PFI : Ketua Panitia Lomba Foto Hermansyah (kedua kiri), didampingi Sekretaris Arifin Al Alamudi (kiri), berbincang dengan Direktur Relawan #KitaPrananda Defri Noval Pasaribu (kedua kanan) dan Sekretaris PSP Foundation Rudiansyah seusai melakukan pertemuan di Medan, Sumut , Rabu (13/3). (Foto dok. PFI Medan)
PFI : Ketua Panitia Lomba Foto Hermansyah (kedua kiri), didampingi Sekretaris Arifin Al Alamudi (kiri), berbincang dengan Direktur Relawan #KitaPrananda Defri Noval Pasaribu (kedua kanan) dan Sekretaris PSP Foundation Rudiansyah seusai melakukan pertemuan di Medan, Sumut , Rabu (13/3). (Foto dok. PFI Medan)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Medan dan Prananda Surya Paloh Foundation menggelar Lomba Foto Instagram 2019 bertema Wisata Kota Medan. Dengan total hadiah Rp 30 juta untuk 16 pemenang.
Pelaksanaan lomba foto ini terdiri dari dua tema. Tema pertama Pasar Ikan Lama Kota Medan mulai tanggal 14-20 Maret 2019.
Sedangkan tema kedua Pedagang Kuliner Kaki Lima Kota Medan mulai tanggal 21-27 Maret 2019.
Pemenang pertama masing-masing tema akan meraih hadiah Rp 5 juta. Juara kedua Rp 3 juta, juara ketiga Rp 2 juta, dan lima pemenang favorit masing-masing tema akan mendapatkan hadiah Rp 1 juta.
“Cara ikutan lomba foto ini sangat mudah. Gratis uang pendaftaran dan hanya cukup upload foto-foto sesuai tema di akun instagram masing-masing. Akun jangan di-private ya,” ujar Hermansyah selaku Ketua Panitia Lomba Foto ini, Kamis (14/3).
Selain itu peserta lomba foto wajib mem-follow akun Instagram @pfimedan @pspfoundation @kitaprananda @pranandapaloh. Serta merepost flyer lomba foto dan mention ke 5 (lima) orang teman di akun IG masing-masing .
Setiap foto yang di-posting, tambah Hermansyah, wajib memberikan caption foto dan menulis hastag #pfimedan #pspfoundation #lombafotopfimedanPSP #mudaberwawasan #pranandapaloh #kitaprananda di akhir caption foto.
Direktur Relawan Kita Prananda mengatakan kegiatan lomba foto ini adalah bentuk kegelisahannya terhadap nasib pedagang tradisional di Pasar Ikan Lama Medan dan Pedagang Kuliner Kaki Lima.
“Dulunya pasar ini berjaya. Pembelinya bahkan datang dari Malaysia, tapi sekarang sepi dan para pedagang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.
Selain itu para pedagang kuliner kaki lima saat sangat kesulitan bersaing dengan pebisnis kuliner bermodal besar. Para pedagang kuliner kaki lima juga selalu dibayangi ancaman penggusuran, pungli dari OKP, dan lain sebagainya.
“Padahal soal rasa, pedagang kuliner kaki lima gak kalah enak dari restoran dan kafe-kafe yang bagus. Bahkan rasanya lebih enak. Tapi mereka selalu terpinggirkan dalam hal kebijakan pemerintah,” ungkapnya.
Untuk itu, ia berharap lewat lomba foto ini, keberadaan pedagang Pasar Ikan Lama dan pedagang kuliner kaki lima yang ada di Kota Medan mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah.
Ketua PFI Medan Rahmat Suryadi sasaran peserta lomba foto ini adalah seluruh masyarakat di Kota Medan. Tidak hanya fotografer profesional, mahasiswa, para penghobi foto, masyarakat umum, dan lain sebagainya sangat diharapkan partisipasinya dalam lomba foto ini.
“Peserta umum, dan mengapa lewat instagram, karena saat ini para milenial sangat menggandrungi media sosial instagram. Sehingga efeknya akan lebih besar dan pesertanya bisa lebih banyak,” ungkap Rahmad.
Puncak acara penyerahan hadiah akan direncanakan berlangsung di Taman Ahmad Yani Medan pada 30 dan 31 Maret 2019.
Pada tanggal 30 Maret nantinya akan digelar workshop foto jurnalistik untuk seluruh peserta dan ada akan digelar lomba foto On The Spot dengan total hadiah Rp 3 juta. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 31 Maret 2019.
Untuk informasi lebih lengkap terkait lomba foto instagram 2019 ini bisa dilihat di akun instagram @pfimedan @pspfoundation dan @kitaprananda. Bisa pula menghubungi panitia lomba foto di nomor 08116551559 atas nama Ega Ibra. (rel/ram)
Foto: Dame/Sumut Pos
MENGENAL ALAM: Corporate Communication Danone Indonesia , Michael Liemena, didampingi Kepala Pabrik AQUA Berastagi, Mohamad Efendy, Stakeholder Relations Pabrik Berastagi, Sahat Esron Siringoringo, dan CSR Coordinator Pabrik AQUA Langkat, Jimmi Simorangkir, pada acara Media Gathering Danone - AQUA Group dengan PWI Sumut dengan tema "Mengenal Alam", di Sibolangit, Deliserdang, Kamis (14/3).
Foto: Dame/Sumut Pos MENGENAL ALAM: Corporate Communication Danone Indonesia , Michael Liemena, didampingi Kepala Pabrik AQUA Berastagi, Mohamad Efendy, Stakeholder Relations Pabrik Berastagi, Sahat Esron Siringoringo, dan CSR Coordinator Pabrik AQUA Langkat, Jimmi Simorangkir, pada acara Media Gathering Danone – AQUA Group dengan PWI Sumut dengan tema “Mengenal Alam”, di Sibolangit, Deliserdang, Kamis (14/3).
SIBOLANGIT, SUMUTPOS.CO – Danone – AQUA Berastagi dan Langkat menerapkan ‘Planet Sirkular’ dalam operasionalnya yakni sirkular air, plastik, dan karbon untuk tetap menjaga lingkungan.
“Danone-AQUA berkomitmen untuk senantiasa menyelaraskan pertumbuhan bisnisnya dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup, termasuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Corporate Communication Danone Indonesia , Michael Liemena di Sibolangit, Deliserdang, Kamis (14/3).
