Home Blog Page 5862

Bendahara Ngaku untuk Uang Kas

Solideo /sumut pos Nuraini selaku Bendahara Tagana Karo
Solideo /sumut pos
Nuraini selaku Bendahara Tagana Karo

KARO, SUMUTPOS.CO – Praktik dugaan pungutan liar (pungli) dana tali asih relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di Dinas Sosial Kabupaten Karo, ternyata bukan kali ini saja terjadi. Hasil penelusuran wartawan, Tagana Kabupaten Karo sudah terbentuk dari tahun 2007 dengan anggota berjumlah 105 orang.

Para anggota Tagana mulai menerima tali asih dari tahun 2008 hingga saat ini. Namun di tahun 2018 ini, jumlah relawan Tagana yang aktif turun menjadi 66 orang.

Permasalahan pun muncul ketika salah seorang Tagana tak setuju uang tali asihnya di potong sebesar Rp250 ribu.

“Tiap terima selalu saja dipotong 250 ribu. Kalikan saja berapa jumlah Tagana yang ada,” kata salah seorang relawan Tagana yang minta namanya jangan dicantumkan.

Ia menjelaskan, seharusnya total keseluruhan uang tali asih yang diterima sebesar Rp1.500.000. “Berhubung dipotong Rp250 ribu, tinggal Rp1.250.000,” ungkapnya.

Menurutnya, ia tidak mengetahui uang yang dipotong itu digunakan untuk apa. “Gak tau aku bang uang itu bakal digunakan untuk apa. Sebab tidak dijelaskan,” bebernya, Senin (15/10).

Bendahara Relawan Tagana Nuraini didampingi Kabid Perlindungan, dan Jaminan Sosial, Usaha Purba yang dikonfirmasi berdalih pemotongan itu berdasarkan kesepakatan pengurus untuk uang kas. Anehnya wanita ini enggan menjelaskan berapa yang sudah terkumpul dan di rekening mana disimpan.

“Mesti kali saya jawab itu disimpan di rekening siapa ya, dan perlu kali kalian tahu jumlahnya. Jika engak saya jawab kan engak apa-apa kan,” tantang Nuraini.

Pernyataan Nuraini yang menyebut pemotongan itu adalah kesempatan bersama dibantah oleh Koordinator Tagana Kab.Karo Milgran Sembiring. Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, Milgran menegaskan dirinya sama sekali tak mengetahui soal pemotongan tersebut. Dia juga mengaku berang dengan pengutipan tersebut.

Bahkan sebagai koordinator, Milgran sama sekali tak dilibatkan pihak Dinas Sosial terkait pemotongan dan pencairan dana tali asih tersebut. “Saya juga keberatan dengan pemotongan itu. Sebagai kordinator, saya juga tak dilibatkan dalam pencairan tali asih ini. Pemotongan dana ini harus diusut tuntas,” tagasnya sembari meminta Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial, Usaha Purba bertanggungjawab.

Sementara, Kepala Dinas Sosial Karo, Benyamin Sukatendel menegaskan agar para bawahan tidak melakukan pungli, baik berkedok uang terimakasih atau uang rokok maupun lainnya. Karena ini bukan jamannya lagi, dimana ketransparan saat ini adalah yang diutamakan.

“Jika terbukti adanya pemotongan tali asih yang diberikan pihak Dinas Sosial Karo pada relawan Tagana, maka kita minta pihak berwajib mengusutnya. Karena itu adalah haknya relawan Tagana,” jelas Benyamin.

Sekedar mengingatkan, saat pencairan di Dinas Sosial Karo pada Selasa (9/10) siang, anggota Tagana Karo hanya menerima tali asih Rp.1.250.000 juta/orang. Sedang sisanya sebanyak Rp 250.000 dipotong oleh oknum Dinas Sosial Karo.

“Kami hanya menerima Rp. 1.250.000/anggota. Padahal tahun-tahun sebelumnya potongan hanya Rp.100.000,” kata salah seorang anggota Tagana Karo kala itu. Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial, Usaha Purba tetap berkelit pihaknya melakukan pungli. Dipaparkan Usaha, setiap anggota Tagana berhak memperoleh tali asih Rp.1.500.000/orang untuk 2 semester. “Para anggota Tagana berhak menerima tali asih Rp. 250.000/bulan. Ini tali asih bukan gaji ya, karena jumlahnya dibawah UMK,” elaknya.

Tali asih ini lanjut dia, seharusnya sudah cair dari bulan Juli lalu. Karena keterlambatan itulah, kemarin pihaknya menjemput langsung uang itu ke Dinas Sosial Sumut. “Saya sendiri yang menjemput uang ini, jumlah keseluruhannya Rp.99.000.000,” kata Usaha yang 6 bulan lagi bakal pensiun itu.

Lalu bagaimana dengan pemotongan tersebut? Usaha mengaku tak memaksakan potongan. “Kami tidak memaksa, kalau dikasih uang rokok yang syukur. Kalau tidak dikasih, ya mau gimana lagi,” elaknya. (deo/han)

Nasib Kompol Fahrizal Ditentukan Pekan Depan

AGUSMAN/SUMUT POS SIDANG: Terdakwa penembakan adik ipar, Kompol Fahrizal menjalani persidangan di Ruang Kartika, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (15/10) sore.
AGUSMAN/SUMUT POS
SIDANG: Terdakwa penembakan adik ipar, Kompol Fahrizal menjalani persidangan di Ruang Kartika, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (15/10) sore.

