Home Blog Page 14745

Jabal Noor Bagi-bagi 7.000 Paket Sembako

MEDAN-Majelis Ta’lim Jabal Noor Medan melalui Panitia Jabal Noor Peduli Umat membagikan 7.000 paket sembako bagi kaum duafa,  di  Jalan Ngalengko, Kamis (25/8). Pimpinan Majelis Ta’lim Jabal Noor Medan, Al-Ustadz KH Zulfiqar Hajar didampingi Ustad Makmur Situmorang, mengatakan pembagian 7.000 paket sembako ini sudah tahun ke-8.

“Allah SWT menyuruh manusia agar saling tolong menolong dalam segala kebaikan. Tahun ini yang diberikan mencapai 7.000 paket.  Kita juga membantu 400-an anak pengajian asuhan Jabal Noor,” terang KH Zulfiqar Hajar. (jon)

Seni Ukir Inai Diminati

MEDAN- Bukan hanya kuliner yang disajikan di Ramadan Fair yang terletak di Jalan Sisingamangaraja Medan. Tapi berbagai macam seni juga diadakan di tempat yang disediakan untuk publik ini. Seperti seni ukir inai yang sedang booming saat ini.

Seni ukir inai ini ada di bagian non kuliner atau terletak di bagian belakang Ramadhan Fair. Ukir inai salah satu bagian yang difavoritkan di sini Bukan hanya pengunjung, tapi pemilik dan penjaga stan makanan juga menyukai seni ukir yang menggunakan inai ini. Inai yang dilukis pada kulit akan bertahan lebih dari seminggu, dan ini dapat menjadi penghias.

“Kita menggunakan inai untuk catnya, inai kan bisa bertahan lebih dari seminggu di kulit,” ujar Mukhlis, pelukis inai ini. Selain motif India, motif Arab dan motif tatto juga disediakan pada seni ukir inai ini.

Untuk sekali lukisan inai, dibayar sesuai dengan tingkat kesulitan yang diberikan pada inai, mulai dari motif hingga corak. “Pemasangan kita buka mulai dari Rp15 ribu hingga Rp250 ribu,” ucap Mukhlis. Tetapi yang dihargai Rp250 ribu itu biasanya untuk pengantin. “Tapi kalau pintar nawar juga kita kasih kurang harganya,” tambah Mukhlis.

Untuk pengerjaan satu ukiran, memakan waktu minimal 15 menit. Dan setiap pengerjaan ukiran ini dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan para pengrajin, agar inai tidak meleleh hingga membuat bentuk seni ukir berkurang. (mag-9)

627 Calon Haji Gagal Berangkat Tahun Ini

MEDAN-Sebanyak  627 jamaah calon haji asal Sumatera Utara yang harusnya berangkat ke tanah suci tahun ini, belum membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) hingga batas waktu yang ditetapkan, Jumat (26/8). Dengan demikian, jatah keberangkatan mereka akan diisi jamaah yang masuk waiting list setelah mereka.

Kasubbag Hukmas Kementerian Agama Sumut (Kemenagsu) Chairul Syam yang ditemui Sumut Pos di ruang kerjanya menjelaskan, pelunasan mulai 15 Agustus 2011 hingga 26 Agustus 2011 tersebut, merupakan batas pelunasan tahap pertama Jadi, jika ada calon haji yang dijadwalkan berangkat tahun ini yang tidak melunasi BPIH hingga batas waktu yang ditentukan, 26 Agustus 2011, tidak diperbolehkan melakukan pembayaran pada 6 sampai 9 September 2011. Maka, secara otomatis ke 627 calon jamaah haji yang tidak melunasi BPIH tersebut akan masuk dalam daftar tunggu atau waiting list untuk musim haji berikutnya.

Yang menjadi persoalan, bila pelunasan BPIH tahap 2 tidak juga kunjung terpenuhi sesuai kuota haji yang telah ditentukan. Bila demikian, akan diserahkan ke kuota haji nasional. Caranya adalah kuota yang tidak terpenuhi itu akan ditutupi para calon jamaah haji dari daerah lainnya di Indonesia.
“Kalau tidak juga mencapai kuota haji pada pelunasan BPIH tahap 2, porsi yang ada akan diserahkan ke kuota nasional. Biasanya itu ditutupi dari daerah yang jumlah calon hajinya lebih banyak,” terangnya.

