28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 5225

Empat Kurir Sabu Jaringan Internasional Jalani Vonis, Tidak Tahu Apa-apa, Saya Divonis Seumur Hidup…

AGUSMAN/SUMUT POS
VONIS: Teuku Turhamun dan Fadhli, dua dari empat terdakwa kurir sabu seberat 24 kg, tertunduk saat divonis seumur hidup, Kamis (27/6).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Majelis hakim yang diketuai Saidin Bagariang, menghukum empat terdakwa jaringan narkotika internasional masing-masing dengan pidana seumur hidup. Abdul Rahman alias Bidul (65), Masdar (33), Teuku Turhamun alias Nyak (29) dan Fadhli alias Fatli (37), terbukti bersalah menjadi kurir sabu seberat 24 kilogram.

SIDANG digelar di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (27/6). Majelis hakim sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang semula menuntut terdakwa seumur hidup.

Dalam amarnya, majelis berpendapat bahwa terdakwa terbukti melakukan pemufakatan jahat, menjual atau menjadi perantara narkotika golongan I yang beratnya melebihi 5 gram.

“Terdakwa terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika,” tegas hakim Saidin Bagariang.

Selain itu kata majelis, hal yang memberatkan keempat terdakwa, tidak menjalankan program pemerintah dalam pemberantasan narkotika.

“Sedangkan hal yang meringankan nihil,” kata hakim.

Atas putusan tersebut, keempat terdakwa masih menyatakan pikir-pikir. Sementara, JPU Rosinta, menyatakan terima.

Sementara, salah satu terdakwa menyatakan kekecewaan seusai persidangan. Menurutnya, dia hanyalah orang suruhan.

“Saya sebenarnya tidak tau menahu, saya hanya di suruh oleh orang Malaysia. Tidak tahu apa-apa, saya divonis seumur hidup,” ucap Abdul Rahman.

Dalam dakwaan JPU, pada Rabu tanggal 7 November 2018, polisi mendapat informasi bahwa adanya sabu datang dari Malaysia melalui perairan Kabupaten Batubara.

Atas informasi itu, polisi menangkap Masdar di dalam rumahnya, Dusun I Desa Perupuk Kecamatan Limapuluh.

“Polisi melakukan penggeledahan dan menemukan 24 bungkus plastik berisi sabu seberat 24.000 gram,” kata JPU.

Setelah ditangkap, Masdar mengaku bahwa sabu itu milik Abdul Rahman selaku mertuanya sendiri.

Tak lama, polisi berhasil menangkap Abdul Rahman yang sedang berada di Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan.

Kepada polisi, Abdul Rahman mengatakan bahwa sabu tersebut milik bosnya bernama Atak yang berada di Malaysia.

“Abdul mengaku bahwa dirinya orang yang menerima sabu di daerah Batubara. Abdul mengakui dia yang menyuruh menantunya, Masdar untuk menjaga sabu sebanyak 24 paket seberat 24.000 gram,” ujar Rosinta.

Selanjutnya, Abdul dan Masdar berikut barang bukti dibawa ke Medan. Setiba di dekat Bandara Kuala Namu International Airport (KNIA), Abdul menghubungi bosnya dan mengatakan telah menunggu di parkiran Rumah Makan Sederhana dengan menumpang Toyota Avanza warna silver BK 198 CF.

Lalu, Atak mengatakan agar mobil tidak dikunci dan nanti akan ada yang menjemput sabunya.

“Namun, hingga pukul 17.00 wib, tidak ada yang datang menjemput sabu tersebut. Atas hal itu, polisi memutuskan untuk menghentikan penyelidikan dan dilanjutkan pada Kamis tanggal 8 November 2018,” cetus JPU. Sekira pukul 13.00 WIB, Abdul kembali menghubungi Atak dan disepakati sabu akan diambil oleh orang suruhannya di Komplek Perumahan TPI Ring Road Pasar 2 Kecamatan Medan Sunggal.

Abdul disuruh Atak untuk meletakkan sabu tersebut di dalam mobil Avanza BK 198 CF warna putih dengan meletakkan kunci yang diparkirkan dipinggir jalan itu.

