang itu harus memiliki integritas yang bisa diandalkan.

Dari orang seperti itulah, saya akan banyak mendengar. Cara seperti ini juga saya lakukan di PLN dulu. Ketika saya ditunjuk untuk menjadi direktur utama PLN dan saya diberi wewenang untuk memilih siapa saja yang akan duduk di tim saya sebagai direktur PLN, saya mencari dulu satu orang yang integritasnya dikenal baik di lingkungan atas PLN. Kepada orang itulah, saya banyak berkonsultasi dan dari orang itulah saya banyak mendengarkan. Mengapa saya memilih jalan itu” Itu saya lakukan karena saya belajar dari pengalaman panjang: Orang yang integritasnya baik biasanya juga akan memilih orang yang integritasnya baik.

Mengapa? Saya merasakan di BUMN itu terjadi kecenderungan seperti ini: Orang yang integritasnya baik biasanya merasa jadi minoritas di lingkungannya. Orang yang integritasnya baik biasanya merasa termarginalkan di lingkungannya. Karena itu, kalau dia diberi kesempatan untuk bisa mengusulkan seseorang menduduki jabatan strategis, secara manusiawi dia akan mencari teman yang sama baik integritasnya. Dia akan terdorong untuk berusaha memperbanyak orang-orang yang berintegritas tinggi di lingkungannya. Dia bercita-cita untuk tidak menjadi minoritas lagi.

Kalau di dalam satu board of director mayoritas direksinya sudah memiliki integritas yang tinggi,  hasilnya akan luar biasa banyak:  direksi itu akan kompak dalam bekerja, tidak akan ada saling curiga, program-program bisa dipilih yang paling bermanfaat untuk perusahaan (bukan yang bermanfaat untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya), keputusan bisa diambil dengan cepat, lebih berani menolak intervensi, dan yang paling penting mereka akan menyusun tim untuk tingkat di bawahnya dengan cara memilih orang-orang yang integritasnya juga baik. Kalau semua lapisan paling atas dan lapisan di bawahnya sudah sama-sama memiliki integritas yang tinggi, perusahaan akan maju, lestari, dan kultur perusahaan pun akan terbentuk dengan kukuhnya.

Untungnya, dalam proses penyusunan direksi baru perkebunan ini, saya bisa segera menemukan orang yang paling pantas saya dengar pandangannya. Dengan demikian,  saya tidak terlalu lama terombang-ambing di tengah kebisingan itu. Terima kasih, Tuhan!
Orang yang saya maksud itu tergolong orang dalam perkebunan. Kebetulan, namanya mirip dengan nama saya: Dahlan Harahap. Beliau saat ini masih menjabat direktur utama PTPN IV di Medan.  Perkebunan kelapa sawitnya maju pesat. Perusahaannya berkembang kukuh. Uang cash-nya saja lebih dari Rp1 triliun.

Beliau juga dikenal sebagai orang yang integritasnya sangat baik. Tahan godaan: uang maupun politik.

Posisi beliau juga sangat netral karena satu alasan ini: bertekad tidak akan mau lagi menjabat direktur BUMN. Dia sudah bersumpah di depan Tuhan untuk berhenti sebagai direktur BUMN. Sudah cukup, katanya. Dengan sikapnya yang seperti itu, pandangannya tentu lebih jernih. Tidak ada agenda yang terselubung. Tidak ada keinginan yang tersembunyi, kecuali untuk kemajuan dan integritas BUMN.

Saya pun menemui beliau dengan dua tujuan. Pertama, saya ingin merayu agar mau duduk lagi sebagai direktur BUMN. Bahkan bisa naik menjadi direktur utama holding perusahaan perkebunan seluruh Indonesia. Tetapi, usaha saya ini gagal. Beliau tetap teguh pada tekadnya untuk berhenti sebagai direktur di BUMN. Apakah akan bekerja di perkebunan swasta” Tidak. Beliau ingin mengurus kewajibannya kepada Tuhan!

Setelah gagal merayu beliau, barulah saya menjalankan misi yang kedua. Saya minta pandangan yang objektif tentang orang-orang di seluruh perusahaan perkebunan milik BUMN. Saya semakin respek karena sepanjang pembicaraan itu, beliau sama sekali tidak mau menyebut kekurangan apalagi cacat satu orang pun. Beliau sama sekali tidak mau mengemukakan sisi negatif dari siapa pun di lingkungan perkebunan. Tentu,  saya juga tidak mau menanyakan sisi-sisi negatif itu. Saya hanya ingin fokus mencari siapa yang terbaik-terbaik di antara yang ada.