Michael didampingi Kepala Pabrik AQUA Berastagi, Mohamad Efendy, Stakeholder Relations Pabrik Berastagi, Sahat Esron Siringoringo, dan CSR Coordinator Pabrik AQUA Langkat, Jimmi Simorangkir pada acara Media Gathering Danone – AQUA Group dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut dengan tema “Mengenal Alam”.
Menurut Michael, dua pabrik Danone – AQUA di Sumatera Utara yakni Berastagi dan Langkat menjalankan prinsip ramah lingkungan dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Prinsip ramah lingkungan dilakukan melalui efisiensi produksi dan peningkatan efektivitas serta penggunaan sumber daya alam secara bijak.
Efisiensi produksi yang dijalankan pabrik AQUA Berastagi dan Langkat adalah pemanfaatan air dan energi secara bijak.
Air sebagai bahan baku produksi dimanfaatkan secara efisien yakni dengan mengupayakan agar tidak ada air yang terbuang percuma.
Agar tidak ada air terbuang percuma, katanya, sisa produksi yang dapat digunakan kembali diperuntukkan bagi keperluan sanitasi atau kebutuhan umum di dalam pabrik.
HEMAT ENERGI
“Untuk menjaga lingkungan dan efisiensi atau penghematan di bidang energi, kedua pabrik Danone-AQUA di Sumut misalnya sudah menggunakan forklift dengan tenaga listrik dari sebelummya berbahan bakar solar,” ujarnya.
AQUA juga menggunakan “skylight” (atap tembus cahaya di langit – langit pabrik) untuk menerangi area produksi dan pemadaman lampu di ruangan-ruangan yang tidak terpakai.
“Pabrik AQUA Berastagi dan Langkat juga secara berkelanjutan menjalankan konservasi berupa penanaman pohon, pembuatan sumur resapan dan biopori di daerah tangkapan air maupun di sekitar pabrik,” katanya.
Tujuan konservasi itu untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah sehingga menjaga ketersediaan air tanah.
Konservasi juga membuat lingkungan sekitar menjadi lebih asri. “Inisiatif – inisiatif yang terlihat sederhana itu ternyata memberikan manfaat besar terhadap pelestarian lingkungan sehingga Danone – AQUA dapat terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Michael.
Dia menegaskan, pabrik Danone-AQUA Berastagi dan Langkat sudah mendapatkan Penghargaan Industri Hijau 2018. “Penghargaan Industr Hijai 2018 membuktikan Danone sebagai pelaku industri yang terus bertransformasi menuju industri berbasis inovasi yang tangguh dan berdaya saing tinggi,” katanya.
Sebagai pelopor perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia yang memiliki visi “One Planet One Health” selalu meyakini bahwa kesehatan masyarakat dan kesehatan bumi memiliki interkoneksi.
Ketua PWI Sumut H Hermansyah didampingi Sekretaris Edward Tahir, mengapresiasi “media gathering” yang digelar Danone – AQUA karena wartawan semakin mengetahui proses pembuatan air minum kemasan dengan konsep keberlanjutan melalui perhatian besar pada lingkungan.
Termasuk, katanya mengetahui banyak program CSR AQUA yang sudah banyak menyentuh masyarakat di sekitar pabrik seperti pengadaan fasilitas air bersih, dan pembuatan biogas untuk rumah tangga serta mendorong usaha kerajinan rajutan.
Ketua PWI Sumut juga mengapresiasi sambutan hangat dari manajemen Danone AQUA atas permintaan PWI untuk meningkatkan kualitas wartawan antara lain menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
“PWI Sumut siap menggelar UKW agar semua wartawan khususnya di daerah benar – benar berkompeten,” ujar Hermansjah. (rel/mea)
Tim Gegana meledakkan 3 kg bahan peledak milik terduga teroris, di Sibolga, Kamis (14/3/2019).
Tim Gegana meledakkan 3 kg bahan peledak milik terduga teroris, di Sibolga, Kamis (14/3/2019).
SIBOLGA, SUMUTPOS.CO – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror memusnahkan 3 kg bahan peledak milik terduga teroris Husein alias Abu Hamzah dan istrinya di Rindu Alam, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), Kamis (14/3) pagi.
Sebelum dilakukan disposal oleh Tim Jibom, tanah kosong di Rindu Alam itu terlebih dahulu dilubangi menggunakan ekskavator kemudian 3 kg bahan peledak ditanam dan diledakkan.
Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto beserta Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk, Wakil Walikota Edy Polo Sitanggang dan Wakil Bupati Tapteng Darwin Sitompul turut menyaksikan pemusnahan bom tersebut.
Peledakan pertama adalah bom dengan berat kurang dari 3 Kg dengan daya ledak dan suara yang sangat keras.
Menyaksikan ledakan itu, Kapolda Sumut menuturkan bahwa disposal selanjutnya perlu dilakukan secara khusus dan di tempat yang khusus.
“Masih kecil barang bukti yang diledakkan (tidak termasuk yang dalam tabung kemasan atau tabung container) seperti itulah yang rekan-rekan saksikan. Atas pertimbangan keamanan dari tim Jibom yang melaksanakan disposal, apabila dilakukan disposal terhadap (bom, red) yang (di tabung, red) kontainer maupun yang tabung gas, dikhawatirkan akan membahayakan,” ujar Agus.
Kapolda juga menjelaskan bahwa sebelumnya pihaknya mengeluarkan informasi adanya penemuan 300 kg bahan baku bom.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan dan uji laboratorium lebih lanjut, ternyata 300 kg itu sudah merupakan bahan jadi.
” Tim akan melakukan pemusnahan secara khusus di tempat yang khusus pula. “Karena dengan barang bukti yang nggak sampai 3 kg saja, (ledakannya, red) sudah seperti itu. Apalagi kalau sampai 300 kg,” katanya. (dh)
Triadi Wibowo/Sumut Pos
MELINTAS:
Seorang warga saat melintas di depan Gedung KPUD Sumut Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, belum lama ini.
Triadi Wibowo/Sumut Pos MELINTAS: Seorang warga saat melintas di depan Gedung KPUD Sumut Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, belum lama ini.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencoret 370 warga negara asing (WNA) dari daftar pemilih tetap ( DPT) Pemilu 2019. Mereka diketahui terbesar di berbagai provinsi.
Komisioner KPU, Viryan Azis mengatakan, pencoretan dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan 3 lembaga. Badan Pengawas (Bawaslu), Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), serta Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
“Jadi ada 370 WNA yang telah dicoret ya,” ujar Viryan, Rabu (13/3).