“Sekira pukul 17.00 WIB, Teuku Turhamun alias Nyak datang mendekati dan masuk ke dalam mobil Avanza tersebut. Tanpa basa basi, polisi langsung menangkap Teuku. Polisi juga menangkap Fadhli alias Fatli yang sedang berjalan di pinggir jalan,” ucap Rosinta.

Selanjutnya, keempat terdakwa berikut barang bukti dibawa ke Poldasu guna pemeriksaan lebih lanjut. Di hadapan polisi, terdakwa Abdul mengakui memperoleh sabu sebanyak 24 kg tersebut sekitar pertengahan Oktober 2018.

“Saat itu, Atak mengajak Abdul bawa sabu dengan upah per bungkus Rp20.000.000. Jika sabu 24 kilogram berhasil dibawa, maka Abdul Rahman akan mendapat upah Rp480 juta,” tandas JPU. (man/ala)

30 Jam Pencarian, Korban Kecelakaan yang Hanyut di Sungai Batang Ditemukan

Evakuasi: Proses Evakuasi mayat korban kecelakaan yang hilang sudah di temukan.

MADINA, SUMUTPOS.CO – Saljun (55), salah satu korban yang hilang dalam kecelakaan lalu lintas yang mana mobil mini bus suzuki AVF pada Selasa (25/6) kemarin sudah ditemukan.

Kecelakaan tersebut terjadi di jalan lintas Pantai Barat tepatnya di sungai Batang Natal Kecamatan Lingga Bayu. Mobil bernomor polisi BA 1606 VN tersebut terjun bebas ke dasar sungai.

Saljun ditemukan petugas gabungan tersangkut di bebatuan dalam sungai Batang Natal, sekitar kurang lebih 25 meter dari titik jatuhnya travel yang membawa mereka. Ia ditemukan pada Rabu siang (26/6) sekitar pukul 11.00 Wib.

Kapolsek Lingga Bayu AKP Binsar Sihotang yang dihubungi Metro Tabagsel, Rabu (26/6) membenarkan, petugas pencarian gabungan dari Polsek, Koramil, BPBD, dan dibantu warga sekitar telah menemukan salah satu korban yang hilang pada kecelakaan lalu lintas, mobil moni bus yang terjun ke sungai Batang Natal di Kelurahan Simpang Gambir Kecamatan Lingga Bayu Kabupaten Madina.

“Tadi sekitar pukul 11.00 Wib, korban atas nama Saljun sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Ia ditemukan tersangkut di bebatuan. Dan, satu korban lagi masih dilakukan pencarian,” kata Binsar.

Menurutnya, semua korban yang selamat dan meninggal yang berhasil dievakuasi pada Selasa kemarin sudah dibawa pulang oleh pihak keluarga.

“Yang sudah dievakuasi kemarin sudah dibawa pulang pihak keluarga, kalau korban Saljun ini sedang menunggu pihak keluarga yang sedang dalam perjalanan kemari. Kita sudah bantu memandikan, mengapani, dan tinggal dibawa ke Parbaungan,” tambahnya.

Ia juga menyebut, supir yang melarikan diri sudah diketahui identitasnya, yaitu Ismed Muliadi (28) warga Desa Aek Mais Parkandangan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat. “Supir melarikan diri, sampai sekarang belum menyerahkan diri dan masih dalam pencarian,” pungkasnya.

Jenazah korban Saljun rencananya akan dibawa ke rumah duka di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. (wan)

1.000-an Dokter Asal Sumut Tak Lulus Uji Kompetensi Kedokteran

BERJALAN: Beberapa dokter coas berjalan di lingkungan RSU Pirngadi Medan di Jalan Prof HM Yamin Medan, Jumat (31/8). Di RS ini, pegawai honorer belum menerima gaji bulan Juni dan Juli 2018.
BERJALAN: Beberapa dokter coas berjalan di lingkungan RSU Pirngadi Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Konsul Kedokteran Indonesia menyatakan ada sekitar 2.700 calon dokter lulusan fakultas kedokteran yang tak kunjung lulus uji kompetensi. Dari jumlah tersebut, ternyata cukup banyak yang berasal dari Sumatera Utara (Sumut). Jumlahnya disebut-sebut hampir mencapai seribuan.