Dari pandangan-pandangannya, saya bangga bahwa di BUMN masih ada orang seperti Dahlan Harahap. Juga seperti Murtaqi Syamsuddin di PLN. Tentu, saya juga memuji orang seperti Karen Agustiawan, direktur utama Pertamina. Seharusnya, dia berangkat untuk menghadiri pertemuan besar Davos di Eropa. Tetapi, karena akan ada acara BUMN yang penting, Karen membatalkan keberangkatannya. Saya bangga atas sikapnya ini: mengurus perusahaan lebih penting daripada  menghadiri pertemuan sebesar Davos sekalipun!

Beberapa direktur utama bank BUMN saya lihat juga memiliki integritas yang tinggi. Demikian juga orang seperti Ignasius Jonan, Dirut PT KAI. Saya sungguh berharap akan melihat lebih banyak lagi orang-orang seperti beliau-beliau itu. Integritas dan antusias.

Saya pun berdoa siang-malam untuk segera menemukan orang yang layak saya dengar pandangannya untuk Telkom yang kini lagi bising-bisingnya. Ini penting karena misi memperbanyak orang dengan integritas tinggi di BUMN adalah keniscayaan. Sangat berbahaya kalau BUMN jatuh ke tangan orang yang integritasnya diragukan. BUMN harus menjadi senjata kedua bagi presiden untuk melaksanakan program pembangunan ekonomi seperti yang dijanjikan kepada rakyat dalam masa kampanye dulu. Senjata pertamanya adalah APBN.

Di saat swasta masih belum tertarik ke pembangunan infrastruktur besar-besaran, BUMN harus mengambil peran itu. Di saat para pengusaha swasta bersikap wait and see akibat gejolak ekonomi di USA dan Eropa, BUMN harus firm untuk menjalankan seluruh ekspansinya dan melakukan investasi besar-besaran. Bahkan, di saat seperti ini, keberanian melakukan investasi harus menjadi salah satu  KPI (Key Performance Indicators) direksi BUMN.
Sungguh wajar dalam setiap terjadi gejolak ekonomi, pihak swasta bersikap hati-hati. Lalu bersikap tunggu dulu. Maka, dalam situasi seperti ini, sikap firm BUMN diperlukan untuk memberikan rasa percaya diri yang tinggi. Kalau di satu pihak swasta lagi ragu-ragu dan bersikap wait and see sedangkan di pihak lain BUMN tidak firm, perekonomian akan terganggu. Tetapi,  kalau swasta melihat BUMN terus bekerja dan berinvestasi, keragu-raguan itu akan berkurang.

Tentu, sangat sulit mengharapkan sebuah BUMN bisa firm dan bertindak cepat kalau di antara direksinya tidak kompak. Karena itu,  saya dan dewan komisaris di semua BUMN akan terus memonitor kekompakan ini. Semua direksi yang hebat-hebat pun tidak akan banyak gunanya kalau tidak padu. Dia hanya akan seperti soto enak yang dicampur dengan rawon enak.

Apa boleh buat. Sementara pergantian direksi di 15 perusahaan perkebunan itu masih dalam proses, kebisingan yang sangat tinggi masih akan terus terjadi. Dan saya harus tabah mendengarkannya. Untungnya,  sesekali ada hiburan dari orang seperti Nazaruddin. (*)

Penulis adalah Menteri Negara BUMN

Lampung Rusuh, 60 Rumah Dibakar, 28 Dirusak

KALIANDA – Perselisihan antara kedua belah kubu yang saling bertikai sejak Minggu (22/1), akhirnya pecah. Ribuan massa mengamuk membabi buta di Dusun Napal, Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lamsel sekitar pukul 12.30 Wib, kemarin (24/1).

Akibatnya, sebanyak 60 rumah ludes di bakar dan 23 lainnya di rusak. Bukan itu saja, sebanyak 8 unit sepeda motor juga ikut di bakar massa, termasuk 4 unit traktor milik warga Desa Sidowaluyo.