Pelunasan tahap dua dimulai 6 September 2011 dan berakhir 9 September 2011 mendatang. Jadwal ini dikhususkan bagi jamaah yang menurut daftar tunggu akan berangkat di musim haji berikutnya. Bila nantinya pada pelunasan tahap 2, porsi 627 calon haji yang tersisa itu terpenuhi oleh para calon jamaah yang masuk waiting list tertinggi, otomatis jatah keberangkatan yang kosong diberikan kepada mereka.

Mengenai jumlah waiting list calon jamaah haji Sumut, Chairul Syam mengatakan, sejauh ini yang terdaftar berkisar 60 ribu jamaah. Jadi, bisa dipastikan warga yang mendaftar haji saat ini baru akan berangkat ke tanah suci pada 8 tahun ke depan.

Sedangkan Kepala Kantor Kementerian Agama RI Sumut Syariful Mahya Bandar menuturkan, kurs saat ini adalah per 1 dolar Amerika Serikat seharga Rp8.621.

“Yang melunasi dari 8.234 CJH sampai tanggal 26 Agustus ini, sebanyak 7.607 calon jamaah. Sedangkan 627 calon jamaah belum melunasi BPIH,” ungkap Kepala Kantor Kementerian Agama RI Wilayah Sumut Syariful Mahya Bandar kepada Sumut Pos. (ari)

Dikira Berisi Uang, Rupanya Baju

Terdesak kebutuhan Lebaran, Ewindi (28), warga Desa Jaget Ayu, Kecamatan Jagong Langsa, Aceh Tengah, nekat mencuri tas milik Kartini (30), warga Desa Suka Maju, Kec Sultan Daulat Subussalam, Aceh Timur, dari bus yang mereka tumpangi. Ewindi mengira tas milik Kartini itu berisi uang, ternyata hanya berisi dua stel pakaian dan sebotol parfum. Namun karena telah melakukan pencurian, lelaki yang mengaku masih lajang ini pun harus meringkuk juga di Sel Mapolsek Sunggal.

Ceritanya, Rabu (24/8) sore Ewindi berangkat dari kampung halamanya ke Medan. Dia menumpangi bus L300, duduk di jok belakang. Kamis (25/8) pagi pukul 08.30 WIB, mobil yang ditumpanginya tiba di Terminal Pinang Baris, Medan Sunggal.

Namun saat ia hendak turun, dia terhalang oleh Kartini yang duduk tepat di depannya. Saat itu Kartini sedang sibuk menghubungi keluarganya yang hendak menjemputnya di Terminal Pinang Baris.

Melihat Kartini asik menghubungi keluarganya, Ewindi pun sedikit memaksa supaya bisa keluar. Nah, di sinilah lelaki berkaos oblong berwarna kuning itu bereaksi. Saat dia keluar, tangan kanannya langsung mengambil tas hitam milik Kartini dari bawah jok yang diduduki Kartini itu.

Semula wanita berjilbab hitam ini tidak mengetahui kalau tasnya sudah diambil. Saat dia turun, dia kecarian tasnya. Kemudian, wanita yang mengaku sebagai ibu rumah tangga ini menanyakan kepada supir mobil itu. Tiba-tiba, dia melihat Ewindi dengan tergesa-gesa membawa tas miliknya. Sontak, Kartini menjerit. Jeritan itu mengundang warga di Terminal Pinang Baris dan Ewindi pun ditangkap warga sekitar dan diserahkan ke Polsek Sunggal guna diproses. “Kufikir ada uang di dalam tas itu bang,” ujar Ewindi dengan logat Aceh saat ditanya mengapa melakukan pencurian itu.