KETUA Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumut, dr Edy Ardiansyah SpOG (K) mengakui, terdapat sejumlah calon dokter di Sumut yang juga tidak lulus dalam uji kompetensi. Namun dia tidak dapat memastikan berapa jumlah pastinya. “Cukup banyak memang jumlahnya. Yang lebih mengetahui adalah masing-masing pihak universitas yang mengelola fakultas kedokteran,” ujarnya kepada wartawan baru-baru ini.

Oleh karena itu, kata dr Edy, para pemangku kepentingan terutama penyelenggara pemerintahan, profesi dan perguruan tinggi agar dapat duduk bersama untuk membahas. Hal ini mengingat cukup banyak jumlah calon dokter yang gagal uji kompetensi. “Makanya, ke depan harus duduk bersama dan membahas apa kebutuhan sebenarnya,” ungkap dr Edy.

Menurut dia, tingginya angka ketidaklulusan sepatutnya menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab, telah menimbulkan berbagai pertanyaan dari berbagai pihak. “Apakah para sarjana kedokteran itu tidak layak menjadi dokter? Atau memang standar yang diberikan perguruan tinggi yang belum mampu menjawab kebutuhan negara? Kalau seandainya memang kurang, di mana peran perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan kompetensinya? Hal itu yang perlu dievaluasi juga,” tutur dr Edy.

Banyaknya calon dokter yang tidak lulus uji kompetensi, menurutnya, bisa saja karena ada penilaian yang tidak objektif dari pihak pemberi nilai. Atau mungkin pendidikan kedokteran ternyata yang justru lebih rendah dari harapan negara. “Ada kemungkinan penilai lebih melihat harapan kesehatan yang diinginkan negara. Sebab negara kan juga punya standar yang berbeda dalam menempatkan dokter,” tandasnya.

Sistem Pengujian Perlu Dikaji Ulang

Praktisi kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU), Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI menuturkan secara kumulatif sejak 2014 di Sumut ada ribuan calon dokter yang tidak lulus uji kompetensi. Ia menilai sistem uji kompetensi bagi calon dokter sudah selayaknya dikaji ulang. Bahkan, jika perlu sistem ini lebih baik dihapuskan.

“Mungkin ditutup saja (uji kompetensi calon dokter), lebih baik diserahkan ke institusi pendidikannya seperti dulu lagi,” ujar dia.

Kata Dr Umar Zein, penilaian yang dilakukan secara singkat dalam uji kompetensi dinilai subjektif. Padahal kompetensi dari seorang calon dokter itu harusnya dilihat dari berbagai aspek, misalkan kemampuannya dalam berpraktik. “Setelah lulus, di lapangan diuji lagi misalnya dalam berpraktik. Soalnya, enggak semua dokter itu sebetulnya mau berpraktik,” cetusnya.

Diutarakan mantan Kadis Kesehatan Kota Medan ini, apabila calon dokter tidak lulus uji kompetensi memang akan diberikan kesempatan untuk mengulang 3 bulan kemudian. Namun, setelah mengulang ternyata tak sedikit jumlah calon dokter yang tetap tidak lulus juga. “Ada yang sampai lebih dari 14 kali mengulang (uji kompetensi) tapi tidak lulus juga, dan ini jelas sudah memakan waktu yang lama,” ucapnya.

Lebih jauh Umar Zein mengatakan, dia menyesalkan sikap pemerintah yang tidak ada memberikan solusi meski uji kompetensi ini telah berjalan sejak tahun 2014 lalu. Padahal, yang bisa dilakukan fakultas kedokteran hanya memberikan bimbingan saja kepada mahasiswa sebelum mengikuti uji kompetensi tersebut.

“Enggak ada maknanya, pemerintah juga tidak ada memberikan solusi. Apakah pemutihan jika telah beberapa kali tidak lulus ataupun lainnya,” imbuh dia.