SUMUTPOS.CO – Setelah jaksa membenarkan terdakwa memiliki gangguan jiwa, nasib Kompol Fahrizal akan ditentukan hakim pekan depan. Nasib pelaku penembakan adik ipar itu akan ditentukan pada putusan sela.

“KALAU surat keterangan sakit jiwa itu benar, tapi kami meminta saksi ahli dokter jiwa yang bersangkutan harus dihadirkan,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan dalam lanjutan sidang di Ruang Kartika, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (15/10) sore.

Dalam sidang yang hanya berlangsung kurang lebih 10 menit dipimpin Hakim Ketua Deson Togatorop itu, JPU mengaku telah menerima surat medis tentang penyakit yang diderita terdakwa.

Surat diterima dari Klinik Utama Bina Atma pada 5 Agustus 2014 dan berkelanjutan hingga 11 April 2016. Dalam surat tertera, dokter yang merawat adalah dr Mustafa M Amin dan dr Vita Camelia.

Hal ini dinyatakan, adanya bukti pemeriksaan gangguan kesehatan yang dialaminya, sebagaimana surat yang dikeluarkan pimpinan Klinik Utama Bina Atma yang ditandatangani dr Tapi Harlina MHA tertanggal 16 April 2018.

Selain itu, hasil penyidikan Krimum Polda Sumut melakukan pemeriksaan terhadap Kompol Fahrizal di RS Jiwa Prof DR Muhammad Ildrem.

Saat itu, pihak dokter yang memeriksa kesehatan terdakwa yakni, Dr Paskawani Siregar tertanggal 23 April 2018. Dr Paskawani menyebut, pelaku mengalami sakit Skizofrenia Paranoid.

Sayangnya, selepas sidang itu, JPU Randi Tambunan enggan memberikan komentar kepada wartawan. Ia langsung bergegas masuk ke dalam mobil Fortuner hitam yang sudah menunggu di depan pintu masuk PN Medan.

Kompol Fahrizal juga turut berada di dalam mobil itu, duduk di belakang dengan pengawalan dua personel berpakaian dinas.

Sementara, penasehat hukum terdakwa Julisman SH membenarkan kalau JPU telah mengakui terdakwa memiliki riwayat gangguan jiwa.

“Jadi ada fakta yang hilang dalam dakwaan JPU kalau terdakwa pernah dirawat dan mengalami gangguan jiwa berat. Tapi di sidang tadi sudah diakui oleh JPU makanya untuk kewenangan (sidang ini dilanjutkan atau tidak) itu berdasarkan Pasal 44 KHUPidana adalah hak nya majelis hakim,” kata Julisman seraya mengatakan, sidang dengan agenda putusan sela itu akan digelar pada 22 Oktober mendatang.

“Artinya JPU bukan sepakat tapi memang itulah faktanya yang dialami terdakwa. Kami tidak pesimis tapi harapan kami hakim menerima eksepsi kami,” tandas Julisman.

Sementara, sebelum proses persidangan dimulai, mantan Wakapolres Lombok Tengah itu bebas keluar masuk dan merokok saat menunggu sidang di Ruang Cakra 4 PN Medan.

Mengenakan kemeja biru dongker dan ditemani istrinya, mantan Kasat Reskrim Polrestabes Medan ini dengan santai melenggang keluar ruang sidang.

Ia kemudian merapat ke empat petugas Polda Sumut (dua di antaranya berpakaian preman) yang mengawalnya sejak datang ke gedung PN Medan.

Tanpa basa basi, Kompol Fahrizal langsung menyalakan sebatang rokok miliknya. Petugas berpakaian preman tadi terlihat menutupi agar Kompol Fahrizal tidak terlihat oleh wartawan.

Kompol Fahrizal tampak tenang, tidak terlihat sedang mengalami gangguan jiwa (skizofrenia paranoid) seperti yang disampaikan tim kuasa hukumnya.(man/ala)

Shalat Gaib Berjamaah

humas pemprovsu for sumut pos salat ghaib: Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi menunaikan Salat Ghaib berjamaah di Masjid Raya Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Senin (15/10). Salat Ghaib ini ditujukan kepada korban bencana banjir bandang. yang terjadi di desa Muara Saladi, Kec. Ulu Pungkut.
humas pemprovsu for sumut pos
salat ghaib: Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi menunaikan Salat Ghaib berjamaah di Masjid Raya Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Senin (15/10). Salat Ghaib ini ditujukan kepada korban bencana banjir bandang.
yang terjadi di desa Muara Saladi, Kec. Ulu Pungkut.

Pasutri Asal Medan Menjambret di Aceh

Jambret asal Medan di ringkus
Jambret asal Medan di ringkus

ACEH JAYA,SUMUTPOS.CO – Mengaku hendak berwisata di pantai, pasangan suami istri asal Medan ternyata baru saja menjambret di Aceh Jaya. Keduanya kemudian diringkus personel Polsek Sampoiniet, Aceh Jaya, Senin (15/10).

Kapolsek Sampoiniet Ipda Fajriadi mengatakan, pasutri adalah terduga pelaku penjambretan terhadap guru SD bernama Khatijah (54). Keduanya menjambret di Dusun Panton Mane, Desa Kuala Ligan, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, Sabtu (13/10) malam.