Viryan menambahkan, 370 WNA ini tersebar di 19 provinsi di Indonesia. KPU saat ini terus melakukan penyisiran mengenai WNA yang terindikasi masuk dalam DPT di Pemilu 2019. “Itu hasil kerja teknis KPU, Bawaslu, dan Dukcapil,” katanya.
Adapun data dari 370 WNA yang masuk di DPT Pemilu 2019, yakni Bali ada 74 orang, Banten (14), DI Yogyakarta (24), DKI Jakarta (76), Jambi (1), Jawa Barat (86), Jawa Tengah (31), Jawa Timur (41), Kalimantan Barat (2), Kalimantan Selatan (1), Kalimantan Timur (2). Kemudian Kepulauan Bangka Belitung (1), Kepulan Riau (2), Lampung (1), Nusa Tenggara Barat (6), Nusa Tenggara Timur (2), Sulawesi Selatan (1), Sulawesi Utara (2), dan Sulawesi Barat (3).
Sebelumnya, polemik WNA terdaftar dalam DCT berawal ketika WNA berkebangsaan Tiongkok bernama Guohui Chen memiliki e-KTP. Dia juga terdaftar dalam DPT di KPU Kabupaten Cianjur.
Dirjen Dukcapil Kemendagri, Zudan Arif Fakrulloh mengklarifikasi, ada kesalahan input data oleh KPUD Cianjur. Sebab, data NIK tersebut ternyata bernama Bahar.
Zudan menjelaskan, NIK atas nama Bahar belum tercantum dalam DPT di KPU Kabupaten Cianjur. Sementara, NIK yang ada dalam DPT saat ini adalah milik WNA bernama Guohui Chen.
Zudan lebih lanjut menjelaskan, meski Guohui Chen memiliki e-KTP, namun yang bersangkutan tetap tidak mempunyai hak pilih pada Pemilu 2019. Pasalnya, Chen bukan merupakan WNI.
Sebelumnya, respon cepat juga dilakukan KPU. Pascaskasus ratusan WNA masuk DPT Pemilu, KPU membuka layanan pengaduan publik.
Komisioner KPU, Viryan Aziz mengatakan, masyarakat bisa mengadukannya melalui aplikasi WhatApps ke nomor telepon 0821353232. Nantinya pelapor dapat menyampaikan data WNA beserta foto e-KTP. KPU berjanji akan menjaga kerahasiaan data WNA tersebut. “Kami mengajak masyarakat berpartisipasi aktif memberi laporan apabila menemukan ada WNA yang masih masuk DPT atau WNA pemilik e-KTP dapat menyampaikan apabila dirinya terdata di DPT,” ujar Viryan, belum lama ini.
Selain lewat aplikasi WhatApps, masyarakat juga bisa mengadukannya ke www.lindungihakpilihmu.kpu.go.id. Melalui website ini, setiap orang dapat mengakses pemilih by name, by address per TPS dan dapat langsung melaporkan apabila ada WNA yang masih masuk DPT. “KPU berharap dapat membersihkan DPT dari WNA secepatnya,” jelas Viryan.
Selain itu Viryan juga mengintruksikan seluruh jajaran KPU di daerah untuk terus melakukan penyisiran dan memberi laporan harian. Upaya ini sebagai bentuk pro aktif selain menerima dari Diten Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil). “Tapi apabila masih ditemukan, langsung dilakukan pencoretan,” harapnya. (jpc/saz)
PENJINAK BOM
Personel dari Tim Gegana bersiap menjinakkan bom yang ada di dalam rumah terduga teroris Husain alias Upang alias Abu Hamzah, Rabu (13/3) siang.
PENJINAK BOM Personel dari Tim Gegana bersiap menjinakkan bom yang ada di dalam rumah terduga teroris Husain alias Upang alias Abu Hamzah, Rabu (13/3) siang.
SIBOLGA, SUMUTPOS.CO – UPAYA negosiasi yang dilakukan Kepolisian terhadap istri Husain alias Abu Hamzah (AH) alias Upang sejak Selasa (12/3) petang hingga Rabu (13/3) dini hari menemui jalan buntu. Istri Upang yang biasa disapa Umak Abu ini memilih untuk meledakkan diri bersama anaknya dengan bom rakitan dari potasium, paku, mur dan baut yang dibungkus dalam pipa (bom lontong) yang dipegangnya. Tubuhnya pun hancur bercerai-berai.
Umak Abu diduga bunuh diri dengan meledakkan 4 atau 5 bom jenis lontong di tangannya. “Yang di pegang istri AH 4 atau 5 jenis bom lontong,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Kampus UMSU, Medan, Rabu (13/3).
Sejauh ini, kata Dedi, sudah dua kali ledakan terjadi di kediaman Uppang. Di mana, ledakan pertama menyebabkan satu personel Polri cedera. “Alhamdulillah kondisi anggota kini telah stabil. Kedua, tadi malam yang menyebabkan istri dan anak AH meninggal dunia. Masih menunggu tim DVI, untuk memastikan jenazah,” paparnya.
Menurut Dedi, paham radikal istri Uppang lebih kental ketimbang suaminya. Hal itu yang membuat dia nekat meledakkan diri mengggunakan bom, usai bertahan 13 jam di dalam rumahnya, di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Pancuranbambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Sumatera Utara.
Dedi mangatakan, Uppang sendiri yang menyampaikan hal itu kepada kepada penyidik Densus 88 ketika tim sedang melakukan negosiasi. Adapun istri Uppang sejak sore kemarin bersikukuh tidak ingin keluar dari kediamannya. “Istrinya lebih keras pemahamannya dibanding dia sendiri. Lebih militan istrinya,” kata Dedi.
Kuatnya pemahaman radikal itu yang membuat dirinya lebih baik mati bunuh diri ketimbang menyerah kepada tim Densus 88 Antiteror. “Padahal kami sudah meyakinkan, di situ ada anak kecil, kasihan. Terus kami coba imbau. Dengan tokoh masyarakat juga diimbau terus,” sebut Dedi.
Diketahui, istri Uppang bertahan di dalam rumah sejak Selasa (12/3) pukul 14.50 WIB usai Densus 88 Antiteror menangkap suaminya. Segala upaya sudah dilakukan tim dibantu Kepolisian dan tokoh masyarakat setempat untuk membujuk istri Uppang keluar dengan membawa anaknya.
Namun dia memilih meledakkan diri Rabu dini hari (13/3) sekitar pukul 02.00 WIB. “Ada potongan tubuh terlempar dari lokasi sekitar 70 meter,” ujar Kapolda Irjen Agus Andrianto.