Perbaikan Penjaringan Calon Dokter

Ketua IDI Cabang Medan, dr Wijaya Juwarna SpTHT menilai, sistem penjaringan calon dokter di fakultas kedokteran yang berlaku saat ini, perlu perbaikan. Sebab hal ini sangat berpengaruh besar terhadap mental dari calon dokter yang nantinya bakal diluluskan.

“Fakultas Kedokteran Negeri di Medan ada satu dan swasta ada lima. Jumlah ini menurut saya tidak ada masalah. Tapi yang perlu diperbaiki adalah sistem dari penjaringan calon mahasiswa kedokteran,” katanya.

Wijaya juga menyampaikan, setiap tahunnya di Medan terdapat sekitar 500 sampai 1.000 orang lulusan kedokteran. Namun dari sisi mental, tak sedikit calon dokter yang ada sedari awal lebih berorientasi pada materi. Bahkan menjadi dokter lebih karena keinginan dari orang tuanya.

“Seharusnya, dokter itu membantu sesama adalah yang nomor satu, karena sumpah kedokteran mengutamakan kesehatan. Jadi kalau dokter paham, ia tidak akan terjebak pada materi,” bebernya.

Ia mengimbau kepada pemerintah supaya lebih selektif lagi terhadap fakultas kedokteran. Pasalnya, di luar negeri seperti di Italia, pemerintahnya tidak mau memiliki banyak fakultas kedokteran. Tujuannya agar sistem seleksi calon dokternya berjalan dengan bagus.

Begitu juga seperti di Belanda dan Jepang. Mereka terlebih dahulu memagangkan calon dokter yang ada selama setahun. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan calon-calon yang benar ingin menjadi dokter dan bukan hanya yang pintar saja.

“Apabila hal ini berlangsung seperti yang diterapkan di luar negeri, maka untuk menjadi dokter akan benar-benar dapat terseleksi dengan baik. Namun demikian, dari segi kualitas dokter yang ada di Indonesia, khususnya Medan beragam.

“Ada dokter yang memang cepat puas. Jadi ketika telah menyandang gelar dokter, dia tidak mau mengupgrade keilmuannya. Jadi hanya disitu-situ aja, padahal ilmu pengetahuan kan termasuk kedokteran terus berkembang,” tukasnya. (ris)

Tebingtinggi akan Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Sopian/sumut pos
KARNAVAL: Pawai Karnaval dalam acara Tebing Agri Market dan Pameran Flora Fauna.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan bersama unsur Forkopimda melepas Pawai Karnaval dalam rangkaian acara Tebing Agri Market dan Pameran Flora Fauna (TAM PFF) ke-6 dalam rangka menyambut dan memeriahkan hari jadi Kota Tebingtinggi ke-102, Rabu (26/6).

Pawai karnaval dengan tema pertanian dalam meningkatkan produktivitas di lepas Wali Kota, di depan Rumah Dinas Wali Kota, Jalan Sutomo Kota Tebingtinggi.

Sebelum melepas pawai Karnaval, Umar Zunaidi Hasibuan mengatakan acara dilakukan semata-mata untuk meningkatkan produktivitas dari pada pertanian, hasil dari olahan pertanian, produktivitas hasil perkebunan, peternakan dan perikanan di Kota Tebingtinggi khususnya.

“Tentunya kita harus sadar, Kota Tebingtinggi lahannya terbatas, maka kita harus meningkatkan bagaimana nilai tambah dari sebuah produk pertanian dan perkebunan menjadi hasil olahan yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari produk dalam bentuk aslinya,” bilang Umar Zunaidi.

“Mari kita sukseskan Kota Tebingtinggi Agri Market bersama dengan pameran flora fauna, agar kiranya bisa kita tingkatkan kemauan masyarakat Kota Tebingtinggi untuk kiranya melakukan satu kegiatan peningkatan di bidang tanaman untuk sayur sayuran, peningkatan bagi lingkungan yang tentunya kita harus lakukan secara bersama sama,”sambungnya.

