Home Blog Page 15141

Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota

Satu per satu PLTU program 10.000 MW mulai menghasilkan listrik. Jumat malam lalu (27 Mei 2011) satu unit PLTU Lontar (beberapa kilometer sebelah barat Bandara Cengkareng) sudah bisa menghasilkan listrik 216 MW dari kapasitasnya 300 MW.

Memang, seperti umumnya PLTU baru, setelah dua hari dicoba, pembangkit tersebut harus dihentikan dulu beberapa hari karena diketahui ada beberapa bagian yang harus dikoreksi. Koreksi ini tidak serius karena hanya meliputi sensor temperatur di super heater, shoot blower yang temperaturnya terlalu tinggi dan cacat di anti-steam explotion. Tidak seperti di Suralaya-8, yang begitu dites, bagian yang penting gagal fungsi. Meski bulan lalu juga berhasil start kembali, prosesnya sempat menjengkelkan. Sebab, alat yang tidak berfungsi itu harus diganti dengan cara mendatangkan alat baru dari luar negeri. 

Yang lebih mengesalkan adalah PLTU di Paiton. Begitu dicoba, trafo step-up-nya terbakar. Penyelesaian PLTU ini harus mundur delapan bulan karena trafo 500 kv-nya harus dibuat lagi di pabriknya di Tiongkok.

Dengan selesainya unit-1 PLTU Lontar, kini sudah delapan unit yang menghasilkan listrik. Total sudah sekitar 3.000 MW dari 10.000 MW yang direncanakan. Kalau saja tidak ada masalah trafo di Paiton, angka itu sudah mencapai 3.600 MW. Sampai akhir tahun ini masih tambah lagi beberapa unit, sehingga mencapai paling tidak 4.500 MW yang selesai.

Kita memang sudah sangat lama menunggu lahirnya bayi listrik di Lontar itu. Hamilnya sudah terlalu lama. Teman-teman PLN bekerja keras setahun terakhir ini untuk menjaga agar bayi PLTU Lontar tidak lahir cacat.

Sejak awal proyek ini memang mengalami hambatan besar. Bahkan, sejak pencarian tanahnya yang harus berpindah-pindah. Ketika kali pertama meninjau proyek ini (tidak lama setelah dilantik menjadi Dirut PLN), saya geleng-geleng kepala. Apalagi waktu itu baru saja hujan. Mobilitas alat, barang, dan pekerja sangatlah lebay. Yang terlihat di sekitar proyek hanyalah kubangan dan lumpur. “Ini proyek horor,” kata saya dalam hati saat itu.

Di tengah-tengah horor itu teman-teman yang menangani proyek ini ternyata tidak kehilangan rasa humornya. “Normalnya proyek PLTU itu dibangun dulu, baru kemudian dilakukan firing (pembakaran untuk menghasilkan uap). Tapi, PLTU Lontar ini firing dulu, baru dibangun,” ujarnya.

Tentu saya tidak mengerti di mana lucunya kalimat itu. Setelah diceritakan kejadiannya, barulah saya tertawa. Ternyata, sebelum proyek ini dimulai, penduduk sekitar sempat marah dan melakukan pembakaran yang menghebohkan. Setelah peristiwa pembakaran itu diatasi, barulah proyek bisa dimulai kembali.

Sebenarnya permukiman penduduk cukup jauh dari proyek ini. Areanya terpisahkan oleh persawahan sejauh kira-kira 2 km. Untuk bisa sampai ke proyek ini pun sulitnya bukan main. Harus menundukkan dulu jalan darurat yang berkubang dan berkubang.

Sepintas proyek ini seperti dibangun di tengah persawahan.Ternyata PLTU Lontar juga dibangun di pinggir pantai. Hanya, pantainya berada nun jauh di 2 km sana. Bisa dibayangkan betapa horornya proyek ini. Betapa sulitnya mengerjakannya. Termasuk betapa beratnya membangun water intake dan water outflow-nya. Maka, sejak awal pun saya memastikan bahwa pembangunannya akan lambat.