Sementara itu, Kartini mengaku, di dalam tas hitam kecilnya itu hanya berisi baju dua pasang, sajadah dan satu botol parfum kecil. “Ininya isinya bang. Mana ada barang-barang berharga ditasku ini,” ujarnya sembari memasuki ruangan SPK Mapolsek Sunggal guna membuat laporanya.(fit/smg)

Efektifkan Ruang Terbuka Hijau

Wilayah Kecamatan Medan Selayang yang kondisi tanahnya melengkung seperti priuk membuat kecamatan ini sering kebanjiran. Selain itu, buruknya infrastruktur seperti jalan dann drainase membuat wilayah ini menjadi permasalahan yang sangat dikeluhkan warga. Berikut petikan wawancara wartawan koran ini Adlansyah Nasution bersama Camat Medan Selayang, Halim.

Apa permasalahan yang paling dikeluhkan warga Medan Selayang?
Buruknya infrastruktur seperti jalan dan drainase, masih menjadi permasalahan yang sangat dikeluhkan masyarakat Kecamatan Medan Selayang. Kondisi sejumlah jalan setapak dan jalan protokol di kelurahan tersebut mengalami kerusakan cukup parah. Lubang menganga, dan itu cukup memprihantinkan. Bahkan, ruas jalan setapak yang banyak dilalui warga sekitar belum disentuh pembangunan.

Kira-kira, apa yang menyebabkan jalan-jalan di Medan Selayang ini rusak?
Tak bisa dipungkiri, buruknya kondisi drainase lah yang menyebabkan ruas-ruas jalan di sini rusak. Drainase tak sanggup menampung debit air, sehingga meluap hingga menggenangi badan jalan bahkan ke rumah-rumah warga. Nah, inilah yang membuat aspal terkikis dan rusak.

Lantas, apa solusinya?
Kita saat ini terus berupaya membangun ruang terbuka hijau agar daya resap air di lokasi yang tergenang cepat kering. Dengan begitu, kita mendesak pihak SKPD yang belum merealisasikan program-program yang dianggarkan di APBD Kota Medan tahun 2011 agar segera direalisasikan, paling lambat Oktober mendatang.

Apakah selama ini pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kecamatan Medan Selayang sudah efektif?
Sampai saat ini, pemanfaatan ruang terbuka hijau masih belum sesuai dengan harapan yakni terwujudnya ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan. Menurunnya kualitas permukiman di perkotaan bisa dilihat dari berkembangnya kawasan kumuh yang rentan dengan bencana banjir/longsor serta semakin hilangnya ruang terbuka (open space) untuk artikulasi dan kesehatan masyarakat.(*)

Periksa Rumah Sebelum Mudik

MEDAN- Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga kembali mengingatkan masyarakat yang hendak mudik untuk memeriksa rumahnya sebelum ditinggal. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi aksi pencurian, kebakaran dan hal-hal yang tak diinginkan lainnya.

“Warga yang mudik harus memeriksa barang elektronik seperti lampu dan peralatan elektronik lainnya harus dalam keadaan padam. Kalau tidak digunakan, lebih baik dimatikan dan diputuskan dari aliran arus listrik,” kata Kapolrestan Medan Kombes Pol Tagam Sinaga Jumat (26/6).

Kemudian, Tagam juga mengatakan, warga yang meninggalkan dalam keadaan kosong juga harus mengecek keamanan rumah seperti pintu dalam keadaan terkunci dengan baik. Selanjutnya, pemilik rumah jangan lupa untuk melaporkan kepada tetangga di sebelah rumah dan kepling agar bisa mengawasi rumah tersebut.

Tagam juga mengimbau kepada warga untuk bersama-sama proaktif menjaga keaman lingkungan masing-masing selama Hari Raya Idul Fitri tahun ini. “Saya menginstruksikan kepada setiap kapolsek untuk berkordinasi dengan pihak kecamatan setempat, mendata rumah yang ditinggali pemiliknya sehingga penjagaan terhadap rumah kosong lebih mudah kita lakukan,” kata Tagam.

Sebelumnya, Camat Medan Tembung Hendra Asmilan mejelaskan, dalam memberikan keamanan rumah ditinggalkan diperlukan peran masyarakat untuk melakukan kordinasi kepada kepala lingkungan setempat agar kepala lingkungan mengetahui rumah yang ditinggali warga untuk mudika. “Warga seharus berperan aktif melaporkan kepada kepala lingkungan untuk kita pantau rumahnya selama kosong ditinggal mudik,” ungkapannya.