Demikian juga kepada flora Umar berharap, agar menjadikan halaman rumah kita menjadi halaman yang bisa dihiasi dengan bunga, tanaman obat keluarga yang tentunya memberikan hasil kepada kita semua. Pawai karnaval ini diikuti para ASN Kota Tebingtinggi, Kelompok tani peternakan se Kota Tebingtinggi, Abaka Tebingtinggi dan Pelajar Kota Tebingtinggi. (ian/han)

40 Tahun Dusun Dolok Nauli Gelap Gulita

RUDY SITANGGANG/SUMUT POS
BERI KETERANGAN: Keluarga Anggiat Siallagan memberikan keterangan saat ditemui dirumahnya di Dusun Dolok Nauli Desa Soban Kecamatan Siempat Nempu Dairi sudah 40 tahun belum dialiri listrik.

DAIRI, SUMUTPOS.CO – Meski sudah berusia 40 tahun sejak dibuka sebagai perkampungan. Dusun Dolok Nauli, Desa Soban, Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten Dairi, masih gelap gulita.

Sangat ironis memang. Dusun Dolok Nauli hanya berjarak 2 kilometer dengan Dusun Napambelang yang sudah teraliri listrik. Rintihan ketiadaan penerangan listrik itu disampaikan sejumlah warga Dusun Dolok Nauli, Anggiat Siallagan (65) dan Saidah boru Pandiangan (60) saat ditemui Sumut Pos di rumahnya, Kamis (27/6).

Anggiat menerangkan, sudah 40 tahun kampung mereka belum ada penerangan listrik. Alat penerangan untuk warga sekitar pada malam hari masih menggunakan lampu teplok. Begitu juga dengan alat penerangan anak mereka saat belajar.

Disebutkan Siallagan, awalnya nenek mereka membuka perkampungan sejak 40 tahun silam dengan jumlah warga sebanyak 20 kepala keluarga (KK). Tetapi, karena listrik tak kunjung masuk ke dusun ini, mereka pindah ke Dusun Napambelang.

Dan hingga saat ini, jumlah warga yang masih tetap bertahan hanya tinggal 4 KK. Menurut Siallagan, perkampungan itu mulai sepi sejak tahun 1986. “Sebagian besar warga berpindahan ke Napambelang yang sudab berpenerangan listrik,” tandasnya.

Lanjut Anggiat, bukti kampung ini sudah terbentuk lama, adanya sekolah dasar (SD) negeri dengan jumlah siswa hanya sekitar 20 orang.

Anggiat mengungkapkan, mereka sudah mengusulkan agar dusun mereka dialiri listrik. “Namun dengan alasan karena di dusun kami hanya 4 KK, PLN tidak mengabulkan. Semoga melalui pemberitaan ini, permohonan pemasangan listrik ke Dusun kami bisa realisasi,” ungkapnya.

Amatan wartawan, Dusun Dolok Nauli potensial sektor pertanian. Komoditas jagung, padi gogo, durian, kopi, pinang serta cengkeh tumbuh subur di sana dan menjadi andalan ekonomi warga sekitar. (mag-10)

Tingkatkan Kualitas Air, PT Gramed Jajaki Kerja Sama dengan PDAM Tirta Nciho Dairi

RUDY SITANGGANG/SUMUT POS Direktur PDAM Tirta Nciho Dairi, Wahlin Munthe
RUDY SITANGGANG/SUMUT POS Direktur PDAM Tirta Nciho Dairi, Wahlin Munthe

SIDIKALANG, SUMUTPOS.CO – Tingkatkan kualitas air, PT Gramed sedang menjajaki kerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Nciho Dairi.

“Pemilik perusahaan Piter Simanjuntak sudah menemui kami,”ungkap Direktur PDAM Tirta Nciho Dairi, Wahlin Munthe, Kamis (27/6).

Terkait kerja sama dalam peningkatan kualitas air di Dairi tersebut, lanjut Wahlin, pihaknya masih melakukan pertimbangan-pertimbangan dengan usulan kontrak selama 30 tahun. Namun pihak PT Gramed meminta waktu kontrak kerja sama selama Rp30 tahun.

Dijelaskan Wahlin, apabila waktu kontrak pendek, maka fee yang akan dibayarkan kepada PT Gramed semakin besar sesuai jumlah modal dikeluarkan investor.