Jasadnya dan anak balita berusia 2 tahun sudah berhasil dievakuasi kemarin siang. Sejauh ini tim masih melakukan sterilisasi di kediaman Uppang. Diduga masih banyak bom dan bahan peledak yang sewaktu-waktu meledak atau melukai petugas.
Menurut informasi yang didapat di lapangan, warga sekitar tak banyak menyimpan informasi soal kehidupan keluarga terduga teroris yang satu ini. Bahkan, siapa nama istri dan anak-anaknya, lurah setempat tak tahu-menahu.
Wahyu Aulia Siregar, Lurah Pancuran Bambu yang dikonfirmasi wartawan mengatakan, sejak ia menjadi lurah di sana, terduga teroris itu tidak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar. Menurutnya, Uppang belum pernah berkomunikasi dengannya selaku lurah.
“Sepengetahuan saya, dia ini pekerjaan sehari-harinya ahli membenarkan listrik di rumah warga. Cuma itu informasi yang saya dapat. Kalau menurut keterangan warga sekitar, orangnya cukup tertutup,” ujarnya.
Ditanyai soal pekerjaan istri Uppang, Wahyu juga mengaku tak mengetahuinya. Sepertinya hanya ibu rumah tangga. Karena anak-anak terduga pelaku masih kecil.
Mengungsi, Anak Tak Sekolah
Sejak Selasa (12/3), warga sekitar disuruh mengungsi oleh pihak Kepolisian, untuk menjaga keselamatan. Seperti yang dialami Dewi, seorang warga yang terpaksa membawa keempat anaknya mengungsi ke rumah saudaranya. “Kami tinggal di Gang Serumpun. Disuruh untuk mengosongkan rumah. Terpaksa kami pindah ke Jalan Mahoni,” kata Dewi.
Ironisnya, anaknya yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) terpaksa tidak masuk sekolah. Lantaran, seluruh pakaian mereka masih berada di dalam rumah. “Kami gak bisa ke rumah. Semua pakaian sekolah di rumah. Makanya, gak masuk sekolah hari ini. Kami pun mulai semalam belum berganti baju,” ungkapnya.
Senada juga dikatakan Kamsani, warga lainnya yang sudah mengungsi sejak Selasa (12/3) siang. “Kami sejak kemarin siang sudah mengungsi, belum pulang ke rumah,” kata Kamsani.
Sama dengan warga lainnya, wanita berjilbab yang mengaku bertetangga dengan Abu Hamzah ini mengaku tidak mengenal istri dari Upang. Bahkan, namanya pun mereka tidak pernah tahu. “Sangat tertutup orang ini,” pungkasnya.(dvs/ts/dc/int/smg)
PENJINAK BOM
Personel dari Tim Gegana bersiap menjinakkan bom yang ada di dalam rumah terduga teroris Husain alias Upang alias Abu Hamzah, Rabu (13/3) siang.
PENJINAK BOM Personel dari Tim Gegana bersiap menjinakkan bom yang ada di dalam rumah terduga teroris Husain alias Upang alias Abu Hamzah, Rabu (13/3) siang.
SIBOLGA, SUMUTPOS.CO – Tim Densus 88 Antiteror menangkap tiga terduga teroris dari jaringan Jamaah Ansharut Dhaulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Sumatera Utara. Ketiganya yakni Upang alias Husain alias Abu Hamzah, Abdul Khoir alias Ameng, dan istrinya Halimah.
Kepolisian terus melakukan sterilisasi di lokasi ledakan bom serta rumah para terduga teroris. Polisi juga menemukan bahan peledak dengan jumlah yang mencengangkan. Sejumlah bom ditemukan siap diledakkan.
SELAIN kediaman Upang alias Tupang alias Abu Hamzah, polisi juga menggeledah kediaman Abdul Khoir alias Ameng di Jalan Sisingamangaraja, Gang Gambolo, Sibolga Sambas. Dari sana, tim Gegana menemukan bahan baku bom seberat 300 kilogram.
Menurut seorang sumber yang tidak ingin identitasnya disebutkan, bahan baku bom itu ditemukan dari bawah tanah dalam rumah tersebut. “Ditanam di dalam tanah di bawah lantai dekat saluran air dalam rumah,” ujarnya.
Disebutkan, bahan baku bom itu tak hanya ditanam, namun bagian atasnya dicor. “Jadi memang posisinya itu persis di dekat pipa pembuangan air dalam rumah itu. Bagian atasnya dicor. Setelah ditemukan, Tim Gegana langsung membawa bahan baku itu naik mobil,” kata sumber.
Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto dalam keterangannya membenarkan adanya bahan baku bom sebanyak 300 kilogram yang sudah diamankan. “Dari hasil penggeledahan yang dilakukan, kalau barang bukti itu bisa dikumpulkan, kira-kira hasilnya 300 kilogram bahan jadi. Kalau mereka bisa merakit-merakit dan meramu bahan-bahan yang ada, sekitar 300 kilo,” ungkap Agus.
Menurut Kapolda, kejadian di Sibolga ini merupakan pengembangan penangkapan Densus 88 jaringan ISIS di Sumatera. “Densus bergerak, dan ditangkap satu terduga di Lampung dengan pengembangan di Sibolga,” ujarnya.
Agus menambahkan, ada bom lontong yang sudah siap diledakkan setiap saat oleh para terduga teroris. “Dari hasil penyelidikan, di lokasi tersebut sudah dirakit bomnya. Sewaktu-waktu bisa langsung diledakkan oleh pemegang pemicunya,” ujarnya.
Tak hanya itu, Kapolda memastikan sudah tiga terduga teroris yang diamankan. Meski demikian, pihaknya masih akan terus melakukan pengembangan untuk memastikan tidak ada pelaku lainnya. “Di luar yang di Lampung, ada tiga yang kita tangkap di Sibolga dan masih dilakukan penyidikan oleh Densus 88 gabungan dengan personel Polda Sumut. Mudah-mudahan kalau ada pengembangan, segera kita bisa lakukan penindakan terhadap pelaku yang masih ada di wilayah Sumatera Utara. Namun untuk wilayah Sibolga sudah aman,” pungkasnya.
Terdengar Ledakan Berulang
Hingga kemarin sore, sepanjang Jalan Cendrawasih masih steril dari aktivitas masyarakat. Tidak ada warga yang diperbolehkan lalu lalang di sana. Begitu juga para awak media yang dibatasi dan hanya bisa menjangkau posko penjagaan yang didirikan pihak Kepolisian sekitar 100 meter dari rumah terduga teroris.