Yang bisa dilakukan hanyalah bagaimana agar bayi horor ini tidak lebih lama lagi ngendon di kandungan. Juga bagaimana agar kualitas si bayi bisa lebih baik dibanding yang lahir setahun sebelumnya. Setidaknya, jangan seperti yang di Labuhan yang sampai setahun kemudian pun masih terkena asma.

Kalau benar yang selesai pada 2011 ini kualitasnya lebih baik, tentu itu sebuah prestasi. Begitu ketat mengendalikan proyek sekarang ini. Sampai-sampai berbagai ancaman dikeluarkan. Di PLTU Rembang saya sempat mengancam mengusir kontraktornya. Demikian juga di Suralaya-8, manajer proyek di sana benar-benar mengusir pimpinan proyek yang diangkat kontraktornya.

Henky Heru Basudewo, penanggung jawab proyek-proyek itu di Jawa, sampai menciptakan sistem baru agar bisa mengendalikan anak buahnya 24 jam. HHB, begitu panggilannya, terus menguber para manajer proyek seperti menguber perampok. Begitu ketatnya HHB mengendalikan para manajer, sampai-sampai muncul kesan seolah-olah mereka itu seperti terdakwa. Seolah-olah keterlambatan proyek itu gara-gara mereka. Padahal, mereka baru diterjunkan satu tahun lalu, justru ketika proyek-proyek itu sudah sangat terlambat.

Dengan selesainya proyek-proyek itu satu per satu, tekanan untuk pasokan listrik di Jawa sudah berkurang. Tiga bulan lalu pasokan listrik di Jawa kembali memburuk. Yakni, ketika tiba-tiba air di waduk Saguling, Jabar, menurun drastik. PLN tiba-tiba saja kehilangan 1.300 MW setiap hari. Saat itu mestinya kondisi listrik di Jawa hancur-hancuran. Tapi, berkat kerja keras teman-teman PLN di distribusi, masyarakat tidak terlalu merasakan krisis itu. Kini, kalaupun waduk Saguling kehabisan air lagi, tekanan kekurangan listrik tidak terasa lagi.

Sistem pengendalian proyek itu bisa efektif karena BlackBerry. Semua jajaran proyek harus menggunakan BlackBerry agar bisa berkelompok dalam grup BBM. Maka, seluruh jajaran proyek dikelompokkan dalam grup BBM. Saya dan Dirops Jawa-Bali dianggap kepala proyek juga, sehingga kami berdua dimasukkan ke dalamnya.

Di situlah sesama manajer proyek saling melapor, memberikan saran, jalan keluar, memberikan instruksi, memuji, sewot, ngedumel, dan meringis. Bahkan sekadar melucu, untuk melepas stres. Setiap akhir pekan mereka bertukar lelucon. Kadang leluconnya memakai bahasa Suroboyoan sehingga banyak manajer yang Batak protes tidak bisa ikut tertawa.

Dengan sistem BBM itu, praktis sesama manajer proyek terhubung selama 24 jam. Sejak pukul 05.00 sampai pukul 24.00. BBM biasanya sudah “on” pada pukul 05.00. Mulai saat itu siapa pun sudah boleh mulai mengajukan persoalan yang dihadapi hari itu. Sesekali saya ikut nimbrung.

Saya membayangkan, kalau semua unit di PLN membuat grup seperti itu, alangkah efektifnya organisasi ini. Juga alangkah turunnya SPPD, biaya perjalanan dinas. Apalagi, SPPD memang harus turun pascapuasa SPPD sebulan penuh yang berakhir pada 31 Mei 2011 lalu. Apalagi, kini diberlakukan “kuota SPPD’. Kuota ini diterapkan dengan sistem terkomputer, sehingga begitu kuotanya habis tidak bisa di-klik lagi. (*)

Polsek Hamparan Perak Tangguhkan Tahanan Pasangan Selingkuh

HAMPARAN PERAK- Polsek Hamparan Perak menangguhkan penahanan pasangan selingkuh, Afrideni  alias Deni (24) mahasiswa di Kota Medan dengan seorang ibu rumah tanggak beranak dua, Rahmadani  alias Dani (30).