Dengan begitu, akan berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat (pelanggan). Dimana jika kerja sama terjadi, maka tarif dasar listrik pasti naik. Sementara saat ini 90 persen pelanggan PDAM Tirta Nciho masih tarif domestik sebesar Rp1700/meter kubik.

“Hanya 10 persen tarif niaga kecil dengan tarif Rp4000/meter kubik. Sementara jika kita sudah kerjasamakan, tarif dasar domestik dikisaran Rp6000 per meter kubik,”terang Wahlin. Memang, lanjut Wahlin, hasil perhitungan yang dilakukan badan pemeriksa keuangan dan pembangunan (BPKP), tarif dasar untuk pelanggan domestik PDAM Tirta Nciho harus Rp4200 per meter kubik. Pun begitu, masih sulit untuk dilakukan. Disebutkan Wahlin, ada 2 sumber air di Dairi yang kualitas airnya masih rendah, yakni sumber air Lae Nuaha dan Sitiotio. Sumber air kita sangat mumpuni untuk dilakukan kerjasama.

Saat ini debit air kedua sumber yang di kerjasamakan 100 liter per detik. Investor itu saat ini sedang survei ke masyarakat. Dan untuk pembangunan kedua instalasi pengolahan air (IPA) dimaksud dibutuhkan dana Rp24 miliar.

Sebab, lanjut Wahlin, bisnis yang mau dibangun harus saling menguntungkan. Dan prosesnya masih panjang karena harus dibicarakan dengan Bupati dan DPRD.

Wahlin menambahkan, jumlah pelanggan PDAM Trita Nciho hingga saat ini sebanyak 19 ribu lebih sambungan rumah (SR) yang tersebar di 12 Kecamatan dari total 15 Kecamatan di Dairi.

Untuk mengantisipasi kebocoran atau pencurian air, PDAM Tirta Nciho sudah bentuk service senter. Selama Januari hingga Juni 2019, ada 30 kasus pencurian air dan pemasangan tanpa menggunakan meter. (mag-10)

Poldasu Gerebek Tambang Galian C Ilegal di Binjai

Foto: BATARA/SUMUT POS KOREK: Sebuah alat berat mengorek material dari dasar Sungai Seruai di Dusun Buluh Nipes Desa Tanjung Sena, Kecamatan Biru-biru, Senin (23/10).
Ilustrasi

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Kepolisian Daerah Polda Sumatera Utara (Poldasu) mengamankan empat unit escavator dan 11 orang pekerja tambang Galian C Illegal di lahan eks hak guna usaha (HGU) PTPN 2 di Desa Tunggurono Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai.

Kasubdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut, AKBP Herzoni Saragih mengatakan lokasi tambang galian C tersebut tidak memiliki IUP, IUPR dan IUPK sebagaimana dimaksud dalam pasal 158 UU RI No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, dan Melakukan Usaha Tanpa Memiliki Izin Lingkungan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 109 UU RI No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Saat ini kasusnya masih kami selidiki dengan memeriksa sejumlah pekerja yang diamankan kemarin,”ungkapnya.

Dijelaskannya, saat pihaknya melakukan penggerebekan di lokasi, para pekerja sedang melakukan pengorekan tanah yang dilakukan empat operator escavator.

Dari hasil pemeriksaan petugas, para pekerja yang diamankan mereka bekerja atas perintah berinisial ST, salah satu ketua organisasi masyarakat di Kota Binjai. “Saat diperiksa izin-izin kegiatan tambang lokasi itu, mereka tak bisa menunjukkannya,”sebut Herzoni.

Masih dikatakan Herzoni, aktivitas galian C tersebut telah beroperasi kurang lebih selama 2 tahun. Namun para pekerja mengaku, galian tersebut diperuntukkan untuk membuat kolam. “Sementara tanah yang ditambang diperjualbelikan kepada orang seharga Rp100.000 per dump truk,”beber Herzoni.