Penangkapan berawal dari informasi adanya orang yang mencurigakan di seputaran kaki gunung Keumala, Desa Lhok Krut Kecamatan Sampoiniet.

“Ketika diinterogasi di lokasi, pasutri ini katanya baru turun dari mobil tadi subuh dan tujuan hanya ingin bermain ke pantai. Keterangan mereka jauh berbeda dengan kondisi badan yang terdapat lecet-lecet seperti orang yang baru keluar dari hutan,” kata Fajriadi, mengutip ajnn.net, Senin (15/10).

Usai ditangkap, pasutri ini langsung diboyong ke Polsek Sampoiniet untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Dari tangan keduanya diamankan beberapa barang bukti, termasuk telepon genggam milik korban dan sejumlah uang tunai.

“Pelaku bernama Mulyadi (37) yang bekerja sebagai pedagang, berasal dari Medan. Sementara istrinya bernama Nuraini (25) IRT, asal Medan. Keduanya ternyata sudah lama menetap di Sare Aceh Besar,” ungkapnya.

Seperti dilaporkan, penjambretan itu dilakukan Mulyadi dan Nuraini terhadap Khatijah (54), seorang guru SD di Dusun Panton Mane, Desa Kuala Ligan, Kecamatan Sampoiniet Aceh Jaya, Sabtu (13/10) sekitar pukul 18.30 Wib.

Akibat kejadian itu, Khatijah mengalami luka-luka di sekujur tubuh setelah terjatuh dari motor lantaran mempertahankan tas miliknya yang ditarik pasutri tersebut.

Menurut penuturan Ira Wahyuni (26), putri Khatijah, saat itu ibunya hendak pulang ke rumah. Namun, tiba di lokasi, pelaku yang datang dari belakang langsung menarik tas ibunya.

“Mungkin karena tarikan itu, ibu saja jatuh dan terpental di aspal, hampir sekujur tubuh ibu saya luka-luka,” kata Ira.

Bahkan, pasutri tersebut sempat berhenti untuk membawa kabur sepeda motor milik Khatijah. Namun, masyarakat yang mengetahui kejadian itu langsung berdatangan ke lokasi.

“Pelaku hanya membawa tas samping milik ibu saya. Bahkan sepeda motor milik pelaku juga tertinggal di lokasi, karena keburu kabur setelah didatangi masyarakat,” ujarnya.

Saat ini, kata Ira, ibunya harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Teuku Umar. “Di dalam tas itu ada uang Rp1,5 juta, telepon genggam, ATM, buku bank dan surat-surat penting lainnya,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Sampoiniet. Barang bukti yang berhasil diamankan yakni sepeda motor milik pelaku dan sandal dua pasang. (ajnn/bbs/ala)

Polisi Diusir Kamdal Kejatisu

.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Personel Polsek Delitua terpaksa membubarkan diri saat melaksanakan tugas pengamanan aksi unjuk rasa di Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Senin (15/10). Mereka mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari petugas Keamanan Dalam (Kamdal) Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu).

Kejadian berawal saat petugas kepolisian ini sedang melaksanakan apel pengamanan di halaman depan kantor Kejatisu yang dipimpin langsung oleh Wakapolsek AKP Tina Pulitawati. Namun tiba-tiba datang seorang petugas Kamdal Kejatisu yang melarang dan mengusir para petugas kepolisian ini.

“Sebelumnya, personel kita akan melakukan pengamanan aksi unjuk rasa terlebih dahulu melaksanan apel di halaman depan kantor Kejatisu. Namun tiba-tiba datang seorang petugas Kamdal Kejati Sumut meminta surat izin,” ungkap Kapolsek Delitua Kompol BL Malau kepada wartawan. Malau menjelaskan, petugas kamdal outsourching dari pihak Kejatisu yang melakukan pengusiran itu bernama Teguh (28).

Malau melanjutkan, tindakan petugas kamdal itu dilakukannya, berdasarkan perintah dari Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejatisu. “Kemudian atas pelarangan tersebut maka personel pengamanan pun membubarkan diri,” jelasnya.

Malau melanjutkan, saat membubarkan diri itu, Kasipenkum Kejatisu Sumanggar Siagian langsung menjumpai Wakapolsek Delitua AKP Tina Pulitawati untuk memberi klarifikasi atas kejadian tersebut.

Kepada Tina, Sumanggar menjelaskan bahwasanya pelarangan itu hanyalah sebuah kesalah pahaman saja. Saat ini, kata BL Malau, Kamdal outsouching bernama Teguh tersebut sudah tidak ada lagi ditemukan di Kantor Kejatisu.

Menurut Kapolsek, para pegawai Kejatisu menutupi tentang keberadaan Teguh saat itu. Dan, enggan memberikan informasi atas kejadian tersebut.

“Padahal ini objek yang mau kita jaga, orangnya yang mau kita jaga kok malah diusir. Lagian ngapain kami di situ kalau nggak ada unras (unjuk rasa),” pungkasnya.

Terpisah, Kasi Penkum Kejatisu, Sumanggar saat dikonfirmasi mengatakan hal tersebut merupakan kesalah pahaman yang terjadi. “Miss communication atau salah paham, jadi sudah klir dan tidak masalah, ya,” jawabnya melalui pesan WhatsApp.