Pasangan selingkuh itu ditangguhkan lantaran suami Dani, Pahrizal (35) tak bisa menunjukkan surat nikah. Kemudian, Deni dijamin orang tuanya karena mengalami luka-luka akibat dimasakan warga.

Kisah selingkuh pasangan ibu rumah tangga dengan seorang mahasiswa itu awalnya didapati suami Dani di rumahnya di Dusun III Desa Klambir Kecamatan Hamparan Perak, Jumat (3/6).

“Saya waktu itu pulang lebih awal, memang kalau piket. Saya sering pulangnya agak siang, waktu saya pulang, saya langsung masuk kamar. Saya lihat ada handphone yang diketahui bukan milik istri saya, saat saya cari-cari, ternyata handphone Deni yang sedang sembunyi di bawa tempat tidur,”sebutnya.

Karena kecewa, Pahrizal langsung berteriak minta tolong kepada warga sekitar, saat itulah warga datang dan langsung memasakan Deni. Akibatnya Deni babak belur. Keduanya langsung dibawa ke kantor polisi.

Kapolsek Hamparan Perak, AKP M Silaen yang berusaha dikonfirmasikan terhadap penangguhan penahan pasangan selingkuhan tersebut tidak dapat ditemui, namun seorang petugas di sana membenarkan penangguhan penahanan terhadap Deni dan Dani karena faktor kemanusiaan dan adanya jaminan dari pihak keluarga. (mag-11)

TBM Dira’s Juara I Lomba TBM Kreatif Sumatera Utara

MEDAN- TBM Dira’s Jalan Bajak IV Ujung keluar sebagai juara pertama Lomba Kreatif TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Tingkat Propinsi Sumatera Utara di Theme Park Pantai Cermin Serdang Bedagai, 27 hingga 31 Mei lalu. Hal ini didasarkan atas penilain dewan juri terhadap 40 TBM yang ikut berlomba.

Dra Dewi Iriani MPd peserta sekaligus pimpinan TBM Dira’s dalam presentasinya mendeskripsikan secara luas kharakteristik TBM Dira’s yang begitu kreatif yang mampu diterapkan dalam lingkungan masyarakat.
Tak hanya itu, TBM Dira’s juga secara signifikan mendorong terwujudnya masyarakat berbudaya baca, sebagaimana visi TBM Dira’s yakni Terwujudnya Masyarakat Sekitar TBM Dira’s Berbudaya Baca (Reading Society) Yang Sehat, Terampil Dan Berdaya Guna.

Beberapa poin dalam paparan Dewi Iriani yang mendapat sambutan dan apresiasi dari kalangan tim juri, adalah pelayanan kreatif yang dikembangkan TBM Dira’s dalam bentuk Taman Bacaan Keliling (TBK).  TBK ini menggunakan kendaraan becak yang dimodifikasi dan dilengkapi dengan rak buku, dan di dalamnya tersedia buku-buku bacaan yang berkualitas yang selalui diperbaharui (update) varian ragam dan judulnya secara periodik.
Alasan TBK TBM Dira’s menggunakan beca agar mampu menjangkau rumah-rumah masyarakat di dalam gang yang sulit ditempuh kendaraan roda empat. Di samping itu lebih efisien dalam hal pembiayaan operasionalnya karena tidak menggunakan bahan bakar.