Dari sana, petugas juga mengamankan Tabita Ginting selaku Tukang Catat (Mandor), Sarmin selaku operator excavator Hitachi warna orange Zaxis 210, Howir selaku operator alat berat excavator Hitachi warna orange tipe Strip-1.

Selanjutnya, Erianto selaku penimbun jalan, Agus Sitepu selaku kernek operator, Adi Pansai selaku operator. Suari selaku Supit DT Nopol 8464 EG, Rizal selaku supir mobil DT BK 9169 BN, Wondo selaku supir mobil DT BK 8549 LO. Selanjutnya Sirajudin selaku supir mobil DT Nopol 8496 VO dan terakhir Candra selaku supir DT Nopol BK 8213 XR.

Petugas juga mengamankan lima unit dump truk, uang tunai sebesar Rp3.360.000, bon faktur penjualan, buku catatan pengambilan tanah. “Untuk tersangkanya masih kita lidik, ya,” pungkasnya. (dvs)

5.000 Orang Ikuti Gerak Jalan Santai HUT Deliserdang

Batara/sumut pos
MELEPAS: Bupati Deliserdang H Ashari Tambunan melepas 5.000 peserta gerak jalan santai dalam rangka peringatan HUT ke-73 Deliserdang yang digelar di Lapangan Alun-alun Deliserdang, Kamis (27/6).

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Bupati Deliserdang H Ashari Tambunan melepas sekitar 5.000 orang mengikuti gerak jalan santai di Lapangan Alun-alun Pemkab Deliserdang, Kamis (27/6).

Sebelum melepas peserta gerak jalan santai berasal dari ASN, TNI/Polri, OKP, Mahasiswa, BUMD/BUMN, Perbankan, Pelajar dan Masyarakat, Bupati Ashari menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Deliserdang yang antusias memeriahkan kegiatan Hari Jadi Kabupaten Deliserdang yang ke-73.

Ashari pun berharap, kedepannya Kabupaten Deliserdang, semakin maju, sejahtera, rukun dalam kebhinekaan. Demikian juga Polres Deliserdang semakin berprestasi.

Selain gerak jalan santai, peringatan HUT ke-73 Deliserdang (1 Juli 1946-1 Juli 2019), Pemkab Deliserdang juga menggelar berbagai kegiatan di antaranya tarik tambang, bazar murah, Lucky Draw berhadiah 4 (empat) unit sepedamotor, ratusan sepeda gunung, lemari es, TV, Mesin cuci dan hadiah menarik lainnya.

Selain itu, panitia juga menggelar donor darah dan pemeriksaan kesehatan.

Puncak gerak jalan santai, hadiah lucky draw empat unit sepeda motor masing-masing diraih Serda Syafrudin Babinsa Koramil 19/BP Kodim 0204/DS, Endang Fitriani warga Desa Sumberejo, Kecamatan Pagar Merbau, Cindri Kesuma Warga Desa Kotasan Kecamatan Galang, dan Fadli Nugroho pegawai Dinas Tenaga Kerja.

Sementara puncak peringatan Hari Jadi ke-73 Deliserdang dijadwalkan, Senin (1/7) yang diawali dengan agenda sidang paripurna DPRD, dilanjutkan syukuran Hari jadi Kabupaten Deli Serdang bersama Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-73 di Balairung Pemkab Deliserdang. (btr/han)

Penggali Kubur dan Bilal Mayit Dapat Bantuan Rp850 Ribu

istimewa
BANTUAN:Penggali kubur dan Bilal Mayit menghadiri penyerahan bantuan operasional dari Pemko Binjai.

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Binjai menyerahkan bantuan biaya operasional kepada kepada bilal mayit dan penggali kubur sebesar Rp850 ribu per orang.

Penyerahan bantuan tersebut dilaksanakan di Pendopo Umar Baki, Jalan Veteran, Kelurahan Tangsi, Binjai Kota, baru-baru ini.

Asisten I Wali Kota Binjai, Otto Harianto mengatakan, sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Pemko Binjai, penggali kubur dan bilal mayit diberikan bantuan operasional dan asuransi jiwa. “Kami berharap bapak ibu jangan melihat dari besar nilainya, tapi pandanglah ini sebagian bentuk perhatian dan kepedulian Pemko Binjai kepada bapak dan ibu sekalian,”ujar Otto Harianto.