Menurutnya, pada saat personel Polsek Delitua melakukan apel, terjadi kesalahpahaman penyampaian oleh pihak Kamdal “Itu cuma salah penyampaian oleh pihak kamdal kita, tapi uda diklarifikasi kepada yang bersangkutan, tidak ada masalah,” tandas Sumanggar. (man/azw)

15 Tahun Tenggak Minuman Energi, Mantan Sopir Ini Berhenti karena Katarak

Foto: Dame/Sumut Pos PASIEN KATARAK: Zainul Sinaga, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, didampingi istrinya, Minggu (14/10/2018).
Foto: Dame/Sumut Pos
PASIEN KATARAK: Zainul Sinaga, salah satu dari ratusan pasien yang menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit TNI Losung Batu Padangsidimpuan, didampingi istrinya, Minggu (14/10/2018).

Selama 15 tahun jadi sopir truk freezer pengangkut ikan dari Sibolga menuju berbagai kota di Pulau Jawa, pria ini selalu menenggak minuman berenergi. Tujuannya, agar tahan mengemudi selama berhari-hari. Katarak membuatnya berhenti dua hal: minum dan bawa truk lintas provinsi.

————————————
Dame Ambarita, Medan
————————————

Apakah bertahun-tahun menenggak berkaleng-kaleng minuman energi dari berbagai merek, bisa memicu katarak? Belum ada penelitian yang membuktikan. Tapi bagi seorang Zainul Marwan Sinaga, cukuplah 15 tahun ia mengonsumsinya.

“Sejak 10 tahun lalu, saya berhenti minum-minuman energi,” cetusnya sembari senyum lebar memamerkan giginya yang tampak kecoklatan, Minggu (14/10/2018).

Didampingi istrinya Hotma boru Hutabarat (55), pria berusia 57 tahun ini sedang duduk menunggu bus yang disewa aparat Koramil Lumut, Tapteng, menjemput mereka di RS TNI Losung Batu Padangsidimpuan. Bus itu akan membawa pulang sekitar 30-an warga Lumut yang sudah selesai menjalani operasi katarak gratis, yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan Kodam I/BB dan ANV, periode 2018.

Mengenakan kacamata hitam yang dibeli istrinya seharga Rp25 ribu dari pedagang yang berjualan di tengah keramaian rumah sakit, pria mantan sopir truk ini dengan ramah merespon ajakan ngobrol.

Ayah tiga anak yang tinggal di kecamatan Lumut, Tapanuli Tengah ini, menuturkan, sejak muda dirinya rutin mengemudi truk freezer bermuatan ikan laut asal Sibolga, ke berbagai kota di Pulau Jawa. “Sejak tahun 1994,” cetusnya. Ke Probolinggo, Jember, Surabaya, dan kota-kota lainnya. “Paling dekat ke Jakarta,” cetusnya, lagi-lagi senyum memamerkan gigi.

Ia memiliki sopir serap. Perjalanan membutuhkan waktu berhari-hari. Tidur di atas truk secara bergantian.

Untuk mendapatkan stamina, ia rutin menenggak minuman energi dari berbagai merek. “Biar bisa gantian mengemudi tanpa merasa ngantuk,” cetusnya, lagi-lagi tersenyum lebar.

Gaya hidup sopir truk lintas provinsi, menurutnya sama sekali tidak sehat. Perjalanan jarak jauh pasti berhari-hari. Mata dipaksa melek siang malam. Tidur di truk tidak nyenyak. Stamina diperas lewat minuman energi. Kerap makan mie instan.

“Saat mengemudi malam hari, mata pasti silau kena lampu jarak jauh yang ditembakkan kendaraan dari arah berlawanan. Ditambah makanan yang tidak sehat, lengkaplah sudah,” cetus pria yang sudah dua periode terpilih sebagai Kepling ini, sambil tertawa.

Hampir setiap minggu ia wajib mencari tukang urut. Ototnya terasa ngilu-ngilu.

Seiring bertambahnya tahun, pandangannya tidak lagi sejernih dulu. Puncaknya tahun 2008, ia memutuskan matanya perlu pengobatan. Karena benda-benda kerap terlihat ‘mencong-mencong’.

“Mencong-mencong… peot-peot,” katanya mengeluarkan pasokan istilahnya yang lucu.

Ia pernah mendatangi tabib India di Medan. Diberi obat tetes mata. Tapi tidak memberi perubahan apapun. Mendatangi berbagai optik dan mencoba puluhan kacamata. Tapi tetap tidak bisa melihat jelas.

Akhirnya sebuah optik di Sibolga yang didatanginya menawarkan untuk memanggil dokter mata kenalannya. Si dokter datang dan memvonis: “Katarak!”
Ditawarkan untuk operasi. Tapi saat ditanya mengenai harga, alamakk: Rp6 juta per satu mata. “Takut saya dengan harga itu. Laa.. bayar berapa kalau operasi dua mata. Pikir-pikir dululah,” ungkapnya dengan nada kocak.

Mendapati fakta yang membahayakan keselamatannya sebagai sopir truk lintas provinsi, ia mengambil keputusan besar: berhenti jadi sopir truk antarpulau.