Sementara, di Desa Kota Dalam sebanyak, sekitar 5 rumah dan 10-an warung di rusak. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.  Hanya saja, Ismail (55)  dan Erik (27) keduanya merupakan warga Desa Kota Dalam, Sidomulyo mengalami luka-luka.

Ismail mengalami luka bacok di kepala bagian depan sebelah kanan dan tangan kanan nyaris putus. Sementara Erik mengalami luka sabet pada kaki kiri bagian betis. Keduanya kemudian dilarikan warga ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moloek (RSUDAM) untuk mendapatkan perawatan intensif.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, sebelum massa membabi buta di Desa Sidowaluyo, ratusan massa yang membawa berbagai jenis senjata tajam, mulai dari pedang, celurit, tombak menghampiri Desa Kota Dalam, Sidomulyo, sekitar pukul 09.00 WIB.

Di sana, aksi bentrok pun tak dapat dihindarkan. Beruntung, aksi itu dapat segera dilerai aparat Kepolisian dan TNI yang sebelumnya telah berjaga-jaga di lokasi kejadian dan seputaran Kecamatan Sidomulyo.

Namun, sekitar pukul 11.00 WIB, massa terus berkumpul dari berbagai daerah dan desa di Desa Kota Dalam, hingga akhirnya mencapai ribuan. Dengan membawa berbagai jenis sajam, mereka kemudian bergerak berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor dan truk menuju Desa Sidowaluyo, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Desa Kota Dalam.

Meski aparat Kepolisian dan TNI telah berusaha melerai massa, namun  amuk massa tak dapat terelakkan. Sampai di sana, massa langsung mengamuk dengan melempari rumah warga Desa Sidowaluyo baik dengan batu maupun bom molotof hingga rusak dan terbakar. Beruntung, pada saat itu rumah warga sudah dalam keadaan kosong. Karena telah mengungsi mengetahui desanya akan diserang.

Di lain sisi, kerusuhan yang terjadi di Kecamatan Sidomulyo itu berdampak pada perekonomian di kecamatan itu. Pasalnya, Pasar Sidomulyo yang berisi ratusan kios dan los tutup. Tak ada transaksi perdagangan sama sekali disana. Termasuk juga mini market dan retail serta tempat usaha disana juga ditutup. Karena warga khawatir menjadi sasaran amuk massa. Bahkan, anak-anak sekolah di kecamatan itu, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA dan sederajat juga diliburkan.

Hingga berita ini diturunkan, ratusan personel Polres Lamsel, dibantu anggota Brimobda Polda Lampung dan anggota TNI, baik dari Korem 043 Garuda Hitam dan Kodim 0421 Lamsel,  yang bersenjatakan laras panjang masih berjaga-jaga di sekitaran lokasi kejadian.

Sekadar diketahui, kericuhan warga ini diduga dipicu ulah beberapa orang yang mengemudikan sepeda motor secara ugal-ugalan di seputaran Pasar Sidomulyo dengan cara menggeber-geber kendaraannya sembari berteriak menantang salah satu kubu.

Spontan , seorang tukang parkir bernama Ridwan (40) warga Desa Kotadalam menghampiri segerombolan pemuda tersebut. Namun sayangnya, pria yang belum lama bekerja di pasar Sidomulyo itu mendapat bogem mentah dari salah satu pemuda itu  di bagian dadanya. (dur/jpnn)

Cagub dan Cawagub Aceh Ujian Baca Al-Quran

Tiga Pasangan Lulus

BANDA ACEH- Dewan juri uji mampu membaca Alquran menyatakan tiga pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang mendaftar pasca putusan MK No 1/SKLN-X/2012, lulus. Mereka dinilai mampu membaca Alquran setelah diuji di depan publik, Selasa (24/1).
“Keenamnya lulus, mereka mendapatkan penilaian bervariasi dari dewan juri,” kata Ketua Kelompok Kerja Fasilitasi Uji Baca Quran Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Akmal Abzal.

Dia mengatakan, Zulfinar (satu-satunya kandidat perempuan) mendapatkan penilaian tertinggi dari dewan juri. Dia mendapatkan peringkat pertama, disusul kemudian Zaini Abdullah di tempat kedua, Hendra Fadli peringkat ketiga, Muzakir Manaf peringkat keempat, Yuli Zuardi Rais di tempat kelima dan Fakhrul Syahmega di peringkat terakhir.