Sementara itu, Ketua Bhayangkari Polda Sumut Nyonya Wisjnu Br Sitepu didampingi Ketua Bhayangkari Polresta Medan Nyonya Tagam Sinaga serta unsur PKK Bhayangkari, Kasat Lantas Polresta Medan Kompol I Made, Kabag Ops Kompol Yusfi Nasution dan Kapolsek Medan Baru AKP Dony Alexander melakukan Sidak di 14 Pos Pam di wilayah hukum Polresta Medan, Jumat pagi.

Kepada sejumlah wartawan, Nyonya Wisjnu Br Sitepu mengatakan, kunjungan ini sebagai upaya dukungan kepada anggota Polri yang bertugas selama Ramadhan untuk semakin bersemangat dalam menjalankan tugasnya. “Anggota Polri harus tetap bersemangat, karena dalam keadaan berpuasa tetap menjaga keamanan masyarakat yang mudik ke kampung halamannya,” ujarnya saat berkunjung di Pos Pam Polonia, Polsek Medan Baru.

Dirinya juga berharap, personel kepolisian yang bertugas tetap berusaha memberikan yang terbaik dengan melayani masyarakat seperti memperlancar arus lalu lintas hingga memberikan rasa aman. “Intinya, saya berharap, bagi anggota Polri yang bertugas harus tetap berusaha menjaga keamanan dirinya, jangan nanti mengatur lalulintas, tapi mengatur dirinya lupa,” katanya.

Lebih lanjut dirinya juga menegaskan, kepada masyarakat Kota Medan harus lebih berhati-hati dan lebih waspada serta harus berusaha mengikuti peraturan berlalu lintas saat mudik. (mag-7)

Perangkat e-KTP Tiba di Medan

MEDAN- Setelah ditunggu sekian lama, akhirnya perangkat pendukung KTP elektronik (e-KTP) tiba juga di Medan. Namun begitu, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil belum bisa memastikan kapan peluncuran program e-KTP tersebut dapat dilakukan.

“Walaupun perangkat sudah tiba, tapi belum dirakit. Jadi kita tunggu saja,” kata Kadisdukcapil Kota Medan Darussalam Pohan, Jumat (26/8). Menurutnya, perangkat yang tiba di Medan tersebut langsung disalurkan ke masing-masing kecamatan. Namun, dari 21 kecamatan, tinggal satu kecamatan yang perangkatnya belum lengkap yakni Kecamatan Medan Polonia. “Perangkat yang belum dikirim ke Kecamatan Medan Polonia itu jenis pemindai sidik jari. Itulah kondisi yang nyata di lapangan,” ucapnya.(adl)

Buka di Rumah Biar Gratis

Anggi Rafila

Untuk mempererat rasa persaudaraan, Anggi Rafila sering melakoni bukber (buka bersama) teman. Percakapan antar teman juga terasa lebih seru saat buka bersama. “Topik pembicaraan lebih banyak dan bicaranya pasti tidak berhenti,” ujar finalis model busana muslim Ramadhan Fair ini.
Walau sering mengadakan buka bersama dengan teman-temannya, tetapi berbuka di rumah tetap yang paling disenanginya.

Karena lebih bebas makan, tanpa takut harus bayar. “Kalau di rumah kita bebas mau makan apa saja gratis. Coba kalau di luar, bukaan bayar, menu utama bayar, minum juga bayar kan. Makanya enak itu buka bersama keluarga, tapi kalau ngumpulnya enak buka SMA teman,” ucapnya.

Nah, menjelang Lebaran ini, Anggi yang merupakan anak kedua ini tidak menyukai kegiatan untuk membuat kue lebaran, selain tidak tahu hasil dan rasanya, menurut cewek yang suka makan Bakso ini, membuat kue lebaran sendiri merepotkan, “Aku tidak suka masak kue lebaran, repot, mending beli. Kan kita tahu hasilnya, seperti bentuknya yang cantik dan rasanya pasti enak,” tuturnya.

Hal yang paling sering dikenang saat Ramadan, gadis kelahiran Medan pada 9 Mei 1996 ini mengurangi sifat jahilnya. “Kalau puasa, aku biasanya tobat sedikit, jadi tidak terlalu jahil. Tetap gangguin teman, hanya saja tidak sesering hari biasa,” ujar anak ke dua dari empat bersaudara ini.