Kabag Kesra Pemko Binjai, Sofyan Siregar menambahkan, jumlah bilal mayit dan penggali kubur sebanyak 720 orang. Rinciannya, 379 orang bilal mayit dan 341 penggali kubur. “Mereka mendapat uang sebesar Rp850 ribu per orang sebagai bentuk bantuan operasional dari Pemko Binjai,”tandasnya. (ted)

Walikota Sibolga Kunjungi Orangtua Gisen Pasaribu

Walikota Sibolga HM Syarfi Hutauruk dan jajaran foto bersama keluarga almarhum Gisen Rezeki Pratama Pasaribu di Desa Sidikalang, Sorkam Barat, Tapanuli Tengah, Rabu (26/6/19). [Foto/IST]

TAPTENG, SUMUTPOS.CO – Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk bersama Plt Direktur RSU Dr Fl Tobing Sibolga dr Donna Pandiangan bersama rombongan mengunjungi kediaman R Pasaribu dan Elminar br Marbun, orangtua almarhum Gisen Rezeki Pratama Pasaribu yang meninggal dunia pada Kamis lalu di RSU Sibolga, di Desa Sidikalang Kecamatan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rabu (26/6) sore.

Dalam keterangan tertulis Dinas Kominfo Kota Sibolga, tujuan kedatangan orang nomor satu di Kota Sibolga bersama rombongan yakni untuk bersilaturrahmi. Setibanya di rumah orangtua Gisen Pasaribu, rombongan disambut dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Dalam silaturahmi ini, Syarfi pun menyampaikan rasa turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Gisen.

“Gisen ini adalah bere saya, karena saya Hutauruk dan ibunda Gisen boru Marbun, dan kami adalah Naipospos. Selain itu saya juga putra daerah Sorkam ini. Saya sangat berduka atas meninggalnya bere saya ini di usia muda. Sementara beliau punya cita-cita yang tinggi,” ujar Syarfi.

Namun dalam proses perjalanannya, sambungnya, Tuhan berkehendak lain, dan siapapun tidak bisa berbuat apa-apa.

“Hal ini juga sebagaimana diajarkan dalam agama Kristiani pada kitab Ayub 14:5, Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah kau tetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya. Penyakit itu hanya sebab, ada yang justru sakit parah, kanker dan sejenisnya, malah belum dipanggil Tuhan, yang sehat-sehat saja malah duluan dipanggil,” ujar Syarfi.

Pada kesempatan itu, Syarfi selaku Tulang (Paman, red) dan juga dr Donna Pandiangan selaku bibi (nantulang, red) dikarenakan bersuamikan marga Marbun, juga memberikan tali asih sebagai pengganti ilu manetek (uang duka, red) bagi keluarga.

“Kami berharap semoga seluruh keluarga yang ditinggal, terkhusus lae saya R. Pasaribu dan ito saya boru Marbun, tabah menerima cobaan ini. Kami juga menyampaikan permohonan maaf, karena kedatangan kami pihak Pemko Sibolga agak terlambat, dikarenakan berbagai pertimbangan,” sebut Syarfi.

Menyikapi sambutan Walikota Sibolga, pihak keluarga Gisen Pasaribu menyampaikan bahwa seluruh keluarga besar, telah ikhlas atas kepergian Gisen.

“Tidak ada persoalan apapun bagi kami atas kepergian Gisen dengan pihak rumah sakit, karena semua ini sudah rencana Tuhan dan Gisen dijemput Tuhan lebih cepat pada usia muda, itu karena Tuhan sayang pada Gisen. Tuhan tidak ingin Gisen hidup lebih lama di dunia, karena Tuhan tidak ingin Gisen berdosa,” kata yang mewakili keluarga Gisen.

Di penghujung silaturrahmi, seluruh rombongan dan pihak keluarga melakukan doa bersama untuk almarhum Gisen yang dipimpin oleh Asisten I Pemko Sibolga Josua Hutapea. (ril/rb/nt/sp)