“Tapi tidak berhenti total ya. Saya masih membawa truk. Tapi ya putar-putar Tapteng ajalah,” kata pria yang akhirnya putar haluan menjadi pemborong bangunan rumah. Selain jadi pemborong bangunan kecil-kecilan, ia juga nyambi sebagai petani karet dan sawit. Dibantu istri.

Selama 10 tahun membiarkan kataraknya bercokol tanpa operasi, akhirnya ia ikut sebagai salahsatu peserta operasi katarak gratis yang dibiayai PT Agincourt Resorces, pengelola tambang emas di Batangtoru Tapsel.

“Sebenarnya sudah 4 tahun terakhir ini saya dapat informasi mengenai operasi katarak ini. Bahkan sudah tiga kali mendaftar ikut. Tapi saat mau pergi, ada saja halangan untuk pergi. Undangan pesta lah, ada proyeklah, dll. Tahun ini ikut karena nggak ada halangan,” cetusnya.

Ia memuji Babinsa di Lumut yang disebutnya sukses sebagai penyatu masyarakat.

“Semangat ikut operasi. Sakitnya hanya serasa digigit semut. Gratis. Dikasih makan lagi,” pujinya happy.

Meski pandangannya belum terang, ia santai saja menunggu hingga seminggu. Karena mantan-mantan pasien katarak di desanya semua berhasil melihat.

“Cuma dokternya bilang kerjaan jangan dulu berat-berat. Jangan terlalu banyak menunduk,” katanya.

Ia mendoakan perusahaan yang mensponsori operasi, agar aman dan nyaman berusaha di daerah Tapanuli. Karena mau membantu masyarakat.

“Tapi kalau boleh titip pesan, Tambang Emas Martabe jangan hanya peduli masyarakat lingkar tambang saja. Kalau bisa desa tetangganya juga,” pintanya sembari melirik penuh makna ke arah staf Martabe yang duduk di dekatnya. (Mea)

Korban Tewas Banjir Bandang di Madina Capai 17 Jiwa

istimewa EVAKUASI: Para prajurit TNI bersama warga saat mengevakuasi korban tewas tertimbun lumpur saat banjir bandang menerjang Kabupaten Mandailing Natal.
istimewa
EVAKUASI: Para prajurit TNI bersama warga saat mengevakuasi korban tewas tertimbun lumpur saat banjir bandang menerjang Kabupaten Mandailing Natal.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Evakuasi yang dilakukan tim SAR gabungan bersama relawan dan masyarakat telah menemukan 17 korban meninggal akibat banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Sedangkan 11 kecamatan yang terisolir akibat akses jalan tertutup longsor, sudah berhasil dibuka.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, 11 titik longsor yang awalnya menutup beberapa ruas jalan di Mandailing Natal juga sudah dapat diatasi. Alat berat dikerahkan untuk membantu evakuasi korban dan membersihkan material longsor.

“Jumlah korban meninggal dunia tercatat 17 orang, dan 12 orang anak sekolah di Kecamatan Ulu Pungkut, 3 orang pekerja gorong-gorong jalan di Kecamatan Muara Batang Gadis, dan 2 orang yang kecelakaan mobil masuk ke Sungai Aek Batang Gadis saat banjir,” kata Sutopo.

Dari 29 anak sekolah SD Negeri 235 yang sekolah sore saat diterjang banjir bandang di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, pada Jumat, 12 Oktober 2018, kondisinya 12 anak meninggal dunia dan 17 anak berhasil diselamatkan.”Semua korban adalah anak-anak berusia di bawah 12 tahun,” ujar dia.

Sutopo menyebut, dari 17 anak yang selamat, 7 anak di antaranya luka-luka dan dirawat di Puskesmas setempat. Selain itu, 2 orang guru juga ditemukan selamat. Korban selamat ditemukan di bawah reruntuhan bangunan dan sebagian terseret oleh banjir bandang.

Sedangkan 2 korban meninggal yang ditemukan di dalam mobil yang terjebur ke Sungai Aek Batang Gadis adalah seorang pegawai PT Bank Sumut dan seorang personel Polri yang sedang mengawal pegawai PT Bank Sumut. Korban telah diserahkan kepada pihak keluarga. Sementara korban 3 orang pekerja gorong-gorong jalan di Kecamatan Muara Batang Gadis juga sudah diserahkan pada keluarga.

Sedangkan Kabid Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mandailing Natal Muhammad Yasir mengatakan hal yang sama. Jumlah korban meninggal dunia hingga saat ini, tercatat 17 orang. Korban terdiri dari 12 orang pelajar SD di Kecamatan Ulu Pungkut, dan tiga orang pekerja gorong-gorong jalan di Kecamatan Mura Batang Gadis.

“Evakuasi yang dilakukan Tim SAR, TNI, Polri, satpol PP, relawan dan masyarakat telah menemukan 17 warga yang meninggal,” kata Yasir, Minggu (14/10).

Yasir menjelaskan, dua orang korban meninggal dunia yang ditemukan di dalam mobil yang tercebur ke Sungai Aek Batang Gadis adalah pegawai PT Bank Sumut dan anggota Polri yang tengah melakukan pengawalan, kedua korban itu, telah diserahkan kepada pihak keluarganya.

Adapun jumlah korban yang meninggal dunia di Kecamatan Ulu Pungkut, tercatat 12 orang, yakni Mutiah (12), Aisyah (12), Soifah (12), Rian Syahputra (10), Ahidan (10), Isnan (10), Tiara (10), Dahleni (10), Masitoh (9), Alfisyhari (9), Habsoh (9) dan Israil (9).