Siwi SMA Kartika 1 ini kemudian mengisahkan keisengannya di bulan Ramadan saat ia duduk di bangku SMP. “Biasanya aku jahil seperti nyubitin atau ngerjain. Tapi kalau puasa usilnya aku kurangi,” ujar nya sambil tertawa. Untungnya para teman dan keluarga Anggi memahami sifat jahilnya. “Aku jahilnya tidak merusak kok,” tambahnya membela diri. (mag-9)

Ber-KB Bukan Cuma Urusan Istri

MEDAN- Program Keluarga Berencana (KB) Nasional diperkenalkan sejak 1970-an. Berdasarkan data, peserta KB sebagian besar hanyalah istri, sedangkan KB untuk suami masih minim. Demikian dikatakan Kasie Advokasi dan KIE Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sumut Antony, Jumat (26/8).

“Kondom dan vasektomi atau lebih dikenal dengan Medis Operandi Pria (MOP) merupakan KB untuk suami. Tapi pria tidak banyak yang meminati program ini,” ujarnya.

Ditambahkannya, sampai hari ini masih sangat sedikit suami yang mau memakai alat kontrasepsi atau ber-KB. “Alasan mereka, adanya anggapan istri atau suami kalau yang ber-KB adalah urusan perempuan. Jadi istrilah yang harus berKB. Anggapan seperti ini keliru, karena KB bukan urusan perempuan saja tetapi juga urusan suami istri dan harus dipikirkan bersama-sama,” ujarnya.

Menurut Antony, beberapa hal yang perlu disadari dan dipikirkan bagi suami istri yaitu memperoleh dan mewujudkan kebahagiaan merupakan hak keduanya. Jumlah anak yang tidak terencana dapat mengganggu terciptanya keluarga bahagia. “Jadi jumlah anak dan jaraknya harus direncanakan suami istri secara matang. Jangan hanya keinginan satu pihak saja,” tuturnya.(jon)

Sahur Bersama Ketua DPW PKS Sumut, HM Hafez Lc MA

Terkenang Pengalaman di Timur Tengah

Cerdas dan punya banyak pengalaman di Timur Tengah. Itulah kesan yang ditangkap saat sahur bersama HM Hafez Lc MA. Lantas, apa pendapatnya soal konstelasi politik di Sumatera Utara akhir-akhir ini?

CHAIRIL HUDHA-Medan

“Apa kabarnya?” Itulah kata yang pertama diucapkan Hafez kepada Tim Sahur Sumut Pos memasuki rumah Ketua DPW PKS Sumut, HM Hafez Lc MA di Jalan Kenanga Raya, Gang Sosial No 4, Medan, Kamis (25/8) sekira pukul 04.30 WIB.

Di rumah berukuran sekitar 10 x 15 meter itu, tepatnya di ruang tamu, sudah digelar dua ambal berwarna merah. Hafez mempersilakan duduk. Hafez ternyata menghuni rumah kontrakan yang baru empat bulan ini ditempati. Sebelumnya, alumni Usuluddin Al Azhar Kairo itu menumpang di kediaman orangtuanya di Jalan Bromo Medan Di rumah itu, Hafez tinggal bersama istri dan anak-anaknya. “Kami biasa sahur di rumah ini jam setengah lima,” ucap ayah lima anak tersebut.

Itu berarti ada waktu sekitar satu jam untuk berbincang sebelum sahur.
Suami dari Mar’ ah Solichah mengakui, Ramadan kali ini banyak kegiatan yang dilakoninya, Seperti Ssafari Ramadan di seluruh DPD PKS se-Sumut. Namun, puasa dan kegiatan anak-anaknya, tetap dipantau.

“Seperti anak sulung saya, Haritsah Mujahid, adiknya Hanzholah Jundullah, dan Zahrah Elfirdausi. Sedangkan Hamzah Asadullah dan Ukasyah Jundi Rabbani masih kecil, belum berpuasa,” ujarnya.
Setiap Ramadan, Hafes teringat masa-masa di Mesir dulu. Setiap Ramadan, ia rajin mengeliilingi sejumlah masjid di sana. “Bedanya, saat ini saya mendatangi pengurus DPD PKS se-Sumut, dan ujungnya pertemuan di Masjid,” sebutnya.