Lebih lanjut Dewi menjelaskan, kegiatan kreatif lainnya yang dilakukan TBM Dira’s adalah melakukan hubungan kemitraan dengan instansi baik pemerintah maupun swasta dengan memanfaatkan fungsi sosial dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang diemban instansi tersebut.
Atas paparan Dewi Iriani, tim juri memberi penilaian tertinggi dan menetapkan TBM Dira’s Medan sebagai Juara I Lomba Kreatif TBM Tingkat Sumatera Utara, TBM Cell Power Indonesia, TBM Pincala Tanah Karo, TBM Al-Hiram Deli Serdang,  dan TBM Bintang Meriah Deli Serdang.(dra)
dan Juara VI TBM Cerdas Pintar Serdang Bedagai. (dra)

PTS Liar Tumbuh Subur

Hati-hati Pilih Kampus

MEDAN-Perguruan tinggi swasta (PTS) liar alias illegal atau tak memiliki ijin operasional masih tumbuh subur di Sumut-NAD. Untuk itu, diimbau kepada calon mahasiswa yang hendak melanjutkan kuliah agar lebih teliti memilih PTS.

Demikian disampaikan Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut-NAD Prof Nawawiy Lubis, Minggu (5/6). Dipaparkannya, sekarang ini ada lima PTS di Sumut-NAD yang liar. untuk itu  seluruh masyarakat diminta sama-sama mengawasinya. “Jika menemukan PTS yang dicurigai berdiri dan melakukan pembelajaran secara ilegal, harap melaporkannya. Bisa ke Poldasu atau ke Kopertis I Sumut-NAD,” katanya.

Nawawiy menegaskan, pihaknya telah mengadukan satu di antara lima PTS ke Poldasu. Yakni, ‘UGMM’ yang berlokasi di sekitaran daerah Padang Bulan Medan. Pengaduan itu didasarkan perintah Dirjen Dikti Kemendiknas. Selanjutnya menerima pengaduan masyarakat berupa keluhan tentang keabsahan PTS tersebut.

Dia berharap, dengan dilaporkannya PTS tersebut dimaksudkan agar aparat keamanan melakukan bisa bertindak tegas kepada penyelenggaranya, termasuk mahasiswanya.

Lebih parahnya lagi, dia mengungkapkan, ‘UGMM’ ternyata telah beroperasi sejak 2003 lalu hingga kini. Diperkirakan PTS ini sudah mencetak ribuan ijazah asli tapi palsu.

Selain ‘UGMM,’ sebutnya, pihaknya akan menindak empat PTS lain. Hal itu mengacu kepada proses pembelajaran yang tak sesuai dengan ketentuan berlaku. “Kita masih mengumpulkan data dan pengaduan dari masyarakat terhadap empat PTS yang dicurigai melakukan proses pembelajaran tak tepat. Sekaligus tetap dan terus berkoordinasi dengan Dirjen Dikti Kemendiknas,” katanya.

Dia juga mengatakan, walau tak memiliki kewenangan menutup PTS yang belum terdaftar dan meluluskan sarjana, tapi dalam amanat UU dinyatakan bagi PTS yang tak melakukan prosedur pembelajaran dengan benar, dapat ditindak melalui jalur hukum. “Untuk menghindari kita tak tertipu, masyarakat diharapkan memilih PTS yang punya izin. Hal itu dapat diketahui dengan menghubungi kantor Kopertis I Sumut-NAD Jalan Setia Budi Medan untuk mendapatkan informasi yang detail,” harapnya, seraya menambahkan bisa dilihat melalui website resmi Kopertis I Sumut-NAD di www.kopertis1.org.