Selain menggeledah rumah Upang dan Ameng, Tim Densus 88 juga menggeledah rumah milik keluarga marga Simanjuntak di Jalan Kutilang, Kelurahan Aek Habil, Sibolga Selatan. Pantauan di lokasi, Tim Densus 88 mulai bergerak sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (13/3). Lokasinya berjarak kurang lebih 8 km dari rumah Uppang.
Tim Densus datang dengan peralatan lengkap ke lokasi kedua ini. Tim juga membawa robot penjinak bahan peledak. Tak lama setelah tim beserta robot penjinak bom masuk ke area rumah, terdengar beberapa kali ledakan. Di sana, Polisi meledakkan (disposal) benda diduga bom milik terduga teroris. Dari pemeriksaan yang dilakukan, petugas dikabarkan menemukan baju anti peluru.
“Sekitar pukul 08.00-09.00 WIB, ada benda-benda yang diduga bom dilakukan penetrasi dan dijinakkan dengan cara diledakkan oleh Tim Gegana Brimob,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (13/3).
Dedi menjelaskan, terduga pelaku teroris yang diamankan di Lampung dan Kota Sibolga ini, menargetkan sasaran aksi bom bunuh diri kepada aparat kepolisian. Namun, aksi tersebut berhasil dicegah.
Untuk di Lampung, Polisi mengamankan R alias P, Sabtu (9/3) lalu. Kemudian di Kota Sibolga mengamankan Husain alias Upang alias Abu Hamzah dan dua rekannya secara terpisah.”Ini rangkaian penangkapan pelaku terorisme R alias P yang ada di Lampung pada Sabtu lalu,” jelas Dedi.
Aparat kepolisian, mengamankan barang bukti termasuk, sejumlah bom rakitan dari pipa paralon berhasil disita. Dedi mengatakan pihaknya terus mengembangkan kasus terorisme tersebut.
“Karena di Sibolga cukup banyak dan sudah terakit dan yang belum terakit. Untuk tujuan mereka adalah untuk Amaliah. Dimana sasarannya adalah aparat keamanan,” sebut Jendral berbintang satu itu.
Dedi juga menjelaskan identifikasi sementara, bom digunakan adalah bom lontong dirangkit menggunakan pipa paralon. Yang berisikan potasium, serpian besi, paku dan baut. “Di Lampung kita menemukan rangkaian bom yang sama. Cuma yang di Lampung bom lontong tidak sebanyak yang di Sibolga,” sebut Dedi.
Dia juga memastikan, Presiden Joko Widodo tetap melakukan kunjungan kerja ke Sumatera Utara pada 15-17 Maret mendatang.
Direncanakan, Jokowi akan menghadiri sejumlah agenda di Sumut. Diantaranya peresmian Pelabuhan Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) di Batubara dan meresmikan Pelabuhan Sibolga pada 17 Maret. Jokowi juga akan menghadiri silaturahmi dengan tokoh adat setempat.
“Tetap pasti (datang Jokowi). Aman. Situasi dapat kita kendalikan,” tegas Dedi.
Dia juga memastikan, pengamanan dilakukan oleh tim Paspampres sesuai dengan SOP dan super ketat dan aman bagi orang nomor satu di Tanah Air itu. Begitu juga, penindakan juga tetap dilakukan dalam pemberantasan terorisme. “Pelaku teror ini tidak melihat waktu dan tempat dia akan berjuang sepanjang tahun. Karena itu, kita sudah memiliki undang-undang 5 tahun 2018 polisan melakukan tindakan perpentif straight kita melakukan langkah-langkah mitigasi secara maksimal secara proaktif untuk mencegah aksi terorisme,” tandas Dedi.
Tak Berkaitan dengan Pilpres
Presiden Jokowi mengapresiasi kerja keras Polri, khususnya Densus 88, yang mengungkap teroris di Sibolga. Jokowi memastikan bom tersebut tak terkait Pilpres 2019. “Ini (bom di Sibolga) dimulai dari pengungkapan teroris yang ada di Lampung, nggak ada kaitannya dengan pilpres,” kata Jokowi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (13/3).
“Kita mengapresiasi kerja keras Polri, terutama Densus 88, yang telah membuka dan menangkap jaringan (teroris), baik yang ada di Sibolga, yang ada di Lampung, dan yang ada di tempat lain. Ini pengembangan dari penangkapan yang di Lampung dan kita lihat memang barangnya berupa bom itu ada,” imbuhnya.
Jokowi berharap, ke depan, Polri dapat mengembangkan dan menangkap jaringan teroris lain. Dia menegaskan teroris berbahaya bagi keamanan negara. “Sel-sel yang masih ada tersisa yang belum ketemu dapat segera (ditangkap). Ini berbahaya bagi negara ini, keamanan negara kita, kalau masih ada teroris-teroris yang menyimpan bom seperti itu. Saya sampaikan harus ada sebuah tindakan yang tegas terus tanpa henti, segera semuanya bisa normal,” tuturnya.
Jokowi mengaku prihatin ada masyarakat dan aparat yang menjadi korban bom di Sibolga. “Kita juga ikut prihatin rupanya ada masyarakat maupun dari aparat kita karena bom yang meledak kemarin,” ucapnya.
Senada dengan Presiden, Kapolda Sumut Agus Andrianto juga memastikan, peristiwa di Sibolga ini tak berkaitan dengan Pemilu 2019.
Jendral bintang dua ini mengatakan kalau penggerebekan tersebut memang sudah menjadi target Densus 88. “Tidak ada kaitannya,” ungkap Agus.
Menurutnya, ketiga pelaku yang diamankan merupakan jaringan yang sudah dipantau oleh satuan khusus Mabes Polri penanganan anti terorisme. “Mereka yang diamankan itu sudah dipantau oleh Tim Densus 88 Antiteror. Ini adalah jaringan pelaku yang berkaitan dengan penggerebekan di Lampung sebelumnya yang berafiliasi dengan ISIS,” katanya.
Untuk pengamanan Pemilu 2019, ia mengaku pihaknya sudah mempersiapkan teknisnya sesuai persiapan mereka. “Untuk pengamanan Pemilu 2019 sudah sesuai tahapan yang ada,” sebutnya.
Sementara untuk penanganan aksi teror yang ada di Sumut, Agus menegaskan antara Densus 88 dan Satgas Polda Sumut tidak berjalan bersama. “Kerjanya berbeda, tergantung pemantauan jaringan (terorisme),” pungkas Agus.