Pria yang 11 tahun tinggal di Mesir ini kemudian bertutur sejumlah kenangan yang dilalui di negeri pyramid itu. Mulai diawasi intelijen Hosni Mubarak saat membuat diskusi di masjid dan di kampus, hingga ikut aksi demonstrasi menolak sejumlah kebijakan duta besar Indonesia yang hendak membatasi jumlah pelajar Indonesia.

Berbicara kepemimpinan Hosni Mubarak, Hafez membenarkan kalau tokoh itu memang dikenal warga negara setempat sangat dictator. Kebijakan itu, katanya, malah membuat banyak warga Mesir menjadi gelandangan dan miskin.

Tapi dulu Hosni berhasil merarik simpati rakyatnya dengan menjaga harga bahan pokok tetap murah. “Makanan di Mesir dengan menu roti gandum ditambah selai kacang hanya seharga Rp500. Jadi kalau makan makanan tiga kali di Mesir itu cukup Rp1.500, sangat murahkan kehidupan di Mesir 10 tahun lalu,” ucapnya.

Hafez mengakui rakyat Mesir suka membantu mahasiswa asal Asia. Bahkan, mahasiswa Indonesia banyak yang memiliki bapak angkat di Mesir. Ketika masa krisis moneter, saat itu dolar US tak boleh masuk ke Mesir jadi mahasiswa kesulitan untuk pembiayaan kuliah.

“Saya sempat mengajukan beberapa proposal bantuan uang kuliah ke negara teluk, tapi semuanya menolak. Alhasil, kami diarahkan ke sejumlah warga Mesir, tukang foto copy membantu memfoto copy buku, penjual makanan memberikan makanan gratis, begitulah seterusnya sampai boleh dolar US masuk ke Mesir,” bebernya. “Saya salut dengan masyarakat Mesir,” tambahnya.

Berbeda dengan Libya. Negara yang dimpimpin Muammar Kadhafi itu merupakan negara kaya dengan sumber daya alamnya. Tapi, karena banyaknya kepentingan luar negeri, khususnya Amerika Serikat, negara itupun digoyang  hingga. “Memang sudah ada amanatnya, Timur Tengah itu terus digerakkan (digoyang) oleh Amerika. Siapa bilang Iran itu bersebrangan dengan Amerika, justru dibalik itulah semuanya bisa diungkap,” sebut mantan dosen di berbagai perguruan tinggi swasta di Kota Medan.

Setelah berbicara tentang keunikan Timur Tengah, sebagai Ketua DPW PKS Sumut dia menilai persoalan politik Sumut. Menurutnya, masih banyak yang perlu dibenahi. Bila sekarang ini kader PKS yang menjadi pemimpin Sumut, justru menambah kesibukan baru untuk tetap menjaga eksistensinya.

Seperti kemarin, paparnya, hak interplasi yang diajukan sejumlah anggota legislatif di Sumut. Tentunya, partai dan kader yang duduk di kursi legislatif tak boleh diam. Semuanya harus bisa bergerak untuk menggagalkan hak interplasi itu. Akhirnya berhasil, semuanya bisa diredam.
“Jadi anggota legislatif  yang ada di DPRD Sumut harus bisa menekan dan meredam setiap isu politik yang memojokkan Pemprovsu, kader harus berjuang untuk kepentingan umat,” tambahnya.

Tak terasa waktu yang ditetapkan untuk sahur telah tiba. Dia menyampaikan untuk menu makanan sahur, biasanya ala kadarnya. Seperti sambal teri kacang mengingatkan masa di pesantren dulu, ikan bakar, ayam gulai dan sayur rebung. “Nah penutup makanannya, jeruk,” katanya.

Usai sahur dan Hafez melanjutkan kegiatannya dengan berkeliling setiap salat Subuh. “Saya tak hanya di satu masjid untuk salat Subuh, tapi cendrung berkeliling,” katanya yang telah mengenakan peci dan menaiki mobil Avanza Silver bersama dua anaknya yang ikut sahur. Tim akhirnya pamit meninggalkan rumah itu. (*)