Bagi PTS agar tak dianggap liar, sebutnya, PTS harus  segera melaporkan statusnya atau membuat laporan Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED) setiap semester.
“Jika hal tersebut tak dilakukan, kami akan melaporkan PTS tersebut ke Dirjen Dikti Kemendiknas untuk meninjau status program studi ataupun fakultasnya. Tindakan atau sanksi yan yakni izin program studinya dicabut,” tegasnya. (saz)

Lampu Jalan Mati

082165254xxx
Yth Dinas Pertamanan Kota Medan, pak tolong dihidupkan lampu jalan di Jalan Pelita II Gang Natio, Kelurahan Sidorame Barat II Lingkungan III, mulai dipasang 1,5 tahun yang lalu sampai kini tak hidup, sementara lampu yang lama dibongkar, ini jadi rawan pencuri kalau malam. Terima kasih

081397955xxx
Yth Bapak Wali Kota Medan/Kadis Pertamanan lampu jalan sebanyak lima titik yang ada di Jalan Nibung Raya, Simpang Mataram sudah lama rusak/padam mohon perbaikan terima kasih.

081361020xxx
Halo Dinas Pertamanan Kota Medan, tolong tunjukkan karya nyatamu jangan cuma beri alasan saja, apa kalian sudah putus urat malu sehingga sudah tak tau malu lagi atau mata kalian sudah buta semua. Sebab tidak kalian lihat lagi kota Medan sudah jadi gelap gulita.

Pasang Lima Unit Setiap Hari
Terima kasih laporannya, saya sudah perintahkan kepada Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan untuk memasang lampu jalan seminimalnya lima unit setiap harinya. Sehingga pekerjaan lebih ringan. Selanjutnya, perbaikan juga terus dilakukan bila ada lampu jalan yang mati. Karena lampu jalan merupakan sumber penerangan pada malam hari dan merendahkan tingkat kriminalitas.

Rahudman Harahap Wali Kota Medan Harus Diperbaiki Segera

Lampu jalan merupakan sumber penerangan pada malam hari, kemudian pajaknya sudah dibayar setiap bulan oleh masyarakat melalui rekening listrik. Kemudian, setiap tahunnya lampu jalan juga tercatat sebagai penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup besar bagi Pemko Medan.

Sudah seharusnya, Wali Kota Medan memberikan perhatian yang terkhusus kepada Dinas Pertamanan khususnya dalam hal penerangan di jalanan. Tak hanya itu, pemasangan lampu jalan bukan lagi ditunda karena ketiadaan alat atau keterbatasan personel, melainkan harus sudah dilakukan segera mungkin. Karena sangat banyak lampu jalan yang mati di Kota Medan ini.

H Ahmad Arif SE MM
Ketua Fraksi PAN DPRD Medan

Lari Karena Nipu, Mau Tenar pun Menipu

Luthfi, Peserta Big Brother

Diselimuti banyak persolan tak membuat Luthfi alias Boris Simbolon jera, sebaliknya pria yang suka berteman dengan wanita itu kembali menggemparkan publik, karena menipu data diri orang tua kandungnya.

Nopan Hidayat, Belawan

Wartawan Sumut Pos, Minggu (5/6)  mencari rumah Luthfi, di gang sempit di Jalan Iliyas Gang Gereja Lorong XI, Kelurahan Sei Mati, Medan Labuhan.

Lutfi cukup dikenal di kawasan itu, bukan karena masuk seleksi Big Brother di Trans TV, melainkan karena masalah yang pernah dilakukannya semasa SMP dulu. Mulai menipu orang sebesar Rp35 ribu, melarikan sepeda motor dan masalah kriminal lainnya.

Bahkan, Luthfi sempat dicari-cari banyak orang untuk memulangkan hasil tipuannya itu. Hal itu yang membuat pasangan orang tua Lutfi, Manungkar Simbolon dan Meri Br Napitupulu tak begitu peduli dengan Luthfi. “Untuk apa ditanya soal itu lagi, saya tak mau berbicara soal itu,”ujar ibu Lutfi dengan nada emosi.

Bahkan, Sumut Pos mencoba menenangkan dan memberikan kabar baik tentang Luthfi saat ini.  Namun, ibu Luthfi diam, dan memberikan perkataan pelan. “Saya diamanahkan suami saya agar tak berbicara soal Luthfi ke wartawan yang datang ke rumah,” tambahnya.