Dalam uji mampu baca Alquran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tersebut, kandidat calon gubernur dari jalur perseorangan Fakhrul Syahmega tampil sebagai peserta pertama. Setelah Fakhrul Syahmega tampil, giliran Yuli Zuardi Rais tampil sebagai perserta kedua. Muzakir Manaf peserta ketiga dususul kemudian oleh Hendra Fadli dan Zaini Abdulllah diurutan terakhir.

Ada pun ayat dan surah Alquran yang dibacakan para kandidat dalam uji mampu tersebut, adalah berdasarkan undian yang telah dilakukan pada pagi hari sebelum tes dilakukan.

Fakhrul Syahmega membacakan tiga ayat dalam surah Al-Baqarah (ayat 168-171). Lima ayat dalam surah Al-Qashash (ayat 51-56), dan 10 ayat dalam Surah Al-’Adiyat (ayat 1-11).

Yuli Zuardi Rais, membacakan dua ayat dalam Surah Al-Baqarah (267-269), dua ayat dalam Surah Al-Qashash ( 29-31), dan 10 ayat dalam Surah Al-Qariah (1-11).

Sedangkan, Muzakkir Manaf membacakan satu ayat dalam Surah Al-Baqarah (113), dua ayat dalam Surah Al Qashash (76-78) dan tujuh ayat dalam surah At-tin (1-8).

Sementara itu, Zulfinar membacakan tiga ayat dalam Surah Ali-Imran (172-175), dan lima ayat dalam Surah Al-Mu’minun (33-38) dan delapan ayat dalam surah Al-Humazah (1-9).

Hendra Fadli membacakan empat ayat dalam Surah Al-Baqarah (153-157), lima ayat dalam surah Al-Qashash (51-56), dan tujuh ayat dalam surah Al-Zalzalah (1-8).

Terakhir, Zaini Abdullah membacakan satu ayat dalam surah Al-Baqarah (274-275) , surah Al-Mu’minun, dan Al-Humazah (1-9).
Akmal Abzal menambahkan, uji mampu baca Alquran tahap tiga tersebut, sama seperti sebelumnya. Melibatkan tim penguji independen dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Departemen Agama dan Lembaga Pengujian Tilawatil Quran (LPTQ). (slm/smg)

15 Nelayan Filipina Tewas Ditembak

BASILAN- Militer Filipina melaporkan, sekira 15 orang nelayan terbunuh dan tiga orang lainnya terluka ketika sekelompok bersenjata melepaskan tembakan ke tiga buah kapal. Peristiwa penembakan itu terjadi di Provinsi Basilan, Filipina yang merupakan basis dari gerilyawan separatis.
Menurut militer Filipina, penembakan itu disebabkan karena persaingan lahan memancing. Kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan terhadap peristiwa itu. “Mereka memancing di perairan yang dikuasai kelompok pemancing lainnya,” ujar juru bicara militer Filipina Letnan Kolonel Randolph Cabangbang, seperti dikutip AFP, Selasa (24/1).

Cabangbang juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan kelompok militan dan para gerilyawan separatis terlibat dalam insiden penembakan itu.(net/jpnn)

Loyalis Khadafi Balas Dendam

TRIPOLI- Para pasukan loyalis mantan penguasa Libya, Moammar Khadafi, mengambil alih Kota Bani Walid yang terletak di bagian tenggara Libya. Mereka juga mengibarkan bendera hijau di kota tersebut.

Perlawanan dari para loyalis Khadafi tampaknya sudah mulai menyebar di sejumlah wilayah Libya. Hal ini pun menunjukkan adanya perang saudara di Libya.

Di Kota Bani Walid, para loyalis Khadafi melakukan serangan ke markas mantan pasukan revolusi Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya. Setelah menyerbu markas itu, mereka bahkan berupaya untuk mengusir para mantan pasukan revolusi tersebut.

Bani Walid memang merupakan salah satu kota yang dipenuhi oleh warga loyalis Khadafi dan menjadi basis dari suku terkuat Warfallah. Mayoritas warga di Bani Walid juga menolak berdirinya pemerintahan baru di Libya. Angkatan Udara Libya mengatakan, saat ini pesawatnya sudah dikerahkan ke Bani Walid karena situasi di kota tersebut sudah cukup berbahaya.(net/jpnn)