Pengaruh Pencucian Otak
Wali Kota Sibolga Syarfi Hutauruk mengutuk aksi peledakan bom terduga teroris di wilayah yang dipimpinnya itu. Menurutnya, aksi yang terjadi itu kemungkinan akibat adanya doktrin dari pihak-pihak di luar daerah tersebut. “Ini mungkin pengaruh pencucian otak dari luar mungkin masuk ke sini, dan ini sangat kita sayangkan dan mengkutuk cara-cara ini, yang tidak berprikemanusiaan seperti ini,” ujar Syarfi kepada wartawan saat meninjau posko pengamanan di Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Rabu (13/3).
Adanya terduga teroris di wilayah itu, Syarfi mengaku sangat prihatin dan tidak pernah terbayang akan hal itu terjadi, dimana selama ini Kota Sibolga dikenal dengan tingkat keamanan kerukunan umat beragamanya dan persaudaraannya sangat erat sekali. “Tidak pernah kita bayangkan ada peristiwa seperti ini, yang ada pelaku teroris, atau pelaku menyimpan bom,” katanya.
Atas peristiwa itu, Syarfi berharap masyarakat dapat memercayakan kepada aparat keamanan untuk menanganinya. “Harapannya kepada masyarakat agak tenang, percayakan kepada aparat keamanan, saya yakin dan percaya aparat keamanan kita baik Kepolisian maupun TNI, mampu mengatasi ini, terbukti sudah diatasi dan meminimalkan korban,” ucapnya.
Ke depan, lanjut Syarfi, Kepling dan Lurah akan diperintahkan untuk meningkatkan agar mendeteksi semua tamu maupun warga yang mengontrak rumah di wilayah masing-masing. “Sekaligus upaya kita kedepan juga akan sosialisasi kepada masyarakat, dan kemudian pemuka agama, dan habis ini juga saya akan meningkatkan perintah kepada Kelurahan dan Kepling untuk segera mendeteksi semua tamu, semua orang yang mengontrak, mendeteksi semua orang yang tinggal di Kelurahan masing-masing,” tegasnya.
“Kenali wajah masyarakat, kenali dimana dia tinggal dan siapa namanya, apa pekerjaannya, sehingga dengan demikian kita tau persis dari awal kita tau orang ini siapa,” tambahnya. (dvs/gus/ts/dc/int/dh/smg)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ke Sumatera Utara dipastikan tak terganggu dengan penangkapan terorisme di Kota Sibolga. Bahkan, Presiden ke-7 ini dikabarkan mempercepat lawatannya ke Sumut.
Rencana awal, Jokowi tiba di Sumut Jumat (15/3) sore. Namun informasi yang diterima Sumut Pos, mertua Bobby Nasution ini tiba di Sumut pada Kamis (14/3), sore ini. Setelah mendarat di Bandara Internasional Sisingamangaraja XII Silangitn
Tapanuli Utara, malam harinya Jokowi akan menginap di Hotel Niagara, Parapat. “Jadwal RI 1 ke Sumut dipercepat satu hari dari sebelumnya Jumat menjadi Kamis,” kata Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu, Ilyas Sitorus menjawab Sumut Pos, Rabu (13/3).
Meski begitu, Ilyas mengungkapkan, ihwal rute dan jadwal kunjungan RI 1 ke Sumut kali ini, akan dibahas lagi tadi malam. Dimana pembahasannya akan menghadirkan seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan Forkompimda Sumut. “Kan nggak boleh saya sebutkan sama kawan-kawan media perkembangan terbarunya, sementara dalam FKPD dan Forkompimda akan difinalisasi. Untuk jadwalnya, sebenarnya sudah ada saya pegang,” katanya.
Paska mengikuti rakor di Istana Negara bersama Mensesneg soal agenda kunker RI 1, dirinya menerangkan bahwa selain ada percepatan kedatangan Jokowi ke Sumut, juga ada perubahan jadwal rute kunjungan yang akan disambangi presiden. “Tadinya kan Bapak Presiden mau meninjau proyek Pelabuhan Kualatanjung di Batubara, beserta fasilitas jalur KA Bandar Tinggi-Kualatanjung, tapi kemungkinan besar nggak jadi ke sana. Jadi Kamis sore setelah beliau mendarat di Silangit, langsung menuju Hotel Niagara Parapat dan menginap. Tidak ada acara apapun di sana, paling cerita-cerita dan koordinasi biasa saja dengan bupati se-kawasan Danau Toba,” ungkapnya.
Ilyas melanjutkan, Jumat pagi Jokowi dijadwal akan membagikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada para pelajar di Balige. Setelah Salat Jumat di Balige, ia akan melanjutkan perjalanan ke Kota Medan melalui jalur udara dan mendarat di Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang. “Jumat sorenya, beliau akan mengunjungi tiga redaksi media cetak di Medan. Secara keseluruhan jadwalnya sudah fix, termasuk akan meresmikan pelabuhan yang telah selesai pengembangan di Sibolga. Untuk waktu kunjungan presiden tidak ada perubahan, artinya tetap sampai Minggu di Sumut,” pungkasnya.
Informasi yang Sumut Pos peroleh dari grup WhatsApp jurnalis di Medan, pada Sabtu (16/3) pagi Jokowi dijadwal menghadiri acara Rakernas AMPI di Lapangan Merdeka. Selanjutnya pukul 15.00 WIB, dia akan menghadiri acara deklarasi dukungan Alumni USU. Setelah itu dia bergerak menuju hotel untuk beristirahat sejenak, lalu pada pukul 18.30 WIB ia menuju ke tempat acara pertemuan antaretnis di Stadion Teladan Medan.
Selanjutnya pada Minggu (17/3) pagi, RI-1 dan rombongan dari hotel menuju ke lokasi zikir akbar. Habis dari situ, Jokowi menuju ke Lanud Soewondo terbang menuju Kota Sibolga. Di sana Jokowi dijadwal meresmikan Pelabuhan Sibolga dan dilanjutkan acara makan siang. Lalu pada pukul 14.30 WIB, RI-1 akan menghadiri acara pertemuan dengan tokoh Tapanuli. Dan pukul 16.30 WIB, Jokowi beserta rombongan take off menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat kepresidenan. (prn)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Paling lama awal April mendatang, seluruh calon aparatur sipil negara (CASN) yang lulus formasi Pemprovsu, sudah bertugas dan ditempatkan sesuai lokasi pemda yang dipilih sebelumnya.