Sedangkan, korban mengalami luka-luka 17 orang, yaitu Tasya Amaelia (12), Abel (12), Lusiana (22), Sobbiah (12), Sulton (11), Jibril Saukani (11), Solehuddin (11), Ahaddin (11), Raihansyah (11), Risdah (11), Jufriadi (10), Mujiburrohman (10), Annasofa (10), Khoirunissa (10), Putri (9), Nabila (9), dan Adawiyah (9).

Banjir di Kecamatan Ulu Pungkut, juga mengakibatkan 12 rumah warga hanyut dan rusak total, sembilan rumah rusak berat, serta tiga fasilitas umum di Desa Muara Saladi berupa Poliklinik Desa, Gedung SD Negeri 235, dan gedung PKK rusak.

“Banjir bandang di 11 Kecamatan itu, beberapa di antaranya Kecamatan Natal, Lingga Bayu, Muara Batang Gadis, Naga Juang, Panyabungan Utara, Bukit Malintang, Ulu Pungkut, Kota Nopan dan Batang Natal,” katanya.

Begitu juga dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara, Riadil Akhir Lubis, Kabupaten Mandailing Natal masih dalam status darurat bencana. Status itu dikeluarkan bupati Madina selama tujuh hari, mulai dari 12 hingga 18 Oktober mendatang.

“Penanganan darurat masih terus dilakukan Bupati telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor selama 7 hari (12-18 Oktober 2018),” kata dia.

Pihaknya, kata Riadil, masih terus membantu melakukan evakuasi terhadap korban banjir dan longsor bersama BPBD Madina dan masyarakat, serta membuka desa-desa yang masih terisolir dari genangan dan pembersihan di Kecamatan Ulu Pungkut. “Hari ini (Minggu) BPBD Madina, BPBD Provsu bersama TNI, Polri, SAR daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), PMI, dan relawan (masih) menangani darurat bencana di sana,” katanya.

Riadil mengungkapkan, banjir bandang di daerah tersebut juga menyebabkan 22 rumah hanyut dan rusak total, 19 rumah rusak berat dan 3 bangunan fasilitas umum rusak berat di Desa Muara Saladi. Masyarakat katanya saat ini telah mengungsi di tempat yang aman (madrasah/balai desa) dan rumah kerabatnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, sebanyak 11 titik longsor yang menutup beberapa ruas jalan provinsi sudah dapat diatasi. Alat berat dikerahkan untuk membantu evakuasi korban dan membersihkan material longsor. Sedangkan ruas jalan nasional di Kecamatan Natal masih tergenang. Hingga kemarin, Sabtu (13/10) akses jalan pun tertutup namun malamnya akses jalan berhasil ditembus.

“Tim SAR telah melakukan evakuasi terhadap belasan korban jiwa. Bersama relawan dan masyarakat seluruh korban banjir bandang telah berhasil dipindahkan. Alat berat dikerahkan untuk membantu evakuasi korban dan membersihkan material longsor,” ungkap Tatan, Minggu (14/10).

Rencananya, kata Tatan, hari ini, Senin (15/10) Kapolda Sumut melepas personel untuk diperbantukan menuju ke lokasi banjir bandang Madina. “Besok kita lihat apa arahan Kapolda untuk mereka. Tentunya, kami dari polri akan bersinergi membantu korban di Madina,” pungkas Tatan.

Sedangkan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, akan menurunkan tim kesehatannya sekaligus mengirimkan bantuan obat-obatan.”Kalau dibutuhkan tenaga medis, segera kita kirim. Namun, tetap ada juga kita kirim tim untuk melakukan beberapa kegiatan seperti survei dan ditribusi bantuan obat-obatan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan, Agustama melalui Kasi Surveilan dan Imunisasi, Suhadi.

Sementara itu, Anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan meminta agar pemerintah memastikan kehadirannya bagi rakyat dalam hal tanggap darurat. “Kami meminta agar Balai Jalan Nasional (BBPJN) Kementerian PU PR, Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Pemerintah Provinsi Sumut, Dinas PU Kabupaten Mandailing Natal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Mandailing Natal, dan Basarnas, untuk melakukan tindakan di lapangan. Jika hujan masih terus mengguyur, masih ada ancaman banjir dan longsor, maka harus dipersiapkan rencana evakuasi penduduk ke tempat yang lebih aman,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, Bupati Madina dalam hal ini harus berkoordinasi kepada Gubernur Sumut untuk memastikan semua wujud kehadiran pemerintah telah terkoordinasi dengan baik. Dirinya pun berharap penanganan setiap bencana dilakukan secara cepat dan tepat sehingga korban jiwa dapat dihindari, dan trauma masyarakat dapat diminimalisasi.

Bahkan, rangkaian kejadian bencana di beberapa daerah sebut Sekretaris Komisi D DPRD Sumut ini, menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Sumut termasuk Pemprov belum memiliki rencana antisipasi bencana alam, seperti banjir dan longsor.

“Semua pihak harus mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan sewaktu-waktu untuk membersihkan dampak bencana. Semoga kita mampu menghadapi berbagai dampak perubahan iklim pada masa yang akan datang,”kata Anggota Dewan Dapil Sumut VII (Tabagsel) ini.