Seorang warga, sebut saja Danu (nama samaran) membeberkan Luthfi sudah lama pergi dari rumahnya. Kepergiannya karena Luthfi mempunyai banyak masalah kriminal. “Luthfi alias Boris Simbolon itu banyak kasusnya bang, makanya pergi dari kampung ini,” ujarnya seraya menambahkan pastilah orang tuanya marah karena Lutfi tak mau mengakui orang tuanya di  Gang Gereja, Jalan Ilyas ini.

Saat disinggung apa saja masalah yang menjerat Luthfi sehingga harus pergi meninggalkan orang tua dan kampung halamannya, pria itu menyebutkan kepergian Luthfi sejak SMP bermula kasus yang dilakukannnya membawa kabur uang sejumlah Rp35 ribu. Selanjutnya, Saat dia bekerja di satu rumah sakit sempat membawa kabur sepeda motor milik teman kerjanya, “Banyak lah kasus lainnya bang, Luthfi saja sering sporing dan pernah gara-gara kasus tersebut tidur dirumahku dan tak pulang ke rumah,” tambahnya.

Dia mengenang kebiasaan Luthfi saat masih berada di Gang Gereja, Luthfi perawakannya seperti wanita pria (waria) karena tidak ada teman laki-laki yang bermain dengannya. Bahkan, lebih banyak kawannya itu perempuan “Kawan itu perempuan semua bang, Luthfi sendiri orangnya tidak banyak bicara bang,” kenangnya.

Sekarang ini, pasangan orang tua Luthfi, M  Simbolon dan juga M Napitupulu. Memang sudah sangat sakit hati, lantaran anak kandungnya Luthfi yang kabur sejak menduduki bangku SMP tidak mau mengakui keberadaan orang tuanya.

“Orangtua mana yang tidak sakit hati digituin dengan anaknya sendiri, saat sudah tenar dan menjadi orang kaya, lupa dengan orangtua yang melahirkannya,” katanya. (mag-11)

Bangku Kosong, FA Pusing

BUKAN hanya permainan timnas Inggris saja yang bikin FA (asosiasi sepak bola Inggris) gusar kemarin dini hari. Banyaknya kursi kosong di Stadion Wembley saat kick-off juga membuat mereka mengerutkan kening. Padahal, tiket terjual habis.

Swiss memang bukan tim elit di Eropa, tapi juga bukan tim sembarangan. Sehingga, FA sebelumnya meyakini pertandingan itu bisa mendatangkan banyak penonton. Ternyata, ketika pertandingan akan berlangsung banyak kursi kosong terlihat.

Dari siaran di televisi, saat kick-off memang terlihat cukup banyak kursi yang kosong. Dampaknya, para penonton yang sejatinya ingin melihat langsung ke Wembley dan terpaksa bisa menyaksikan lewat televisi lantaran kehabisan tiket kesal.

Banyak yang mengeluhkannya di situs jejaring sosial Twitter. Namun, FA enggan disalahkan. Mereka menilai, banyaknya kursi kosong yang terlihat saat kick-off terjadi karena penonton baru masuk ketika pertandingan akan dimulai.

Akibatnya banyak terjadi penumpukan di pintu masuk. “Banyak fans yang terlambat masuk ke stadion. Makanya terjadi antrean panjang dan memperlambat masuknya banyak fans ke stadion. Itulah yang membuat terlihat kosong,” tegas juru bicara FA, seperti dikutip Sportinglife.
“Tidak benar bahwa selama pertandingan antara Inggris melawan Swiss di kualifikasi Euro 2012 banyak kursi kosong di Wembley. Lebih dari 80 ribu kursi terisi oleh fans, tapi setelah 15 menit laga berjalan,” lanjut juru bicara FA.  (ham/jpnn)

Lawan Chris John Belum Jelas

JAKARTA-Rencana super champion kelas bulu WBA Chris John untuk turun gelanggang pada Juli mendatang tampaknya sulit terealisasi. Pasalnya, sampai saat ini belum ada kepastian dari pihak manajemen anyar Chris John.
Sebelumnya, usai menjalani pertarungan melawan Daud Yordan pada April lalu, pihak manajemen baru Chris John memastikan bahwa Juli dia akan bertanding kembali. Tapi, sebulan menjelang waktu yang direncanakan ternyata dia belum menjalani latihan persiapan.