“Sebelum pemilu (17 April) mereka sudah penempatan. Apalagi kan sekarang semua pakai aplikasi. Jadi prosesnya tidak lama,” kata Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu, Syahruddin Lubis, menjawab Sumut Pos, Rabu (13/3).
Saat ini, jelasnya, tahapan NIP dari BKN Regional VI Medan masih berlangsung. Pihaknya memprediksi, NIP khusus CASN Pemprovsu akan kelar bulan Maret ini. “Sedang proses daftar ulang pemberkasan atau verifikasi. Saya kira sudah final dan bulan tiga ini juga sudah selesai,” katanya.
Setdaprovsu baru akan memproses surat keputusan gubernur untuk CASN, setelah menerima Nomor Induk Pegawai (NIP) mereka dari Badan Kepegawaian Negara.
Pihaknya berharap, persetujuan NIP dari BKN Regional VI Medan atas CASN Pemprovsu segera rampung, supaya mereka dapat menindaklanjutinya. “Kami juga paham bahwa banyak sekali data yang mesti BKN input dan kerjakan. Itukan di scan satu persatu lagi berkasnya, makanya lama. Jadi kami tinggal menunggu nota persetujuan dari NIP dari BKN saja,” katanya.
Kepala BKN Regional VI Medan, English Nainggolan belum dapat dikonfirmasi lagi sekaitan perkembangan NIP CASN ini. Sebelumnya dia menyebutkan, untuk 7.514 pengusulan NIP CASN, yang sudah rampung dikerjakan sebanyak 3.003 NIP. “Selebihnya masih dalam proses dan kelengkapan dokumen,” tuturnya.
Sebelum NIP tersebut diberikan, para kepala daerah mesti menerbitkan SK terhadap CASN yang telah lulus tersebut. “Tahapan ini dilakukan setelah pemberkasan selesai semua dilakukan dan diserahkan ke kami datanya,” katanya.
Selanjutnya setelah SK dari masing-masing kepala daerah selesai dan diterbitkan, barulah CASN resmi menjadi seorang abdi negara dan siap menjalankan tugas serta tanggung jawabnya. “Kita harap Maret ini sudah bisa diberikan SK itu sekaligus kami nanti berikan NIP-nya, dan selanjutnya mereka bisa segera bertugas,” katanya.
Diketahui, Pemprovsu sendiri menyerahkan 1.028 berkas CASN ke BKN Regional VI Medan dari jumlah CASN yang lulus sebanyak 1.032 orang. Empat orang dinyatakan tidak menyerahkan berkas karena tahu akan ditempatkan ke Nias.
SK CASN Binjai Tunggu NIP
Senada dengan BKD Setdaprovsu, Surat Keputusan 88 orang yang dinyatakan lulus sebagai CASN Kota Binjai, juga bakal diserahkan setelah NIP rampung diterbitkan BKN. Sejauh ini, Badan Kepegawaian Daerah Kota Binjai masih menunggu proses penerbitan NIP oleh BKN.
“Buat NIP itu lama, yang buat itu BKN. Prosesnya dikelola oleh BKN,” jelas Kepala Bidang Kepegawaian dan Mutasi BKD Binjai, Hendra Januar, Rabu (13/3).
Menurut Hendra, BKD Binjai hanya dapat menunggu BKN. Soalnya, BKN semua yang mengelola penerbitan NIP tersebut. “Nanti kalau sudah terbit (NIP) dari BKN, diserahkan daerah-daerah untuk di-SK-kan,” sambung Hendra.
Nantinya, SK 88 CASN yang dinyatakan lulus ini akan diserahkan berbarengan dengan NIP. “Kenapa lama? Karena harus harmonisasi juga dengan Kementerian Keuangan. Kalau sudah ada NIP, tentukan juga berhak mereka digaji. NIP juga sebagai dasar penerbitan SK CASN juga,” tandas Hendra.
Semua Daerah Masih Menunggu
Terpisah, Kepala BKD Kota Tebingtinggi, Syaiful Fahri MSI, juga mengatakan bahwa penerbitan NIP dan SK CASN Kota Tebingtinggi tahun 2018, masih menunggu petunjuk dari Menpan RB. “Sampai saat ini belum ada petunjuk dari Menpan,” bilang Fahri, Rabu (13/3).
Pemko Tebingtinggi melalui BKD, terus melakukan kordinasi dengan pihak Menpan.
Tentang hasil ujian PPPK Tebingtinggi, pihak BKD juga masih menunggu keputusan dari Menpan. Menurutnya, hampir semua daerah di indonesia masih menunggu informasi dari kementerian terkait.
“Dalam hal ini Pemko Tebingtinggi melalui BKD tetap bersabar dalam menunggu keputusan Menpan,” bilangnya. (prn/ted/ian)
Markus/sumut pos
Rapat: Komisi E DPRD Sumut menggelar rapat bersama guru honorer terkait membahas PPPK.
Markus/sumut pos Rapat: Komisi E DPRD Sumut menggelar rapat bersama guru honorer terkait membahas PPPK.
Pasalnya, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kaiman Turnip tak hadiri RDP tersebut.
Kaiman Turnip tidak hadir karena harus menghadiri acara pertemuan di Jakarta dan mengutus Sekretaris BKD Provsu, Syafruddin Lubis untuk mewakilinya. Namun sayang, Syafruddin datang dengan tidak membawa keputusan dari BKD terkait rekrutmen tersebut, hingga rapat tidak menghasilkan apa-apa.
“Jadi apa gunanya rapat kita ini kalau Kepala BKD tidak hadir? Pak Sekretaris (Syafruddin) hadir ke sini didelegasikan oleh Pak Kaiman untuk apa? Kalau bapak sendiri tak punya kapasitas untuk mengambil keputusan rekrutmen itu. Kita skors saja lagi rapat ini. Dari sini kita bisa menilai kalau BKD memang tidak serius menangani PPPK ini,” tegas pimpinan rapat, Robert Lumbantobing yang juga merupakan Ketua Komisi E DPRD Sumut, Rabu (13/3).
Robert juga mengungkapkan kekecewaannya kepada BKD Provsu yang tidak mendahulukan kepentingan para guru honorer di Sumatera Utara. “Ini agenda penting, ini masalah nasib ratusan guru honorer di Sumut. Gubsu sudah sangat serius mau menyelesaikan masalah ini, tapi Kepala BKD malah memilih pergi menghadiri acara yang tidak terlalu penting di Jakarta,” kata Robert dengan kesal.