Longsor Madina, Terjadi Tanah Pelapukan

net HANCUR: Warga berjalan di genangan banjir sambil melihat reruntuhan bangunan yang luluh lantak disapu banjir bandang di Kabupaten Madina.
net
HANCUR: Warga berjalan di genangan banjir sambil melihat reruntuhan bangunan yang luluh lantak disapu banjir bandang di Kabupaten Madina.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM membuat analisis kebencanaan yang terjadi di Indonesia. Analisis meliputi musibah gempa bumi hingga tanah longsor.

Salah satunya, tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

PVMBG menganalisis gempa bumi yang terjadi sejak hari Sabtu (13/10) hingga Minggu (14/10).

Kejadian tanah longsor yang terbaru di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara dan Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Terdapat 24 desa yang tersebar di 11 kecamatan terdampak banjir dan PVMBG mencatat longsor di Mandailing Natal.

Di Madna, gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah tersebut terjadi karena tanah pelapukan pada lokasi tersebut bersifat sarang dan mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi,” terang PVMBG dalam keterangan tertulis yang disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan, Minggu (14/10).

Sementara longsor di Aceh Singkil mengakibatkan sejumlah jalan lintas utama terputus sehingga tidak bisa dilalui kendaraan berat. Longsor diakibatkan pelapukan di lokasi dan tingginya curah hujan.

“Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dan terjadi karena tanah pelapukan pada lokasi tersebut bersifat sarang dan mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi,” kata PVMBG.

Di Tenggara Bitung, Sulawesi Utara dan Perairan Selatan Banten, gempa yang mengguncang Tenggara Bitung pada hari Sabtu berpusat di laut dan daerah terdekat pusat gempa sebagian besar tersusun oleh endapan aluvium berumur kuarter, dan endapan sedimen tersier sehingga rentan terhadap guncangan akibat gempa.

Gempa ini dirasakan di Tomohon dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) I, Manado dengan skala MMI II-III dan Pos Gunung Soputan dengan skala MMI II. Penyebab gempa karena lokasi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zoba subduksi Punggungan Mayu.”Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi Punggungan mayu sebelah timur pulau Sulawesi,” ujar PVMBG.

Sedangkan untuk gempa di Perairan Selatan Banten pada pagi tadi (kemarin,Red) disebabkan reaktivasi sesar yang disebabkan oleh litosfer samudera yang mendekati zona subduksi dan menekuk ke dalam parit (trench) laut dalam. Gempa tidak menyebabkan gelombang tsunami dan belum ada laporan mengenai intensitas guncangan. Masyarakat diimbau waspada akan gempa susulan.

“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil,” imbau PVMBG.

Tidak hanya gempa bumi, PVMBG juga memantau 69 gunungaapi aktif secara terus menerus. Ada 1 gunung api yang berstatus Awas sejak 2 Juni 2015 yaitu Gunung Sinabung sementara 2 gunung api berstatus Siaga, 18 berstatus Waspada, dan sisanya 48 gunung api berstatus Normal. (bbs)

Sumut Pos Turut Peduli Bencana

Triadi Wibowo/Sumut Pos CAR FREE DAY 2018 SENAM MASSAL HUT SUMUT POS: Wali Kota Medan T Dzulmi Eldin, Kadispora Medan Marah Husin Lubis(kiri) bersama GM Sumut Pos Goldian Purba, membuka kegiatan Care Free Day 2018 Senam Masal dalam rangka Hari Ulang Tahun Sumut Pos ke-17, di Jalan Pulau Pinang, Medan.
Triadi Wibowo/Sumut Pos
CAR FREE DAY 2018 SENAM MASSAL
HUT SUMUT POS: Wali Kota Medan T Dzulmi Eldin, Kadispora Medan Marah Husin Lubis(kiri) bersama GM Sumut Pos Goldian Purba, membuka kegiatan Care Free Day 2018 Senam Masal dalam rangka Hari Ulang Tahun Sumut Pos ke-17, di Jalan Pulau Pinang, Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelaksanaan Car Free Day 2018 Senam Masal yang merupakan rangkaian dari Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 Sumut Pos yang digelar di Jalan Pulau Penang, Minggu (14/10) pagi, berjalan meriah. Meski hujan rintik turun, namun warga Kota Medan yang datang untuk mengikuti senam tetap antusias.

Kegiatan ini semakin istimewa karena dirangkai dengan aksi sosial penggalangan dana untuk korban tsunami di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah (Tengah). “Terima kasih kepada Sumut Pos, karena di tengah perayaan HUT ke-17, mereka tetap peduli dengan saudara-saudara kita di Palu ujar Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi, didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Medan H Marah Husin Lubis dan Kadis Kebersihan dan Pertamanan Medan HM Husni.

Eldin mengungkapkan, dirinya baru pulang dari Kota Palu untuk memberikan sumbangan warga Kota Medan, ASN serta jajaran Dinas Pendidikan Kota Medan bersama dengan sejumlah wali kota yang tergabung dengan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).

Menurutnya, selain menghancurkan bangunan rumah, pertokoan, dan perkantoran, gempa yang disusul tsunami itu turut menghancurkan infrastruktur seperti jalan yang ada di ketiga daerah itu. Bahkan, kerusakannya sangat parah dan terbelah-belah.