Petinju berjuluk The Dragon membenarkan kabar itu. Dia sampai saat ini belum dihubungi oleh sang peltih, Craig Christian, untuk segera berlatih. Padahal, biasanya dua bulan sebelum pertandingan dia sudah dipanggil ke sasananya, Herry”s Gym di Perth, Australia untuk  berlatih.

“Saya belum tahu. Biasanya kalau sudah dekat pertandingan pasti akan dipanggil untuk dipersiapkan. Mulai latihan lagi. Cuma, sampai sekarang belum ada panggilan untuk latihan lagi,” katanya saat dihubungi Jawa Pos (Grup Sumut Pos), Sabtu (3/6) lalu.

Karena itu pula, dia masih belum mengetahui siapa lawan yang akan dihadapi pada pertandingan berikutnya. Biasanya, lanjut Chris John, kalau sudah ada panggilan lawan dan waktu pertandingan sudah jelas. “Saya siap menjalani pertarungan wajib. lawan siapun saya harus siap karena memang harus professional,” tuturnya.
Kendati demikian, petinju yang telah mempertahankan gelarnya sebanyak 14 kali itu tak mau berpangku tangan dan tetap melakoni latihan sendiri di rumahnya, Semarang, Jawa Tengah. Chris John memiliki program latihan yang bertujuan untuk memepertahankan kondisinya.

Namun, programnya tidak seberat saat dirinya melakukan latihan perisapan menjelang pertandingan. Dia mengaku hanya berlatih jogging antara 20-40 persen lebih sedikit dari latihan biasanya alias hanya tiga sampai lima kilometer.
“Tidak pagi-sore kalau sedang masa persiapan. Sekarang Cuma latihannya pagi hari saja, tidak terlalu berat lah, yang stamina masih terjaga,” ucap suami dari Anna Maria Megawati tersebut.

Selain itu, dia juga menambah menu latihannya dengan berlatih shadow boxing dan sedikit divariasi dengan push up dan sit up. Tujuannya, agar kecepatan dan kekuatan pukulan tetap terjaga dan tidak terlalu menurun sebelum masa persiapan.

Program itu menurut Chris John juga bertujuan untuk mempertahankan berat badannya.  (aam/jpnn)

Butuh Ketegasan

Di Belawan, Mangrove Usia 5 Bulan pun Ditebang

BELAWAN–Kondisi hutan mangrove di perairan Belawan kini sangat memprihatinkan. Lahan mangrove tersebut kian menipis akibat ulah manusia yang kurang memahami pentingnya hutan mangrove untuk melestarikan biota laut.

Menurut pengakuan salah seorang warga Kelurahan Belawan II, Edward Pohan (52), mengatakan sampai sekarang ini masih banyak warga sekitar yang menebang mangrove. Sebagian warga sekitar melakukan penebangan adalah sebagai mata pencaharian mereka yakni mencari bahan kayu bakar dan dijadikan sebagai bahan untuk membuat pondasi bangunan.

“Saya sangat prihatin dengan penebangan atau perambahan hutan mangrove yang dilakukan oleh sebagian warga. Warga sangat kurang memahami pentingnya hutan mangrove. Kepiting dan ikan jenis lainnya sangat bergantung pada hutan mangrove tersebut. Jadi apalagi yang ditangkap oleh para nelayan tradisional,”ujarnya, Minggu (5/6).
Selain itu penebangan hutan mangrove yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab berdampak dengan mata pencaharian nelayan tradisional sekitar yang juga ikut berkurang. Banyak nelayan tradisional sekitar yang sudah beralih pekerjaan menjadi anak buah kapal dan pekerjaan lainnya.

Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua HNSI Kota Medan Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Kelautan, Alfian MY sangat menyanyangkan penebangan yang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kelestarian pertumbuhan hutan mangrove seharusnya dijaga bersama-sama termasuk warga yang berdomisili di sekitar lahan mangrove.
“Sebelumnya kita sudah melakukan reboisasi yang bekerja sama dengan Pelindo I Belawan. Sekitar 10 ribu bibit mangrove sudah kita tanam di Kampung Nelayan Indah, Paluh Perta dan Paluh Hiu Kampung Nelayan Seberang,”ujarnya.

Saat ini dia memperkirakan hutan mangrove di perairan Belawan tinggal 30 sampai 50 persen. Karena sebagaian hutan mangrove sudah dialihfungsikan sebagai lahan tambak dan lahan sawit.  Ironisnya, mangrove yang masih berusia 5 sampai 7 bulan sudah di tebang. “Sudah 3 kali kita mengimbau kepada warga sekitar pesisir untuk tidak menebang manggorve yang masih muda. Namun, hal itu tidak juga dipahami oleh warga,” jelasnya.

Dia berharap, instansi terkait yakni Dinas Kehutanan Medan untuk menindak tegas para pelaku penebangan pohon mangrove tersebut. “Tidak ada tindakan tegas oleh Dinas Kehutanan sampai sekarang ini. Seharusnya polisi hutan dari dinas terkait melakukan patroli di areal hutan mangrove. Saya menduga ada pengusaha mendapatkan izin dari dinas kehutanan untuk membuat lahan tambak udang dan lahan perkebunan sawit. Padahal kita sudah menyurati pihak dinas kehutanan Medan. Namun, realisasinya hingga kini belum ada. Saya sangat prihatikan dengan tindakan tersebut,”tandasnya. (mag-11)

Triyaningsih Gagal Pertahankan Posisi di 10K

JAKARTA-Pelari  putri jarak jauh nasional Triyaningsih gagal memenuhi ambisinya untuk kembali duduk di posisi tiga besar pada lomba lari Jakarta 10K yang digeber kemarin (5/6). Peraih emas SEA Games Laos 2009 itu hanya berhasil berada di peringkat empat besar dengan catatan waktu 33 menit 56 detik.

Dalam lomba yang mengambil start dan finish di Silang Monas tersebut, juara di kelompok putri didapat oleh Aberu Kepede Shewaye dari Ethiopia dengan 32 menit 31 detik. Dia ditempel oleh Fayse Tadese Boru (Kenya) dengan catatan waktu 32 menit 48 detik dan Maryanne Wangari Wanjiru (Kenya) di posisi ketiga dengan 33 menit 55 detik.
Meskipun hasil akhir kurang memuaskan, Triyaningsih ternyata tidak terlalu kecewa. Sebab, dia sukses mempertajam catatan waktunya dibandingkan dengan catatan pada 2010 lalu yang hanya berada di kisaran 34 menit 12 detik.
Dia mengaku, dalam lomba kali ini sebenarnya memasang target untuk bisa memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri dengan catatan waktu 33 menit 32 detik.

“Sebenarnya bukan posisi, tapi saya mengejar mengejar untuk memecahkan rekor nasionalnya. Tetapi ternyata masih selisih sedikit lagi,” katanya dalam sesi jumpa pers setelah perlombaan.

Pelari proyeksi SEA Games 2011 itu justru sangat bersyukur karena sudah memiliki gambaran umum kemampuannya dalam masa persiapan menjelang SEA Games Jakarta-Palembang. (aam/jpnn)