Dalam rapat yang sempat berlangsung cukup singkat itu, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sumatera Utara menyebutkan, ada sebanyak 187 orang penerima PPPK, namun badan tersebut belum mendapatkan data mereka yang mendapatkan itu.
“Kami telah terima surat dari MenPAN RB di Pemprovsu ada 187 orang, di mana 186 orang adalah guru dan 1 orang lainnya penyuluh. Tapi masalahnya dari 187 orang terdata, kami tidak tahu keberadaannya dimana,” kata Syafruddin Lubis.
Sedangkan Anggota Komisi E DPRD Sumut dari Fraksi PKS, Zulfikar menegaskan agar BKD lebih responsif terhadap kebijakan PPPK yang diyakini dapat diselesaikan. Karena menurutnya, bila alasan peralihan kewenangan dari kabupaten/ kota ke provinsi, hal tersebut tidak dapat diterima.
“Kalau itu alasannya, provinsi yang lain juga mengalami hal yang sama. Tapi provinsi lain kenapa bisa? Kenapa kita tidak bisa? Kalau masalah anggaran, data, dan lain-lain, itu masalah klasik. Ini kebijakan pemerintah pusat, masak kami di dewan tidak mau bantu. Jangan banyak alasanlah,” kata Zulfikar.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi E, H.Syamsul Qadri Marpaung sempat mempertanyakan realisasi 187 orang yang diterbitkan MenPAN RB. “Kita tidak paham ada 187 itu, yang mana K2 yang bisa dimasukkan dalam program PPPK. Harapan kami penerimaan PPPK ini sudah bisa dilakukan sebelum Pemilu. Ketidaksiapan BKD Sumut tentunya menjadi catatan bagi Komisi E. Kalau menurut saya Kepala BKD tak siap jalankan P3K di Sumut,” kata Syamsul Qadri.
Turut hadir dalam rapat tersebut, Kadis Pendidikan Sumut, Arsyad Lubis, Sekretaris Komisi E Siti Aminah Peranginangin, sejumlah anggota komisi E, Staff BKD Provsu serta puluhan guru honorer. (mag-1/ila)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wacana kebijakan pengurangan jumlah 11.624 Pekerja Harian Lepas (PHL) yang ada di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemko Medan, membuat PHL mulai resah. Mereka khawatir diputus kontrak kerjanya.
Seperti disampaikan Melati (nama samaran), seorang PHL di salah satu dinas. “Pasti resah dan khawatirlah, kalau diputus kontrak bagaimana? Makanya, saya berharap jangan sampai kena pengurangan,” ujarnya kepada Sumut Pos, kemarin.
PHL yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun ini menuturkan, jika sampai kena pengurangan akan mempertanyakan kepada pimpinannya. Bahkan, menyurati wali kota Medan. “Kalau sampai kena (pengurangan), saya tanya langsung kepada pak kadis apa alasannya. Sebab, dalam bekerja saya selalu displin dan tak pernah main-main,” akunya.
Tak jauh beda disampaikan PHL dari dinas lainnya, Mawar (nama samaran). Kata dia, rencana kebijakan tersebut diharapkan jangan berlarut-larut. “Maunya cepat diselesaikan, soalnya kami kepikiran terus dan enggak tenang bekerja. Kalau sampai diputus kontrak, mau makan apa nanti anak saya. Terus, biaya sekolahnya gimana,” keluh PHL yang sudah 5 tahun lebih bekerja ini.
Selain PHL Pemko Medan yang resah, PHL Sekretariat DPRD Medan juga demikian terutama yang bekerja diatas 2 tahun. “Kami dapat informasi bahwa akan ada perampingan PHL, dari 125 direncanakan akan berkurang 50 persen,” ungkap Ucok (nama samaran).
Dia mengaku, sudah memiliki tanggungan rumah tangga dan ada yang merupakan tulang punggung keluarga. Oleh sebab itu, sangat sedih dan takut jika terkena pengurangan. “Anak saya masih kecil-kecil, satu sekolah dasar dan satu lagi di bawah 5 tahun usianya. Bisa dibayangkan kalau sampai dipecat, kacau masa depan mereka karena bapaknya tak memiliki pekerjaan lagi,” ucapnya.
Sementara, pengamat tata kota, Rafriandi Nasution mengkritik rencana kebijakan pengurangan PHL tersebut. Ia menilai, kebijakan itu tidak sejalan dengan program Pemerintah Pusat. Bagaimana tidak, Pemerintah Pusat kini berupaya menyejahterakan honorer dengan program penerimaan Pegawai Pemerintahan dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Sedangkan Pemko Medan malah sebaliknya.
“Kalau kebijakan ini karena Pemko tidak memiliki uang lagi tentu tidak masalah, sehingga mau tidak mau harus dilakukan. Namun, kondisinya berbeda apakah Pemko Memang sudah tak ada uang lagi untuk membayar gaji PHL,” tanya Rafriandi.
Diutarakan dia, jika kebijakan itu diberlakukan patut dipertanyakan kemana aliran dana yang diperuntukkan untuk membayar gaji. “Ini harus jelas peruntukkannya dan transparan kemana anggaran itu disalurkan,” ujar dia.
Kebijakan ini, sebut dia, menimbulkan tanda tanya besar ada apa sebenarnya yang terjadi di Pemko Medan? Alasannya, kenapa baru sekarang dan tidak dari dulu dikurangi jumlah PHL?
“Jangan sampai kebijakan ini menjadi buah simalakama. Sebab, sama-sama kita ketahui dan sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwasanya untuk menjadi PHL diduga membayar sejumlah uang. Apabila yang diberhentikan ternyata membayar uang untuk menjadi pegawai. Maka, pasti akan menuntut karena telah dirugikan,” cetus alumni Pascasarjana USU ini.
Oleh karena itu, kata Rafriandi, perlu dikaji atau dipertimbangkan lagi rencana kebijakan pengurangan PHL dengan alasan yang kuat. “Anehnya, kalau memang tak mampu lagi membayar gaji tapi kenapa malah membangun proyek-proyek yang bernilai cukup besar. Maka dari itu, bila kondisinya seperti ini menimbulkan asumsi atau dugaan sarat kepentingan rencana kebijakan tersebut,” ucapnya.
Meski demikian, tambah dia, jika memang terdapat PHL yang fiktif dan tidak efektif atau produktif dalam bekerja maka silahkan saja diberlakukan kebijakan ini. Akan tetapi, kalau sebaliknya hal ini menjadi pertanyaan besar yang menimbulkan kecurigaan. (ris/ila)