“Gempa bumi dan tsunami selain menghancurkan Kota Palu, juga menyebabkan banyak sekali saudara-saudara kita yang menjadi korban dan kehilangan jiwa. Oleh karenanya, saya sangat mengapresiasi dan mendukung penuh digelarnya penggalangan dana ini. Semoga dana yang diperoleh nanti dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita di sana. Untuk itu saya mengajak warga Kota Medan menyisihkan sedikit rezekinya membantu para korban,” kata Eldin.

Sebelumnya, GM Sumut Pos Goldian Purba mengungkapkan, rencana awal pelaksanaan HUT ke-17 Sumut Pos tersebut, pihaknya berencana menggelar acara cukup mewah dengan hadiah bervariasi. Hanya saja karena bencana yang terjadi di Sulteng, penggalangan dana dianggap perlu dilakukan sebagai wujud empati terhadap saudara sebangsa dan setanah air.

“Nantinya semua sumbangan itu akan kita kirimkan ke rekening kawan-kawan kita Radar Sulteng (Jawa Pos Grup) di sana. Meraka akan menyalurkan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana,” katanya.

Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi, Kadispora Medan H Marah Husin Lubis, Kadis Kebersihan dan Pertamanan Medan HM Husni dan GM Sumut Pos Goldian Purba pun turut menyerahkan sumbangan. Adapun dana yang terkumpul hasil sumbangan peserta senam massal Sumut Pos untuk korban gempa dan tsunami di Sulteng. (prn)

Sehari, Gempa Guncang Berbagai Daerah

net GEMPA: Titik gempa yang dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.
net
GEMPA: Titik gempa yang dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Gempa bumi terjadi di berbagai daerah pada Minggu (15/10), kemarin. Mulai dari Aceh, Lebak, Banten, Blitar serta Kabupaten Lembata NTT.

Di Aceh, gempa berkekuatan 4,5 Magnitudo mengguncang kawasan Aceh Jaya, Banda Aceh. Tak ada peringatan potensi tsunami akibat gempa ini.

Badan Meteorologi Klimatolgi dan Geofisika (BMKG) lewat akun Twitter resminya @infoBMKG menyebut, gempa tersebut terjadi pada Minggu (14/10) pukul 05.48 WIB. Pusat gempa berada di laut yakni 106 km barat Calang, Aceh Jaya.

Pusat gempa berada pada kedalaman 40 km dan dirasakan pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI) I-II Banda Aceh. Tidak diterbitkan peringatan tsunami akibat gempa ini. Juga belum diketahui apakah ada kerusakan ataupun korban luka maupun jiwa akibat gempa ini.

Gempa bumi juga terjadi di Lebak, Banten. Gempa bermagnitudo 5,2 tidak berpotensi tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis gempa terjadi pada pukul 02.38 WIB, Minggu (14/10). Lokasi gempa berada di koordinat 9.00 LS-105.26 BT, 292 barat daya Lebak.”Kedalaman 10 km. Tidak berpotensi tsunami,” tulis BMKG.

Belum ada laporan adanya korban akibat kejadian ini. Kerusakan di daerah yang terdekat dengan titik pusat gempa juga belum diketahui.

Daerah lainnya juga terjadi di Blitar, berkekuatan Magnitudo 3,4, Minggu (14/10). Meski begitu, gempa yang terjadi pukul 13.47 WIB tidak dirasakan sebagian besar masyarakat Blitar.

Rilis dari BMKG menyatakan pusat gempa terjadi di 9.25 Lintang Selatan dan 11.98 Bujur Timut. Atau 127 km barat daya Kabupaten Blitar. Dengan kedalaman 16 km. Gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Gempa kali ini merupakan peristiwa alam kedua yang terjadi dalam sebulan. Sebelumnya, pada Minggu (1/10) gempa dengan kekuatan M 4,4 melanda Blitar. Namun karena sebagian besar beraktivitas mempersiapkan kesibukan pagi, warga mengaku tidak merasakan getaran gempa itu.

Pusdalob BPBD Kabupaten Blitar menyatakan, sampai saat ini belum ada laporan kerusakan yang masuk akibat terdampak gempa hari ini (kemarin,Red). Namun BPBD Kabupaten Blitar mengimbau warga sepanjang pesisir pantai tetap waspada. Terutama beredarnya berita bencana hoax.”Tetap waspada. Jangan mudah percaya informasi yang beredar. Cek di media mainstrem ya,” imbau Kepala BPBD Kabupaten Blitar Heru Irawan.

Begitu juga di Kabupaten Lembata NTT. Gempa bumi berkekuatan 2,8 Magnitudo mengguncang Kabupaten Lembata, NTT. Tak ada peringatan potensi tsunami akibat gempa ini.

Badan Meteorologi, Klimatolgi dan Geofisika (BMKG) lewat akun Twitter resminya @infoBMKG menyebut, gempa tersebut terjadi pada Minggu (14/10/2018) pukul 17.26 WIB. Pusat gempa berada di laut yakni 18 km Timur Laut Lewoleba, Lembata, NTT.

Pusat gempa berada pada kedalaman 9 km dan dirasakan pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI) II Lembata. Lokasi gempa di koordinat 8.21 LS-123.58 BT.

Belum diketahui apakah ada kerusakan ataupun korban luka maupun jiwa akibat gempa ini. (bbs)